Halaman:ADH 0008 A. Damhoeri - Pengawal Tambang Emas.pdf/12

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Halaman ini tervalidasi

- 8 -

BESOK pagi baru Sibarani sempat berkunjung ke Lurah Bukit untuk menemui Tu' Layau. Setelah mendehem-dehem sedikit dan menyeru tuan rumah:

Tuu'!" lalu terdengar suara orang menyuruh naik, Begitulah adat kebiasaan di daerah itu kalau akan bertamu kerumah seseorang.

Didaerah Seberang Air itu rumah istilahnya: 'dangau'. Walau bangunan kuat dan bagus tetapi dikatakan dangau juga. Sebelah barat batang Sinamar dinamakan rumah. Walau bangunannya sudah bobrok.

Sibarani naiklah keatas dangau. Tu' Layau ada sedang menghadapi segelas kopi dan sepiring ubi rebus. Kebetulan Intan Badaring ada pula disana. Jadi seorang yang dicari dua yang ditemui.

Dangau Tu' Layau itu sebuah rumah gadang lama ber atap ijuk. Terdiri dari tiga ruang. Sekilas Sibarani melihat bahwa udara agak mendung pagi itu. Kedua mereka tidak ada berbicara hanya diam-diam saja. Tu' Layau memegang sebatang udut daun enau apinya sudah padam tetapi tidak dibakarnya walau masih panjang. Intan meletakkan lengannya di ambang jendela dan melihat keluar. Tak tentu apa yang jadi tatapannya. Ia tidak melengong kepada Sibarani ketika anak muda itu naik.

Sibarani dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada teman-temannya itu sebab cuaca mendung saja. Gagalkah rencana akan membuka tambang emas itu?

Dengan rasa kikuk dan ragu-ragu Sibarani mengeluarkan selepah rokoknya lalu menggulung sebatang udut daun enau. Begitu lazimnya di desa. Kalau dalam kantongnya ada juga sebungkus rokok yang lain. Sibarani membakar rokoknya, mengembuskan asapnya keatas, Seorang anak gadis kecil,- anak Tu' Layau datang menyuguhkan secangkir kopi panas kedepan Sibarani. Beberapa lama suasana hening saja dalam dangau itu. Barulah beberapa saat kemudian Tu' Layau buka suara:

"Kita sudah gagal Sibarani," katanya.

"Gagal?" ulang Sibarani dengan heran." Bukankah kita belum mulai apa-apa dalam usaha membuka tambang itu?"

"Ya, kita yang belum tetapi orang sudah dahulu dari kita. "Malahan mereka sudah mulai memetik hasilnya....."

"Siapa itu?" tanya Sibarani dengan nada kesal dan tak sabar.

"Kabarnya ada beberapa orang dari Mungo sudah mengusahakan tambangnya. Dan mereka sudah mulai mengambil hasilnya......"

"Aneh! Mengapa orang dari Mungo yang datang kesana akan membuka