Lompat ke isi

Enam Jam Di Jogja

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Enam Jam Di Jogja (1951)
Logo Wikipedia
Logo Wikipedia
Wikipedia memiliki artikel yang berkaitan dengan:Enam Djam di Jogja.
Film drama hitam-putih karya Usmar Ismail tentang Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, menampilkan tentara, pemerintah, dan warga sipil.
Warna (info)
Dialog
Adegan
Cerita
thumbtime=
Pemain dan Kru
Pemain
PeranAktor
Delma Juzar
Aedy Moward
Kru
Perusahaan produksiPerfini
DistributorPerfini
SutradaraUsmar Ismail (d. 1971)
ProduserUsmar Ismail
Penulis naskahUsmar Ismail, Gajus Siagian (d. 1981)
SinematograferMax Tera (d. 1992)
Berdasarkan informasi yang tersedia, anggota kru terbaru yang relevan dengan hukum hak cipta internasional meninggal pada tahun 1992, yang berarti film ini mungkin berada dalam domain publik di negara dan yurisdiksi dengan 33 tahun pasca kematian atau kurang, seperti di Amerika Serikat.
Berikut ini adalah transkripsi dari sebuah film. Isi di bawah ini mewakili teks atau dialog lisan yang ditranskripsikan langsung dari video film yang disediakan di atas. Pada ukuran layar tertentu, setiap baris diwakili oleh stempel waktu di sebelahnya yang menunjukkan kapan teks tersebut muncul di video. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Help:Film.

"Tanah Tumpah Darahku"
ciptaan C. Simanjuntak dan Sanusi Pane.

PERUSAHAAN FILM NASIONAL INDONESIA
mempersembahkan
ENAM DJAM
DI
JOGJA

Menurut Gubahan
GAJUS SIAGIAN

Terselenggara dengan dan karena bantuan anggota²:
Bat. 412 Brig. "O" Div. III Tentara Nasional Indonesia
Esquadron Berlapis Badja Div. III T.N.I.
Bat. Mob. Brig. Polisi Jogjakarta
Angkatan Udara R.I.

Peranan oleh
DEL JUZAR
AEDY
R. SUTJIPTO / H. AL RASJID
R. ISMAIL

beserta:
ISMIENDARI / M. SANI
S. MARDJONO
D. ARIFIN / OSPATI
AGUS MULJONO
HARDJOMULJO

Memperkenalkan:
N. DAMAYANTI
dan
S. ARDYA.

Pimpinan Camera:
MAXTERA
Pimpinan Artistik:
BASUKI RESOBOWO
Pimpinan Suara:
SJAWALUDDIN

Musik:
G.R.W. SINSU
Penjelenggaraan:
Orkes „PANTJARAN MELATI“
Njanjian bersama:
„Suwé'ra djedjamu“
Oleh: D. P. Eka Bhudhaya
„Tanah tumpah darahku“
Oleh: P. P. T. S.

Pemimpin Penjelenggaraan:
S. SUMANTO
dan
D. DJAJAKUSUMA

Pengambilan Suara
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
E. SAMBAS
Ass. Dekurator
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
S. MARDJONO
Sek. Produksi
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
NAZ UDIN
Ass. Camera
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
HUSEIN
Script
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
M. SANI
Riasan
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
K. SAHJAT

Dibantu oleh:
PERUSAHAAN FILM NEGARA
Diedarkan oleh:
SPECTRA FILM EXCHANGE

Dengan pernjataan terima kasih tiada hingga kepada:
Brig. "O" Div. III T.N.I.
Djawatan Pradja Daerah Istimewa Jogjakarta,
Polisi Negara Kota Jogjakarta,
Seluruh penduduk kota Jogjakarta dan sekitarnja, dengan tiada bantuan mereka, film ini tidak dapat diselenggarakan.

Pengatur lakon dan Penjelenggara:
USMAR ISMA'IL

BABAK I
Yogyakarta dalam pendudukan. Ketegangan kota yang dijaga ketat Serdadu NICA kontras dengan ketenangan di dalam rumah Mochtar. Suasana mengandung unsur kerahasiaan dan tekad perjuangan yang tenang namun kuat.

Suatu hari dalam bulan Pebruari 1949. Pagi dimulai dalam kota pendudukan Jogjakarta.

Kota dalam keadaan darurat. Sirene serangan udara berbunyi saat Serdadu NICA mulai memasuki dan menguasai titik-titik strategis kota.

Mochtar berada di lingkungan Keraton dengan pakaian tradisional Jawa. Di sisi lain, Bendera Belanda berkibar di Gedung Agung dengan penjagaan.

Pulang ke rumah, Mochtar berbincang dengan ibunya di lantai dua hingga penyamarannya saat bertemu Ngarso Dalem akhirnya terungkap.

Ibu
Loh... pagi-pagi begini sudah bangun?

Mochtar
Biasa loh.
Loh... kehabisan air Jogja nih?
Tak mandi air kali sore nanti.

Ibu
Apa Nak Mochtar sudah dapat bicara dengan Ngarso Dalem?

Mochtar
Dari mana Ibu tahu?

Ibu
Sejak kapan Nak Mochtar berpakaian... coro Jowo?

Mochtar
Kalau gitu... Saya nyerah.

Mochtar menjelaskan keuntungan posisi rumah mereka untuk memantau musuh. Ibu memberikan izin penggunaan rumah sebagai markas meski berisiko tinggi.

Mochtar
Disini pemandangan baik. Markas Belanda dekat. Sisi dekat. Dan tiap-tiap orang yang lewat, kelihatan.
Saya ada permintaan, Bu. Apa Ibu keberatan kalau kita jadikan ini markas?

Ibu
Kalau Nak Mochtar senang, Ibu rasa Pak Haji juga tidak keberatan.

Mochtar
Tapi...Ibu tahu resikonya, kan?

Ibu
Ibu tak dapat pegang senjata. Apalagi yang akan Ibu sumbangkan?

Mochtar
Kalau gitu, terima kasih, Bu.

Ibu
Kalau ketemu Ngarso Dalem, tolong sampaikan, kami tetap patuh perintah Beliau.

BABAK II
Suasana penjagaan di pos perbatasan kota tampak tegang, pasukan NICA bersenjata lengkap berjaga dengan kewaspadaan penuh.

Serdadu NICA yang berjaga merasa bosan hingga melihat rombongan pedagang dari kejauhan. Muncul antusiasme yang buruk dari para penjaga.

Serdadu NICA 1
Ah, daar komen ze al.

Serdadu NICA 2
Dat begon mij al lang te vervelen, zeg.

Serdadu NICA 1
Dat moet je niet zeggen, stelletje leeglopers!

Serdadu NICA 2
Nietwaar.

Serdadu NICA 1
Hé, die fijne!

Serdadu NICA 2
Hé jong, oplet!

Para pedagang masuk ke area pemeriksaan dengan waspada. Ketegangan meningkat saat serdadu mulai melakukan tindakan fisik.

Ibu Pedagang
Perikso Londo. Awas!

Serdadu NICA
Hallo Inspecteur.

Sutedjo
Komt terecht, komt terecht.

Pemeriksaan berubah menjadi penggeledahan paksa dan kasar. Terjadi keributan dan adu mulut antara pedagang yang marah dan serdadu.

Sutedjo
Ya, maju.

Serdadu NICA
Coba Bu lihat.

Sutedjo
Coba itu.

Sutedjo
Apa ini?

Ibu Pedagang
Oh kurang ajar, kasar banget. Wong edan!
Bajingan! Gendeng!
Awas!

(Sutedjo menampar)

Ibu Pedagang
Kurang ajar!

Sutedjo
Eh, Bu! Sini!

Serdadu NICA
Yo, yang lain maju!

Ibu Pedagang
Barang é wong edan. Wong sa' gelem-gelem é.
Hati-hati! Mati!

Endang menghadapi Sutedjo. Paras wajah Endang menghentikan kekasaran Sutedjo, sehingga ia dan rombongannya diizinkan lewat.

Sutedjo
Jualan apa itu?!

Endang
Tidak apa-apa, Tuan.
Boleh jalan, Tuan?
Boleh, Tuan?

Sutedjo
Je hebt een lief gezicht.

Ibu Pedagang
Wong ayu ditahan?

Serdadu NICA
Yo, tasnya di belakang.

Sutedjo
Je kunt gaan.

Endang
Terima kasih, Tuan!

Serdadu NICA
Ayo, cepat cepat cepat!

BABAK III
Pinggiran sungai yang menjadi titik temu warga. Suasana nampak tenang dengan aktivitas mencuci baju, namun kehadiran jip militer Sutedjo menciptakan kontras yang tajam. Hubungan antara Mochtar dan Sutedjo terlihat abu-abu; akrab sebagai kawan lama, namun penuh sindiran politik.

Aktivitas ibu-ibu di sungai. Percakapan sederhana mengenai sabun menggambarkan sulitnya logistik di masa pendudukan.

Tien
Halo, Wiek.

Wiwiek
Halo, Tien.

Tien
Banyak cuciannya?

Wiwiek
Hari ini tidak.

Tien
Sabunnya susah.

Wiwiek
Pakailah sabunku saja.

Tien
Terima kasih.

Wiwiek
Wiek, nih kalengnya kembali.

Kedatangan Sutedjo dengan jip perang memecah ketenangan. Mochtar dan Sutedjo berinteraksi di atas sungai sambil mengamati para pencuci baju di bawah.

Sutedjo
Halo, Mochtar.

Mochtar
Halo, Ted.

Sutedjo
Apa kau bikin disini?

Mochtar
Sama saja dengan kau. Nonton. Lihat tuh.

Sutedjo
Halo, Wiek.

(Mochtar & Sutedjo tertawa terbahak-bahak)

Wiek
Jelek.

Percakapan berlanjut ke arah kondisi fisik Mochtar. Sutedjo mulai melontarkan sindiran halus mengenai aktivitas malam yang sering dilakukan oleh pejuang gerilya.

Sutedjo
Dari itu keliling matamu.

Mochtar
Mana tidak tiap malam jaga terus.

Sutedjo
Lain kali bawa aku lah.

(Mochtar & Sutedjo tertawa)

Mochtar
Okay.

Sutedjo memberikan peringatan dalam bentuk candaan "perampok dan gerilya". Mochtar mengalihkan pembicaraan dengan ajakan minum kopi untuk menutupi rasa risihnya.

Sutedjo
Untung aku kenal engkau, kalau tidak kau ku suruh tangkap.

Mochtar
Eh, kenapa?

Sutedjo
Cuman perampok & guerrilla yang tidur malam & bangun siang.

Sutedjo berpamitan dengan bahasa Belanda yang sinis. Adegan ditutup dengan Wiwiek yang mempertanyakan perubahan sikap Mochtar.

Sutedjo
Stel je voor, je bent een garong.
Dah, Wiek.

Wiwiek
Mengapa Mas Mochtar jadi begitu?

BABAK IV
Interior rumah keluarga Wiwiek. Suasana dipenuhi tekanan ekonomi dan konflik ideologi antara bertahan hidup atau tetap setia pada Republik. Kemiskinan mulai menggerogoti logika dan kesabaran sang Bapak, menciptakan ketegangan domestik yang getir.

Sang Suami mengeluhkan kondisi pakaiannya yang mulai habis. Ia melampiaskan kekesalannya pada situasi perang yang membuat aset pribadinya harus dijual demi sesuap nasi.

Bapak
Itu baju tutupku yang penghabisan, Bu.
Mana piyamaku lagi untuk tidur?
Jangan kau berani menjual, Bu. Itu adalah pusaka dari Ibuku.
Apa kau lihat aku? Bukan salahku keadaan jadi begini.
Mau makan jual baju dahulu.

Suami menyatakan keinginannya untuk bekerja kembali meski di bawah otoritas Belanda atau siapa pun, asalkan nasib ekonomi keluarga membaik.

Bapak
Dulu aku sudah bilang, biarlah aku kerja kembali.
Dan apa bedanya aku kerja sama Republik, sama Jepang, atau sama Belanda?
Nasib kita toh terus begini saja.
Dan lagi kalau aku kerja kembali, itu kan tidak merugikan kepada perjuangan Republik.
Aku seorang clerk work biasa.
Kawan-kawanku sudah ada yang kerja kembali.
Naik gaji, dan terima distribusi pula.

Istri membantah dengan alasan moral dan beban batin anak mereka, Hadi, yang sedang berjuang di luar sana dengan penuh penderitaan.

Ibu
Aku cuma orang bodoh, Mas.
Aku cuma ingat pada Hadi, apa dia kata nanti.
Dia di luar, menderita, menahan lapar, tidur tak terurus.
Aku tidak memikirkan diriku, Mas. Aku hanya memikirkan anakku.
Cukuplah tanggungannya, untuk memikirkan perjuangannya.
Jangan kita berati lagi, karena kita tak dapat berkorban sedikit juga.

Suami meledak, menghitung semua harta benda yang lunas terbakar demi kesetiaan pada Republik selama masa pengungsian.

Bapak
Berkorban?!
Lagi-lagi berkorban.
Heh, Bu!
Apa aku ini tidak korban?
Apa aku ini, selama ini, tidak setia kepada Republik?
Kita mengungsi dari Semarang, ke Salatiga, ke Magelang, terus sampai kemari.
Barang kita habis sama sekali!
Hasil keringat 25 tahun bekerja.
Apa itu bukan namanya korban? Dan apa balasnya, Bu?
Gaji yang cukup cuma untuk makan dua hari.
Berkorban?

