Lompat ke isi

Boekoe Tjerita Graaf de Monte Christo - Seri 5/IXX

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas


IXX

PENJERANGAN PENJAKIT KATIGA KALI.


Sebab sekarang harta ijang begitoe lama mendjadi pikirannja itoe, aken mendjadi kaselamatan Dantes ijang ditjintai olehnja sebagi anak sendiri, maka Padri Faria memandang harta itoe lebih berharga dan tiap-tiap hari ija bitjara denge Dantes hal harta itoe ijang pada masa ini ada lebih dari pada tjoekoep aken membri kasenangan pada (teks tidak terbaca) manoeloeng orang-orang ijang bersoesah.

Maka Dantes apabila mendenger tjerita Padri Faria itoe, hatinja mendjadi sedih kerna ija ingat soempahnja aken membalas pada orang-orang ijang telah berboewat hianat padanja. Maka terbitlah pikiran dalem hatinja, bahoewa dengen harta ijang banjak itoe, gampang sekali ija memboewat kasoesahan pada moesoeh-moesoehnja.

Padri Faria tida kenal poelo Monte Christo itoe, tetapi Dantes soedah kenal sebab sering ija berlajar meliwati poelo itoe ijang adanja doewa poeloeh lima mijl djaoehnja dari la Pianossa, antara Corsika dan Elba; malah satoe kali kapalnja telah berenti dekat pada poelo itoe.

Maka poelo itoe kaadaannja masih djoega seperti doeloe, ijaitoe kosong, tida didiami orang, melainken terdiri dari batoe. Oleh Dantes ditjeritaken njatah kadoedoekan poelo itoe pada Padri Faria dan oleh Padri Faria itoe diberi njatah nasehat begimana ija moesti berlakoe aken mentjari harta itoe.

Dantes masih bimbang djoega hal adanja harta itoe, dan ija berpikir bahoewa kaloe seandenja bener Graaf Spada telah menjimpan hartanja disana, apakah orang belon mendapeti?

Pada waktoe itoe maka adalah soewatoe sebab lagi ijang menghilangken pengharepan Dantes. Tembok pendjaranja ijang dipinggir laoet memang telah roesak. Dari fihak itoelah ija niat aken melariken diri. Tetapi apa maoe (teks tidak terbaca) bagian dari tembok itoe dengen sekoenjoeng-koenjoeng soedah djadi roeboeh sehingga lobang ijang digali olehnja berdoewa Padri Faria itoe tertoetoep dan tembok itoe diganti dengen lain tembok ijang lebih tebal dan tegoeh.

„Kaoe lihat sendiri," berkata Dantes pada Padri Faria „ijang Allah tida maoe akoe lari dari sini. Akoe telah berdjandji ijang akoe menemeni padamoe selama-lamanja. Djandji itoe Allah membantoe soepaja akoe penoehi. Dan lagi apakah goenanja harta itoe; harta ijang sesoenggoehnja, ijaitoelah waktoe dalem mana kita-orang berdoewa bisa bertemoe saban hari. Kapinteran ijang kaoe briken padakoe itoelah ada harta ijang lebih besar dari pada harta segenap doenia. Pertjajalah bahoewa akoe tida ingin aken mempoenjai harta lain dari pada katjintaanmoe."

Sebegimana Padri Faria telah mendoega maka tangannja ijang kanan dan kakinja ijang kiri tinggal loempoeh dan sama sekali ija tida ada penharepan lagi aken bisa bertemoe dengen harta ijang banjak itoe. Sebaliknja ija taoe betoel bahoewa Dantes aken dapeti dan aken mempoenjai harta itoe. Dari takoetnja, kaloe-kaloe soerat itoe boleh djadi hilang, maka ija berminta dengen sangat pada Dantes aken meapalken boenjinja diloear kapala dan pada achirnja Dantes dapet apalken soerat itoe dengen tida meliwati satoe perkataan. Kemoedian ija sowek soweklah soerat tambahan itoe dan di simpannja sadja soerat ijang terbakar sepotong itoe. Maka soerat itoe maskipoen terdapet oleh lain orang, tidalah aken mendjadi soewatoe apa, sebab orang tentoe tida mengarti apa maoenja.

Dalem waktoe itoe maka troeslah Padri Faria memberi pengadiaran pada Dantes ijang bergoena dalem ija poenja hid(teks tidak terbaca) bisa dapet poela kemerdikaannja. Maka apabila sampe ija bisa dapet kemerdikaan, maka Dantes berniat aken satoe waktoe pergi ka poelo Monte Christo itoe aken mentjari harta itoe.

