Lompat ke isi

Album Wayang Kulit Banjar

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
 

ALBUM

BANJAR SHADOW PUPPET

Mujiyat, S.Sn.

Koko Sondari, S.Sn

Ministry of Culture and Tourism

Culture and Tourism Development Board

2002

Kata Sambutan

SAMBUTAN KEPALA
DIREKTORAT TRADISI DAN KEPERCAYAAN

Budaya Indonesia yang beraneka ragam merupakan kekayaan yang sangat perlu dilestarikan dan dikembangkan terus-menerus agar masyarakat saling memahami, sehingga dapat tercipta kerukunan antar suku, sebagaimana digariskan dalam GBHN 1999-2004.

Satu di antara usaha untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan penyebarluasan informasi mengenai budaya bangsa melalui Album Seni Wayang Banjar kepada masyarakat, khususnya generasi penerus. Oleh karena itu kami sangat gembira dengan terbitnya album hasil kegiatan Proyek Pemanfaatan Kebudayaan ini sebagai salah satu upaya memperluas cakrawala budaya.

Dengan dipilihnya wayang Banjar sebagai objek tulisan dalam buku ini, diharapkan wayang yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas akan lebih memasyarakat sehingga orang yang selama ini lebih mengenal wayang sebagai produk budaya Jawa, Bali, dan Sunda akan mengetahui bahwa etnis Banjar juga memiliki wayang sebagai salah satu hasil budaya masyarakat tersebut. Mudah-mudahan pada kesempatan lain dapat ditampilkan jenis wayang dari etnis Sasak dan Palembang.

Dari tulisan ini diharapkan juga masyarakat secara umum dapat mengenal berbagai khasanah budaya yang ada di Indonesia, selanjutnya dapat menghayati nilai-nilai luhur budaya yang ada di Indonesia dan ikut berperan serta dalam pelestarian dan pengembangannya. Dengan demikian akan terjalin keakraban masyarakat dengan lingkungan sosial budayanya, serta akhirnya dapat menghindari kesalahpahaman yang timbul karena perbedaan budaya.

Dengan terbitnya Album Seni Wayang Banjar ini, diharapkan pula dapat menimbulkan kecintaan terhadap keanekaragaman budaya bangsa dalam rangka membina kesatuan dan persatuan bangsa.

Meskipun album ini belum sempurna dan lengkap, diharapkan pada masa-masa mendatang dapat diperbaiki kekurangan-kekurangannya.

Akhir kata sebagai penutup, kepada semua pihak yang telah membantu dan berperan dalam penerbitan buku dari persiapan hingga selesai, kami ucapkan terima kasih.

Jakarta, 18 November 2002,
Kepala Direktorat Tradisi dan Kepercayaan,

cap dan ttd.

Abdurrahman


Daftar isi

1

Kata Sambutan

2

Kata Pengantar

3

Asal-usul

Wayang Kulit Banjar

4

Foto-foto

Wayang Kulit Banjar

6 s.d 79

Daftar Pustaka

80

Daftar informasi

81

Kata Pengantar

Proyek Pemanfaatan Kebudayaan dalam tahun anggaran 2002 ini, melakukan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan Pencetakan dan Pendistribusian Album Seni wayang Banjar.

Penerbitan Album lni dilakukan dengan tujuan meningkatkan apresiasi masyarakat khususnya generasi muda terhadap budaya bangsa yang beraneka ragam. Album ini selanjutnya juga diharapkan masyarakat secara umum dapat menghayati nilai-nilai luhur budaya bangsa dan ikut berperan serta dalam usaha pelestarian, pembinaan dan pengembangan budaya bangsa.

Album ini tentunya masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritikan dan saran akan kami terima dengan senang hati. Akhirnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian buku ini, kami sampaikan ucapan terima kasih.

Jakarta, Oktober 2002
Proyek Pemanfaatan Kebudayaan
Pemimpin,

cap dan ttd.
Drs. Safron Rasyidi
NIP. 132 058 061

PENDAHULUAN

1. Kesejajaran

[sunting]

Arti harafiah dari wayang adalah bayangan, tetapi dalam perjalanan dari waktu ke waktu pengertian wayang itu mengalami perubahan yang bergeser pengertiannya menjadi seni pertunjukan panggung (Pandam Gurito, ?) Hal ini mungkin karena pada perkembangan selanjutnya wayang tidak hanya dipertunjukkan dalam bentuk bayangan, tetapi juga dalam bentuk visualisasi lain seperti : Wayang Golek, Wayang Cepak, Wayang Beber, Wayang Wong dan sebagainya.

Mengenai asal-usul pertunjukan wayang sampai saat ini masih simpang - siur. Dr. N.J. Krom berpendapat bahwa seni pertunjukan wayang berasal dari India Barat, namun pendapat itu dibantah oleh Dr. GA. J. Hazeu dalam desertasinya yang berjudul " Birjdrage tot de Kennnis Van Het Javaansehe Toneel ", ia berpendapat bahwa pertujukan bayang-bayang adalah asli seni pertunjukan Jawa. Selain pendapat kedua pakar tersebut di atas, ada lagi pakar yang berpendapat, bahwa sebenarnya wayang itu merupakan buah akulturasi dari kebudayaan Jawa dan kebudayaan Hindu-India.

Pada perkembangan selanjutnya ternyata pertunjukan wayang sangat digemari oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia, persebaranya tidak hanya terbatas di pulau jawa, tetapi juga menyebarluas ke pulau-pulau lainnya seperti Bali, Nusa Tenggara, Sumatra, Kalimantan, Dan sebagainya.

Di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan pertunjukan wayang kulit mulai dikenal sekitar awal abad ke-XIV. Pernyataan ini diperkuat karena sekitar tahun 1300 sampai dengan tahun 1400 Majapahit telah menguasai sebagian wilayah Kalimantan sebagai jajahan ( Tjilik Riwut: 1993). Majapahit yang telah menganut ajaran Hindu waktu datang ke Kalimantan menyebarkan agama yang dianutnya itu tidak dengan jalan kekerasan, tetapi melalui pertunjukan wayang kulit.

Konon Pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Andayaningrat membawa serta seorang dalang wayang kulit yang bernama R. Sakar Sungsang lengkap dengan para pengrawitnya. Pergelaran wayang kulit yang dimainkan oleh R. Sangkar Sungsang itu kurang dapat dinikmati oleh masyarakat Banjar karena lebih banyak menggunakan repertoar dan ideom-ideom Jawa.

Pada saat memudarnya kerajaan Majapahit dan mulai berdirinya kerajaan Islam (1526 M), pertujukan wayang kulit mulai diadaptasi dengan muatan-muatan lokal yang di pelopori oleh Datuk Toya. "Penyesuaian" itu terus berlangsung sampai awal abad Ke-XVI, perlahan-lahan wayang kulit itu berubah, sesuai dengan citra rasa dan estetika masyarakat setempat.

Sekarang Wayang Kulit Banjar telah menjadi seni pertujukan yang berdiri sendiri dan memiliki ciri-ciri spesifik yang membedakannya dengan jenis-jenis wayang kulit lainnya, baik dari segi bentuk wayangnya, musik/gamelan pengiringnya, ataupun cara memainkannya.

2. Bahan dan Bagian Wayang

[sunting]

Bahan yang digunakan untuk membuat wayang kulit di Jawa biasanya adalah kulit/belulang kerbau, dan yang terbaik adalah kerbau yang kudisan. Mengingat di Kalimantan Selatan binatang itu kurang dibudidayakan, maka bahan untuk membuat wayang kulit Banjar umumnya adalah kulit sapi, bahkan ada pula yang terbuat dari kulit kambing. Kulit tersebut dibentuk, ditatah, dan diberi warna sesuai dengan karakter masing-masing wayang. Sebagai pelengkap, agar wayang tersebut dapat berdiri dan bisa dimainkan ia harus diberi penjepít (gapit) yang terbuat dari kayu ulin. Üntuk menyambung tangan dilengkapi tudung agar tangan wayang tersebut dapat bergerak sesuai dengan kehendak dalang.

Secara umum bentuk atau fostur wayang kulit Banjar lebih kecil jika dibandingkan dengan wayang kulit Jawa, demikian pula dengan penatahan (ornamen) dan pengecatannya terlihat sangat sederhana. Hal ini disebabkan dalam pergelaran wayang kulit Banjar yang lebih diutamakan oleh bayangannya yang terlihat dari belakang layar, sedangkan mengenai ornamen, detail, dan warna wayang kurang terlihat oleh penonton karena tertutup oleh layar.

