Ekologi & Anarkisme/Murray Bookchin, Ekologi Radikal dan Demokrasi Kiri
Murray Bookchin, Ekologi Radikal dan Demokrasi Kiri
oleh Janet Biehl

MURRAY BOOKCHIN
Murray Bookchin (1921-2006) paham lebih awal dari hampir kebanyakan orang, bahwa krisis ekologis tidak hanya membayangi tetapi juga menimbulkan tantangan terhadap kapitalisme dan keseluruhan tatanan sosial. Pada dekade 1950'an dan 1960'an, sebelum kebanyakan orang tahu apa itu ekologi, ia mengusulkan solusi mendasar. Bagaimanapun juga pada zamannya, gagasannya diabaikan atau dikecam saat pertama kali diterbitkan; pun masih tetap kurang dikenal hingga hari ini.
Bookchin bergabung dalam gerakan Komunis Amerika selama Depresi Besar pada usia sembilan tahun; ia adalah seorang Trotskyis yang dikecewakan —anggota Socialist Worker Party (Internasional Keempat)— dari tahun 1939 sampai 1947. Ia kemudian meninggalkan politik Marxisme namun tetap berkomitmen untuk meneruskan proyek revolusioner anti-kapitalis. Ia memikirkan kembali politik revolusioner, menemukan kerangka baru untuk itu. Ia mendedikasikan sisa hidupnya untuk berteori, memberi inspirasi, dan mencoba mengorganisir sebuah revolusi yang tidak hanya bersifat sosialis (tidak seperti sosialisme Marxis), tetapi juga anti-hirarkis, demokratis, dan ekologis.
Mulai tahun 1952, Bookchin menulis tentang "The Problems of Chemicals in Food" untuk Contemporary Issues yang berbasis di New York. Ia berpendapat bahwa penggunaan pestisida, herbisida, dan bahan kimia lainnya di bidang pertanian memiliki efek beracun pada kesehatan manusia. Untuk mengurangi kebutuhan akan bahan tersebut, ia menganjurkan perkawinan antara kota dan pedasaan —yaitu, menghasilkan makanan di dekat tempat ia harus dikonsumsi, menyemai, memelihara, dan memanen hasil panen secara lokal. Ia mengkritik penggunaan pertanian monokultur dan menyerukan keragaman tanaman; ia mengutuk kerusakan tanah lapisan atas dan menyerukan rotasi tanaman; ia mencela pertanian berskala besar dan terpusat, yang menjadikan petani menjadi buruh belaka, dan mendesak pertanian skala kecil, di mana mereka yang bekerja di tanah tersebut mempertahankan hubungan yang berharga dengan dunia yang alami. Secara keseluruhan, ia mengutuk penyerapan pertanian ke dalam sistem kapitalis yang menuntut keharusan keuntungan maksimal, dan menyerukan pertanian organik yang terintegrasi, bukan dengan memisahkannya dari permukiman manusia. Pada tingkat filosofis, ia mengkritik keterasingan kemanusiaan dari alam.
Tapi selama 1950'an, ketika orang Amerika sibuk merayakan "kehidupan yang lebih baik melalui bahan-bahan kimia," hanya sedikit yang ingin mendengar tentang bahaya kesehatan dari bahan kimia tersebut, atau bahaya psikososial dari kapitalisme.
Pada masa itu, AS, yang terjebak dalam perlombaan senjata dengan Uni Soviet, sedang menguji senjata nuklir di Pasifik. Perlahan-lahan sebuah gerakan muncul untuk menentang pengujian tersebut. Bookchin adalah bagian dari gerakan itu yang mencoba menyalakan alarm mengenai dampak buruk yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Tidak seperti gerakan perdamaian 1950 yang baru muncul, ia mengkritik tidak hanya pengujian senjata tetapi juga "atom untuk perdamaian" —pembangkit listrik tenaga nuklir. Pada tahun 1963 perusahan energi Con Ed mengusulkan pembangunan sebuah reaktor nuklir di Ravenswood, Queens. Bookchin bergabung dalam perang untuk menentangnya, yang merupakan perjuangan masyarakat pertama dalam melawan nuklir sekaligus yang berhasil menggagalkan proyek tersebut.
