Drama di Gowa Kiskendo
| Disarankan membagi karya ini menjadi beberapa halaman. JIka Anda ingin membantu, silakan lihat pedoman gaya dan halaman bantuan. |
Meskipun sumbernja satu, jaitu dari Ramayana karangan Walmiki, akan tetapi tjerita Ramadewa ini tiada sama dengan Serat Rama dari Tuan C.F. Winter atau dari R. Ng. Jasadipura, djuga berbeda dengan lelakon pedalangan di Djokjakarta dan lain-lain tempat lagi. Tjerita ini saja ambil dari pewajangan dusun dilembahnja Gunung Selamat sisih Utara, jang tidak ada bukunja, hanja dituturkon dari mulut-kemulut sadja.
Suatu tjerita jang demikian indahnja, sajang sekali djikalau nanti mendjadi musna, maka saja pungut sedikit dengan sedikit, dihimpun dan disusun, akan kemudian saja sadjikan kesidang umum, sekedar sebagai sumbangan kepada masjarakat dan batja‘an di Indonesia, dengan tiada melupakan perdjandjiannja Betara Brama kepada Sang Bidjaksana Walmiki, bahwa: „Selamanja masih ada gunung dan sungei dimuka bumi, tjerita Rama akan tetap mendjadi kembang bibirnja manusia”.
IM YANG TJU.
DRAMA DI GOWA KISKENDA.
(Ramadewa II)
I.
Gandrung-gandrung kapirangu, itulah keada'annja putra Ngayodyapala jang sedang mentjari istrinja. Tapi ditjari kemana, karena ia tidak tahu hilangnja putri itu telah ditjolong oleh siapa. Ia bertindak separan-parannja, masuk hutan keluwar hutan, di'iringi oleh adenja dengan air mata melele disepandjang djalan.
Sebentar berdjalan sebentar berhenti termangu-mangu, segala apa jang tertampak mendjadikan pikirannja bertambah duka, oleh karena itu semua tjuma memperingatkan sadja kepada sang istri itu. Djikalau ia melihat burung merak, burung itu lalu ditanjai, apatah ia tahu dimana adanja putri Mantili? Kemudian bila hari ampir mendjadi petang, sang kalong telah sama keluwar mentjari makanan, lalu dipesan wanti-wanti nanti kalau ada jang mendapat lihat Dewi Sinta supaja lekas diberi tahukan kepadanja, karena ia merasakan tiada akan bisa hidup lebih lama lagi didalam dunia ini, djika mesti berpisahan dengan istrinja itu.
Malam semingkin gelap, tjruk, tjruk, tjruk, itulah suaranja burung petjruk jang sedang rindu, oh gusti, segala jang terlihat, segala jang terdengar, semua-mua menambahkan kesedihan belaka. Maka Regawa lalu djatoh menangkup diatas pasir, dengan rasa sengsara jang tidak ada batasnja.
Besok paginja terang tanah keduwa sudara itu telah bangun bertindak sedjalan-djalannja, sehingga lehernja sang Regawa tersangkut lunggadung, maka putjuk daon itu lalu dipegang, ditempelkan kepada pipinja, sembari merangkul- rangkul ia berkata: „Oh adinda, achirnja kau ketemu djuga disini, kau dari mana, kenapa pergi begitu lama, aku mentjari sampai keraja-raja. Marilah mandi, kekasihku, tjoba lihat, gelungmu sampai terlepas, nanti aku petikan kembang tjempaka untuk menghiasi rambutmu ini ......”
”Lunggadung jang diriba-riba itu telah mendjadi putus, maka sang Rama lalu mendjadi tersedar dari keada'an limutnja, ia mendongak keatas sembari berseru: „Aduh, Djagad Dewa
Betara!” ”Gara-gara itu terus naik menjerang keatas Sorgaloka, pintu gerbang Selamatangkap kedubrakan menga dan menutup tiada berhentinja. Petetan dan kembang-kembang didalam taman kahjangan, gagarmajang-dewandaru, semua rubuh tersapu angin lisus jang bukan main heibatnja. Dewa-dewa sama lari mengungsi ketakutan, Bidadari geger pujengan djatoh bangun lari mendjerit-djerit. Putjak menaranja balai Mertjukapunda telah somplak rusak binasa. Kawah Tjandradimuka umeb mendidi bergolak-golak sebagi dikebur, hingga laharnja muntjrat naik keatas daratan.
Dalam keributan pantjawura jang heibat itu, lapat-lapat terdengar suaranja Sang Hjuang Djagadnata jang berkata kepada Resi Narada:
„Kakang, kakang Narada, pergilah turun ke Madyapada. Betara Wisnu sedang menderita duka nastapa, hiburilah hatinja, supaja dahuru pantjaroba ini mendjadi sirep. Lekas, kakang, lekas, djangan sampai keburu allam djagad mendjadi musna oleh karenanja.”
Betara Narada lalu terbang mengikuti angin jang sedang rusuh itu, histanja seperti sebutir areng lelatu kabur terbawa asap dan api jang lagi berkobar-kobar, tiada lama ia telah şampai didalam hutan Tikbrasara, terus langsung menudju ketempatnja sang Regawa dan Laksmana jang sedang remuk-redam hatinja itu.
Dewa gendut itu lalu bertreak-treak, ketawa terlakak-lakak sebagimana biasanja, seraja berkata:
Keduwa satriya itu lalu mendjatohkan diri dan duduk menjembah.
„Kaki Rama”, kata sang resi, „kenapa hatimu susah-susah amat? Sedang bagai manusia dan segala apa sadja jang hidup, antara kumpul dan pisah toch urusan biasa. Berkumpul suka-suka sebentar, akan kemudian berpisah dan sunji kembali, itulah sudah mendjadi hukum allam jang langgeng dan tiada bisa berobah lagi. Kesusahan djangan diterima dengan rasa bentji dan djemu, oleh karena itu ada suatu tanda akan datangnja kesenangan. Kesengsara'an jang terderita olehmu sekarang ini, adalah sangat besar harganja, lantaran dari kesengsara'an ini kau bakal mendapat kemulia'an jang tidak ada bandingannja”.
„Tapi pukulun,” djawab Regawa, „terlalu heibat penanggungan saja ini, hingga rasanja saja tiada sanggup menderita lagi.”
„Ha, ha, ha,” tertawa ki Dewa itu, „baru sedjimit sudah mengeluh keberatan, seperti bukan satriya, ha, ha, ha, ha, seperti bukan kesuma. Sudahlah kaki Rama, kau djangan berduka
lagi, tiada lama kau akan dapat ketemukan kembali istrimu itu, djangan selempang, si Sinta jang tjantik nanti akan muntjul sebagai emas jang keluwar dari dapur pembakarannja, makin bertjahja, makin gilang-gumilang. Djangan tiada pertjaja, sebab ini adalah djandjinja Sang Hjuang Girinata.”
Regawa dan Laksmana lalu menjembah, maka Betara Narada pun sigra balik terbang keatas kahjangan kembali.
Hatinja sang Rama mendjadi sedikit lega, karena ia pertjaja bahwa Dewa tiada berdjustra. Mereka masuk kehutan Tikbrasara semingkin dalam, sehingga sampai disuatu tempat jang puhunnja tinggi-tinggi, mereka menampak suatu pemandangan jang menjeramkan hati. Disana-sini ada mengumpiang banjak darah, ketika ditjari tahu ternjata itu mengalir dari suatu gundukan bulu, jang menguruki sebatang puhun rubuh.
„Kakanda,” kata Laksmana, „itu tjuma sebuwah sajap burung jang telah putus dari badannja.”
Mereka menghampiri lebih dekat, betul demikian, entah sebrapa besar burungnja itu, sedang sebelah sajapnja sadja begitu rupa hingga puhun besar jang ditindihi telah mendjadi ringsak.
Dipedalaman hutan Tikbrasara makin rungkut dan makin gelap, tiba-tiba mereka mendengar suaranja burung tjabak jang berbunji dari dalam gerombolan puhun awar-awar. Ini hal
bunji diwaktu malam, tapi kalau ia berbunji pada waktu sijang hari, tentu ada apa-apa jang luwar biasa.
Seliwatnja dari situ, suasana dirasakan engap, lebih lagi tatkala mereka mendengar suaranja burung jang tiada djuntrungannja, banjaknja beribu-ribu dari bangsa beraneka warna, jang semuanja sama berbunji dengan berbareng, brisik hiruk-pikuk menerbitkan rasa jang tiada karuan.
Keduwa orang satriya itu berdjalan menengah lebih djaoh, ketika sampai disuatu tempat jang penuh dengan puhun rubuh malang-melintang, mereka mendjadi kaget karena menampak saekor burung jang besarnja sebukit anakan, menumprah rebah diatas tanah, sajapnja patah sebelah dari mana terus mengalir darah tiada berhentinja. Burung raseksa itu menggereng-gereng dengan rupa menahan kesakitan jang sangat heibat. Ketika melihat kedatangannja sang Rama dan Laksmana, ia mengangkat kepalanja sedikit seraja berkata: „Bahagialah satriya jang baru datang. Kau ini siapa dan hendak pergi kemana?”
„Nama saja Rama dan ini ade saja Laksmana, anak dari Prabu Dasarata di Ngayodyapala.” djawab sang Regawa.
„O Djagad Dewa Betara, kebetulan sekali,” kata pula sang burung itu. „Kemari anakku, datanglah jang dekat. Namaku Djatayu, radja burung didaerah sini. Aku dengan ajahmu sobat karib sedari dulu.”
