rachir dari zaman R.I. telah dapat ditjiptakan suatu ,,Dana-Industri Ketjil”, sedangkan dalam bidang pendirian induk-induk perusahaan dan perusahaan-perusahaan jang meliputi dan merupakan kelengkapan daripada usaha-usaha jang telah mempunjai histori dalam dunia perindustrian ketjil dan keradjinan rakjat daerah jang kita kuasai dulu, ialah: keramik (Jogjakarta), kulit (Magelang), pajung (Djuwiring) dan kulit (Magetan) serta sabut kelapa (Pengasih). Djuga bantuan mekanisasi telah dipikirkan dan direntjanakan. Sajang sekali bahwa karena keadaan dan suasana pada waktu itu ide-ide tersebut diatas baru dapat benar-benar direntjanakan dan dilaksanakan setelah Negara Kesatuan pulih kembali. Hal ini disebabkan djuga oleh karena terhalangnja pelaksanaan ide-ide itu karena terdjadinja clash ke-II, jang sekaligus telah pula membawa kehantjuran didalam kehidupan perindustrian dan keradjinan pada umumnja.
Akan tetapi lambat laun, pengorganisasian dan pikiran-pikiran baru sebanjak mungkin disesuaikan dengan perkembangan selama ini dan senantiasa diusahakan untuk menanggulangi kesukaran-kesukaran jang menimpa, sehingga dapat menimbulkan lagi perspektif-perspektif kemadjuan.
ad. b. Djawatan Tambang dan Geologi.
Dengan menjerahnja Djepang kepada Sekutu serta petjahnja perdjoangan bersendjata untuk perebutan Kemerdekaan Indonesia, maka terdjadi pula pengambi-alihan pimpinan ,,Chisitsu Chosajo” dari tangan orang-orang Djepang oleh Bangsa Indonesia dengan pimpinan almarhum Sdr. A.F. Lasut (jang dalam tahun 1949 telah gugur di Jogjakarta).
Nama djawatan diganti mendjadi ,,Pusat Djawatan Tambang dan Geologi” dibawah Kementerian Kemakmuran Republik Indonesia jang berkedudukan di Bandung. Setelah dimulai pertempuran-pertempuran melawan Nica terutama dibagian utara kota Bandung, dan djuga karena kantor djawatan tersebut terletak disana, maka pimpinan djawatan berusaha memindahkannja kebagian selatan kota Bandung.
Tetapi arus perdjoangan kemerdekaan dalam tahun-tahun berikutnja telah memaksa kantor berpindah-pindah, mula-mula dari Bandung mengungsi ke Tasikmalaja, kemudian ke Magelang dan achirnja ke Jogjakarta. Sedang serombongan pegawai lainnja berkedudukan di Sala diperbantukan kepada Markas