Pada soewatoe malem maka Dantes telah terperanjat, kerna ija mendenger orang memanggil padanja. Maka ija memboeka matanja dan ija mentjoba melihat dalem gelap apa hal soedah kedjadian. Koetika itoe ija denger sebagi orang merinti. Sigra ija toeroen dari tempat tidoernja dan mendenger baik-baik. Tida salah soewara itoe datengnja dari kamar Padri Faria.

„Ia Allah!," berkata ija „apakah Padri itoe soedah terserang poela oleh penjakitnja ?"

Sambil berkata begitoe ija geserken tempat tidoernja dan angkat itoe batoe djoebin ijang menoetoepi lobang djalanan itoe. Sigra ija toeroen dalem lobang itoe dan teroes berdjalan ka kamar Padri Faria. Setelah sampe disana dengen penerangan lampoe ketjil ija melihat Padri Faria berdiri sambil memegang tempat tidoernja. Warnanja poetjet sekali dan aer moekanja sebagi orang ijang menanggoeng sakit ijang amat berat.

„Kaoe lihat anakkoe," berkata ija pada Dantes „tentoelah kaoe soedah mengarti apa telah kadjadian dengen akoe."

Koetika Dantes mendenger kata Padri itoe, maka ija mendjerit kerna telaloe sedih hatinja dan ija lari kapintoe sambil bertereak minta toeloeng. Aken tetapi dengen mengoeatkan dirinja, Padri Faria memegang tangannja Dantes dan berkata: „Diam kaloe kaoe tida maoe dapet tjilaka. Djanganlah kaoe perdoeli dengen kaadaankoe, hanja baiklah kaoe ingat aken dirimoe. Tambahan poela kaloe akoe mati, tentoelah sigra aken dateng lain orang ijang menempati (teks tidak terbaca) itoe boleh djadi masih moeda dan koewat sehingga ija bisa membantoe padamoe !"

„Djanganlah berkata begitoe," sahoet Dantes. „Satoe kali akoe telah bisa menjemboehken padamoe, maka ini kali djoega tentoe akoe bisa menjemboehken poela."

Setelah berkata begitoe, Dantes mengangkat kaki tempat tidoer dan diambilnja botol obat itoe ijang masih ada isinja sepertiga.

„Nah ini dia; sigralah kaoe beri taoe begimana akoe moesti berlakoe."

„Djanganlah kaoe kira ijang sekarang akoe bisa semboeh, anakkoe, pengharepanmoe sia-sia. Tetapi, maskipoen begitoe baiklah akoe toeroet kahendakanmoe."

„Memang, memang kaoe aken semboeh poela dengen obat ini," berkata Dantes dengen girang.

„Baiklah kaoe tjoba; akoe telah merasa dingin, darah koe soedah naik ka kapala. Lagi lima menit aken datenglah penjerangan ijang sangat itoe dan lagi seperampat djam akoe soedah djadi mait."

„Ia Allah," berkata Dantes dengen soewara ijang amat sedih.

„Kaoe moesti berlakoe seperti dahoeloe, tapi djangan kaoe menoenggoe terlaloe lama aken membri obat itoe sebab badankoe sekarang telah djadi amat lemah; lihatlah, kaki dan tangankoe soedah seperti mait. Kaloe kaoe telah membri doea belas tetes dari obat itoe dan kaoe lihat ijang kaadaankoe tida beroebah, toeanglah sesisanja obat itoe semoea dalem moeloetkoe."

(teks tidak terbaca) memetok pada Padri Faria dan kemoedian diangkatnja dan di letaken ditempat tidoer.

„Sekarang anakkoe," berkata Padri Faria „kerna akoe taoe ijang akoe moesti mati, maka akoe membilang terima kasih padamoe ijang kaoe soedah djadi penghiboer hatikoe dan akoe bermoehoen pada Toehan, soepaja dibriken kaselamatan padamoe. Anakkoe terimalah doakoe."

Mendengerken perkataan itoe, maka Dantes berloetoet dan kepalanja di senderkan ditempat tidoer.

„Dengerlah barang apa akoe katakan pada penghabisan," berkata Padri Faria poela. „Harta dari familie Spada itoe sesoenggoehnja ada. Allah telah meloeaskan pemandangankoe dan akoe lihat harta ioe. Kaloe kaoe sampe bisa djadi merdika, ingatlah bahoewa Padri Faria tida gila seperti orang-orang telah mengataken. Sigralah kaoe pergi ka Monte Christo, ambillah harta itoe dan pergoenakenlah akan kasananganmoe, sebab kaoe telah tjoekoep bersangsara."