Wiwiek masuk dan mencoba mencari solusi dengan menawarkan perhiasan miliknya untuk dijual agar Bapaknya tidak perlu bekerja pada Belanda, namun Ibu merasa keberatan.

Wiwiek
Bapak ngomel lagi, Bu?

Ibu
Biasa Wiek.

Wiwiek
Bapak bicara lagi tentang kerjanya kembali, Bu?

Ibu
Ya... dia sebenarnya baik.

Wiek
Kalau Bapak kerja kembali, Mas Hadi tentu akan luka hatinya.
Jadi Bapak tak usah memikirkan pekerjaannya kembali, Bu.

Ibu
Oh, jangan ini Wiek. Inikan Ibu belikan untuk Wiwiek. Nanti kalau diperlukan untuk...

Wiwiek
Ah, Ibu!

Ketegangan memuncak saat Suami meminum kopi tanpa gula. Kemarahan yang terpendam tumpah melalui semburan kopi sebagai simbol penolakan terhadap pahitnya kenyataan hidup.

Ayah Wiwiek
Wiwiek!
Wiek!

Wiwiek
Apa, Pak?

Suami
Siapa yang bikin kopi nih?

Wiwiek
Saya, Pak.

Suami
Mengapa tidak pakai gula? Seperti minum jamu saja!

Wiwiek
Tetangga kita juga tidak punya gula, mereka hidup juga.

Suami
Kalau kamu jual itu di restoran, apa juga tidak pakai gula?

Wiwiek
Itu lain, Pak.

Suami
Lain? Apa lain?

BABAK V
Restoran Tugu; sebuah ruang publik yang menjadi titik temu berbagai lapisan masyarakat di masa pendudukan. Suasana kerja diwarnai dengan percakapan sinis namun jujur antara Wiwiek dan Jono. Terasa ada kelelahan mental yang menyelimuti mereka di tengah kondisi negara yang tidak menentu.

Wiwiek tiba di restoran dan menyapa Jono. Salam "Merdeka" masih diucapkan dengan khidmat sebagai bentuk perlawanan kecil di tengah rutinitas kerja.

Wiwiek
Halo, Jon.

Jono
Merdeka, Non.

Wiwiek menggoda Jono yang tampak sangat rajin namun terlihat lelah secara fisik. Percakapan beralih pada perenungan eksistensial tentang nilai seorang rakyat kecil bagi sebuah negara.

Wiwiek
Rajin benar jongos kita hari ini.

Jono
Begitulah, jongos aja rajin, wanitanya malas.

Wiwiek
Kasihan. Begitu rajin sampai matamu cekung, badanmu kurus.

Jono
Ah, siapa yang akan rugi, kalau orang seperti aku ini, mampus.

Wiwiek
Siapa? Negara tentu!

Jono
Negara? Berarti negara... akan... memikirkan betul-betul, siapa yang telah mati dan siapa yang masih ada.

Jono
Akan tetapi, apakah akan ada orang yang menangis ataupun merasa sedih jika aku mati?

Wiwiek
Dan jika ada, kau akan puas?

Jono
Tentu.

Wiwiek
Kau kejam. Tapi ada juga orang yang akan ketawa.

Jono menyatakan kebenciannya pada sosok Sutedjo yang dianggapnya sebagai ancaman karena sering mengajak orang bekerja sama dengan Belanda.

Jono
Kawanmu Ted yang mau.

Wiwiek
Tak boleh... kau mengganggu aku begitu.

Jono
Aku berolok-olok saja. Tapi aku memang benci lihat tampang si Ted.
Kerjanya kian hari hanya mengganas, mengancam, mengajak orang lain kerjasama sama Belanda.

Percakapan berujung pada kenyataan pahit bahwa banyak orang mulai goyah kesetiaannya, termasuk Bapak Wiwiek. Keduanya merasa jenuh dengan keluhan masyarakat yang semakin meningkat setiap harinya.

Jono
Dan banyak yang sudah goncang.

Wiwiek
Bapakku juga.

Jono
Yah... aku bosan juga mendengar orang... saban hari ngomel aja kerjanya. Dan kian hari, jumlahnya kian banyak.

Wiwiek
Kau juga suka ngomel.

BABAK VI
Ruang makan rumah Wiwiek. Ketegangan antara Suami dan Istri memuncak akibat tekanan ekonomi, namun sempat mencair dengan kedatangan Endang yang membawa kabar dan bantuan dari garis depan. Meski begitu, sinisme Suami terhadap perjuangan gerilya tetap tidak terbendung.

Suami meluapkan kemarahannya terhadap strategi gerilya yang dianggapnya hanya menyengsarakan rakyat sipil. Ia merasa rakyatlah yang menanggung beban kenaikan harga pangan sementara pejuang bisa melarikan diri.

Ayah Wiwiek
Mereka yang diluar memang omongnya enak-enak. Malam masuk kota, menembak-nembak, bikin huru-hara.
Belanda datang lari.
Sampai tak kelihatan pucuk hidungnya lagi.
Tapi siapa yang menjadi korban? Rakyat! Sekali lagi rakyat, yang tak bisa lari!
Harga beras sampai naik.

Istri
Mas kalau berbicara kayak Belanda saja ini.

Ayah Wiwiek
Alah, kau perempuan tahu apa?

Endang datang berkunjung di saat yang tepat. Istri menyambutnya dengan hangat, merasa lega mendapat kabar tentang kesehatan anaknya, Hadi, yang sedang berjuang di luar kota.

Ibu Wiwiek
Eh, Nak Endang! Mari Nak masuk.

Endang
Bu.

Ibu Wiwiek
Ibu baru saja mau ke pasar.

Endang
Ke pasar mengapa, Bu?

Ibu Wiwiek
Biasa, mau tukar beras, Nak.
Hadi bagaimana kabarnya, Nak?

Endang
Baik bu, agak pegel sedikit. Tapi sehat, Bu.
Ini saya bawa oleh-oleh dari Mas Hadi, Bu.

Istri menunjukkan kekhawatiran seorang ibu terhadap kondisi fisik Hadi. Endang menenangkan Ibu dan menanyakan ketersediaan kamarnya, menandakan ia akan menginap atau menggunakannya untuk tugas.

Ibu Wiwiek
Syukurlah Nak Endang kalau Hadi tidak apa-apa. Barangkali ada permintaan apa-apa, Nak? Obat-obat atau lain-lainnya? Sebab, satu minggu yang lalu dia mampir sebentar. Dia agak batuk, Nak.

Endang
Sudah baik Bu sekarang.

Endang
Kamar saya masih kosong, Bu.

Ibu Wiwiek
Masih.

Istri mencoba membujuk Suami agar berhenti mengeluh karena bantuan telah tiba, namun Suami justru semakin sinis. Ia merasa dikhianati oleh situasi di mana rakyat di dalam kota harus "memakan" perabotan rumah demi bertahan hidup.

Ibu
Pak kita jangan ribut-ribut lagi, Pak. Ini kita sudah dapat kiriman dari Hadi, Pak.

Bapak
Yah, yang di luar makannya cukup, cukup segala-galanya.
Tapi kita yang di dalam? Mesti makan baju, kursi, dan meja.
Kalau mencari makan untuk mengisi perutnya, dikatakan pengkhianat! Kau tahu apa perempuan?

Di dalam kamar yang sunyi, Endang membuka jahitan tasnya dan mengeluarkan secarik kertas rahasia yang selama ini tersembunyi rapi. Dengan hati-hati ia menyelipkannya ke dalam sepatu, lalu berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya seolah tak ada yang sedang ia sembunyikan.

BABAK VII
Restoran Tugu; suasana penuh kamuflase dan kecurigaan. Mochtar bermain peran sebagai warga sipil yang apatis di depan Sutedjo, sementara di dapur, Endang dan Jon mengatur pergerakan intelijen. Udara dipenuhi aroma pengkhianatan dan rahasia di balik deru truk pengungsi.

Mochtar dan Sutedjo duduk bersantai di meja restoran. Mochtar berakting sebagai kawan lama yang tidak peduli politik, memancing informasi dari Sutedjo sambil menikmati fasilitas "mewah" dari pihak Belanda.

Sutedjo
Halo, Wiek.

Mochtar
Hei, sudah disini lagi?

Wiwiek
Halo Mas, mau minum apa?

Mochtar
Gagah benar Si Nona nih, baru saja duduk sudah tanya mau minum apa. Tanya apa kabar dulu kek.
Ibu apa kabarnya sekarang? Bapak? Saya sudah lama tidak kesana. Maklumlah.
Endang dimana?

Sutedjo
Ah, kau omong terlalu banyak, Mochtar!
Berikan saya limun.

Mochtar
Wiek, saya satu ya.

Sutedjo
Wat een meisje.

Mochtar
Siapa? Dia? Sama anak tuh.
Rokok Amerika-nya satu? Inilah baru rokok!
Lama-lama mau juga saya jadi polisi seperti kau ini.

Sutedjo
Dat is een idee! Kau dulu wartawan? Tentu kau republikein.

Mochtar
Aku orang simple merk. Tidak suka politik, bikin susah.

Sutedjo menginterogasi aktivitas ekonomi Mochtar secara halus. Mochtar menjawab dengan istilah "Double M" (Mondar-Mandir) untuk menutupi status pengangguran atau pergerakan gelapnya.

Sutedjo
Apa kerjamu sekarang?

Mochtar
Yeah, Double M.

Sutedjo
Apa itu?

Mochtar
Ya mondar-mandir.

Sutedjo
Bukan kerja mu. Dengan arti, pencarianmu.

Mochtar
Oh itu yang kau maksud. Aku tidak cari makan, makan itu datang sendiri.
Eh, apa ini? Pemeriksaan polisi?

Sutedjo
Wat een mop. Datang sendiri kau kira?

(Sutedjo & Mochtar tertawa bersama)

Di bagian dalam restoran, Endang masuk dengan waspada. Ia menanyakan posisi Sutedjo dan meluapkan rasa jijiknya terhadap sikap Mochtar.

Endang
Jon, apa dia lihat aku masuk?

Jono
Siapa? Si Mochtar?

Endang
Bukan, itu, Inspektur NICA.

Jono
Oh, nggak Mbak. Sebab dia duduknya membelakang pintu. Kenapa Mbak?

Endang
Tadi di batas kota aku dicegat Belanda. Dan dia yang memeriksaku.

Jono
Bangsat itu kian hari mengganas. Umurnya tak akan panjang. Lihatlah!

Endang
Dan yang satu itu, apa kerjanya sekarang?

Jono
Si Mochtar? Dia terluntang-lantung, luntang-lantung aja Mbak. Kawannya, Belanda melulu.

Endang
Khianat! Benci aku! Macam itu orang harus dibasmi.

Wiwiek dan Endang bertukar informasi intelijen. Wiwiek melaporkan merosotnya semangat warga kota yang mulai memilih untuk mengungsi atau menyeberang ke pihak musuh.

Wiwiek
Mbak, 20 hari nggak ketemu.

Endang
21 hari. Aku ada tugas lain. Bagaimana kabarnya disini?

Wiwiek
Payah. Semangat makin merosot, orang seperti nggak punya pegangan lagi.
Hidup sukar. Ada yang menyeberang dan mengungsi.

Wiwiek
Dengarlah itu!
Saban hari puluhan truk penuh pengungsi ke Semarang.

Endang
Yah tetapi, ada juga yang dengan tidak alasan apa-apa memihak mereka. Lihatlah Mochtar, mencari jalan yang paling gampang saja.

Wiwiek
Aku mula-mula tak menduga sama sekali dia akan begitu.

Wiwiek menyerahkan dokumen penting berisi berita radio dan surat rahasia. Endang menanyakan identitas misterius "Mataram 13" tepat sebelum Mochtar muncul secara tiba-tiba di hadapan mereka.

Endang
Yah, sudahlah. Aku mesti ke rumah sakit pusat lagi. Kabarnya sudah ada?

Wiwiek
Di dalam ini semuanya, keadaan kota, dan berita-berita dari radio. Ada satu surat yang penting. Baru aku terima tadi pagi.

Jono
Mbak-mbak, bila mereka dari luar akan nyerbu...

Endang
Hampir aku lupa. Ini surat untuk Mataram 13. Siapa Mataram 13 itu sebenarnya?

Pertemuan dingin antara Endang dan Mochtar. Endang bersikap ketus, sementara Mochtar merespons dengan tenang namun penuh makna tentang perubahan manusia di tengah zaman yang berubah.

Mochtar
Halo, Endang.
Sudah lama tidak ketemu, Hadi apa kabarnya sekarang?

Endang
Mana aku tahu? Aku ke luar kota, cuma buat cari beras, menyambung hidup.

Mochtar
Kena repot rupanya. Sehingga tak sempat tegur kawan lama.

Endang
Memang repot, dan sekarang juga tak ada waktu buat omong panjang-panjang dengan kawan lama.

Mochtar
Yah... kawan lama, zaman berubah, manusia turut berubah.

BABAK VIII
Endang berjalan menembus perbukitan dan sawah. Ia bertemu dengan masyarakat desa yang sibuk mengolah sawah atau berjaga. Suasana pedesaan terasa hidup, tapi tetap waspada karena masa perang.

Endang melintas di area persawahan. Ia menyapa warga dan membagikan tembakau sebagai buah tangan.

Endang
Eh, Bung Harhan, disini!

Harhan
Betul, Bu, jaga. Kalau pak tani aman, kan kita tetap makan, Bu.