Pada awal tahun 1960'an, ancaman baru terhadap kesehatan manusia tampak di mana-mana. Kota-kota raksasa adalah tempat penyebaran polusi udara dan air; udara beracun dan air juga iadi penyebab penyakit fisik. Tinggal di kota-kota besar adalah sumber stres tiada henti, dan stress (hal itu baru saja mulai dipahami) memiliki efek kesehatan yang negatif.
Kota-kota besar -megalopolis- menyebabkan masalah lain yang lebih panjang. Mereka bergantung pada penggunaan bahan bakar fosil. Tapi bahan bakar fosil, tulisnya pada tahun 1964, memproduksi sesuatu yang disebut efek rumah kaca: "Selimut karbon dioksida yang tumbuh ini, dengan mencegat panas yang dipancarkan dari bumi ke angkasa luar, akan menyebabkan meningkatnya suhu atmosfer, menuju sirkulasi udara yang lebih keras, hingga pola badai yang lebih destruktif, lalu mencairnya lapisan es kutub (mungkin dalam dua atau tiga abad), naiknya permukaan air laut, dan lahan yang tergenangan makin luas. Tidak seperti banjir, proporsi perubahan karbon dioksida ke gas atmosfer lainnya merupakan peringatan dampak manusia pada keseimbangan alam."
Planet seperti itu bukanlah tempat di mana orang bisa bertahan. Orang-orang biasa, Bookchin yakin, tidak akan tahan untuk itu. Mereka tidak dapat menolerir serangan yang meluas dan sistematis terhadap kesehatan mereka, atas keutuhan tubuh mereka. Mereka tidak tahan terhadap kerusakan lingkungan oleh efek rumah kaca. Demi kelangsungan hidup, mereka akan bangkit melawan sistem yang menghasilkan semua efek ini. Batas kapitalisme bukanlah, seperti yang Marx katakan, tekanan upah [immiseration] terhadap kaum buruh; tapi pada kesehatan manusia yang makin rusak. Sebuah masyarakat tanpa kapitalisme pasti jadi sesuatu yang berskala manusia, di mana kota dan desa diintegrasikan; di mana pertanian adalah lokal dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dan hal itu akan bebas dari bahan bakar fosil.[1]
Kota-kota besar, ujarnya, bergantung kepada sistem energi raksasa yang terpusat. Sejak tahun 1950'an, ilmuwan MIT telah bereksperimen dengan sumber energi alternatif baru: matahari, angin dan ombak pasang surut. Kekuatan alam ini bisa dimanfaatkan hampir di mana saja. Tetapi tidak seperti bahan bakar fosil, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari sabuk perkotaan skala besar, sumber energi alternatif ini menyaratkan adanya generasi dan kepemilikan yang terdesentralisasi. Mereka dapat digunakan pada skala masyarakat yang cocok dengan panel surya dan turbin angin, pada pembangkit listrik tenaga air kecil, panas bumi. Dimulai pada 1960'an, Murray berargumen bahwa energi matahari, angin, dan pasang surut cocok untuk masyarakat berskala kecil, sebuah komunitas mandiri yang terdesentralisasi.
Tapi ekologi sosial, segera setelah ia menyebut gagasan ini demikian, bukan bermaksud supaya kita kembali ke zaman takhyul petani abad pertengahan. Berkat teknologi manufaktur modern -yang menurut Bookchin sangat positif- buruh dan kerja keras yang menguras tenaga bisa disingkirkan. Orang tidak perlu bekerja, karena mesin akan melakukan pekerjaan itu. Mereka bebas berkreasi.
Pada tahun 1962 ia terbitkan gagasannya dalam buku berjudul Our Synthetic Environment. Beberapa bulan kemudian Rachel Carson menerbitkan Silent Spring, yang menempatkan kritik terhadap pestisida dalam kerangka yang sesuai dengan kapitalisme, menyingkirkan Bookchin dari panggung. Tapi dalam jangka panjang, Bookchin benar bahwa yang bermasalahnya adalah sistemnya. Sementara Carson pantas mendapat penghargaan karena memicu gerakan lingkungan modern, Bookchin -dengan kritiknya yang lebih radikal pantas mendapat pujian sebagai Bapak dari gerakan ekologi radikal. Ecology and Revolutionary Thought yang terbit pada tahun 1964 adalah manifesto pertama ekologi radikal.
