20 Tahun GKBI/Bab 2
BAB II
SEDJARAH PERKEMBANGAN DAN KEGIATAN
KOPERASI-KOPERASI BATIK PRIMER
ANGGOTA G.K.B.I.
BAGIAN 1
KOPERASI BATIK „BATARI”
BATIK TIMUR ASLI REPUBLIK INDONESIA
HAK BADAN HUKUM No.: 454/1937
SURAKARTA TELP. No.: 1443.

I. RIWAJAT PEMBATIKAN:
Daerah Solo atau Surakarta sudah dikenal dalam dunia internasional sebagai salah satu sumber kebudajaan di Indonesia dan chususnja kesenian batik. Kesenian batik ini adalah satu tjabang kebudajaan dari keluarga radja² masa dahulu. Kesenian batik ini adalah kesenian tulis dari keluarga radja² dahulu, jang dikerdjakan oleh kaum wanita jang dekat dengan keluarga kraton. Batik dikerdjakan semula hanja terbatas dalam kraton sadja dan hasilnja untuk pakaian radja dan puteri serta pengikutanja dalam kraton. Oleh karena banjak dari pengikut radja jang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerdjakan ditempatnja masing². Lama-kelamaan kesenian batik ini ditiru oleh rakjat terdekat dan selandjutnja meluas mendjadi pekerdjaan kaum wanita dalam rumah tangganja dalam menghadapi waktu senggang Batik lama-kelamaan jang tadinja pakaian keluarga kraton, sekarang mendjadi pakaian rakjat baik kalangan wanita maupun prianja.
Bahan kain putih jang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Bahan² pewarna jang dipakai terdiri dari tumbuh²an asli Indonesia jang dibuat sendiri antara lain: pohon mengkudu, tinggi soga, nila, dan bahan sodanja dibuat dari soda abu, dan garamnja dibuat dari tanah lumpur. Djadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sedjak zamannja keradjaannja Madjapahit dan terus berkembang kepada keradjaan dan radja² berikutnja. Mulai meluasnja kesenian batik ini mendjadi milik rakjat Indonesia dan chususnja suku Djawa ialah setelah achir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik jang dihasilkan ialah semuanja batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik tjap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920.
Batik Solo terkenal dengan tjorak dan pola tradisionilnja baik dalam proses tịap maupun dalam batik tulisnja. Bahan² jang dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banjak memakai bahan² dalam negeri seperti soga Djawa jang sudah terkenal sedjak dari dahulu. Polanjapun tetap antara lain terkenal dengan „Sidomukti” dan „Sidoluhur”.
Sekarang didaerah Solo, industri batik ini adalah salah satu urat nadi dari perekonomian disamping industri tekstil, dan merupakan lapangan kerdja jang banjak menampung tenaga manusia.
II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK:
1. Perintisan menudju organisasi:
Batik mendjadi sumber mata pentjaharian bagi pembuatnja setelah keluarnja dari kraton, dimana sebagian besar rakjat telah memakainja.
Achir abad ke-XIX atau awal abad ke-XX telah mulai dipakai bahan mori dari luar negeri jang diimport oleh bangsa Belanda. Setelah diselidiki kain putih apa jang sesuai dengan bahan batik, maka Negeri Belanda mengchususkan memprodusir mori untuk batik jang berukuran 42 inchi lebar dan terdiri dari kwalitas primissima, prima, biru. Disamping itu negara² lain di Eropah dan Djepang djuga membuat bahan mori ini, karena pemasarannja baik di Indonesia. Disamping bahan mori ini, djuga diselidiki bahan² tjat batik jang dipakai dalam pewarnaannja. Sebelum perang dunia kesatu sudah mulai importir² Belanda dan Inggeris memperkenalkan tjat batik/tekstil pada pengusaha² batik. Setelah selesai perang, usaha ini oleh importir² diintensifkan dan langsung memberikan petundjuk² kepada pengusaha batik bagaimana proses tampurannja dan nama²nja serta keuntungan² jang akan didapat dengan pemakaian tjat² batik import ini. Kira² tahun duapuluhan itu pengusaha² batik didaerah pembatikan telah banjak mengenal bahan mori import dan tjat2 batik import, aki batnja perkembangan industri tekstil dan bahan² tjat hasil usaha sendiri ketinggalan , karena bahan²import lebih menguntungkan. Lebih² lagi setelah dikenalnja proses pembuatan batik tjap jang djauh lebih tjepat dari proses iatik tulis, maka permintaan akan bahan baku mori dan tjat² batik lebih meningkat dengan tjepat. Dalam rangka meningkatnja produksi batik, dan bagi pedagang² baik importir maupun pedagang² perantara jang seluruhnja dipegang oleh bangsa asing Belanda dan Tjina, dipergunakan sebaik-baiknja untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnja. Akibatnja perdagangan bahan baku batik dan hasil produksi/batik mendjadi bahan spekulasi bagi pedagang² Tjina dan Belanda. Pengusaha² batik jang lemah dalam permodalan, lemah dalam pengetahuan perdagangan dan pemasaran batik mendjadi makanan empuk bagi mereka. Sistim perdagangan ialah: pengusaha mendapat kredit bahan baku dari pedagang dan nantinja dibajar dengan hasil batiknja. Dalam teknik perdagangan ini, pengusaha batik posisinja lemah, akibatnja tingkat harga ditetapkan menurut keinginan pedagang² Tjina tersebut jang menguntungkan padanja. Lama-kelamaan tjara hubungan dagang ini melibatkan pengusaha batik kedalam hutang jang tidak dapat dibajarnja dalam waktu dekat, dan achirnja mendjual tenaga serta keahliannja pada pedagang² Tjina. Waktu adanja krisis ekonomi dunia dimana Indonesia djuga tidak terhindar, maka banjak pengusaha² batik jang terlibat dalam hutang dan akibatnja mendjual harta benda untuk melunaskannja. Bagi pengusaha² batik jang modalnja tjukup djuga banjak jang mati perusahaannja, karena seluruh kegiatan perekonomian lumpuh.
2. Pembentukan Wadah Organisasi:
Karena perbedaan tingkat hidup jang menjolok antara bangsa Indonesia dengan bangsa² asing jang ada di Indonesia serta bangsa Belanda kolonial dan tekanan hidup lainnja, menambah semangat bangsa Indonesia berdjuang mentjapai kemerdekaan nasional. Pada tahun 1908 didirikanlah perkumpulan „BUDI UTOMO” oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo (almarhum) bersama-sama pemuda tjendekiawan lainnja jang bertudjuan antara lain: kemerdekaan bangsa Indonesia, memperbaiki taraf hidup bangsa dan sebagainja.
Setelah Budi Utomo didirikan maka di Jogja didirikan pula „Sarikat Dagang Islam” jang dipelopori oleh Bapak A. Zarkasi Djojoaminoto dan di Solo dipelopori oleh Bapak H. Samanhudi dan H.O.S. Tjokroaminoto tahun 1911. Tudjuan dari Sarikat Dagang Islam ialah memperdjuangkan kepentingan pengusaha batik dalam mentjukupi bahan baku batik jang selama ini dikuasai oleh pedagang² Tjina distributornja serta perdagangannja. Semangat perdjuangan dari pemimpin² Sarikat Dagang Islam ini mendjalar kedaerah pembatikan lainnja di Pekalongan, Tasikmalaja, Tjirebon dan Ponorogo.
Usaha ini mendapat halangan dan saingan dari pedagang² Tjina jang mendapat fasilitas dari pemerintahan kolonial, ditambah lagi pengalaman dan pengetahuan berorganisasi dari pemimpin² Sarikat Dagang Islam masih kurang dan tidak banjak memberikan hasil dalam segi materienja, tetapi sudah menanamkan semangat perdjuargan nasional serta kepentingan bersama pada tiap² dada pengusaha batik chususnja.
