Lompat ke isi

Halaman:Aku Si Gadis Bisu.pdf/11

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

• Antologi Cerpen Remaja Se-DIY 2009 •

Sewaktu kecil, aku mengalami kecelakaan. Yang akhirnya membuat pita suaraku rusak. Aku menjadi susah berbicara. Bahkan, terkadang tidak bisa bicara. Tetapi, aku sangat bersyukur kepada Tuhan yang masih menganugerahiku pendengaran yang baik. Dan sekarang tidak hanya itu, aku juga malas mencoba berbicara. Aku membiasakan diri untuk diam. Buat apa bicara? Toh, kalau aku bicara, yang keluar hanya suara-suara yang tidak jelas. Yang hanya akan membuat hatiku miris.

Semua hanya bisa aku lakukan dalam hati. Dalam keheningan duniaku. Sungguh menyedihkan mengingat aku ingin sekali bernyanyi untuk Tuhan. Aku ingin mengucapkan selamat pagi pada dunia. Tapi, aku tidak pernah menyesal. Ini hidupku. Sungguh sayang jika selalu diisi kesedihan dan penyesalan. Aku hanya perlu berpikir positif dan menjalaninya dengan lapang dada. Dan aku percaya kepahitan ini akan segera berakhir.

Namun aku akui, aku sering merasa tidak percaya diri hampir dalam segala hal. Aku merasa kecil di dunia ini, tidak berarti. Hanya seperti seonggok sampah yang perlu dibuang dan dibinasakan. Aku juga sering merasakan ketakutan yang luar biasa. Takut menghadapi kenyataan. Atau mungkin lebih tepatnya takut tidak bisa menghadapi kenyataan.

Aku juga tidak tahu kenapa rasa ketakutan dan ketidakpercayaan diri selalu menyusup melalui celah-celah kehidupanku. Padahal aku sudah bersusah payah menghibur diriku sendiri untuk tetap tabah dan semangat. Cukup dilukiskan dengan dua kata, aku minder. Aku sering menyesali kehidupanku. Bahkan, aku pernah mengumpat Tuhan, “Mengapa Tuhan sangat jahat dengan menciptakan manusia seperti aku? Bisu! Mengapa tidak buta saja? Sehingga aku tidak akan sedih jika tidak seorang pun mau tersenyum kepadaku. Toh, aku tidak bisa melihat! Mengapa aku tidak tuli saja? Jadi aku tidak akan mendengar orang-orang yang mengolok-olokku! Tapi ini aku! Si gadis bisu! Yang bisa melihat dan mendengar kenyataan-kenyataan pahit yang selalu mampir di hidupku tanpa bisa melawannya! Menjijikkan.”

2