Petani
Oh, Bu Endang. Oleh-olehnya, Bu?

Endang
Nih, oleh-oleh tembakau. Dipukul sama rata ya?

Petani
Ya, Bu! Terima kasih.

Endang
Selamat jaga ya, Bung

Harhan
Selamat berdagang, Bu!

Di pos penjagaan, para pejuang memeriksa barang bawaan pedagang. Sikap penjaga berubah sopan setelah menyadari identitas Endang.

Penjaga 1
Eh, Mbok? Gowo opo kuwi, Mbok?

Ibu Pedagang
Jajanan pasar.

Penjaga 1
Wah, njaluk sitik, Mbok.

Penjaga 2
Sitik? Sing tak ... wae kene.

Ibu Pedagang
Weh, wong dola...neng omah weh.

Penjaga 2
Sitik, sitik. Wes mlaku. Ayo sijine kui maju. Wah opo kui, Mbok?

Penjaga 1
Kacang.

Penjaga 1
Ayo cah cilik iki maju.

Penjaga 2
Opo ngemis, opo ngerampok?

Penjaga 1
Ada bawa uang NICA, Mbok?

Endang
Ada.

Penjaga 1 & 2
Baik...hah?

Penjaga 1 & 2
Oh...Ibu Endang!

Endang
Ini mau lagi ini?

Penjaga 1
Tidak, Bu, tidak.

Penjaga 2
Mlaku, mlaku, mlaku.

Endang
Lain kali kalau jaga jangan gitu ya?

Penjaga 1 & 2
Aman...aman...

Di pedesaan, warga bekerja dan pejuang berjaga. Endang membagikan rokok lintingan kepada mereka.

Pejuang
Eh, Bu Endang
Oh, lintingan

Endang
Nih, rokok, nih.

Pejuang
Nih rokokku jangan lupa nda?

Endang
Oh, ini Pak Leman rokoknya. Terima ini rokok.

BABAK IX
Markas gerilya di pinggiran. Suasana maskulin yang kental dengan kepulan asap rokok dan perdebatan politik. Kehadiran Endang membawa kontras emosional melalui surat dari rumah, di tengah persiapan rencana besar Serangan Umum (S.O.) yang penuh risiko.

Hadi memimpin diskusi mengenai rencana Serangan Umum. Terjadi debat ideologis antara para tokoh mengenai pembuktian sikap anti-imperialis melalui perbuatan nyata dan kebebasan bertindak tanpa ikatan perjanjian.

Hadi
Saya kira, dalam soal serangan umum ini, tidak ada persilisihan paham lagi.
Pak Harto tentu sudah mengerti, segala sesuatu yang saudara-saudara telah ajukan itu.

Bung 1
Ya, tapi selama kita tidak membuktikan kata-kata dengan perbuatan, bahwa kita betul-betul anti-kapitalis dan imperialis-
Untuk membuktikan itu, perlu ada persatuan lebih dahulu saudara.

Bung 2
Buat saya pendek saja, kita tidak terikat dan tidak akan terikat lagi akan segala Linggarjati dan Renville, kita bebas untuk bertindak.

Djarot mengumumkan kedatangan tamu dari kota. Endang masuk membawa pesan-pesan penting, baik surat intelijen dari Mataram 13 maupun barang-barang titipan dari keluarga.

Djarot
Mas Hadi!

Hadi
Ya?

Djarot
Ada tamu dari kota, kota istimewa rupanya.

Hadi
Oh iya? Silahkan masuk saja, Pak Djarot.

Endang
Halo Pak Hadi, merdeka.

Bung 2
Merdeka!

Hadi
Bu Endang. Bagaimana kabar dek?

Endang
Baik Pak Hadi. Ini saya bawa surat dari Mataram 13. Dan ini dari Ibu. Nah ini dari saya.

Di tengah pembahasan penyerbuan kota Jogja, Hadi menunjukkan kiriman rokok dari kota yang ia sebut secara sarkas sebagai "alat propaganda Belanda" yang paling hebat untuk menggoda iman.

Bung 1
Saya yakin, satu-satunya jalan yaitu mengadakan penyerbuan umum ke Jogja.

Bung 2
Serbuan semacam itu adalah cepat dan jitu.

Hadi
Nah saudara-dara, ini sajalah dulu yang diserbu, alat propaganda Belanda yang paling hebat.

Para gerilyawan mulai merokok bersama. Muncul senda gurau mengenai kemewahan makanan Belanda (keju, mentega) sebagai sindiran bagi orang kota yang rela menyeberang hanya demi roti busuk.

Djarot
Ya ya, asal jangan keenakan, Bung. Bahaya itu.

Bung 2
Rokok sendiri juga yang paling enak, mari Bung.

Bung 3
Saya satu, Bung.

Djarot
Ah memang tidak semua orang kuat menghadap Escort, Blue Band, keju.

Bung 1
Apalagi kalau orang kota.

Bung 3
Hmm, dapat roti busuk saja sudah menyeberang.
Itulah, kalau tidak ada iman sama sekali.

Endang menyinggung masalah pengkhianatan di kalangan pelajar. Ia membandingkan keteguhan iman orang tua dengan kelabilan kaum muda yang menjadi kaki tangan musuh.

Endang
Kalau orang tua, ya dapat juga dimengerti.
Tapi kalau pelajar, seperti Djoko itu, jadi kaki tangan NICA, lebih celaka lagi.

Hadi membuka surat dari Ibunya. Melalui tulisan tersebut, terungkap rapuhnya kondisi rumah tangga mereka akibat kesulitan ekonomi yang membuat Ayahnya mulai goyah untuk bekerja sama dengan Belanda.

..... djangan kau berketjil hati djika mendengar ajahmu mulai bimbang dan ingin bekerdja sama Belanda. Karena keadaan rumah tangga kita jang sukar. Tapi ibu akan berusaha terus, supaja bapak tetap teguh imannja.

Djoko bertanya tentang isi surat intelijen. Hadi menegaskan bahwa Mataram 13 sedang berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkait rencana besar (S.O. / Serangan Oemoem).

Djoko
Apa isi suratnya, Pak?

Hadi
Mataram 13 bicarakan S. O. dengan pemerintahan daerah dan kota.

BABAK X
Sebuah ruang pertemuan rahasia (Safe House) milik Walikota. Suasana sangat formal, serius, dan sarat akan strategi tingkat tinggi. Mochtar menunjukkan jati diri aslinya sebagai pemimpin rapat koordinasi lintas sektor (sipil, pemuda, dan rukun kampung) guna mempersiapkan Serangan Umum.

Pembukaan rapat oleh Mochtar di tempat persembunyian rahasia. Mochtar menjelaskan ketidakhadiran Walikota dan mulai mengambil alih komando rapat koordinasi.

Mochtar
Saudara tentu heran bukan? Inilah tempat simpanan Pak Walikota sama sekarang.
Sebelum kita mulai dengan acara pembagian pekerjaan, baiklah saya sampaikan penjelasan Pak Walikota.

Hasan
Orangnya mana?

Pria Berpeci
Orangnya lagi repot.

Mochtar memaparkan tiga tujuan utama Serangan Umum: pembuktian eksistensi tentara di mata internasional, penguatan diplomasi, serta pemulihan kepercayaan rakyat terhadap pejuang.

Mochtar
Tujuan daripada serangan umum yang akan kita lakukan ini, ada tiga macam.
Sebagai saudara ketahui, Belanda tidak patuh pada Resolusi Dewan Keamanan tanggal 01 Januari, supaya Tentara Belanda di tarik mundur dari Kota Jogja.

Hasan
Ah, memang Belanda bandel.

Mochtar
Karena itu, buka serangan umum dengan sungguh-sungguh.

Rincian strategis Serangan Umum dari sisi militer, politis, dan psikologi. Mochtar menekankan bahwa pendudukan kota meski singkat akan sangat berdampak pada backing diplomasi di luar negeri.

Mochtar
Pertama, kita harus dapat menunjukkan kepada dunia internasional, bahwa tentara kita tidak hancur, seperti kata propaganda Belanda.
Kedua, jika kita dapat menduduki Kota Jogja, meskipun untuk satu dua jam saja-
Diplomasi yang sedang dilakukan oleh wakil-wakil kita di League Success, akan mendapat backing yang kuat.
Ketiga, kepercayaan rakyat, terhadap tentara dan pemudanya yang berjuang, akan kembali.
Itulah serangan umum yang ditilik dari segi militer, politis, dan psikologi.

Masuk ke agenda pembagian tugas. Pria Berblangkon menyampaikan kendala koordinasi rukun kampung akibat banyaknya warga yang mengungsi dan berpindah-pindah tempat.

Mochtar
Nah, sekarang kita sampai kepada acara pembagian pekerjaannya.

Pria Berblangkon
Saudara Ketua, sebelum tugas masing-masing ditetapkan, saya hendak mengemukakan sesuatu untuk dipertimbangkan.

Mochtar
Silahkan, Saudara.

Pria Berblangkon
Dalam rapat sangat susah untuk koordinasi rukun-rukun kampung, karena terlalu banyak orang yang mengungsi. Dan berpindah-pindah.

Pria Berpeci
Saya rasa kita berdua dapat bereskan soal ini nanti. Sebab tugas kita hampir sama.

Pria Berpeci menjamin masalah logistik dan makanan. Ia menjelaskan sistem pembagian kota menjadi 4 sektor guna memastikan perbekalan aman bagi para pejuang.

Pria Berpeci
Tentang makanan dan perbekalan lainnya, saudara-saudara tak usah khawatir, sebab saya sudah membagi kota, dalam 4 sektor yang masing-masing dikepalai seorang dari rukun kampung.

Penutupan rapat dengan koordinasi tenaga pemuda. Mochtar memperkenalkan Sujono sebagai penghubung utama, yang disambut dengan tawa riuh oleh seluruh peserta rapat.

Sujono
Dan kalau saudara, perlu bantuan apa-apa, datang saja pada saya.

Mochtar
Saudara-saudara, hampir saya lupa, ini menjadi penghubung kita, namanya Sujono.

(Semua tertawa terbahak-bahak)

BABAK XI
Pertemuan rahasia Mochtar dengan jaringan pers dan aktivis kota yang berubah menjadi tragedi. Suasana yang semula penuh debat intelektual tentang diplomasi internasional seketika pecah oleh tindakan prematur gerilyawan yang memicu penyisiran brutal pasukan NICA.

Mochtar memberikan pengarahan kepada para wartawan dan aktivis mengenai urgensi serangan umum untuk menembus diplomasi internasional di PBB (League Success). Ia menekankan pentingnya merebut kota sebagai bukti eksistensi kedaulatan.

Mochtar
Saya ulangi sekali lagi, arti politis dan psikologi, daripada serangan umum yang akan kita lakukan ini ialah untuk meyakinkan mereka,
yang sekarang sedang omon-omon di League Success bahwa kita memang mempunyai daerah yang luas,
dan bahwa jika perlu kita dapat merebut tiap-tiap kota kembali yang telah ada di tangan Belanda, meskipun untuk beberapa jam saja.

Terjadi perdebatan mengenai nasib rakyat sipil. Wartawan mengkhawatirkan pembalasan Belanda, namun Mochtar menegaskan bahwa rencana ini telah direstui oleh tokoh-tokoh besar, termasuk Sri Sultan.

Wartawan Pria 1
Pak, apakah sudah dipikirkan akibat-akibatnya buat rakyat biasa yang harus menerima pembalasan Belanda sesudah itu?

Mochtar
Saudara, hal ini sudah kami bicarakan matang-matang dengan para pemimpin di kota ini.

Wartawan Wanita
Pak Mochtar maksud, pemimpin-pemimpin yang sekarang ini masih bersembunyi dibawah tempat tidur atau dibalik punggung istrinya?

Mochtar
Hahaha, bukan itu yang saya maksud.
Yang saya maksud disini ialah, bahwa, Sri Sultan sekalipun menyatakan persetujuan, malah menganjur-anjurkan.

Wartawan Pria 2
Ya kalau Sri Sultan setuju, ya kita juga setuju!

Mochtar menolak usul pemberian pengumuman kepada rakyat dengan alasan kerahasiaan militer. Ia berpendapat bahwa gerakan serentak jauh lebih aman daripada tindakan liar perseorangan.

Wartawan Pria 3
Saya usulkan, supaya sedikitnya rakyat dikasih penerangan-penerangan, untuk menghindarkan korban-korban yang tidak perlu itu.

Mochtar
Kalau saya bermaksud untuk membunuh Bapak, apakah saya minta permisi dulu pada Bapak?
Nah pendeknya, gerakan serentak yang akan kita lakukan ini, akan dapat mencegah tindakan liar orang seorang yang lebih banyak ruginya, daripada untungnya.

Kekacauan dimulai. Seorang gerilyawan menembak tanpa perintah, memicu kepanikan. Mochtar menyadari bahwa lokasi mereka terancam akan digeledah oleh patroli Belanda.

(Suara tembakan tanpa komando)

Mochtar
Tenang saja, Pak. Jon, kau lihat keluar apa itu!

Jon
Ada yang nembak Belanda rupanya.

Mochtar
Sontoloyo! Macam-macam saja. Alamat di geledah habis-habisan daerah ini.