Regawa dan sang ade menghampiri lebih dekat, mereka mendjadi ngeri ketika menampak lukanja Djatayu jang bagitu rupa, selain sajapnja sebelah jang kutung itu, badannja pun sudah remuk sama sekali, maka ia tiada dapat berkutik sedikit djuga, tjuma kepalanja jang bisa digerakkan tapi sukar dan kalihatan amat sakitnja.
„Kenapa kau dapat luka dan menderita bagini, uwa?” menanja sang Rama dengan hati jang turut menanggung sengsara.
„Aku tiada bisa menuturkan terlalu banjak, sebab aku sudah tidak tahan. Aku mistinja sudah lama mati, tapi sebab hendak menunggu kepadamu, maka aku tahan-tahankan sehingga disa'at ini. Dengarlah, istrimu putri Mantili telah ditjolong oleh seorang radja raseksa, aku telah berdaja untuk merampas kembali, tapi aku kena dikalahkan, sajapku putus sebelah kena sendjatanja dan aku djatoh disini .............”
„Uwa, istri saja dibawa kemana?” Regawa menanja dengan gugup.
Djatayu meleki matanja sebentar, hendak bitjara lebih djauh, tapi tidak kuwat, napasnja sudah habis dan diantara embusannja jang paling pengabisan, tjuma terdengar lapat-lapat: „Dibawa ke Aleng.........”
„Uwa, uwa Djatayu ........” demikianlah seruhnja sang Regawa berbareng dengan Laksmana, tapi radja burung jang gagah perkasa itu telah meninggal dunia.
Negeri Aleng ......... dimanatah negeri Aleng......... itu? oh, hatinja Regawa djadi makin ngenes, maka keduwa satriya itu lalu menangis atas nasibnja burung Djatayu jang setia utama itu.
Berbareng itu, rahajat burung jang beribu-ribu banjaknja diseputar situ, lalu sama berbunji menangis sangat ramenja. Diantara mereka, adalah bebrapa burung brandjangan jang
mengetahui ketika radjanja itu bertempur dengan sang Rahwana diatas udara, mereka terbang kesana-kemari minta bantuan, tapi sebelumnja semua machluk bersajap dapat dikumpulkan, pertempuran itu sudah berachir, sang radja Djatayu telah djatoh kebawah.
O itulah suatu peristiwa jang heibat diatas udara. Ketika Dewi Sinta dibawa terbang dalam gendongannja Rahwana, putri itu mendjerit-djerit disepandjang angkasa.
„Hai, raseksa, aku hendak kau bawa kemana?” demikianlah kata ia dalam tangisnja. „Bawalah aku kembali, nanti kau mendapat upah apa sadja jang kau minta.”
„Ha, ha, ha, ha,” Dasamuka ketawa, kumandangannja bikin tergetar tjakrawala. U„pah jang aku minta, aku sudah dapat, jaitu dirimu, manis, dirimu jang aku sudah tjari ubek-ubekan diseluruh djagad.”
„Tidak, tidak, aku tidak sudi,” djawabnja sang putri.
„Lebih baik kau lepaskan sadja disini, supaja aku djatoh diatasnja itu gunung batu dan mendjadi hantjur, dari pada aku didjadikan istrimu, raseksa durdjana jang mendjidjikan.”
„Bhuta perampok,” kata ia pula, „djikalau kau tidak mengembalikan aku, kau tentu bakal binasa. Suamiku dan iparku ada satriya jang gagah perkasa, putra Ngayodyapala jang kesaktiannja tidak ada bandingnja, mereka tentu akan menjusul dan maski kau sembunji didalamnja Saptapertala, tidak urung kau akan remuk diudjung sendjatanja.”
Rahwana tjuma ketawa bekakakan, tidak tahu benda jang mendekati tadi sudah berada diblakangnja, ketika mendengar sesambatnja sang putri jang menjebut-njebut namanja putra Ngayodyapala, lalu mendjadi beringas matanja menjala sebagi api. Ternjata ia itu adalah radja burung Djatayu, jang kaduwa sajapnja terpentang seakan-akan mempenuhkan tjakrawala,
bulunja warna kuning sebagi emas jang berkilau-kilauan tjahjanja.
Dengan ketjepatan sebagi kilat burung itu menerkam Dasamuka. Tjutjuknja jang sebagi goenting wadja mematok leher kemudian ia menelampak dengan sajapnja jang bisa membikin
hantjurnja sebuwah gunung karang. Serangannja ada bagitu dahsjat, maka sewaktu itu djuga Dasamuka telah mendjadi tiwas dan tubuhnja djatoh kebawah. Berbareng sang Dewi pun terlepas, tapi badannja enteng maka melajang-lajang seperti sutra. Djatayu lalu menjamber disebelah bawahnja dengan badan tjelentang, dadanja jang berdulu alus dan empuk sebagi
kasur bludru, digunakan untuk menjanggap tubuhnja sang putri, kemudian kakinja pegang tubuh jang tjantik itu dengan sangat perlahan, kuatir kukunja jang tadjam nanti membikin luka
kulitnja.
„Djangan takut, putri Mantili, kau ada didalam perlindunganku.” kata sang Djatayu, tapi ia tidak njana bahua sang Rahwana sudah berada dibelakangnja, karena ia ada mempunjai kesaktian adji Rawarontek dan Pantjasona, maski sudah binasa kalau tubuhnja kena tanah dan mendapat silirannja angin, sigra ia akan hidup kembali. Dan Rahwana mendjadi gusar sekali, berbareng itu kepalanja lalu timbul sepuluh tangannja mendjadi duwa puluh, masing-masing pegang sendjata, terbang memburu musuhnja dengan suara menderum-derum laksana guntur. *)
- ) Kesaktian itu Rahwana dapat menipu dari kakanja, jaitu Maharadja Bisawarna, jang kemudian telah binasa disamber geledek, karena daja kedjahatannja Rahwana djuga, dibantu oleh sukmanja Dewi Sakesi jang merasa penasaran. Batjalah buku : „Drama di Lokapala“.
Djatayu gerakannja tidak laluasa lagi, karena ia sembari melindungi dirinja sang putri, maka ketika Dasamuka menimpahkan tjandrasanja, Djatayu tjuma dapat berkelit sedikit, luput kepala tapi kena sajapnja hinggah putus sebelah. Berbareng itu Rahwana telah merebut kembali Dewi Sinta dari genggemannja Djatayu, jang kendati longgar tapi tidak dapat dibuka, maka djari-djari itu telah dipatah-patahkan lebih dulu, kemudian sembari menggendong korbannja Rahwana tertawa melandjutkan perdjalanannja menudju kesebelah Selatan.
Tubuhnja Djatayu melajang kebawah makin pesat dan achirnja telah djatoh ditengah rimba raja, suaranja menggeleger seupama bukit ketjemplung didalam samudra. Tubuhnja hantjur, tapi ia menahan njawanja, menunggu sehingga Rama datang sampe disitu.
Tapi ternjata Djatayu tjuma dapat menuturkan sebagian sadja, ia belum menerangkan namanja raseksa maling itu, sedang nama negerinja pun baru diutjapkan separo, keburu ia
sudah meninggal dunia, hingga pikirannja sang Rama misih tetap dalam kegelapan.
Oh radja burung jang setia, ia mati dalam djalan utama, mati membela sobat, membela kebenaran, salah satu djalan dari kematiannja seorang satriya. Maka pintunja Sorgaloka poen
lalu terbuka, dari mana kedengaran suaranja gamelan Lokananta, dibarengi dengan njanjian pudji djaja-djaja dari para Resi, Gandarwa dan Bidadari sebagi kehormatan atas kedatangannja seorang sukma jang agung dan mulia.
II.
Negeri Aleng.........? dimanatah letaknja negeri itu ? oh, pikirannja sang Regawa mendjadi tambah gelap, oleh karena tahu sebagian adalah lebih sengsara dari tiada tahu sama sekali.
itu ? mereka tiada tahu dan tiada dapat mengira-kirakan, lantaran letaknja masih djauh.
Jang mentjurigakan, sebentar-bentar dari puntjaknja gunung itu kedengaran suara menggelegar, sebagi suaranja guntur. Mereka datang bertambah dekat, dan mereka mendjadi kaget, lantaran mendadak terdengar suara gumuru sebagi angin ribut, berbareng itu warna hitam jang mempenuhi hutan tadi telah musna tiada tahu kemana parannja.
Keada'an itu ada sangat menjangsikan, maka Laksmana sembari berdjalan sembari bersiap dengan gandewa panahnja. Tapi sang Regawa tiada menghiraukan itu semua, ia djalan dengan tunduk, oleh karena seantero pikirannja sedang tersangkut dengan negeri jang namanja Aleng......... itu. Rimba jang gawat itu telah dimasuki dengan tiada ragu-ragu pula, sampai mendadak mereka telah dibikin terkedjut oleh mentiungnja sebuwah tjabangnja puhun mandira jang tingginja setengah langit, dari mana telah turun suatu benda hitam jang gerakannja tangkas sekali, hingga tahu-tahu sudah berada dihadapannja. Oh itulah seorang lutung raseksa, tangannja besar dan pandjang, matanja menjala sebagai api, mulutnja lebar kelihatan gigi dan taringnja jang putih berkilat-kilat sangat menakutkan. Berbareng itu dari sana-sini lalu muntjul pula warna hitam jang tadi mendadak telah hilang, ternjata itu semua ada bala-
tentara lutung jang sekarang telah datang mengurung sesudah memberi kabar kepada radjanja.
