"Dua orang tua?" tanya nakoda dengan suara guntur.
"Ya, dua orang tua, Tuan Nakoda"
"Bagaimana rupanya?"
"Ah, menakutkan sekali Tuan Nakoda. Belum pemah seumur hidup saya melihat manusia seperti itu. Semua giginya sudah ompong, kulitnya sudah keriput, berkerut-kerut, matanya cekung. Tak ubahnya dengan hantu. Sengsara sekali kelihatannya."
Debaran darah Nakoda semakin berguncang. Tak pelak lagi kedua mereka pastilah kedua orang tuanya. Masih hidup rupanya mereka. Dan akan dinyatakanlah kepada kedua istrinya yang sebagai bidadari bahwa kedua orang tua seperti hantu kubur itu adalah bapak dan ibunya? Memalukan sekali! Tetapi hatinya bagai disayat-sayat. Peperangan batin bergejolak dalam dadanya. Sedikit masih ada keinginan untuk mengakui ibu dan bapaknya.
"Apa kata mereka?" tanya Nakoda Tenggang lagi. "Kami tak mengerti bahasanya, Tuan Nakoda. Tetapi ia menyebut-nyebut nama Tenggang dan menerangkan namanya. Katanya namanya Talang dan Deruma ...."
Creeeet, ... petir menyambar kepala Nakoda Tenggang. Memang orang tuanya. Nakoda Tenggang menatap wajah istrinya, Puspa Sari. Istrinya sudah maklum apa yang terjadi.
"Pergilah awak lihat kedua orang tua itu," ujar istrinya.
”Saya sudah mengerti. Jika benar orang tua awak apa salahnya. Seburuk-buruknya akan orang tua awak juga. Bawalah beliau kemari dan ladenilah kedua mereka sebaik-baiknya!”
40