Pasukan NICA mulai menyisir wilayah. Mochtar menginstruksikan evakuasi darurat. Prioritas utama adalah menyelamatkan mesin tik dan dokumen rahasia agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Mochtar
Siapkan semua, kita berangkat. Masing-masing cari jalan keluar menyebar, nanti malam kita bertemu kembali di Panembahan, pukul waktu biasa.
Anwar, mesin tik. Kertas-kertas masukkan dalam tas, jangan ada yang ketinggalan ya.

Jono dan Djarot terjebak di dalam bangunan saat tentara mulai merangsek masuk. Terjadi kepanikan saat mereka mencari tempat persembunyian di lantai yang berbeda.

Jono
Pak Djarot, lekas dong! Dorang sudah mulai masuk tuh ah!

Djarot
Betul juga, kau bagaimana?

Jono
Aku beres dah, tinggal aja.

Djarot
Ah mampus kau!
Jon, kau ikut tidak? Lekas dong!
Mampus aku. Mampus.
Selamat...selamat...

Sutedjo memimpin pasukan masuk. Dengan kejam, ia menembak warga yang sedang salat karena menganggapnya hanya pura-pura, meski diperingatkan oleh anak buahnya sendiri.

Serdadu
Jangan sampeyan jangan tembak toh!

Sutedjo
Dia orang pura-pura saja itu.

Istri
(Melihat suaminya tumbang) Pak... Pak... Pak...

Jono bersembunyi di bawah kasur lantai 2. Sutedjo naik untuk menyisir, namun perhatiannya teralih sejenak oleh poster di tembok sebelum akhirnya meninggalkan lokasi. Babak ditutup dengan duka mendalam Ibu.

Sutedjo
Tunggu sini, saya lihat keatas dulu.

Sutedjo turun, mengisyaratkan pasukannya pergi. Djarot yang telah selesai salat, mencoba menenangkan Ibu yang menangis di samping jenazah Bapak.

Djarot
Sabar, Bu... sabar...

BABAK XII
Markas gerilya. Suasana tegang dan berat. Hadi menginterogasi anak buahnya dengan nada bicara yang rendah namun menekan. Konflik internal pecah antara semangat tempur yang menggebu dan disiplin militer yang dilanggar, berujung pada perumusan rencana eliminasi Sutedjo.

Hadi menuntut pertanggungjawaban atas penembakan liar di kota yang hampir membahayakan nyawa para informan dan pimpinan di Safe House. Ia menekankan dampak fatal bagi penduduk sipil yang menjadi korban.

Hadi
Aku tanya sekali lagi.
Siapa diantara kamu yang kemarin masuk ke kota? Apa kamu tidak sadar, akan perbuatan yang liar itu?
Siapapun juga yang melakukannya, bahwa pada tempat penembakan itu kawan-kawan kita sedang mengadakan rapat?
Bahwa kawan-kawan kita hampir saja tertangkap. Bahwa beberapa orang penduduk yang menolong kawan-kawan kita telah menjadi korban? Siapa orangnya itu?

Hadi menginterogasi Padri, Agus, dan Mul. Terjadi kesalahpahaman komedi tragis dengan Mul yang ketakutan, yang menunjukkan betapa besarnya tekanan mental di bawah komando Hadi.

Hadi
Kamu, Mas Padri?

Padri
Saya tidak, Pak. Sungguh mati. Eh, mbok modar toh.

Hadi
Kamu, Agus?

Agus
Saya... saya juga tidak, Pak. Saya kemarin satu hari jaga terus.

Hadi
Kamu, Mul? Ayo jawab pertanyaanku!

Mul
Saya, Pak. Maksud saya-

Hadi
Oh, jadi kamu yang menembak... Kenapa kamu tidak mengaku terus terang?

Mul
Saya mau mengaku, Pak... tetapi maksud saya... saya takut, Pak. Kalau saya, berani, saya takut, Pak.

Seorang pejuang akhirnya mengaku. Ia melakukan itu karena muak melihat rekan-rekannya yang membual (seperti Mul). Hadi memberikan hukuman kurungan (ares) sebagai bentuk penegakan hukum militer.

Mul
Maksud saya, kalau saya berani, tentu saya tidak takut. Dan saya, tentu pergi ke kota.

Pejuang
Pak, saya yang menembak, Pak! Saya minta maaf, kalau saya sudah berbuat salah. Saya tidak suka, kalau codot ini mengaku berani kebal!

Hadi
Ya sudah! Kamu sadar akan kesalahanmu?

Pejuang
Sadar, Pak!

Hadi
Ares, satu minggu. Bawa dia keluar!

Padri
Siap, Pak.

(Membawa pejuang tersebut keluar ruangan)

Jono melaporkan kekejaman Sutedjo yang semakin menjadi-jadi. Muncul rencana untuk melenyapkannya, namun Djarot ragu karena posisi Sutedjo yang waspada dan keterkaitannya dengan Mochtar.

Jono
Sutedjo makin lama makin mengganas, Mas Hadi. Saya pikir sudah sampai waktunya untuk di...

Djarot
Ah, kau mudah saja ngomong. Cobalah mendekati dia, sukar sekali, dia awas!

Jono
Ya ada 1001 macam jalan, Mas Djarot!

Djarot
Ya... itu sebenarnya tanggungan Mochtar, diluar kekuasaan ku. Dan lagi bukankah mereka itu, sahabat baik?

BABAK XIII
Ruang tamu keluarga Wiwiek. Atmosfer diwarnai oleh kontras tajam antara janji stabilitas ekonomi dari pihak NICA dan api dendam yang membara di hati kaum republiken. Sutedjo tampil sebagai sosok yang "masuk akal", sementara Jono mewakili radikalisme yang lahir dari luka pengkhianatan.

Sutedjo memberikan gambaran optimis mengenai masa depan di bawah kendali Belanda. Ia menggunakan isu kelancaran distribusi makanan dan pakaian sebagai senjata untuk melunahkan hati orang tua Wiwiek.

Sutedjo
Sedikit hari lagi keadaan juga bisa beres, Pak. Tinggal beberapa daerah saja yang belum diduduki.
Pemerintahan juga lekas bisa berjalan dan distribusi makanan dan pakaian tentu akan lebih lancar.

Sutedjo melakukan manipulasi ideologis dengan mengaku sebagai "nasionalis realis". Ia menyerang sentimen perjuangan yang dianggapnya hanya membawa kehancuran fisik bagi desa dan ladang.

Sutedjo
Percayalah, Pak. Saya juga seorang nasionalis. Saya juga tidak ingin dijajah lagi oleh Belanda. Tetapi kita mesti melihat realiteit secara berani. Kita tidak akan menang dengan sentimen saja.
Apanya yang dapat kita capai dengan sikap sebagian bangsa kita ini?
Rumah hancur, desa binasa, sawah dan ladang tidak dikerjakan!

Serangan psikologis dilancarkan dengan menyoroti kemiskinan Bapak setelah puluhan tahun bekerja. Sutedjo menawarkan iming-iming pelunasan gaji sejak tahun 1942 dan jaminan pensiun.

Sutedjo
Saya mau tanya kepada Bapak. Siapa yang menderita sekarang? Rakyat banyak. Orang-orang seperti Bapak ini.
Bapak misalnya. Puluhan tahun Bapak sudah membanting tulang. Sekarang apa hasilnya?
Sepeser pun barangkali tidak ada yang ketinggalan.
Tapi saatnya sudah kembali. Bapak dapat lagi bekerja dengan aman dan tentram.
Saya jamin kalau Bapak mau pensiun, boleh! Gaji sejak tahun 1942 akan dibayar kembali semua.
Berkorban baik tapi ada batasnya.

Sutedjo menyindir para pemimpin yang dulu berteriak merdeka namun kini bungkam. Ia berpamitan dan memberikan parfum "Evening in Paris" kepada Wiwiek sebagai simbol "peradaban baru".

Sutedjo
Lihat saja merekanya yang dulu menggembar-gembor itu, gimana mereka sekarang?
Semua bungkam! Kalau sekarang Bapak masih sukar untuk mengambil putusan, tidak apa.
Tapi biarlah. Saya terlalu asik mengobrol disini, Pak. Saya permisi saja dulu.

Bapak
Loh kok lekas-lekas saja? Sering-sering datang kemari, Tuan.

Sutedjo
Baik, baik.
Ini, Wiek. Oleh-oleh dari saya. Kebetulan kawan saya membelikan "Evening in Paris", yang baru datang dari Jakarta.
Saya titip. Disini belum dijual ini. Ambilah, tidak apa-apa. Hanya tanda persahabatan saja.

Wiwiek
Terima kasih.

Sutedjo
Permisi, Bu.

Bapak
Jangan kapok kemari, Tuan. Meski tidak disuguh apa-apa

Sutedjo
Tidak...tidak. Permisi, Pak.

Ayah Wiwiek meledak marah karena sikap Wiwiek yang dianggapnya tidak tahu berterima kasih dan terlalu idealis di tengah kemelaratan.

Bapak
Wiek. Wiek. Tidak dikasih marah. Dikasih jual mahal. Belagak tidak mau. Tolol. Terlalu, terlalu.

Jono muncul dan meluapkan kebenciannya. Persahabatan mereka mulai diuji oleh garis politik yang kaku. Jono tidak bisa mentoleransi siapa pun yang berinteraksi dengan NICA.

Wiwiek
Aku takut duduk dekatmu karena kau diam saja.
Apa pula yang kau pikirkan? Dia NICA, tentu dia bicara begitu.

Jono
Aku benci! Benci melihat semua orang yang bergaul dengan dia!

Wiwiek
Padaku juga?

Jono mengungkapkan rencana pembunuhan Sutedjo yang telah disetujui oleh Hadi. Wiwiek terkejut, terjepit antara rasa kemanusiaan dan loyalitas pada perjuangan.

Jono
Begini Wiek, kami telah memperbincangkan hal ini dengan Mas Hadi diluar. Dan mereka semuanya menyetujuinya. Kami bermaksud, hendak membunuh dia.

Wiwiek
Membunuh... Sutedjo?

Jono
Iya! Jadi kau... tak setuju?

Jono meminta bantuan Wiwiek untuk memuluskan rencana eliminasi pengkhianat. Ia menggunakan kedekatan mereka sebagai alat tawar agar Wiwiek mau terlibat dalam rencana berdarah tersebut.

Jono
Aku akan bunuh dia. Supaya semua orang mengetaui bahwa itu adalah akhir seorang pengkhianat. Wiek, kau harus bantu aku.

Wiwiek
Membantu? Bagaimana? Aku belum pernah membunuh orang. Melihat darah saja aku takut.

Jono
Ndak. Aku yang akan mengerjakan itu. Kita... bersahabat baik bukan, Wiek.
Maksudku... kita betul-betul bersahabat lebih dari yang biasa. Bukan begitu, Wiek?

BABAK XIV
Dimulai dengan montase kencan romantis sebagai bentuk penyamaran Wiwiek. Sutedjo yang mabuk kepayang dan merasa di atas angin, tidak menyadari bahwa setiap tawa dan jamuan makan adalah langkah menuju mautnya sendiri. Transisi dari kemewahan kota ke sebuah sudut sunyi yang menjadi tempat eksekusi.

Montase aktivitas Wiwiek dan Sutedjo. Wiwiek menjalankan perannya sebagai umpan dengan sempurna, menemani Sutedjo ke tempat-tempat elit guna membangun kepercayaan penuh sang perwira NICA.

Sutedjo menjemput Wiwiek di tempat kerja. Di dalam mobil, Sutedjo mengungkapkan ambisinya untuk naik pangkat menjadi Commissaris dan mulai mengisyaratkan lamaran pernikahan kepada Wiwiek.

Wiwiek
Mas, sudah lama menunggu?

Sutedjo
Ah... ndak apa.

Sutedjo
Sedikit hari lagi, kalau keadaan ini sudah beres, besar harapanku akan naik pangkat. Barangkali Commissaris di salah satu kota besar. Dan kalau sudah sampai waktunya, maukah engkau...

Wiwiek
Ehm...

Mobil bergerak menuju lokasi jebakan. Para pejuang yang dipimpin Djarot sudah bersiap di posisi pengintaian, memantau pergerakan mangsa yang masuk ke dalam jaring.

Bung 1
Iya...iya... Tuh, tuh, tuh.

Bung 2
Pak Djarot.

Sutedjo merasa lokasi yang dituju terlalu jauh, namun Wiwiek meyakinkannya. Mereka turun dan masuk ke sebuah bangunan yang ternyata sudah dikepung oleh Jono dan rekan-rekannya.

Sutedjo
Oh, jauh benar tempatnya.

Wiwiek
Ah, masih dalam kota.

Sutedjo
Disini?

Wiwiek
Iya, disini.
Mari masuk.

Bung 1
Ayo.

Bung 2
Yok.

Di dalam bangunan, Sutedjo menyombongkan betapa pentingnya dia bagi pihak Belanda. Ia merasa tak tergantikan sebelum akhirnya Jono muncul dari kegelapan untuk mengakhiri fantasinya.

Sutedjo
Kau pilih pun yang kau suka. Aku yakin aku akan dapat promosi. Belanda tidak bisa bikin apa-apa disini, kalau tidak ada aku. Dan mereka mengetahui betul tentang hal itu. Kau tak usah khawatir, aku tercapai maksudku.
(Terkejut melihat kehadiran Jono)
Jono!

Konfrontasi terakhir. Jono mengejek ambisi Sutedjo yang gagal. Wiwiek diperintahkan pergi sementara Sutedjo diringkus untuk mempertanggungjawabkan pengkhianatannya.

Jono
Halo, Ted. Sayang. Maksudmu, hendak jadi Commissaris gagal?