Akibat krisis ekonomi dunia jang banjak memberikan peninggalan buruk pada bangsa Indonesia umumnja dan chususnja pada pengusaha batik, dari pihak pemerintah kolonial untuk mengatasi ini memasukan bahan baku batik sebanjak mungkin dari negeri Belanda. Dan djuga dari pihak Djepang berusaha membandjiri Indonesia dengan morinja dalam tingkat harga bersaingan dengan mori Belanda Melihat gedjala² ini dimana Djepang masuk kepasar Indonesia dengan ”dumping policy”nja, maka Belanda takut kehilangan pasaran, dengan bantuan pemerintah kolonialnja mengeluarkan peraturan pembatasan masuknja mori Djepang pada tanggal 1 Maret 1934 dan terkenal dengan nama „peraturan kontingenteering”. Mori Djepang dengan harga murah dan kwalitas tidak kalah dengan mori Belanda, sebelum krisis sudah mendapat pasaran dalam pengusaha batik dan sesudah krisis berachir, dimana bahan baku kurang mendapat sambutan cari pengusaha batik.
Untuk menghadapi saingan Djepang ini dari pihak importir Belanda mengadakan kumpulan jang dinamakan ”Cambrics Convenant” berkedudukan di Semarang dan ”Grey Convenant” berkedudukan di Djakarta. Kumpulan ini ditudjukan untuk menghadapi Djepang dalam menetapkan tingkat harga cambrics dan grey, sebab Djepang mendjual cambrics dan greynja djauh dibawah harga pasar. Dalam menghadapi saingan Djepang, Belanda mendekati tokoh² pengusaha batik di Jogjakarta antara lain: Bapak S. Djajengkarso (almarhum) supaja menghubungi pengusaha² lainnja di Solo dan Pekalongan selandjutnja menghadap ke Departemen van Economische Zaken di Djakarta. Bapak S. Djajengkarso menjanggupi akan menghubungi pengusaha² batik di Solo dan Pekalongan dan akan menghadap Departemen v.E.Z. di Djakarta. Di Solo dihubungi Bapak Wongsodinomo, di Pekalongan Bapak H. M. Wirio, Bapak H. Abdulhadi dan Bapak Zarkasi. Mereka datang ke Djakarta dan mendapat sambutan baik dari Pemerintah Belanda c.q. Dept. v.E.Z. Maksud Pemerintahan Belanda ialah mengadakan perundingan dengan wakil² pengusaha batik untuk membatasi masuknja mori Djepang ke Indonesia. Wakil Solo dan Jogja tidak dapat menjetudjui politik Belanda dalam pembatasan masuknja mori Djepang, karena mori Djepang ini harganja murah dan kwalitasnja tidak kalah dengan mori Belanda. Akibat adanja politik kontingentering ini, harga² mori naik dipasaran dan jang akan menderita ialah pengusaha² batik djuga, ditambah lagi importir² Belanda membentuk kumpulan jang dinamakan ”Cambrics Convenant” dan ”Grey Convenant”. Cambrics Convenant dan Grey Convenant ini jang akan menetapkan harga² mori dan badan² penjalurnja. Sebagian besar penjaluran dipegang oleh Tjina dan sedikit sekali pedagang /pengusaha batik Indonesia.

Untuk menghadapi kumpulan ini, pengusaha² batik di Solo jang dipelopori oleh: Bapak² R. Wongsodinomo, R.H. Muftie, S.P. Pusposumarto, M. Mursidi Bakri, R. Muljohartono, H.M. Sofwan . M. Wirjodinolo, H. Samsjuri, R. Hardjosukarno, H. Muhtadi, R. Wongsohartono, Tjokrosumarto, dan Ibu H. Sofwan , pada tahun 1935 mendirikan koperasi batik jang dinamakan „Persatuan Perusahaan Batik Bumi Putera Surakarta (P.P.B.B.S.)”. Pengusaha² batik besar di Solo didorong oleh gagalnja perundingan dengan pihak Belanda di Batavia soal contingenteering terpaksa mendirikan koperasi untuk menjatukan perdjuangannja. Tudjuan dari berdirinja koperasi PPBBS ialah:
a. membeli cambrics langsung dari importir sebagai langkah pertama,
b. mengimport sendiri cambrics dari luar negeri, sebagai langkah kedua,
c. mendirikan dan memiliki pabrik cambrics sendiri, sebagai langkah ketiga, dan
d. mempersatukan kekuatan jang ada pada seluruh pengusaha batik.
Usaha² pengurus untuk memperdjuangkan tudjuan diatas tidak begitu mudah sebab:
a. Pemerintahan kolonial tidak menghendaki pengusaha² bumiputera mentjapai kemadjuan,
b. Convenant tidak mau melihat pengusaha batik kuat, dan tidak menginginkan tussenhandel Tjina tergeser oleh koperasi.

Ibu H. Sofwan (almarhumah) Seorang wanita pengusaha batik anggota PPBBS Surakarta tahun 1935 jang besar dorongannja dan bantuannja pada pelopor pendiri PPBBS tahun 1935. Darah perdjuangan ingin lepas dari belenggu kolonial dan pedagang² Tjina, chususnja disektor perdagangan bahan baku batik telah mengalir dalam tubuhnja, dan mendesak pada Bapak Wongsodinomo supaja membentuk organisasi koperasi sebagai alat perdjuangan.
Dalam perkembangan dan pertumbuhan PPBBS selandjutnja banjak kedjadian2 pahit dan penting untuk mendorong semangat perdjuangan jaitu:
1. Cambrics dan pedagang2 Tjina:
Untuk menghalangi pertumbuhan dan perkembangan usaha PPBBS, pedagang Tjina tidak mau mendjual cambricsnja pada anggota² PPBBS . Dilain pihak ada pula pedagang2 Tjina jang mendjual cambricnja pada anggota PPBBS dan pengusaha2 batik lainnja dibawah harga koperasi dan dengan kredit. Tindakan pedagang2 Tjina ini tudjuannja ialah untuk menghantjurkan usaha2 koperasi dan melemahkan semangat anggota serta kepertjajaannja dengan perdjuangannja koperasi. Untuk menghadapi tindakan2 litjik ini, Pengurus PPBBS mengadakan tindakan pembalasan jaitu: membekot terhadap salah satu tjap dari cambrics jang didjual dipasar Solo dan ditetapkan „cambrics tjap ajam”. Anggota² diinstruksikan supaja tidak membeli cambrics tjap ajam dan usaha ini mendapat dukungan dari pengusaha2 iang belum mendjadi anggota PPBBS. Importir cambrics tjap ajam di Semarang melalui petugasanja jang tiap minggu datang ke Solo untuk mengantar dan menagih pihutangnja pada pedagang Tjina/agentnja di Solo, melaporkan bahwa cambricsnja tidak laku dan bertumpuk digudang. Petugas2 importir mengadakan penjelidikan langsung pada pengusaha batik jang bukan anggota PPBBS, dan mendapat berita bahwa : Pengurus PPBBS mengadakan pembekotan terhadap cambrics tjap ajam, melarang anggotaanja meembeli. Achirnja importir tersebut berhubungan langsung dengan Pengurus PPBBS dan diadakan perundingan. Hasilnja ialah, kepada PPBBS diperbolehkan membeli langsung cambrics pada importir dengan sjarat2 jang sama diberikan kepada pedagang2 Tjina jaitu dengan tingkat harga A dan kredit 3 bulan. Dengan ini PPBBS berhasil dalam aksinja.
2. Obat2 batik dan pedagang Tjina:
Kedjadian kedua jang djuga bertendens melumpuhkan usaha PPBBS ialah, pedagang2 Tjina tidak mau mendjual obat2 batik pada anggota PPBBS sekitar tahun 1937. Pedagang2 Tjina ini djuga mendjadi penjalur dari importir obat2 batik di Semarang. Pedagang Tjina ini memainkan harga dan persediaan. Kalau harga naik , persediaan jang ada disembunjikannja dan pengusaha2 sukar mentjari dan kalau ada dengan harga jang tinggi dan djuga mereka tidak mau mendjualnja. Melihat gedjala2 jang tidak baik ini, Pengurus PPBBS menghubungi pedagang2 Tjina itu, supaja mendjual obat2 batiknja pada anggota, usaha ini tidak berhasil . Untuk mengatasi tindakan2 litjik dan spekulatif dari pedagang2 Tjina ini , Pengurus PPBBS jang diwakili oleh Bapak R. Wongsodinomo, H. Muftie dan S. Pusposumarto, mengadukan pedagang2 Tjina itu pada Departemen van Economische Zaken Bagian Industri Ketjil jang dipimpin oleh Ir. Supardi di Jogjakarta.
