Graaf De Monte Christo - 18.pdf/Isi
Kentara sekali ijang njonja Danglars berasa bingoerig, ijang ija sendiri tida bisa bilang sebabnja, atawa kaloe toewan de Braij bisa dapet taoe dari pada hal rahasianja njonja Danglars, tentoe sekali tinggal djoega semboeniken, seperti memang kebiasaän se-orang prampoewan bisa mesamarken, hal ijang ija hendak simpen dalem hatinja.
Makalah toewan de Braij tida maoe bertanja lebih pan- djang lagi; kerna dia mengarti djoega ijang itoe pertjoema.
Di moeka pintoe kamarnja, baronnes Danglars ketemoe pada nona Cornelie, ijang mendjadi baboe pada barones, dan di pertjaja.
„Kita poenja anak prampoewan bikin apa?" bertanja njonja Danglars.
„Ja se-antero malem beladjar," menjahoet Cornelie, „lantas ija pergi tidoer."
„Kita rasa dia sekarang main piano, sebab kita denger orang main piano."
„Boekan! ijang main piano itoe, nona Louice d'Armilly dan Njonja poenja anak tidoer."
„Baiklah," mendjawab njonja Danglars: „toeloeng kita aken boekaken pakean."
Sesoedahnja kata begitoe Njonja Danglars masoek dalem kamarnja. Toewan de Bray bertidoeran di atas satoe bangkoe besar, dan njonja Danglars dengen nona Cornelie masoek dalem kamar pakean.
„Toewan Lucien," berkata njonja Danglars dari blakang klamboe, ijang tergantoeng di moeka pintoe pakean, „kaoe saban berkata ijang Eugenie tida maoe bitjara sama kaoe.
„Njonja," menjaoet Lucien, sembari memain sama andjingnja njonja Danglars: „boekan kita sendiri ijang berkata begitoe, dan kaloe kita tida kliroe djoega toewan de Morcerf brapa hari di moeka ada berkata, ijang dia tida hisa dapet denger satoe perkataan dari toendangannja."
„Betoellah itoe," menjaoet njonja Danglars: „tetapi kita kira ijang di dalem bebrapa hari ini tida lagi begitoe, dan kaoe nanti dapet lihat pada Eugenie di dalem kaoe poenja kantoor."
„Pada kita poenja kantoor?"
„Ja, tetapi di kantoornja Minister."
„Sebab apa?"
„Aken moehoen soepaja boleh toeroet djadi anggota komedi menjanji. Soenggoeh, kita belon lihat seorang ijang begitoe tergila-gila muziek seperti Eugenie; inilah mendjadiken tetawaän orang prampoewan."
Toewan de Bray mesem.
„Baik, soeroeh datenglah padanja, kaloe kaoe dan toe- wan Baron berkenan dan nanti kita-orang kasi idzin, aken djadi anggota komedi menjanji, dan seboleh-bolehnja nanti kita-orang memberi gandjaran ijang pantes di atas kapandeannja; biarlah kita-orang miskin, soeka aken membri noegrah. besar di atas kapandeannja ijang begitoe moelia."
„Pergilah, Cornelie," berkata njonja Danglars: „kita tida hendak soeroeh apa-apa lagi pada kaoe."
-Cornelie berdjalan keloewar kamar; sebentar lagi njonja Danglars kloewar djoega dari kamar; pakean dengen pakean tidoer dan berdoedoek di sebelahnja Lucien. Njonja Danglars mengoesoet-ngoesoet andjingnja. Lucien meman- lang njonja Danglars dengen diam.
„Ajolah Hermine," kata toewan de Bray, sesoedahnja berdiam sebentaran: „bilanglah sesoenggoehnja, apa kaoe tida poenja pikiran ijang sedih ?"
„Sekali-kali tida," menjaoet Barones.
Begitoe djoega njonja Danglars berdiri, dan tarik napas seperti ija dapet sesek dan memandang moekanja di katja.
„Ini malem kita poenja moeka roepanja teramat boesoek," berkata njonja Danglars.
Dengan bermésem toewan de Bray berdiri, aken membikin senang hatinja njonja Danglars, tetapi dengen kaget pintoe kamar di boeka dan toewan Danglars masoek.
