III. EKONOMI:
Djalan jang harus ditempuh:
Struktur Perekonomian Indonesia harus disesuaikan dengan kepribadian Bangsa Indonesia.
Sedjak 17 Agustus 1945 sampai sekarang, njatanja kita belum menemukan djalan dimana kemerdekaan sebagai djembatan untuk membentuk satu masjarakat adil dan makmur jang merata bagi seluruh rakjat.
Hal ini ternjata:
- Belum tertjapainja stabilisasi politik, keuangan dan ekonomi .
- Belum berhasilnja kita menggunakan seluruh potensi dan kekajaan alam Indonesia sebagai sumber kemakmuran dan menaikkan tingkat kehidupan rakjat kita.
Argumentasi 1:
Kepribadian bangsa Indonesia jang berdasar ADAT jang bersendikan AGAMA jang bertjorak Kolektif dan Komunalis, jang melahirkan Gotong Rojong, Musjawarah dan Toleransi, tak dapat menerima sistem perekonomian jang sekarang. Bersamaan dengan masuknja pengaruh Barat ke Indonesia, maka tjorak EKONOMI LIBERAL menguasai hidup dan kehidupan bangsa Indonesia. Sebelum pengaruh Barat masuk ke Indonesia, PEREKONOMIAN DISUSUN SEBAGAI USAHA BERSAMA. Tanah dikerdjakan bersama, buktinja sampai sekarang masih terdapat tanah-tanah komunal diseluruh Indonesia. Orang Maring Anim di Irian, tidak memerlukan tanah buat kepunjaan sendiri-sendiri, tapi tanah itu dianggap kepunjaan umum. Segala pekerdjaan didjalankan bersama-sama untuk kepentingan umum. Norma gotong-rojong menjingkirkan kapital individu dan merupakan musuh dari perhimpunan Kapital dan harta-benda. Adat tolong-menolong di Indonesia, masih dapat dilihat di Toradja. Hidup dalam kampung di Toradja, adalah Koomunalistis. Empat puluh tahun jang lalu milik perseorangan di Toradja hanjalah sebilah PARANG. Kerbau adalah kepunjaan kampung atau keluarga. Djika sesuatu barang dibelinja dengan uang jang diperolehnja sendiri, kemudian djika anggota keluarga memintanja, maka
297