Padri Faria berenti bitjara dengen sekoenjoeng-koenjoeng. Dantes meangkat kapalanja dan dilihatnja bahoewa matanja berloemoer darah, hal ijang mana ada menjatakan ijang darahnja telah naik ka kapala.

„Selamat tinggal anakkoe," berkata ija sambil memegang tangan Dantes „Selamat tinggal."

„Djangan, djangan meninggalkan akoe. Toeloeng, toeloeng. . . . . . . .!" berseroe Dantes.

„Diam," sahoet Padri itoe „soepaja djangan orang dateng aken memisahken kita orang, kaloe-kaloe obat itoe bisa membri pertoeloengan."

„Baiklah," berkata Dantes, „Pertjajalah ijang kaoe aken djadi semboeh poela. Lagi maskipoen akoe lihat ijang kaoe ada merasa sakit, maka sakit itoe tida begitoe (teks tidak terbaca) doeloe."

„Kaoe ada keliroe anakkoe, akoe tida merasa sakit sanget sebab badankoe soedah koerang kakoeatannja. Kaoe seorang moeda, memang masih ada pengharepan, tapi akoe ijang soedah kake-kake bisa melihat ijang adjalkoe aken dateng. Nah, apa itoe, dia dateng. . .matakoe gelap. . .ingatankoe linjap. . . .mana tanganmoe Dantes. Selamat tinggal!"

Setelah berkata begitoe dengen sekoewat-koewatnja Padri Faria mengangkat kapalanja dan berkata poela:

„Monte Chisto, djangan loepa Monte Christo!"

Laloe kapalanja ija djatohkan poela kaatas bantal. Soenggoeh ngeri melihat Padri Faria sekoetika itoe, matanja terbalik, moeloetnja berloemoer darah dan badannja tida bergerak lagi.

Seperti ijang soedah, maka Dantes menoenggoe waktoenja aken membri obat itoe. Setelah sampe pada waktoenja itoe ija boeka moeloetnja dengen piso dan ditetesken doewa belas tetes dari obat itoe. Ia toenggoe sepoeloeh menit, seperampat djam, setengah djam, tapi Padri Faria tida djoega bergerak. Dengen gemetar dan moekanja bertjoetjoeran keringat Dantes menoenggoe lagi sementara dan setelah itoe ija toeangnja sisah obat itoe dalem moeloetnja Padri Faria.

Tida antara lama bergerak badan Padri itoe dan matanja terboeka, tapi gerakan itoe berenti poela hanja matanja masih tinggal terboeka.

Sedjak itoe Dantes menoenggoe lagi setengah djam, satoe djam. Dan waktoe ija merabah tangan Padri Faria dan dirasanja ijang tangan itoe soedah dingin. Laloe ija pegang dadanja. Ia berasa ijang hatinja masih memoekoel, tapi (teks tidak terbaca) lama lebih kendor, hingga pada achirnja berenti sama sekali. Moekanja mendjadi biroe, matanja masih terboeka, tapi tjajanja telah linjap sama sekali.

Koetika itoe, soedah poekoel anam pagi dan matahari poen telah terbit. Semingkin terang, semingkin njatalah bahoewa Padri Faria telah sampe pada adjalnja.

Dari sebab biasanja, pada waktoe itoe cipier dateng memeriksa, maka sigralah Dantes pergi kakamarnja sendiri. Tida antara lama, beneriah djoega dateng cipier itoe dan setelah dilihatnja ijang Dantes ada ditempat tidoernja maka ija berangkat poela aken melihat Padri Faria.

Sesoedahnja cipier berangkat maka Dantes kapengen taoe apa bakal kadjadian dalem kamar Padri Faria. Dari itoe ija masoek lagi dalem lobang itoe dan berdjalan sampe dekat kamar Padri itoe. Maka koetika itoe ija denger orang mendjerit dan berminta toeloeng. Sigra djoega ija denger poela soewara banjak orang berdjalan, roepanja djoeroe-djoeroe koentji ijang denger atas tereakan tadi itoe. Kemoedian Gouverneur djoega soedah dateng dan Dantes mendenger ijang ija membri perentah aken panggil docter.

Antara orang-orang itoe ada ijang berkata kata dengen kasihan dan ada djoega ijang tertawa. Maka Dantes denger bahoewa ada seorang ijang berkata begini.

„Wah, ini sigila roepanja telah berangkat aken mentjari hartanja. Selamat djalan!"

„Apa goena harta itoe, sedeng ija sekarang tida mampoeh aken membeli kain mati," sahoet seorang.

„Kain mati dalem pendjara d'If ada amat moerah," berkata poela ijang pertama itoe.