„Hai satriya”, kata radja lutung itu dengan bengisnja, „besar sekali njalimu brani masuk kemari? apatah kau tiada tahu bahua siapa jang datang disini, tiada akan dapat pulang kembali lagi ?”
„Sesuatu titah jang hidup adalah mendjadi miliknja bumi, maka bumi pun ada mendjadi miliknja siapa sadja jang hidup diatasnja.” djawab sang Regawa. „Orang boleh datang dimana sadja jang disukai, asal tiada bermaksud djahat, tiada merusak dan tiada membikin matinja penghidupan jang lain.”
„Djawabanmu adalah tegas sekali,” kata radja lutung itu, „aku suka dan taro hormat kepada orang gagah sematjam kau. Namamu siapa, satriya?”
„Namamu lebih dulu, hai djempolnja bangsa lutung, oleh karena siapa jang ditengah djalan ingin mengetahui namanja lain orang, harus lebih dulu mengasih tahu namanja sendiri.”
tung jang ada diatas bumi. Gunung ini adalah namanja Gunung Tjandramala, disinilah aku berkuasa, disinilah aku memerentah rahajat lutung seanteronja. Sekarang tinggal kau, satriya gagah, siapa namamu?”
„Namaku Raden Regawa, putra dari Prabu Dasarata di Ngayodyapala.........”
„O kau Regawa, satriya Rama jang sudah menangkap Dandangsengara?” demikian Sambawara memutusi perkata'annja Regawa, kemudian dengan tiada menunggu djawaban lagi ia lalu menjerang dengan heibatnja, djarinja jang berkuku tadjam
itu merupakan suatu tjengkeraman jang menakutkan. Akan tetapi dengan gampang terkaman itu telah disingkirkan oleh sang Rama, berbareng dengan tangan kanannja ia menjampok kearah kupingnja radja lutung itu, jang lalu djatoh terguling diatas tanah.
kesana-kemari dengan membuta-tuli, hingga batu-batu dan tanah djadi meleduk, debunja mengebul kemana-mana.
Rama tiada ingin mengantapkan lebih lama perbuatan itu, maka ketika Sambawara menghampiri, lehernja lalu ditangkap dan dipuntir sehinggah ia djatoh terus di'indjak badannja, maka radja lutung itu lalu merintih-rintih kesakitan, meratap minta dikasiani.
„Kenapa kau menjerang kepadaku dengan menjebut-njebut namanja Dandangsengara ?” demikianlah Rama menanja setelah radja lutung itu duduk dihadapannja.
„Dandangsengara, gusti, adalah musuh saja,” djawabnja Sambawara, „sebab ia tiap mendapat kesempatan tentu datang menangkap rahajat lutung akan mendjadi makanannja. Saja
sudah merasa girang ketika ia telah berdiam dinegeri Mantili, mengangkangi Segara Madu, karena ia djadi tiada datang mengganggu kemari lagi. Tapi siapa tahu ia telah dihadjar oleh paduka, maka ia lalu pergi dari sana dan sering datang kemari pula. Lantaran itu maka tadi saja menjalahkan kepada gusti, kenapa burung gagak raseksa itu tiada paduka bunuh, hanja dilepaskan sehingga datang merusakan rahajat saja lagi.”
Rama tertawa seraja berkata:
„Kau bangsa lutung memang pitjik pengatahuannja, maka kalah djaoh kemadjuannja dengan bangsa monjet jang tjerdas. Tapi lantaran kau pikirannja baik, tiada nakal sebagi bangsa monjet, maka Dewata pun memberikan penghidupan jang tentram dan ajem. Antara permusuhanmu dengan Dandangsengara, tidak ada sangkut-pautnja dengan aku, maka djikalau burung gagak itu mati dibunuh olehku, kau tiada perlu memberi hadiah, karena aku bukan orang suruhanmu, sebaliknja djikalau aku tiada membinasakan kepadanja pun kau tiada harus marah kepadaku.”
„Saja sekarang mengerti, gusti, maka minta diampuni segala kesalahan saja itu.” djawab Sambawara sembari menjembah.
„Memang aku sudah ma'afkan segala perbuatanmu itu,” kata sang Rama, akan kemudian sesudah pikirannja tenang, mendjadi teringat lagi halnja sang putri Mantili, maka ia lalu menuturkan hal istrinja jang hilang ditjuri oleh seorang raseksa, katanja dibawa kenegeri Aleng............
„Gusti, saja tiada tahu dimana letaknja negeri Aleng......... sedang mendengar sadja pun baru sekarang ini. Tapi gusti, saja berdjandji, djikalau nanti negeri itu sudah paduka ketemukan dan perlu dengan tentara untuk menggempurnja, saja dengan tentara lutung seanteronja sedia untuk didjadikan barisan pelopornja.”
„Kesanggupanmu aku hargakan, Sambawara, maka nanti djikalau waktu itu sudah tiba, tentu aku mengirim kabar, kepadamu.”
Keduwa satriya itu berdiam diatas Gunung Tjandramala bebrapa hari lamanja, disobia dan dihormati oleh Prabu Sambawara dengan sekalian rahajatnja, jang tiada putus-putusnja datang menghaturkan bebuwahan jang enak dan segar-segar.
Setelah itu lalu putra Ngayodyapala itu meneruskan perdjalanannja mengidul, masuk kedalam hutan-hutan jang rungkut dan sunji.
III.
Gandrung-gandrung kapirangu, sembari djalan sembari menggandrung, bingung dan rangu-rangu, masuk hutan melangkah djurang, achirnja sampailah mereka di Gunung Reksamuka jang sungil dan rungkutnja bukan buatan. Gunung itu tiada pernah didatangi manusia, lantaran penuh binatang buwas, ular berbisah dan lain-lain bangsa jang beratjun.
Mereka telah tiba disuatu perengan, meliat kebawah adalah djurang jang sangat dalam, memandang keatas adalah batu-
batu tjadas jang berdiri lempeng sebagi tembok, sedang diatasnja lagi adalah rimba lebat dengan puhun besar-besar jang tjabangnja menglajung diatas situ. Regawa bersama adenja lalu duduk diatas rumput untuk menghilangkan tjape sembari melindung dari sinarja Betara Surya jang menggintilang-gintjlang sangat teriknja.
Sedang mereka merasa dahaga, tiba-tiba dari atas telah djatoh air berketes-ketes, jang dikira keluwar dari rembesannja batu-batu tjadas, maka sang Laksmana lalu ambil selembar daon djati untuk menadahi ketesan itu, tapi kutika diminum rasanja asin, maka lalu ia menoleh keatas, ternjata di selakan tjabangnja
Monjet itu tjuma dapat bergojang sedikit kepalanja sadja, ia sedang menangis dan air jang berketes-ketes djatoh kebawah tadi,
adalah air-matanja.
Laksmana lalu memberi tahu kepada kakanja, jang setelah memandang sebentar lalu menanja: „Hai monjet jang sedang menderita, kau siapa dan sebab apa maka terdjepit sengsara disitu ?”
„Oh satriya jang mentjorong sebagi sebagi Dewa,” djawabnja sang monjet itu, „saja adalah radja monjet dari Gowakiskenda, nama saja Sugriwa. Saja terdjepit disini adalah lantaran dikaniaja oleh sudara saja monjet Resi Subali, jang telah merampas istri dan keradja'an saja.*) Satriya, djikalu kau bisa menulungi saja terlepas dari sini, saja akan menjembah kepadamu dan mendjadi budak jang setia untuk mendjalankan segala perintahmu.”
Regawa mereres hatinja mendengar keluh kesahnja monjet itu, maka lalu ia berkata: „Baiklah Sugriwa, aku tulungi dirimu, tapi tutuplah matamu, supaja tiada menampak apa jang aku hendak berbuat.”
Sugriwa meramkan matanja, maka sang Rama lalu pentang gandewanja, anak panahnja jang berkilat menjala-njala dari sebab tadjamnja, ditudjukan kepada tjabang puhun jang mendjepit badannja sang monjet, harus djitu betul, serambut pun tiada boleh meleset, sebab kalau njimpang sedikit sadja, nistjaja djiwanja radja monjet itu akan binasa. Tapi tangannja sang Rama adalah tangan jang sudah matang dalam latihan, apa pula dibantu dengan dajanja ilmu sirwenda, maka ketika sendjata itu terlepas, lalu terdengarlah suara gumuru, tjabang jang sebesar badan kerbo itu telah putus, berbareng djatohnja dengan sang monjet melajang-lajang kebawah, disanggapi oleh raden Laksmana jang rikat dan kuwat.
Dari kegirangannja Sugriwa, maka kendati tubuhnja misih terlalu lemah, ia paksa gurawalan merajap datang mempeluk kakinja sang Rama, sembari menangis tiada berhentinja.
Regawa lalu menuturkan lelakonnja, sedari hilangnja sang istri sehingga ketemu radja burung Djatayu, jang mengasih tahu bahua sang putri dibawa raseksa negerinja di Aleng......... Dimana pernahnja negeri itu, ia tidak tahu.
- ) Batjalah buku „Lahirnja Dewi Sinta“.
Sugriwa dengan gembira lalu berkata:
„Oh gusti, djangan kuatir, saja tahu dimana letaknja negeri itu, namanja Alengkadiredja. Memang jang berkuasa disitu ada
seorang raseksa djahat, namanja prabu Dasamuka atawa disebut djuga Maha radja Rahwana. Sudah tentu ini ada dari perbuatannja, karena selama hidupnja Dasamuka memang melakukan sadja segala kedjahatan, karena kedjahatan itu adalah kesenangan djiwanja.”