Pengaduan itu ialah: pedagang2 Tjina tidak mau mendjual obat2 batiknja pada pengusaha batik, sedangkan obat itu sukar ditjari dipasar. Akibat tindakan pedagang-pedagang Tjina, akan melumpuhkan usaha pembatikan dan mengakibatkan timbulnja pengangguran dan selandjutnja ekses2 sosial jang tidak baik akan meningkat dalam masjarakat. Dengan alasan2 jang dikemukakan oleh Pengurus PPBBS, pihak Dept. v.E.Z. menjadari, maka besoknja diadakan per temuan dikantor Besar Polisi Jogjakarta jang dihadiri oleh : Komisaris Polisi, Assisten Residen, Regent Kota dan Pengurus PPBBS Pembitjaraan dalam sidang begitu hangat dan Pengurus PPBBS melihat gelagat ini, mengirim kurir seorang pengurus ke Solo untuk memberitahukan kepada anggota tentang kedjadian2 jang akan timbul. Dugaan ini benar, ternjata Pemerintah mengambil kesimpulan, akan mengirim utusan ke Solo dan langsung ke-toko2 Tjina itu.
Rombongan berangkat ke Solo terdiri dari: Komisaris Polisi, Ir. Supardi dan Pengurus PPBBS, langsung menudju toko2 obat Tjina jang tidak mau mendjual dan mengatakan obat2 nja sudah habis. Di Toko Tjina itu terdjadi perdebatan, antara Pengurus PPBBS dan Ir. Supardi disatu pihak dengan Komisaris Polisi dan Pedagang Tjina itu dilain pihak, dan achirnja kemenangan dipihak kita. Komisaris Polisi memutuskan semua obat2 batik di Toko2 Tjina itu dibeslah dan didjual pada koperasi PPBBS dan djumlahnja puluhan ton jang langsung dibajar oleh PPBBS.
3. Untuk mengsukseskan aksi ini Pengurus PPBBS memberikan tjontoh2 dan pengorbanan, baik moril maupun materil untuk mempertebal kepertjajaan anggota pada perdjuangan serta tudjuan berkoperasi antara lain :
- memberikan fasilitas jang diterimanja selama ini dari importir (cambrics dengan tingkat harga A) kepada koperasi, tanpa mengambil keuntungan.
- mengorbankan rumahnja dan kendaraannja untuk kepentingan perdjoangan koperasi.
4. Usaha² lainnja dibidang idiil dan usaha untuk memperkuat perdjuangan koperasi ialah:
- Pada tanggal 21 April 1939 di Solo diadakan Konperasi Pembatikan jang mengambil keputusan lahirnja „Batik Bond”. Konperensi ini dihadiri oleh utusan² dari: Solo, Jogjakarta, Pekalongan, Wonopringgo, Pekadjangan, Tjirebon, dan Ponorogo. Konperensi ini diadakan dirumah H. Abd. Djabbar (alm).
- Pada tanggal 27 April 1939 Koperasi PPBBS meresmikan berdirinja polikliniknja di Lawejan dibawah asuhan Dr. Kartono (alm). Poliklinik ini diperlengkapi dengan Pabrik Farmasi jang baru dapat memprodusir: balsem, aspirin, obat perut dsb
- Untuk mendjaga mental dan mendekati anggota dengan pengurus serta alat pendidikan, koperasi PPBBS menerbitkan madjallah bulanan jang dinamakan „Suara PPBBS” dibawah pimpinan H. Muftie, mulai tanggal 21 Pebruari 1940.
- Untuk kepentingan produksi maka pada tahun 1941 diadakan pertemuan antara: Dept.v.E.Z. jang diwakili Ir. Sitzen , Rijk Surakarta, Mangkunegaran dan PPBBS serta PPBP jang membitjarakan akan mendirikan Pabrik Cambric pertama di Indonesia. Pembagian saham ditetapkan: Belanda (50 %), Kesoenanan (25 %), Mangkunegaran (5 %), PPBBS dan PPBBP masing² (10 %). Pertemuan terachir diadakan di Batavia jang dihadiri oleh: Dept. v.E.Z.: Ir. Sitzen dan Ir. Surachman.
PPBBS Solo: R. Wongsodinomo, H. Muftie, Sg. Pusposumarto dan H. Samsjuri.
PPBBP Jogja: M. Djajengkarso, A. Zarkasi dan M. Ramelan.
Dengan berdirinja Batik Bond maka masjarakat batik telah dapat menjusun kekuatan melalui organisasi ini disamping koperasi jang telah ada pula dimasing-masing daerah .
3. Koperasi Wadah jang tjojok bagi pembatikan:
Pengusaha² batik sebagian besar adalah lemah dalam permodalan dan kurang pengalaman dalam perdagangan, dan perkumpulan. Untuk menghadapi saingan dari pedagang Tjina dan usaha untuk meningkatkan taraf kemakmuran harus berdjuang ber-sama² dalam satu organisasi. Organisasi ini harus sesuai dengan djiwa pengusaha batik jang berazaskan kekeluargaan dan gotong-rojong jang diterima mereka selama ini melalui pendidikan keluarga dan kepertjajaan mereka jaitu „Agama Islam”. Organisasi ini ialah „Koperasi” jang berazaskan pada kekeluargaan dan kumpulan dari orang² dan organisasi jang ekonomis lemah.
Dengan terbentuknja koperasi di Solo, Jogja, maka didaerah pembatikan lainnja didirikan pulalah koperasi batik oleh pengusaha batik jang terkemuka didaerah itu seperti: di Pekalongan, Tasikmalaja, Tjiamis, Ponorogo, Tjirebon, Tulungagung dan sebagainja. Waktu Djepang masuk dimana bahan baku sudah mulai kurang karena putus hubungan dengan negeri Belanda dan negara² Eropah lainnja sedjak tahun 1939, maka kegiatan pembatikan mulai pula berkurang. Setelah Djepang berkuasa penuh di Indonesia, kegiatan koperasi mulai dibatasi oleh pemerintahan Djepang, dan kegiatan diutamakan kepada kebutuhan peperangan mereka .
Waktu Indonesia diproklamirkan kemerdekaannja tahun 1945, dan pengusaha batik aktip dalam perdjuangan dan mengerahkan seluruh kekuatannja baik tenaga maupun harta untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pengusaha² batik di Solo terutama jang tinggal didaerah Lawean adalah sumber keuangan bagi perdjuangan kemerdekaan didaerah Solo chususnja. Selama daerah pendudukan pengusaha² batik mendapat bahan bakunja melalui penjelundupan dari daerah pendudukan terutama Semarang. Dalam pembentukan gabungan pengusaha batik jang meliputi seluruh pengusaha batik. Pengurus PPBBS aktip bersama-sama dengan Pedjabat² Pemerintahan antara lain : Bapak Ir. Surachman (almarhum), Bapak Prof. Ir. Teko Sumodiwirjo, Bapak Prof. R.S. Suriaatmadja, Bapak R.M. Margonodjojohadikusumo, Bapak L. Setyoso dan jang besar dorongannja ialah Bapak Koperasi Indonesia jaitu Ex. Wakil Presiden R.I. jaitu Bapak Dr. H. Moh. Hatta.
Pengurus PPBBS jang memegang peranan waktu itu ialah : Bapak K.H. Idris, Bapak H. Muslim, Bapak Martodiwarno, Bapak Wongsodinomo, Bapak Prijorahardjo. Sedangkan dari wakil PPBI Jogjakarta Pengurusnja jang aktip dalam pembentukan gabungan ini antara lain: Bapak A. Zarkasi Djojoaminoto, Bapak Saebani, dan

Bapak Tjitrosumarto. Dua koperasi ini ditambah dengan wakil dari koperasi batik Bakti Ponorogo dan Tulungagung, bersama dengan Pedjabat² Pemerintah dibentuklah gabungan jang dinamakan „Gabungan Koperasi Batik Indonesia” pada tanggal 18 September 1948 di Jogjakarta. Susunan Pengurus pertama dari Koperasi Pusat GKBI ialah: Ketua I/II: Bapak K.H. Idris dan Bapak H. Saebani, Penulis : Bapak Prijorahardjo dan Bendahara I/II: Bapak H. Muslim dan Tjitrosumarto dan wakil dari Ponorogo dan Tulungagung namanja Hadisendjoto dan Muslim. Sampai GKBI mendapat hak badan hukum semua tokoh² pendiri GKBI ini masih aktip djadi pengurus PPBBS dan GKBI Penggantian Pengurus PPBBS mendjadi Pengurus BATARI pada tahun 1954 dan susunannja ialah: Ketua I/II : Abdullah dan H.A. Mutawali, Penulis I/II: Moch. Ngadenan, Ali Atmodjo. Bendahara: Ibnu Sujachmir dan Pembantu²/Komisaris: Sjahid Winoto, Hardimartono, H. Ma Ali, Suaskar Atmodjo. Penggantian Pengurus GKBI dari tangan Bapak K. Idris dan kawan² dalam tahun 1955 kepada Bapak H.A. Djunaid dan kawan²nja.
