Saudara-saudara sekalian,
Berbagai tingkat kemadjuan umat manusia, dapat djuga dilihat pada anggota-anggota sesuatu bangsa. Djika pada golongan manusia jang kurang pendidikannja tampak adanja differensiasi jang sedikit sekali, maka anggota-anggota bangsa jang lebih madju menampakkan berbagai tjorak dari sifat dan tabiat jang makin beraneka warna, sehingga mereka mampu melakukan bermatjam-matjam pekerdjaan, jang harus didjalankan dalam pergaulan hidup modern.
Dr A. Lysen dalam bukunja "individu en gemeenschap", mengemukakan tentang differensiasi ini pertanjaan-pertanjaan sebagai berikut:
,,Bagaimanakah terdjadinja differensiasi itu? Dapatkah manusia perseorangan berkembang atas kekuatan sendiri semata-mata? Dapatkah golongan orang jang masih terbelakang mentjapai tingkat keadaban, mendjadi manusia jang sulit-ruwet seperti jang tampak dalam masjarakat kita sekarang ini, hanja berkat suatu pembawaan bakat sadja?
Djawabnja menurut Dr Lysen tersimpul dalam pertanjaan-pertanjaan itu sendiri: tidak mungkin. Tanpa pengaruh faktor-faktor jang ada diluar manusia perseorangan, perkembangan tadi tidak mungkin tertjapai. Lebih djauh ia terangkan:
,,Kita lahir dalam suatu dunia jang sudah mempunjai sedjarah ribuan tahun lamanja. Sedjarah telah meninggalkan bekas-bekasnja jang tahan djaman, bukan sadja dalam bentuk karang-karang dari lingkungan kebendaan kita, tetapi djuga mewariskan jang terlebih penting lagi, jaitu berbagai keuntungan rohani, jang diperoleh dengan berangsur-angsur oleh mereka jang hidup sebelum kita.
Keuntungan-keuntungan kerohanian ini, seperti: bahasa, agama, adat-istiadat dan kebiasaan, paham-paham hukum, bentuk-bentuk kesenian dan pikiran-pikiran keilmuan, tjara-tjara bekerdja jang ekonomis dan teknis, jang pemakaiannja atau pentaatannja oleh orang-orang dewasa disekitar kita, telah kita saksikan semendjak ketjil.
Dengan pendidikan, pengadjaran dan pergaulan dalam masjarakat, didalam dan diluar pekerdjaan, maka tiap-tiap generasi