3. Waktu dan Tempat Pertunjukan

[sunting]

Konon nenek moyang bangsa Indonesia menganut kepercayaan politiesme, yaitu suatu kepercayaan yang menyembah beberapa Tuhan. Untuk meghormati suatu benda yang dianggap memiliki kekuatan spiritual mereka sering melakukan upacara pemujaan dengan menggunakan wayang sebagai medianya. Upacara ini biasanya dilakukan pada malam hari, karena mereka beranggapan bahwa roh-roh leluhur itu akan muncul di waktu malam. Bermula dari upacara-upacara ritual itulah akhirnya seni wayang tumbuh dan berkembang di beberapa wilayah Indonesia.

Sejak wayang kulit masuk ke daratan Kalimantan Selatan, pergelaran wayang kulit Banjar selalu dilaksanakan pada malam hari, sesuai dengan tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun. Apakah ini ada kaitannya dengan kepercayaan animisme/politiesme ? Untuk menjawab pertanyaan yang tampak sederhana ini tentu diperlukan penelitian dan pengkajian yang lebih luas dan mendalam.

Wayang kulit Banjar biasa dipertunjukan pada berbagai kesempatan seperti khitanan, upacara peresmian, perkawinan, hari-hari besar nasional, atau untuk memenuhi nazar/kaul seseorang. Tempat pertunjukan bisa dimana saja, ditanah yang lapang, di alun-alun, atau pendopo yang diperkirakan dapat menampung jumlah penonton. Demikian juga dengan penonton, ia dapat duduk di kursi yang telah disediakan, berjongkok, berdiri, atau lesehan sesuai dengan keinginan.

Posisi tontonan biasanya lebih tinggi daripada penonton, atau dibuat panggung khusus untuk para awak pentas, lengkap dengan layar dan alat penerangannya (blencong). Di sisi kiri dan kanan dalang dipasang wayang secara berjejer/berbaris, sementara para penabuh gamelan duduk di belakang dalang sambil menghadapi alat musiknya masing-masing.

4. Cerita atau Lakon

[sunting]

Seperti kebanyakan jenis pertunjukan wayang-wayang lainya, cerita Wayang Kulit Banjar pun bersumber kepada dua kitab kuno yang berasal dari khasanah kebudayaan Hindu, yaitu Ramayana dan Mahabarata.

Selain bersumber kepada kedua cerita tersebut, dalang-dalang wayang kulit Banjar sering pula menampilkan cerita karangan sendiri yang mereka sebut lakon "Carang". Pada perkembangan selanjutnya, justru lakon-lakon Carang inilah yang paling banyak ditampilkan para dalang, mereka merasa lebih bangga jika menampilkan lakon-lakon/gubahan sendiri, daripada menampilkan cerita-cerita pakem yang sudah menjadi milik masyarakat.

Selain lakon Carang, di Kalimantan Selatan juga berkembang pertunjukan "Wayang Sampir", yaitu upacara ritual yang dipimpin dalang untuk mengusir roh-roh jahat yang menggangu kehidupan manusia. Pertunjukan ini biasanya diselenggarakan dalam bentuk pergelaran padat dengan durasi lebih kurang dari satu sampai dua jam, kemudian dilanjutkan dengan pagelaran biasa.

ALBUM

BANJAR SHADOW PUPPET




Mujiyat, S.Sn.
Koko Sondari, S.Sn

1. GUNUNGAN/KAYON
1. GUNUNGAN/KAYON

1. GUNUNGAN / KAYON

Gunungan merupakan lambang keadaan dunia, dalam gunungan terdapat lambang kehidupan hewan, tumbuhan, dan juga manusia sebagai mahluk homo sapiens. Di dalam pakeliran, gunungan mempunyai peran ganda, sebagai lambang api, samudera, gunung, dan juga sebagai pintu gerbang istana. Gunungan selalu terpakai dalam setiap adegan, gunung muncul sebelum pergelaran dimulai, gunungan juga sebagai pertanda, dan selanjutnya setiap ganti adegan diselingi gunungan sebagai tanda, demikian juga saat pakeliran itu berakhir gununganlah yang mengakhirinya.

1. GUNUNGAN/KAYON Gunungan is a symbol of universe, in which there are symbols of animal, plant, and human being or homo sapiens. In a pakeliran, which is a wayang stage with its screen (kelir = screen), gunungan represents fire, ocean, and the gate of a palace. It is used in every scene. Before a performance, gunungan will appear. Gunungan is also used in between scenes, and it marks the end of a performance. 2. SANGHYANG PRAMESTIGURU

Sanghyang Pramestiguru adalah putera Sanghyang Tunggal dengan Dewi Wirandi putri raja Jin Prabu Yuyut di negara Keling. la bersemayam di Kayangan Alang-alang Kumitir. Sanghyang Pramestiguru mempunyai dua permaisuri, Dewi Umayi dan Umarekti. Dewi Umayi mempunyai 6 (enam) orang anak : Batara Sambo, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, Batara Wisnu, dan Batara Kala. Sedangkan dari Dewi Umarekti mempunyai 3 (tiga) orang anak : Batara Cakra, Batara Mahadewa, dan Batara Asmara. Sanghyang Pramestiguru adalah raja yang memimpin tiga dunia, yang syarat dengan jimat sakti dan bersenjatakan:

  1. Cis Kalaminta (tombak)
  2. Trisula (tombak bermata tiga)
  3. Aji Kawrastawan (kewaspadaan)
  4. Aji Pangabaran (penolak santet)
  5. Aji Kamayan (merubah wujud)

2. Sanghyang Pramestiguru

2. SANGHYANG PRAMESTIGURU

Sanghyang Pramestiguru is the son of Sanghyang Tunggal and his wife, Dewi Wirandi, whom is the daughter of a Genie King called Prabu Yuyut,of Keling. He is the ruler of Kayangan Alang-alang Kumitir. He has two queens, which are Dewi Umayi and Dewi Umarekti. Dewi Umayi bore him six children, which are Batara Samba, Batara Brahma, Batara Indra, Batara Bayu, Batara Wisnu, and Batara Kala. From Dewi Umarekti he has three children, which are Batara Cakra, Batara Mahadewa, and Batara Asmara. Sanghyang Pramestiguru is the king of three worlds, with plenty of powerful amulets, and possesses the following weapons:

  1. Cis Kalaminta (spear)
  2. Trisula (three pointed spear)
  3. Aji Kawrastawan (alertness)
  4. Aji Kamayan (the ability to change his physical appearance)
  5. Aji Pangabaran (the power to ward off black magic) 3. BATARA NARADA

Batara Narada adalah putera Sanghyang Catur Kanwaka dengan Dewi Laksani, karena itu disebut juga dengan Sanghyang Kanwa Putra, Ia bersemayam di Kayangan Sidik Pangudal. Sanghyang Narada mempunyai 3 (tiga) orang putera. Sanghyang Pritanjala, Dewi Tiksnawati, dan Sanghyang Caturwana. Kemudian batara Narada kawin dengan Dewi Wiyodi dan mempunyai 2 (dua) orang anak; Dewi Kanekawati dan Batara Malangdewa. Batara Narada adalah seorang patih di Kayangan Suralaya, yang sangat alim, pandai dalam segala ilmu pengetahuan, periang, jujur, untuk itu perkataannya sangat dipatuhi oleh siapa saja.

3. BATARA NARADA

Batara Narada is the son of Sanghyang Catur Kanwaka and Dewi Laksani, therefore he is also called Sanghyang Kanwa Putra (Putra = Son). He lives in the kayangan (kingdom of the gods) of Sidik Pangudal. He has three children. They are Sanghyang Pritanjala, Dewi Tiksnawati, and Sanghyang Caturwana. Then he married Dewi Wiyodi, who bore him two children named Dewi Kanekawati and Batara Malangdewa.

Batara Narada is a patih (Prime Minister) of Kayangan Suralaya. He is very devout and has a great knowledge; he is also cheerful and honest. Those are the qualities that make his words complied by any god or human being.

3. BATARA NARADA

4. BATARA BRAHMA

4. BATARA BRAHMA

Batra Brahma adalah Dewa Api, putera Sanghyang Pramesti Batara Guru, ia bersemayam di kayangan Kuta Miring (Jawa: Kayangan Deksina Geni). Kesaktian Batara Brahma dapat membinasakan dan membasmi segala bentuk kejahatan yang mengotori dunia dengan api saktinya. Batara Brahma beristrikan Dewi Saraswati puteri Hiyang Pancaweda. Sanghyang Brahma merupakan awal mula yang menurunkan para Pandawa. Sanghyang Brahma bermata kedondongan, berhidung sembada dan berbibir rapat, Ia bermahkota, menandakan ia dewa yang mempunyai kekuasaan.

