Lompat ke isi

Halaman:4 x parlementaria.pdf/296

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Argumentasi III.

Pankosmisme semua untuk satu, dan satu untuk semua, hanja bentuk lahir jang kelihatan, dalam hubungan pergaulan hidup ini hanja ada, djika seseorang antara manusia, bentuk lahir menganut Agama dan adat.

Ia tunduk kepada adat dan agama, karena ia menjangka ada kekuasaan jang lebih tinggi jang akan menghukumnja kelak, djika ia telah mati.

Orang hanja merasa berkewadjiban, Gotong-rojong, musjawarah dan Toleransi djika batinnja merasa terikat dengan terikat dengan adat-istiadat jang bersendikan agama.

Tjontoh : Dikampung-kampung dimana adat dan agama masih tebal dalam kehidupan dan pergaulan, maka dapat disaksikan: Seorangnja jang bertamu kerumah orang kampung, tidak diizinkan pulang, sebelum diberi makan.

Argumentasi IV. Dikota-kota dimana orang tidak terikat oleh adat dan agama keluhuran adat dan agama telah tidak berlaku lagi dan terdapatlah pergaulan hidup jang individualistis. Ini disebabkan tak ada perasaan bathin jang mengikat seseorang jang memaksa ia harus kollektivistis dan komunalistis. Tak ada jang harus memaksa supaja orang harus gotong-rojong, toleransi dan Musjawarah.

Argumentasi V. Kesukaran hidup dan ekonomi, menjebabkan kemerosotan moral, karena dalam dada seseorang tidak diliputi oleh perasaan agama jang tebal antara lain. Harga barang kebutuhan hidup meningkat, nilai uang inflasi, djaminan emas merosot, devizen tjiut, ongkos operasi matjet, pelatjuran bertambah banjak, kriminologie meningkat, pelanggaran kesusilaan meningkat, pengangguran meningkat 8X lebih banjak dari tahun 1959 (1.000.000), angka pertambahan penduduk meningkat (2 djuta baji lahir tiap tahunnja), angka kematian hanja 1.200.000 orang kekurangan beras tiap tahunnja 700.000 ton 19 harus diimport dari luar.

Productie menurun, karena kapasiteit kerdja berkurang.

282