Lebih landjut tentang dasar politik luarnegeri Indonesia dari dahulu sampai sekarang ini ialah apa jang kita namakan dengan istilah dalam Bahasa Indonesia „politik bebas", atau dengan perkataan lain disebut „independent policy”. Politik bebas berbeda dari politik netral atau "neutralism", karena istilah terachir ini hanja berlaku dimasa peperangan. Politik bebas adalah suatu istilah politik dimasa damai. „ Bebas” berarti sesuai dengan kemerdekaan dan kedaulatan negara. „ Aktif” berarti, bahwa kita tidak menganut faham „ isolasionisme " jang tidak mungkin lagi dalam dunia modern sekarang ini . Aktiviteit tersebut mempunjai tudjuan jang tegas, ialah menghindarkan bentrokan antara bangsa jang dapat membahajakan perdamaian dan selandjutnja tertudju kepada pemeliharaan perdamaian dunia.
Soal ,,tidak memihak" adalah sekedar akibat logis dari adanja dua blok-kekuasaan jang bertentangan didunia sekarang ini, sedangkan tudjuan politik kita adalah memelihara dan memadjukan perdamaian dunia. Sebab dengan memihak salah satu blok-kekuasaan itu, kita hanja akan memperbesar nafsu peperangan dari blok jang bersangkutan karena merasa diperkuat, djadi bertentangan dengan tudjuan politik kita itu.
Politik bebas membuka kemungkinan bergerak diantara negara-negara dan mengambil guna sebaik-baiknja untuk kepentingan nasional. Dengan aktif membantu terpeliharanja perdamaian dunia dengan tjara-tjara jang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan dengan mengabdikan diri kepada kepentingan umum akan perdamaian dunia itu, kepentingan negara kita sendiri pun akan terselenggara pula.
Politik luarnegeri Indonesia dengan negara-negara tetangga ialah merapatkan kerdjasama dengan negara-negara sahabat di Asia. Lebih dari masalah-masalah dilain benua, penjelesaian masalah di Asia tentu akan sangat mempengaruhi nasib tanahair kita sendiri.
Dasar-dasar jang menghendaki kerdjasama dan adanja persahabatan antara kita dengan negara-negara sahabat di Asia ialah oleh karena terdapatnja "common ground" antara negara-negara Asia ini, ialah persamaan nasib dalam sedjarah, dan pertalian kebudajaan