4. BATARA BRAHMA

Batara Brahma, which is the god of fire, is the son of Hyang Pramesti Batara Guru who lives in the kayangan of Kuta Miring (in Java = Kayangan Deksina Geni). With his fire, he has the power to destroy all forms of evil that contaminate the world.

Batara Brahma is married to Dewi Saraswati, the daughter of Hyang Pancaweda. Batara Brahma is the progenitor of the Pandawas. Batara Brahma is depicted with kedondongan eyes, sembada nose, and closed mouth. He wears a crown, which indicates that he is a good with power. 5. BATARA INDRA

Batara Indra adalah putera Batara Guru. Dewa ini cukup berkuasa di sebagian Jonggring Salaka, tempat tinggal Batara Guru yang disebut juga dengan Tinjomaya. la berkuasa memerintah segala dewa atas titah Batara Guru. Disamping itu Batara Indra juga menentukan hadiah-hadiah untuk para manusia yang telah berjasa kepada dewa. Batara Indra mempunyai istri Dewi Wiyati, dan berputra tujuh orang sebagai berikut:

  1. Dewi Tara
  2. Dewi Tari
  3. Batara Citrarata
  4. Batara Citragana
  5. Batara Jayantaka
  6. Batara Jayantara
  7. Batara Harjunawangsa

Batara Indra mempunyai perwatakan, pengasih, penyayang dan pecinta seni serta keindahan.

5. BATARA INDRA

Batara Indra is the son of Batara Guru. He rules part of Jonggring Salaka -- which is also known as Tinjomaya -- where Batara Guru lives. He has the power over all gods with a mandate from Batara Guru. He also determines what to give to people who do a good turn.to the gods. His wife is Dewi Wiyati, who bore him seven children. Their names are the following:

  1. Dewi Tara
  2. Dewi Tari
  3. Batara Citranata
  4. Batara Citragana
  5. Batara )ayantaka
  6. Batara Jayantara
  7. Batara Harjunawangsa

Batara Indra is a caring and kind god, and he loves art and aesthetics.

5. BATARA INDRA 6 BATARA KAMAJAYA

6. BATARA KAMAJAYA

Menurut versi pedalangan Banjar Batara Kamajaya adalah dewa penjaga "Bidadari Kayangan "dan ia bersemayam di Kayangan Tunjungmaya sebagai dewa cinta. Permaisuri Batara Kamajaya adalah Dewi Kamaratih putri Sanghyang Soma. Menurut kepercayaan orang Jawa, pada waktu seorang wanita hamil pertama biasanya diadakan selamatan (di Banjar dinamakan upacara Mandi-mandi). Dalam selamatan tersebut biasanya disajikan satu pasang kelapa gading yang dilukis / digambari Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Hal ini diharapkan semoga mendapat berkah dari Dewa dan Dewi tersebut. Batara Kamajaya, bermata jaitan (sipit) , berhidung mancung dan bergigi hitam. Berpakaian ala dewa, tetapi pada bagian kepala seperti satria. Batara Kamajaya kalau dalam versi Jawa bersemayam di Kayangan Cakrakembang

6. BETARA KAMAJAYA

According to the Banjar version of shadow puppet, Betara Kamajaya is the god who "guards the angels in heaven. He lives in Tunjungmaya as the god of love. His spouse is Dewi Kamaratih, who is the daughter of Sanghyang Soma. Javanese people believe that a ceremony should be performed during a woman's first pregnancy. Among the B anjar people, the ceremony is known as the Mandi-mandi. In the ceremony, there are usually a pair of yellow coconut (kelapa gading), each with a picture of Dewa Kamajay a and Dewi Kamaratih. The people hope that the god and goddess will give their blessing. Betara Kamajaya has jaitan eyes (slanting), sharp and well-shaped nose, and black teeth. He dresses like a god, but his headdress is like that wom by a knight. In Javanese version, Betara Kamajaya lives in the kayangan of Cakrakembang. 7. BATARA ASMARA

Batara Asmara adalah Dewa Kesenangan. Menurut kepercayaan barang siapa mendapat kesenangan, ia diperkirakan di lindungi oleh dewa ini. Oleh karena itu Batara Asmara sering menyamar dan menggoda manusia, hingga manusia membuka hatinya untuk kesenangannya. Batara Asmara bermata jaitan, hidung mancung, bermahkota menunjukkan ia dewa, bersunting kembang kluwih dan berjamang. Batara Asmara adalah anak bungsu Sanghyang Manikmaya dengan Dewi Umarekti. la diberi tugas mendamaikan suami istri yang bercerai, sehingga menjadi pasangan yang penuh dengan cinta kasih dan hidup bahagia.


7. BATARA ASMARA

Batara Asmara is the god of pleasure. It is believed that whoever has a pleasure is protected by this god.That is why Batara Asmara often travels in disguise and tempted human beings to open their hearts to pleasure.
Batara Asmara has jaitan eyes (slanting), sharp and well-shaped nose, and wears a crown indicating that he is a god. He wears kluwih (breadfruit) flower in his hair and wears jamang.
Batara Asmara is the youngest child of Sanghyang Manikmaya and Dewi Umarekti. His task is to reunite divorced pairs and turn them into pairs that are full of love and live happily.

7. BATARA ASMARA 8. BATARA KALA/GUNDAWIJAYA

Batara Kala dilahirkan dari api yang berkobar dan sulit dipadamkan. Pada waktu itu segenap dewa berupaya dengan segala kesaktiannya namun tidak ada yang berhasil memadamkannya, kemudian api berubah menjadi raksasa yang tak terhingga besarnya dan naiklah ia ke kayangan (Kerajaan Dewa) untuk menanyakan bapaknya. Oleh karena Batara Guru sangat khawatir kalau ia mengamuk dan menimbulkan bencana lebih besar, maka kemudian ia diakui sebagai anak Batara Guru. Setelah diakui sebagai anaknya, maka dicabutlah kedua taring (siung) dan kemudian dicipta menjadi senjata, yang kemudian diberikan kepada Arjuna dan Karna. Raksasa tersebut oleh Batara Guru kemudian diberi nama Batara Kala, yang berarti Dewa Waktu dan ia dititahkan bertempat tinggal di Nusakambangan.

8. BATARA KALA/GUNDAWlJAYA

Batara Kala was born from a blazing fire that was not easily extinguished. The gods tried to put out the fire with their powers but failed. Then the fire turned into a huge giant, who then ascended to kayangan (the kingdom of the gods) asking for his father. Worrying that the giant will got angry and cause further damage, Batara Guru adopted the giant as his son. Then he took the giant's incisors and made them into weapons. He then give the weapons to Arjuna and Karna. Batara Guru named the giant Batara Kala, meaning the god of time, and told him to live jn Nusakambangan.

8. BATARA KALA/GUNDAWIJAYA
9. DEWA MANDU/ARJUNAWIJAYA
9. DEWA MANDU/ARJUNAWIJAYA

9. DEWA MANDU/ARJUNAWIJAYA

Dewa Mandu adalah keturunan Batara Surya, anak Prabu Kartawirya Raja Maespati. Permaisurinya bernama Dewi Citrawati anak Prabu Citragada dari kerajaan Magada. la merupakan titisan / penjelmaan dari Hyang Wisnu, maka ia dapat salin rupa (berubah wujud) menjadi raksasa besar yang bertangan seribu. Dewa Mandu kalau di Jawa terkenal dengan Arjuna Sasrabahu, yang artinya bertangan seribu. Akhir riwayat Dewa Mandu mati terkena senjata sakti Resi Jamadagni. Pada waktu itu Rama Bergawa sedang berkelana mencari jalan kematian, ia bertemu dengan Dewa Mandu, mereka akhirnya perang tanding dan Dewa Mandu terkena panah sakti Rama Bargawa hingga menemui ajalnya. Setelah Dewa Mandu mangkat kedudukan tahta kerajaan Maespati digantikan oleh anaknya dengan gelar Prabu Rurnaya.

