• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •
“Kamu marah sama Ayah Pi?”
Aku mendongak. Tak sengaja aku menatap wajah Ayah. Ah, wajah itu. Penuh luka. Penuh dengan penatnya dunia.
Kupaksakan kepalaku untuk menggeleng. Untuk menutupi kekecewaanku. Beliau hanya diam melihatku. Kami berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tanpa ada yang mau membuka suara.
“Kenapa Ayah nggak pisah aja sama Mama?” kritikku pedas.
“Apa kau pengen Ayah pisah Pi?”
Aku menggeleng kuat. Jujur, aku masih ingin melihat mereka berdua bersama. Seperti kisah-kisah dongeng. Hidup bahagia selamanya.
“Ayah masih ingin bertahan Pi”, katanya membelah sepi.
Aku terdiam. Tak ada yang bisa kuucapkan. Bibirku terasa kelu.
“Tapi, taukah kau Yah? Kau sekarang melupakanku. Melupakan dunia kita. Kalian berdua begitu asyik dengan dunia kalian.
Apa yang selama ini kalian kejar? Harta? Kedudukan? Atau apa? Aku tak pernah mengerti.”
“Pi, kamu kok pucat? Kamu sakit Pi?” Pertanyaan itu begitu mengagetkanku.
Aku menggeleng. Walaupun tadi aku sempat mimisan lagi, tapi aku tak ingin Ayah tahu.
“Aku mau tidur Yah”. Aku beranjak pergi tanpa mengucapkan kata-kata lagi.
★ ★
Berhari-hari aku tak bertemu Bedu. Aku sengaja tak bertemu. Karena aku tak mau konflik sore itu terulang lagi. Tapi, siang ini aku menemuinya lagi. Hanya untuk sekadar bercerita. Dan ingin menjalankan rencanakau.
“Ke mana aja Mbak ? Kok nggak pernah kelihatan”
“Lagi sibuk”, jawabku singkat.
Dia ber-oh panjang. “Mbak kok masih pucat. Masih sakit Mbak?”
18