tulus ikhlas hati kami dan sangat mengharapkan agar Bapak/Ibu dapat membimbingnya, karena dia masih bodoh, pemalas dan jika dia salah supaya ditegur. Pokoknya, anak kami serahkan mentah-mentah dan Bapak anggap saja dia sebagai anak sendiri.” Pihak keluarga pengantin wanita menerima penyerahan itu dengan jawaban: “Kami menerima dengan rasa senang dan gembira serta akan kami perlakukan dia sebagai anak kami sendiri dan tak lupa juga agar anak wanita kami yang masih belum banyak mengerti kehidupan, belum bisa memasak, dan belum mengetahui pekerjaan di dapur supaya mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Bapak/Ibu. Jika ia malas, supaya disuruh dan dimarahi serta dinasihati.” Setelah upacara penyerahan ini, selesailah sudah upacara pelaksanaan perkawinan. Pada malam harinya akan diteruskan dengan acara hiburan kesenian daerah, dan lain-lainnya.
Menurut kepercayaan tradisional suku Kutai, kedua pengantin tidak boleh segera pergi ke tempat tidur meskipun sudah sampai saatnya waktu tidur. Menurut mereka, siapa yang cepat tidur akan lebih dahulu meninggal dunia. Oleh sebab itu, mereka yang bertugas mengawal pengantin mengadakan bermacam-macam permainan dan hiburan yang dikenal sebagai permainan bersiputan atau permainan ayan-ayanan. Pelakunya ialah kedua mempelai tadi. Tanpa disadari oleh mereka sendiri maksud permainan itu agar mereka saling mengenal. Karena pada umumnya pada masa dahulu perkawinan dilaksanakan atas dasar kehendak orang tua maka kedua mempelai tidak saling mengenal. Melalui permainan yang diadakan itu keduanya mulai saling mengenal dan menjadi akrab. Upacara ini dilaksanakan berturutturut selama tiga malam di rumah pengantin wanita. Sesudah tiga malam, kedua pengantin ini akan dibawa bermalam ke rumah orang tua pegantin pria. Hal ini disebut naik mentuha. Pada malam harinya biasanya orang tua pengantin pria menyerahkan pakaian selengkapnya serta perhiasan kepada menantunya. Selanjutnya, kedua mempelai tadi akan mengunjungi keluarga-keluarga terdekat kedua belah pihak untuk mendapatkan restu mereka. Menurut kebiasaan yang berlaku, keluarga yang dikunjungi akan memberikan barang-barang, seperti pakaian, perabotan rumah tangga, atau uang sebagai bantuan bagi mereka berdua yang memulai kehidupan sebagai keluarga baru.