Lompat ke isi

Beberapa fikiran dan pandangan

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas

Pandangan Josip Broz Tito tentang:

1. KOLONIALISME DAN PERKEMBANGAN-PERKEMBANGAN DI TIMUR TENGAH DAN TIMUR DJAUH.

Bahwa sesudah Perang Dunia II banjak sekali negara membebaskan diri dari kedudukan mereka jang terdjadjah, adalah suatu fakta jang diketahui umum. Hal ini ialah akibat perdjuangan jang bertahun-tahun lamanja dilakukan oleh bangsa-bangsa jang didjadjah, jang dengan semangat jang tak kundjung padam berusaha mentjapai kemerdekaan mereka dan memerintah diri sendiri supaja setjepat-tjepatnja dapat mengenjahkan keadaan mereka jang terbelakang dan kurang terkembang itu. Betul negara-negara jang baru merdeka itu melandjutkan perkembangan dalam negeri mereka itu atas dasar-dasar daripada sistim kapitalis dahulu jang dimasukkan oleh negara-negara pendjadjah, tetapi perkembangan selandjutnja didalam negeri-negeri tersebut makin lama makin banjak mengoper bentuk-bentuk Kapitalisme Negara dan memasukkan kedalam sistim mereka unsur-unsur jang chas bagi perkembangan sosialis. Akan tetapi sudah njata bahwa kebanjakan daripada negara-negara jang baru merdeka harus mengatasi keadaan mereka jang sangat terbelakang itu, keadaan jang pada umumnja kurang berkembang, dan kesukaran-kesukaran jang berpaut pada industriali- sasi pada chususnja. Keadaan terbelakang dan kurang berkembang itu ialah akibat pemerintahan jang kolonial, atau lebih tepat, akibat daripada seluruh politik perhambaan dan eksploitasi ekonomi, jang didjalankan supaja negara-negara tersebut tetap takluk sebagai djadjahan dengan tjara jang semudah-mudahnja.

Adanja kontradiksi jang timbul dari keadaan demikian itu dan dari hubungan antara negara-negara jang sangat berkembang dengan alat-alat produksi jang luar biasanja terkembangnja itu menuntut adanja penjelesaian jang tjepat dan effisien, jang akan bermanfaat bagi kedua belah pihak. Suatu penjelesaian jang harus

3 berbentuk bantuan internasional, jang diberikan kepada negara-negara jang sudah berkembang maupun jang kurang berkembang,untuk memungkinkan kemadjuan mereka jang lebih tjepat dilapangan ekonomi, guna kepentingan perekonomian dunia seluruhnja. Tetapi bantuan internasional demikian baru akan mentjapai maksud jang sebenarnja dan akan bersifat effisien bagi rakjat daripada daerah-daerah jang kurang berkembang itu djika bantuan itu diberikan tanpa sesuatu sjarat politik atau militer, Hanja dalam hal jang demikianlah, bantuan itu akan mempunjai akibat jang progresif dan akan menundjukkan suatu unsur baru jang positif dalam hubungan ekonomi internasional pada masa sekarang ini, lagi pula memberikan pengaruh jang kuat dan menguntungkan terhadap hubungan politik internasional. Penjelesaian itu dituntut pula dengan sangat keras oleh tenaga-tenaga produktif jang sudah tinggi perkembangannja. Jang demikian itu perlu pula demi kepentingan pemeliharaan perdamaian didunia. Karena itu, bantuan demikian djangan diberikan dengan sjarat-sjarat jang akan melanggar kemerdekaan daripada negara-negara tersebut serta membawakannja kedalam kedudukan jang terbawah atau bergantung terhadap sesuatu negara jang tinggi perkembangannja. Djika kiranja soal bantuan kepada negara-negara jang tidak berkembang diselesaikan dengan tjara demikian, unsur-unsur jang dewasa ini merupakan sumber utama daripada kelemahan ekonomi dan ketegangan politik dalam hubungan-hubungan internasional akan tersingkir.


Bagaimanakah keadaan dewasa ini di Afrika dan Asia, dan terutama di Timur Dekat dan Timur Tengah Kelangsungan daripada proses dimana mereka kehilangan daerah djadjahanaja, tampakuja menimbulkan kesukaran-kesukaran besar bagi negara-negara kolonial, jang ditimbulkan oleh kebulatan tekad perdjuangan jang diperlihatkan oleh negara-negara terdjadjah. Didalam keadaan dewasa ini, setiap usaha kekerasan untuk mentjegah proses pembebasan rakjat-rakjat didaerah-daerah djadjahan akan memperkeras perdjuangan, dan akan membuat bangsa-bangsa dengan serentak meng- ambil tindakan-tindakan jang ekstrim, jaitu perdjuangan dengan sendjata, untuk mewudjudkan pembebasan mereka. Sudah lampaulah masa jang orang-orang didaerah djadjahan menderita, menunggu, menurut dan mengumpulkan kekajaan bagi negara-negarapendjadjahnja, sedangkan mereka sendiri makin lama makin dalam tenggelam kedalam kesengsaraan. Mereka jang tidak dapat mengerti hal ini akan mengalami keketjewaan keketjewaan jang lebih besar lagi. Pengaruh daripada negara-negara jang telah mentjapai kemerdekaannja ialah membesarkan hati dan mendjadi teladan bagi me- reka jang masih dalam keadaan terdjadjah. Bangsabangsa ini sadar, bahwa mereka hanja dapat berkembang dilapangan ekonomi, kebudajaan dan politik djika mereka merdeka, djika mereka memerintah diri sendiri, dan djika sumber nasional mereka digunakan untuk perkembangan mereka sendiri.

Perkembangan-perkembangan demikian itu menjebabkan negara-negara kolonial menggunakan segala akal mereka guna mentjegah emansipasi daripada bangsa-bangsa itu serta guna mentjoba tetap menguasai daerah-daerah djadjahan mereka jang masih ada kalau perlu dengan memperlihatkan kekerasan. Itulah sebabnja maka disatu pihak terdapat penindasan jang sekedjam kedjamnja daripada gerakan-gerakan pembebasan (sebagai halnja di Aldjazair dan Kenia), dan dilain pihak terdapat tekanan jang dilakukan dibawah berbagai aspek terhadap negara jang baru-baru sadja mentjapai kemerdekaan serta kebebasan mereka (seperti misalnja Tunisia, Marokko, Indonesia dan lain-lain). Baru-baru ini kita saksikan suatu agresi jang mengalirkan banjak darah disuatu negara merdeka, jaitu Mesir, karena Mesir dengan sah menghapuskan sisa-sisa ter-achir daripada masa pendjadjahan jang melanggar kemerdekaannja serta kesatuannja. Tindakan agresi militer jang tidak dapat dipertanggung djawabkan itu mungkin akan luas akibat-akibatnja djika Perserikatan Bangsa-bangsa tidak mengadakan reaksi dengan tegas dan tjepat, dan djika tindakan tersebut tidak ditentang oleh Uni Sovjet dan Amerika, jang menjadari akibat-akibat jang luas daripada tindakan tersebut.

Tetapi dengan begitu, belum berachirlah soalnja. Awan-awan gelap sedang berkumpul lagi diatas Timur Tengah. Negara-negara kolonial ingin mengambil kembali kedudukan mereka jang telah hilang dibagian dunia ini. Mereka bukan sadja ingin mentjegah supaja djangan terus menerus kehilangan daerah-daerah djadjahan mereka, tetapi mereka djuga ingin merebut kembali daerah-daerah mereka jang telah hilang. Mesir merupakan rintangan jang terbesar terhadap diwudjudkannja maksud-maksud tersebut. Dan karena agresi dengan sendjata tidak berhasil, maka sekarang sedang ditjari tjara-tjara baru untuk membinasakan Mesir sebagai benteng daripada gerakan- gerakan pembebasan di Afrika dan Timur Tengah. Dalam pandangan negara-negara kolonial, Mesir merupakan benteng jang terkuat bagi negara-negara jang menentang tjampur-tangan asing dan jang mempertahankan kemerdekaan mereka, dan bagi negara-negara Afrika jang berdjuang untuk kemerdekaannja.

Tekanan jang dilakukan terhadap Siria tahun jang lalu, mempertjepat penjatuan Mesir dengan Siria, jang kemudian diikuti oleh Yemen. Persatuan tersebut sekarang merupakan titik-penarik jang kuat bagi semua bangsa-bangsa Arab, lagi pula suatu dasar jang kokoh untuk stabilisasi perdamaian dibagian dunia ini.

Meskipun Pakta Bagdad merusak integrasi daripada negara-negara Arab, Pakta tersebut tidak dapat mentjapai tudjuannja dan menundukkan sama sekali semua negara-negara Arab terhadap kepenting. an-kepentingan negara-negara besar. Usaha untuk menegakkan kolonialisme dengan alasan mengisi apa jang dinamakan kekosongan didalam bagian dunia ini telah gagal. Pakta Bagdad, jang tudjuannja bukan sadja pengepungan Uni Sovjet dilapangan strategi, tetapi djuga pengalahan negara-negara Arab terhadap kepentingan-kepentingan negara-negara Barat makin lama makin hilang effisiensinja, karena bangsa-bangsa Arab menentang usaha-usaha demikian serta pembentukan pangkalan-pangkalan militer diwilajah-wilajah mereka. Negara-negara Arab jang muda, jang telah mengalami sendiri tekanan kolonialisme dan jang dadanja penuh dengan perasaan-perasaan kebangsaan jang kuat serta berusaha mendapatkan kemerdekaan serta perkembangan demokrasi jang penuh, tidak dapat dituduh memperkokoh Komunisme. Segala tuduhan ini dibuat-buat dengan dalih untuk tjampur-tangan dalam soal-soal dalam negeri daripada negara-negara Arab. Melemahkan dan merusak bukan sadja kesatuan daripada negara-negara Arab, tetapi djuga melemahkan dan merusak, tiap-tiap negara daripada kesatuan tersebut, menaklukkan mereka dan melenjapkan kemerdekaan mereka inilah tudjuan daripada neokolonialisme, jang dimaksudkan untuk menggantikan kolonialisme klasik, jang dahulu meradjalela dibagian dunia ini.

Perkembangan-perkembangan jang serupa terdjadi pula di Indonesia. Republik Kesatuan jang baru ini daripada rakjat Indonesiatelah mendjadi medan perang-saudara" karena intrize dan tjampurtangan kalangan Barat dalam soal-soal dalam negerinja. Indonesia merdeka jang bersatu menghambat beberapa negara Barat dalam mentjapai tudjuan mereka, dan karena itu Pemerintah Indonesia seperti biasa dituduh menganut politik pro-Komunis, dan diminta dengan sangat terang-terangan tidak sadja melalui pedjabat-ped jabat bajaran jang memimpin pemberontakan, tetapi djuga langsung melalui surat-surat kabar didunia Barat untuk mengundurkan diri dan menjerahkan pemerintahan kepada para pemberontak. Serangan-serangan pahit jang dilantjarkan oleh bebe- rapa suratkabar Amerika terhadap Pemerintah Indonesia memperlihatkan dengan njata apakah soal sebenarnja. Tudjuan daripada seluruh serangan itu ialah untuk memaksa Republik Indonesia, jang pemerintahannja melakukan suatu politik jang bebas dan aktif untuk ikut serta dalam Pakta SEATO, atau dengan djalan pemberontakan dan perang saudara, untuk menghantjurkan kesatuan Republik Indonesia dan membawa tidak sadja bagian-bagian dari padanja kebawah pengaruh negara-negara Barat tetapi djuga mengubah lagi bagian-bagian itu kedalam bentuk negeri djadjahan atau setengah djadjahan.