Toewan de Bray lantas doedoek lagi.
Srenta Njonja Danglars denger pintoe di boeka, menengoklah ija dan dengen moeka ijang mehoendjoeken kaheranan, memandanglah ija pada lakinja.
„Slamat malem, Njonja," berkatalah Toewan Bankier:
„Slamat malem, Toewan de Bray!"
Njonja Danglars sangka ijang lakinja dateng aken minta ampoen dari pembitjaraan padanja, waktoe itoe pagi djoega, maka ija sangka ijang Toewan Danglars sekarang menjesel dari pada itoe. Lantas sadja Njonja Danglars menghoendjoeken moeka angkoe, dan dengen tida menjaoetken lakinja, ija berkata pada Lucien:
„Ajolah batjaken kita apa-apa, Toewan de Bray!"
Toewan de Bray, ijang mendjadi koewatir, sebab toewan Danglars soedah dateng dengen kaget, ijang tida mendjadi biasanja, hendak mengambil satoe boekoe aken di batja.
Ampoenlah, Barones," mendjawab toean Bankier, „tetapi kaoe nanti mendjadi terlaloe tjape aken tinggal melek sampe tengah malem; sekarang soedah djam doea-blas, dan Toewan de Bray roemahnja begitoe djaoeh."
Toewan de Bray tinggal doedoek melongong, tida dari sebab toewan Danglars bitjara dengen sabar dan sapatoetnja, tetapi sebab dia berasa, ijang dengen ini pembitjara-an toean Danglars menghoendjoeken ijang pada ini malem, dia tida hendak menoeroeti kamaoeannja bininja, seperti biasanja, tetapi aken menoeroetin kamaoeannja sendiri.
Djoega Barones mendjadi heran dan djika ija menghoendjoeken moekanja, ijang tentoe mendjadiken lakinja berpikir, kaloe dia tida kabetoelan liat di dalem satoe soerat kabar, maka dia tida liat moekanja bininja, ijang tera- mat angkoehnja.
„Toewan Lucien," berkata barones Danglars, „kita bilang kaoe, ijang kita sekali-kali tida ngantoek, dan sebab ini malem kita hendak bilang banjak perkara pada kaoe, maka kita harep ijang kaoe tinggal disini aken dengerken kita poenja bitjaraan, biarlah kaoe moesti djatoh tidoer dengen berdiri!"
„Apa kaoe prentah, kita toeroet, Njonja," menjaoet Toean Lucien.
Toewan de Bray," kata Toewan Danglars, „djanganlah kaoe hoekoem diri, aken dengerken satoe malem lamanja, pada bitjaraan bodoh dari Njonja Danglars; bitjaraannja kaoe bisa dengerken besok djoega, sebab ini malem kita sendiri hendak bitjara pada njonja Danglars dari bebrapa hal ijang amat perloe."
Ini bitjaraän mendjadiken terkedjoet toewan de Bray dan njonja Danglars, maka dia orang memandang satoe sama lain, aken soepaja ijang satoe menoeloeng sama ijang lain; begitoe djoega kamaoeannja, ijang laki moesti di toeroetin, sebab ija ijang berkoewasa di roemah.
,,Kaoe djangan kira ijang kita oesir pada kaoe, dari kita poenja roemah toewan de Bray," berkata toewan Danglars ,,sekali-kali tida; satoe hal ijang soedah kedjadian dengen kaget, terpaksa pada kita aken bitjara pada ini malem djoega dengen Barones Danglars; makalah begitoe, djarang kedjadian ijang kita-orang laki bini bitjara satoe sama lain, ijang boleh menimboelken kaoe poenja marah pada kita."
Toewan de Bray bitjara apa-apa ijang tida kedengeran, lantas kasi tabe dan berdjalan poelang, seperti orang mendjadi bingoeng menetapi sana-sini ingetannja.
Sesoedahnja toewan Lucien keloewar, pintoe ketoetoep lagi toewan Danglars lantas doedoek di atas satoe bangkoe dan dengen moeka asem, dia memain-main dengen andjing, tetapi sebab tida begitoe soeka padanja, seperti pada njonja Danglars, maka itoe andjing maoe gigit pada toewan Danglars, dari itoe dia pegang itoe andjing di batang lehernja dan lempar padanja di oedjoeng kamar. Dari pada sakitnja bekoewing-koewing, tetapi tida lama lagi dia semboeniken badannja di blakangnja satoe bantal dengen tida bergerak.