Sutedjo
Oh... begitu duduknya perkara.

Jono
Iya begitulah duduk perkaranya. Kau tak sangka bukan, Ted?
Wiek, pulanglah kau. Kau tak usah khawatir. Dia toh tidak akan dapat cerita apa-apa lagi pada majikannya.
Ikutlah kami! Angkat tangan!

Penutup babak yang getir. Di tengah penangkapan perwira, kehidupan rakyat jelata (pedagang perak) terus berjalan seolah tidak terjadi drama hidup dan mati di dekat mereka.

Jono
Terima kasih, Bu.

Pedagang perak
Terima kasih kembali.

BABAK XV
Markas rahasia gerilya. Mochtar tampil sangat kontras: santai namun mematikan. Ia bermain ketapel sebagai bentuk penghinaan terhadap jabatan Sutedjo, sekaligus menunjukkan bahwa kendali kini ada di tangannya. Sutedjo, yang terpojok, menggunakan kartu terakhirnya: nyawa Wiwiek sebagai sandera politik.

Mochtar menunggu kedatangan tawanan dengan sikap acuh tak acuh, bermain ketapel dan merokok. Jono membawa Sutedjo masuk ke dalam jebakan yang kini telah menjadi ruang interogasi.

Mochtar
Halo, Ted. Aku pernah menjanjikan akan membawa kau ke tempat dimana aku mendapatimu. Masih ingat?
Silahkan masuk.

Sutedjo mengakui kekalahannya dan mencoba bernegosiasi. Mochtar membalikkan logika Sutedjo dengan mengingatkan apa yang biasa terjadi pada pengkhianat dalam situasi perang.

Sutedjo
Baik. Kau menang, Mochtar. Apa usulmu sekarang?

Mochtar
Aku? Aku tidak mempunyai usul.
Ted, kau sendirikan tahu, Ted. Apa yang biasanya dilakukan orang, dalam keadaan begini? Seperti juga yang akan kau lakukan, jika kau mendapat kesempatan.

Sutedjo menawarkan suap berupa senjata, uang, dan informasi intelijen agar dilepaskan. Ia kembali menggunakan retorika "nasionalis" yang segera dipatahkan oleh Mochtar dengan pertanyaan tentang jaminan.

Sutedjo
Begini, Mochtar. Aku ada usul. Kau akan lebih untung, kalau aku, kau lepaskan.
Kalau aku mati, aku tidak berguna lagi bagimu. Malahan, menyusahkan engkau.
Aku akan berjanji, Aku akan memberikan apa saja yang kau mau.
Misalnya, senjata, uang, keterangan-keterangan, dan lain-lain.
Aku juga seorang nasionalis.
Barangkali cara kita berjuang berlain-lain. Tapi...

Mochtar
Tujuan kita sama?
Baik, baik. Tarulah saya percaya. Kau juga seorang nasionalis.
Tapi siapa yang dapat menjamin Kau akan menepati janji.
Belanda?

Jono bereaksi keras terhadap ide pelepasan Sutedjo. Terjadi ketegangan antara Jono yang ingin keadilan segera dan Mochtar yang tampak masih bermain-main dengan tawanannya.

Jono
Mas Mochtar!
Mas Mochtar tidak bermaksud akan melepaskan si bangsat ini begitu saja, bukan?
Kami menangkap dia dengan susah payah. Tidak bermaksud untuk dilepaskan begitu saja.

Mochtar
Saya sekali-kali tidak bermaksud untuk melepaskan dia.
Malahan justru untuk mengikat dia.

Sutedjo menggunakan Wiwiek sebagai ancaman terakhir. Ia memperingatkan bahwa jika ia hilang atau mati, Belanda akan langsung mengincar Wiwiek sebagai orang terakhir yang terlihat bersamanya.

Sutedjo
Aku bersumpah demi kehormatanku.

Jono
Bagaimana kau punya keormatan, Ted?

Sutedjo
Omongmu enak. Kau laki-laki. Kau dapat lari kian kemari. Tetapi Wiwiek bagaimana?
Ingatlah, Wiwiek. Seluruh Jogja mengetahui bahwa dia sering bergaul dengan aku.
Apa kau kira Belanda begitu tolol, bahwa mereka tidak akan mengetahui dengan siapa dia paling akhir kelihatan?

Jono
Wiwiek jangan kau bawa-bawa, Ted.

Mochtar menutup perdebatan. Ia mengakui butuh logistik yang ditawarkan Sutedjo, namun menolak "orangnya". Babak berakhir dengan simbolisme ketapel yang menghancurkan gelas, pertanda eksekusi sudah diputuskan.

Mochtar
Memang. Memang kami membutuhkan segala apa yang saudara sebut tadi.
Senjata, obat-obatan, dan keterangan-keterangan yang lain.
Tapi saya takut kalau kau akan membawa orangnya sekali.
Apa boleh buat, Ted? Sorry

BABAK XVI
Markas gerilya yang diterangi cahaya lampu minyak yang temaram. Hadi berdiri di depan peta besar yang membentang di atas meja kayu. Para gerilyawan menyimak dengan khidmat; suasana dipenuhi tekad yang tenang namun membara setelah penantian panjang akan instruksi pusat.

Hadi mengumumkan hasil rapat WK-102 dan perintah langsung dari Letnan Kolonel Suharto. Penantian panjang para gerilyawan untuk menyerbu jantung pertahanan musuh di Jogja akhirnya terjawab.

Hadi
Apa yang kita tunggu-tunggu telah datang. Saya baru saja kembali dari rapat, WK-102, untuk menerima perintah dari Letnan Kolonel Suharto, guna mengadakan serangan umum terhadap Jogja.

Hadi merincikan skala operasi. Meskipun kompi mereka hanya bagian kecil dari gerakan enam pleton besar, kontribusi setiap individu menjadi penentu keberhasilan misi secara keseluruhan.

Hadi
Tentang sifat serangan ini, telah ada dulu kita bicarakan.
Dari keenam pleton, yang akan mengadakan serangan dari segala jurusan, kompi kita akan merupakan bagian yang terkecil saja.
Tetapi, jika tiap-tiap dari kita, mengerjakannya dengan sesungguh-sungguhnya, pasti kita akan mendapat hasil yang kita maksudkan.

Hadi memberikan manajemen ekspektasi yang realistis. Ia memperingatkan bahwa keterbatasan senjata membuat kemenangan militer mutlak sulit dicapai, namun nilai simbolis serangan ini jauh lebih besar.

Hadi
Kita tentu mempunyai angan angan masing-masing tentang serangan yang akan kita lakukan ini.
Tetapi di sini saya peringatkan bahwa kita jangan mengharapkan kemenangan militer yang gilang-gemilang.
Untuk itu, persenjataan kita terlalu lemah.

Penegasan misi utama: Serangan ini adalah pernyataan politik dan psikologis kepada dunia. Ini adalah perlawanan yang dirancang untuk menunjukkan bahwa Republik masih berdiri tegak.

Hadi
Tetapi, kita akan memberi arti pada serangan ini.
Politis, strategis, maupun psikologis.
Sebagai apa yang dirancangkan dan diharapkan oleh pimpinan kita.

BABAK XVII
Kantor Berita bawah tanah. Suasana sibuk, bising oleh suara mesin tik dan alat cetak. Debu kertas dan bau tinta memenuhi ruangan. Ketegangan profesional bercampur dengan beban personal; Jono dihantui rasa bersalah atas tertangkapnya Wiwiek sementara Kepala Kantor Berita berpacu dengan waktu untuk menyebarkan warta perjuangan.

Kepala Kantor Berita mendiktekan poin-poin berita radio nomor 54. Informasi mencakup aktivitas gerilya di Salatiga dan Jawa Timur, serta manuver politik delegasi Indonesia terhadap Konferensi Meja Bundar.

Kepala kantor berita
Berita radio nomor 54, kabar guerrilla.
Belanda mengakui adanya gerakan guerrilla di daerah Salahtiga yang makin bertambah aktif.
Di Jawa Timur, guerrilla kita berhasil membakar kebutuhan-kebutuhan perosok.
Warta dari Jakarta menyatakan bahwa mungkin sekali pihak delegasi Indonesia—ya cepat!—akan menolak undangan Belanda untuk mengunjungi konferensi meja bundar, titik.

Pekerja memberikan laporan atau draf berita tambahan. Kepala Kantor Berita memerintahkan penerjemahan ke Bahasa Indonesia untuk memastikan pesan tersampaikan luas kepada rakyat.

Kepala kantor berita
Bagaimana ini?

Pekerja
Ini, Pak.

Kepala kantor berita
Ah Baik, coba bikin dalam bahasa Indonesia.

Pekerja
Iya, Pak.

Fokus berpindah ke Jono yang sedang mengoperasikan mesin cetak. Kepala Kantor Berita menegur kelambatan kerja Jono dan menyinggung masalah tertangkapnya Wiwiek yang merusak fokus Jono.

Kepala kantor berita
Oi Jon, cepat sedikit dong.
Warta berita belum selesai ditik. Poster-poster belum kelar, Aki belum terisi, plakat-plakat lagi.
Eh, mengapa sih? Siapa yang menyalahi kau karena wiwiek tertangkap?

Jono meluapkan penyesalannya. Ia merasa bodoh telah melibatkan Wiwiek dalam urusan berbahaya demi melenyapkan Sutedjo. Ia menyimpan ambisi nekat untuk membebaskan Wiwiek saat Serangan Umum (S.O.) nanti.

Jono
Aku yang tolol. Aku yang membawa Wiwiek dalam urusan ini.
Sebenarnya, macam-macam Sutedjo tu aku sendiri dapat membereskannya.
Aku berharap akan dapat membebaskan wiwiek dalam S.O. yang akan datang.

Kepala Kantor Berita memperingatkan Jono akan risikonya. Terjadi perdebatan mengenai kepatuhan terhadap hierarki komando Hadi dan keterbatasan wewenang operasional di daerah I.C.Z.

Kepala kantor berita
Kau gila. Kau kira itu mudah.
Kau tidak ingat akan peringatan Mas Hadi dikemarin.

Jono
Yah kalau Mas Hadi tak setuju aku akan dapat membawa pasukan aku sendiri.

Kepala kantor berita
Kau harus tunduk pada perintah Mas Hadi.
Dan lagi, Mas Hadi tidak bertugas di daerah I.C.Z!

BABAK XVIII

Malam 1 Maret 1949. Pasukan telah menempati posisi masing-masing dalam sunyi yang menekan. Di hadapan para prajurit yang bersiap menghadapi serangan umum, Hadi menyampaikan amanat terakhir. Ucapannya tenang namun tegas, menegaskan bahwa aksi mereka malam itu bukan sekadar pertempuran, melainkan pertaruhan kepercayaan rakyat dan harga diri perjuangan.

Hadi memberikan amanat terakhir kepada seluruh pasukan. Ia menekankan bahwa malam ini bukan sekadar kontak senjata, melainkan pertaruhan martabat bangsa di mata internasional dan rakyat sendiri.

Hadi
Pada saat ini, malam 1 Maret 1949, mata rakyat dan mata seluruh dunia tertuju kepada kita.
Janganlah sampai rakyat kita mempunyai kesan.
Bahwa TNI dan pemuda-pemuda lainnya tak mampu membelah kemerdekaan.
Janganlah sampai rakyat kita berkurang kepercayaannya.

Hadi mengingatkan jati diri TNI sebagai tentara rakyat. Ia meminta pasukan untuk membawa semangat leluhur ke dalam medan pertempuran dan tetap disiplin terhadap rantai komando.

Hadi
TNI adalah tentara rakyat. Berasal dari rakyat dan berjuang untuk rakyat.
Cantumkan di dalam hatimu masing-masing segala pesanan leluhur kita.
Waktu bertempur, turutilah segala perintah dari pemimpinmu masing-masing.

Penyerahan diri secara spiritual. Hadi menutup arahannya dengan mengingatkan pasukan untuk berserah diri kepada Tuhan, memperkuat mental pejuang yang siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Hadi
Tetapi, di dalam batinmu, serahkanlah nasibmu kepada Tuhan.
Tuhan, selalu di samping kita.

Mobilisasi pasukan dimulai. Musik latar yang heroik namun mencekam mulai mengalun. Pasukan bergerak dengan formasi siaga, menyelinap di antara bayang-bayang menuju batas kota.

Hadi memimpin di barisan paling depan. Ia memeriksa jam tangan, memastikan sinkronisasi waktu serangan, lalu memberikan instruksi gerak maju secara bertahap.

Koordinasi intelijen di lapangan. Isyarat kain putih dikibarkan oleh pasukan pengintai sebagai tanda bahwa jalur aman dari patroli Belanda. Pasukan kemudian melakukan pendakian bukit untuk mengambil posisi strategis.

BABAK XIX

Titik temu pasukan di pinggiran kota sebelum merangsek ke pusat Jogja. Suasana penuh energi, adrenalin, dan persaudaraan. Penggunaan sandi suara "MENANG - JAYA" menjadi pengikat identitas antar batalion agar tidak terjadi salah tembak (friendly fire). Kehadiran logistik rukun kampung mulai terasa, memberikan semangat tambahan bagi prajurit.

Kelompok Arifin bergerak maju dan bertemu dengan pos penjagaan batalion lain. Prosedur keamanan dijalankan dengan ketat melalui isyarat suara. Terjadi pertemuan emosional antar kawan lama di tengah kepungan perang.

