• AKU SI GADIS BISU •
Matahari pagi masih malu-malu untuk menampakkan diri. Hanya terlihat semburat kekuningan di ufuk Timur. Aku mencoba bangun. Kurasakan kepalaku mulai berkunang-kunang. Ah, tubuh ringkihku kembali berulah. Hanya karena hujan kemarin.
Aku menyeka hidungku dengan tisu. Darah...Darah itu ada lagi. Buru-buru aku buang tisu itu ke bak sampah. Aku tak tahu, kenapa aku selalu mimisan. Saat tubuh ringkihku berontak, dia pasti datang lagi. Penyakitkah itu? Aku tak tahu. Kau pikir, dengan segala materi yang kupunya aku akan segera pergi ke dokter dan bertanya penyakitku? Tidak, kau salah. Aku tak akan pernah pergi ke dokter. Lagipula tak ada gunanya aku pergi ke sana. Toh, tak akan ada yang peduli denganku. “Tak mau berhenti...” desisku. Aku membuang tisu untuk kesekian kalinya. Satu alasan lagi kenapa aku begitu membenci hujan.
★ ★
Hampir seminggu lamanya aku terisolasi dari dunia luar. Tak pergi ke sekolah karena sakit. Selama itu pula, aku mulai lupa dengan kejadian sore itu. Bahkan, aku juga lupa pada anak kecil itu. Tapi kali ini aku mengingatnya Aku begitu penasaran dengan jati diri anak itu. Aku, hanya ingin tahu alasan anak itu mengapa dia mengatakan itu padaku. Pada orang yang selama ini tak sekalipun ia kenal.
Kuputuskan sepulang sekolah aku menunggunya di tempat aku bertemu dengannya dulu. Di emperan toko itu aku terus memandangi orang-orang yang berlalu lalang terutama anak-anak jalanan. Siapa tahu, anak itu ada di antara mereka. Tapi sampai matahari hampir tenggelam, anak itu tak pernah muncul. Dan aku pulang tanpa hasil.
Aku masih menunggunya. Berhari-hari. Tapi, anak itu seolah ditelan bumi. Tak pernah muncul barang sedetik pun. Saat kutanyakan pada setiap anak jalanan yang kutemui, tak ada yang mengenal anak itu. Kemana anak itu? Kenapa menghilang?
15