„Kaoe taoe toewan," berkata njonja Danglars dengen moeka bengis: „kaoe poenja tingkah sekarang ini ada amat angkoe! Biasanja kaoe poenja tingka aloes, sekarang kasar
„Ja, itoelah sebab, pada ini malem kita poenja hati meradjoek lebih dari sabannja" menjaoet toewan Danglars. Hermine memandang pada toewan Danglars dengen moeka hina. Biasanja kaloe njonja Danglars memandang padanja begini, toewan Danglars mendjadi bingoeng, tetapi ini malem dia bikin seperti dia tida lihat ini moeka.
„Kita perdoeli apa ijang kape poenja hati meradjoek,"
berkata njonja Danglars, ijang djoega mendjadi marah: ,,apatah kita taoe toeroet tjampoer dalem kaoe poenja perkara? Toetoeplah kaoe poenja hati meradjoek itoe di dalem kaoe poenja kamar, atawa dalem kaoe poenja kantoor, atawa djatoehken itoe pada kaoe poenja kawan-kawan, ijang kaoe bajar, soepaja dia-orang boleh merasaken itoe." „Tida, tida," menjahoetlah toewan Danglars „kaoe kasi
pengadjaran tida betoel pada kita, njonja; maka itoe kita tida hendak toeroetin. Di dalem kita poenja kantoor kita poenja hati moesti barasa senang dan kita poenja kawan-kawan semoewa orang baik, membri oentoeng pada kita, dan tida bersalah, maka kita tida boleh marahken pada dia-orang. Kita moesti djatohken kita poenja hati marah pada ijang dateng makan enak dalem kita poenja roemah, ijang memake kita poenja koeda-koeda sampe mati dan ijang mengkosongken kita poenja peti oewang."
Siapatah itoe ijang bikin kosong kaoe poenja peti oewang? Bitjaralah ijang terang, toewan, kita tida mengarti kaoe poenja perbilangan ini."
„Oh, djanganlah kaoe koewatir; kita boleh bitjara seperti kita kası badean, tetapi tida lama nanti kaoe bisa bade djoega," menjahoet toewan Danglars, „siapa ijang membikin kosong kita poenja peti oewang, ija itoe ijang kloewarken di dalem satoe djam sampe toedjoe ratoes riboe frank dari kita poenja peti oewang."
„Kita tida mengarti kaoe poenja bitjaraan ini." berkata barones, dengen mendjadi amat marah. „Kaoe sampe mengarti djoega kita poenja bitjaraan ini,"
mendjawab toewan Danglars, „tetapi kaoe poera-poera sadja
tida mengarti, maka itoe kila terangkan ijang pada ini hari
kita dapet roegi dari pada pindjeman oewang negri Spanjol
banjaknja toedjoe kali seratoes riboe frank."
„Sekaranglah mendjadi lebih bagoes." menjahoet njonja Danglars, apatah kita ijang moesti tanggoeng kaoe poenja karoegian?"
„Sebab apa tida?"
„Apatah kita poenja salah, ijang kaoe dapet roegi sampe
toedjoe ratoes riboe frank?"
„Begimana djoega, boekan kita poenja sebab."
„Lagi sekali toewan," mendjawab njonja Danglars. Kita
bilang aken djangan bitjara pada kita dari perkara oewang;
inilah satoe perkara, ijang kita tida taoe bitjaraken,
baik di dalem roemahoja kita poenja orang toewa, baik di
dalem roemahnja kita poenja laki ijang doeloe."
,,Kita boleh pertjaja ini, sebab baik ijang satoe, baik ijang lain tida poenja kemampoean satoe pèsér," menjahoet toewan Danglars.
„Apalagi," mendjawab lagi njonja Danglars, „kita tida dapet pengadjaran dalem hal oewang, tetapi disini kita moesti mendengerken siang malem tida lain, oewang ijang di hitoeng dan lagi di hitoeng, itoelah kita tida betah, dan lagi kita denger tida lain, dari kaoe poenja soewara, ijang kita bentji."
