Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/28

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi
• AKU SI GADIS BISU •

Aku hanya diam menanggapi ocehan Bedu. Tanpa berkatakata aku menyeret tangan Bedu. “Ayo ikut Mbak, Du” Aku mengajaknya ke bukit bintang di kaki langit.

“Ini di mana Mbak?”

“Di kaki langit Du. Bukit bintang. Indah kan Du”, kataku hampir menangis.

Dia mengangguk takjub. “Kenapa Mbak malah sedih?”

Aku mengusap air mataku.”Ini sebenarnya rahasia Mbak. Dulu tempat ini, tempat favorit Mbak. Tempat ku memandang bintang dan pelangi bersama ayahku. Tapi, semenjak dia tak peduli denganku, aku jarang ke sini. Dulu Mbak begitu mencintai hujan Du. Tapi sekarang, sebenarnya Mbak benci hujan. Hujan selalu mengingatkanku pada Ayah. Tapi, setelah bertemu denganmu, aku mulai mencintai hujan lagi. Karena aku menemukan seseorang yang peduli padaku di bawah hujan”, kataku terisak.

Aku memandang anak itu. Aku sudah menganggap Bedu adikku sendiri.

“Mbak...hidung Mbak berdarah...”, kata Bedu takut-takut.

Aku mengambil tisu dari saku bajuku. Mengusap hidungku perlahan. Tampaknya hidupku tak akan lama lagi.

“Mbak sakit apa?”

“Tak apa Du! Du, Mbak titip ini. Jangan dibuka ya. Kalo, Mbak tak muncul selama seminggu, tolong serahin surat itu pada orang tua Mbak. Kamu mau kan Du?”

Bedu mengangguk.”Bedu janji Mbak”

Aku mengajak anak itu pulang. Kuantarkan dia sampai ke rumahnya. Aku lega, semoga rencanaku adalah jalan yang terbaik untuk semuanya.

★ ★

Takkan selamanya, tanganku mendekapmu
Takkan selamanya raga ini menjagamu
Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu.

19