Lompat ke isi

Halaman:4 x parlementaria.pdf/236

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Seperti jang telah saja kemukakan tadi „elok dipakai, buruk dibuang, agar dalam demokrasi kita itu terasa ada batas kepentingan rakjat banjak, terlihat adanja batas kesusilaan, batas keselamatan Negara, pun tidak dilupakan batas kepribadian kita, batas pertanggungan-djawab kepada Tuhan.

Dengan demokrasi jang tidak tahu batas kita telah mulai kesasar, kita telah menempuh djalan salah, jakni dengan terdjadinja berbagai krisis baik dalam pemerintah sipil maupun dalam ketentaraan.

Saja kutipkan disini beberapa bagian pidato Paduka Jang Mulia Presiden Republik Indonesia pada hari ulang tahun Proklamasi Kemerdekaan jang ke XII, 17 Agustus 1957.

Kita sekarang kalau tidak awas-awas, menudju kepada anarchi total. Tidakkah demikian? Segala matjam krisis sudah menumpuk kepada kita. Krisis demokrasi sendiri, sehingga orang ada jang meminta diktator atau junta militer.

Krisis achlak. Krisis, Angkatan Perang, karena orang mengira bahwa demokrasi kesasar itupun harus dilakukan dalam Angkatan Perang. Krisis tjara menindjau persoalan, dalam mana sinisme meradjalela, dan dalam mana segala hal dikuasai oleh demokrasi omong, sehingga hasil tiap-tiap persoalan hanjalah tjemooh belaka, —— tjemooh, sekali lagi tjemooh, Krisis Gezag, dalam mana orang ta’mau mengerti bahwa Kewibawaan Gezag haruslah kita bina bersama, kita susun bersama, kita pelihara bersama, dan tidak malahan kita dongkol, kita „slopen”, dengan sikap jang kini kita lihat dibeberapa daerah.

Ja krisis menjusun krisis, sehingga achirnja mungkin nanti mendjadilah krisis itu satu krisis total, jaitu Krisis mental!

National dignity kita amblas sama sekali, sehingga banjak diantara kita ini tidak merasa malu bahwa dunia luaran ada jang gojang kepala, ada jang bertampik sorak kesenang-senangan. Tidak merasa malu, kalau dunia luaran berkata ”Indonesia is breaking up” (Indonesia mulai runtuh) —— ”Quo vadis Indonesia?” (kemanakah engkau, Indonesia?) —— ”A nation in collapse”(Satu bangsa jang sedang ambruk).

222