dan berjalan melewatinya. Lagipula, memang tidak ada jalan lain untuk bisa tiba di sekolah.
Aku berjalan sedikit lebih cepat dan tidak melihat mereka. Berusaha tenang menguasai keadaan. Sabar, sabar sebentar lagi selesai. Hiburku dalam hati. Tapi, ternyata aku salah. Ketika aku tepat di depan mereka, salah seorang dari mereka meneriakiku.
“Cewek! Mau berangkat sekolah ya? Duh, sombongnya!”
“Mampir dulu, Neng! Senyum dong! Dingin banget!” Timpal temannya.
Aku diam saja, pura-pura tidak mendengar. Dan dengan berusaha tenang, aku tetap berjalan, tidak menghiraukan mereka. Tiba-tiba salah seorang cowok menyentuh pundakku. Dengan otomatis aku berteriak sebisaku. Dan seperti yang kalian tahu, yang keluar bukan makian atau apa, tapi hanya suara-suara yang tidak jelas dan parau. Aku menengok. Ya ampun, itu dia! Cowok yang selama aku sukai. Dia yang menyentuh pundakku!
“Eh, dia bisu!” Dia berteriak kepada teman-temannya.
Aku sudah hampir menangis.
“Idih, ngapain kita godain cewek bisu! Nggak doyan aku!” Sahut salah satu temannya dan disusul suara tawa meremehkan dari teman-temannya yang lain.
“Bisu, bisu!”
“Bisu? Mana laku! Hahaha!” Dia tertawa keras sekali. Aku berlari menjauhi mereka. Dia melecehkanku! Padahal aku begitu menyukainya. Padahal dia salah satu alasanku mengapa aku tetap semangat pergi ke sekolah. Aku kecewa! Aku salah menilai. Hatiku hancur. Ya, beginilah nasib seorang gadis bisu. Tidak layak untuk dicintai, bahkan mencintai. Aku terus berlari kencang menuju ke sekolahku. Beberapa kali sempat menabrak orang-orang yang berpapasan denganku. Mereka mengumpatku. Aku tidak peduli. Aku terus berlari.
☆ ☆
Beberapa hari ini aku tidak bersemangat. Malas sekolah. Malas makan. Bahkan malas tidur. Akhir-akhir ini aku berpikir,