untuk kemadjuan jang betul tinggi dalam kehidupan rohani dan sosial. Tetapi haruslah didjaga dengan tindakan-tindakan jang tegas, supaja djiwa kommunal itu tidak lenjap sama sekali sebagai akibat dari proces tersebut. Tjita-tjita untuk kemudian hari, baik untuk Timur maupun untuk Barat, menurut Supomo, ialah suatu keadaan rohani, dimana kesadaran individu berdampingan dan selaras dengan kesadaran sosial jang hidup. Karena hanja dalam masjarakat, dimana individu-individu jang „zelfbewust" berkem bang mendjadi „persoonlijkheid” sosial, djadi mendjadi orang-orang jang insaf sebagai bagian dari keseluruhan, akan dapat tertjapai perimbangan jang tepat antara individu dan masjarakat.
Apa jang dinjatakan oleh ahli-ahli hukum-adat tersebut diatas dibenarkan djuga oleh ahli-ahli dilain-lain lapangan seperti ekonomi (v. Gelderen, Boeke). Batjalah „Gemeenschap en individu” oleh Mr. C. Tj. Bertling dalam „Het kolonial tijdschrift”, 30e jaar gang No. 4, (pembitjaraan mengenai inaugurele rede).
Saudara-saudara sekalian,
Marilah kita tindjau sekarang bagaimana seharusnja kehidupan kita di Indonesia, apabila kita suka berpegangan teguh pada dasar-dasar politis-filosofis jang terdapat dalam U.U.D. Sementara.
Tatkala Bung Karno menerima gelaran doctor honoris causa dari Universitas „Gadjah Mada” di Jogjakarta, beliau berkata: „Benar Pantjasila itu resmi mendjadi dasar falsafah Negara Republik Indonesia, sebagai tertjantum dalam Mukaddimah Undang-undang Dasarnja, tetapi saja menganggap Pantjasila itu telah lama tergurat pada djiwa bangsa Indonesia. Saja menganggap Pantjasila itu tjorak karakter bangsa Indonesia.
Maka kalau dilihat dari sudut soal individualisme-kollektivisme, njatalah bahwa dalam Pantjasila itu terdapat lima azas pikiran kollektivisme: satu jang ditudjukan kepada seru sekalian alam (ketuhanan), satu kepada sekalian manusia (kemanusiaan), satu kepada seluruh bangsa (kebangsaan), satu kepada rakjat (kerakjatan), dan satu kepada masjarakat (keadilan sosial). Itulah sebabnja dapat dikatakan, bahwa falsafah Negara dan falsafah bangsa kita sendiri benar-benar bertjorak kollektivistis, walaupun berma-