„Soenggoeh," menjaoet toewan Danglars, „heran sekali, sebab kita rasa ijang di dalem kita poenja perdagangan kaoe djoega perhatiken."
„Kita? Siapa soedah membilang hal djoesta ini pada kaoe?" „Kaoe sendiri!"
„Tjontohnja?"
„Tentoe."
„Kita kepingin taoe, pada waktoe apa ijang kita soedah toeroet tjampoer dalem kaoe poenja perdagangan?"
„Astaga! dalem boelan Februari ijang soedah kaoe sendiri soedah bitjara pada kita, dari soerat soerat oetangnja Negri Haiti. Kaoe bilang, ijang kaoe soedah mimpi, itoe soerat-soerat oetang hendak di bajar, dan dari sebab kita soedah taoe kakoewatannja kaoe poenja mimpian, maka kita soedah beli di bawah tangan samoea soerat-soerat oetang dari negri Haiti ijang boleh di belih, maka dari pada itoe kita dapet oentoeng sampe ampat ratoes riboe frank, maka dari itoe oewang kita soedah kasi kaoe poenja bagian saratoes riboe frank, di kaoe poenja tangan sendiri. Itoe oewang kaoe pake, sabagimana kaoe poenja maoe sendiri; di dalem hal ini kita tida toeroet tjampoer, kita tida perdoeli.
„Dalem boelan Maart kaoe soedah bitjaraken dari hal djalanan kreta api. Tiga Maatschappij soedah dateng sama kita dan membikin pertanggoengan djoega. Itoe waktoe kaoe bilang pada kita, ijang perasaannja kaoe poenja hati, biarlah kaoe soedah bilang ijang kaoe tida mengarti satoe apa dalem hal perdagangan, pertjaja djoega ijang kaoe poenja perasaan dalem hati tjotjok ijang paling di berkenanken ija itoe maatschappij dari sebla kidoel, makalah djoega lantas ambil bagian dalem itoe maatschappij, doea dari pertiganja. Pada itoe maatschappij soedah di bri hak djoega, seperti kaoe soedah berasaken lebih doeloe; maka harganja aandeel, dari itoe maatschappij soeda naek sampe tiga kali lipat maka itoe kita oentoeng sampe satoe millioen frank, dan pada kaoe kita soedah bajar bagianmoe doea ratoes lima poeloe riboe frank. Apa ijang kaoe soedah bikin dengen oewang sebagitoe banjak, kita tida perdoeli."
„Tetapi apatah ijang kaoe maoe toewan?" bertanja njonja Danglars, dengen teramat marahnja.
„Sabarlah njonja, nanti kita kasi taoe hal ini pada kaoe."
„Baik."
„Dalem boelan April, kaoe berdjamoe pada toewan Minister; itoe waktoe orang bitjaraken dari perkaranja negri Spanjol, ijalah dari hal mengoesir Don Carlos, maka itoe kita soedah beli soerat-soerat oetangnja negri Spanjol. Toewan Don Carlos di oesir djoega dari negri Spanjol dan Karel V berdjalan liwat Bidaossa, kita oentoeng sampe anem ratoes riboe frank. Dari ini anem ratoes riboe frank kaoe trima bagian seperapatnja, dan kita tida tanja djoega apa ijang kaoe soedah bikin dengen itoe oewang; begitoe djoega soedah ternjata, ijang di dalem ini taoen kaoe soedah trima dari kita, lima ratoes riboe frank."
Apa lagi, toewan ?"
Inilah menimboelken kita poenja peringetan, itoelah soedah sampe. Tiga hari ijang soedah, kaoe dan toewan de Bray soedah membitjaraken hal negri, dan dari apa ijang kita soedah dapet denger hal itoe pembitjaraän, di ka- tanja ijang Don Carlos soedah kombali lagi di negri Spanjol, maka itoe kita djoewal semoewa soerat-soerat oetang dari negri Spanjol, dan sebab ini warta lebih lama lebih di pertjaja dan menimboelken banjak kakoewatiran, dan kemoedian ternjata ijang itoe kabaran palsoe, maka dari pada itoe kabaran ijang palsoe, kita roegi toedjoe ratoes riboe frank."