a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum:
PPBBS didirikan tahun 1935 dan mendapat Hak Badan Hukum No. : 454 tahun 1937. Daerah kerdja PPBBS meliputi seluruh daerah Karesidenan Surakarta. Perobahan Anggaran Dasar PPBBS disesuai kan dengan Undang² Koperasi tahun 1949 No. 179 dan terdaftar dengan nama „Koperasi Batik Timur Asli Republik Indonesia” Surakarta. Batari adalah anggota GKBI No. 1 dan jang terbesar baik anggotanja maupun kegiatannja. Perobahan Anggaran Dasar Batari disesuaikan dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP.60/1959 serta jang terachir dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 tertjatat No. 454 tahun 1968 .
Dengan keluarnja PP.60/1959 maka Batari mendjadi petjah dua jaitu daerah Tembajat memisahkan diri dan koperasinja dinamakan Koperasi Perusahaan Batik Tembajat dan mendjadi anggota GKBI tahun 1960 No. 23.
Dalam tahun 1962 Batari petjah lagi mendjadi beberapa koperasi jang patut didewasakan jaitu: Koperasi Pembatikan Nasional didaerah Pasar Kliwon, Koperasi PPBS didaerah Lawejan, Koperasi Batik Sukowati di Bakonang, Koperasi Batik BAKA di Klaten , Koperasi Batik BIMA di Matesih Karanganjar, Koperasi Batik Bojolaii di Andong dan achirnja berdjumlah 8 buah. Pada tahun 1963 petjah lagi mendjadi dua jaitu berdirnja Koperasi Batik SIDOLUHUR di Gemolong Sragen. Dan terachir jang memisahkan diri jaitu Koperasi Batik Wonogiri pada tahun 1965. Sekarang BATARI lama telan petjah mendjadi 10 Koperasi Batik Primer, masing² 3 primer di Kotamadya Surakarta dan 7 buah diluar Kotamadya dan semuanja telah mendjadi anggota GKBI.
b. Keanggotaan dan Ketatalaksanaan:
Djumlah anggota PPBBS/BATARI tadinja tersebar diseluruh Karesidenan Surakarta dan untuk djelasnja mulai tahun 1953 sampai achir tahun 1967 dapat dilihat perkembangan dan perobahan²nja.
| Tahun | Anggota | Tahun | Anggota | Tahun | Anggota | Tahun | Anggota |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1953 | 710 | 1954 | 847 | 1955 | 857 | 1956 | 841 |
| 1957 | 834 | 1958 | 868 | 1959 | 885 | 1960 | 946 |
| 1961 | 966 | 1962 | 240 | 1963 | 347 | 1964 | 326 |
| 1965 | 321 | 1966 | 406 | 1965 | 321 | 1968 | 321 |
c. Ketatalaksanaan BATARI:
Untuk mengatur pelajanan anggota jang banjak itu Pengurus Batari membentuk Badan Musjawarah Anggota pada tiap² daerah dan sekarang pada koperasi batik jang baru itu, sebagian besar dari anggota Badan Musjawarah menempati kedudukan pengurus pada masing² primer. Pada waktu dahulu jaitu sebelum BATARI petjah susunan kepengurusannja dan badan pemeriksa mentjerminkan perwakilan dari daerah² tempat tinggal anggota. Sekarang BATARI daerah kerdjanja hanja satu Ketjamatan sadja lagi. Usaha² Pengurus BATARI sedjak berdirinja sampai sekarang telah banjak memberikan faedah pada masjarakat daerah kerdjanja baik dalam bidang sosial maupun dalam bidang usaha dan produksi. Dalam bidang sosial jang menondjol ialah: banjak gedung pendidikan jang telah dibangun dan diselenggarakan oleh primer mulai dari Sekolah Taman Kanak, sampai pada tingkat Universitas ada dalam asuhan primer² batik di Solo. Balai Pengobatan Batik masing² primer telah mempunjai di Kotamadya Solo dan Sukowati Bakonang. Dibidang usaha dan produksi jang telah dibangun ialah gedung kantor masing² primer telah punja dan djuga Pabrik Tekstil kepunjaan 10 Primer sudah djalan. Disamping itu banjak kegiatan sosial lainnja dan pembangunan daerah kerdja lainnja jang telah diusahakan oleh BATARI.
Susunan pengurus dan badan pemeriksa Batari untuk masa djabatan 1968/69 ialah: Ketua I/II: HA . Mutawali dan A. Bakri. Penulis I : Sujono Hamongdarsono, Bendahara : Brotosaputro dan Pembantu : Nochroni Muslich.
BATARI di GKBI sekarang diwakili oleh Ketua I nja jaitu H.A. Mutawali jang mendjabat sebagai Ketua I pula untuk masa djabatan tahun 1966/1968.
III . KEGIATAN DAN AKTIVITAS BATARI:
A. Bidang Organisasi dan Idiil :
1. Pendidikan :
Kegiatan PPBBS/BATARI sedjak dari dahulu sampai sekarang paling aktip menjelenggarakan pendidikan dan penerangan pada anggotanja dan masjarakat daerah kerdjanja. Untuk penerangan anggota dan masjarakat daerah kerdjanja. Untuk penerangan anggota BATARI menerbitkan madjalah chusus jang dinamakan ,,MADJALAH BATARI". Dengan petjahnja BATARI mendjadi beberapa Primer maka kegiatan penerbitan madjalah ini berhenti dan pendidikan serta penerangan dilaksanakan langsung oleh primer masing². Gedung pendidikan jang telah dibangun oleh BATARI ialah : STK, SMP/

Pengurus BATARI 1968/1969.Dari kiri kekanan : Sujono Hamongprabowo, Brotoseputro, H.A. Mutawali A. Bakri dan Nachroni Muslich. SMA Batik, SMA Koperasi dan Gedung Universitas Batik atas usaha bersama primer² di Kotamadya Surakarta, jaitu: BATARI, PPBS dan KPN. Disamping ini banjak pula bantuan jang diberikan kepada organisasi² pendidikan untuk membangun gedung² sekolah antara lain Muhammadijah. Sedjak tahun 1953 sampai tahun 1961 dana pendidikan jang diterima sebanjak Rp. 3.913.692,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 4.335.106,— dan tahun 1965/1967 telah diterima sebesar Rp. 25.020,— dan telah dikeluarkan pula sebesar Rp. 37.510,—. Disamping itu pendidikan langsung pada anggota dan karyawan djuga diadakan kursus² tentang kekoperasian dan pengetahun administrasi dan dagang. Pendidikan dibidang olahraga djuga BATARI aktip antara lain tjabang²nja: bulutangkis, volley ball, pingpong, tjatur, sepakbola, tennis dan bridge. Chusus untuk tjabang

2. Sosial dan masjarakat:
Dibidang sosial BATARI djuga banjak usahanja sedjak berdiri sampai sekarang. Memberikan bantuan kepada masjarakat langsung dalam mengatasi bentjana alam, baik bandjir, maupun kelaparan. Djuga tiap tahun menjelenggarakan chitanan masaal untuk anak² keluarga batik serta masjarakat daerah kerdjanja. Disamping itu BATARI menjelenggarakan Balai Pengobatan Batik jang terbuka untuk umum. Dalam tahun 1953 sampai 1961 telah diterima dana sosial sebesar Rp. 2.539.833,— dan telah dikeluarkan sebesar

Balai Pengobatan batik dibiajai dari dana sosial dan bantuan dari ongkos² BATARI serta dari GKBI.
