Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/30

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

GUBUK DI POJOK SAWAH

Oleh: Mohkris Toyib N.W.

Sewaktu aku kecil, beton dan cor belum ditanam disetiap inci area persawahan ini. Kalau musim menanam padi yang bisa dilihat hanyalah hamparan tanah liat kecoklatan yang berkilau memantulkan cahaya matahari. Merasakan kesuburan bumi pertiwi dan membau harapan para petani untuk memetik bulir-bulir padi. Kini persawahan di sebelah timur telah ditimbuni tanah merah dan disemen, menggusur liang liang belut. Susunan batu batanya membelah cakrawala ujung timur dengan raksasa beton. Dan mungkin akan menggusur semua sawah disini. Hanya tersisa beberapa petak sawah saja. Karena diantaranya tidak terurus sehingga menjadi tempat tikus curut berpesta.

Matahari masih bersinar dan angin sepoi-sepoi masih berhembus. Tapi panas dan gerah siang ini lebih menyengat dari pada tahun sebelumnya. Global warming. Aku membawa nasi putih, sayur daun singkong dan sambal. Menapaki jalan setapak menuju gubuk di pojok sawah yang tidak lagi ditumbuhi rumput ilalang dan bunga bakung. Di conblok. Aku merindukan bijinya yang menggelitik kulit.

Gubuk di pojok sawah masih berdiri. Bambu penyangga yang mengerut menopang atap rumbia berjamur. Sudah tidak kulihat lagi anak-anak yang bermain lumpur, mencari belut atau mencari cacing untuk memancing seperti zamanku. Mungkin mereka sedang asik bermain robot atau computer di rumahnya.

21