Pada pertengahan 1960'an, ia dan kelompok politiknya -Federasi Anarkis New York- pergi berdemonstrasi sembari membawa poster-poster yang meminta orang-orang "ekologi dan komunitas" mempertanyakan, "apa itu ekologi?" Ia mencoba meyakinkan tokoh-tokoh besar Kiri Baru bahwa ekologi harus jadi isu dasar bagi mereka. Tapi mereka asyik meniru Che Guevara dan Mao Zedong dan Ho Chi Minh dan mengembangkan revolusi Marxis internasional. Mereka bahkan menganggap fokus terhadap lingkungan serta bahan kimia adalah perkara borjuis kecil dan beberapa orang mengejek Murray sebagai "Smokey the Bear."
Tapi dengan dilaksanakannya Hari Bumi pada 1970 dan permulaan kemunculan gerakan lingkungan, gagasannya tiba-tiba muncul tepat pada waktunya. Pada tahun 1974, ia mendirikan sebuah sekolah di Vermont -Institut Ekologi Sosial yang memberikan ribuan baby boomer paparan pertama mereka pada pertanian organik dan energi matahari dan angin.
Jika kumpulan gagasan yang berkembang ini adalah keseluruhan kontribusi Bookchin, ia akan mendapatkan tempat dalam sejarah radikal. Tapi masih ada lagi. Ia adalah yang pertama kali membuat demokrasi menjadi bagian dari proyek sosialis. Meninggalkan Marxisme berarti juga meninggalkan gagasan Marxis tentang institusi revolusioner. Memikirkan kembali proyek revolusioner ini berarti menentukan institusi revolusioner baru, yang tentu saja, sebuah struktur politik masyarakat baru, dengan cara yang tidak dapat mengulangi otoritarianisme Marxis. Tidak boleh lagi ada Stalin, tidak ada lagi Robespierres. Gerakan revolusioner baru harus bebas dari tirani, dan alih-alih menyerahkannya ke pelopor Politbiro untuk mengambil keputusan, keputusan itu harus diambil secara demokratis.
Mulai kembali pada tahun 1950'an yang begitu kreatif baginya, ia menjadi advokat bagi demokrasi tatap muka. Ia menyadari bahwa orang Athena kuno telah mengelola keseluruhan masyarakat secara kolektif, melalui majelis warga. Kalau hal tersebut bisa dilakukan sekali, maka ia bisa dilakukan lagi. Tentu saja, sekarang teknologi maju mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja manufaktur, masyarakat berpotensi dapat menyamai atau bahkan melampaui demokrasinya Athena kuno.
Dimulai pada akhir 1970'an, Bookchin mencoba meyakinkan pihak kiri bahwa ini adalah jalan terbaik untuk ditempuh. Kaum Marxis dari Kiri Baru tidak tertarik, namun anarkisme, di bawah naungannya, menjalani kebangkitan dan menerima seruan untuk pengelolaan diri masyarakat dalam masyarakat ekologi. Beberapa anarkis mengejeknya sebagai "institusi aneh," tapi ia mengerti bahwa merupakan tanggung jawab gerakan revolusioner untuk menyediakan kerangka bagi masyarakat yang baru. Untuk organisasi gerakan revolusioner, pada 1969 ia mulai mengajukan kelompok afinitas sebagai unit fundamental. Sebagai seorang mahasiswa dan sejarawan anarkisme revolusioner Spanyol tahun 1930'an, ia menemukan bahwa para libertarian ini telah mengorganisir diri mereka dalam grupos de afinidad, sekelompok aktivis yang kecil dan akrab yang bekerja sama dalam proyek-proyek umum. Adalah Bookchin yang membawa nama dan gagasan dari anarkisme Spanyol dalam konteks Amerika. Gerakan anti-nuklir Aliansi Clamshell (dimana ia berpartisipasi) mengadopsi kelompok afinitas sebagai unit organisasi pada tahun 1976-78. Kelom- pok afinitas sejak itu menjadi dasar pengorganisasian gerakan kiri, sampai pada demonstrasi anti-WTO Seattle pada tahun 1999 dan seterusnya.