Mendengar itu romannja sang Regawa lalu djadi bertjahja kombali, suatu tanda sumangatnja telah bangkit dengan penuh pengharapan.
„Gusti,” kata pula Sugriwa dengan sembahnja, „djikalau saja dapat duduk kembali sebagi radja di Gowakiskenda, saja sanggup mengerahkan balatentara monjet jang berdjuta-djuta banjaknja untuk menggempur negeri Alengkadiredja, merebut kembali gusti aju Retna Dewi Sinta, dengan melangkahi bangkenja si durdjana Prabu Dasamuka itu.”
„Kalau bagitu djandji kesanggupanmu, Sugriwa,” kata sang Regawa dengan suara gembira, „marilah kita meluruk ke Gowakiskenda, aku jang mendjadi pelindung dan botohmu. Djikalau kau tiada sanggup membunuh Subali dengan tenagamu sendiri, anak panahku jang nanti menguntapkan kepadanja kedalam kahjangannja Betara Yama.”
Sugriwa berdjingkrak kegirangan, maka lalu mereka brangkat menudju ke Gowakiskenda, dimana pertempuran antara duwa sudara monjet jang sama gagahnja itu lalu terdjadi, heibatnja
bukan buatan. Tapi kemudian ternjata Sugriwa kedeser, lantaran Subali itu memang kegagahannja tidak ada jang sanggup mengimbangi. Sugriwa achirnja mundur dengan badan penuh luka-luka parah. Besoknja ia disuruh madju lagi dan sang Rama berdjandji akan melepaskan sendjatanja, tapi sedang mereka
djatanja. Demikianlah, hari besoknja telah kedjadian apa jang telah dirantjang. Sendjata jang dilepaskan itu adalah sendjata jang maha heibat didalam dunia, namanja kjai Guawidjaya, jang tiada ada benda hidup kuwat menerimanja. Subali semistinja tidak bisa mati, djikalau ia misih ada mempunjai kesaktian adji Pantjasona, akan tetapi kesaktian itu telah kena ditipu dan diberikan kepada Prabu Dasamuka, maka sekarang badannja kosong, jang misih ada tjuma kegagahan aselinja sadja. Demikianlah ketika sang Guawidjaya terlepas dari gandewanja, sendjataitu menggereng sebagi suaranja srigala mengokop darah, tepat kena ditengah ulu-atinja Subali, tapi dasar ia ada seorang pandita jang pinundjul, maka kulitnja pun keras sebagi badja, udjungnja sang Guawidjaya tiada lekas dapat menembusi, hingga keburu kena ditangkap dalam tangannja Subali, jang menahan itu dengan kekuwatannja luwar biasa. Tapi Guawidjaya tiada akan berhenti sebelum dapat menjampaikan maksudnja, terus ia madju dengan suara gerengan jang heibat sekali kedengarannja, hingga keduwa kakinja Subali sampai amblas masuk kedalam tanah sewates lututnja, sedang kekuwatannja semingkin kurang, maka sendjata itu dengan perlahan sedikit demi sedikit terus masuk menemboes kearah hatinja sang korban.

„Hai satriya jang kedji,” kata Subali dengan mulut berbusa, „kau sudigawe sekali tjampur urusan orang lain. Aku sedang berklai dengan sudaraku sendiri, kenapa kau turut membantui kepadanja, membunuh aku jang tidak pernah ada sangkut-paut urusan apa pun kepadamu ?”
Sang Rama mendekati seraja berkata: „Subali, ingatlah, kau ada seorang resi jang mistinja berhati sutji, kenapa kau merampas istrinja ademu dan merebut keradja'annja? Aku adalah satriya Rama dari Ngayodyapala, membantu jang benar, membinasakan jang salah, itulah ada darma kewadjibanku. Guawidjaya djika sudah terlepas tiada akan balik dengan tiada membawa korban, akan tetapi korban itu misti orang jang berdosa, djikalau orang itu sutji dan benar, Guawidjaya akan mendjadi puntul dengan sendirinja.”
„Oh, Rama, perkata'anmu itu betul belaka,” kata Subali seraja berlinang-linang air matanja, „sekarang tiba-tiba aku djadi mendusin atas perbuatanku sendiri jang salah. Sugriwa, kemarilah, aku beri nasehat kepadamu, djundjunglah satriya itu sebagi Dewamu, sebab ia adalah titisannja Betara Wisnu, berbahagialah siapa jang mengabdi kepadanja.”
Setelah itu, dari lukanja Subali lalu mulai keluwar mengalir darahnja jang berwarna putih dengan menghamburkan bau jang sangat harum, dan tidak lama kemudian Subali lalu menghembuskan napasnja jang paling pengabisan. Sang Regawa dengan diturut oleh Laksmana dan Sugriwa lalu menghormati sukma jang brangkat itu dengan sesanti djaja-djaja.
Djinasahnja Resi Subali lalu dibakar, kemudian mereka masuk kedalam kraton Gowakiskenda, dimana mereka dapatkan sang permaisuri Dewi Tara sudah beranak seorang monjet lelaki, rupanja tjakap dan gagah perkasa, jang oleh sang Rama lalu diambil putra, diberi nama Raden Hanggada.
Sugriwa lalu duduk pula mendjadi radja di Gowakiskenda, tiap hari melatih balatentaranja, sedia akan nanti digerakan menggempur negeri Alengkadiredja.
IV.
Di atas Gunung Maliawan telah didirikan sebuwah pesanggrahan besar jang sangat indah, atas titahnja Prabu Sugriwa, guna tempat beristirahatnja satriya Rama, jang karena waktu itu hudjan sudah mulai datang, maka ia akan menunggu sehingga habisnja musim rendeng barulah dimulai gerakan tentaranja menjerang negeri Alengkadiredja.
Perdjalanan brangkatnja ke atas Gunung Maliawan itu, Rama tiada ingin di'iringkan oleh tentara monjet, hanja berduwa sang ade sadja dengan menjangkutkan gendewanja dipundak kiri, mereka bertindak perlahan-lahan menuruti kemauhan hatinja. Tapi lantaran itu djadi mereka telah ambil djalanan jang keliru, tersasar kesebelah Wetannja Gunung Reksamuka jang terkenal sangat heibatnja, karena didaerah itu selamanja belum pernah didjalani oleh manusia, lebih sungil dan lebih angker dari bagian jang lain-lain. Disitu bukan sadja ada penuh denggan binatang buwas dan ular berbisah, tapi djuga maskipun sijang hari ada banjak sekali bangsa lelembut jang bergelandangan, setan, iblis, ilu-ilu, gandaruwo dan segala anasir berkasakan jang hidupnja dari mengisap njawa.
Biasanja djikalau ada manusia jang kesasar masuk kedaerah itu, dalam sekedjapan sadja badannja lantas mendjadi habis, hingga tulang-tulangnja pun tiada akan ketinggalan lagi, maka hawanja djadi sangat dingin dan suasananja amat menjeramkan.
Akan tetapi keduwa orang satriya itu adalah bangsa kesuma, turunannja orang agung jang pernah menjebar kebadjikan besar, maka tubuhnja ada mengeluwarkan sematjam tjahja panas sekali, jang bagai segala setan dan iblis itu seakan-akan sinarnja mata-hari terhadap binatang tikus, mereka tiada kuwat menderitanja, maka djaoh-djaoh sudah sama lari menjingkir sembari mengeluh dan sesambatan tiada berhentinja.
„Panas.... panas...... aduh panas sekali...... ini ada apa, kawan, ini ada apa?” demikianlah kata salah satu antara mereka.
„Tida tahu ada apa, tapi badanku rasanja soperti dibakar, aduh panasnja bukan main.” djawab jang lain.
„Menjingkir, kawan, menjingkir,” kata seorang badjobarat jang baru datang. „Ada kesuma sedang djalan kemari, lekas kita menjingkir, kalau tiada, nistjaja badan kita akan mendjadi
Larinja bangsa durbiksa itu dibarengi dengan angin pujuh, maka sekalian binatang liar pun sama bubar kemana-mana, sedang bangsa gegremetan sebagi kaladjengking, ketonggeng dan lain-lain pun sama sembunji masuk kedalam lobang-lobangnja.
Huru-hara dan hiruk-pikuk itu, telah membikin bangun seorang radja siluman jang sedang tidur didalam sebuwah djurang, siluman itu besarnja bukan buatan, kepalanja sadja sebesar bukit, hingga djurang jang untuk tidur itu mendjadi penuh dengan badannja, sebagi saekor babi jang melesek didalam krandjangnja. la pun merasakan hawa jang sangat panas, maka ia mendjulurkan kepalanja melihat kesekuliling djurusan, apa mau kebetulan sang Rama dan Laksmana pun telah tiba dilamping atasnja djurang itu, maka kagetnija mereka bukan alang-kepalang, menampak suatu muka jang besarnja tiada terkira-kira, bagitu heibat gigi dan tjalingnja.