Tjampurtangan demikian itu kedalam soal-soal dalam negeri Indonesia tentu menimbulkan ketjemasan dimana-mana, sebab merupakan bahaja kekusutan internasional jang pelik, jang akibat. akibatnja mungkin membentjanakan. Politik negara-negara besar tersebut di Timur Tengah dan dinegara-negara Asia Selatan merupakan suatu bahaja besar terhadap perdamaian dunia. Perkembangan demikian itu sangat mirip dengan kedjadian-kedjadian sebelum Perang Dunia I dan II. Segalanja ini, dengan perlombaan persendjataan dan pertjobaan-pertjobaan bom atom dan zat-air telah menimbulkan suatu ketjemasan jang besar diseluruh dunia. Pembitjaraan-pembit jaraan tentang perlutjutan sendjata jang tanpa hasil itu melenjapkan sesuatu perspektif bagi masa depan, dan membuat masa depan itu seakan-akan tak tentu.

Soalnja sekarang ialah apakah mungkin mendapatkan djalan untuk mengeluarkan dunia dari lingkaran jang tak berudjung pangkal ini. Jang ada hanja dua alternatif: atan perang, atau tjara damai untuk menjelesaikan soal-soal internasional. Dewasa ini manusia didunia menginginkan perdamaian. Hanja sekelompok manusia tidak bertanggung-djawab sadjalah jang tidak memikirkan konsekwensi daripada perang, jang mengingini perang. Karena itu, semua negarawan dan pemerintah jang betul-betul mengingini damai, serta semua tenaga pentjinta damai didunia, harus mengambil bagian jang lebih aktif lagi dalam perdjuangan melawan semua unsur jang bermain dengan api dan mengantjam akan membakar dunia.

Kemadjuan ilmu pengetahuan dan tehnik membawakan keadaan jang bukan-bukan didalam hubungan kemasjarakatan: manusia sebagai perseorangan atau kelompok terpisah-pisah dapat mengambil keputusan tentang pemakaian tenaga inti-atom tersebut untuk maksud maksud perang, dengan kata-kata lain: untuk menentukan nasib ummat manusia. Kalau kelompok-kelompok demikian itu ada orang-orangnja jang ganas, gila, egois, atau orang-orang jang sudah bosan dengan hidup dalam kekajaan dan kemewahan, maka orang- orang itu dapat menuruti logik,, Sesudah saja, bolehlah dunia kiamat. Sudah terang kita sekarang hidup didalam suatu masa dimana penggunaan tenaga inti atom tidak boleh ditentukan oleh orang-orang perseorangan atau kelompok-kelompok tersendiri. Jang harus menentukan ialah seluruh bangsa-bangsa, seluruh ummat manusia.

Dengan gembira kami sambut keputusan Uni Sovjet untuk menghentikan pertjobaan-pertjobaannja dengan bom atom dan bom zat air. Tindakan demikian itu kami anggap sebagai suatu sumbangan muhibah jang besar artinja menudju persetudjuan, tidak sadja mengenai penghentian pertjobaan-pertjobaan demikian itu tetapi djuga mengenai dilarangnja sendjata perusak jang dahsjat ini. Tahun jang lalu, kami menerima resolusi di Madjelis Rakjat jang menjerukan supaja pertjobaan-pertjobaan itu dihentikan setjara unilateral.

Memang sudah mendesak waktunja bagi semua negara untuk menghentikan pertjobaan-pertjobaan inti atom mereka, supaja dengan sungguh-sungguh dapat mendekatkan pembitjaraan-pembitjaraan guna penjelesaian soal-soal jang dipertengkarkan maupun pembitjaraan-pembitjaraan tentang perlutjutan sendjata dan lain-lain soal. Gedjala-gedjala tentang pertemuan antara kepala-kepala negara atas tingkatan tertinggi telah menghidupkan kembali harapan daripada bangsa-bangsa didunia, bahwa bagaimanapun djuga lambat laun masih akan dapat tertjapai sesuatu matjam pengertian dan bahwa perdamaian akan diselamatkan. 2. PENJELESAIAN SOAL-SOAL INTERNASIONAL.

Kita terpaksa mentjatat pada Kongres Partai kita (,,Liga Komunis Yugoslavia", red.) jang keenam, bahwa dunia dewasa itu berputar- putar dalam suatu lingkaran jang tidak memberikan sesuatu harapan. Bahwa dunia dewasa itu berada dalam keadaan jang benar-benar mengedjutkan dan menambah perasaan putus asa, djika ditindjau baik dari sudut pemetjahan masaalah-masaalah internasional jang selalu mendjadi buah pertengkaran, ataupun dari sudut mentjapai perdamaian jang abadi, jang mendjadi idam-idaman bagian ummat manusia jang terbesar. Sajang sekali, meskipun lebih dari lima tahun memisahkan kita dari waktu tersebut, kita dewasa ini belum dapat mengatakan, bahwa dalam hal-hal diatas telah ter- tjapai sesuatu kemadjuan jang chas.

Perang telah berachir tiga belas tahun jang lalu. Suatu kedjadian jang paling mengerikan dalam sedjarah kemanusiaan, bila dihitung dalam kerugian djiwa dan benda. Meskipun demikian, belum tampak tanda-tanda jang beberapa orang pemimpin dewasa ini telah menarik peladjaran-peladjaran jang perlu dari tragedi jang dahsjat itu. Malahan, meskipun belum lama berselang telah digali berdjuta-djuta kuburan karena dunia mengalami duka-tjeriteranja jang kedua, meskipun bekas-bekas daripada penumpahan darah itu belum tertjutji bersih, darah sudah ditumpahkan lagi dan pembinasaan-pembinasaan baru telah dimulai. Baru sadja perang berachir di Vietnam dan Korea, maka sudah dimulai suatu perang di Mesir jang dihentikan semata-mata oleh tindakan tegas dari Perserikatan Bangsa-bangsa. Akan tetapi, sangat disajangkan jang perang masih dilakukan di Indonesia dan Aldjazair. Hal ini menundjukkan bahwa beberapa orang bermaksud melandjutkan lagu mereka jang lama, jaitu melakukan kekerasan serta pembinasaan terhadap bangsa-bangsa jang berusaha semata-mata untuk menentukan nasibnja sendiri. Dalam alam pikiran beberapa orang berkuasalah pendapat, bahwa berbagai masaalah jang mendjadi buah pertengkaran hanja dapat diselesaikan dengan djalan kekerasan dan keunggulan sendjata, lagi pula bahwa tudjuan mereka hanja dapat tertjapai dengan tindakan jang demikian. Pandangan-pandangan itu mengakibatkan suatu perlombaan persendjataan jang tidak ada taranja, lagi pula menjebabkan digunakannja alat-alat baru guna pembasmian setjara besar-besaran, chususnja sendjata-sendjata atom dan zat-air. Ada ketjenderungan untuk menggunakan pendapatan-pendapatan jang terpenting daripada kepandaian manusia itu, tidak untuk memadju- kan kebahagiaan dan kemakmuran, tetapi untuk mendjerumuskan ummat manusia kedalam lembah bentjana jang terburuk, jang dapat dipikirkan oleh pikiran manusia.

Apakah inti daripada djalan perkembangan itu dalam hubungan internasional sedjak Perang Dunia II

Pertama-tama: dalam hal penjusunan kekuatan-kekuatan didunia sesudah perang dunia, terdapatlah bentrokan antara kepentingan-kepentingan jang bertentangan daripada negara-negara jang merupakan anggauta utama daripada persekutuan anti-Hitler. Kedua: usaha untuk mengurangi pertentangan-pertentangan antara kepen. tingan-kepentingan mereka dengan djalan persetudjuan pada konperensi-konperensi di Teheran, Yalta, Berlin dan ditempat-tempat lain, begitu pula usaha-usaha untuk menjelesaikan beberapa masaalah internasional lainnja jang menjangkut bangsa-bangsa lain, terutama bangsa jang dahulunja merdeka dan jang sekarang berhak untuk menentukan nasib mereka sendiri, merupakan kegagalan. Ketiga: sesudah perang, perbedaan-perbedaan jang ada diperuntjing pula oleh apa jang dinamakan perdjuangan melawan Komunisme, jangdewasa ini dilakukan oleh kalangan-kalangan reaksioner jang sangat kuatnja didalam negara-negara jang terkemuka didunia. Komunisme digambarkan sebagai momok, untuk menakut-nakutkan bukan sadja bangsa mereka sendiri, tetapi djuga bangsa-bangsa lain. Kata,,komunis" dipakai tidak sadja terhadap segala gerakan progresif, tetapi djuga terhadap bangsa-bangsa jang berichtiar mentjapai kemerdekaannja. Paham „perang sutji" terhadap Komunisme merupakan suatu dasar ideologi untuk mentjapai pelbagai tudjuan imperialis, terutama untuk mentjapai pendjadjahan kolonial dalam bentuk-bentuk baru. Hal ini tidak sadja merupakan suatu peng. hambat jang besar bagi penjelesaian daripada pertentangan-pertentangan internasional dewasa ini dan bagi kerdjasama serta hidup bersama jang damai antara negara-negara jang susunan kemasjarakatannja berlainan, tetapi djuga sangat menambah bahaja perang dunia jang sekarangpun selalu ada.

Inilah unsur-unsur pokok jang telah membawa keadaan internasional dewasa ini kedalam suatu djalan buntu, jang tidak memperlihatkan suatu djalan keluar, ketjuali djika beberapa pemimpin jang paling bertanggung-djawab diantara negara-negara besar jang dapat menentukan politik dewasa ini dan dikemudian hari merubah paham-paham mereka jang kolot tentang hubungan internasional itu setjara radikal, dengan kata lain: ketjuali djika mereka menjadari, bahwa banjak hal telah berubah didunia dewasa ini, dan bahwa perlu kita menjambut dengan realisme dan keberanian pentjiptaan hubungan internasional jang sedjadjar djalannja dengan tjita-tjita ummat manusia, dengan kepentingan-kepentingan jang sedjati daripada bangsa-bangsa mereka serta dengan tingkat perkembangan ekonomi, ilmu pengetahuan dan kebudajaan dewasaini.

Negara-negara besar Barat berusaha mempertahankan arah politikmereka dewasa ini dengan mengemukakan aspek-aspek tertentu dari pada politik luar negeri Uni Sovjet jang didjalankan semasa Stalin. Suatu kenjataan sedjarah ialah bahwa Stalin salah seorang tokoh dalam pertemuan-pertemuan jang membitjarakan nasib bangsa merdeka jang lain-lain tanpa diketahui dan disetudjui oleh bangsa-bangsa tersebut. Konsepsi demikian itu berdasarkan azas-azas negara besar, dan bukan atas azas hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnja sendiri. Dimasa sesudah perang, beberapa negara besar tanpa timbang rasa melakukan segala sesuatu untuk dapat menguasai bangsa-bangsa lain dan dunia pada umumnja. Malang sekali, suatu tjontoh daripada politik luar negeri demikian itu ialah tekanan jang terus-menerus dilakukan oleh Stalin terhadap Jugoslavia. Jang mendjadi soal bukanlah masaalah-masaalah ideologi jang pokok, tetapi semata-mata keinginan untuk menaklukkan Jugoslavia kepada politik ala Stalin. Politik demikian itu mau tidak mau harus mengalami kekalahan, sebab tidak mempertimbangkan ada tidaknja kemungkinan-kemungkinan jang njata untuk mewudjudkan politik intimidasi dengan djalan kekerasan. Malahan, politik itu mempunjai akibat jang sebaliknja. Ia dengan tidak sengadja membantu pihak jang lain, dimana terdapat ketjenderungan-ketjenderungan jang kuat jang pada waktu itu masih tersembunji untuk menguasai bangsa-bangsa lain dan dunia pada umumnja. Lagi pula, akibat politik Stalin ialah bahwa Uni Sovjet lambat laun terpentjil, sebab politiknja menimbulkan wasangka daripada bangsa-bangsa jang ketjil terhadap negara sosialisme itu, jang daripadanja mereka lajaknja mengharapkan dukungan jang sebesar-besarnja untuk kemerdekaan dan kesamaan mereka.

