tanya kamu juga bisa berprestasi! Ingat, kami hanya tidak ingin kamu merasa beda.“
Untungnya kepala sekolah SMA itu tidak mempermasalahkan aku yang bisu ini untuk bersekolah di SMA negeri karena prestasiku cukup bagus dan sangat bisa mengimbangi pelajaran yang diberikan. Yah, walaupun tentunya aku tidak bisa aktif dalam hal berbicara di kelas, tapi sebenarnya ini menjadi tekanan untukku. Tidakkah mereka tahu, justru dengan menyekolahkan aku di SMA negeri, SMA umum-bukan untuk orang cacat-, aku malah merasa berbeda! Merasa asing! Minder! Ingin rasanya aku berontak kepada mereka bahwa ini bukan duniaku! Tapi sekali lagi, aku hanya bisa menurut. Mungkin dengan selalu menurut, orang tuaku bisa bangga. Mungkin juga tidak akan malu lagi punya anak seperti aku. Terbukti kan, tidak banyak yang bisa aku lakukan sebagai orang bisu.
“Lia, kok malah melamun! Ayo cepat! Tidak baik pagi-pagi sudah melamun. Tidak ada gunanya. Melamun itu buang-buang waktu. Tidak membuat kamu tambah pinter atau apa! Kebiasaan jelek itu. Ibu tidak suka!” Ucap ibuku panjang lebar.
Aku hanya mengangguk dan meminta maaf pada Ibu. Setiap hari selalu seperti ini. Rutinitas kehidupanku yang sepertinya tidak bisa diganggu gugat. Ketakutan, minder, dan harus mendengar nasihat-nasihat orang tuaku. Itu masih belum ditambah masalah yang mungkin tiba-tiba datang. Bagaimana aku tidak tertekan kalau begini caranya?
Kemudian aku bergegas pamit kepada Ibu. Ayahku sudah berangkat pagi-pagi tadi. Ibu mencium keningku dan memberi nasihat-nasihat panjangnya (lagi). Aku melangkahkan kakiku ke luar rumah. Suara ibu masih terdengar. Ya ampun, ternyata nasihatnya tetap belum selesai. Mungkin setelah aku tiba di sekolah, Ibu baru berhenti berbicara.
Aku berangkat sekolah naik angkot. Berdoa dalam hati agar hari ini tidak buruk. Aku menyetop angkot yang untungnya belum penuh penumpang. Setelah bisa duduk nyaman, aku mulai