negara, djika bangsa kita pandai bergaul dengan bangsa asing. Dan persengketaan-persengketaan hanja dapat disingkirkan, djika bangsa kita tahu mendjalankan politik perdamaian.
Kedua, sedjarah Indonesia sebagai tanah djadjahan, menghidup kan dalam djiwa rakjatnja perasaan anti-kapitalisme dan anti imperialisme jang sehebat-hebatnja. Perdjuangan jang sekian lama menentang sipendjadjah memperhebat tjita-tjita akan perdamaian jang abadi dan keadilan sosial sebagai dasar pergaulan bangsa-bangsa diatas dunia ini. Hanja persekutuan internasional jang berdasarkan perdamaian jang kekal dan keadilan sosial dapat mendjamin kemerdekaan bagi segala bangsa.
Perdjuangan rakjat Indonesia jang begitu hebat menentang kapitalisme dan imperialisme adalah perdjuangan terhadap angkara murka. Perdjuangan sematjam itu dengan sendirinja memupuk rasa dan perasaan kemanusiaan dalam dada bangsa kita. Hanja rakjat jang sangat menderita dan sengsara berabad-abad lamanja, dapat menginsjafkan betul-betul apa artinja dasar kemanusiaan bagi pergaulan hidup. Karena itu, rakjat kita tidak mengandung bentji dalam hatinja terhadap bangsa manapun djuga. Djiwanja penuh dengan tjita-tjita kemanusiaan dan keadilan sosial.
Memang, perdamaian jang abadi beserta keadilan sosial hanja dapat ditjapai, djika perhubungan dengan bangsa-bangsa asing didjalankan atas dasar peri-kemanusiaan .
Dan dasar kemanusiaan itu pulalah jang mendjadi sendi utama bagi politik luarnegeri Republik Indonesia", demikian Wakil Presiden Moh. Hatta.
Dasar politik luar negeri seperti apa jang didjelaskan oleh Wakil Presiden diatas ini jang telah tersiar semendjak tahun 1946, seperti kita ketahui belum lagi diberi nama sebagai apa jang telah dirumuskan oleh Kabinet Ali Sastroamidjojo dengan kata-kata : „politik luarnegeri jang bebas dan aktif, berdasarkan kepentingan rakjat dan menudju kearah perdamaian dunia”. Walaupun waktu itu belum diberi nama dan belum dirumuskan dengan tegas seperti itu akan tetapi dasar dan falsafah politik luarnegeri kita tidak berbeda dari pada apa jang telah dibentangkan oleh Wakil Presiden Moh. Hatta itu.