|
| |||||
| Tahun | Pasien | Biaja | Tahun | Pasien | Biaja |
|---|---|---|---|---|---|
|
| |||||
| 1956 | 28.744 | 261.484,— | 1957 | 38.801 | 254.072,— |
| 1960 | 48.318 | 688.187,— | 1959 | 47.668 | 557.552,— |
| 1962 | 46.081 | 919.732,— | 1961 | 46.081 | 1.025.858, — |
| 1966 | 5.346 | 109.673 ,— | 1963 | 10.867 | 974.466,— |
| 1964 | 7.286 | 107.196,— | 1965 | 7.273 | 5.790.734,— |
| 1967 | 5.529 | 188.504 ,— | |||
|
| |||||
3. Pembangunan daerah kerdja :
Dalam kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja ini telah banjak jang diusahakan oleh PPBBS/BATARI sedjak berdirinja sampai sekarang baik pada tingkat daerah maupun pada tingkat pusat. Pada tingkat daerah dana jang diterima sedjak tahun 1953/1961 sebesar Rp. 2.754.850,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 1.875.281,— Pembangunan dibidang pendidikan banjak jang telah dilak sanakan sampai sekarang masih mendjadi tanggung djawab Batari serta 2 primer lainnja di Kotamadya Solo, jaitu SMA Batik dan Universitas Batik. Untuk tahun 1965/1967 dana pembangunan jang diterima sebesar Rp. 23.130,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 99.696,—
4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik :
Untuk kesedjahteraan karyawan BATARI selain dari gadji bulanan jang diterima mereka djuga mendapat djaminan bantuan beras, serta keluarganja , biaja pengobatan , gratifikasi tahunan dan hadiah lebaran. Sedangkan untuk buruh batik, selain dari upah mereka, djaminan sosial lainnja ialah bebas berobat di Balai Pengobatan batik, hadiah lebaran dan bantuan sosial jang diambilkan dari sumbangan 
5. Zakat:
BATARI mengeluarkan zakat kekajaan dan disamping itu menerima zakat dari GKBI untuk disalurkan kepada jang berhak dilingkungan daerah kerdjanja.
Dalam tahun 1965/1967 zakat jang diterima dari GKBI dan Batari sendiri sebesar Rp. 124.355,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 122.036,—.
1. Permodalan:
B. Bidang Usaha dan produksi:
Modal pertama bagi BATARI ialah simpanan² anggota, tjadangan dan ditambah dengan pindjaman pihak ketiga. Perkembangan modal BATARI dari tahun 1957 dapat dilihat dalam daftar dibawah.
| Tahun | Simp./Tjad. | Kekajaan Investasi | |||
|---|---|---|---|---|---|
| Tetap | Lantjar | Pabrik | G.K.B.I | ||
| 1957 | 37.893 | 6.365 | 20.742 | — | 36.369 |
| 1958 | 41.939 | 5.466 | 28.581 | — | 44.001 |
| 1959 | 74.562 | 4.982 | 44.537 | 539 | 85.533 |
| 1960 | 104.192 | 7.229 | 82.455 | 597 | 107.221 |
| 1965 | 879.095 | 51.974 | 521.184 | 178.000 | 473.599 |
| 1966 | 5.888 | 150 | 2.267 | 1.361 | 3.668 |
| 1967 | 5.274 | 327 | 5.373 | 3.358 | 4.815 |
*) Angka² dalam ribuan.
2. Distribusi bahan batik:
BATARI adalah semula anggota jang terbesar dan mendapat djatah lebih kurang 21,5 % dari seluruh bahan baku GKBI. Setelah dipetjah mendjadi 10 primer maka Batari hanja tinggal 3 % dari

| Tahun | Banjak | Banjak | Lain² | Omzet | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Yard | Harga | Kg. | Harga | |||
| 1954 | 16.296 | 84.705 | 525 | 3.456 | 356 | 79.818 |
| 1955 | 12.857 | 73.930 | 284 | 2.701 | 3.186 | 88.518 |
| 1956 | 17.730 | 109.300 | 79 | 1.504 | — | 110.805 |
| 1957 | 21.141 | 158.348 | 31 | 945 | 1.811 | 161.201 |
| 1958 | 12.224 | 179.896 | 89 | 1.235 | 5.151 | 186.283 |
| 1959 | 8.682 | 208.386 | — | 6.139 | — | 214.579 |
| 1960 | 9.530 | 264.270 | 72 | 12.411 | 8.759 | 285.440 |
| 1961 | 11.159 | 292.975 | 246 | 31.774 | — | 324.750 |
| 1962 | 6.972 | 194.548 | 311 | 23.015 | 980 | 218.545 |
| 1963 | 1.079 | 59.034 | 57 | 15.260 | — | 74.295 |
| 1964 | 965 | 150.859 | 24 | 23.583 | — | 174.443 |
| 1965 | 1.436 | 691.222 | 9 | 55.576 | — | 746.798 |
| 1966 | 924 | 4.262 | 8 | 342 | — | 4.625 |
| 1967 | 810 | 17.143 | 43 | 992 | — | 20.408 |
*) Angka dalam ribuan.
Omzet Batari tidak terdiri dari hasil pendjualan bahan² GKBI sadja, tetapi ditambah dengan usaha² lain jaitu: pendjualan batik dan dan bahan² bumbu batik diluar GKBI, serta grey hasil produksi Pabrik Karangasem.
|
| ||||
| Tahun | Omzet | SHP. Bruto | Biaja | SHP. Netto |
|---|---|---|---|---|
|
| ||||
| 1953 | 94.986.454,— | 4.770.281,— | 479.114,— | 4.291.167,— |
| 1954 | 97.856.642,— | 5.588.507,— | 916.956,— | 4.671.551,— |
| 1955 | 99.793.043,— | 4.484.298,— | 1.241.912,— | 3.242.386,— |
| 1956 | 126.889.145,— | 4.396.365,— | 1.515.002,— | 2.881.363,— |
| 1957 | 182.505.078,— | 7.092.482,— | 2.658.629,— | 4.433.853,— |
| 1965 | 1.451.745.053,— | 238.509.322,— | 133.106.690,— | 105.402.632,— |
| 1966 | 8.204.502,— | 1.605.481,— | 1.260.231,— | 345.250,— |
| 1967 | 39.156.340,— | 3.860.871,— | 2.790.148,— | 1.070.723,— |
|
| ||||
3. Pemasaran batik:
Kegiatan untuk mentjarikan pemasaran batik, sedjak berdirinja PPBBS sampai mendjadi BATARI sebelum petjah dan sekarang ini, terus aktip. Bahkan sekarang ini BATARI sendiri membuka Toko Batik jang tempatnja disamping kantornja . Baik produksi Solo dan sekitarnja telah dikenal diseluruh Indonesia dan luar negeri.
Dewasa ini pemusatan pemasaran batik jang terbesar adalah Solo jang terkenal dengan Pasar Klewernja" dimana seluruh djenis batik mulai dari kasar sampai halus dan aneka djenis produksi dapat didjumpai. Dan djuga produksi2 dari daerah pembatikan lainnja di Djawa Tengah dan Djawa Timur banjak pemasarannja di Solo . Untuk tahun 1965/1967 pemasaran batik melalui BATARI mentjapai omzet masing2 :tahun 1965 sebesar Rp . 425.671.944 ,- tahun 1966 mentjapai sebesar Rp . 3.345.556,- dan th . 1967 mentjapai sebesar Rp . 237.275,
4. Pabrik Tekstil BATARI :
Batari sebagai satu anggota GKBI jang terbesar tadinja sedjak tahun 1953 sampai tahun 1961 , dalam hal rentjana mendirikan pabrik cambries untuk merealisasikan ijita? semula dari pengusaha batik ketinggalan dibandingkan dengan Primer2 lainnja di Pekalongan, Ponorogo . Semula rentjana pabrik ini akan selesai dalam tahun 1962 dengan kapasitas mesin tenun sebanjak 200 ATM dalam tahap pertama. Rentjana pemupukan simpanan untuk pembiajaan pabrik telah dimulai tahun 1957 dan dalam tahun 1959 telah dimulai membangun gedung pabrik. Gedung selesai dalam tahun 1962 dan rentjana peme sanan mesin serta devisa telah disediakan oleh Pemerintah. Rentjana ini tidak bisa dilaksanakan karena Pemerintah mentjabut izin devisa
yang telah diberikan , berhubung Pemerintah memerlukan devisa untuk perdjuangan Trikora mengembalikan Irian Barat kepangkuan Republik Indonesia. Rentjana ini baru bisa didjalankan kembali awal tahun 1964, dimana pemesanan mesin ” dari Djepang dimulai. Modal untuk pembiajaan Pabrik Tekstil Karangasem dimulai sediak BATARI 
belum terpetjah mendjadi beberapa koperasi primer, sekarang modal itu dipikul berbanding oleh 10 primer ex . anggota BATARI dahulu. Jang paling besar diantara 10 primer itu ialah BATARI, PPBS dan KPN sampai achir tahun 1967 djumlahnja Rp. 9.801.423,— sedangkan 7 primer lainnja sebesar Rp. 1.630.749,— (PBB. Bojolali dasar Neratja 1966).
