Belanda sudah mulai tidak aman. Suatu serangan setjara besar-besaran untuk mengembalikan kepertjajaan rakjat dipandang perlu. Maka setelah persiapan didjalankan dengan saksama pada tanggal 29 Desember 1948 pasukan-pasukan kita sudah bergerak madju kepangkal penjerangannja masing-masing mulai djam 16.00. Demikian maka pada djam 19.00 kita bergerak madju kesemua djurusan. Pertempuran terdjadi diseluruh kota dari djam 21.00 hingga 04.00 pagi. Belanda mempergunakan segala peralatannja. Serangan ini berhasil sesuai dengan rentjana dan rakjat mulai pertjaja.
Pada mulanja Belanda tak mengira, bahwa pada suatu saat T.N.I. akan muntjul. Mereka menganggap bahwa T.N.I. sudah hantjur.
Dalam kita mendjalankan perang gerilja itu, kita memakai taktik-taktik, hilang kalau diserang dan muntjul kalau menjerang; kita harus menghemat disegala bidang, karena kita harus berperang lama.
Tak dapat dilupakan ialah serangan jang kita lakukan pada tanggal 1 Maret 1949, dan jang terkenal dengan sebutan 6 djam di Jogjakarta. Serangan 1 Maret ini ternjata tidak hanja mendapat keuntungan materiil, tetapi djuga politik; karena dengan serangan jang hebat itu, propaganda Belanda hilang musnah seperti dinembus angin. Propaganda Belanda bahwa T.N.I. telah hantjur, Republik Indonesia sudah bubar dan sebagainja. Dan dapatlah memberi kepertjajaan lagi kepada semua orang jang menaruh simpati kepada kita. Pun mereka jang membantu Belanda mendjadi bimbang. Di P.B.B. wakil kita merasa mendapat backing jang kuat. Setelah serangan 1 Maret 1949, itu Belanda mengadakan gerakan besar-besaran di Wonosari, karena mereka mengira bahwa Wonosari merupakan basis dari T.N.I. Dus, harus dihantjurkan. Gerakan ini betul-betul didjalankan oleh Belanda setjara besar-besaran dengan 1 bataljon infanteri, 30 pesawat pengangkut, 10 jagers dan bombers. Tetapi sudah tentu tak berhasil sama sekali, karena gerilja berada dimana-mana didekat Markas Belanda didalam kota.
Bagi setiap tenaga gerilja jang turut serta ditengah perdjoangan bangsa pada waktu itu, saat-saat itu adalah merupakan ”the best years of our life”, betul-betul jang tak dapat dilupakan.
Pada tanggal 28 Djanuari 1949 Dewan Keamanan menerima resolusi jang diusulkan Amerika Serikat, Tiongkok, Norwegia dan Cuba, walaupun wakil Belanda dalam Dewan Keamanan
546