Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/21

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

ku untuk kesekian kalinya. Tak kutemukan mobil jemputan ayah yang biasanya menjemputku.

“Lagi-lagi lupa”,keluhku.

Aku berjalan gontai keluar dari komplek sekolah. Sore-sore begini sudah jarang angkot lewat di depan sekolahku. Kalaupun mau, terpaksa harus berjalan ke pangkalan ojek di ujung jalan sana.

“Huh....cuma jemput anak semata wayangnya aja lupa. Apa sih kerjaan ayah ibu tuh? Berantem kok hobi”, gerutuku sepanjang jalan.

Agak lama aku menunggu angkot yang lewat. Sepertinya itu angkot terakhir. Buru-buru aku naik takut kalau angkot itu penuh. Tak sampai 20 menit aku sudah sampai di rumah. Aku pun masuk ke dalam. Sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi, tadi kulihat mobil Ayah terparkir rapi di garasi.

“Kemana mereka?” batinku.

“Maaaa.......yaaaahhhh......Pia pulang...” teriakku mencari mereka.

Kucari mereka di seluruh ruangan, ternyata mereka berdua ada di ruang tengah.

“Yah, Pia pul....” kata-kataku mendadak tersekat di tenggorokan.

Lagi-lagi kulihat pemandangan yang tak asing di mataku. Mereka berdua bertengkar. Entah, apa lagi yang mereka berdua ributkan. Aku tak tahu dan tak mau tahu. Aku lelah melihat mereka seperti itu.

Aku buru-buru masuk ke dalam kamar. Menguncinya rapatrapat. Hanya itu satu-satunya cara untuk lari dari perdebatan panjang kedua orang tuaku.

Bruuuuk.... kubuang tasku di pojokan. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur empuk yang sedari tadi menantiku. Mataku menerawang jauh. Kapan? Kapan semuanya akan kembali seperti dulu? Dan kenapa? Kenapa konflik itu tak pernah usai? Kenapa bara itu tak pernah padam?

12