Ketika raseksa itu mengangkat keduwa tangannja hendak menangkap mereka, tangan itu tingginja setengah moga, hingga mereka mesti mendongkak keatas untuk melihatnja, sigra keduwa-duwanja lalu pentang gandewanja, Rama mendjudju tangan jang kanan, Laksmana jang kiri, dan panah itu semuanja djitu mengenakan nadinja, maka lalu menggigil gemeteranlah keduwa tangan itu, berbareng Rama telah melepaskan pula sebatang panah lain, jang tepat menantjap kepada tenggorokannja sang raseksa, maka ia telah menggerung dengan suara jang santer sekali, hingga Gunung Reksamuka rasanja akan djadi meledak oleh karenanja, berbareng dalam djurang itu lantas penuh dengan uwap berwarna putih jang mengebul sampai di atas udara. Kemudian ketika asep itu telah bujar, maka djurang itu telah mendjadi kosong, sang bhuta badannja telah musna tanpakrana, sementara jang tertampak hanja seorang Dewa jang rupanja gagah dan angker, berdiri mengambang diatas djurang dengan tertawa seraja berkata:
,,Trima kasih, tjutjuku jang tjakap, atas perbuatanmu itu hingga sekarang aku telah mendjadi ruwat bebas dari papatjintraka." Kata sang Dewa itu seraja tertawa.
Keduwa satriya itu lalu duduk menjembah, kemudian dengan perlahan Regawa menanja:
,,Pukulun, saja kesamaran, tiada dapat mengenali pukulun ini siapa.’’
,,Pantes kau tiada kenal pula kepadaku, Regawa, oleh karena sudah lama aku telah musna dari keada'an, hingga para Dewa di Sorga pun telah sama lupa akan diriku. Aku adalah Betara Kangka, Dewanja segala hewan jang bersajap. Seribu tahun berselang, Betara Guru sedang bersenang-senang diatas Gunung Kilasa dengan permaisuri Dewi Uma, tiba-tiba ada saekor burung djalak uren jang terbang diatas udara, kurang adjar telah berak dan kotorannja djatoh diatas pangkuannja Betari Uma, maka Sang Hjuang Djagadnata mendjadi marah, lalu ia bersabda: ,,Hai burung jang kurang tata, hidupmu akan makan tjatjing dan bergoleran didalam barang kotoran’’. Demikianlah maka sehingga ini hari burung djalak uren itu makannja tjatjing jang didapat dari kotoran beraknja binatang, maka ditanah pesisiran burung itu dinamakan djalak telepong, lantaran hidupnja ditempat-tempat jang banjak telepong kotorannja sampai dan kerbau. Hal itu tiada habis sampai disitu sadja, karena aku sebagai Dewanja bangsa bersajap pun turut menanggung djawab, dianggap melalaikan kewadjiban tiada sanggup mendidik rahajatnja, maka aku lalu dikutuk atau disotkan mendjadi raseksa siluman dan diusir pergi dari kahjangan. Aku terlunta-lunta hidup bertjampuran dengan segala setan brekasakan, makananku segala binatang jang tiada karu-karuan, malah satu tempo pun manusia aku tangkap untuk mengisi perutku. Tapi siapa tahu tubuhku tiap hari telah melar membesarkan tiada suda-sudahnja, tentu sadja perutku pun djadi semingkin gede, hingga makan sepuluh ekor binatang gadjah pun tiada bisa kenjang, lantaran itu aku selamanja djadi kekurangan makan, selalu kelaparan dan sengsara sekali, maka tiap hari tidur sadja didalam djurang ini. Beruntung ini hari kau telah datang kemari dan anak panahmu jang sekti telah membikin aku djadi ruwat pulang asal sebagi dulunja lagi, bebas dari penanggungan jang sangat dahsjat itu. Oh, tjutjuku Regawa dan Laksmana, aku berutang budi kepadamu, aku berterima kasih atas perbuatanmu jang penuh kebaikan ini.”
Putra Ngayodyapala itu lalu menjembah dengan perasa'an jang turut merasa bahagia.
„Regawa,” kata pula Betara Kangka, „aku tahu kau sedang menanggung duka nastapa lantaran kehilangan istrimu. Tapi djangan selempang, tiada lama mustikamu itu akan kau dapatkan kembali, maka jang mantap dan teguh sadja hatimu. Nanti djikalau sudah datang waktunja, kau akan berperang dengan Prabu Dasamuka, dimana pada fihak tentaramu pun akan banjak jang mendapat luka dan sakit, maka sekarang aku untjuki kau suatu obat maha besar didalam dunia. Puhunnja tiada besar, daonnja berwarna hidjau, rasanja pait sekali. Lata atau
akarnja, dapat digunakan untuk mengobati orang jang terkena ratjun, dari sangat mandjurnja hingga kendati orang itu sudah mati pun akan dapat hidup kembali. Namanja tiada diketahui,
maka para Dewa tjuma menjebutkan: Lata Maha Usada, jang artinja: akar obat jang maha besar, atau kalau diringkas mendjadi Latamaosandi. Regawa, obat ini akan sangat berguna kepadamu dan rahajat tentaramu sekalian, maka tjarilah puhun itu, tumbuhnja ada di Gunung Imagiri, jang hutannja penuh dengan puhun obat-obatan beribu-ribu matjam banjaknja. Nah tjutjuku jang gagah, lakukanlah segala nasehat jang aku katakan tadi, sekarang aku hendak balik kedalam kahjangan lagi.”
Habis berkata Betara Kangka lalu musna mendjadi hawa, sementara sang Rama dan Laksmana pun lalu bangun akan melandjutkan perdjalanannja, menudju kedjurusan Selatan, mentjari gunung jang telah diundjuki oleh sang Dewa itu.
tidak ada ulat atau belatung, rupanja itu semua lantaran dari berkah dan pengarunja Latamaosandi jang tumbuh disitu.
Tapi dimanatah adanja tetumbuhan itu? Inilah ada suatu hal jang sukar ditjari, oleh karena bagaimana rupanja daun puhun jang berharga itu, sang Dewa Betara Kangka tadi tiada menerangkan, sedang hutannja Gunung Imagiri itu adalah luwas sekali.
Tjuma untung dalam pusat ketjerdasannja sang Rama masih ada tersungging suatu pengetahuan tentang puhun obat-obatan, pembawa'an dari penghidupan jang sudah lampau, jaitu ketika ia mendjelma mendjadi Resi Setmata, pernah mendjadi dukun tinggal didusun Kajuan atau Kajulandejan, dipesisirnja tanah Medanggele, maka tiadalah sampai ia kesasar-sasar menduga sembarang puhun adalah Latamaosandi.
Jang pertama terlihat olehnja adalah suatu tetanaman jang bertjampur dengan rumput-rumput dipinggir hutan, bungahnja kuning kemerah-merahan, maka lalu sang Regawa petik setangkei daonnja seraja berkata :
„Daon ini namanja Sidagurih, kasiatnja dapat menjembuhkan gatel dan luka-luka diatas kulit. Kembangnja dapat menghilangkan ratjun tawon dan sebangsanja.”
Laksmana ketarik dengan uraian itu, maka ia menundjuk pada suatu tetumbuhan jang daonnja besar mengambiak diatas tanah, seraja menanjakan namanja.
„Itulah jang dinamakan Tapakliman,” djawab Regawa, „oleh karena rupa kelompokannja diatas tanah sebagi tapaknja gadjah. Daonnja untuk mengobati sakit demam, sedang akarnja adalah obat jang baik sekali akan menghilangkan panas didalam badan. Dan itu jang tumbuh dipinggir air, namanja Sidowajah, kembangnja, dibakar untuk mengobati koreng, bidjinja digodok untuk menjembuhkan demam keras jang kentjingnja keluwar darah.”
Mereka berdjalan terus, lalu mulai menampak puhun kaju jang besar-besar.
tentram, sedang bungahnja dapat menghilangkan angin. Puhun jang eilok rupanja itu, namanja Keningar atau Manisdjangan, kulitnja terpake untuk mengusir angin didalam badan, baunja harum dan rasanja manis. Itu lagi, puhun jang tinggi langsing, namanja Kaju-putih, daonnja mengandung minjak jang sangat baik untuk menghilangkan dingin, kulitnja dapat menjembuhkan segala luka-luka diatas badan. Dengan tiada merasa mereka berdjalan makin ketengah.”
„Ini namanja Kapolaga,” kata pula sang Rama, „baik sekali untuk mengusir angin dan hawa dingin didalam badan. Itu lagi namanja Tjengkeh, rasanja harum dan pedes, berguna untuk menjingkirkan hawa busuk didalam perut. Dan itu pula jang dinamakan Meritja, sifatnja panas dan rasanja pedes sekali. O adinda, boleh djadi tempatnja Latamaosandi tiada terlalu djaoh lagi, sebab tetumbuhan disini sudah mulai tandes dalam sifat dan rasanja.”
Mereka mengusut makin bernapsu, apa pula ketika menampak ada sebuwah kaju jang rasanja sanget pait. „Ini namanja Widaraputih atau Widaralaut, wataknja bersih dan dingin sekali, baik untuk menjehatkan badan, kalau diminum pada waktu hawa panas, tubuh dan pikiran akan mendjadi segar dan tentram. Dan itu, namanja Butrawali, paitnja bukan buatan, hingga djikalau diminum tjukup banjak, njamuk pun tiada brani menggigit lantaran kringatnja turut berasa pait. Obatnja sakit demam, kalau diperes airnja dapat menjembuhkan sakit mata jang sudah bernanah.”
