untuk apa berjuang melawan semua kepahitan jika kebahagiaan tidak pernah mampir dalam kehidupanku. Aku sudah cukup tertolak di hidupku. Apalagi ditambah masalah laki-laki yang aku sukai itu. Aku memutuskan untuk selalu naik angkot ke sekolah walaupun harus bertemu seperti ibu setengah baya itunsetiap hari daripada harus bertemu cintaku yang menyakitkan.
Kutulis sebait puisi lagi untuk Tuhan:
Aku hina
Terlalu hina untuk dicaci
Bahkan diinjak pun tak ada yang sudi
Makhluk apa aku ini Tuhan?
Selalu tidak berguna
Walaupun ingin
Walaupun mau
Tapi tak pernah mampu
Mengapa Kau begitu jahat padaku, Tuhan?
Ataukah aku yang jahat padaMu?
Baru kali ini kurasakan menulis puisi tidak mengurangi beban. Ataukah bebanku sudah terlalu berat? Aku tidak tahu. Yang aku rasakan hanya frustasi. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk orang lain. Untuk orang lain, bukan untukku. Tetapi selalu salah. Selalu tidak tepat.
“Lia!!”Teriak ibu membuyarkan lamunanku.
Pasti nasihat lagi. Aku sedang tidak ingin mendengar nasihat. Aku ingin sendiri.
“Lia!! Cepat keluar dari kamarmu! Ayah dan Ibu ingin bicara!” Lanjut beliau.
Firasatku tidak enak. Pasti ada yang salah. Tapi aku menurut. Aku berjalan keluar kamarku untuk menemui orang tuaku yang ada di kamar tamu.
“Lia, duduk di depan kami. Kami ingin bicara,” kata Ayahku begitu melihatku muncul.
Aku duduk sesuai perintahnya. Dengan segala kegundahanku, aku harus siap mendengarkan mereka.