Didorong oleh semangat untuk membalas dendam, maka 2 orang pemuda kita jang bersemangat Gatotkatja membom kota Semarang, kota pendudukan Belanda. Sekalipun hanja dengan pesawat terbang sederhana bersajap dua.
Serbuan Belanda dimana-mana kita sambut dengan hangat. Tentara Belanda berhasil menguasai karesidenan-karesidenan: Semarang, Pekalongan, Banjumas. Dan mereka berhenti diperbatasan-perbatasan sampai ada perintah penghentian tembak-menembak dari Dewan Keamanan P.B.B. pada tanggal 1 Agustus 1947.
Sesuai dengan perintah itu Panglima Tertinggi kita memerintahkan kepada segenap Angkatan Perang Republik Indonesia untuk menghentikan segala permusuhan dan supaja masing-masing berada ditempat. Republik Indonesia dan Belanda kemudian mengadakan perundingan lagi dikapal Renville, diteluk Djakarta. Pada tanggal 7 Djanuari 148 persetudjuan/perdjandjian Renville ditanda-tangani. Adapun isinja:
- Persetudjuan gentjatan sendjata antara Belanda dan Republik Indonesia;
- Enam prinsip tambahan untuk perundingan guna daan penjelesaian politik.
Pada tanggal 2 Maret 1948 telah terdapat persetudjuan mengenai status-kuo. Kekuatan bersendjata dari Republik Indonesia jang berada dibelakang apa jang dinamakan „garis Van Mook” harus dihidjrahkan. Tentara jang masih mengantong didaerah-daerah Belanda itu harus ditarik. Daerah Republik Indonesia jang semakin sempit menghadapi keadaan jang paling sulit, dengan ditambahnja sedjumlah besar tentara jang perhidjrah itu. Kesulitan-kesulitan timbul dalam segi politik, ekonomi dan militer. Udjian berat semakin terasa bagi Tentara Nasional Indonesia. Ditinggalkannja daerah-daerah kantong, merupakan daerah vacuum dan ternjata dapat menjuburkan aliran-aliran jang ekstrim diantaranja jang terkenai ialah „Gerakan Darul Islam Kartosuwirjo”. Disamping itu didaerah de fakto Republik Indonesia keadaan politik sangat panas dan timbullah peristiwa Madiun jang sangat kita sesalkan itu.
Peristiwa-peristiwa diluar Djawa sekitar Perang Kemerdekaan ke-I (Pertama).
- Di Sumatera.
539