Liwat dari situ, lalu tertampak suatu tempat jang terbuka, tiada dinaungi oleh puhun-puhun besar lagi, jang hidup disitu hanja tetumbuhan ketjil jang tingginja kurang-lebih satu meter sadja, beribu-ribu batang tapi tjuma sematjam sadja bangsanja, jaitu suatu puhun jang Regawa belum pernah melihat hingga tiada tahu apa namanja. Apatah itu Latamaosandi? Bisa
djadi, karena wudjudnja bagus sekali. Akan tetapi Latamaosandi diseluruh allam hanja tjuma ada satu batang, kenapa sekarang bagitu banjak tumbuhnja? Kebetulan waktu itu ada saekor binatang kantjil sedang didis dibawahnja puhun Pule, maka Rama lalu manitahkan Laksmana mendjudjukan panahnja, tapi dipesan supaja dikenakan sadja ekorja. Tangannja Laksmana adalah sudah mateng dalam latihan, maka tiada kurang tiada lebih tepat kena pangkal ekornja kantjil itu sehingga putus. Sang kantjil mendjadi kaget dan kesakitan, ia lari kesanakemari dengan menetes-netes darahnja, berlepotan ketjret diatas daon Wari. Achirnja kantjil itu masuk kedalam gerombolan daon jang ruponja asing itu, maka sang Rama lalu mengikuti dengan penuh perhatian, setelah tiba ditengah-tengah betul, kantjil itu menghampiri sebuwah puhun jang rupanja pun tiada beda dengan jang lain itu, pangkal ekornja jang putus lalu digosok-gosokan kepada puhun itu, maka dalam sesa’at sadja lantas mendjadi sembuh. Itulah Latoamaosandi, kata sang Rama dengan girang seraja menghampiri mustikanja segala tetumbuhan itu.
„Hai sang kantjil“, kata putra Ngayodyapala itu seraja mengangkat tangannja, „aku hutang kebaikan kepadamu, maka aku sabdakan: maskipun ekormu kutung tapi itu akan menambahkan kebagusan rupamu. Dan ketjerdikanmu itu jang telah dapat mengenali Latamaosandi, akan mendjadi milikmu terus sehingga berturun-turun, sebagai pudjangga didalam rimba. Ketjil badanmu, tapi kau akan disegani dan di‘indahi oleh seantero binatang didalam hutan.“
Kemudian daon wari jang berlepotan darahnja sang kantjil pun disabdakan: „Daon wari, warnamu sekarang mendjadi merah, tapi itu aken membikin kau sangat indah dan menarik hati. Namamu aku ganti mendjadi daon Waribang.“
Demikianlah, maa sabdenja sang Rama lalu terdjadi sehingga ini hari.
V.
Pekerdja’annja sang Rama sehari-hari, djikalau fadjar menjingsing ia dengan adenja turun pergi ke Imagiri, jang letaknja memang dikakinja Gunung Maliawan sisih Utara, akan memperhatikan lebih djaoh segala puhun obat-obatan jang sebagian besar masih belum dikenal kefaedahannja.
Atau kalau pagi-pagi sudah mulai turun hudjan, mereka berdiam sadja didalam pesanggrahan, merundingkan pengetahuan jang tinggi-tinggi, djaja-kawidjajom, kasusastran, kabudajan dan lain-lain jang berguna untuk penghidupan. Tapi djika sang malam telah datang meliputi angkasa, sang Rama lalu mendjadi ingat lagi kepada istri djelita jang telah hilang itu, sekarang entah bagaimana keada'annja, oh Dewa, Dewa, demikianlah ia mengeluh, kemudian lalu air matanja melele disepandjang pipinja.
Prabu Sugriwa dalam waktu-waktu jang tentu, datang mengundjungi pesanggrahan Maliawan, membawa bebuwahan jang enak-enak, dipikul oleh rahajat monjet jang pilihan. Satu tempo ia ada membawa monjet-monjet jang pandei menandak dan membadud, membuat tingkah jang lutju-lutju, guna menghiburkan hati djundjungannja.
Pada suatu hari, sedang mereka berkumpul diluwar pesanggrahan, sembari membitjarakan babrapa hal jang penting berhubung dengan gerakan tentaranja dihari nanti, maka tiba-tiba mereka telah dibikin kaget oleh suara gemuru heibat jang datangnja dari tempat djaoh. Pepuhunan dari suatu rimba disebrang gunung kelihatan bergerak-gerak, makin lama makin mendekati, kemudian lalu muntjul serombongan monjet jang rupanja aneh-aneh, ada jang bermuka matjan, ada jang bersajap dan berparuh sebagi burung, ada jang bermuka kambing, muka buwaja, bahkan ada jang kepalanja pandjang seperti tjatjing, dan lain-lain lagi jang heibat dan mengherankan, tapi semuanja rata-rata ada bertubuh tinggi besar gagah perkasa. Jang mendjadi kepala berdjalam didepan adalah seorang monjet berbulu putih mentjorong berkilau-kilauan sebagi kapas tergentang dibawah mata-hari. Diblakangnja adalah seorang monjet berbulu hidjau, matanja mengkredep-kredep, romannja bengis sekali. Bererot-rerot mereka djalan mendatangi, langsung menudju kehadapannja sang Rama, kemudian lalu sama menjembah dan duduk diatas tanah dengan hormat dan patuhnja.
„Bahagialah kau sekalian prawira jang baru sampai,“ kata sang Rama seraja mengangkat tangannja. „Kau semua siapa, dari mana, dan apakah maksudnja kau datang kemari ?“
„Gusti,“ mendjawab monjet putih jang mendjadi pemukanja itu seraja menjembah, „kita-orang adalah monjet dari Sorgaloka, jang datang kemari atas titahnja Sang Hjuang Djagadnata, akan mengabdi kepada gusti, untuk membantu dalam peperangan jang akan datang.“
Satriya Rama mendjadi heran mendengar bahua ada monjet datang dari Sorgaloka, demikianpun Prabu Sugriwa dan Laksmana, saling melihati dengan penuh pertanja'an.
Tentu sadja mereka tiada mengetahui tentang itu, maka marilah kita mundur sedikit, akan mengetahui suatu peristiwa jang telah kedjadian diatas Gunung Kendalisada. Retna Dewi Handjani, putrinja Resi Gotama dari pertapa’an Telagatisna, sudara tuwa dari Subali dan Sugriwa, jang tiada turut menjebur kedalam Telaga Madirda tatkala keduwa orang sudaranja itu memperebutkan Tjupu Manik Astagina, hanja menunggu dan jutji muka dipinggiran, maka tjuma sewates muka dan tangannja sadja jang terkena air telah berobah mendjadi monjet keluwar bulunja. Kemudian oleh sang ajah gadis itu telah diantarkan ke Gunung Kendalisada, dimana ia disuruh bertapa dibawahnja puhun asam kamal, memuhun belas kesiannja Maha Dewa, supaja dirinja diampuni.
Sudah bertahun-tahun Dewi Handjani duduk bertapa disitu, tiada makan djikalau tidak ada daon keliang jang djatoh dide'pannja, dan tidak minum djikalau tidak ada air embun jang menetes diwaktu malam. Oh sengsaranja tiada alang-kepalang, badannja sampai kurus kering tinggal kulit membungkus tulang. Seantero pakeannja pun telah hantjur, hingga ia mendjadi telandjang bulet hanja dengan rambutnja sadja jang gomplok dan pandjang untuk menutupi sebagian dari tubuhnja.
Djikalau sijang hari, perawan itu merasa malu kepada burung-burung dictas pulun, maka ia menjembunikan mukanja dengan menangkupkan kepala diatas batu jang ada dihadapannja. Dalam keada’an demikian, malah djadi tertampak’ keindahan dirinja, karena muka dan tangannja jang berbulu dan sudah berupa monjet itu tiada tertampak pula, hanja badannja jang masih tetap badan seorang gadis remadja jang pinggangnja tjeking sebagai tawon kemit, hingga Betara Surya pun sering mondek mendengong diatas udara dan Betara Bayu sering bolak-balik meniup tiada karena arahnja, karena perhatiannja tertambat kepada putri dari Telagatisna itu.
Pada suatu hari dalam keade’an jang sunji senjap, tiba-tiba telah djauh dari atas udara sebuwah anting-anting Kentjana dihadapannja, maka perhiasan itu lalu diambil, dipandang-pandang dengan perasa’an jang tergetar penuh kesedihan, oleh karena ia djadi ingat lagi pada penghidupan dulu ketika ia masih mendjadi gadis tjantik jang sangat bahagia. Maka rasa kewanita'annja pun lalu timbul kembali, ingin bersolek, berias sebagai umumnja anak perawan dewasa, anting-anting itu lalu ia jantumkan dikupingnja, dan digojang-gojangkan seperti dulu djika ia mendapat pengasihan dari ibunja, maka untuk beberapa saat lamanja ia telah lupa pada keada‘an jang sewadjarnja. Dengan muka terangkat ia lalu memandang keseluruh djurusan, angkuh sebagai biasanja gadis-gadis jang merasa dirinja tjantik, tapi ketika ia menampak keduwa tangannja jang penuh bulu, oh kasian sekali, ia lalu mendjatohkan mukanja diatas debu dan menangis tersedu-sedu, hatinja remuk-redam sebagai katja djatoh diatas batu.
Dari sangat sedihnja, sampai ia mendjadi lajap-lajap setengah tidur, dan ketika ia mendusin, didepan ia ada terletak serentjeng daon asam jang masih muda, rupanja baru sadja djatoh belum lama. Jang mengherankan, waktu itu tidak ada turun hudjan, tapi daon itu kelihatan basah, penuh air berkilat-kilat warnanja, jang lalu menimbulkan rasa lapar dan dahaga. Segera daon itu diambil dan terus dimakan dengan sedapnja, karena daon sinom itu memang rasanja asam dan segar.
