Lompat ke isi

Halaman:4 x parlementaria.pdf/264

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

ikatan kekeluargaannja sudah mulai kendor dan tidak begitu erat lagi. Hal ini dapat dilihat dan dirasakan dalam masjarakat kota-kota di Indonesia. Kota-kota di Indonesia pada waktu djaman pendjadjahan sudah merupakan masjarakat jang bertjorak dua dan isinja bertentangan satu sama lain, jaitu masjarakat Timur dan masjarakat Barat. Dua bentuk masjarakat ini merupakan Dualisme, jang pertentangannja sering meruntjing.

Sesudah Indonesia Merdeka, pertentangan ini lambat-laun mendjadi tumpul, oleh karena masjarakat Timur itu sudah mendjadi verward, dan menudju dengan derasnja pada masjarakat Barat. Masjarakat Barat dalam hal ini masjarakat kolonial, merupakan tjara hidup, jang mentereng dan individualistis sedangkan masjarakat Timur tjara hidupnja adalah sederhana dan kollektivistis. Bahaja-bahaja inilah, jaitu kurangnja penghargaan atas nilai-nilai jang tradisioneel, jang berakibat kurang sempurnanja hatsil-hatsil jang kita tjapai selama ini dalam lapangan politik, ekonomie dan sosial mendorong pemimpin-pemimpin kita jang waspada untuk mentjegah terus mendjerumusnja bangsa Indonesia kealam pikiran dan kehidupan a la Barat.

Saudara-saudara sekalian.

Bagaimanakah kedudukan individu dan masjarakat dalam hukum Barat? Dinegeri-negeri Barat jang demokratis, kodifikasi-kodifikasi (pembukuan hukum) terdjadi diabad ke-19, dalam waktu mana semangat individualisme mentjapai puntjaknja. Karena itu tidak mengherankan bahwa semangat itu kelihatan dalam hukum barat jang tradisionil. Tjiri dari pada sikap djiwa individualistis ialah kesadaran diri dari individu. Dalam kesadarannja sebagai „aku”, manusia mengasingkan diri dari kehidupan sekitarnja. Dia merasa dirinja suatu aku jang terpisah, berhadapan dengan dunia luar. Individu itu selalu hendak menondjolkan diri sebagai „ Aku”. Dia adalah suatu pusat kekuasaan. Dia selalu berusaha memperbesar kekuasaannja. Maka dunia terdjadilah dari individu-individu jang berdiri sendiri-sendiri berhadap-hadapan satu sama lain, senantiasa mengadu tenaga dalam perebutan kekuasaan.

250