9. DEWA MANDU/ARJUNAWIJAYA

Dewa Mandu is the descendant of Batara Surya. He is the son of Prabu Kartawijaya, who is the king of Maespati. His queen is Dewi Citrawati, the daughter of Prabu Citragada from the Magada kingdom. He is the incarnation of the Hyang Wisnu, and therefore can turn himself into a big giant with a thousand arms. In Java, Dewa Mandu is known as Arjuna Sasrabahu, which means Arjuna with a thousand arms. Dewa Mandu was killed by the powerful weapon of Resi Jamadagni. It is said that Rama Bargawa was making a voyage in search for the way of death when he met Dewa Mandu. They came into a fight, and Dewa Mandu was killed by the powerful arrow of Rama Bargawa. The throne of the Maespati kingdom

was then given to his son, who is called Prabu Ruryana.
10. BATARA NAGARAJA
10. BATARA NAGARAJA

10. BATARA NAGARAJA

Nagaraja adalah raja ular yang bersemayam di sumur Jalatunda. la mempunyai dua orang anak bernama Dewi Pratiwi dan Bambang Pratiwanggana. Nagaraja adalah mertua Batara Wisnu, yang kawin dengan putrinya Dewi Pratiwi. Perkawinan dewi Pratiwi dan Dewa Wisnu mempunyai dua orang anak, Bambang Setija dan Dewi Siti Sendari. Maka setelah Setija menjadi raja di Surateleng (Trajutresna) Nagaraja diangkat sebagai penasehat Kerajaan Trajutresna. Nagaraja walaupun berujud ular ia diberi gelar Batara, dan oleh para dewa ia diberikan mahkota sebagai tanda bahwa ia kedudukannya sejajar dengan dewa.

10. BATARA NAGARAJA

Nagaraja is a serpent king who lives in the Jalatunda well. He has two children named Dewi Pratiwi and Bambang Pratiwanggana. Nagaraja is the father in law of Batara Wisnu, who married his daughter, Dewi Pratiwi. Batara Wisnu and Dewi Pratiwi have two children, Bambang Setja and Dewi Siti Sendari. When Setija became the king of Surateleng (Trajutresna), Nagaraja was appointed as the advisor of the Trajutresna kingdom. Despite his physical appearance as a serpent, Nagaraja was given the title Batara, and the gods give him a crown indicating that his status is similar to that of a god.
11. SANGHYANG ISMAYA / SEMAR
11. SANGHYANG ISMAYA / SEMAR

11. SANGHYANG ISMAYA / SEMAR

Di pewayangan tokoh Semar terkenal sebagai abdi para Pendawa yang mengasuh sekaligus membimbing dalam kehidupannya. Di pedalangan Banjar Semar terkenal sebagai Dewa yang ngejawantah, Apabila diperlukan dalam menyelesaikan masalah yang sangat penting, ia berubah wujud sebagai Sanghyang Ismaya. Semar berwatak sabar, pengasih, penyayang, dan tak pernah susah. Tetapi kalau sudah marah, tak seorangpun mampu mencegahnya dan dewa-dewapun dianggapnya lebih rendah dari pada telapak kakinya, Semar melambangkan akhlak manusia sejati, ia bermata rembesan (seperti sakit mata), berhidung nyunthi (seperti umbi seledri), berpantat besar menonjol ke belakang. Dalam pengabdiannya Semar selalu ditemani tiga ornag anaknya, yaitu: 1. Gareng 2. Petruk 3 Bagong

11. SANGHYANG ISMAYA/SEMAR

In the wayang world, Semar is well known as the attendant of the Pandawas. He takes care of them and gives them guidance. In Banjar, Semar is known as an incarnated god. Whenever needed, in dealing with very important matters, he will transform himself into Sanghyang Ismaya. Semar is patient, caring, and kind, and he is never sad. However, once he is angry, no one can stand in his way, and at those times he considers the gods lower than the sole of his feet. Semar symbolizes the character of a perfect human being. He has rembesan eyes (infected eyes), nyunthi nose (shaped like a celery bulb), and a big protrudes buttocks. In serving the Pandawas, Semar is always accompanied by his three sons:

1. Gareng 2. Petruk 3. Bagong
12. NALA GARENG
12. NALA GARENG

12. NALA GARENG

Gareng lazim disebut sebagai anak Semar, yang nama lengkapnya adalah Nala Gareng, yang berarti hati yang kering. Karena ia orang yang tak pandai bicara, maka segala yang dikatakannya selalu salah, tapi ia tak mau mengakuinya. Gareng pernah menjadi raja di Parang Gumiwang, bergelar Pandu Bergala, tetapi akhirnya dikalahkan oleh Petruk dan kembalilah ia menjadi Gareng. Gareng bermata juling (Jawa ; kero), berhidung bundar, tangannya bengkok (ceko). Berpenyakit bubul sehingga jalannya selalu pincang. Rambutnya dikuncir, berkain rapekan. Nala gareng pernah kawin, isterinya bernama Dewi Sariwati, putri Prabu Sarawasesa dari negara Salarengka, yang diperolehnya atas bantuan Resi Tri Trusta dari negara Purwaduksina.

12. NALA GARENG

Gareng, who is known as the son of Semar, has a full name of Nala Gareng, which means someone who has a dry heart. He has a difficulty in speaking, so whatever he says always comes out wrong, although he does not admit it. Once Gareng was appointed a king in Parang Gumiwang with the title Pandubergala, but was then defeated by Petruk and transformed back into Gareng. He is cross-eyed (in Javanese = kero) and has a round shaped nose. His hand is deformed (Ceko) and he walks limping due to the bubul disease. His hair is tied on top of his head and he wears a rapekan cloth. Nala Gareng was married to Dewi Sariwati, daughter of Prabu Sarawasesa from Salarengka kingdom, whom he won with the help of Resi Tritusta from Purwaduksina.
13. JAMBU LETA PETRUK
13. JAMBU LETA PETRUK

13. JAMBU LETA PETRUK

Jambu Leta adalah pembantu /abdi (punakawan) di pihak keturunan ksatria tokoh Protogonis. Sebelum berubah wujud ia bernama Bambang Petruk Panyukilan, anak pendeta raksasa bernama Begawan Salantara yang tinggal di pertapaan dalam laut. Dalam kitab Mahabarata Petruk tidak ada kisahnya, dan kehadirannya dalam pedalangan merupakan gubahan asli Jawa. Petruk pernah menjadi raja di Ngrancang Kencana, bernama Wel Geduwel Beh. Kesaktiannya pada waktu itu bersumber dari pusaka Amarta yaitu Jamus Kalimasada. Petruk bermata juling, hidung panjang, mulut lebar, bibir tersenyum dan rambutnya dikuncir. Petruk mempunyai istri bernama Dewi Ambarawati, putri Prabu Ambaras Raya, raja Negara Pandan Surat. Dalam perkawinan ini mereka mempunyai anak pria yang diberi nama; Lengkung Kusuma. Petruk selalu hidup rukun dan berdampingan dengan Semar, Gareng dan Bagong. la selalu hidup rukun sebagai satu keluarga, bila tidak ada kepentingan yang istimewa, mereka tidak pernah berpisah satu sama lainnya.

13. JAMBU LETA PETRUK

Jambu Leta is a servant (punakawan) of the descendants of protagonist knights. Before he was transformed into his recent figure, his name was Bambang Petruk Panyukilan, son of a giant holy man named Begawan Salantara who lives in an underwater monastery. In the Mahabharata text, there is no story about Petruk, and his existence in the wayang world is entirely of Javanese origin. Petruk was once appointed a king in Ngrancang Kencana, titled Wel Geduwel Beh. His power at the time was obtained from the heirloom of Amarta, namely Jamus Kalimasada. Petruk is cross-eyed. He has a long nose and a wide mouth. He always smiles and his hair is tied on top of his head. He has a wife named Dewi Ambarawati, daughter of Prabu Ambaras Raya, who is the king of Pandan Surat kingdom. They have a son named Lengkung Kusuma. Petruk lives in harmony with Semar, Gareng, and Bagong as a family. Unless there is a special duty, they are never apart.
14.BAGONG

14. BAGONG

Bagong tercipta dari bayangan Sanghyang lsmaya atas sabda Sanghyang Tunggal. Ketika Sanghyang lsmaya akan turun ke Marcapada, ia mohon kepada ayahnya, agar ditemani seorang kawan. Maka pada saat itu juga permohonannya dikabulkan dan diciptalah bayangan lsmaya menjadi Bagong. Menurut riwayat pedalangan pada jaman Mataram, ada seorang dalang bernama Panjangmas yang keturunannya mengembara di Jawa Timur yang memainkan wayang tanpa menghadirkan tokoh Bagong, oleh sebab itu tokoh Bagong dalam pedalangan Jawa Timur sampai sekarang tidak begitu dipentingkan. Bagong beristrikan Endang Batnawati putri Prabu Balyaraja Gandarwa di Pucang Sewu. Sifat dan gaya bicara Bagong kekanak-kanakan, lucu, suaranya serak, tindakannya seperti orang bodoh tetapi dalam perbuatannya selalu benar.