„Makalah?"
„Kaloe kita kasi separapat bagian dari apa ijang kita oentoeng, boekanlah pantes djoega ijang kaoe kombaliken djoega seperapat bagian dari apa ijang kita roegi; maka itoe saperapatnja: toedjoe ratoes riboe frank, djadi seratoes toedjoe poeloe lima riboe frank, ijang kaoe moesti kasi kombali pada kita."
„Tetapi apa ijang kaoe bilang pada kita itoe teramat sekali dan kita tida mengarti, sebab apa kaoe menjeboet namanja toewan de Bray di dalem hal ini."
„Sebab, kaloe brangkali kaoe tida poenja oewang banjaknja seratoes toedjoe poeloeh lima riboe frank ijang kita minta kombali dari kaoe, biar kaoe boleh pindjem itoe dari kaoe poenja sobat-sobat, dan toewan de Bray mendjadi kaoe poenja sobat, boekan?"
„Tjis", menjahoet Barones Danglars.
„Ja djanganlah kaoe bermain main, djanganlah kaoe poera-poera, njonja, sebab nanti kita berasa kepaksa aken membilang, ijang kita sekarang lihat, seperti toewan de Bray girang hati dari oewang lima ratoes riboe frank, ijang kaoe soedah kasi padanja, dengen membri slamat dirinja sendiri, ijang sekarang dia soedah bisa dapet, apa ijang dia tjari, saorang pendjoedi besar tida bisa dapetken, ija itoe aken berdjoedi dengen tida pake modal, maka dapet oentoeng, dengen tida bisa dapet roegi."
„Barones Danglars mendjadi lebih moerka dan berkata: Bangsat, apalah kaoe brani bilang, ijang kaoe tida taoe? apa ijang kaoe brani kata pada kita?"
„Kita tida bilang ijang kita taoe, djoega kita tida bilang ijang kita tida taoe. tjoema kita bilang tjoba kaoe priksa kita poenja kelakoean di dalem ampat tahoen, kaloe kaoe boekannja lagi kita poenja istri dan kita boekannja lagi kaoe poenja laki, tentoe kaoe moesti mengakoe, ijang salamanja itoe kaoe minta beladjar moeziek pada saorang goeroe moeziek ijang teramat pande, dan ijang di dalem roemah komedi di soerakin dari pada boengahnja pendenger, dan djoega kepingin adjar kita dangsa pada saorang prampoean ijang pande dangsa ijang soedah dapet kapoedjian di kola London. Di dalam ini peladjaran, baik aken kaoe, baik aken kita, kita soedah kloewarken ongkos kira-kira seratoes riboe frank...... Begitoe djoega kita tida bilang satoe apa dari hal ini, sebab kita orang di dalem roemah tangga moesti tinggal roekoen .. Seratoes riboe frank, soepaja laki dan bini adjar dangsa dan moeziek, tida terlaoe banjak. Tetapi dengen kaget, lantas kaoe tida mave lagi adjar moeziek dan mendapet kahendakan aken beladjar ilmoe pamerentah dengen Secretaris dari Minister... Kita begitoe djoega tida maoe larang kaoe poenja kahendakan ini, sebab kaoe bajar ini dengen kaoe poenja oewang sendiri, ttapi sekarang kita dapet taoe, ijang kaoe moelai pake kita soenja oewang, dan kaoe poenja oewang aken beladjar ilnoe pemerentahan soedali naek sampe toedjoe ratoes riboe rank daleni satoe boelan, ijang terpoengoet dari kita poenja peti oewang. Maka sekarang kita bilang berenti, tida oleh lagi, atawa kaoe poenja goeroe ilmoe pamerentahan hendak adjar pada kaoe pertjoema, itoelah kita terima, tawa dia tida boleh taroh satoe kaki lagi di dalem kita poenja roemah! kaoe denger, njonja?"
„O, inilah terlaloe sekali, toewan!" menjaoet Hermine, seperti ampir mati lemas dari pada kelihatan moekanja, „kaoe soedah melanggar hal ijang patoet."
„Tetapi," berkata toewan Danglars, „dengen senang hati kita beri taoe, ijang kaoe misti pegang atoeran, sebegiinana sa-orang prampoean moesti toeroet lelakinja."
