Halaman:ADH 0008 A. Damhoeri - Pengawal Tambang Emas.pdf/29

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini telah diuji baca

- 25 -

arah ketingkap pondok. Tetapi ini bukan belukar yang bergerak dan tidak pasukan gajah yang mendobrak sebab bentuknya sama dengan manusia. Namun manusia dalam postur ukuran besaaaar. Kian lama Sibarani semakin dapat mempertajam matanya. Akan dikata monyet sebangsa gorila tak mungkin sebab gorila hanya ada di benua Afrika sedang disini ialah Rimba Mangkisi dalam daerah Kabupaten Lima Puluh Kota.

Jelas ini memang manusia, tetapi dengan ukuran yang sangat besar, tingginya paling tidak tiga meter, tubuh erbulu-bulu, jenggot sampai ke Pusat, kaki sebagai batang pinang, Tidak satu segipun dari makhluk itu yang berbeda dari manusia. Mereka ada dua orang. Dan datang melangkah lambat-lambat, hati-hati mendekati tingkap dimana Tu' Atin sedang duduk menanti. Keduanya berdiri dalam kegelapan terhindari dari sorotan si nar bulan.

" Siapo disano, Tuk Tang?" bertanya Tu' Atin.

" UUuuuh,..." jawabnya.

" Tu' saurang atau baduo... ?"

" Uwooo,. ...."

Tu' Atin membakar rokok sitaka besar itu dua batang lalu di unjukkannya keluar tingkap. Sebuah tangan dengan jari yang besar berbulu-bulu menyambut rokok itu dan sebentar terdengar sebagai diisap dengan sedotan yang berat. Sibarani tetap memperhatikan semuanya dengan tidak melepaskan setiap adegannya.

" Tuk Tang... Tu' Mpek, mau garam?

Serempak keduanya menjawab. Tu' Atin memberikan sebuah bungkusan kertas kepada Urang Gadang itu.

" Ini tembakau," kata Tu' Atin lagi sambil memberikan sejemput tembakau yang tak laku di Pasar Payakumbuh itu kepada kedua tamu itu.

" Nak nau,...nak tan,,,?" tanya keduanya.

" Sementara tidak, jawab Tu! Atin.

" Tuk Tang,...Tuk Mpek,.. nanti kami dibawah," kata Tu' Atin kepada kedua tamunya yang sebesar-besar rumah itu.

" Uuuuh,.." jawabnya . Tu' Atin menggubit adiknya lalu dibawanya kebawah, kedua manusia raksasa itu duduk berjongkok ditanah persis didepan tingkap bertuah itu. Tu( Atin dan Sibarani datang mendekati kedua tamunya itu.