Pada achir tahun 1964 telah dipasang mesin² dan perlengkapan lainnja dengan bantuan tenaga ahli dari P.C. GKBI Medari Perlengkapan pabrik jang telah dipunjai oleh Pabrik Karangasem ialah: mesin tenun sebanjak 136 looms, 1 unit preparation machine dengan kapasitas 200 looms, 4 set mesin palet MURATA 100” dengan kapasitas 80 spindel, 2 buah mesin Menghani, sebuah mesin pengudji benang lungsi , 10 buah mesin tjutjuk buatan PC GKBI Medari dan mesin diesel dan ketel uap dengan kapasitas 500 PK. Disamping itu Pabrik Tekstil djuga mempunjai bengkel untuk reparasi perlengkapan mesin² tenun dan lain²nja. Pabrik ini awal tahun 1965 telah selesai pemasangan mesin²nja dan sudah dalam pertjobaan dan peresmian bukaannja ialah tanggal 12 September 1965. Bahan baku benang tenun 1965 didapat dari KOTOE dan sebagian lagi W.O. 60/40 dari PC. GKBI. Dalam tahun 1966 bahan baku djuga dari Pemerintah dan kekurangannja dari PC Medari/GKBI, djumlah produksi sebanjak 162.912,– yard. Dalam tahun 1967 bahan baku didapat dari GKBI, Pemerintah dan pasar bebas dan produksi mentjapai 622.094 yard, mendekati 4 kali produksi tahun 1966. Djenis produksi terdiri dari 3 matjam jaitu : grey/blatjo, grey half finish dan cambric jang difinish di PC GKBI Medar Jogjakarta. Konstruksi dari seluruh benang hasil produksi ialah djenis/kwalitas cambric biru.
Pabrik Tekstil Karangasem seluruh kebutuhannja akan modal dan lain²nja dipenuhi oleh koperasi sebagai pemiliknja, sedangkan management dari pabrik dipertjajakan kepada wakil² dari koperasi pemilik dan pimpinannja dipilih dalam organisasi Badan Kerdjasama Koperasi Surakarta (BKKS). Management operation/Pimpinan pelaksana diangkat seorang Administratur jang didjabat oleh Koperasi KPN jaitu Ibnu Sujachmir Ketua Umum KPN. Dalam mentjapai efisiensi kerdja dan produktivitas jang tinggi, Pimpinan mempunjai motto „ Produksi kita tingkatkan atas dasar kesedjahteraan karyawan”.
Djumlah karyawan sampai achir tahun 1967 ada sebanjak 275 orang dan untuk melaksanakan mottonja, pimpinan pada achir tahun 1967 mengadakan perlombaan produksi jang diimbangi dengan kesedjahteraan jaitu : disiplin kerdja, kebersihan tempat kerdja dan hasil produksi, kesadaran dan tanggung djawab kerdja dan djumlah/pertambahan produksi. Perlombaan ini menghasilkan baik, produksi semula hanja 59.827 yard (2.417 pis) per-bulan sekarang naik mentjapai 103.893 yard (4.198 pis) per-bulan, dan bulan Nopember naik lagi mentjapai 111.277 yard (4.496 pis). Karyawan Pabrik Tekstil Karangasem selain dari gadji bulanan mereka mendapat premi kerdja, pakaian dinas, biaja pengobatan, beras, hadiah lebaran, djasa pro duksi dan bantuan sosial lainnja. Untuk kepentingan mental/bathin karyawan, sekali seminggu diadakan pendidikan agama dan sembahjang berdjema'ah pada tiap² hari Djumʼat dengan Chatib dari kalangan karyawan atau tenaga ahli dari luar. Pabrik merentjanakan akan mendirikan Mesdjid sendiri dalam lingkungan pabrik untuk kepentingan karyawan dan masjarakat sekitar pabrik.
——————
BAGIAN: 2
KOPERASI BATIK P.P.B.I.
PERSATUAN PENGUSAHA BATIK INDONESIA
Djalan Brigdjen Katamso No. 69 Jogjakarta
Hak Badan Hukum No. 641 Tahun 1939

I. RIWAJAT PEMBATIKAN:
1. Asal-usul batik:
Asal-usul pembatikan didaerah Jogjakarta dikenal semendjak keradjaan Mataram ke-I dengan radjanja Penembahan Senopati. Daerah pembatikan pertama ialah didesa Plered. Pembatikan pada masa itu terbatas dalam lingkungan keluarga kraton jang dikerdjakan oleh wanita² pembantu ratu. Dari sini pembatikan meluas pada tarap pertama pada keluarga kraton lainnja jaitu isteri dari abdi dalam dan tentara².
Pada upatjara² resmi keradjaan keluarga kraton baik pria maupun wanita memakai pakaian dengan kombinasi batik dan lurik. Oleh karena perajaan ini mendapat kundjungan dari rakjat dan rakjat tertarik pada pakaian² jang dipakai oleh keluarga kraton dan ditiru oleh rakjat dan achirnja meluaslah pembatikan keluar dari tembok kraton. Akibat dari peperangan waktu zaman dahulu baik antara keluarga radja² maupun antara pendjadjahan Belanda dahulu, maka banjak keluarga² radja jang mengungsi dan menetap didaerah-daerah baru antara lain ke Banjumas, Pekalongan, dan kedaerah Timur Ponorogo, Tulungagung dan sebagainja. Meluasnja daerah pembatikan ini sampai kedaerah-daerah itu menurut perkembangan sedjarah perdjuangan bangsa Indonesia dimulai abad ke-18. Keluarga² kraton jang mengungsi inilah jang mengembangkan pembatikan seluruh pelosok pulau Djawa jang ada sekarang dan berkembang menurut alam dan daerah baru itu . 2. Tjiri² chas batik Jogja.
Proses batik jang dikenal waktu itu sangat sederhana sekali karena ini merupakan pekerdjaan samben dan keradjinan tangan dari keluarga radja dan pembantu²nja. Masa dan waktu jang diperlukan untuk membuat satu potong batik sangat lama sekali waktu itu, bahkan memakan waktu 3 sampai 6 bulan untuk satu potong batik. Motif dan design jang dilukiskan mentjerminkan keindahan alam, perdjuangan, binatang dan alat perlengkapan perang dan sebagainja. Batik Jogja terkenal sekarang dengan motif² dan proses tradisionilnja jaitu: semen²an, garis miring, dan bahan² soganja buatan dalam negeri, tegertom nila.
Bahan kain putihnja waktu itu hasil tenunan sendiri, sebagian dibuat untuk lurik dan sebagian batik untuk kombinasi pakaian waktu itu. Bahan kain luar negeri baru dikenal kira abad ke-19 setelah dikenalnja revolusi industri di Eropah Inggeris.
II. ORGANISASI PEMBATIKAN:
1. Pendahuluan:
Akibat kemadjuan² dibidang teknik jang didapat oleh bangsa barat dan dibawa oleh bangsa pendjadjah Belanda ke Indonesia, memberi pengaruh besar pada tata tjara kehidupan manusia. Masjarakat batik djuga terpengaruh dengan kemadjuan teknik ini antara lain dikenalnja bahan² baku mori hasil produksi mesin dan obat² batik jang dibuat setjara kimiawi. Waktu achir abad ke- 19 telah banjak masuk ke Indonesia bahan² tekstil hasil industri Belanda baik Inggeris termasuk bahan mori batik. Oleh karena pembatikan bukan monopoli keluarga kraton lagi dan telah banjak dipakai oleh rakjat dan djuga daerahnja tidak terbatas pada Solo dan Jogja sadja lagi, maka produksinja sekarang beralih pula dari produksi untuk pakaian sendiri kepada produksi pasar. Dan mulai disini pembatikan mendjadi salah satu tjabang mata pentjaharian rakjat jang sifatnja keradjinan rumah tangga. Sampai awal abad ke-20 pembatikan jang dikenal baru batik tulis hasil keradjinan tangan wanita dan kira² tahun 1910 baru dikenal pembuatan batik tjap, Batik tjap muntjul karena batik sudah merupakan massa produksi disamping batik tulis.