„Sekaranglah kaoe menjindir,"
„Betoel begitoe: maka ajolah kita orang bitjara dengen beres dan memake ingetan. Kita tida taoe toeroet tjampoer kaoe poenja perkara, melainken di dalem kaoe poenja ka- slamatan sendiri."
Makalah itoe kita harep, ijang kaoe bisa membikin begitoe djoega. Kaoe bilang ijang kaoe tida perdoeli dalem hal perkara kita poenja oewang, Baik djoega, tetapi kaoe djoega moesti bakerdja dengen kaoe. poenja oewang sendiri, dan kaoe tida oesah isi, djoega tida oesah membikin kosong kita poenja peti oewang. Selamanja itoe, siapa taoe, apalah ini boekannja perboewatan menoeroet ilmoe pamerentah; siapatah taoe apa toewan Minister, sebab sakit hati ijang kita soedah mendjadi se-orang hartawan, dan di poedji oleh anak-anak negri, dia soedah tjemboeroean dan bersakoetoe dengen toewan de Braij aken mendjatoken pada kita."
„Oh, boleh djadi begitoe;"
„Ja siapatah soedah dapet liat satoe kabaran telegraaf palsoe, ijalah di kabarken satoe hal ijäng tida betoel, ija itoe tanda telegraaf doea-doea ijang di kirim paling blakang. — Soenggoeh, inilah soedah di bikin, tjoema aken djatoken pada kita.
"„Toewan," menjaoet barones Danglars, tetapi sekarang dengen soewara rendah, „kaoe soedah taoe djoega ijang itoe penggawe kantoor telegraaf soedah di lepas, dan orang soedah bitjaraken djoega, ijang dia hendak di menghadepken pada hakim ijang soedah di prentah aken tahan padanja, dan tentoe dia djoega soedah di tangkep, djikaloe dia tida semboeniken dirinja di lain negri, maka kentara betoel ijang dia memang bersalah."
Ja, ijang membikin ketawanja orang-orang gila djoega, ijang membikin Minister tida bisa tidoer, dan mendjadiken bebrapa pertoelisan, tetapi ijang meroegiken pada kita toedjoe ratoes riboe frank."
„Tetapi, toewan!" mendjawab Hermine dengen kaget, „djikaloe kaoe bersangka, ijang ini hal soedah di djadiken oleh toewan de Braij, sebab apatah kaoe tida bilang sendiri padanja, tjoema kaoe menoedoeh sadja padanja dan kaoe minta karoegian dari kita?"
Apatah kita kenal pada toewan de Braij?" bertanja toewan Danglars: „apatah kita maoe kenal padanja? Apatah kita taoe ijang ija membri peladjaran? Apatah kita maoe toeroet itoe? Apatah kita berdjoedi? Tida, tida, kaoe ijang memboewat itoe semoea; kita tida."
„Tetapi kaoe boekan djoega soedah dapet oentoeng." Toewan Danglars angkat poendaknja.
„Oh, manoesia bodoh, soenggoeh prampoewan-prampoewan bersangka ijang dia saorang ternamah, sebab dengen slamat bisa menoetoepken sepoeloe hal perboewatan ijang tida halal, tida sampe ija di menoeding dengen tangan dalem kota Parijs. Tetapi ingetlah djoega! ijang kaoe soedah menoetoepken ini pada kaoe poenja laki sendiri, ijang poera-poera tida ihat, sebab dia tida poenja hati dengki."
„Tetapi kita tida begitoe; ampir anem belas taoen lamanja kita lihat dan tinggal lihat, aken bisa lave apa kaoe sem boeniken apa-apa aken kita, maka segala apa ijang kao soedah memboewat semoewa kita taoe. Sebagimana kave poenja hati berasa boengah, kerna kaoe sangka ijang kita tida taoe kaoe poenja perboewatan dan sehari-hari kace memboedjoek pada kita, apatah djadinja? Dari pada ini kaoe poenja teman-teman, ija-itoe toewan de Villefort dan toewan de Bray, dan lain-lainnja, semoewa goemeter aken kita, kerna koewatir ijang kita boleh dapet taoe dan me ngataken dia orang poenja perboewatan, dan dia orang menghormati kita pada siapa ijang memegang kekoewasaan di dalem ini roemah. Tida satoe dari dia orang brani, bilang dari dirinja sendiri, seperti kita sekarang soedalı bilang pada kaoe, dari kita poenja diri sendiri. Boleh djoega kaoe bitjaraken peri kebentjian diri kita, tetapi kita melarang ijang kaoe bikin kita poenja diri patoet di sindirin orang; apalagi sekali-kali kita larang aken membikin miskin pada kita."