Berkat politik luar negeri Stalin jang tegar dan mengandung antjaman itu - meskipun tidak ada perlunja untuk melakukan politik mengantjam itu -negara-negara besar Barat memutuskan, karena mereka melihat jang mereka tidak akan dapat mentjapai tudjuan-tudjuan mereka dengan djalan diplomatik, bahwa mereka akan dapat mentjapainja dengan memperlihatkan kekuatan. Inilah sebab utama untuk didirikanuja Pakta Atlantik, untuk ditjiptakannja suatu blok militer jang harus memungkinkan tertjapainja penguasaan dunia serta diperolehnja tudjuan-tudjuan dengan penggunaan kekuatan. Ini masih merupakan tudjuan daripada negara-negara NATO, dan segala-galanja dikerahkan untuk perlombaan persendjataan dan untuk mentjapai keunggulan dalam perkembangan-perkembangan tehnik dilapangan kemiliteran. Pembentukan Pakta Atlantik jang bersifat militer itu, serta dimasukkannja Djer- man Barat dalam pakta tersebut, mau tidak mau mengakibatkan dibentuknja Pakta Pertahanan Warsawa daripada negara-negara Eropah Timur sebagai imbangan daripada Pakta Atlantik.

Tetapi keadaan ini mentjiptakan suatu halangan jang berbahaja, jang tidak sadja merintangi terdapatnja kepertjajaan dan perhubungan baik antara negara-negara dari pihak-pihak jang bertentangan, tetapi djuga melebarkan djurang antara mereka. Dan hal ini kali ini sedikit, kali lain banjak memberi,, makanan" kepada perang dingin. Pembagian dunia kedalam blok-blok itu menjebabkan pemetjahan perekonomian dunia, suatu hal jang bukannja membawakan integrasi ekonomi dan kerdjasama internasional jang berhasil, melainkan sangat merugikan bangsa-bangsa. Embargo jang dikenakan oleh negara-negara Barat terhadap berbagai barang jang dikirimkan ke-negara-negara sosialis tidak sadja menjebabkan kerugian ekonomi bagi kedua belah pihak, tetapi dalam arti politik djuga makin melebarkan kerenggangan antara Timur dan Barat.

Sampai waktu achir-achir ini, politik jang didjalankan oleh negaranegara Barat itu hampir melumpuhkan sama-sekali perdagangan antara anggauta-anggauta sosialis. Pakta Atlantik dengan negara-negara sosialis.

Memang sudah harus dimengerti makin njata bahwa politik tekanan ekonomi itu mesti gagal. Sudah tentu belenggu blokade ekonomi itu dewasa ini makin lama makin kendur, sebab daja-upaja kearah integrasi ekonomi itu sangat kuat disegala negara didunia . Tenaga-tenaga produktif dalam banjak negara telah mentjapai taraf perkembangan jang luar biasa tingginja, dan daja-upaja mereka kearah integrasi umum daripada ekonomi didunia tidak dapat ditjegah . Merintangi proses integrasi ekonomi itu tidak sadja berarti mengekang perkembangan selandjutnja daripada tenaga-tenaga produktif, tetapi bersamaan dengan itu dilapangan politik mentjiptakan unsur-unsur bertentangan jang sangat kuat, jang akan mengakibatkan ketegangan jang luarbiasa kuatnja. Hal demikian itu makin membantu diperkerasnja perang dingin serta mengandung antjaman jang perang dingin itu akan berubah mendjadi pertarungan dunia dengan sendjata.

Sedangkan dipihak jang satu A.S. berichtiar sekeras-kerasnja untuk melemahkan negara-negara timur dengan djalan embargo dan tekanan ekonomi, dipihak jang lain negara-negara tersebut memtidak sadja berikan sumber-sumber jang luar biasa besarnja kepada anggauta-anggauta Pakta Atlantik tetapi djuga kepada negara-negara lain untuk memperkuat perekonomian mereka dan mentjegah pelbagai krisis ekonomi, dan dengan demikian , krisis politik. Tidak dapat disangsikan bahwa tudjuan jang dimaksud itu telah tertjapai, sebab dengan djalan ini negara-negara kapitalis Eropah benar-benar berhasil mentjegah untuk sementara wakt terulangnja sedjarah krisis ekonomi dan sosial dalam masa antara kedua perang dunia.

Sesudah Perang Dunia II, tumbuhlah di Amerika Serikat suatu konsepsi ideologi anti komunis, jang berguna bagi kepentingan-kepentingannja dilapangan strategi. Mau tidak mau, hal itu menjebabkan kedua front ideologi makin merupakan dua pengelompokan jang kuat. Saja mengatakan front ideologi sebab salahlah kiranja untuk mengatakan blok ideologi. Sebabnja sederhana: konsepsi dan propaganda anti-komunis daripada Amerika tidak sadja ditudjukan terhadap negara-negara jang membangun sosialisme, tetapi djuga terhadap ideologi komunis dan terhadap gerakan-gerakan progresif setjara universil.

Selama beberapa tahun achir-achir ini, anggauta-anggauta Pakta Atlantik telah mengambil langkah-langkah jang makin lama makin intensif - untuk memperkuat negara-negara Pakta Atlantik baik dari sudut strategi maupun dari sudut tehnik militer. Pangkalan-pangkalan militer jang bersifat strategi sedang dibangun dengan sangat tjepatnja di Eropah, Asia dan Afrika; tempat-tempat peluntjurkan peluru kendali sedang didirikan dalam djumlah jang besar, dan dibeberapa negara, misalnja di Inggeris, pesawat-pesawat udara pelempar bom selalu diudara dengan muatan bom atom dan bom zat-air. Dengan djalan demikian, ditjiptakan suatu pengepungan dalam arti strategi militer terhadap Uni Sovjet dan negara-negara Timur lainnja.

Selain daripada itu telah diambil keputusan jang sangat malang, jaitu untuk mempersendjatai Djerman Barat. Hal ini, bersama-sama dengan keputusan jang terachir untuk mempersendjatai Bundeswehr (angkatan perang Djerman Barat) dengan sendjata-sendjata atom, telah sangat menjukarkan keadaan di Eropah, sebab merupakan suatu bahaja utama akan perang baru. Pakta SEATO di Pasifik dan Pakta Bagdad di Timur Tengah telah didirikan, dan sekarang sedang diusahakan untuk mendirikan suatu Pakta Laut Tengah dengan tudjuan, dipihak jang satu, untuk mentjerai-beraikan sebanjak mungkin negara-negara Arab, serta mentjegah integrasi mereka dilapangan politik dan ekonomi, dan dipihak jang lain tidak sadja tetap menguasai djadjahan-djadjahan jang ada tetapi djuga untuk mengembalikan beberapa negara jang telah mentjapai kemerdekaan kepada status kolonial. Tampaknja djalan ini diambil oleh negara. negara besar Barat sebagai akibat daripada kenjataan bahwa hampir diseluruh negara-negara Eropah Timur di Polandia, Tjekoslova telah kia, Rumania, Bulgaria, Hungaria, Albania dan Jugoslavia terdjadi perubahan-perubahan dalam sistim sosialnja selama dan sesudah perang. Politik mengadakan blok-blok militer itu, jang didjalankan oleh Amerika dan negara-negara Eropah Barat, terutama dipengaruhi oleh kemenangan revolusi Tiongkok. Perlu ditegaskan lagi disini bahwa djalan jang ditempuh oleh dunia Barat itu djuga disebabkan oleh pengaruh politik Stalin jang tegar, jang menjebabkan terpentjilnja dan dilemahkannja kedudukan Uni Sovjet didunia.

Hal ini tambah memperkuat kedudukan negara-negara Barat jang dipimpin oleh Amerika. Pembentukan Pakta Atlantik dan didirikannja pangkalan-pangkalan jang strategis dibenarkan semata-mata karena menjebut-njebut politik Stalin jang tegar serta berdasarkan kekuatan, dan untuk sementara jang demikian itu mendapat dukungan jang normal daripada sebagian besar pendapat dunia. Demikian keadaan hubungan internasional sampai dengan tahun 1953.

Sesudah Stalin meninggal, Uni Sovjet lambat-laun mengubah tjara-tjaranja. Ia mengambil inisiatif dalam politik luar negeri, dan dengan djalan perundingan bahkan pada tingkat tertinggi berusaha memperoleh setiap matjam persetudjuan, setidak-tidaknja mengenai penjelesaian sebahagian daripada beberapa masaalah internasional. Ketegangan berkurang. Hal ini sangat dibantu oleh tindakan-tindakan permulaan jang diambil oleh Uni Sovjet dan jang besar artinja, seperti misalnja dimulainja menormalkan hubungan dengan Jugoslavia dan diterimanja Pernjataan Belgrado, penjelesaian soal Austria, penarikan tentara Sovjet dari wilajah Tiongkok, Austria dan Finlandia, dilepaskannja tuntutan-tuntutan wilajah terhadap Turki, likwidasi daripada perusahaan dagang tjampuran di Tiongkok dan dinegara-negara Eropah Timur jang berdasarkan demokrasi rakjat dan dibebaskannja hubungan-hubungan dengan nereka, diakuinja kedudukan merdeka daripada negara-negara nuda di Asia dan Afrika, dan sebagainja.

Perkembangan baru daripada politik luar negeri Sovjet jang positif ini dipihak jang satu besar pengaruhnja terhadap perlunakan setegangan internasional dan dipihak jang lain lambat-laun djuga memperbaiki kedudukan Uni Sovjet jang terpentjil didunia itu. Tetapi perubahan dalam politik luar negeri Sovjet ini diberi tafsiran jang salah dinegara-negara Barat, dan dianggap sebagai kelemahan didalam tubuh Sovjet jang disebabkan karena mangkatnja Stalin dan kesukaran-kesukaran ekonomi. Sedjalan dengan penilaian jang tidak rüil itu, djuga dinjatakan dengan segala ketegasan, bahwa perubahan dalam politik Sovjet itu hanja suatu siasat untuk memperoleh waktu. Karena itu, dunia Barat tetap mendjalankan politik jang berdasarkan apa jang dinamakan kedudukan kekuatan, dan masih djuga menolak berbagai usul untuk mentjari penjelesaian daripada soal-soal perselisihan dengan djalan damai. Negara-negara Barat mempertahankan sikap jang tak dapat didamaikan itu, dan terus membangun tenaga militer mereka dengan ketjepatan jang makin meningkat, dengan maksud memperoleh keunggulan dalam hal ini.