Setelah itu, sang dewi lalu merasakan sekudjur badannja seperti kesemutan tapi nikmatnja luwar biasa, sebagaimana dalam seumur hidupnja ia belum pernah merasakan keada'an jang sedemikian. Kemudian ia rasakan dirinja seakan-akan melajang-lajang diatas mega, seperti mendengar suaranja tetabuhan jang merdu, maka perlahan-lahan lalu ia mendjadi tertidur kembali, tidur dengan sangat njenjaknja.
Semendjak itu, badannja djadi berobah, makin lama perutnja makin besar dan oh Dewa Betara, ia ternjata sudah bunting. Maka perawan itu lalu mengeluh dan menangis tiada berhentinja, sesambatnja sebagai tjalapita, tangisnja sebagai gerantang, sijang malam tiada putus-putusnja.
la membanting-banting diri, jang diminta supaja lekas mati, lantaran tiada tahan hidup dengan mesti menanggung rasa malu demikian besarnja. Sampai tiba-tiba telah datang seorang tuwa menghampiri kepadanja dengan berkata:
„Handjani, aku jang datang, Handjani.”
Maka perawan itu lalu menubruk kakinja orang tuwa itu, karena ia kenali suara ajahnja.
„Aduh rama, rama, saja tiada ingin hidup lagi, rama......” kata ia seraja melepaskan suara tangisnja semingkin keras.
Resi Gotama tiada tahan akan tiada turut mengalirkan air-matanja, ia mengusap-usap kepala anaknja, kemudian ia berkata:
„Diam, anakku jang tjantik, diam, karena ini adalah anugrah Dewata jang memberi djalan akan kau mendapat bahagia. Diamlah dan djangan bersedih lagi.” Ketika sang dewi tangisnja sudah redah, maka Resi Gotama lalu bersamedi menekung muhun kepada Sang Hjuang Wenang, jang mengabulkan perminta'annja, maka dalam sa'at itu djuga Retna Handjani telah melahirkan seorang djabang baji lelaki jang indah warnanja.
Berbareng itu, sang putri telah mendapatkan rasa sakit jang sangat heibat sehingga ia djatoh pangsan sesa'at lamanja, tapi ketika ia tersedar, lo parasnja sudah balik asal mendjadi tjantik-molek seperti dulunja lagi.
Sedih dan girang tertjampur mendjadi satu, maka Dewi Handjani lalu menangis tersedu-sedu, sembari mempeluk putranja jang baru lahir itu, tapi alangkah kagetnja ketika ia membelai-belai dengan tangannja, ia rasakan tubuhnja sang putra ada penuh dengan bulu jang sangat lunak, dan kemudian ketika diperhatikan ternjata ada ekornja.
„Djangan susah hati, Handjani,” kata sang ajah, „karena maskipun anakmu ini berupa monjet, tapi monjet kesuma, kemudian hari bakal mendjadi pendekar agung jang tidak bandingannja didalam dunia.”
Monjet itu lalu dikasih nama Hanoman, bulunja putih meletak seupama kapas digentang, matanja terang mengkredap-kredap hingga ketjakapan romannja mendjadi sampurna. Lekas sekali ia mendjadi besar, kekuwatannja luwar biasa, barang permainannja jaitu matjan dan banteng, sedang naga pun ia tangkap untuk kekalung dan sabuknja.
Kupingnja jang sebelah kanan oleh sang ibu lalu dipakekan anting-antingnja jang dulu ia dapat menemu, maka rupanja Hanoman djadi bertambah indah.
Pada suatu hari, datang dari memain didalam rimba, Hanoman menutur sang ibu: „Tadi saja menangkap saekor gadjah muda, mamahnja saja humbalangkan kepinggir rawa, tiada berani datang lagi hanja mendjerit-djerit sadja, tiba-tiba ada datang saekor gadjah lagi jang tjalingnja berkilat-kilat pandjang, kuwat sekali gadjah itu, sesudah saja patahkan tjalingnja barulah ia lari masuk kedalam hutan. Gadjah besar pertama memang saja tahu ada mamahnja gadjah ketjil, tapi gadjah jang bertjaling itu apanja, ibu, kenapa rupanja bagitu sajang kepada gadjah ketjil ?”
„Gadjah jang bertjaling itu adalah bapanja, ” djawabnja sang ibu. ,,Ibu, gadjah ketjil ada bapanja, tapi saja mana bapanja?" menanja Hanoman.
Dewi Handjani tiada dapat mendjawab, karena memang ia tiada tahu siapa sebenarnja bapa anaknja itu. Tapi Hanoman tiada mau mengerti, ia menggerijeng terus-menerus, hingga sang ibu mendjadi kaku hatinja, maka dengan mengutjap sedjadi-djadinja sadja ia berkata:,,Bapamu adalah Dewa." Perkata'an itu oleh Hanoman dianggap sesunggunja, maka lalu ia memaksa brangkat pergi ke Sorgaloka, akan mentjari ajahnja disana. Sudah tentu ia tidak diperkenankan masuk ke dalam gerbang Selamatangkep, jang didjaga oleh Betara Tjingkarabala dan Betara Balaupata, tapi keduwanja telah dihumbalangkan, maka mereka berlari-lari minta bantuan para pradjurit kadewatan jang lalu sama keluwar dengan lengkap sendjatanja, dikepalakan oleh Betara Tjitragada, Betara Sambu dan lain-lainnja, tapi mereka semua tiada satu jang dapat menahan madjunja Hanoman, sehingga Betara Brama sendiri keluwar dengan menggunakan apinja jang dapat meluluhkan bumi, tapi Hanoman dibakar semingkin djadi bertambah kuwat. Sedang geledeknja Betara Indra pun tiada dapat meruntuhkan maski selembar bulunja, seakan-akan besi jang dibakar dan digembleng, malah bertambah keras mendjadi badja.
Hanoman berpikir datangnja ada dengan maksud baik, tapi diterima dengan pengusiran dan pukulan jang demikian heibatnja, maka ia mendjadi marah sekali, ia mengamuk telah membikin hantjurnja segala apa didalam kahjangan, hingga geger tiada karu-karuan. Ia menjerang terus naik sampai di Harga dumilah, dimana ada bertempat Sang Hiuang Djagadnata sendiri, jang lalu menitahkan Betara Narada supaja membawa sang monjet putih itu kehadapannja. Didepan Betara Guru, Hanoman lalu duduk menjembah dengan sikapnja jang sopan-santun menarik hati, hingga Radja Dewa itu mendjadi sangat senang sekali, maka ia menanja :
,,Kau ada mengandung maksud apa, Hanoman, maka naik kemari dengan tidak dapat ditjegah lagi?"
,,Maha pukulun," djawab Hanoman seraja menjembah,,,saja datang menanjakan siapa adanja ajah saja?"
,,Kau adalah anakku," kata Betara Guru, maka berbareng itu lalu terdengar suaranja guruh diampat pendjuru, sebagai tanda bahua sabdanja Radja Dewa itu telah disaksikan oleh semista allam. Hanoman lalu diberi pakean jang indah-indah; dikasi gelang, kalung, djamang, kelatbau serba kentjana, sehingga ekornia pun dililit dengan emas dan batu permata. Romannja mendjadi bertambah garang dan tiakap sekeli, maka Betara Guru lalu kasih nama kepadenja Raden Prabeantjana, jang maksudnja: bertjahja sebagai emas, tapi djuga dapat diartikan: angin taufan jang penuh bintjana.
Sebentar sadja Hanoman mendjadi terkenal didalam kahjangan, Bidadari berebut-rebui saling undjuk tjintanja, Dewi Lotama membikinkan sumping dari kembang tjempaka mulia, Dewi Supraba kasih ontjen-ontien melati puspita, sementara, Dewi Sekermajang membelonichi bulunje dengan wewangion 'djebat kasturi.
Monjet putih itu mendjadji sombong karena diugung-ugung, hingga membikin Sang Hjuang Narada sirik hatinja. Pada suciu hari Betara Guru sedang berada didalam taman, itulah ada kesempetansjang baik akan Betara Norada mengganggu kepadanja.
,,Ade Guru," kata sang resi itu, ,kenapa ade Guru telah mengoakuhi monjet putih itu sebagai anak? Kalau kepingin anak, apatcah tidak ada lain makluk jang lebih baik ?”
Sembari bersenjum Seng Hjuang Diagadnata mendjawab :
,,Djikalau ada seorong anak perawan jang tiada berdjina fapi telah melahirkan anak, ia wadyjio mempersalahkan kepada Dewa, oleh karena Dewo adalah jang harus menanggund segald kedjadion didalam dunia. Hanoman terlahir dengan tiada mempunjai bapa, maka sajalah jang harus menonggung djawab.”
Betera Narada lalu ketawa terlakak-lakak, kemudian tiada berhentinja ia menjanji dan menjindir-njindir: ,,Ada Dewa beronak monjet ........ ada Dewa beromak kunjuk.......... ha, ha; ha, ha,........“
Betara Guru djadi mendongkol, maka diam-diam ia petik selembar daon dan ditimpukan kepada belakang lehernja Resi Narada, kemudian seraja tertawa ia berkata :
,,Kakang Narada, kau djangan mendjengeki sadja, sebab kau sendiri pun tiada beda ada mempunjai satu anak monjet.’
,,Tidak sudi, ha, ha, ha, tidak sudi, seribu kalih tidak sudi.......“
,,Djangan tekebur kata tidak sudi, rabahlah diitokmu sendiri, itu siapa? Betara Narada menoleh keblakang, dan ia mendjadi kaget sekali, karena diatas gegernja ada menggemblok seorang monjet berbulu hidjau.
,,Hai bedebah, turun, lekas turun!” kata ia sembari kiprah-kiprah kegelian.