Pada waktoe toewan Danglars belon seboet namanja toewan de Villefort, njonja Danglars masi pegang hati angkoe, tetapi srenta Barones mendengar diseboet namanja toewan de Villefort lantas dia mendjadi poetjet, dan seperti dia lihat satoe bajangan ijang menggoda padanja, dia rapatken tangannja, seperti dia hendak memboewang pendengeran itoe dan sampe tiga kali dia dateng pada lakinja, seperti dia maoe tanja lagi, dari satoe hal rasianja, ijang dia taoe, tetapi dia tida bisa bitjaraken.
„Toewan de Villefort? apatah mengartinja itoe? apatah kaoe maoe bilang?"
„Kita maoe bilang njonja, ijang toewan de Nargorme, kaoe poenja laki ijang pertama, boekannja seorang ahli-hikmat, djoega boekannja satoe bankier, atawa barangkali dari sebab dia soedah menimbang ijang dia tida bisa bermoesoeh dengen satoe Procureur dari Radja, dia mati dari hati sedih atawa menjesal, waktoe dia dateng kombali dari pergiannja sembilan boelan lamanja, dia dapet tave ijang kaoe soedah boenting anem boelan lamanja. Kita se-orang brani, boekan? tetapi tida sadja ijang kita soedah taoe hal ini, tetapi kita toeliken djoega; memanglah daja oepaja begini ijang kita pake djoega dalem kita poenja perdagangan. Sebab apatah dia memboenoeh diri sendiri, tida boenoeh ijang bersalah? Sebab dia tida poenja kantoor oewang, ijang dia moesti djaga, tetapi kita moesti hidoep dari kita poenja kantoor oewang. Toean de Bray, kita poenja persero, soedah meroegiken pada kita toedjoe ratoes riboe frank, maka sekarang dia djoega moesti pikoel bagiannja di dalem ini karoegian, dan kita orang boleh teroesken perdagangan, atawa dia moesti masoek miskin (bankroet) dari itoe oewang doea ratoes riboe frank, seperti lain-lain bankier ijang djatoh bankroet, ija itoe berlari; Astaga, kita taoe djoega ijang dia sa-orang manis sekali, apa lagi kaloė dia poenja kabaran samoea tinggal betoel, tetapi kaloe dia poenja kabaran djoesta, lima poeloe rang moeda lebih banjak harganja dari dia, sebab mendjadiken banjak karoegian, ijang bisa mendjatoken miskin pada kita orang."
Njonja Danglars berasa seperti hatinja antjoer, begitoe djoega dia misti mentjoba aken kasi penjanhoetan dalem ini pengantjeman, tetapi dia tida sampe koewat, maka dia djatohken badannja di atas satoe korsi dan djatoh memikir pada toewan de Villefort, pada apa ijang soedah kedjadian di roemahnja Graaf de Monte Christo, dan pada segala hal ijang ngeri, apa ijang soedah kediadian satoe persatoe di dalem roemali tangganja, ijang sampe mendjadiken bertengkar-tengkaran antara laki bini, sabagimana doeloe begitoe senang dan bertetapan hati dalam itoe roemah tangga.
Toewan Danglars tida memandang lagi pada bininja, biarlah njonja Danglars membikin sebiasanja, aken menghoendjoeken seperti dia djatoh pangsan, soepaja lakinja merasa kasian padanja, dan membikin dia poenja hati lembek aken dateng menoeloeng padanja. Tetapi toewan Danglars masoek di kamar tidoernja dan berdjalan ka kamarnja sendiri dengen tida liat lagi pada njonja Danglars, maka kamoedian barones Danglas bangoen dari korsi dengen berasa seperti dia soedah dapet impian ijang amat ngeri.