- proses produksi dan pemberian djasa supaja dapat berdjalan terus, bahkan sedapat mungkin supaja lebih lantjar dari pada dalam waktu-waktu jang lampau.
- tingkat kesempatan kerdja supaja dipertahankan.
- sjarat-sjarat perburuhan supaja djangan sampai berkurang.
Tiga matjam ketentuan tersebut selandjutnja merupakan pedoman dalam menjelesaikan masalah perburuhan jang timbul dipusat dan didaerah-daerah pada waktu itu.
A. MASALAH TENAGA KERDJA.
1. Informasi Terjaga Kerdja.
Pada tahun 1955 Indonesia mulai menjusun rentjana „pembangunan ekonomi jang pertama (1955 — 1960)”. Dalam penjusunan rentjana itu makin dirasakan pentingnja peranan tenaga kerdja. Sesungguhnja, suatu rentjana pembangunan tidak akan lengkap djika „inputnja” hanja terdiri atas alam, bahan mentah dan uang sadja, tanpa tenaga kerdja. Maka mulailah perhatian ditudjukan pada pengetahuan tentang persoalan tenaga kerdja. Untuk menjusun suatu rentjana pembangunan diperlukan pengetahuan tentang djenis tenaga jang tersedia, bagaimana umur dan kesanggupannja, faktor-faktor jang dapat merobah susunan tenaga kerdja, kejtepatan urbanisasi (arus dari desa pindah kekota).
Untuk memperoleh keterangan-keterangan jang benar-benar dapat dipertanggung-djawabkan setjara ilmiah guna kepentingan rentjana pembangunan tersebut mulailah diadakan pengumpulan keterangan-keterangan tentang tenaga kerdja, melalui survey-survey sebagai berikut :
| 1956 | — | Pertial Manpower survey seluruh Indonesia, |
| 1956 | — | Pilot Project Employment Market Information Survey di Sukabumi, |
| 1957 | — | Pilot Project Labour Force Sample Surveys wilajah Sukabumi (kota dan pedusunan), |
| 1957 | — | Pilot Project Labour Force Sample Survey Bandung kota), |
| 1957 | — | Pilot Project Labour Force Sample Survey Wurjantoro (pedusunan), |
| 1957 | — | Pilot Project Labour Sample Survey Kota Solo (kota), |
170