anggaran belandja sendiri. Sampai achir tahun 1946 djumlah kaum pedjoang kemerdekaan jang menjelundup ke Kalimantan ±1500 orang pedjoang jang terbagi dalam beberapa angkatan. Pasukan-pasukan seperti Pesindo, A.L.R.I. Div. IV dan Biro Perdjoangan Seberang.
Pada tanggal 4 Oktober 1949 perdjoangan kemerdekaan Rakjat Kalimantan diakui resmi oleh Pemerintah Pusat R.I. dengan djalan meresmikan adanja A.L.R.I. Div. IV oleh Djend. Major Soehardjo, jang selandjutnja oleh Let. Kol. Suhanda Brata menggala atas nama K.S.A.P. Republik Indonesia melebur mendjadi ALRI Dis. IV da nkemudian mendjadi satuan Angkatan Darat dan diberi nama T.N.I. Divisi Lambung Mangkurat dengan pimpinannja atau panglimanja Letn. Kolonel Hasan Baary.
d. Di Bali.
Dengan adanja perdjandjian Linggardjati antara Republik Indonesia dan Belanda, meskipun belum disjahkan oleh Badan Perwakilan kedua Negara jang bersangkutan, dasar-dasar perdjandjian tersebut didjadikan pedoman dalam konperensi Denpasar. Dalam fatsal-fatsal Linggardjati ini antara Jain tertjantum pengakuan de fakto dari pihak Belanda terhadap R.I., sedangkan dalam fatsal lainnja R.I. menjetudjui susunan kenegaraan jang berbentuk federasi jang akan terdiri dari Negara R.I. (Djawa, Madura, Sumatera, Kalimantan dan Indonesia Timur).
Perdjoangan bersendjeta didaerah jang dikuasai oleh Belanda, antara lain Bali mengalami fase jang sangat berat, karena perbedaan pandangan serta hubungan jang tidak lantjar dengan pusat perdjoangan di Djawa. Sementara itu pimpinan perdjoangan seluruhnja praktis berada ditangan Let. Kolonel Ngurah Rai. Beliau ini berpendirian tetap tidak menjetudjui diadakannja perundingan-perundingan jang chusus mengenai Bali dan menjerahkan hal jang demikian kepada Pemerintah R.I. jang berkedudukan di Djawa. Hanja perintah jang dikeluarkan oleh Pemerintah R.I. sadjalah jang dapat diterima. Demikian pendirian Badan-badan jang bersendjata seluruhnja berdiri dibelakang Letnan Kolonel Ngurah Rai. Semangat perlawanan ini memuntjak ketika pada 20 Nopember 1946 terdjadi suatu pertempuran sengit antara pasukan jang dipimpin oleh Letnan Kolonel Ngurah Rai sendiri dengan tentara Belanda jang mengakibatkan gugurnja sebagian besar para pimpinan termasuk Letnan Kolonel Ngurah Rai.
543