Setelah perang dunia kesatu kenadjuan teknik di Eropa bertambah djuga chusus dibidang kimiawi dan mulai pula mengalir obat² batik ke Indonesia chususnja produksi Djerman dan Inggeris. Setelah batik mendjadi masal produksi dan pemakaiannja bukan terbatas dipulau Djawa sadja lagi bahkan telah mendjalar keseluruh pulau² nusantara Indonesia, maka bahan baku batik mendjadi masalah dalam pemasaran. Bahan baku batik setelah perang dunia kesatu mendjadi bahan perdagangan jang tidak ketjil pengaruhnja pada perdagangan import waktu itu. Importnja dipegang oleh perusahaan Belanda jang tergabung dalam ”Big Five” dan perdagangan dalam negeri dipegang oleh bangsa Tjina.
2. Masa Perintis:
Oleh karena bahan baku batik telah mendjadi bahan perdagangan baik nasional maupun internasional, maka kegontjangan pada sektor lain djuga akan berpengaruh pada sektor bahan baku batik. Sedangkan dalam negeri bahan baku batik ini mendjadi bahan perdagangan spekulasi bagi pedagang Tjina baik Belanda. Pengusaha² batik Indonesia sebagian besar lemah dalam permodalan, akibatnja terikat dengan hutang pada pedagang² Tjina. Tingkat pengetahuan pengusaha² batik djauh ketinggalan dalam perdagangan dibandingkan dengan bangsa Tjina. Pemasaran batik dikuasai oleh Tjina, bahan baku dikuasai oleh Tjina, modal dikuasai oleh Tjina, akibatnja pengusaha² batik dari produsen djatuh pada tingkat buruh batik atau jang mengorganisir tenaga² kasar buruh batik.
Pengusaha² batik mengenal obat import sesudah perang dunia kesatu kira² tahun 1924 dan sebelumnja Jogja memakai obat² batik buatan dalam negeri jaitu: nila tom, tinggi, soga. Obat² batik luar negeri jang diperkenalkan ialah indigo, ergansoga. Oleh karena obat² batik ini pemakaiannja lebih mudah dan tjepat, maka sambutan dari pengusaha hatik baik dan obat² dalam negeri sedikit -kesedikit berkurang dipergunakan.
Waktu krisis ekonomi dunia sedang hebat²nja, pengaruhnja pada perekonomian Indonesia besar sekali djuga pada sektor pembatikan. Akibatnja banjak pengusaha² batik jang ditutup dan pengangguran meningkat. Sesudah krisis Djepang mulai masuk pasaran Indonesia dan membandjiri morinja dengan sistim dumping dan Belanda tidak kuat menjaingi Djepang. Untuk melawan saingan Djepang, Pemerintah Belanda mengeluarkan Undang² Contingenteering jaitu membatasi masuknja mori import Djepang ke Indonesia dan aatnja harga² mori naik, dan bahan² sukar didapat. Setelah Pemerintah Kolonial Belanda mengeluarkan Peraturan Contingenteering terhadap masuknja mori Djepang ke Indonesia bulan Maret 1934, Pemerintah Djepang mengirim delegasinja achir bulan jang diketuai oleh Dr. Nagaoka beserta beberapa wartawan Djepang datang ke Indonesia untuk menemui Pemerintah Kolonial Belanda.
Antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan Delegasi Djepang diadakan perundingan untuk membitjarakan Peraturan Contingenteering itu, sampai dua kali sidang dan tidak didapat titik pertemuan jang memuaskan bagi keduabelah pihak. Disamping mengadakan perundingan, pihak delegasi Djepang sangat aktip mengumpulkan pendapat² baik pihak pengusaha batik maupun tokoh² pedjuang nasional dikota besar seperti Djakarta, Bandung, Pekalongan, Jogja, Solo dan Surabaja. Pada awal bulan Djuni datang utusan Pemerintah Kolonial Belanda ke Jogjakarta kerumah Bapak M. Djajengkarso jang diantar oleh Bapak Ir. Surachman (alm.) Utusan meminta supaja Bapak M. Djajengkarso (alm.) menghadap Pemerintah di Batavia dengan membawa teman² lainnja dari Solo dan Pekalongan untuk membitjarakan soal cambric Djepang. Bapak Djajengkarso menghubungi teman² Solo dan dari Pekalongan sudah ada jang dihubungi langsung dan sanggup. Tanggal 4 Djuni 1934 berangkatlah delegasi ke Batavia terdiri dari: M. Djajengkarso, H.M. Bilal, H.M. Muksin dari Jogjakarta, R. Wongsodinomo, R. Danusubroto, M. Margolan dari Solo, H. Madenoer Wirjo, H. Zarkasi, H. Abdulhadi dari Pekalongan. Tanggal 5 Djuni sore diadakan pertemuan dengan Dept. v.E.Z. jang dipimpin oleh Mr. Meyeranef dan diminta pendapat masing² tentang pembatasan masuknja cambric Djepang. Dari pihak delegasi pengusaha batik, tidak bisa menerima kebidjaksanaan Pemerintah Belanda dan menghendaki masuknja cambric Djepang bebas tidak terbatas. Pemerintah Belanda achirnja tidak bisa membudjuk delegasi kita untuk mendapat backing menghadapi Pemerintah Djepang. Besoknja tanggal 6 Djuni 1934 Sdr. Saerun seorang wartawan Indonesia dari Harian Pemandangan datang ketempat penginapan delegasi pengusaha batik dengan teman²nja dari Harian Djepang jang ada di Indonesia untuk menanjakan hasil² pertemuan dengan Pemerintah Belanda. Untuk menghadapi tamu ini akan mengakibatkan resiko jang berbahaja, sebab antara Djepang dan Belanda sudah ada hubungan jang tidak baik dengan adanja „Ordonantie Contingenteering” dan perundingan² jang telah diadakan merekapun djuga gagal, dan dari pihak kita djuga Belanda tidak mendapat backing. Hasil pertemuan dengan Sdr. Saerun dan wartawan Djepang itu sebelumnja telah dimintakan oleh Bapak Djajengkarso supaja djangan dimuat dalam Harian² Indonesia, sebab resikonja tjukup berat, permintaan ini disanggupi. Oleh karena masalah ini oleh Sdr. Saerun dilihat tidak berdiri sendiri dan menjangkut perdjuangan jang lebih luas lagi jaitu : kebebasan ekonomi dan kebangsaan nasional Indonesia. Gambar dan hasil² pokok pembitjaraannja dimuat dalam „Harian Pemandangan edisi Batavia” tanggal 12 Djuni 1934 dengan teks antara lain berbunji : „ mau kerdja sama, tapi kalau ada hal jang bertentangan minta dimaklumkan, djikalau saja mati atau hidup, harus ada disamping bangsa saja sendiri”. Teks jang dimuat dalam gambar tjukup tadjam sebagai tamparan pada Pemerintah Kolonial waktu itu, dan akibatnja Bapak Djajengkarso dipanggil oleh Pemerintah Belanda untuk diminta pendjelasan tentang soal tersebut. Pemerintah Belanda mengharapkan supaja Bapak Djajengkarso menuntut Saeroen jang tidak

a. Pembentukan wadah organisasi:
Pengaruh perdjuangan nasional jang dipelopori oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dengan Budi Utomonja djuga menggerakkan hati sanubari kaum pengusaha batik untuk membentuk satu wadah jang dapat berdjuang ber-sama² bahu-membahu menghadapi baik kaum pendjadjah maupun pedagang² Tjina. Maka dibentuklah organisasi jang berdjiwa koperasi jang didasarkan pada Undang² No. 91/1927 jaitu: Reglement voor de Oprichting Van Inlandse Cooperative verenigingen (Peraturan Pendirian Perkumpulan Koperasi Bumiputera). Tudjuan dari pembentukan wadah ini ialah:
- membeli langsung bahan baku batik dari convenant.
- mendatangkan sendiri bahan baku batik dari luar negeri.
- mendirikan pabrik mori dan obat² batik.
- mendirikan badan kredit untuk menolong anggota dari lintah darat.