Meskipun demikian, karena tekanan pendapat dunia Amerika dan negara-negara Barat lainnja sedikit-banjak memperbaiki sikap mereka jang tegas terhadap perubahan dalam politik luar negeri dan keinginan Uni Sovjet untuk meredakan ketegangan didunia itu, sebab mereka takut akan terpentjil. Akibatnja ialah Konperensi Djenewa pada tingkat tertinggi. Apakah konperensi itu memberikan hasil-hasil jang njata? Tentu tidak. Malahan hasil-hasil demikian itu tidak dapat diharapkan.

Akan tetapi, fakta bahwa pertemuan demikian itu telah diadakan adalah suatu hal jang positif, apalagi mengingat perang dingin jang berdjalan bertahun-tahun itu. Setidak-tidaknja, konperensi tersebut mengandung sesuatu jang baik, jaitu bahwa ia telah diadakan dan dengan demikian telah mentjiptakan suatu suasana jang lebih baik untuk usaha selandjutnja guna mentjarikan dengan sabar tjara-tjara jang damai untuk menjelesaikan pertentangan-pertentangan internasional. Sekarang sedang diadjukan lagi soal mengadakan pertemuan pada tingkat tertinggi, suatu pertemuan jang seharusnja diperluas hingga melingkupi pula beberapa negara jang tidak mendjadi anggota Pakta Atlantik ataupun Pakta Warsawa. Pandangan inilah jang kami adjukan pada malam Tahun Baru jang lalu. Pemerintah Sovjet mengusulkan suatu pertemuan pada tingkat tertinggi, dan menjatakan keinginannja supaja, selain pemimpin-pemimpin negara-nega- ra besar, beberapa negara diluar Pakta Atlantik dan Pakta Warsawa djuga ikut serta didalamnja. Sajang sekali kami harus menjatakan sekarang ini, bahwa negara-negara Barat menolak beberapa daripada usul Uni Sovjet jang konstruktif itu dengan berbagai alasan serta dengan usul-balasan jang tidak sangat mejakinkan. Memang kita tidak terlalu optimis terhadap hasil jang mungkin ditjapai pada konperensi tingkat tertinggi itu. Akan tetapi kami sungguh-sungguh merasa bahwa sesuatu persetudjuan, meskipun hanja mengenai satu soal sadja jang dewasa ini menjusahkan dan menjedihkan dunia seperti misalnja penghentian pertjobaan atom dan zat-air untuk maksud perang akan sangat besar artinja, sebab jang demikian itu tidak sadja akan membantu meredakan keadaan didunia, tetapi djuga memperluas kemungkinan untuk pembitjaraan-pembit jaraan lebih landjut mengenai perlutjutan sendjata serta untuk menjele saikan soal-soal internasional lainnja.

Apa jang dikatakan dimuka itu memperlihatkan bahwa Amerika dahulu dan sekarangpun memainkan peranan jang utama didalam politik negara-negara besar Barat sesudah perang. Tetapi perlu kiranja kami disini menjebut setjara ringkas politik Inggeris dan Perantjis. Kedua negara besar ini dahulu dan sekarangpun dalam keadaan jang djauh kurang beruntung daripada Amerika, terutama karena keadaan ekonomi jang sebagian besar disebabkan oleh kerusakan-kerusakan jang diderita oleh kedua negara tersebut selama perang, dan begitu pula karena beban soal-soal kolonial

Dimasa sesudah perang, susunan kekuasaan negara-negara kolonial sangat tergontjang dan mulai berantakan. Banjak sekali negara-negara, seperti misalnja India, Burma, Mesir, Siria, Sudan, Malaya, Ghana, Maroko, Tunisia, Vietnam, Indonesia dan lain-lainnja, jang telah memperoleh kemerdekaan penuh atau sebagian. Karena sebab itu dan sebab lain-lain, negara-negara besar di Eropah sudah tentu mentjari sokongan pada Amerika Serikat dan ikut-serta dalam Pakta Atlantik serta organisasi lain-lain jang pertama-tama ditudjukan terhadap Uni Sovjet dan negara-negara sosialis jang lain.

Bantuan besar jang dahulu diterima — dan sekarang pun untuk sebagian masih diterima - oleh negara-negara tersebut dari Amerika Serikat sangat menolong mereka untuk mengatasi kesukaran-kesukaran ekonomi didalam masa sesudah perang, tetapi bantuan itu djuga membatasi kemerdekaan gerak mereka didalam lapangan politik, sebab bantuan itu tidak selalu sedjalan dengan pandangan-pandangan negara-negara tersebut mengenai berbagai masaalah dan tidak pula sedjalan dengan kepentingan-kepentingan mereka sendiri jang diharapkan untuk masa depan. Inggeris sangat riil dalam tjara menilai sesuatu perang baru, sebab Inggeris berpendirian, bahwa karena letak geografinja dan lemahnja kedudukannja dilapangan ekonomi dan sebagai kekuasaan kolonial sesudah Perang Dunia II, Inggeris bagaimanapun djuga akan keluar sebagai negara jang kalah dalam perang demikian, tidak perduli siapa jang menang dalam perang itu. Karena itu, Inggeris berkepentingan supaja ketegangan internasional mendjadi reda, karena kalau tidak, kedudukan-kedudukannja didunia dewasa ini akan Tetapi, tampaknja tokoh-tokoh bertanggung-djawab terantjam di Inggeris dewasa ini sependapat dengan Amerika dan sekutu-sekutu lainnja bahwa dengan Uni Sovjet dapat diadakan pembitjaraan-pembitjaraan dan bahwa tudjuan-tudjuan jang bersamaan itu hanja dapat ditjapai dari kedudukan-kedudukan jang berdasarkan kekuatan. Menurut pendapat tokoh-tokoh bertanggung-djawab di Inggeris, pemasukan Djerman Barat kedalam N.A.T.O. dan persetudjuanpersetudjuan Paris memberikan kedudukan-kedudukan demikian.

Sikap dan pendapat jang demikian itu diambil pula oleh Perantjis, meskipun Pemerintah Perantjis melawan dibentuknja Persekutuan Pertahanan Eropah dalam pembitjaraan- pembitjaraan di Paris. Karena kesukaran-kesukaran dilapangan ekonomi dan perdjuangan kemerdekaan jang dilakukan oleh Aldjazair, Perantjis dengan perasaan enggan menerima baik dipersendjatainja Djerman Barat dan dimasukkannja kedalam Pakta Atlantik. Mengenai negara-negara lain daripada Pakta Atlantik saja tidak mengatakan apa-apa disini, sebab pengaruh mereka didalam seluruh masaalah itu sedikit banjak bersifat sekunder, dan dalam keputusan mereka untuk ikut dalam Pakta Atlantik serta organisasi-organisasi blok lainnja, mereka lebih-lebih dipimpin oleh kepentingan-kepentingan dilapangan ekonomi dan lain-lain jang bersifat pribadi daripada oleh alasan-alasan pertahanan dan ideologi .

Perang Dunia II sangat mengubah kedudukan ekonomi dan politik daripada negara-negara Eropah Barat. Dengan sendirinja, hal ini sangat mempengaruhi pengelompokan negara-negara Eropah sesudah perang ; kebanjakan daripada negara-negara itu keluar dari Perang Dunia II dalam keadaan ekonomi jang sangat merana dan keadaan politik jang lemah. Karena keadaan demikian itu, arti negara-negara Eropah itu sekunder terhadap Amerika Serikat didalam proses perkembangan keadaan internasional sesudah perang. Mereka kehilangan peranan , jang mereka mainkan sebelum perang, dan segala ini meninggalkan suatu kesan, bahwa mereka bergantung pada Amerika Serikat sebagai negara Barat jang terkuat. Dengan sendirinja, jang demikian itu tertjermin pula dilapangan politik, dengan pembentukan hanja satu blok daripada negara-negara Barat, jang dikuasai oleh Amerika sebagai negara jang terkuat, tidak sadja dilapangan militer, tetapi djuga dilapangan ekonomi dan politik.

Sebaliknja negara kapitalis jang terkuat, Amerika, berhadapan dengan negara sosialis jang terkuat, Uni Sovjet, jang merupakan inti daripada kelompok negara-negara sosialis jang baru dibentuk demokrasi-demokrasi rakjat. Pemihakan ini djuga mudah diterangkan dengan alasan-alasan pertahanan, terutama djika diperhatikan bahwa sekarangpun - dimana perkembangan keadaan sudah sedemikian landjutnja ini — negara-negara Barat tidak dapat menerima kenjataan, bahwa sistim kapitalis telah dihantjurka dinegaranegara tersebut dan bahwa disana sedang dibangun suatu tata sosialis jang baru. Dunia Barat melakukan segala daja-upaja dengan djalan propaganda hebat jang tak ada hentinja dan dengan djalan untuk mentjampuri soal-soal dalam negeri negara-negara tersebut menghalang-halangi perkembangan mereka jang normal, karena dunia Barat tidak dapat melaksanakan pemulihan keadaan-keadaan jang lama dan mengembalikan kapitalisme. Seperti Saudara lihat, antara Timur dan Barat terdapat suatu djurang jang lebar. Propaganda Barat selalu menjatakan, bahwa djurang itu bersifat ideologi, dengan maksud supaja mereka mentjapai maksudnja lebih mudah, jaitu memetjah dunia kedalam sektor anti-komunis dan komunis.

Akan tetapi, ada banjak negara jang berpegang pada azas bahwa penjelesaian soal-soal internasional harus ditjari dengan djalan damai, djangan dari segi politik kekuatan, karena jang demikian itu menjebabkan suatu perlombaan persendjataan dan mengantjam dunia dengan suatu perang baru. Jugoslavia termasuk negara-negara jang berpegang pada azas ini. Negara-negara tersebut memainkan peranan penting dalam meredakan ketegangan internasional, lagi pula dalam mentjegah tindakan-tindakan agresi lebih landjut dari pihak jang mentjoba mentjapai tudjuan mereka jang hanja berpusat pada kepentingan mereka sendiri dengan mempergunakan sendjata. Aksi jang dilakukan oleh negara-negara tersebut, spaja djalan damai dalam hubungan internasional dapat menang, pertama-tama berlangsung didalam lingkungan Perserikatan Bangsa-bangsa. Dan harus kita tambahkan disini, bahwa aksi itu bukannja tidak berhasil, sebab azas-azas perdjuangan untuk perdamaian dan kerdjasama dengan damai makin lama bertambah mendapat dukungan moril daripada dunia pada umumnja. Halaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/32 dalih jang bermatjam-matjam, maka keadaan seluruhnja dalam banjak hal menjerupai tingkat permulaan Perang Saudara Sepanjol Keadaan itu mengingatkan saja dalam banjak hal kepada kedjadian ini, dan saja kuatir kalau-kalau beberapa kalangan internasional jang suka akan perang dingin bermaksud untuk mentjetuskan pepe- rangan disana jang mungkin akan membakar seluruh dunia. Saja sekarang tidak hendak menjelami bagaimana keadaan disana berlangsung, karena perang sedang dilantjarkan disana. Tetapi adalah menarik perhatian untuk mengetahui sifat dari keterangan-keterangan jang dikemukakan orang. Saudara-saudara batja sadja bagaimana sengitnja surat-surat kabar Amerika telah menjerang Pemerintah di Djakarta. Dan pemerintah manakah didunia ini akan merelakan beberapa kolonel atau perwira tentara menimbulkan suatu pemberontakan, dan menghadapkan ultimatum-ultimatum kepada suatu pemerintah. Tidak ada pemerintah jang demikian didunia ini, dan Pemerintah Amerika adalah jang terachir jang akan membiarkannja. Pers Amerika telah menjerang Pemerintah di Djakarta, dan ia memudji-mudji pemberontak-pemberontak disana kepada siapa alat-alat sendjata dikirim atas alasan perdagangan bebas. Ini menarik perhatian. Dan ketika kapal Jugoslavia mengangkut alat-alat sendjata untuk sesuatu perusahaan, maka ini dinamakan persendjataan jang diselundupkan dan Perantjis dengan berkeras menjuruh kapal itu berhenti diatas laut terbuka, merebut serta merampas alat-alat sendjata, dan sebagainja. Ini merupakan suatu tjontoh jang benar-benar menjolok mata dari pelanggaran hukum internasional. Dalam hal ini menurut mereka adalah suatu penjelundupan barang-barang gelap. Kini dengan terang-terangan diberitakan bahwa soal ini adalah soal pendjualan alat-alat sendjata, bahwa ini adalah soal perdagangan bebas, meskipun alat-alat sendjata didjual kepada pemberontak-pemberontak dalam suatu negeri dimana berkuasa suatu pemerintahı sah jang menjelenggarakan hubungan-hubungan diplomatik dengan hampir seluruh dunia. Alat-alat sendjata didjual kepada suatu pemerintahan kontrarevolusioner, kepada orang-orang Franco Indonesia, jang kemudian menimbulkan penumpahan darah, dan tidaklah dapat dikatakan bagaimana keadaan ini akan berkembang nanti. Itulah jang terdjadi dihadapan seluruh dunia dan sesungguhnja sangat menguatirkan kita. Ada orang-orang jang disatu pihak berbitjara tentang perda maian dan katanja membela perdamaian , dan jang dilain pihak pada setiap langkah menjabot perdamaian itu dan memelihara suatu persemaian sengketa dunia jang baru.