14. BAGONG

Bagong was brought into being from the shadow of Sanghyang lsmaya at the utterance of Sanghyang Tunggal. Before coming to the Marcapada, Sanghyang Ismaya asked his father for a companion. His father granted his wish and created Bagong from Sangh yang lsmaya's shadow.

According to the history of wayang, during the Matararn period there was a dalang (puppet master) named Panjangmas, whose descendant made a trip to East Java and played shadow puppet without using the Bagong figure. T hat is why Bagong is not popular in East Java up to the present.

Bagong is married to Endang Batnawati, daughter of Prabu Balyaraja Gandarwa in Purang Sewu. Bagong is childish both in his characteristics and his way of speaking. He is humorous and has a hoarse voice. He acts like a foolish person but always do the right things. 15. TOGOG

Togog adalah abdi para raja di negeri seberang. Ia adalah putra Sanghyang Tunggal yang dilahirkan berwujud manusia dan bernama Sanghyang Antaga. Tetapi karena terjadi perselisihan pendapat dengan Semar sehingga bentuknya berubah menjadi sangat jelek. Ia menjadi abdi para raja seberang lautan dan bertugas sebagai penunjuk jalan apabila raja yang diikutinya bertugas di luar negara. Togog tidak mempunyai kesetiaan dan selalu berpindah dari majikan satu ke majikan lainnya. Togong bermata kero (juling), berhidung pesek, bermulut mrongos (menonjol ke muka dan lebar) tak bergigi dan berkepala botak.

15. TOGOG

Togog is a servant of some kings in foreign lands. He is the son of Sanghyang Tunggal who was born in human form, and his name was Sanghyang Antaga. Because of a dispute with Semar, he became very ugly. As the servant of foreign kings, his duty is to show the way when the kings travel abroad. Togog has no loyalty and always changes masters. Togog is cross-eyed (kero) and bald. He has a flat nose, a wide and protruding mouth (mrongos), and has no teeth.

15. TOGOG
16. Sarawita/Bilung

16. SARAWITA/BILUNG

Sarawita adalah teman Togog didalam mengabdi kepada raja seberang lautan. Di dalam tokoh pedalangan Banjar, tokoh wayang ini jarang sekali dimunculkan/dimainkan. Ia berwatak sombong seperti ayam jago yang minta diserang musuhnya. Sarawita bermata juling, hidung pesek, bibir terbuka rambutnya dicukur karena ia berpenyakit kudis di kepala, dan ia kemana-mana selalu membawa badek sebagai senjatanya.

16. SARAWITA/BILUNG

Sarawita is a friend of Togog's during his service to foreign kings. In the Banjar shadow puppet, this figure is very seldom played. He is arrogant like a cock challenging its opponent to fight. Sarawita is cross-eyed. He has a flat nose and gaping mouth. He shaved his head clean because of a skin disease called kudis, and he carries a dagger (badik) anywhere as his weapon.
17. SUBALI

17. SUBALI

Subali adalah putera Resi Gotama dengan Dewi Indradi di Padepokan Grastina. Ia mempunyai saudara sekandung bernama Dewi Anjani dan Sugriwa. Pada suatu ketika Rahwana melanglang jagad, terbang tinggi di angkasa raya. Saat itu ia jatuh di depan Subali karena melangkahi tempat dimana Subali bertapa, ia terkena tulah (ketulahan), Melihat kesaktian Subali yang luar biasa, timbullah keinginan Rahwana untuk berguru kepada Subali. Akhirnya Rahwana berguru kepada Subali sampai mendapat Aji Pancasonabumi, yang berkhasiat tidak bisa meninggal apabila masih bersentuhan dengan tanah. Subali pernah berjasa kepada dewa membinasakan Prabu Mahesasura dan Jatasura raja Gua Kiskenda. Subali mati terkena senjata sakti Guwawijaya milik Prabu Rama, karena Subali bertindak salah dan tamak terhadap Sugriwa adiknya.

17. SUBALI

Subali is the son of Resi Gotama and Dewi Indradi of Padepokan Grastina (Grastina monastery). He has a sister named Dewi Anjani and a brother named Sugriwa. One day, when Rahwana was flying high on his trip around the world, he fell in front of Subali. He was cursed because he flew above the place where Subali was meditating. Seeing the supernatural power of Subali, Rahwana decided to learn from him. Rahwana became Subali's disciple until he posses Aji Pancasonabumi, which protects him from death as long as he touches the earth. Once Subali helped the gods by killing Prabu Maesasura and Jatasura, the rulers of Gua Kiskenda (Kiskenda Cave). Later he was killed by the potent weapon of Prabu Rama, Guwawijaya, because he mistreated his younger brother, Sugriwa, and because of his greed.
18. SUGRIWA

18. SUGRIWA

Sugriwa adalah putera bungsu Resi Gotama di pertapaan Grastina yang terletak di atas bukit Sukindra. Ia berparas tampan, namun karena ia berebut Cupu Manik Astagina, dalam telaga Sumala dengan Subali maka wajahnya berubah menjadi kera. Untuk menebus kesalahannya maka ia diperintahkan Resi Gotawa untuk bertapa sebagai kijang di dalam hutan Sunyapringga. Ketika Sugriwa bertapa para dewa meminta pertolongan kepada Sugriwa untuk membunuh Prabu Mahesasura, Lembusura dan Jata Sura. Dalam menjalankan tugas Sugriwa hanya bisa membunuh patih Lembusura, sedangkan yang membunuh Prabu Mahesasura dan Jata Sura adalah Subali, atas kesepakatan dewa akhirnya Sugriwa dinobatkan sebagai Raja di Gua Kiskenda-sedangkan untuk menjadi patih Kerajaan Gua Kiskenda diangkatlah Kapi Anila. Sugriwa selama hidupnya mengabdi kepada Sri Rama Wijaya membantu mengembalikan Dewi Sinta yang ditawan Prabu Rahwana. Atas kebaktian Sugriwa, akhirnya Sri Rama mendapat kemenangan dan dapat membawa Shinta pulang ke Ayodya. Setelah Rama berhsil memboyong Shinta, Sugriwa kembali ke Gua Kiskenda sebagai raja besar yang berwibawa, kuat dan penuh bahagia, Ia tak dapat lepas dari wujudnya sebagai kera, karena terbelenggu oleh kehidupan duniawi yang penuh dengan kemewahan dan kemuliaan yang dinikmatinya.

18. SUGRIWA

Sugriwa is the youngest son of Resi Gotama of the Grastina monastery, which is located on top of Sukindra hill. He was handsome, but a dispute over Cupu Manik Astagina with his brother, Subali, in the Sumala lake has made his face look like a monkey. As a punishment, Resi Gotama told him to meditate like a deer (he can only eat plants) in the Sunyapringga forest. During his meditation, the gods asked him to kill Maesasura, Lembusura, and Jatasura. Sugriwa only managed to kill Patih Lembusura, while Prabu Maesasura and Jatasura were killed by Subali. The gods then agreed to appoint Sugriwa the king of Gua Kiskenda, and Kapi Anila was appointed his patih (Prime Minister). Sugriwa devoted his life in helping Sri Rama Wijaya free Dewi Sinta from Prabu Rahwana. It is with his help that Sri Rama reached a victory and brought Sinta back to Ayodya. After the victory, Sugriwa returned to Gua Kiskenda as a great king who is respectable and strong and lives in happiness. He cannot free himself from his monkey form because he is trapped in a worldly life that is full of wealth and nobility.
19. JEMBAWAN

19. JEMBAWAN

Jembawan adalah pengasuh putera Resi Gotama, ia anak Resi Pulasya dari Pertapaan Grastina. Semula berujud manusia biasa, namun ia berganti rupa menjadi kera ketika ada peristiwa Guarsa-Guarsi berebut "CUPU MANIK ASTAGINA" di telaga Sumala. Pada perang besar Alengka Jembawan sudah kembali seperti manusia biasa, akhirnya ia kawin dengan Dewi Trijatha puteri Wibisana raja Alengka, setelah Dasamuka binasa dalam perang besar Alengka. Jembawan mempunyai seorang puteri bernama Dewi Jembawati, yang akhirnya diperistri oleh Prabu Kresna Raja Dwarawati. Jembawan diusia tuanya menjadi begawan dan bersemayam di Pertapaan Gadamadana / Gandamadana.