Barangkali. dari sebab dia ada seorang Padri, maka ija tida dikoeboer seperti orang-orang (teks tidak terbaca)"

„Tentoelah aken dimasoekken dalem karoeng."

Dantes mendenger baik-baik dan tida ada satoe perkataän ijang tida di denger, tjoema ija tida mengarti betoel apa ijang dimaksoedken. Setelah soedah, ija denger ijang orang-orang itoe berangkat. Tetapi ija tida berani masoek, sebab boleh djadi ijang seorang djoeroe koentji ada tinggal mendjaga Dari itoe ija menoenggoe sambil menahan napasnja. Satoe djam kemoedian ija denger ijang Gouverneur dateng kombali bersama docter. Njatalah ijang docter itoe memeriksa mait Padri Faria sebab ija denger ijang docter itoe kemoedian, membri taoe pada Gouverneur ijang Padri Faria bener soedah mati.

„Akoe menjesal mendenger katamoe, docter," sahoet Gouverneur „sebab Padri itoe maskipoen gila, tida djahat dan sering kali membri kasoekaan pada kita-orang."

„Bener," kata djoeroekoentji „maskipoen dia tinggal disini lima poeloeh tahon lamanja, tida nanti ija membikin soesah pada kita-orang, atawa ada niat aken lari."

„Maskipoen kaoe telah membri taoe ijang Padri ini soedah meninggal, maka baiklah kaoe periksa lagi baik-baik, soepaja djangan bisa djadi kaliroe," berkata poela Goveurneur pada docter itoe.

„Ambillah besi ijang terbakar merah," berkata docter.

Koetika mendenger perentah itoe, Dantes terperanjat: Kemoedian ija denger orang berdjalan kasana kemari dan pada achirnja ija denger soewara djoeroe koentji ijang berkata begini:

„Inilah besi merah itoe."

Setelah itoe, Dantes tida denger apa-apa lagi, tapi ija (teks tidak terbaca) baoe daging terbakar. Dari hal itoe ija mengarti bahoewa docter soedah membakar daging Padri Faria aken mentjari taoe apa ija soedah mati betoel. Amat besar kasedihan hatinja Dantes mengetahoei hal itoe dan hampir sadja ija djatoh pangsan.

„Sekarang njatalah toean, ijang Padri ini betoel soedah mati, sebab maskipoen akoe bakar kakinja, ija tida bergerak lagi."

„Apa orang ini boekan Padri Faria namanja," bertanja seorang officier pada Gouverneur.

„Bener toean, dan akoe kira, ija poenja bitjara hal harta itoe, bahoewa ija ada seorang ijang amat pande."

„Penjakitnja, iaitoelah ijang dinamai monomanie," berkata docter.

„Apakah kaoe soedah taoe dapet kasoesahan dari Padri ini ?" bertanja Gouverneur pada djoeroe koentji.

„Belon taoe toean!" sahoet djoeroe koentji itoe „malahan satoe kali ija soedah membri pertoeloengan padakoe. Koetika itoe hamba poenja bini sakit. Kerna recept ijang hamba dapet dari Padri ini, soedahlah bini hamba itoe mendjadi semboeh."

„Kaloe begitoe, ini orang ada berpengatahoean thabib djoega. Akoe harep toean Gouverneur, ijang ija di koeboer sebegimana patoet," berkata docter sambil tertawa.

„Djangan koewatir," sahoet Gouverneur „ija aken dimasoekken dalem karoeng ijang terlebih baroe diantara karoeng-karoeng ijang ada dalem benteng ini."

„Apakah sekarang djoega mait ini boleh dimasoekken dalem karoeng?" bertanja djoeroe koentji.

„Memang sekarang djoega," sahoet Gouverneur.

Setelah itoe, Dantes mendenger (teks tidak terbaca) berdjalan. Kemoedian ija denger joega tempat tidoer Padri Faria bergerak. Njatalah ijang mait itoe soedah dimasoekken dalem karoeng.

„Sampe nanti malem," berkata Gouverneur sambil berangkat.

„Poekoel brapa ?" bertanja djoeroe koentji.

„Kira-kira poekoel sepoeloeh atawa sebelas," sahoet Gouverneur.

„Apakah pada waktoe itoe, mait ini moesti didjaga ?"

„Tida perloe," sahoet Gouverneur asal sadja pintoe kamar ini dikoentji.

Setelah itoe maka Dantes mendenger orang-orang itoe berangkat dan pada achirnja ija denger djoega orang menoetoep pintoe. Maka Dantes mengangkat batoe ijang menoetoepi lobangnja itoe dan setelah njata padanja ijang tida ada seorang katinggalan, masoeklah ija ka kamar Padri Faria itoe.