Hal-hal jang menguatirkan serupa itu pula 'terdjadi di Laut Tengah, di Aldjazair, Tunisia dan ditempat lain. Tentu sadja saja tidak bermaksud untuk mengetjam atau mentjela bahwa keadaankeadaan seharusnja tidak dapat dilangsungkan setjara demikian, tetapi ada satu hal jang pasti : orang-orang harus insaf pada achirnja bahwa dengan tjara demikian, dengan kekerasan, dengan penumpahan darah, dengan menindas tjita-tjita jang wadjar dari suatu bangsa untuk bertuan diatas tanah air mereka sendiri keadaan tidak dapat diselesaikan. Mereka harus insaf bahwa dalam abad sekarang ini, sesudah malapetaka dunia internasional kedua jang sangat hebat, semua ini sesungguhnja melampaui akal budi manusia, sehingga kita betul-betul harus bertanja-tanja apakah artinja semua ini, apakah orang tidak djuga mengerti akan apa jang telah terdjadi dan apa jang dapat terdjadi lagi . Kita sungguh-sungguh bersimpati dengan semua bangsa terdjadjah ini jang dengan tabah melakukan perdjuangan untuk kehidupan mereka. Kita menjesal bahwa kita harus menjampaikan ketjaman ini kepada negeri-negeri dengan siapa kita tetap mempunjai hubungan-hubungan baik . Tetapi hal-hal jang bersifat prinsip ini jang tertjantum pada pandji kita melawan kolonialisme, bagi hak semua orang untuk menguasai diri sendiri dengan merdeka, tidak dapat kita sembunjikan untuk menghindarkan supaja tidak menjakiti salah satu pihak. Kita katakan bahwa ini tidaklah tepat dan bahwa ini djuga akan mengakibat kan suatu sengketa jang baru didunia. Kini ada suatu niat untuk mentjiptakan sebuah pakta baru dilaut Tengah, ada suatu kegilaan akan pakta-pakta. Ada maksud sekarang untuk mentjiptakan suatu pakta Laut Tengah, jang tudjuannja tidak lain daripada memetjahbelah negeri-negeri Arab, memetjah-belah bangsa-bangsa Afrika dan menimbulkan suatu keadaan jang lebih sulit lagi, jang dapat kemudian mengakibatkan sesuatu matjam sengketa sulit jang tak disangka-sangka. Adalah suatu kenjataan jang tegas bahwa Mesir dan Siria, dan kini Jaman djuga, telah berhasil mendatangkan persatuan dan bersatu mendjadi satu negara. Sebenarnja itulah suatu batu dasar jang kuat untuk membina keadaan jang lebih stabil dibagian dunia ini. Saudara-saudara mengetahui bagaimana keadaannja di Siria ketika mereka mengantjam negeri itu dan ketika ia diantjam dari segala pendjuru. Persatuan dewasa ini sungguh-sungguh merupakan suatu tindakan tegas jang djuga menggembirakan kita, orang-orang Jugoslavia, karena kita menaruh rasa kagum jang mendalam terhadap bangsa-bangsa ini dan kita mengharapkan supaja mereka berhasil hendaknja. Mereka kini mendjalankan segala sesuatu jang dapat dilakukan untuk mentjegah supaja persatuan dari negara-negara ketjil ini tidak ditjerai-beraikan oleh suatu pakta jang baru. Pakta jang baru ini berarti malapetaka jang baru pula. Tidak sebuah paktapun, termasuk pakta Laut Tengah ini, jang telah menimbulkan kebaikan dan haridepannja masih sangat suram.

Banjak diperkatakan dewasa ini tentang kemungkinan-kemung kinan diadakannja suatu pertemuan puntjak. Mengapa kita menjetudjui pertemuan sematjam itu? Saudara-saudara tahu bahwa saja telah membitjarakannja pada malam mendjelang Tahun Baru, dan telah disebut-sebut djuga mengenai ini sebelumnja. Kita menjetudjui pertemuan sematjam itu karena kita telah menjaksikan bahwa dunia telah tertumbuk pada djalan buntu, bahwa tidak ada soal jang mempunjai arti jang penting bagi dunia dapat diselesaikan oleh P.B.B. Kita telah menjaksikan bahwa Konperensi Djenewa, banjak sudah tanpa hasil-hasil jang berarti, telah merupakan suatu langkah madju, bahwa suasana sudah agak reda, bahwa suasana tidak begitu tegang lagi sehingga kita merasa bahwa suatu pertemuan puntjak mungkin menghasilkan suatu tindakan jang ampuh kearah pengertian antara Negara-negara Besar.

Dahulu kita katakan, dan sekarangpun kita katakan, bahwa adalah penting artinja djika pertemuan puntjak sematjam itu djuga dihadiri oleh negeri-negeri jang tidak termasuk dalam sesuatu blok atau persekutuan militer. Saja tidak mengandjurkan ini karena kita dapat djuga tergolong didalamnja, tetapi karena saja menganggap bahwa pertemuan ini harus meliputi orang-orang dari negeriHalaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/36 perkembangan dan hari depan dari dunia ; apakah mereka ingin melandjutkan perang dingin, apakah mereka setudju dengan penghentian pertjobaan-pertjobaan atom ataukah tidak ? Meskipun pada pertemuan itu tidak diperbintjangkan apa-apa selain daripada penundaan pertjobaan-pertjobaan atom bagi maksud-maksud perang - itupun akan merupakan suatu langkah madju jang tegas. Inilah alasan-alasannja mengapa umat manusia sangat takut akan pertjobaan-pertjobaan itu. Sampai saat ini telah diadakan 174 buah ledakan atom dan hydrogen didunia. Diantaranja ledakanledakan hydrogen sadja sudah berdjumlah 28 buah, dan selama tahun terachir sadja sudah 43 ledakan dilangsungkan . Bahkan sardjana-sardjana Amerika sendiri mengakui bahwa dua tahun jang lalu banjaknja radiasi sudah lipat dua sebagai akibat dari ledakanledakan bom hydrogen jang dilangsungkan oleh Amerika. Apakah ini tidak merupakan suatu bahaja jang dahsat bagi seluruh dunia hajat, tidak merupakan suatu bahaja bagi umat manusia ? Dewasa ini mereka bermain-main belaka dengan pertjobaan-pertjobaan jang menggambarkan suatu anasir pemerasan, bukan menghentikannja, bukan mengadakan usaha untuk menundanja . Mereka seharusnja mengadakan suatu persetudjuan mengenai ini, dan kemudian soalsoal lain djuga berangsur-angsur dapat diselesaikan. Disini saja ingin membitjarakan suatu soal jang chusus mengenai kita.

Saja telah katakan dalam suatu wawantjara bahwa kita menentang pendirian pangkalan-pangkalan roket di Italia. Pada waktu itu saja tidak memaksudkannja sebagai suatu peluasan dari usul jang dikemukakan oleh Pemerintah Polandia dengan perantaraan Menteri Rapatski untuk membentuk suatu daerah de-nuclear jang meliputi empat buah negara : Djerman Barat dan Timur, Tjekoslowakia dan Polandia. Ini adalah suatu peristiwa jang mengenai kita dan menarik perhatian kita. Jakni, Yugoslavia adalah suatu negeri jang tidak tergolong dalam sesuatu persekutuan militer,

atau sesuatu blok

militer, ia adalah suatu negeri jang netral, bukan dalam pengertian mengenai tindakannja, tetapi karena ia berada diluar sesuatu blok. Bukanlah hal jang tidak penting bagi kita apa jang sedang dilaku27 kan di Italia, jang tidak mempunjai perbatasan jang bersamaan dengan Uni Sovjet atau sesuatu negeri Timur jang lain. Roket-roket ini hanja dapat mentjapai Yugoslavia dan hampir tidak dapat terbang melampaui daerah kekuasaannja, djadi terhadap siapakah roket-roket itu diluntjurkan ? Terhadap kita. Dan roket-roket itu akan memuat kepala atom . Apakah ini bukan merupakan bahaja bagi kita ? Dapatkah kita bersikap tak atjuh terhadap apa jang mereka lakukan disana ? Hal ini kita tentang dan dalam hubungan ini kita akan mengambil tindakan-tindakan djuga djika perlu dan akan mengemukakan pendapat kita tentang ini. Yugoslavia mempunjai hubungan-hubungan jang sangat baik dengan Italia. Setelah soal Trieste diselesaikan dapat saja katakan bahwa hubungan-hubungan itu telah mendjadi lebih baik dari jang sudah-sudah dan akan mendjadi lebih menguntungkan baik dalam hal ekonomi maupun dalam hal politik. Kita merasa tjemas disebabkan sikap Pemerintah Italia sekarang, jang dibawah tekanan Pakta Atlantik menjetudjui akan dibentuknja pangkalan-pangkalan itu jang membahajakan Yugoslavia. Saja beranggapan bahwa ini bukanlah hal jang tidak penting bagi Pemerintah Italia, karena saja pertjaja bahwa rakjat Italia tidak menjetudjui pembentukan pangkalanpangkalan roket ini , dan karena itu Pemerintah Italia seharusnja memperdulikan apa jang mendjadi pikiran kita, apa jang dipikirkan rakjat kita mengenai hal ini. Ini adalah suatu bahaja jang baru, suatu persemaian jang baru, dan oleh karena alasan inilah maka kita kemukakan hal ini.