19. JEMBAWAN

Jembawan is the servant of Resi Gotama's son. He is the son of Resi Pulasya from Grastina monastery who was born in human form. In an incident, in which the Guarsa Guarsi fought for the Cupu Manik Astagina in Sumala lake, he turned into a monkey. However, in the great war of Alengka, Jembawan has transformed back into his human form. He then married Dewi Trijatha, daughter of Wibisana, who was the a king of Alengka after Dasamuka was killed in the war. Jembawan has a daughter, Dewi Jembawati, who then married to Prabu Kresna, who was the king of Dwarawati. In his old days, Jembawan becomes a hermit (begawan) and lives in Gadamadanal Gandamadana monastery.
20. PRABU MAESASURA

20.PRABU MAESASURA

Prabu Maesasura adalah raja kerajaan Gua Kiskenda. Ia berwujud raksasa berkepala kerbau. Di dalam memimpin kerajaan ia didampingi oleh patih Lembusura. Prabu Maesasura sangat sakti, ia tidak bisa tewas apabila saudara seperguruannya yang bernama Jatasura masih hidup. Kedua-duanya seolah dua nyawa yang berjiwa satu, artinya keduanya sulit dibinasakan oleh musuh apabila tidak dibunuh secara bersamaan. Karena raja ini menginginkan Dewi Tara, maka Dewa mengutus Sugriwa dan Subali untuk membinasakannya hingga akhirnya Maesasura dan Jatasura mati terbunuh di tangan Subali.

20. PRABU MAESASURA

Prabu Maesasura was the king of Gua Kiskenda. His physical form is a giant with buffalo head. In ruling his kingdom, he was assisted by his Prime Minister, Lembusura. Prabu Maesasura was very powerful; he can never die if his fellow disciple, Jatasura, is still alive. They were like two beings with one soul; they will not perish unless they were both killed at the same time. Because he wanted Dewi Tara, the gods asked Sugriwa and Subali to kill him. Maesasura and Jatasura was killed by Subali.
21. PATIH LEMBU SURA

21. PATIH LEMBU SURA

Lembusura adalah patih negara Gua Kiskenda di bawah kekuasaan pemerintahan Prabu Maesasura. Ia tewas oleh Sugriwa dalam peristiwa di waktu Maesasura mau memperistri Dewi Tara, untuk menolak lamaran itu maka dewa mengutus Sugriwa dan Subali untuk membinasakannya. Pada waktu itu Patih Lembu Sura mati ditangan Sugriwa sedangkan Prabu Maesasura dan Jatasura mati di tangan Subali. Atas jasanya itu maka Gua Kiskenda oleh para dewa diberikan kepada Sugriwa-Subali dan akhirnya mereka diperkenankan memperistri Dewi Tara

21. PATIH LEMBUSURA

Lembusura was the patih (Prime Minister) of Gua Kiskenda, which was ruled by Prabu Maesasura. He was killed by Sugriwa during an incident, that is when Maesasura wanted Dewi Tara to be his wife. The gods refused to submit the goddess and sent Sugriwa and Subali to destroy them. Patih Lembusura was killed by Sugriwa, while Prabu Maesasura and Jatasura by Subali. As a reward, the kingdom of Gua Kiskenda was given to Sugriwa-Subali and they were allowed to marry Dewi Tara. 22. PRABU RAMA/ RADEN RAGAWA'

Ragawa adalah putra tunggal prabu Dasarata Raja Negara Ayodya dengan Dewi Ragu. Rama berkedudukan sebagai putera mahkota di kerajaan Ayodya. Setelah dewasa ia memperistri Dewi Shinta anak Prabu Janaka dari negara Mantili. Namun perkawinan antara Rama dan Shinta berhasil di kacaukan oleh Dasamuka Raja Alengka. Kekacauan tersebut terjadi saat Rama, Shinta dan Lesmana sedang berkelana di hutan Dandaka. Dasamuka melihat kecantikan Shinta sangat terpana, maka timbullah niat jahatnya ingin menculik Shinta. dengan siasat memberi umpan Kijang Kencana jelmaan Kalamarica. Atas ulah kijang siluman inilah Sinta tertarik ingin memilikinya. Atas permintaan Sinta akhirnya Rama dan Lesmana mengejar kijang siluman. Melihat Dewi Sinta send1ri Dasamuka segera berubah diri menjadi situa pikun, hingga berhasil mengelabui Sinta dan memaksa untuk diboyong ke negara Alengka. Berawal dari kejadian ini maka permusuhan Rama dan Dasamuka tak terhindari. Sehingga terjadi perang besar "Brubuh Alengka". Akhirnya peperangan ini dimenangkan oleh Prabu Rama, dan Dewi Sinta kembali mendampingi Rama sebagai Raja Negara Pancawati. Dalam perkawinannya Rama Dan Sinta mendapatkan 2 orang anak, Kusa dan Lawa.

22. PRABU RAMA/RADEN RAGAWA

Ragawa is the only son of Prabu Dasarata, king of Ayudya, and Dewi Ragu. Rama was the crown prince of the Ayudya kingdom. He is married to Dewi Sinta, the daughter of Prabu tanaka from Mantili, but his marriage was disturbed by Oasamuka, the king of Alengka. When Rama, Sinta, and Lesmana were in the Dandaka forest, Oasamuka was dazed by Sinta's beauty. Dasamuka made a plan to kidnap Sinta and sent a Kijang Kencana (Golden Deer) --which he transformed from Kalamarica -- as a bait to allure her. The deer's prank attracted Sinta and she wanted to have it. At her begging, Rama and Lesmana went to catch the deer.

Rama and Lesmana went to catch the deer. Seeing that Sinta was alone, Dasamuka turned himself into an old man to deceive her, and brought her to Alengka. An enmity between Rama,and Oasamuka was unavoidable, and it led to a great war known as "Brubuh Alengka." Rama won the war, and Dewi Sinta was brought back to become Rama's queen in Pancawati kingdom. Rama and Sinta have two sons, Kusa and Lawa. Lesmana Widagda

23. R. LESMANA WIDAGDA

Lesmana adalah anak ratu Dasarata dengan Dewi Sumitra. la seorang ksatria Brahmacari (tidak beristri). Dalam hidupnya ia selalu mendampingi Rama turut menertibkan dunia. Lesmana adalah adik Rama yang berbakti sampai akhir hayatnya. Karena patuhnya terhadap Rama, maka ia selalu mendampingi perjalanan Rama dan Sinta dalam p engembaraan dihutan. Dikisahkan bahwa dalam pengembaraan di dalam hutan tersebut Dewi Sinta di culik Rahwana. Peristiwa penculikan ini baru diketahui Rama setelah menemukan Garuda I Jatayu yang sedang menghadapi sakaratul maut akibat perbuatan Rahwana. Setelah mengetahui bahwa Dewi Sinta berada di negeri Alengka, berangkatlah Rama dan Lesmana ke Alengka dengan dukungan prabu Sugriwa dan bala tentara kera dari kerajaan Cua Kiskenda. Dalam perang besar Alengka, Lesmana banyak membinasakan senapati ulung andalan Alengka. Seusai perang besar Lesmana tetap mendampingi Sri Rama membawa Dewi Sinta ke Negeri Ayudya. Dengan ketulusannya ia selalu menghadapi penderitaan dan kesengsaraan demi kabahagiaan Sri Rama.

23. LESMANA WIDAGDA

Lesmana is the son of Prabu Dasarata and Dewi Sumitra. He was a Brahmacari knight (a knight who lives in celibacy). He always accompanies Rama in keeping the world in order. Lesmana is Rama's brother who is loyal until the day he died. He accompanied Rama during his exile in the forest, in which Dewi Sinta was kidnapped by Rahwana. The kidnapping was not known until Rama met Carudal Jatayu, who was dying because of his fight with Rahwana. Hearing that Sinta was in Alengka, Rama and Lesmana went to Alengka with the assistance of Prabu Sugriwa and his monkey troops from Gua Kiskenda. In the great war of Alengka, Lesmana killed many top rank soldiers of Alengka. After the war, Lesmana accompanied Rama in his trip to bring Dewi Sinta back to Ayudya. His faithfulness makes him willing to sacrifice his life for Sri Rama's happiness. Dewi Sinta

24. DEWI SINTA

Dewi Sinta adalah anak Prabu Janaka dari negara Mantili. Dewi Sinta dilahirkan sebagai titisan Dewi Sri, Dewi Widawati. Menurut pakem Purwacarita Dewi Sinta adalah anak Dewi Tari dengan Dasamuka / Rahwana. Kelahiran Sinta itu membuat gelisah Wibisana (adik Dasamuka) karena beliau mengetahui kalau nantinya Dewi Sinta akan diperistri Dasamuka, maka Wibisana segera mengambil keputusan membuang Sinta yang masih bayi ke sungai Gangga. Dalam pembuangan itu Sinta ditemukan oleh Raja Mantili (Prabu Janaka) dan kemudian setelah dewasa Sinta diperistri oleh Sri Rama. Setelah dipersunting Rama mereka menjalani hidup di hutan Dandaka sebagai pengembara. Dalam pengembaraan inilah Sinta diculik oleh Dasamuka/Rahwana dibawa ke taman Argasuka alengkadiraja. Akibat penculikan inilah maka terjadi perang besar antara Pncawati dan Alengkadiraja, yang menghabiskan korban baik nyawa maupun harta. Peperangan dimenangkan Prabu Rama dengan pendukungnya Prabu Sugriwa beserta bala tentara kera dari kerajaan Gua Kiskenda. Sehabis kematian Dasamuka dan balatentaranya, Sinta akhirnya diboyong kembali ke Pancawati sebagai permaisuri Prabu Rama hingga akhirnya mempunyai dua orang anak, Kusa dan Lawa.

