Dimanakah letak kesalahannja? Tidak lain dan tidak bukan oleh karena sistim politik kita jang mendewakan demokrasi-omong jang tak kenal batas. Demokrasi kita demokrasi tak terpimpin.
Demokrasi kita ialah demokrasi jang didalamnja „niets wordt ontzien behalve de vrijheid zelve”. Kritik kekiri, edjek kekanan, ketjam didepan, fitnah kebelakang, sanggah keatas, tjemooh kebawah.
Karena itu, maka kita perlu mengadakan koreksi dalam sistim politik jang sampai sekarang kita anut, sistim politik jang kita djiplak mentah-mentahan dari dunia luaran. Bukan ”free fight liberalism” jang harus kita pakai, tetapi satu demokrasi jang mengandung management didalamnja kearah tudjuan jang satu, jaitu masjarakat keadilan sosial. Satu demokrasi jang berdisiplin, satu demokrasi jang sesuai dengan dasar hidup bangsa Indonesia jaitu gotong-rojong, satu demokrasi jang membatasi diri sendiri kepada tudjuan jang satu, satu demokrasi met leiderschap, satu demokrasi terpimpin.
Demokrasi kita harus demokrasi jang setjara kolektip menudju kepada ke-weerbaar-an Negara, jakni weerbaar dilapangan politik, weerbaar dilapangan ekonomi dan weerbaar dilapangan militer.
Demokrasi kita harus satu demokrasi jang „Negara-centris”, dan bukan satu demokrasi jang membawa manusia kepada ego-sentris, satu golongan sentris, atau partai-centris, atau kliek-centris.
Dan demokrasi jang demikian itu tak dapat lain dari pada demokrasi jang mempunjai ”guiding morality”, satu demokrasi jang kollektip mengabdi kepada satu tugas pembinaan Negara.
Demokrasi jang harus kita tjari itu dus harus satu demokrasi jang terpimpin.
Memang dalam zaman peralihan banjak timbul kekurang-puasan, rasa dongkol; tetapi rasa djengkel ini hendaklah disalurkan atau ditjari penjelesaiannja melalui hukum-hukum negara jang berlaku. Perasaan kurang puas mengenai pembangunan daerah, hendaklah berkisar pada otonomi daerah. Kurang puas jang bersifat oposisi
politik hendaklah kita atasi melalui saluran hukum.
224