Akan tetapi, ini tidaklah berarti bahwa kita tidak mengakui usul Polandia. Sesungguhnja kita setudju dengan rantjangan Rapatski, dengan usul Pemerintah Polandia mengenai daerah de-nuclear. Bukanlah persoalan kita apakah usul itu benar-benar realistis atau tidak. Ia adalah realistis, djika dipandang dari sudut pendirian bahwa ia akan menghasilkan sesuatu persetudjuan, setidaknja sebagian untuk memetjahkan soal jang paling mengganggu urat sjaraf di Eropah, jang mendjadi sengketa antara Timur dan Barat. Oleh karena itu, ada baiknja djika usul ini dilaksanakan dan kita akan senantiasa memberikan bantuan kita sepenuhnja. Djika timbul suatu sengketa, maka tidak mungkinlah perdamaian ada disana dan peperangan ada disini ; suatu sengketa akan melibat setiap orang. Oleh karena itu, adalah perlu untuk setjara umum memetjahkan soal alat-alat peluntjur itu, daerah-daerah atom itu, dan penggunaan alat-alat peledak atom itu sebagai sendjata perang.

Itulah soalnja. Dan ini menghendaki perbintjangan ditingkat tertinggi. Djika umat manusia dengan segera dapat menjaksikan suatu persetudjuan jang tertjapai antara negara-negara besar, dimana tenaga atom sebagai suatu alat peperangan dilarang dan hanja boleh dipakai untuk maksud-maksud damai, maka akan bergembiralah seluruh dunia, akan disambutlah dengan meriah oleh seluruh dunia. Itulah jang ditakuti oleh umat manusia dewasa ini. Saja menganggap bahwa orang-orang disebelah Barat itu jang akan membantu mentjarikan penjelesaian mengenai soal itu akan mendjadi orang-orang besar dalam sedjarah. Dan kita, Jugoslavia jang ketjil ini, jang sesungguhnja tahu benar-benar apa artinja peperangan dan bagaimana kehidupan jang damai dan penuh dajatjipta, kita akan terus-menerus berdjuang sekuat-kuatnja, sesuai dengan kemampuan kita, supaja timbul perdamaian dan ketenangan jang pasti didunia, dan peperangan terelakkan. Jugoslavia, India, Birma, Indonesia, Swedia dan banjak negeri-negeri lain jang tidak termasuk dalam sesuatu blok dapat dengan perdjuangan mereka jang aktif dan tjinta damai kearah tjita-tjita ini, mentjapai hasilhasil jang baik didunia ini.

Saja ingin menekankan sekali lagi bahwa mereka adalah keliru jang berusaha mengasingkan kita dan berkata : Jugoslavia menarik hati bagi orang-orang Amerika selama ada sengketa dengan orangorang Rusia ; tetapi kini ia tidak menarik hati lagi. Tidak, Jugoslavia bukanlah pion dari sesuatu negeri, dimasa itupun tidak, melainkan suatu faktor jang merdeka, dan tentang hal, bahwa itu suatu peristiwa negara berpadanan dengan sesuatu negeri adalah perkara jang lain lagi. Kini saja ingin membitjarakan sedikit tentang pokok : Jugoslavia telah mentjiptakan dan sudah beberapa lama melaksanakan konsepsi politik luar negeri dimana ia seharusnja mempunjai hubungan-hubungan jang sebaik mungkin dengan semua negeri, tanpa memandang sistim dalam negeri mereka. Tetapi sekarangpun masih sering orang-orang di Barat mengadjukan pertanjaan: Kemanakah Jugoslavia mengarah? Mereka disana itu berkata: Seorang Jugoslavia telah berbitjara jang tidak menjerang Rusia, tetapi menjerang kita. Kita menjerang seseorang jang berbuatsalah, dan kita tidak menjerang karena hanja hendak menjerang seseorang sadja. Djika kita lihat bahwa seseorang memadjukan usul-usul jang konstruktif, kita tidak akan menjerangnja, tetapi akankita katakan bahwa ia telah berbuat benar.

Kini saja akan melukiskan hubungan-hubungan kita dengan pelbagai negeri dengan beberapa kata sadja. Hubungan-hubungan ini telah menghasilkan buah jang baik selama tahun-tahun belakangan ini. Kita telah menormalisasikan hubungan-hubungan dengan hampir semua negeri-negeri timur, baik dengan Uni Sovjet maupun dengan jang lain-lain. Dengan beberapa diantaranja hubungan-hubungan kita sangat baik. Dengan Uni Sovjet hubungan-hubungan kita, baik dibidang ekonomi maupun dibidang umum, berkembang dengan sangat baik. Sepandjang batas negara kita tidak mendjumpai kesukaran-kesukaran.

Anasir-anasir baru jang menimbulkan ketjurigaan bersama telah disingkirkan, dan saja berkeinginan supaja apa jang masih tinggal disana dapat disingkirkan pula. Kita sesalkan bahwa keadaan-ke- adaan tidak dalam semua hal berlangsung seperti seharusnja. Saja tidak hendak memberikan dengan pandjang lebar tentang ini sekarang, namun saja akan menjatakan bahwa masih ada hal-hal jang tertentu jang tidak memberi pandangan jang baik pada hubungan-hubungan kita, tidak hanja hubungan-hubungan partai, tetapi hubungan-hubungan antara bangsa-bangsa dari kedua negeri. Misalnja, selama empat bulan jang terachir dua buah surat kabar kita sadja, "Politika" dan "Borba", telah memuat 611 komentar, artikel dan keterangan-keterangan tentang Uni Sovjet, mengenai perkembangan. perkembangan dalam negerinja dan politik luar negerinja, tidak terhitung surat-surat kabar selebihnja, jang terbit dalam republik- republik, jang telah memuat lebih dari seribu karangan-karangan serupa itu. Dan pers Sovjet hanja memuat 35 keterangan-keterangan pendek dan artikel tentang kita lain tidak. Ada sesuatu jang tidak diterangkan tentang negeri kita, tentang apa jang diutjapkan mengenai perkara kita, tentang apa jang dilakukan mengenai perkara kita. Bagaimanapun djuga kita merasa sedih bahwa rakjat Sovjet tidak mengetahui apa jang kita lakukan, karena mereka amungkin memperoleh kesan seakan-akan kita tidak menjukai mereka. Sebaliknja, kita berkeinginan supaja hal-hal ini diumumkan disana sehingga rakjat Sovjet dapat menjaksikan bahwa rakjat Jugoslavia sangat mentjintai mereka dan menghasratkan hubungan-hubungan jang terbaik dengan mereka. Hal-hal seperti ini sekali-kali tidak membantu kearah tjita-tjita jang dinjatakan dalam Pernjataan Belgrado.

Saja mengharap supaja pertentangan-pertentangan dan penjembunjian-penjembunjian jang tertentu ini jang masih ada akan dilenjapkan. Dalam hal ini kita sekali-kali tidak dapat disesali, kita telah berusaha sedapat mungkin. Tentu sadja sudah terang bagi Diereka semua dan akan tetap terang, bagaimana faham kita tentang perkembangan dalam negeri kita, bagaimana pandangan kita tentang perkembangan luar negeri, bagaimana kita menindjau perkembangan revolusi selandjutnja, dan sebagainja. Hal-hal ini tidak merupakan pcrbedaan-perbedaan jang sangat besar, tetapi segala sesuatu tidak dapat dimasukkan dalam satu atjuan sadja. Kita mempunjai konsepsi kita sendiri jang telah tumbuh dari pengalaman kita, dari kehidupan kita, dari djiwa dan raga rakjat kita. Kita telah menemui suatu djalan jang berhamparan darah dan kesukaran, tetapi jang telah memberi hasil-hasil, dengan mengikuti djalan ini kita makin lama makin mudah bergerak kedepan. Ini tidak akan mengganggu barang siapapun, dan djika kita semufakat dalam hal ini, maka semuanja akan beres.

Kita djuga mempunjai hubungan-hubungan baik dengan negeri-negeri lain, Polandia, Rumania, Hongaria, Bulgaria dan seterusnja. Kita lebih-lebih mempunjai hubungan baik dengan Polandia, denogan Rumania begitu djuga, dan hubungan-hubungan dengan Hongaria makin lama makin baik adanja. Kita telah menjelenggarakan hubungan-hubungan diplomatik dengan Djerman Timur, sedangkan kerdja-sama berlangsung dengan baik, dan saja pertjaja bahwa kemudian akan lebih baik lagi. Kita mempunjai hubunganhubungan baik dengan Tjekoslowakia djuga, meskipun hubungan. hubungan itu seharusnja dapat lebih baik lagi. Saja harus mengatakan disini bahwa mungkin seringkali terdjadi bahwa beberapa orang, bahkan seorang sadja, dapat merusakkan hubungan-hubungan antara dua buah negara. Sebaiknja hal-hal demikian tidak terdjadi, sebab kesudahannja tidaklah ada perlunja untuk menimbulkan djurang atau salah-pengertian , melainkan kerdja-sama setjara persaudaraan, antara Jugoslavia dan Tjekoslowakia, jang mempunjai pertalian tradisi diantara mereka.

Kawan-kawan, kini saja ingin mengemukakan sesuatu tentang hubungan-hubungan kita dengan Amerika. Saudara-saudara mengrfxsdfr5insjafi bahwa kita telah menolak bantuan militer selandjutnja. Saja tidak hendak mengulangi alasan-alasannja, sebab saja telah pernah sekali menjatakannja ; kita telah bitjarakan perkara ini baik setjara lisan maupun tulisan. Sesungguhnja tidaklah ada perlunja untuk terus-menerus menerima bantuan, didalam keadaan dimana Yugoslavia kini berada, karena ia tidak terantjam, dan djuga karena bantuan itu tidak memberi sesuatu hasil jang chusus lagi, sedangkan kadang-kadang bantuan demikian membatasi gerak-gerik kita sampai tingkat jang tertentu . Kita telah selesaikan perkara ini bersama-sama dengan Pemerintah Amerika setjara jang lajak sekali, kita telah mentjapai suatu pengertian jang memuaskan. Dengan tjara demikian itu kita memudahkan kedudukan mereka dalam Konggres dan perkara ini tidak memberi pengaruh jang merugikan pada hubungan-hubungan politik kita. Kini kita mempunjai hubungan-hubungan politik dan ekonomi jang baik sekali dengan Amerika dan saja beranggapan bahwa adalah kewadjiban kita untuk mendjaga supaja hubungan-hubungan ini tidak terganggu, tetapi mendjadi hubungan. hubungan jang sebaik mungkin.

Demikian pula halnja dengan negeri-negeri Barat. Hubunganhubungan kita dengan Inggeris adalah baik. Menurut hemat saja kita tidak mempunjai masalah-masalah apapun jang dapat setjara chusus mengeruhkan hubungan-hubungan ini. Jang ada hanjalah kampanje jang tak masuk akal dari Partai Buruh terhadap Jugoslavia, tetapi itu bukanlah soal jang resmi. Dengan Perantjis hubungan-hubungan kita telah dikeruhkan oleh peristiwa kapal jang setjara tidak sah ditahan dan barang muatannja dirampas. Perkara ini tidak kita biarkan dan tidak akan kita biarkan. Ini adalah soal lain lagi jang kita harus *selesaikan dengan Pemerintah Perantjis. Akan lebih mudahlah soalnja djika diketahui dengan pasti apa jang diangkut oleh kapal itu · dan kepunjaan siapa barang muatan itu. Tetapi kita djuga menhendaki hubungan-hubungan jang paling baik dengan Perantjis, karena banjak hal sedjak kedua peperangan jang lalu jang menghubungkan kita berdua. Kita sekali-kali tidak akan melupakan sambutan hangat jang dialami oleh utusan kita di Perantjis. Saja menaruh simpati jang mendalam terhadap rakjat Perantjis. Tetapi tentu sadja ini tidak berarti bahwa kita menjetudjui tindakan-tindakan jang tertentu dari pemimpin-pemimpin individuil, teristimewa pemimpin-pemimpin militer, terhadap orang-orang lain, maka itu hendaknja setiap orang insaf bahwa kita akan mengetjamnja.