24. DEWI SINTA

Dewi Sinta is the daughter of Prabu janaka of Mantili. Dewi Sinta is the incarnation of Dewi Sri, Dewi Widawati. According to the Purwacarita version, Dewi Sinta is the daughter of Dewi Tarki and Dasamuka/Rahwana. Her birth worries Wibisana, the younger brother of Dasamuka, who knows that Dasamuka will want to marry her, He then put baby Sinta in the Gangga river. Dewi Sinta was then found by the king of Mantili, Prabu janaka. Dewi Sinta is then married to Rama. After the marriage, they went into exile in the Gandaka forest. During the exile, Sinta was kidnapped by Dasamuka/Rahwana and was brought to the Argasuka Garden of Alengkadiraja. The kidnapping led to a great war between Pancawati and Alengkadiraja that caused big casualties, both in terms of wealth and human life. The war was won by Prabu Rama, who was assisted by Prabu Sugriwa and his monkey troops from Cua Kiskenda kingdom. After the death of Dasamuka and his soldiers, Sinta was brought back to Pancawati to become Prabu Rama's queen. They have two children, Kusa and Lawa. 25. R. WIBISANA

Wibisana adalah anak bungsu Resi Wisrawa dengan Dewi Sukesi. Wibisana merupakan titisan Wisnu Anjali, oleh karena itu dalam perbuatannya ia sangat bijaksana. Wibisana beristrikan Dewi Triwati dan mempunyai dua orang anak Dewi Tri Joto dan Denta Wilukrama. Dalam perang besar Alengka, Wibisana menjadi penentu bagi kemenangan Sri Rama, maka dari itu setelah Rahwana gugur Sri Rama segera menobatkan Wibisana sebagai Raja Alengka menggantikan Rahwana.

25. R. WIBISANA

Wibisana is the youngest son of Resi Wisrawa and Dewi Sukesi. Because he is the incarnation of Wisnu Anjali, he is very wise. Wibisana is married to Dewi Triwati and they have two children, Dewi Trijoto and Denta Wilukrama.

In the great war of Alengka, Wibisana was the key to Sri Rama's victory. Therefore, after the death of Rahwana, Sri Rama ap pointed him the new king of Alengka to succeed Rahwana. Wibisana 26. R. ANOMAN

Anoman adalah Senopati perang Sri Ramawijaya, wujud Anoman adalah berupa kera putih. lbunya adalah Dewi Anjani puteri Resi Gotama dengan Dewi lndrati yang bertempat di pertapaan Grastina. Ayah Anoman adalan Sanghyang Pawana I Batara Bayu. Senggana beristrikan Dewi Urangrayung puteri Begawan Mintuna di dasar samudera. Perkawinan ini melahirkan seorang anak berwujud kera putih bernama Triangga/Trigangga. Anoman prajurit yang sangat pemberan1, setia dan waspada. Kepribadiannya sangat sopan kepada siapa sa ·a serta mau menghormati sesamanya. Kesaktian yang dimi iki Anoman antara lain :

  1. Aji Sepiangin (dapat terbang secepat angin)
  2. Aji Pameling (dapat memanggil dan mengerti kalau dipanggil) baik jarak dekat maupun jarak jauh
  3. Aji Mundri (yang apabila manteranya dibaca berkekuatan

seribu gajah)

Adapun pakaian Anoman secara khusus adalah sebagai berikut:

  1. Pupuk Jarating Asem
  2. Gelung Minangkara berbentuk supit urang
  3. Kelatbau Sigarblabar berwujud seperti buah manggis
  4. Kampuh Poleng berwarna merah, hitam dan putih
  5. Gelang Binggal Candradimukti
  6. lkat Pinggang akar minang

Setelah menjadi Brahmana/Pendeta ia bergelar resi Mayangkara dan bertempat tinggal di pertapaan Kendalisada.

26. R. ANOMAN

Anoman is the troop leader of Sri Ramawijaya, whose physical form is a white monkey. His mother is Dewi Anjani, daughter of Resi Gotama and Dewi Indrati, who live in Grastina monastery. His father: is Sanghyang PawanalBatara Bayu. Senggana is married to Dewi Urangrayung, daughter of Begawan Mintuna who lives at the bottom of the ocean. They have a child, which is a white monkey named TrianggalTrigangga. Anoman is a very brave, faithful, and alert soldier. He is also very polite and always respect others. His supernatural power include:

  1. Aji Sepiangin (the ability to fly as fast as the wind)
  2. Aji Pameling (the ability to call and hear a call from any distance, near or far)
  3. Aji Mundri (the ability to have the strength of a thousand elephants by chanting a mantra)

Anoman wears special clothes:

  1. Pupuk Jarating Asem
  2. Gelung Minangkara (a type of hairstyle) shaped like lobster's claws (supit urang)
  3. Kelatbahu Sigarblabar (upper arm bracelet) shaped like mangosteen fruits
  4. Red, black, and white kampuh poleng (a cloth with multicolour checkerboard pattern)
  5. Gelang binggal Candradimukti (Candradimukti bracelets)
  6. Akar Minang (Minang root) belt

After becoming a Brahmana (holy man), Anoman's title is Resi Mayangkara, and he lives in Kendalisada monastery

26. R. ANOMAN 27. R. ANALA/ANILA

Anila adalah salah satu senapati kera bala tentara prabu Sugriwa Raja negara Kiskenda. Anila berbulu merah jingga, ia tercipta dari putera jadian Hyang Brahma. Diciptakannya Anala adalah untuk menambah kekuatan bala tentara kera yang memihak Prabu Rama dalam rangka merebut Sinta. Anala dapat berjalan di dalam bumi dan ahli dalam bidang bangunan (arsitek jembatan dalam cerita Ramatambak)

27. R. ANALVANILA

Anita is one of the troop leaders of Prabu Sugriwa of Kiskenda kingdom. Anila, whose fur is reddish-orange in color, was created from Hyang Brahma's mythical son to strengthen the monkey troops that will help Prabu Rama bring Sinta back. Anala can walk under the earth and is an expert in architecture. He was the architect who supervised the making of a bridge in the Rama Tambak episode.

27. R. Anala/Anila

28. R. ANGGADA

28. R. ANGGADA

Anggada seorang tentara senapati negara Gua Kiskenda, ia adalah anak Resi Subali dengan Dewi Tara. Dalam pengabdiannya Anggada pernah terpengaruh oleh hasutan Rahwana. Pada waktu itu Anggada diutus Sri Rama untuk mengukur kekuatan Dasamuka beserta bala tentaranya, namun sampai di Alengka Anggada diberitahu oleh Dasamuka bahwa yang membunuh Subali (ayah Anggada) adalah Sri Rama, sehingga murkalah ia dan menyerang balik pada Sri Rama. Tetapi serangan balik Anggada dapat dihalau oleh Anoman dan akhirnya Anggada bersatu kembali dengan Prabu Rama, ikut memberantas angkara murka di bumi Alengka.

28. RADEN ANGGADA

Anggada is a troop leader from Gua Kiskenda kingdom. He is the son of Resi Subali and Dewi Tara. He was once fallen for Rahwana's intrigue. It happened when he was sent by Sri Rama to measure the strength of Dasamuka and his soldiers. Upon his arrival in Alengka, Anggada was told by Dasamuka that Sri Rama was the one who killed Subali (Anggada's father). Anggada was furious and attacked Sri Rama, but was defeated by Anoman. He then returned to Prabu Rama's troop and fought the evils in Alengka.