Arifin
Menang!
Kelompok Arifin maju

Tentara Jaga
Wah Pak Leman

Arifin
Pak Mochtar di mana?

Leman
Disana, Pak.

Pertemuan antar batalion yang berbeda di titik kumpul. Isyarat "Menang" yang dijawab dengan "Jaya" menjadi simbol soliditas TNI dan rakyat dalam menghadapi Serangan Umum.

Tentara
Menang!

Tentara Lain
Jaya!

Reuni antara dua tokoh kunci: Hadi (militer) dan Mochtar (sipil/strategi). Kehadiran mereka di garis depan memberikan dorongan moral yang besar bagi para prajurit. Ucapan "Merdeka" menjadi penutup keraguan.

Hadi
Hei tar!

Mochtar
Halo Hadi kemari.
Datang juga nih.
Gimana?

Hadi
Baik-baik, kabar baik, Tar?

Mochtar
Merdeka wak! Ayo ayo ayo

Hadi
Markas di sini, Tar?

Momen istirahat sejenak. Distribusi logistik makanan dilakukan untuk memulihkan tenaga pasukan sebelum fajar menyingsing. Suasana riuh rendah dengan dialek lokal yang kental, menunjukkan sisi humanis pejuang.

BABAK XX

Di sebuah titik komando dalam kota yang baru direbut sebagian, para kepala pasukan membentangkan rencana lanjutan. Suasana tegang namun terkendali; peta dan sektor disebut satu per satu. Di sela strategi militer, terselip kegelisahan pribadi Hadi tentang keluarganya yang terdampak situasi perang.

Hadi merinci target operasional batalionnya. Penguasaan sektor timur Kali Code, selatan Jalan Ngabean, dan Pasar Beringharjo menjadi prioritas. Hadi sendiri akan memimpin serangan langsung dari Alun-Alun Utara menuju Benteng Vredeburg.

Hadi
Batalyon kami harus menguasai kota sebelah timur Kali Code dan kota sebelah selatan Jalan Ngabean beserta Pasar Beringharjo.
Aku sendiri bertugas mengadakan serangan dari jurusan Alun Alun Lor ke Fort Vredeburg.

Mochtar mengonfirmasi pemindahan markasnya ke area strategis dekat Stasiun Tugu, tepat di jantung pertahanan musuh (Tiger Brigade). Tujuannya adalah memperkuat koordinasi dengan unit NICA 103 yang datang dari arah barat.

Mochtar
Markas kami, kemarin dulu saya pindahkan ke sebelah Stasiun Tugu. Dekat Markas Tiger Brigade.
Mudah-mudahan kami dapat membantu kawan-kawan yang datang dari sebelah Barat NICA 103 dan 103 A.

Sisi humanis Hadi muncul. Ia menitipkan keamanan rumah orang tuanya kepada Mochtar. Terungkap konflik batin Hadi: ayahnya mulai kehilangan harapan dan berniat memihak NICA setelah Wiwiek tertangkap.

Hadi
Ada permintaanku sedikit, Mochtar.

Mochtar
Ya.

Hadi
Maukah kau mengamat-ngamati rumah orang tua ku?

Mochtar
Tentu saja, Hadi. Kalau bisa, saya datang juga ke sana. Kau sudah lama tidak pulang?

Hadi
Bukan itu yang ku pikirkan. Bapakku, sejak Wiwiek ditangkap, sudah mau masuk NICA saja.

Hadi
Pusing kepala ku dibikinnya. Sebenarnya, kalau aku sempat, aku mau mampir juga, biar sebentar.

Mochtar
Kalau kau sempat?

Hadi
Ya, kalau sempat.

Mochtar mencoba meredakan ketegangan Hadi dengan memintanya beristirahat dan makan. Hadi teringat ibunya saat menyantap rempelo hati, makanan kesukaannya, yang menciptakan nuansa melankolis sebelum perang.

Mochtar
Hadi, isilah perutmu dulu. Lantas tidur-tidur sedikit. Hari baru jam 11. Slamet, iman

Hadi
Rempelo hati, memang ini kesukaanku. Terutama kalau Ibu yang membikinnya, Tidak ada ketupatnya.

BABAK XXI

Di rumah orang tua Hadi dan Wiwiek, suasana malam terasa ganjil, terlalu sunyi untuk kota yang sedang bergolak. Di dapur, ibu menyiapkan makanan dengan harap-harap cemas, sementara ayah diliputi kegelisahan dan ketakutan akan akibat politik yang semakin dekat ke rumah mereka. Percakapan mereka memperlihatkan benturan antara kasih orang tua dan rasa takut terhadap kekuasaan yang mengancam.

Bapak meragukan desas-desus serangan umum yang akan terjadi esok hari. Ia menganggap kabar yang beredar luas di masyarakat hanyalah bualan, karena menurut logikanya, tentara yang asli tidak akan membocorkan rencana penyerangan.

Bapak
Kau sangka betul besok mereka akan menyerang, Bu?

Ibu
Aku bukan tentara, Pak. Mana aku dapat tahu?

Bapak
Aku juga bukan tentara. Tetapi aku tahu tentara yang betul-betul tidak akan obral-obral ken duluan kabar-kabar mereka akan menyerang.

Ibu merasakan keheningan malam yang tidak biasa. Fokusnya hanya satu: menyiapkan ketupat untuk Hadi, meski ia menyesal tidak memiliki rempelo hati (makanan kesukaan Hadi yang justru sedang dimakan Hadi di markas gerilya pada babak sebelumnya).

Ibu
Malam ini sepi sekali ya, Pak. Tidak ada tembak-menembak lagi ya.

Bapak
Dan buat apa ini repot-repot?

Ibu
Hadi suka sekali kupat, Pak. Sayang, rempelo hatinya tidak ada. Siapa tahu dia besok pagi mampir?

Konflik memuncak saat Bapak menyindir teman-teman Hadi yang dianggapnya sebagai pengirim surat ancaman (surat kaleng). Bapak merasa terjepit antara keselamatan nyawa dan tekanan ideologi dari pihak gerilya.

Bapak
Buat apa ini banyak-banyak? Apakah mau jamu seluruh jokja?

Ibu
Hadi kan punya teman-teman.

Bapak
Oh, teman-teman yang mengirim-ngirim aku surat kaleng dan menganceng-ngancem itu kau jamu. Bagus betul.

Bapak memperingatkan Ibu akan bahaya maut yang mengintai. Jika Belanda mengetahui mereka membantu gerilya, nasib Ibu akan berakhir tragis seperti Wiwiek. Dialog ditutup dengan ketakutan luar biasa dari sang Bapak.

Ibu
Kalau tidak, Bapak sudah kerja sekarang. Untung.

Bapak
Untung? Eh bu, kalau Belanda sampai tahu kau kasih makan sama gerilya, nasibmu serupa dengan Wiwiek. Tak pakai otak.

BABAK XXII

Di sebuah markas sederhana menjelang fajar, Hadi dan Mochtar berbincang dalam nada rendah namun tegang. Di luar, rencana serangan sudah di ambang pelaksanaan. Di dalam, yang dibicarakan bukan hanya strategi, tetapi juga keluarga, keyakinan, dan Wiwiek. Kecemasan pribadi bercampur dengan tanggung jawab perjuangan.

Hadi mencemaskan loyalitas ayahnya. Mochtar memberikan optimisme bahwa keberhasilan Serangan Umum dan pembebasan Wiwiek akan memulihkan kepercayaan sang ayah pada perjuangan Republik.

Hadi
Aku khawatir. Apakah Bapak dapat bertahan terus?

Mochtar
Kalau aksi kita besok bisa berhasil, tentu Bapak akan kembali kepercayaannya.
Beliau bukan satu-satunya orang yang goncang pendiriannya. Apalagi kalau kita dapat membebaskan Wiwiek.

Hadi
Begitu pikiranmu?

Mochtar
Kenapa tidak? Menurut keterangan I.C.Z. tidak begitu kuat penjagaannya.

Fokus beralih pada Jono. Rasa bersalah telah berubah menjadi obsesi bagi Jono. Ia merasa harus membebaskan Wiwiek sebagai bentuk penebusan atas keterlibatan gadis itu dalam rencana pembunuhan Sutedjo.

Hadi
Jono juga turut serta?

Jono
Wiek...Wiek...

Mochtar
Belakangan ini hampir menjadi obsesi baginya. Dia mesti melepaskan Wiwiek, sebelum dijatuhkan hukuman.

Hadi
Kesian Jono dia merasa bersalah betul.

Mochtar
Aku suka melihat dia dengan Wiwiek. Dua-dua begitu muda, sama begitu sederhana dalam kasihnya.

Alam bawah sadar Jono. Dalam mimpinya, Wiwiek muncul memberikan penguatan. Wiwiek menegaskan haknya untuk berkorban, sebuah dialog yang menunjukkan bahwa perjuangan bukan milik kaum laki-laki saja.

(Jono sedang bermimpi)

Jono
Wiek... Wiek... Maafkan aku, Wiek.

(Wiwiek dalam mimpi Jono)

Wiwiek
Tidak ada yang mesti dimaafkan, Mas Jon. Aku juga berhak berkorban seperti kau.
Kau tidak boleh mementingkan diri sendiri, Mas Jon.

Jono
Wiek...Wiek...Kau baik...Kau baik dan cantik Wiek...

Refleksi Mochtar tentang penuaan dini akibat perang. Seorang wartawan yang kini memanggul senjata, Mochtar merasa kehilangan jati diri lamanya karena tekanan kerja intelijen di dalam kota.

Mochtar
Anak muda, anak muda.

Hadi
Seperti kau yang sudah tua saja, Tar.

Mochtar
Memang belakangan ini. Kerja dalam kota bikin rambut ku jadi putih.

Hadi
Itu baik buat kau. Perubahan.

Mochtar
Barangkali, Aku sampai tidak kenal diriku lagi. Mochtar wartawan, manggul senjata.

Nostalgia masa damai. Mochtar teringat saat-saat terakhir mereka makan bersama di rumah orang tua Hadi sebelum "aksi" dimulai. Kenangan itu terasa sangat dekat namun sekaligus mustahil untuk diulang kembali.

Mochtar
Kau masih ingat kita makan bersama di rumah tuamu? Penghabisan kali? Hari Sabtu?

Hadi
Ya

Mochtar
Sebelum aksi? Aku masih ingat. Seperti kemarin rasanya.

BABAK XXIII

Kenangan Mochtar mengalir lembut di tengah suasana markas yang tegang. Ia teringat makan siang terakhir di rumah Hadi, ruang makan sederhana, suara senda gurau bersahutan, dan tawa keluarga yang hangat. Kontras dengan keadaan kini, ingatan itu terasa akrab, ringan, dan penuh kehangatan yang tak disadari akan menjadi momen terakhir sebelum badai perjuangan memisahkan mereka.

Mochtar mengingat kembali momen kedatangannya yang disambut hangat oleh seluruh anggota keluarga Hadi. Suasana santai saat Ibu dan Bapak memaksa Mochtar untuk ikut makan siang bersama.

Mochtar
Halo, Pak.

Bapak
Halo, Tar.

Mochtar
Hadi, Halo. Halo, Bu.

Ibu
Ah, nak Mochtar kebetulan nih. Mari nak, turut makan.

Mochtar
Ah terima kasih Bu. Baru makan.

Bapak
Ayolah Tar dimana pula kau makan baru pukul satu ini.

Mochtar
Tunggu... saya sudah makan, kalo saya belum makan akan saya serobot saja.

Endang dan Wiwiek mulai menggoda Mochtar. Terungkap adanya ketertarikan antara Mochtar dan Endang yang dibalut dengan perdebatan-perdebatan kecil yang jenaka.

Endang
Tidak usah diundang, dia akan ikut makan, Mas.

Wiwiek
Dia mau duduk dekat Mbak Endang sebenarnya.

Mochtar
Kalo gitu ya apa boleh buat.

Endang
Ini satu laskar lagi.

Bapak
Ayo makan-makan.

Interaksi antara Endang dan Mochtar semakin intens. Endang menjuluki Mochtar sebagai "Wartawan Kurang Ajar" dan "Pokrol Bambu" (pengacara gadungan), sementara Bapak dan Hadi hanya tertawa melihat "perang mulut" tersebut.

Endang
Kenapa kau selalu mau duduk dekat saya, kau kan tak perlu disuapi.

Bapak
Mochtar kan tau di mana dia harus duduk, masa wartawan diajar lagi.

Endang
Ah banyak wartawan yang kurang ajar Pak.

Hadi
Tuh dengar tidak Tar? Apa sekarang kau bilang.

Mochtar
Biasa saja, Endang ni tak pernah mengatakan yang baik tentang aku.

Permainan kata antara Mochtar dan Endang mencapai puncaknya. Mochtar dengan percaya diri menggoda balik Endang, menyatakan bahwa segala kritikan Endang sebenarnya adalah bentuk perhatian.

Endang
Emang tak ada yang baik padamu?

Mochtar
Oh, begitu. Jadi, tiap-tiap apa yang aku lakukan itu mendapat perhatian dari Endang. Baiklah, kalau begitu. Sekarang saya tahu.

Endang
Susah omong sama wartawan. Kayak pokrol bambu saja.

Mochtar
Masak. Yang lain kok suka ngomong sama aku. Cuma kau saja yang tidak. Atau pura-pura saja.

Jono mencairkan suasana dengan nyanyian kecil, menyindir gengsi Endang. Babak ditutup dengan tawa kolektif keluarga, sebuah memori indah yang kini menjadi kekuatan bagi mereka di medan tempur.