Dengan Italia, sebagaimana saja telah katakan, kita mempunjai hubungan-hubungan baik. Dengan Junani hubungan-hubungan kita adalah sebagaimana seharusnja antara dua negeri. Dalam hal ini harapan-harapan akan kerdjasama telah berwudjud sebaik-baiknja antara kedua bangsa kita, antara kedua negara kita, dengan tidak mengindahkan sistim-sistim politik dalam negeri mereka. Dengan Turki hubungan-hubungan kita djuga tidak buruk. Djuga disini kita mempunjai hubungan-hubungan normal.

Dengan India, Indonesia, Mesir, atau djuga dengan Republik Arab Persatuan, dan Etiopia hubungan-hubungan kita baik sekali, dan I ada pula sedjumlah negeri-negeri lain dengan siapa kita mempunjai hubungan-hubungan jang sangat baik, diantaranja setjara chusus dengan Tiongkok. Kawan-kawan, negeri kita dan Pemerintah kita akan terus menerus menempuh djalan itu. Njatalah bahwa didalam kumpulan segala pertentangan internasional jang mungkin terdjadi, segala sengketa jang mungkin timbul, tidaklah mudah mendapatkan djalan jang *tepat, meskipun orang ingin melakukannja, supaja senantiasa dapat memelihara hubungan-hubungan dengan setiap negara sebagaimana jang diingini. Tetapi saja berpendapat bahwa teristimewa kita harus mengingat kepentingan-kepentingan dari masjarakat Sosialis. Ini jang pertama. Jang kedua, saja berpendapat bahwa dalam bekerdj sama dengan berbagai-bagai negeri kita harus memperhitungkan kepentingan-kepentingan bagi perdjuangan untuk perdamaian, untuk kesamarataan antara bangsa-bangsa, pendeknja, ini adalah anasir-anasir jang merupakan dasar dari politik luar negeri, politik ko-eksistensi dengan semua bangsa dengan tidak mengindahkan sistim-sistim politik dalam negeri.

Saja telah berbitjara tentang masalah-masalah ini dengan anggapan bahwa hal-hal ini perlu dikemukakan hari ini disini, karena tidaklah ada salahnja semua orang diseluruh dunia mendengarnja, djangan sampai mereka berkata, „Mereka itu agak pendiam; apakah pendapatmu tentang perkara anu?” Saja menganggap perlu untuk mengatakan ini supaja diketahui bahwa Jugoslavia tetap ditempatnja jang sama, dengan hasrat jang sama untuk berdjuang dan bekerdjasama untuk perdamaian seperti jang sudah-sudah, bahwa Jugoslavia tidak diasah oleh siapapun djua, dan tidak mungkin diingsut, sebab bangsa seperti bangsa Jugoslavia, kalau tahu apa jang dikehendakinja, tidak dapat diingsut. Seseorang mungkin mengatakan bahwa engkau sudah tidak ada lagi, akan tetapi engkau masih ada, sebab keadaan tidaklah bergantung pada apa kata orang, tetapi pada pribadi engkau sendiri. Oleh karena itu, kawan-kawan, mengenai politik luar negeri kita, politik mempererat kerdjasama dengan berbagai-bagai negeri, kita berada didjalan jang terbaik untuk lebih lagi memperluas dan memperdalam politik ini.

Saja ingin mengemukakan disini hari ini, bahwa tidaklah mudah bagi seseorang untuk bepergian kepelbagai negeri. Ditahun janglala saja tidak bepergian karena alasan-alasan jang telah diketahui orang, tetapi saja beranggapan bahwa adalah sangat berguna bagi negeri kita kalau ada diantara kita mengundjungi negeri-negeri lain, lebih-lebih djikalau kita diundang, djikalau kita merasa wadjib untuk pergi, tidak perduli bagaimana banjak waktu terpakai dan bagaimana sukaruja. Tahun ini saja perlu bepergian kenegeri-negeri jang telah mengundang saja, dan negeri-negeri itu djanh letaknja. Tentu sadja saja berharap bahwa pada waktunja disana djuga akan ada suasana damai, bahwa kita akan mendjumpai suatu keadaan seperti jang diingini bahwa bangsa-bangsa disana hendaknja berkembang dengan sendirinja tanpa tjampur-tangan dari negeri-negeri lain dalam urusan-urusan dalam negeri mereka.

Kawan-kawan, saja merasa perlu mengatakan sepatah dua patah kata tentang politik luar negeri, meskipun sudah banjak diperkatakan mengenai pokok ini. Saja tidak bermaksud untuk membitjarakan tentang sesuatu usul jang baru, karena tidak mempunjai alasan apa-apa untuk mengusulkan sesuatu jang baru. Baru-baru ini demikian banjak usul telah dikemukakan oleh pihak Sovjet dan usul-usul balasan oleh pihak lain sehingga kita tidak merasa perlu untuk menambahkan apa-apa lagi. Akan sukarlah untuk mentjari djalan keluar dari soal ini, dalam pengertian mengemukakan sesuatu usul jang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Saja beranggapan bahwa usul-usul Sovjet adalah realistis dan bahwa usul-usul ini seharusnja diterima, artinja, seharusnja diterima untuk mengadakan pertemuan puntjak, dengan djalan mengadakan terlebih dahulu suatu pertemuan menteri-menteri luar negeri, tetapi tidak dalam arti bahwa menteri-menteri luar negeri ini perlu memetjahkan perkara-perkara internasional, sebab apakah jang akan diperbintjangkan dalam suatu pertemuan puntjak djika hal itu dilangsungkan. Menteri-menteri luar negeri hanja dapat mengusut dan mengasah perkara-perkara, apalagi ada bahaja bahwa mungkin tidak akan menghasilkan apa-apa. Saja berkehendak supaja tjita-tjita umat manusia terlaksana dan bahwa suatu persetudjuan dapat ditjapai setjepat mungkin dan dengan demikian membebaskan dunia dari perasaan-perasaan ketjemasannja jang sangat menekannja dewasa ini, sehingga dunia dapat mentjurahkan perhatiannja kepada perkembangannja setjara damai dan kepada pembangunan masa depan jang lebih baik. Saja berharap semoga ini berhasil, dan kita, di Jugoslavia, dengan tidak mengindahkan bagaimana keadaan berlangsung diluar negeri, harus djuga menjelenggarakan urusan kita didalam negeri kita, karena kita sudah mempunjai arali jang pasti tentang perkembangan negeri kita. Kedudukan ekonomi kita baik dan saja berpendapat bahwa kedudukan itu akan makin baik selama tahun ini. Marilah kita berusaha sekuat tenaga kita dalam pembangunan masa-depan kita jang lebih baik dan lebih bahagia dan, tanpa mengindahkan siapa-siapa jang tersangkut, berichtiar melenjapkan pelbagai kekurangan dari kalangan kita, karena hal itu akan memberi kemungkinan kepada masjarakat kita untuk lebih giat lagi berkembang kearah pembinaan masa-depan sosialis jang lebih indah.

„Hidup Republik Rakjat Federal Yugoslavia!" Halaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/47 negeri selalu mengundjungi pelabuhan-pelabuhan Indonesia dan mendapat sambutan jang baik dari Rakjatnja. Agama Hindu dan Budha selalu berselisih dinegeri asalnja, tetapi di Indonesia kedua agama itu berdiri berdampingan. Berbagai pikiran dan kata-kata masuk dengan bebas di Indonesia untuk memperkaja warisan kebudajaan dan bahasa kita. Diabad-abad jang telah lampau, sebelum pendjadjahan kolonial mengasingkan kita dari tetangga-tetangga kita, bangsa Indonesia menerima dan memberi dengan bebas berdasarkan saling hormat-menghormati.

Tentang azas Kedaulatan Rakjat, dikatakan bahwa tidak suatu negeripun jang berdjiwa internasional dapat tidak-demokratis. Dibalik banjak kekurangan-kekurangannja, Indonesia adalah negeri dimana terdapat kemerdekaan berbitjara, kemerdekaan pers, kemerdekaan menganut sesuatu ideologi politik selama hal itu tidak melewati batas Undang-undang, kemerdekaan untuk menganut sesuatu kepertjajaan menurut kehendak sendiri. Untuk menambah itu adalah suatu tugas-kewadjiban jang penjelenggaraannja terletak dalam tangan Rakjat dan Pemerintah Indonesia, oleh karena ini tidak dapat ditjapai oleh hanja salah satu dari kedua pihak itu. Dalam tahun-tahun jang telah lalu kita dapat mempersalahkan pihak lain untuk segala keburukan kita. Tetapi sekarang kuntji kearah hasil baik ada ditangan kita sendiri untuk membuka pintu ketjita-tjita hati kita.

Azas Keadilan Sosial dari Pantja Sila merupakan salah satu tanggungdjawab jang terbesar bagi Pemerintah Indonesia untuk mengatasi kemiskinan, buta huruf. Azas ini terwudjud dalam mukaddimah Piagam P.B.B., jang berkata tentang tekad para anggautanja untuk mempertinggi kemadjuan sosial dan tingkat penghidupan dalam kebebasan jang lebih besar.

Tentang azas ke-Tuhanan Jang Maha Esa, dikatakan, bahwa walaupun sebagian terbesar penduduk Indonesia beragama Islam, banjak djuga terdapat orang-orang jang beragama Kristen; banjak pula terdapat orang-orang Hindu, Budha, dan orang-orang jang menganut agama Confusius atau agama Tao. Di Indonesia tiap-tiap warganegaranja mendapat kemerdekaan untuk menudju Tuhan menurut tjaranja sendiri. Persamaan lain jang dikemukakan oleh Presiden Soekarno ialah tentang apa jang tertjantum dalam Piagam P.B.B. jaitu keharusan,,untuk melakukan kesabaran dan hidup bersama dalam perdamaian satu sama lain sebagai tetangga jang baik". Dalam hal ini Presiden merasa bangga, karena Indonesia belum pernah melakukan per- buatan jang boleh dianggap bersifat serangan atau jang timbul dari sifat tamak terhadap wilajah tetangga-tetangga kita. Bangsa Indonesia adalah Bangsa jang suka damai, jang dianugerahi ruang-hidup jang luas dan kekajaan-kekajaan alam jang tak terhingga, jang sedang menunggu perkembangan. Halaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/50 kami jang dekat, persamaan soal-soal, seringkali hubungan darah dan kebudajaan, dan persahabatan jang dimiliki oleh mereka jang turut serta dalam perdjuangan besar menentang pendjadjahan asing.

Banjak diantara kami di Asia merasa darah mendjadi panas kalau mendengar sadja perkataan,,imperialisme" dan „kolonialisme", oleh karena perkataan-perkataan itu membawa kenang-kenangan jang luka-lukanja masih terlalu baru untuk dapat dilupakan dengan mudah.