29. SUWIDA

29. SUWIDA

Suwida adalah putera narapati Sugriwa dengan Endang Suwarsih abdi Dewi Anjani. la berujud kera berbulu hitam legam. Suwida merupakan salah satu senapati Sri Rama yang sangat ulung dan tangguh. Dalam olah keprajuritan ia sangat lincah dan tangkas di dalam medan laga. Suwida mempunyai kesaktian dapat hidup di dalam air. Dalam lakon "Rama Tambak" Kapi Suwida berperan mengatur pembuatan tambak di dasar samudera. Sehingga tanggul penyeberangan yang menuju Alengka menjadi jembatan yang sangat kuat. Sri Rama, Lesmana serta seluruh angkatan perang kera di bawah kepemimpinan Sugriwa dapat selamat sampai negara Alengka. Di dalam Perang besar Alengka, Suwida menjadi salah satu di antara senapati perang yang gagah berani, dan banyak membinasakan senapati andalan Alengka.

29. SUWIDA

Suwida is the son of Narapati Sugriwa and Endang Suwarsih, the attendant of Dewi Anjani. His physical appearance is that of a monkey with jet black fur. Suwida is one of the bright and brave troop leaders of Sri Rama. He is a very agile and competent knight. Suwida can live underwater. In the Rama Tambak episode, Kapi Suwida was the architect in the making of a breakwater (tambak) on the ocean floor, so that the cr ossing embankment to Alengka became a very strong bridge; and Sri Rama, Lesmana, and the entire monkey troops under Sugriwa's command arrived safely in Alengka. In the great war of Alengka, Suwida was among the bravest troop leaders who killed many top ranks Alengka troop leaders.

30. RAHWANA

30. RAHWANA

Rahwana adalah nama Dasamuka sebelum menjadi raja. Rahwana mempunyai saudara seayah-seibu bernama :

  1. Kumbakarna (raksasa)
  2. Dewi Sarpakenaka
  3. Wibisana

Sedangkan saudara Rahwana seayah tetapi lain ibu adalah Wisrawana/ Prabu Danaraja, raja negara Lokapala. Rahwana mempunyai Aji Pancasona yang di dapatnya dari Resi Subali. Aji Pancasona berkasiat tidak dapat mati selama masih bersentuhan dengan tanah. Namun keampuhannya tidak akan berdaya apabila orang yang menggunakan aji tersebut bertindak serakah. Rahwana dilahirkan sebagai bayi yang berkepala sepuluh dan bertangan duapuluh, berkat kesakti an begawan Wisrawa, ia dapat tumbuh secara wajar, kemudian o leh ayahnya, Rahwana beserta adik-adiknya disuruh bertapa, dan setelah selesai bertapa, Rahwana dinobatkan menjadi raja menduduki tahta Kerajaan Alengka atas perintah Prabu Sumali. Catatan : untuk mengetahui kelanjutan Rahwana lihat Dasamuka).

30. RAHWANA

Rahwana was the name of Dasamuka before he became a king. He has two brothers and a sister:

  1. Kumbakarna (a giant)
  2. Dewi Sarpakenaka
  3. Wibisana

He also has a half brother from his father's other wife, Wisrawana/Prabu Danara ja, who is the king of Lokapala. Rahwana possesses Aji Pancasona, which he obtained from Resi Subali, that can prevent him from death as long as he touches the earth. H o wever, Aji Pancasona will lose its supernatural power if the holder becomes greedy. Rahwana was born with ten heads and twenty hands. With the help of Begawan Wisrawa's supernatural power, he grew up to be a normal person. His father then asked Rahwana and his siblings to meditate, after which Rahwana was appointed the king of Alengka at Prabu Sumali's order. (Note: For more information regarding Rahwana, see Dasamuka)

31. PRABU DASAMUKA

31. PRABU DASAMUKA

Dasamuka adalah raja Alengka, anak dari begawan Wisrawa dengan Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali, Raja Alengka sebelum Dasamuka. Dasamuka mempunyai istri Permaisuri bernama Dewi Tari, putri dari Hyang Indra. la mempunyai seorang putra bernama lndrajid (Megananda) yang menjadi putra mahkota Alengka. Anak Dasamuka dengan istri lain diantaranya Tri Kaya, Tri Sirah, Tri Netra, Patala Maryam, Tri Murcia. Negara Alengka pada jaman pemerintahan Dasamuka sangat tenar, kekuasaannya sangat besar, makmur dan kaya raya, angkatan perangnya kuat, bala tentaranya banyak dan sakti-sakti. Sehingga banyak yang tertindas karena tindak kesewenangan Dasamuka. Di dalam Ramayana diceritakan, bahwa Prabu Dasamuka berhasil menculik Dewi Sinta permaisuri prabu Sri Rama Wijaya. Akibat perbuatannya ini. terjadilah perang besar antara Alengka melawan Ayodya / Pancawati. Di dalam perang Alengka tersebut diceritakan, bahwa Dasamuka mati oleh Sri Rama dengan perantaraan panah sakti Guwawijaya. Untuk memastikan kematiannya, maka Anoman menimbun tubuh Dasamuka dengan gunung Kendalisada

31. PRABU DASAMUKA

Dasamuka is the king of Alengka. He is the son of Begawan Wisrawa and Dewi Sukesi, the daughter of Prabu SumaIi (the king of Alengka before Dasamuka). Dasamuka's queen is Dewi Tari, daughter of Hyang Indra. They have a son, lndrajid or Megananda, who was the crown prince of Alengka. Dasamuka also has several children from his other wives, among others: Tri Kaya, Tri Sirah, Tri Netra, Patala Maryam, Tri Murda. Under his reign, Alengka was very famous. The kingdom was rich and has a great power. Its armed force is solid and has a great number of soldiers. Many kingdoms have suffered because of Dasamuka's vileness. In a chapter of the Ramayana epic, Prabu Dasamuka kidnapped Dewi Sinta, queen of Prabu Ramawijaya. This incident caused a great war between Alengka and Ayodyal Pancawati. In the war, Dasamuka was killed by Guwawijaya, the powerful arrow of Sri Rama. To ensure his death, Anoman buried Dasamuka's body under the Kendalisada mountain.

32. PATIH PRAHASTA Prahasta adalah anak Prabu Sumali, Raja Alengka sebelum Dasamuka, Prahasta bersaudara dengan Dewi Sukesi istri Begawan Wisrawa, yang kemudian menurunkan Rahwana bersaudara. Setelah Rahwana dinobatkan menjadi raja Alengka, kemudian Prahasta diangkat sebagai Maha patih negara Alengka. Prahasta sebagai panglima perang memimpin pasukan menghadapi prajurit kera Pancawati yang dipimpin Patih Anala dari Gua Kiskenda. Dalam peperangan Prahasta mendesak dan memburu Anala, sehinga peperangan mereka sampai di tepi hutan Alengka. Anala merasa terdesak mendapat serangan Prahasta yang membahayakan. Seketika itu Anala mencabut sebuah tugu yang berdiri tegak di dekatnya, kemudian di gempurlah kepala Prahasta, hingga ajalnya. Kepala Prahasta hancur dan kemudian tugu itu kemudian kembali ke asal menjadi Dewi Indrati yang kena kutuk Resi Gotama dari pertapaan Grastina. Dewi Indrati adalah ibu Resi Subali, Dewi Anjani dan Sugriwa Raja Gua Kiskenda.

32. PATIH PRAHASTA Prahasta is the son of Prabu Sumali, who was the king of Alengka before Dasamuka. Prahasta is the brother Dewi Sukesi, wife of Begawan Wisrawa, who bore him Rahwana and his siblings. When Rahwana became the king of Alengka, Prahasta was appointed his Mahapatih (Prime Minister). In the great war of Alengka, Prahasta led the Alengka troops to fight against the Pancawati monkey troops under Patih Anala from Gua Kiskenda. Prahasta managed to push Anala to the edge of Alengka forest. Cornered, Anala took a monument nearby and smashed it on Prahasta's head. Prahasta's head was shattered and the monument transformed into Dewi Indrati. She is the mother of Resi Subali, Dewi Anjani, and Sugriwa, who was cursed by Resi Gotama from Grastina monastery., Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/44 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/45 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/46 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/47 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/48 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/49 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/50 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/51 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/52 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/53 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/54 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/55 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/56 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/57 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/58 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/59 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/60 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/61 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/62 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/63 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/64 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/65 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/66 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/67 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/68 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/69 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/70 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/71 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/72 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/73 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/74 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/75 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/76 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/77 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/78 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/79 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/80 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/81 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/82 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/83 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/84 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/85 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/86 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/87 Halaman:Album wayang kulit banjar.pdf/88