Diwan : Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol. 14, No. 1, Juni 2022
Rahim dalam kitabnya bahwa, ia adalah manisan instan yang dibuat di Madinah Munawarah beberapa waktu yang lalu, dan berasal dari Indonesia (Abdur Rahim, 2011). Perhatikan kalimat bergaris bawah. Karena kata agar-agar adalah manisan yang sudah familier di kota Madinah, maka mau tak mau penduduk di sana akan mengucapkan kata asing tersebut dalam bahasa mereka yaitu bahasa Arab. Intinya hal tersebut terjadi karena terjadinya fenomena interferensi leksikal. Interferensi leksikal, yaitu masuknya unsur leksikal bahasa pertama ke dalam bahasa kedua (Mustofa, 2018). Hal ini juga dibuktikan dengan adanya video berbahasa Arab yang menjelaskan cara membuat agar-agar khas Indonesia walaupun dengan cara pengucapan berbeda seperti sebagian orang Arab mengucapkannya dengan kata (آجرآجرajar-ajar) (Al-Matbakh Adz-Dzahabiy, 2018), dan sebagiannya lagi mengucapkannya dengan kata (أقار أقارaqar aqar) (Abutalal Kitchen, 2020). 5. PENUTUP Berdasarkan data yang didapatkan serta melalui kajian pustaka dari berbagai literatur yang relevan, serta analisis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, didapatkan ada 11 kosakata Indonesia yang diserap ke dalam
DOI: https:/doi.org/10.37108/diwan.v14i1.722
Program Studi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
bahasa Arab pada kitab Mu’jam Ad-Dakhiil Fii Al-Lughah AlArabiyyah Al-Hadiitsah Wa Lahjaatihaa karya Syekh Vaniyambadi Abdur Rahim. Kosakata tersebut antara lain agar-agar, Indonesia, bambu, tukar, dapur, rupiah, Singapura, kecap, kasuari, lancar, mangga. Ini menunjukkan berarti benar adanya hubungan yang sinergis antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia. Apalagi sampai ada kosakata bahasa Indonesia yang diserap ke dalam bahasa Arab. Dalam penelitian tersebut, peneliti terbatas meneliti hanya pada hanya mencari kosakata bahasa Indonesia saja yang masuk ke dalam kosakata bahasa Arab, padahal kemungkinan besar bahasa Arab terkini itu menyerap dari berbagai bahasa seperti bahasa Ibrani, Latin, Sanskerta, dan bahasabahasa lainnya. Keterbatasan lainnya yang dialami oleh peneliti adalah sulitnya membaca bahasa baru, yang tentunya sistem dan cara mengucapkannya berbeda dengan bahasa ibu, apalagi dalam kitab/kamus tersebut kosakatanya tertulis dengan bahasa aslinya tanpa transliterasi, misalnya dari bahasa Sanskerta dan dari bahasa Ibrani. Tentunya itu membuka peluang bagi peneliti untuk melanjutkan penelitian dengan klasifikasi bahasa yang berbeda, misalnya dengan klasifikasi kosakata Ibrani yang diserap ke bahasa Arab,
60