Jono
Pura-pura tidak mau...belum ditanya sudah mau...

Wiwiek
Ah, mas Jon bisa saja.

Endang
Mas Hadi ikut-ikut juga. Semuanya lelaki sama saja.

Hadi
Eh, eh, eh, aku jangan di bawa-bawa.

Ibu
Alah, apa bedanya?

BABAK XXIV

Fajar belum menyingsing ketika bunyi jam beker memecah sunyi markas. Udara masih dingin, wajah-wajah letih bangun dari tidur singkat. Tak ada lagi senda gurau panjang, yang tersisa adalah kesiapan, pembagian tugas, dan kesadaran bahwa pagi ini bisa mengubah segalanya.

Jam beker memutus sisa-sisa kenangan manis. Mochtar adalah yang pertama terjaga, segera membangunkan Jono dan Hadi untuk memulai pergerakan ke titik awal serangan.

Mochtar
Eh, Jon Jon! Bangun! Ikut gak?

Jono
Hm... Iya ikut.

Mochtar
Hei Mas Hadi! Mas Hadi! Bangun.

Hadi
Jam berapa tar?

Mochtar
Jam tiga.

Hadi segera mengambil kendali komando. Ia melakukan koordinasi operasional terakhir dengan seksi-seksi di bawahnya (Leman dan Bima). Penentuan waktu serangan ditetapkan pada pukul 05.30 tepat mengikuti bunyi sirine/gaung.

Hadi
Hmmm aku mendusin juga lagi. Ayo Dek... Dek... bangun, Dek.

Leman
Iya, Pak.

Hadi
Siapkan anak-anak ya, Dek.

Leman
Baik, Pak.

Hadi
Bima mana?

Leman
Ah biasa, Pak.

Hadi
Ayo Bima, Bima.. bangun Bima aee.
Seksi Leman ke Pagelaran. Seksi Bima dengan aku ke sekolah Keputeran. Dan tunggu sampai gaung sampai berbunyi pukul 5.30 persis, itu tandanya penyerangan. Sekarang pukul 3 lewat 5 tepat. Jelas semuanya?

Bima dan Leman
Paham-paham Pak!

Percakapan filosofis mengenai maut. Mochtar memberikan salam perpisahan yang terasa sangat final, membuat Hadi dan Leman merasakan keanehan atmosfer pertempuran kali ini. Masing-masing pejuang mencoba menguatkan keyakinan diri.

Mochtar
Semangat berjuang kawan mudah-mudahan selamat dan berhasil.

Hadi
Kau ini malam istimewa Mochtar... seakan-akan pertemuan yang terakhir saja.

Leman
Ya siapa tau Pak... nyawa cuman satu.

Hadi
Engkau juga? Suara mu pun sudah berlainan, Man.

Leman
Ya pertempuran malam ini agak istimewa bentuknya.

Bima
Masing-masing mengembaliken kepercayaan pada diri sendiri, Pak.

Hadi
Kau belum cukup punya dengan itu? Semadi mu itu? Hahahaha.

Bima
Kebal betul hahaha.

Di tengah ketegangan, Hadi masih sempat menggoda Mochtar tentang Endang. Babak ditutup dengan pengingat simbolis yang sangat penting: Janur Kuning sebagai identitas kawan di tengah pertempuran fajar.

Mochtar
Eh Endang di mana?

Hadi
Hati-hati Tar dia datang dari barat. Dan kalo dia jumpa kau, dia telan kau mentah mentah tar!
Eh jangan lupa ya janur kuning.

BABAK XXV

Gelap mulai menipis. Barisan bergerak dalam senyap, hanya derap sepatu dan gesek senjata terdengar di antara napas tertahan. Di sudut lain kota, propaganda ditempel cepat sebelum fajar. Ketegangan memuncak—pertemuan tak terduga dan tanda-tanda pagi menjadi irama pembuka menuju penyerangan.

Pasukan keluar markas dan mulai bergerak ke posisi.

Hadi memberi aba-aba untuk memasuki titik serang.

Di lokasi lain, Endang dan temannya menempel poster propaganda. Tanpa diduga, aksi yang berlangsung diam-diam itu terganggu ketika Endang berhadapan dengan serdadu NICA.

Endang
Aahhhh!

Seksi Leman memasuki arena serangan dari sisi yang berlawanan.

Kokok ayam menyambut fajar yang merekah. Pasukan berhenti sesaat, menarik napas panjang sebelum melanjutkan langkah.

Leman
Kepala regu maju! Kita beristirahat dulu disini.

Kepala regu
Ya pak. Ayo kawan-kawan kita ngaso disini.

Tentara lain
Ayo ayo ayo.

BABAK XXVI

Sesaat sebelum sirine berbunyi, Tentara nasional bersiap siaga mengambil posisi menyerang di belakang stasiun pada sela-sela rel kereta

Di kawasan alun-alun utara, Tentara bersiap menembak, menunggu Hadi memberikan perintah

Hadi
Ayo (menyiapkan tentara untuk bergegas mengambil posisi)

Suasana hening sebelum sirine berbunyi, Hadi menunggu dengan sabar sebelum memberikan aba-aba

Sirine berbunyi, tembakan pertama dilancarkandari tentara di Sekitar stasiun.

Tentara NICA memasuki alun-alun

Hadi
Awas… awas…. siap… TEMBAK!!!! (memberikan komando di alun-alun)

di sekitar Alun-Alun Utara, Tembak-tembakan terjadi antara TNI dan NICA

Tentara NICA berhasil dipukul mundur, Tentara nasional bersorak-sorai merayakan kemenangan sementara

Tentara 1
Mampus hahahahaha

BABAK XXVII

Tentara menyanyikan lagu suwe ora jamu sembari berjalan menyusuri gang merayakan kemenangan pertama

Warga
Ini..ini.. minum-minum (Warga membagikan makanan dan minuman ke pejuang)

Pejuang
Rokok-rokok (meninta rokok dari warga)

Ramai-ramai tentara mengambil makanan dari warga

BABAK XXVIII

Tentara kembali bersiap menyerang NICA, kali ini dimulai dengan menyerang tank NICA di kawasan kota. Selain itu juga terjadi tembak-tembakan antara tentara dan pesawat NICA. Disisi lain, Jono bersiap menyerang rumah tahanan sementara tempat Wiwiek ditahan

Jono
Tiga ikut aku, selebihnya jalan. Ayo bantu aku

Salah seorang tentara berhasil melemparkan granat mengenai tank NICA yang berjaga disekitar rumah tahanan sementara

Wiwiek dari dalam penjara mengetahui terjadinya serangan oleh tentara di luar

Wiwiek
Eh tentara kita, cepet!

Tahanan lain
tentara kita, tentara kita (antusias)

Wiwiek dan tahanan lain
Mas jon! mas Jon!

Jono
Wiek!!! Wiek!!!

Wiwiek
Mas Jon!! Mas Jon!!

Jono tertembak oleh tentara NICA

Wiwiek
Mas Jon!! Mas Jon!!

Wiwiek
Mas jon!! Mas jon!! (Ramai suara tahanan lain)

BABAK XXIX

Sementara itu, pertempuran masih terjadi di Alun-alun utara, saat ini dikomandoi Sersan Leman. Terjadi tembak-tembakan yang sengit antara tentara nasional dan tank NICA

Leman
Tembak! Tembak terus!!

Leman
Hati-hati! Mundur!

Leman tertembak oleh tentara NICA

Tentara 1
Kena, pak? Kita mundur, Pak?

Leman
Tinggalkan aku di sini…. Yang masih sehat, mundur saja….

Tentara 1
Baik, Pak

Tentara 1 melapor ke Hadi

Tentara 1
Tentara 1: Melaporkan, Pak. Sersan Sulaiman dengan tiga orang lainnya, gugur

Hadi
Yang lain suruh mundur saja, suruh perhebat hadangan sektor Barat

Tentara 1
Siap, Pak!

Hadi
Kita pertahankan terus di sini!

Suara Dentuman keras terdengar

Hadi
Dari sayap kiri satu per satu. Mundur!

Hadi
Ayo, cepat!

Leman dalam keadaan sekarat di alun-alun

Leman
Oh….. Tuhan…. Oh….. Tuhan….

BABAK XXX

Seusai pertempuran yang melelahkan, para tentara nasional beristirahat di markas, sembari menunggu komando berikutnya.

Tentara 2
Hey, Dot, granat kau bawa kian kemari? Kau simpan-simpan apa buat aksi-aksian?

Tentara 2
Apa mau dibikin jimat?

Dot
Aku sayang melemparkannya. Aku mau tunggu saat yang paling tepat.

Tentara 2
Alah, memangnya kau penakut! Saat sudah ada, kapan lagi?

Dot
Besok, kalau aku sudah kebal betul-betul seperti Pak Bima.

Tentara 2
Wong edan iki! Kebal atau modar?

Dot
Kebal! Kau tau itu? Topinya Pak Bima. Tembus! Tapi kepalanya tidak apa-apa.

Tentara 2
Apa kau lihat sendiri?

Dot
He-em, peluru membantun di kepalanya. Terus, kena kepala di sebelahnya.

Tentara 2
Betul, apa?

Dot
He-em..

Tentara 2
Lantas, orang yang satunya itu juga terus mati?

Dot
Tidak

Tentara 2
Kebal barangkali dia.

Dot
Iya, setengah kebal.

Tentara 2
Siapa itu orangnya?

Dot
Mau tahu?

Tentara 2
Iya.

Dot
Aku.

Tentara 2
Kau? Oh, kebal.

Tentara 2 mendapat perintah giliran jaga oleh Sersan Bima

Dot
Tuh, jaga itu.

Tentara 2
Huh, kebal!

BABAK XXXI

Ketika sedang berpatroli di sekitar markas, salah seorang tentara melihat tentara NICA datang membawa satu truk pasukan

Tentara 2
Belanda! (Dari jauh berteriak kepada tentara terdekat dengan markas)

Tentara 3
Apa?

Tentara 2
Ada Belanda!

Tentara 3
Siap!

Tentara 3 melapor kepada sersan Bima

Tentara 3
Pak, Pak! Belanda datang satu truk, Pak!

Bima
Siap, semua ya!

Bima
Ikut saya!

Bima
Cepat!

Tentara nasional dipimpin oleh Sersan Bima pergi menuju posisi untuk mengagetkan tentara NICA. Sementara itu, tentara NICA yang tidak menyadari adanya tentara nasional dikagetkan oleh tembakan secara tiba-tiba. Setelahnya terjadi pertempuran sengit antara tentara NICA dan tentara nasional.

BABAK XXXII

Sementera itu, di kediaman Hadi, Ibu sedang membagi-bagikan makanan ke tentara yang usai bertempur

Para tentara
Bu! Bu! Saya belum, Bu!

Ibu
Sabar! Sabar! Masih banyak.

Tentara
Satu lagi, Bu!

Ibu
Sabar!

Tentara
Punya saya diambil orang lain!

Di dalam rumah, ibu melihat bapak kesal

Ibu
Jangan dikasih liat betul perasaanmu yang jengkel itu, Pak!

Bapak
Aku peduli apa? Aku tidak takut sama mereka!

Ibu
Aku bekerja begini ini bukan karena aku takut! Aku semata-mata cuma ingat pada anakku, Pak!

Ibu
Aku akan gembira sekali jika ada orang yang memberi makanan padanya, dalam keadaan begini ini!

Ketika sedang membagikan makanan, Endang datang bertemu menyapa Ibunya

Endang
Bu…. Bu!

Ibu
Ini, ini! Kasih! Eh.. Nak Endang, hai!

Endang
Perkenalkan, Bu! Ini menteri penerangan kita. Ini ibunya Mas Hadi.

Ibu
Mari silakan duduk, Nak!

Menteri penerangan
Boleh, Bu?

Ibu
Tentu! Masa ndak boleh?

Endang
Maafkan, Bu. Boleh saya mengganggu sebentar? Eh… Ibu masih mempunyai perban?

Endang
Pos kami kehabisan perban, Bu.

Ibu
Masih, Nak. Coba Ibu carikan sebentar, ya.

Ibu
Ini, Nak. Hadi bagaimana, Nak Endang?

Ibu
Baik, Bu.

Menteri penerangan
Markasnya di selatan, Bu.

Ibu
Apa dia tidak akan mampir, barangkali?

Endang
Barangkali, Bu. Kalau ada kesempatan tentu mampir.

Ibu
Dan, ini ya, Nak Endang. Kalau ketemu Hadi kirim restu Ibu ya, Nak.

Endang
Iya, Bu. Terima kasih.

Ketika sedang berbicara dengan Endang, tiba-tiba tentara lain datang

Tentara 4
Bu! Bu! Ada teman yang luka, Bu! Boleh dibawa masuk, Bu?

Ibu
Tentu, bawa masuk, Nak!

Beberapa saat kemudian, Mochtar turut hadir.

Mochtar
Maaf saja, Bu. Kami sedang kepepet. Jalan Kapuas BNI sedang diblokir Belanda, tuh.

Tentara 4
Kami menunggu perintah selanjutnya, Pak!

Mochtar
Eh… Coba jalan dibelakang hotel itu sekali lagi, ya!

Tentara 4
Iya!

Mochtar
Hey… Sebelum nyebrang, lempar kain dulu ke atas jalan.

Tentara 4
Siap!

Jono dengan keadaan luka-luka datang ditandu sesaat setelah tentara yang diperintahkan Mochtar pergi.

