Lompat ke isi

Halaman:4 x parlementaria.pdf/230

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Halaman ini tervalidasi

Inilah artinja nasional bagi saja. Tidak berisi faham anti agama, tidak berisi faham anti lain-lain hal; natie bagi saja adalah itu dari Negara Nasional, didalam istilah saja ialah satu negara jang meliputi seluruh daerahnja natie. Tidak tiap-tiap negara adalah satu negara nasional, walaupun merdeka, walaupun tidak! Dizaman dulu kita kenal negara-negara ditanah-air kita ini, jang satu persatu belum negara nasional, padahal merdeka. Tetapi negara-negara itu belum negara nasional, oleh karena belum meliputi seluruh wilajah tanah-air bangsa Indonesia.

Engkau dari sedjarah tanah-airmu mengetahui, Singosari berdaulat, tetapi Singosari belum negara nasional. Engkau mengetahui dari sedjarah tanah-airmu, Mataram II berdaulat, terutama sekali dibawah pimpinan Sultan Agung Hanjokro Kusumo berdaulat, addaulah, tetapi belum negara nasional.

Engkau mengetahui akan negara-negara jang ketjil-ketjil, demikian pula dari sedjarah dunia engkau mengetahui banjak negara-negara jang berdaulat, merdeka berdiri sendiri, tidak di„ereh” oleh bangsa lain, tetapi belum negara nasional. Negara nasional ialah suatu negara merdeka, berdaulat, tetapi meliputi seluruh sekudjur badannja sesuatu natie.

Modjopahit kataku, adalah satu negara nasional. Maka djikalau kita menjelidiki akan hal jang demikian, kita lihat didunia ini banjak negara nasional, tetapi banjak pula negara-negara bukan negara nasional. Djangan dihubungkan dengan faham, djangan dihubungkan dengan ideologie pro atau ideologie tegen. Aku berkata R.R.T. sekarang adalah negara nasional, fahamnja, ideologienja komunis. Tetapi R.R.T. adalah negara nasional. ideologinja komunis, oleh karena meliputi seluruh wilajah natie Tionghoa. Aku berkata Sovjet Rusia sekarang adalah negara nasional, ialah oleh karena meliputi seluruh wilajah bangsa Rusia, walaupun ideologienja komunis.

Republik Indonesia menghendaki berdirinja satu negara nasional, tetapi negara nasional itu baru berupa satu proklamasi, tetapi belum terselenggara 100% didalam kenjataan.” Demikian pendjelasan Bung Karno.

216