Indonesia atas dasar kehormatan, wadjib menentang kolonialisme dan akan berbuat demikian, didalam lingkungan P.B.B. maupun diluarnja, sampai segala sisa-sisa kolonialisme lenjap dari muka bumi. Kalau kami tidak berbuat demikian, maka itu akan berarti pengchianatan terhadap mereka jang tidak memiliki kemerdekaan, jang menundjukkan harapan mereka kedunia merdeka agar memberikan kemerdekaan pula kepada mereka"..........

......,,Indonesia mendjadi anggauta P.B.B. untuk sedapat mungkin memberikan sumbangsih kepada usaha kearah pembentukan suatu dunia damai dan penuh persaudaraan dan kemakmuran, suatu dunia jang adil. Kearah itulah Indonesia akan menundjukkan segala tenaga dan usahanja untuk mendjundjung tinggi tjita-tjita luhur jang termaktub dalam Pantja Sila dan dalam Piagam P.B.B.”...... Halaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/52 kami orang toh harus menderita lagi kesengsaraan pendjara, hai apa boleh buat, moga-moga pergerakan seolah-olah mendapat wahju baru dan tenaga baru oleh karenanja, moga-moga Ibu Indonesia suka menerima nasib kami itu sebagai korban jang kami persembahkan diatas haribaannja, moga-moga Ibu Indonesia suka me- nerimanja sebagai bunga-bunga jang harum dan tjantik jang bisa dipakai menghiasi sanggul kondenja jang manis itu. Memang rohani kami tak adalah merasa masgul, rohani kami adalah berkata, bahwa segala apa jang kami tindakkan itu, adalah hanja kami punja kewadjiban, kami punja plicht.

Pemimpin India Bal Gangadhar Tilak jang besar itu, dimuka Mahkamah berkata: „Barangkali sudah kemauan Jang Maha Sutji, bahwa pergerakan jang kami pimpin itu akan lebih madju dengan kami punja kesengsaraan dan dengan kami punja kemerdekaan.

Perkataan Tilak ini kami djadikan perkataan kami sendiri. Djuga kami menjerahkan segenap raga dengan serela-relanja kepada tanah air dan bangsa, djuga kami menjerahkan segenap djiwa kepada Ibu Indonesia dengan seichlas-ichlasnja hati. Djuga kami adalah mengabdi kepada suatu tjita-tjita jang sutji dan luhur, djuga kami adalah berusaha ikut mengembalikan hak tanah-air dan bangsa atas peri-kehidupan jang merdeka. Tiga ratus tahun, ja walau seribu tahunpun, tidaklah bisa menghilangkan hak negeri Indonesia dan Rakjat Indonesia atas kemerdekaan itu. Untuk terlaksananja hak ini maka kami rela menderitakan segala kepahitan jang dituntutkan oleh tanah-air itu, rela menderitakan kesengsaraan jang dimintakan oleh Ibu Indonesia itu setiap waktu.

Memang tanah-air Indonesia, bangsa Indonesia, Ibu Indonesia, adalah mengharap dari semua putera-putera dan puteri-puterinja pengabdian jang demikian itu, penjerahan djiwa-raga jang tiada batas, pengorbanan diri walau jang sepahit-pahitnjapun kalau perlu, dengan hati jang sutji dan hati jang ichlas. Putera-putera dan puteri-puteri Indonesia haruslah merasa sajang, bahwa mereka untuk pengabdian ini, masing-masing hanja bisa menjerahkan satu badan sadja, satu roh sadja, satu njawa sadja, dan tidak lebih.

Sebab, tiada korban jang hilang terbuang, tiada korban jang sia-sia, “no sacrifice is wasted", begitulah Sir Oliver Lodge berkata. Dengan pengorbanannja sekarang, maka hari kemudian akan mendjadi lebih bertjahaja, lebih berseri, lebih berkilau-kilau lagi dari pada segenap kebesaran hari jang sediakala. Fadjar kebesaran baru, fadjar kemuliaan hari kemudian bagi kita itu, kini sudahlah menjingsing, fadjar itu makin lama makin terang, dan walau dihalang-halangi oleh kekuatan manusia jang bagaimanapun djuga, walau ditjegah oleh kekuatan-wadag dari negeri manapun djuga, walau ditjegah oleh segenap kekuatan-duniawi daripada segenap negeri diatas segenap muka bumi ini, ia tidak boleh tidak harus, tentu, pasti akan diikuti oleh terbitnja matahari jang menghidupkan segala sesuatu jang harus hidup dan mematikan segala sesuatu jang harus mati. Segala daja-dajanja kegelapan akan hantjur-tjairlah sebagai saldju dihadapan sinar matahari ini, segala awan-awan gelap jang menjuramkan angkasa akan musnahlah tertiup oleh angin hangat jang keluar daripadanja.

Rakjat Indonesia sudah bersedia dengan hati jang memukul-mukul akan menghormati terhitnja matahari itu. Dengan Rakjat Indonesia itu kami menderita kesengsaraan, dengan Rakjat Indonesia itu kami menunggu putusan Tuan-tuan Hakim.

Memang kami berdiri dihadapan Mahkamah Tuan-tuan ini bukanlah sebagai Soekarno, bukanlah sebagai Gatot Mangkoepradja, bukanlah sebagai Maskoen atau Soepriadinata, -kami orang berdiri disini ialah sebagai bagian-bagian daripada Rakjat Indonesia jang berkeluh-kesah itu, sebagai putera-putera Ibu Indonesia jang setia dan bakti kepadanja. Snara jang kami keluarkan didalam gedung mahkamah sekarang ini, tidaklah tinggal diantara tembok dan dinding-dindingnja sadja, suara kami ini adalah didengar-dengarkan pula oleh Rakjat jang kami abdi, mengumandang kemana-mana, melintasi tanah datar dan gunung dan samudera, ke Kotaradja sampai ke Fak-fak, ke Ulu Siau dekat Menado sampai ke Timor. Rakjat Indonesia jang mendengarkan suara kami itu, adalah merasa mendengarkan suaranja sendiri.

Putusan Tuan-tuan Hakim atas usaha kami orang, adalah putusan atas usaha Rakjat Indonesia sendiri, atas usaha Ibu Indonesia sendiri. Putusan bebas, Rakjat Indonesia akan bersukur, putusan tidak bebas, Rakjat Indonesia akan tafakur. Kami memudjikan Tuan-tuan mempertimbangkan segala hal-hal ini. Dan sekarang, didalam bersatu hati dengan Rakjat Indonesia itu, didalam bakti dan bersudjud kepada Ibu Indonesia jang kami tjintai itu, didalam kepertjajaan bahwa Rakjat Indonesia dan Ibu Indonesia akan terus nanti mendjadi mulia, nasib jang bagaimana- pun djuga mengenai kami, maka kami siap sedia mendengarkan putusan Tuan-tuan Hakim!".......... Halaman:Beberapa fikiran dan pandangan.pdf/56 diatas djembatan itu kereta-kemenangan dikusiri oleh lain orang selain Marhaen. Seberang djembatan itu djalan petjah djadi dua; satu kedunia kesengsaraan Marhaen, satu kedunia keselamatan Marhaen. Satu kedunia sama-ratap-sama-tangis, satu kedunia sama-rasa-sama rata. Tjelakalah Marhaen, bilamana kereta itu masuk keatas djalan jang pertama, menudju kealamnja kemodalan Indonesia dan kebordjuisan Indonesia! Oleh karena itu, Marhaen, awaslah, awas! Djagalah jang kereta-kemenangan itu nanti tetap didalam kendalianmu, djagalah jang politieke macht nanti djatuh didalam tanganmu, didalam tangan besimu, didalam tangan badjamu!

Kamu sekarang mendengar dari kanan-kiri sembojan, kerakjatan. Kaum radikal bersembojan kerakjatan, kaum reformis bersembo. jan kerakjatan, kaum bantji bersembojan kerakjatan, ja, kaum bordjuis dan ningratpun bersemhojan kerakjatan. Kamu sering mendengar sembojan demokrasi. Tetapi apakah satu-satunja demokrasi jang bagi Marhaen dan dari Marhaen? Apakah satu-satunja demokrasi jang oleh partai-pelopor harus dituliskan dengan aksara-aksara api diatas benderanja, sehingga terang bisa terbatja disaat terang, dan lebih terang lagi disaat rintangan-rintangan jang gelap gelita?" ........ ,,Marilah ingat akan bagaimana kadang-kadang palsunja sembojan demokrasi, jang tidak menolong Rakjat djelata, bakkan sebaliknja mengorbankan Rakjat djelata, membinasakan Rakjat djelata, sebagaimana telah terdjadi didalam revolusi Perantjis. Bolehkah demokrasi ini mendjadi impian kita? Tidak! dan sekali tidak! Ini tidak boleh mendjadi demokrasi jang harus kita tiru. Tidak boleh mendjadi demokrasi jang dengan aksara api harus dituliskan diatas bendera-bendera partai-pelopornja massa-aksi Indonesia. Sebab demokrasi jang begitu hanja demokrasi parlemen sadja, demokrasi politiek sadja. Demokrasi ekonomi, kerakjatan ekonomi, kesama-rasa-sama-rataan ekonomi tidak ada, tidak adapun bau-baunja sedikit djuga.”

…..,,Bagaimana demokrasi jang harus dituliskan diatas bendera kita, jang harus kita adakan diseberang djembatan-emas? Demokrasi itu haruslah demokrasi baru, demokrasi sedjati, demokrasi jang sebenar-benarnja pemerintahan Rakjat. Bukan demokrasi a la Eropah dan Amerika jang lanja suatu „potret dari partainja" demokrasi-politik sadja, bukanpun demokrasi jang mengasih kekuasaan 100% pada Rakjat didalam urusan politik sadja, tetapi suatu demokrasi politik dan ekonomi jang mengasih 100% ketjakrawartian kepada Rakjat djelata didalam urusan politik dan urusan ekonomi. Demokrasi politik dan ekonomi inilah satu-satunja demokrasi jang boleh dituliskan diatas bendera partai-pelopor, dengan aksara-aksara api. agar supaja menjala-njala tertampak dari ladang dan sawah dan bingkil dan pabrik dimana Marhaen berkeluh-kesah mandi keringat mentjari sesuap nasi.

Dengan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi itu, maka nanti diseberang djembatan-emas masjarakat Indonesia bisa diatur oleh Rakjat sendiri sampai selamat, dibikin mendjadi suatu masjarakat jang tiada kapitalisme dan imperialisme. Dengan demokrasi politik dan ekonomi itu, maka nanti Marhaen bisa mendirikan staat Indonesia jang tulen staatnja Rakjat, suatu staat jang segala urusannja politik dan ekonomi adalah oleh Rakjat, dengan Rakjat, bagi Rakjat.

Inilah demokrasi sedjati jang kita tjita-tjitakan, dan jang disebutkan dengan nama baru socio-demokrasi, Inilah demokrasi tulen jang hanja bisa timbul dari nasionalisme Marhaen, dari nasionalisme jang didalam batinnja sudah mengandung kerakjatan-tulen, jang anti tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme, walaupun dari bangsa sendiri, jang penuh dengan rasa-keadilan dan rasa-kemanusiaan, jang menolak tiap-tiap sifat kebordjuisan dan keningratan. Nasionaliame kerakjatan jang saja sebutkan pula dengan nama baru socio-nasio- nalisme. Hanja socio-nasionalisme bisa melahirkan socio-demokrasi. Nasionalisme lain tidak bisa dan tidak akan melahirkan socio-demokrasi."..........