Jika kelompok afinitas adalah organisasi gerakan, maka unit kelembagaan untuk masyarakat baru akan menjadi majelis warga tatap muka. Penangkal kontrol sosial oleh kekuatan impersonal yang besar, hierarki dan dominasi, ekonomi pasar, masyarakat pasar, dan komodifikasi semua aspek kehidupan sosial dan individu, adalah asosiasi tatap muka dari bawah ke atas untuk membangun gerakan etis melawan kapitalisme, dan sebuah demokrasi komunal. "Kita sangat membutuhkan masyarakat yang terdesentralisasi," katanya pada khalayak, "sebuah revitalisasi masyarakat, pemberdayaan ulang kembali warga negara kita, sebuah ranah publik yang vital di mana orang dapat memulihkan hubungan satu sama lain lalu mengendalikan nasib mereka sendiri."
Ketika para ahli lingkungan berpendapat bahwa jalinan kehidupan dapat dipertahankan dengan membatasi ekses kapitalisme dengan undang-undang, seperti akta Clean Air and Water, Bookchin menolaknya, ia sebut pandangan semacam itu sebagai reformisme; hanya ekologi (sosial), yang menurutnya, dengan bekerja untuk menghilangkan kapitalisme, yang dapat mancapai akar dari penyebab krisis ekologi. Ia bersikeras melawan semua pendatang baru bahwa akar masalahnya bersifat sosial, berlawanan dengan, katakanlah, biologis. Beberapa mencoba untuk menyalahkan faktor asosial kelebihan populasi (Paul Ehrlich), teknologi (Theodore Roszak) sementara yang lainnya (primitivis, ahli ekologi dalam) cukup salah untuk berpendapat bahwa manusia tidak punya nilai yang lebih besar daripada organisme lain di biosfer.
Ia menyangkal semuanya, menegaskan bahwa masalahnya bukan terletak di kamar tidur kita (kelebihan populasi) atau teknologi kita (sebagian besar benar-benar akan berkontribusi terhadap pembebasan) atau dalam DNA kita, tetapi dalam pengaturan sosial kita: dalam ekonomi pasar yang menuntut tumbuh atau mati yang mana bisnis harus bersaing untuk mengalahkan yang lain dan memaksimalkan keuntungan -sebuah keharusan yang menghancurkan planet ini. Argumennya sangat penuh harapan: jika masalahnya benar-benar terpasang dalam kodrat manusia, maka pastilah kita akan ditakdirkan hancur; tapi karena masalahnya adalah pengaturan sosial, dan pengaturan sosial mudah dibentuk, maka orang-orang harus menciptakan yang baru, menggantikan kapitalisme dengan sistem sosialis kooperatif.
Ia menyerukan pemberontakan etis melawan kapitalissme, dengan rasa jijik pada kehampaan dan ketidakberdayaan sebuah kehidupan yang diatur seputar komoditas. "Jangan sepelekan dirimu," ujarnya pada siswa Institut Ekologi Sosial, yang ia bentuk pada 1974 dan tempat ia mengajar hingga akhir hidupnya. Sekolah tersebut mendidik ribuan orang di bidang pertanian organik, akuaponik, energi terbarukan, keadilan pangan, dan teori sosial revolusioner. Lulusannya kemudian menjadi aktivis perubahan iklim, pekerja sosial, penga cara lingkungan, petani organik, pengorganisir masyarakat, dan aktivis Hijau.