Mochtar
Hati-hati! Hey, kemari! Bu, Jono, Bu!

Mochtar menyapa Endang
Halo, Kawan lama.

Ibu
Nak Jono? Mari bawa masuk, Nak!

Ibu
Bagaimana, Nak? Di mana dia kena?

Mochtar
Kami menyerang I.C.Z tadi, Bu. Menolong Wiwiek dan teman-teman. Rupanya, Mas Jon terlalu keburu napsu..

Ibu
Wiwiek bagaimana, Nak?

Mochtar
Oh, kawan-kawan sedang terus berusaha.

Bapak
Aku tidak suka dia dibawa-bawa kemari. Dia yang menjerumuskan anakku masuk penjara!

Mochtar
Dia luka karena menolong Wiwiek, Pak.

Bapak
Oh… Itu salahnya sendiri. Dan aku tidak suka tanggung jawab dia di sini!

Bapak
Kalau ada penggeledahan bagaimana? Aku tidak mau masuk penjara karena perbuatan beberapa orang pemuda tolol.

Mochtar
Selekasnya akan saya angkat dia dari sini.

Salah seorang tentara datang mengabarkan pada Mochtar tentang kondisi di lapangan.

Tentara 5
Pak, para tentara kita luka, Pak! Semua jalan diblokade Belanda dengan carrier dan tank.

Mochtar
Biar saya coba sendiri! Ayo!

Mochtar akhirnya pergi membersamai tentara untuk melanjutkan pertempuran

Sepeninggal Mochtar, Jono mulai berbicara kepada Endang dan Ibu


Jono
Mba, aku bawa saja dari sini, Mba….

Ibu
Kenapa? Nak Jono teman Wiwiek. Teman Wiwiek anak Ibu juga.

Jono
Aku malu, Bu. Tidak berhasil….

Ibu
Nak Jono, berani.

BABAK XXXIII

Di Jalanan, tentara NICA dan tentara nasional masih dalam pertempuran sengit, kali ini Mochtar turun langsung dalam pertempuran

Setelah memastikan kondisi kondusif, Mochtar memberikan aba-aba ke tentara lainnya

Mochtar
Aman! Nyebrang!

Salah seorang tentara ditugaskan kembali ke kediaman Hadi untuk memberitahukan kondisi sudah aman dan dapat membawa Jono ke markas

Tentara 5
Jalan sudah free Bu. Lekas berangkat!

Ibu
Angkat dia. Apa sudah aman, Nak Endang?

Endang
Sudah, Bu. Ibu tidak usah khawatir.

Tentara 5
Terima kasih, Bu. Ibu baik sekali.

Ibu
Ah, baik apa. Hati-hati ya, Nak!

Endang
Permisi, Bu.

Beberapa tentara bersama Endang dan tim medis mengantar Jono bersama-sama dari rumah Hadi ke markas tentara dengan menyebrangi sungai

Ketika tentara berhasil menyebrang sungai, tentara NICA tiba-tiba datang menyerang. Karenanya, terjadilah tembak-tembakan antara tentara nasional dan tentara NICA. Beberapa tentara nasional ada yang tertembak dan terluka, namun yang lainnya berhasil kabur sampai ke markas

BABAK XXXIV

Di kediaman Hadi, hanya tersisa Ibu dan Bapak Hadi saja sedang berbincang setelah semua orang pergi

Bapak
Kopi! Enam jam sudah mereka mengacau di dalam kota, cuma untuk makan siang.

Bapak
Habis itu lari seperti binatang liar.

Bapak
Dan yang jadi korban kita kita duluan, dan kau mau menjamu mereka pula.

Ibu
Jangan berpikir yang bukan-bukan, Pak!

Ibu
Pimpinan tentara yang ada di luar tidak begitu tolol mengorbankan jiwa anak-anaknya dan rakyat, hanya untuk main-main begitu saja.

Bapak
Ah, kau perempuan seperti mengerti saja! Ambil rokok!

Bapak
Kau yang selalu kasih hati dan memanjakkan Wiwiek sampai dia tidak mau dengar nasehatku dan berbuat semaunya!

Bapak
Dan sekarang dia ditangkap! Masih untung kita, Bu, kalau dia disiksa saja. Bagaimana kalau dia ditembak mati?

Bapak
Dan kau masih mau merawat Jono yang kasih masuk Wiwiek dalam penjara! Dan kau sendiri juga yang menahan-nahan aku kerja sama Belanda.

Ibu
Belum terlambat Bapak untuk bekerja, mungkin ini hari juga Bapak dapat melepaskan Wiwiek.

Bapak mendengar suara ketukan pintu


Bapak
Celaka! Ini dia, tadi aku sudah bilang, Bu.

Yang mendekati pintu adalah Wiwiek, setelah berterima kasih kepada tentara yang menyelamatkan, Ia menyapa Ibu.


Wiwiek
Sudah bung, terima kasih! Bu!

Ibu
Wiek!

Wiwiek
Jangan menangis, Bu, Aku masih hidup. Pak.

Ibu
Kok bisa lepas, Wiek?

Wiwiek
Kawan-kawan, Bu, yang melepaskan aku. Mas Jono dan pasukannya.

Wiwiek
Di mana mereka, Bu, sekarang? Mas Hadi, Mas Mochtar, dan yang lain-lain?

Ibu
Mereka mampir, Wiek, sebentar. Hanya untuk minum saja.

Ibu
Dan mas Jon? Di mana Mas Jon, Bu? Apakah dia tidak kemari?

Bapak
Memang tadi dia kemari, Wiek, tetapi aku pikir..

Wiwiek
Bagaimana, Pak?

Bapak
Aku tidak bisa terima dia di sini. Itu kau harus mengerti. Karena itu aku suruh dia pergi.

Wiwiek
Suruh pergi? Bapak usir orang yang luka?

Bapak
Ini adalah semata-mata untuk keselamatan kita, Wiek.

Bapak
Untuk keselamatan Ibumu dan keselamatanku. Ibumu dan aku sudah tua, Wiek.

BABAK XXXV

Tentara NICA mendatangi kediaman Hadi

Bapak
Wiek, Wiek! Serdadu Belanda datang. Lekas pergi, Wiek!

Bapak
Wiek! Mengapa kau diam saja? Ingat Ibumu! Ingat Ibumu sudah tua, Wiek!

Wiwiek
Ibu tidak takut, Bapak yang takut! Bapak hanya mengingat keselamatan diri sendiri..

Wiwiek
orang lain biar mampus, Mas Jon umpamanya!

Wiwiek
Asal Bapak selamat, supaya Bapak bisa masuk NICA nanti.

Wiwiek
Bapak tak usah takut, mereka tidak mencari Bapak dan Ibu. Aku yang dicari.

Wiwiek
Makanya, aku yang akan menjawab mereka.

Ibu
Wiek, jangan, Wiek! Ibu yang akan menjawab. Jika Ibu mati, tak apa, Wiek. Ibu sudah tua, Wiwiek masih muda.

Suara ketukan pintu keras terdengar.

Ibu
Wiek! Lekas, Wiek! Sembunyi!

Tentara NICA
Ini rumah Wiwiek?

Bapak
Betul, tuan!

Tentara NICA
Di mana dia sekarang?

Bapak
Saya tidak tau, tuan.

Tentara NICA
Bohong! Dia baru melarikan diri dari bui.

Bapak
Boleh jadi, tuan. Tetapi dia tidak ada di sini, tuan.

Tentara NICA
Ah, persetan! Kamu tau di mana dia bersembunyi sekarang?

Bapak
Tidak, tuan.

Tentara NICA
Dan siapa teman-temannya?

Bapak
Saya tidak tau, tuan.

Tentara NICA
Kamu bapaknya, bukan?

Bapak
Betul, tuan.

Tentara NICA
Yah, ikut saja! Jalan dan tunjukkan teman-temannya!

Tentara NICA
Kalau tidak ketemu, kau saja jadi gantinya, habis perkara! Ayo, jalan!

Tentara NICA
Ayo!

Ibu
Jangan terlalu bersedih, Wiek! Apa yang akan disesalkan? Rupa-rupanya, sudah begini mestinya.

Wiwiek
Aku hanya khawatir, Bu. Kalau Bapak tidak kuat?

Ibu
Memang, Bapak hanya memberanikan dirinya untuk melindungi anaknya. Dia cinta padamu, Wiek.

Wiwiek
Ah, cinta Bapak hanya terbatas pada keluarga dan diri sendiri. Barangkali lebih baik kalau aku tadi yang pergi.

Ibu
Tidak, Wiek. Kalu engkau yang dibawa, rumah ini akan menjadi neraka bagi Ibu.

Ibu
Bapak lebih lepas masuk NICA untuk melepaskan engkau.

Ibu
Engkau tidak suka dilepaskan dengan cara begini, bukan? Ibu juga tidak, Hadi pun tidak.

Wiwiek
Tapi, Bu. Aku tak boleh lama-lama tinggal di sini. Aku perlu cari kawan-kawan dulu, Bu.

Wiwiek
Mas Jono harus dirawat, Mas Hadi belum tau Bapak ditangkap.

Ibu
Apa Hadi perlu mengetahuinya?

Wiwiek
Aku tak tau. Ah, nanti saja, Bu, kupikirkan sambil jalan.

BABAK XXXVI

Wiwiek kabur dari rumah menuju ke markas tentara, tempat teman-temannya berada.

Di Markas, Djarot bercakap-cakap dengan Jono yang masih dalam kondisi terluka parah

Djarot
Engkau tidak tidur, Jon?

Jono
Ndak

Djarot
Bagaimana lukamu? Masih perih?

Jono
Ndak, aku ndak mikirkan ini. Aku mikirkan Wiwiek. Kalau Wiwiek ditangkap, aku ndak dapat maafkan kesalahanku.

Djarot
Ah, jangan kau pikir yang bukan-bukan, Jon. Aku kira Belanda belum lagi sempat mengadakan pembersihan hari ini.

Djarot
Tidurlah, tidur. Selekas aman, kita ke luar kota.

Hadi menanyakan kondisi Jono kepada Djarot

Hadi
Bagaimana?

Djarot
Aku khawatir dia ada penyakit lain, mas. Dia pikirkan Wiwiek saja!

Hadi
Itu namanya penyakit hati, Pak Djarot!

Djarot
Ya, alias cinta!

Hadi
Di sini sukar obatnya!

Di halaman rumah yang dijadikan markas tersebut, Mochtar menghampiri Endang.

Mochtar
Sudah merasa sepi sendirian?

Endang
Kenapa?

Mochtar
Aku menganggu barangkali?

Endang
Ah, tidak.

Mochtar
Sebab ada waktunya manusia itu merasa lebih bahagia duduk sendiri, merenung.

Mochtar
Dan kadang-kadang angan-angan itu lebih baik daripada kenyataan.

Endang
Tetapi, apa yang kita angan-angani dan pikirkan, sering tidak cocok dengan yang sebenarnya.

Mochtar
Umpamanya?

Endang
Sebetulnya, aku merasa berdosa terhadap kau, Mochtar.

Mochtar
Berdosa? Kenapa?

Endang
Dulu kusangka yang bukan-bukan tentang kau, sampai ku kira kau pengkhianat.

Mochtar
Kau sedih karena salah sangka?

Endang
Ah, tidak. Bahkan merasa gembira, sebab tau kau pahlawan.

Mochtar
Pahlawan… Siapa yang sebeneranya patut disebut pahlawan?

Mochtar
Aku cuma khawatir tidak dapat membuktikan kepadamu bahwa aku bukan pengkhianat

Endang
Pandai benar kau bermain sandiwara selama ini, Mochtar.

Mochtar
Kau juga, Endang. Aku hampir-hampir percaya kau betul-betul membenci aku.

Ketika masih asik berbicara dengan Mochtar, Endang dikagetkan dengan kedatangan Wiwiek.

Wiwiek
Mba!

Endang
Wiek! Mas, Wiwiek datang!

Hadi
Eh, dek Wiwik! Bagaimana kabar dengan Ibu, Bapak, dek?

Wiwiek
Ibu baik. Mas, Bapak ditangkap Belanda.

Hadi
Oh, kenapa?

Wiwiek
Karena…

Hadi
Kenapa, dek?

Wiwiek
Karena membantu gerilya.

Hadi
Oh…

Wiwiek
Mas Jon di mana, Mas?

Hadi
Di dalam, dek.

Djarot
Jon? Mas Jon ada.

Wiwiek
Mas Jon!

Jono
Wiek!

Djarot
Manjur pula

Endang
Bisa juga Pak Djarot ini!

Djarot
Buat kau juga.

Djarot menghampiri Hadi yang saat ini sedang menikmati waktu sore di halaman markas

Djarot
Kawan, lain pula caramu menikmat.

Hadi
Memang, serangan kita tadi akan merupakan genderang yang bergema ke seluruh dunia sampai ke league success

Djarot
Membikin kita lebih percaya dan lebih yakin pada kekuatan diri sendiri, pada bangsa seluruhnya.

Tentara 2
Pak! Jalan sudah aman, Pak!

Hadi
Ayo semua, kawan! Mari bersiap kita berjalan terus, perjuangan masih jauh!

BABAK XXXVII

Hadi, Djarot, Mochtar, Endang, Wiwiek, Jono, dan para tentara lainnya meninggalkan markas untuk pergi keluar kota.

Selama Merapi masih berapi, walau dipukul seribu kali semangat Gerilya tak akan mati!

TAMAT