Aku duduk memandangi langit. Hujan masih saja bertahan.
“Huff...!!Sial” rutukku pada diriku sendiri.
1 menit....2 menit....5 menit....10 menit, rasa bosan mulai menyelimutiku. Sesekali aku masih melirik keluar. Melihat kalau hujan sudah berhenti.
“Aku benci hujan!!” rutukku sekali lagi.
“Mbak, ojek payung?” seorang anak kecil menyodoriku sebuah payung lusuh.
“Ha? Apa?”
“Payung Mbak?” ulangnya sekali lagi.
Sontak aku menggeleng. Aku kembali mengedarkan pandanganku. Aku berusaha mengacuhkan anak itu. Kupikir anak itu akan pergi setelah penolakanku tadi. Tapi, ternyata anak itu malah duduk di sampingku.
“Mbak nggak pulang?” dia membuka suara.
Aku menggeleng. “Buat apa? Tak ada yang peduli denganku selama ini”, jawabku enteng, tanpa beban, walau seolah kata-kata itu menggoreskan luka yang dalam di hatiku.
“Kan ada keluarga Mbak. Mereka pasti peduli”, katanya takut-takut.
Aku tertawa sinis. Memandang anak itu. “Peduli? Kata siapa? Tahu apa sih kamu soal peduli apa nggak? Nggak usah sok tau deh!” tanpa sadar suaraku mulai meninggi.
Anak itu terhenyak. Tak menyangka reaksiku akan sekeras itu.
“Maa....aaf” terbata-bata anak itu mengucapkan kata maaf. Anak itu berlalu tanpa pamit. Tapi, sebelum anak itu menghilang, dia sempat menoleh dan mengatakan sesuatu. “Mereka peduli dan sayang kamu Mbak....”, samar-samar aku mendengarnya di tengah deru hujan.
Aku terdiam. Merenungi kata-kata anak itu. “Benarkah mereka semua peduli padaku? Tapi apa? Apa buktinya?”
★ ★