Hujan...... Tak ada yang salah dengan hujan. Hujan yang selalu memunculkan bau tanah basah ini. Bau yang khas dan segar. Hujan yang selalu identik dengan rintik-rintik airnya. Dengan suara deru air dan angin, seperti irama alam, hujan yang selalu menyimpan keberuntungan alam. Hujan yang selalu meninggalkan keindahan sesudahnya. Hujan yang selalu ada bersama sang pelangi.
Dulu aku begitu mencintai hujan. Aku selalu menunggunya. Menunggu di kaki langit bersama ayah. Aku menamai bukit itu “kaki langit”. Karena seolah-olah kau bisa merengkuh langit dari atas bukit kecil itu. Aku selalu menunggu keberuntungan berjumpa dengan pelangi. Aku suka menunggu hujan reda sambil bercanda dengan ayah. Dan saat pelangi tlah muncul, kami berdua bercerita tentang segala hal berpayungkan pelangi
Tapi, sepertinya semua itu hanya tinggal kenangan. Menghilang begitu saja. Sama seperti hujan yang meninggalkan bumi. Pergi tanpa pamit dan tanpa jejak.
☆ ☆
Aku memandang halaman sekolah yang kosong. Hening, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Kelihatannya semua sudah pulang. Hanya terlihat karyawan yang berseliweran. Mungkin, mereka hendak pulang juga. Aku mengedarkan pandangan-