Halaman:ADH 0008 A. Damhoeri - Pengawal Tambang Emas.pdf/27

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

- 23-

terlindung pula oleh bukit-bukit sebagai barisan raksasa Rimba Mangkisi.

Tu' Atin tetap duduk dimuka tingkap bertuahnya itu. Suasana hutan mulai aak terang sebab kalimantang sorotan sinar bulan dari arah timur. Selimut hitam seluas angkasa yang menyelubungi Rimba Mangkisi sedikit demi sedikit mulai tersingkap. Pohon-pohon besar dan bukit-bukit melukis- sebuah silhout dilangit malam. Beberapa butir bintang-bintang berkedip- kedip sebagai meninjau keatas muka bumi.

Tiba-tiba Tu' Atin berseru:

" Barani ayo cepat,... cepaaaaat!" sambil mengamit adiknya supaya mendekat. Sibarani segera mendekati abangnya dan melihat keluar lewat tingkap. Diturutkannya dengan matanya apa yang dituding abangnya ke angkasa malam, Maka dari arah daerah batang Sinamar kelihatan seberkas sinar yang berwarna hijau kemerahan terbang diudara, Hampir-hampir seperti komet terbang. Terbangnya itu tidak ligat seperti kilat, dan agak perlahan. Setelah diperhatikan dengan saksama bentuknya hampir-hampir seperti seekor itik atau angsa yang sedang terbang diudara, Terbangnya semakin tinggi dan kemudian menukik setentang daerah tambang dan lenyap disana.

" Kau sangat beruntung Barang," kata abangnya.

" Kenapa wan?"

" Jarang orang yang dapat menyaksikan induk emas itu, Itu satu tanda bahwa kau akan berhasil kalau mengusahakan tambang emas itu, Pasti di tambang itu masih banyak emasnya. Berapalah artinya yang sudah digali oleh orang Mungo itu. Dalam perutnya masih bertimbun-timbun persiapan emasnya agaknya sampai dunia kiamat masih ada. Tinggal menggalinya pada kesungguhan dan kepintaran kita.

Namun teka teki sejak siang tadi belum juga berjawab. Sibarani hampir-hampir tak sabar lagi. Tetapi ia tak berani mendesak abangnya. Dikuatirkan dia mengubah rencananya.

Tiba-tiba Tu' Atin bertanya:

" Kau lihat siangan ladang kita ini tadi, Barani?"

"Ya, ada,"

" Tak ada yang menjadi tanya bagimu?"

" Memang ada wan. Sejak tadi hal itu menjadi teka teki pada saya. Setahu saya uwan tak ada mempergunakan orang upahan untuk bersiang ladang. Dan kakak tak pernah pula membantu. Jika dibantu kakak akan berapa