sebelum perkara dimulai, mantiiq memecahkan sebutir telur yang dicampur dengan jomit burai dan dioleskan kepada semua yang hadir pada saat itu.
b) Tanaaq mungkir
Bertujuan agar kedua belah pihak tidak menyanggah keputusan mantiiq. Tanaaq mungkar merupakan jaminan dan jika keputusan mantiiq disanggah maka jaminan menjadi milik mantiiq.
c) Lalaakng
Merupakan pesuruh mantiiq selama besara berlangsung. Dalam berperkara pengugat menyiapkan ruyaq ialaakng. Ruyaq ialaakng terdiri dari satu parang untuk perintis jalan, pisau raut untuk mencungkil apabila terinjak duri, dan satu tombak sebagai tongkat lalaakng.
d) Pusakng pementuat
Pusakng pementuat yang hanya dapat ditangani oleh mantiiq yang memproses perkara besar tidak boleh diterima oleh mantiiq yang berusia muda karena dapat mengakibatkan kematian dini. Jika dalam menghadapi perkara yang besar, denda adat yang dijatuhkan oleh mantiiq dirasakan begitu berat maka pihak yang dikenakan denda adat dapat meminta pengurangan denda adat dari jumlah yang telah ditentukan kepada mantiiq. Permohonan keringanan ini dalam bahasa Dayak Tonyooi dikenal dengan istilah ‘pempeekng ayaas.
Sementara itu, pada penyelesaian sengketa menurut hukum adat, dikenal tahapan-tahapan dalam proses penyelesaiannya, yakni melalui tahapan proses penyelesaian secara kekeluargaan[1] dan tahapan penyelesaian melalui peradilan adat. Penyelesaian melalui peradilan adat terdiri dari beberapa tahapan, walaupun tahapan ini kini sudah tidak selalu diikuti secara ketat. Tahapan-tahapan penyelesaian sengketa dalam
- ↑ Dalam proses penyelesaian secara kekeluargaan biasanya hanya dihadiri oleh kerabat dari tiap-tiap pihak yang beperkara, penyelesaian pada tahap ini juga berdasarkan hukum adat. Penyelesaian secara kekeluargaan bukan merupakan peradilan adat sehingga tidak dilakukan di depan umum.