Ia beri ideologi demokrasi majelis ini dengan beberapa nama: munisipalisme libertarian, komunalisme. Meski gagal, ia mencoba untuk membangunnya menjadi gerakan Hijau yang muncul secara internasional di awal 1980'an. Tapi hari ini orang-orang Kurdi Anatolia telah memeluknya dan menyebutnya sebagai "konfederalisme demokratik" sebagai jalan menuju pembebasan. Tulisan-tulisannya tentang masalah ini tetap menjadi cetak biru bagi orang-orang di tempat lain yang mungkin bercita-cita suatu hari akan mengubah potensi sosial untuk kebebasan itu menjadi sebuah kenyataan.
Mungkin bukunya yang paling berpengaruh adalah The Ecology of Freedom (1982), yang menggabungkan gagasan antropologi, sejarah revolusioner, filsafat dialektika ilmu biologi, dan lebih banyak lagi, untuk menciptakan pandangan yang koheren.
Yang sama pentingnya, menurut saya, adalah The Rise of Urbanization (1986), yang menceritakan sejarah konflik antara kota kecil dan besar di satu sisi, dengan negara-bangsa di sisi lain. Tempat untuk tindakan revolusioner bukanlah pabrik (seperti yang dimiliki kaum Marxis) tetapi di kota, di mana konsentrasi orang-orang memungkinkan media populer, pertemuan rutin, aksi di lingkungannya, majelis populer, dan fermentasi revolusioner. Gerakan besar sejarah revolusioner, saat diteliti dengan cermat, berubah menjadi urban.
Dan periksalah mereka. Alasan lain mengapa ia menulis sejarah gerakan populer di era revolusioner adalah untuk menjaga agar tradisi revolusioner tetap hidup dan memetik hikmahnya saat ini. The Spanish Anarchist (ditulis pada tahun 1969, diterbitkan pada tahun 1977), yang meliput gerakan tersebut dari abad kesembilan belas ketika didirikan sampai tahun 1936, merupakan argumen panjang yang dapat dianut oleh anarkis, yang bertentangan dengan semua stereotip tentang pengorganisiran. Karya magisterial empat jilidnya, The Third Revolution (1996-2005), menceritakan tradisi gerakan revolusioner yang mendasarkan diri mereka sendiri.
Ia adalah juara yang kuat akan nilai-nilai nalar dari Pencerahan dan humanisme. Sebagai seorang humanis, ia menentang misantropi [kebencian pada manusia] dalam gerakan ekologi, yang telah menjadi alasan karena menyalahkan manusia karena menghancurkan alam. Bookchin berpendapat bahwa sebaliknya, kita bergantung pada kecerdikan manusia dan kreativitas untuk menemukan solusi terhadap krisis ini.
Di dunia yang tidak lagi menghargai koherensi, Bookchin berani bersikap koheren. Akibatnya, idcnya punya logika internal. Sebagai pandangan sosial yang dikembangkan dengan kritik terhadap hirarki, kapitalisme, dan negara yang luas, hal ini mengarah pada alternatif utopis dan mengingatkan kita akan masyarakat yang baik, dan kemurahan hati yang dapat digunakan oleh manusia. Pemberontakan etis melawan kapitalisme berbicara soal memahat hasrat tentang makna dan pendekatan pada agen manusia yang saleh.
Telah kerasukan idealisme dan imajinasi moral demi perubahan kekuasaan, dia menjaga ujung terjauh agar tetap terlihat. Mudah terbakar dan bersemangat, ia lebih peduli pada sebuah gambaran besar, tujuan besar, daripada untuk rinciannya. Dalam masyarakat yang menghindari risiko, ia tak peduli untuk mempertaruhkan reputasinya. Ia tidak berhasrat untuk membuat orang lain menjadi terkesan atau takut akan ketidaksetujuan orang lain. Meskipun menyeimbangkan kekuatan sosial yang sangat besar, ia mempertahankan kemara han utopis. Ia mengerti bahwa meski keberhasilan tidak bisa segera dicapai, pilihan lain yang tersedia adalah kiamat. Ia menggubah pepatah Rosa Luxemburg "sosialisme atau barba- risme" menjadi "ekologi atau kemusnahan": atau yang mung- kin lebih baik lagi, "bersikaplah realistis melakukan hal yang tidak mungkin, karena jika tidak, kita akan mengalami hal yang tak dapat dibayangkan."[2]