rahnja itu dan bila perlu menfinishing hasil produksi perusahaan-perusahaan ketjil itu. Pabrik tersebit mulai didirikan pada tahun 1951 dan selesai achir tahun 1953, untuk kemudian mulai start dengan produksinja.
Selain daripada itu ada sebuah pabrik lagi, jaitu di Jogjakarta jang chusus memprodusir kulit reptil dan kulit kambing domba. Keempat pabrik itu selandjutnja berada dibawah penguasaan Leppin dan setelah pembentukan P.N.P.R. mendjadi unit-unit dari P.N.P.R.. Tjarma Yasa, bersama-sama dengan 2 pabrik milik Belanda jang telah diambil-alih oleh Pemerintah, jaitu pabrik „Wonotjo!o” di Surabaja dan pabrik sarat di Pasuruan.
Perusahaan-perusahaan swasta mulai berlomba-lomba memperkembangkan pabriknja. Sebuah perusahaan milik H. Sarmili di Pasar Rebo jang semula bekerdja hanja dengan tangan sadja mulai tahun 1952 telah memekanisir perusahaannja dengan mendatangkan mesin-mesin penjamakan kulit dan dalam tahun 1954 sudah dapat menghasilkan kulit Javabox disamping produksi pokok kulit sol dan kulit lapis.
Dalam tahun 1953 pabrik kulit sol „Kasim” di Malang djuga memperkembangkan pabriknja dengan tambahan mesin-mesin baru dan mendirikan laboratorium sendiri untuk memeriksa mutu hasil produksi dan bahan-bahan jang dipakai. Dengan adanja laboratorium itu pabrik Kasim dapat menghasilkan kulit sol jang bermutu tinggi jang sangat dibutuhkan untuk pembuatan sepatu Angkatan Bersendjata jang memang membutuhkan sjarat-sjarat jang chusus.
Pabrik "Setia Tjiliwung” milik H. Rais di Distinegsia jang sebelum tahun 1950 hanja merupakan perusahaan ketjil, karena giat membangun dengan mendatangkan mesin-mesin baru, sedjak tahun 1954 pabrik ini sudah mempunjai mesin-mesin komplit dan dapat menghasilkan bermatjam-matjam kulit, hasil mana sebagian besar diperuntukkan untuk pabrik sepatunja sendiri, sebab disamping pabrik penjamakan kulit, Setia Tjililwung mempunjai pabrik sepatu pula.
Di Medan sedjak tahun 1955 dibangun pabrik penjamakan kulit „Sinar Baru” (milik warga negara asli) jang tergolong besar dengan mendatangkan mesin-mesin komplit seharga ± Rp. 500.000,— C & F (koers pada waktu itu 1 US $ = Rp. 11,—). Tetapi sangat disajangkan bahwa karena kesulitan modal pabrik tersebut sampai sekarang belum bekerdja penuh dan baru memberikan hasil jang sedikit sekali.
846