nesia merupakan gudang bahan baku dan merupakan daerah eksploitasi untuk kapital mereka jang berlebihan. Djelas pula usaha-usaha bangsa kita sendiri tidak diberi kesempatan, sedangkan usaha menanamkan surplus kapital mereka/luar negeri/asing, makin meluas. Menurut perkiraan seorang sardjana Barat sendiri, pada waktu penjerahan kedaulatan (achir 1949) hanja 19% dari modal swasta dibidang bukan pertanian berada ditangan orang Indonesia, selebihnja ditangan bangsa asing : ± 50% dari impor barang-barang konsumsi diselenggarakan oleh 4 perusahaan Belanda dan 60 dari kegiatan ekspor ditangan perusahaan asing. Bank Central Javasche Bank dimiliki Belanda, sedangkan sebagian besar Bank-bank swasta dikuasai oleh perusahaan asing (perkapalan, perminjakan, perkebunan dan lain-lain). Kepentingan industri hanja tjukup diurus oleh suatu bagian dari Departemen van Economische Zaken; sehingga tidak memungkinkan untuk mendapat iklim jang baik bagi perkembangan industri, chususnja industri nasional. Demikianlah sistim pendjadjahan Belanda jang sangat merugikan bagi perkembangan perindustrian nasional.
3. Zaman pendudukan Djepang:
Pengalaman kita dalam zaman pendjadjahan Djepang, lebih menjedihkan. Seribu satu kesulitan dialami oleh bangsa Indonesia. Tetapi berkat kesulitan-kesulitan jang dialami timbul banjak inisiatif, sehmgga aktu itu kita benar-benar berdiri diatas kaki sendiri. Barang-barang impor tidak ada. Bahan mentah jang dieksploitir tidak terbatas pada barang-barang ekspor jang kuat sadja seperti karet, gula, kopi, teh dan lain-lain, tapi djuga jang lemah seperti bidji djarak, iles-iles, hasil tambang-tambang ketjil. Namun kegiatan-kegiatan tersebut tidak lain ditudjukan untuk kepentingan pertahanan Djepang sendiri. Dengan tekanan ekonomi jang demikian berat itulah memberikan dorongan kepada kita untuk berdiri diatas kaki sendiri, mentjukupi kebutuhan dari hasil djerih-pajah dan tjutjuran keringat sendiri. Inisiatif rakjat timbul kembali, menggali kembali kepandaian-kepandaian jang dimiliki sebelum zaman pendjadjahan Belanda, mulai dari produksi sandang, produksi alat-alat pertanian, produksi barang-barang konsumsi, kertas, karet dan lain sebagainja sampai pada usaha-usaha mendapatkan substitute untuk bahan pangan.
Dengan demikian walaupun bangsa kita menderita hebat, namun keuletan dalam tjara memenuhi kebutuhan sendiri mem-
820