,,Djangan mau turun, kalau kau belum diakuh anak.” kata Betora Guru sembari tertawa.
Monjet hidjau itu menggamblok terus, malah sekarang meringis undjukan giginja, hingga Betara Narada ketakutan dan achirnja akuh ia sebagai anaknja.
Monjet itu lalu turun dan menjembah kepada ajahnja, hingga sang resi mendjadi senang hatinja. Kemudian ia menanja kepada Betara Guru :
,,Ade Guru, monjet ini berwarna hidjau, tentunja tertjipta dari dedaonan, maka kasihlah tahu, daon cpa jong mendjadi asalnja ?”
,,Daon. ila-ila, bebone Norada.” djawabnja Betara Guru.
,,Kalau bagaitu, monjet ini saja kasih nama Hanila.”
Sekarang ganti Betara Narada jang mendjadi buwah tertawa'annja para Dewa, Lebih pula oleh karena badannja Hanila itu pendek, perutnja gendut, hingga pantas betul kalau mendjadi anaknja Betara Narada. Maka sang resi mendjadi malu dan marah, ia menuntut kepada Betara Guru, supaja memerentahkan bahwa semua Dewa harus mempunjai anak monjet, siapa jong tiada menurut akan mendapat hukuman.
Para Dewa mendjadi kebingungan, saking gugupnja mereka menjipta apa sadja jang diketemukan untuk didjadikan monjet. Ada jang melihat buwaja, lalu ditjipta mendjadi monjet, tapi mukeanja masih tetap badjul dan tubuhnija bersisik, dikasih nama Kapiseraba, Ada jang ketemu kambing, ditjipta mendjadi monjet bermuka kambing, dinamakan Harimenda. Ketemu burung, ditjipta mendjadi monjet berkepala burung, namanja Tjutjakrawa, Djuga ada tjatjing jang ditjipta djadi monjet kepala jatjing, namanja Tjatjinganil.
Semendjak itu, diatas Sorga djadi penuh beburon segala matjam jang rupanja aneh-cneh, hingga mendjadi sangat kolut dan kotor, suaranja brisik tiada karuan, sijong malam para Dewa tidak ada jang dapat tidur njenjak. Bidddari sama ketakutan, tidak ada jang brani keluwar dari tempat kediamannija. Lanteran itu, maka semua monjet itu lalu dikumpulkan dan dititahkan turun kedalam dunia, dikepalakan oleh Hanoman pergi ke Gunung Maliawon akan mengabdi kepada satriya Rama, untuk nanti bantu menggempur negeri Alengkadiredja.
Tatkala Prabu Sugriwa mengetahui bahwa Homoman itu ada putranja Dewi Handjani, maka lalu ia bangun dan peluk keponakeannja itu dengan air mata berlinang-linang.
Anting-antingnja Hanoman jang bergojang-gojang dibawah daon kupingnja, telah membikin hatinja satriya Rama djadi bertjekat. Demikianpun sang Laksmana, jang tiada samar lagi bahwa anting-antingnja monjet putih itu adalah pasangannja anting-anting jang dipake oleh kakandanja, jang memang tinggal satu jaitu dikupingnja sebelah kiri. Laksmana merasa sangat heiran dan berpikir tiada sudahnja, seraja sebentar-bentar melirik kepada saudaranja itu.
Satriya Roma tiada chilap dalam segala keada'an, pikirannja melajang-lajang ketempat djauh, ingat pula kepada djaman jang sudah lampau.
Oh itulah ada sa'at jang mengguras kalbu, ketika baru sadja ia menikah dengan putri Mantili, bersama sang istri dan sang ade Laksmana jang selamanja tiada pernah ketinggalan, sedang berdjalan pulang kenegeri Ngayodyapala meliwati hutan dan tegalan jang sangat luwas. Waktu itu djustru Betara Surya: sedang memantjarkan sinarnja jang sangat terik, hingga batu-batu dan pasir di sepandjang djalanan berkilat-kilat sebagi dibakar.
Dewi Sinta merasa dahaga dan tjape, kebetulan mereka tiba ditepinja sebuwah telaga jang airnja djernih sekali. Dengan kurang perdata keduwa suami istri itu telah turun mandi, tapi oh Djagad Dewa Betara, ketika mendarat mereka sudah berobah mendjadi menjet. Mereka tiada iohu bahwa doanau itu adalah Telaga MadiSda dtou jang disebut djuga Telaga Maliwarna, dimang Subali, Sugriwa dan Handjani pun telah berobah mendjadi monjet lentaren menerdjun kesitu.
Beruntung sang Taruna Laksmana tiada turut mandi, maka ia tidak menanggung penderita’an itu. Tapi bukan main rasa sedihnja, setelah menampak saudara dan iparnja telah berobah warna demikian rupa. Maka dengan menangis ia mengikuti deri belakeng perdjalanannja suami-istri itu, jang melompat-lompat dari satu kelain puhun, sembari berbunji tjetjowetan tiade ingat pula keada’an asalnja.
Satu waktu, dengan tiada merasa malu, keduwa monjet itu hendak melampiaskan rasa tjintanja satu kepada lain, Pemandangan ini telah membikin sang Taruna merasa sangat ewa. Achirnja ia, dari sedih dan malu berobah mendjadi sangat gusar, disitu ia ambil putusan, dari pada saudaranja menderita sengsara dan hidup rendah demikian, lebih baik dibikin musna sadja dari muka bumi ini. Maka lalu ia mengambil anak panahnja, ditudjukan kearah monjet lelaki jong sedang peluk badan istrinja. Tapi ketika gendewanja sudah dipentang bundar, hatinja mendjadi ngenes sekali, ia tiada tega untuk membinasakan kakanda jang tertjinta itu, tjuma sebab putusannja sudah tetap don tahu bahwa itu benar, maka sembari menutup keduwa matanja ia lepaskan djuga sendjata itu. Tapi lantaran dilepaskan dengan mata meram, maka panah itu telah menjimpang, hanja mengenaken tjabang puhun dibowah tempat melangkroknja, jang djusiru ada berlepotan air mani monjet jang sedang melampiaskan tjintanja itu, maka benda itu lalu terbuntiang melesat keatas udara.
Melihat panahnja gagal, Laksmana sebagaimana biasanja darah satriya lalu mendjadi panas hatinja, maka ia lantas ambil pula anak panahnja jang sakti bernama Astra Surawidjaja, sendjata jang pernah membinasakan beribu-ribu raseksa, Sekarang sang Laksmana mendjudju dengan betul-betul, ia adalah seorang pendekar maharata, dapat melepaskan sendjatanja dengan naik kreta jang sedang lari sekentjeng-kentjengnja, maka sudah tentu intjerannja kali ini tiada meleset lagi, panah djimat itu dengan djitau mengenakan mukanja sang monjet lelaki jang sebelah. kanan, tapi untung ia-itu ada titisannja Betara Wisnu, maka serangannja sendjata itu adalah seupama linggis jang mengenakan paron besi, tjuma terdengar suara djemebret jang mengerikan, meledjit menjipat sumping dan anting-anting terus dibawa terbang tiada tahu kemana parannja.
Tapi sebab pukulannja panah Asira Surawidjaja itu ada bagaitu heibat, maka sang monjet mendjadi sangat terkediut lalu djatuh melajang kebawah dengan masih saling berpelukan, sesampainja diatas tanah telah babar ruwat pulang asal mendjadi manusia lagi.
,,Oh kakanda, kakanca,” demikianlah seruhnja sang Taruna itu'sembari memburu dan lalu peluk kaki saudaranjia dengan menangis keras sebagai anak ketjil. Sang Rama lalu peluk kepala adenja dengan perasa’an sangat terharu.
Begitulah adanja peristiwa itu, dan jang mengetahui lebih djaoh adalah tjuma Betara Bayu, oleh karena dialah jang menjanggapi ketika air mani sang Regawa terbuntjang keatas udara, kemudian disusul oleh sumping dan anting-anting, jang semuanja lalu dibawa melajang-lajang memutari dunia, karena ia belum mengetahui guna) apa dan harus dibawa kemana barang-barang jang indah itu. Sampai ketika ia tiba diatasnja Gunung Kendalisada, menampak Dewi Handjani jang sedang bertapa, anting-anting itu lalu didjatohkan dihadapannja, kemudian air mani itu pun didjatohken pula. Tjuma tinggal sumpingnja terus dibawa terbang lagi, nanti akan tersangkut diatas mega malang, mendjadi sebuwah sendjata sakti namanja Herbirawa, jang kemudian didapatkan oleh Raden Indradjit, putranja Maha Prabu Rahwana.
Air mani Betara Wisnu bermula menjangsang diudjungnija daon asem muda, tapi lantaran beratnja kemudian telah mendjadi rontok djatoh kebawah dan telah dimakan oleh Dewi Handjani, jang lalu mendjadi hamil akan kemudian telah melahirkan sang Hanoman Prabu Rahwana.
Sekarang monjet putih jang tjakap dan gagah perkasa itu, dengan pake anting-antingnja jang sebelah kanan, sedang duduk bersilah dihadapannja, maka hatinja satriya Rama mendjadi terharu sekali.
Menampak djundjungannja diam termenung-menung demikian, rahajat monjet jang sedang seba tersebar mempenuhi tempat itu pun sama turut berdiam, hingga keada’an mendjadi suniji.
Sementara itu, awan-awan mendung mulai berkumpul diatas udara, hudjan gerimis turun riwis-riwis dan Gunung Maliawan pun lalu terbenam didalam halimun.
TAMAT.
———