- mentjarikan pemasaran batik dan pendjualan bersama.
Usaha² P.P.B.B.P. ini tidak begitu mudah dilaksanakan dan mendapat rintangan dari pedagang² Tjina dan Convenant. Berhubungan langsung dengan Convenant boleh tetapi dengan harga contant dan harga jang diberikan golongan A jang diberikan kepada pedagang² besar Tjina djuga golongan A. Sedangkan pedagang² Tjina mendapat kredit djangka pendek 3 bulan dan ternjata pada achir tahun Tjina djuga mendapat premi dari Convenant. Selama ini pengusaha² batik mendapat kredit dari Tjina dan sekarang pada koperasi beli kontant, dan djuga Tjina mendjual harga dibawah harga koperasi. Akibatnja pertumbuhan koperasi kurang lantjar karena pengusaha² lebih suka beli pada Tjina. Permainan Cambrics Convenant dengan Tjina ini dilaporkan kepada Departement van Economische Zaken jang dipimpin oleh A.J. Van Mook. Staf² dari Van Mook waktu itu bangsa Indonesia jang simpatik dengan perdjuangan pengusaha² batik antara lain ialah: Pak Ir. Surachman (almarhum), Pak Prof. Ir. Teko Sumodiwirjo, Pak Prof. Suriaatmadja, Pak Margono Djojohadikusumo jang djuga mendorong berdirinja koperasi P.P.B.B.P.
Koperasi P.P.B.B.P. didirikan pada tahun 1934 dan hak badan hukumnja memakai Undang² Koperasi No. 108/1933 jang berlaku untuk semua golongan penduduk Indonesia dan tunduk pada hukum barat. Oleh karena itu P.P.B.B.P. berhak mengadakan hubungan dagang internasional. Pada waktu Van Mook datang ke Jogjakarta, maka P.P.B.B.P. meminta supaja bisa berhubungan langsung dengan eksportir² Djepang dan Belanda. Achirnja hanja diperbolehkan berhubungan langsung dengan Cambrics Convenant. Pada tahun 1939 pernah PPBBP import langsung hars dari Bros & Co. Amerika sedjumlah ratusan drum dan djuga export batik ke Amerika jang ukuran 42″ X 18 yards. Setelah berdirinja koperasi P.P.B.B.P. maka diandjurkan kepada daerah² lain untuk mendirikan koperasi seperti di Solo, Ponorogo, Pekalongan, Tasikmalaja, Tjirebon, dan Tjiamis, P.P.B.B.P. mendapat hak badan hukum pada tahun 1939 berdasarkan Undang² 108/1933.
Walaupun PPBBP berdiri jang pertama kali, hak badan hukumnja didapat setelah 5 tahun berdiri, karena Pengurus PPBBP tidak menjukai pasal² dalam AD jang memberikan tjampur tangan terlalu besar pada Pedjabat, untuk keberatan² ini Pengurus dianggap ikut aktip dibidang politik.
b. Kesukaran jang dihadapi:
Pembentukan² wadah ini mendapat rintangan dari pedagang² Tjina dan Cambrics Convenant antara lain:
- koperasi harus membeli dengan kontan, Tjina kredit.
- pedagang² Tjina mendjual dibawah harga koperasi.
- pedagang² Tjina mendjual dengan kredit dan koperasi kontan.
Berkat perdjuangan pengurus koperasi kepada Pemerintah Belanda, maka kepada Tjina diberikan harga golongan B dan koperasi golongan A dan mendapat kredit 1 bulan. Pertumbuhan koperasi tidak lantjar dan baik, karena kesetiaan anggota kurang disebabkan kesadaran berkoperasi belum tebal dan gangguan dari Tjina dalam hal kredit.
3. Koperasi wadah organisasi jang tjotjok dengan pembatikan:
a. Tokoh² pendorong dan pendiri koperasi
Tokoh² pendorong pendiri koperasi P.P.B.B.P. ialah pedjuang² nasional dan putera²terbaik jang duduk dalam pemerintahan jang simpatik dengan perdjuangan masjarakat batik. Berdirinja koperasi PPBBP tidak bisa dilepaskan dari perdjuangan nasional dan kebangsaan, akibat krisis dunia, dan perhatian dari Pemerintah Belanda sendiri jaitu Departement van Economisch Zaken, dalam pemasaran hasil produksi pabrik² tekstil di Twente dan menghadapi saingan Djepang. Sebabnja koperasi jang didirikan ialah organisasi ini tjotjok

Pendiri dan Pengurus Kooperasi PPBBP Jogjakarta dan GKBI tahun 1948 di Jogjakarta.
Susunan Pengurus pertama dari PPBBP ialah: Ketua I/II: M. Djajengkarso (alm.) dan M. Mangunprawiro, Penulis I/II: Saebani dan M. Prawirosuparto, Bendahara I/II: H.M. Bilal dan M. Mangunwerdojo. Para Komisaris ialah: R. Ng. Ronowirono, A.Z. Djojoaminoto, H. Anwar Tjurigonoto, M.H. Djaparpremono, Ng. Ronosentiko dan Ng. Kudonarpodo.
b. Anggaran Dasar dan Badan Hukum:
Anggaran Dasar koperasi PPBBP disesuaikan dengan Undang² No. 108/1933 jang tunduk pada hukum barat, dan tidak pada Undang2 91/1927 jang berlaku untuk koperasi Bumiputera. Tudjuan dari pada membentuk berdasarkan Undang2 108/1933 ialah supaja gerak perdjuangan lebih luas dan bebas bisa berhubungan dengan dunia internasional.
Pengaruh badan hukum PPBBP ini djuga erat perdjuangannja dengan pedagang² bangsa Indonesia lainnja jang bergerak dalam perdagangan luar negeri antara lain: Rais dan Djohan Djohor, Dasaat dan Asaat SH. Pedagang² ini banjak hubungan dengan Djepang, tetapi mengalami kesukaran karena tidak punja organisasi. Atas kenekatan Sdr. Rais dan Djohan Djohor dimasukan tekstil dari Djepang dan sampai dipelabuhan Indonesia dilarang Pemerintah Belanda masuk. Maka hal ini digugat oleh Putera Indonesia terbaik Muh. Husni Thamrin di Volks Raad supaja kepada putera² Indonesia diberi kebebasan berhubungan dengan pedagang² luar negeri. Berkat perdjuangan Muh . Husni Thamrin ini Pemerintah Belanda memberikan hak importir kepada antara lain Sdr. Rais/Djohan-Djohor, Dasaat.
Perobahan nama PPBBP mendjadi PPBI dimulai tahun 1946 dimana nama lama tidak sesuai lagi dengan zamannja.
c. Keanggotaan dan management koperasi:
Anggota PPBI meliputi daerah istimewa Jogja sekarang dan jang banjak bertempat tinggal didaerah: 1. Blok I meliputi wilajah kerdja Kemantren Wirobradjan, Ngampilan dan Gondomanen jang sekarang mendjadi Koperasi Batik Mataram.
2. Blok II meliputi wilajah kerdja Kemantren Kraton jang sekarang mendjadi Koperasi Batik Senopati. 3. Blok III meliputi wilajah kerdja Kemantren Mantridjeron jang sekarang mendjadi Koperasi Batik P.P.B.I.
4. Blok IV meliputi wilajah kerdja Kemantren Mergangsan jang sekarang mendjadi Koperasi Batik TAMTAMA.
5. Blok V meliputi wilajah kerdja Kemantren Margangsan jang terdiri dari R.K. Karanganjar, Karangkunti, Karangkadjen dan wilajah Daswati II Bantul, jang sekarang mendjadi Koperasi Batik Karangtunggal.
Waktu PPBBP didirikan djumlah anggota jang tertjatat 63 orang pria dan 11 orang wanita. Djumlah anggota ini untuk beberapa tahun tetap dan baru tahun 1940 mulai bertambah. Waktu pendudukan Djepang pertumbuhan PPBBP tidak lantjar akibat perang dan baru sesudah 3 tahun proklamasi perkembangan anggota tambah lagi.
| Tahun | Djumlah | Tahun | Djumlah | Tahun | Djumlah |
|---|---|---|---|---|---|
| 1934 | 74 | 1940 | 78 | 1945 | 144 |
| 1948 | 230 | 1950 | 522 | 1954 | 494 |
| 1958 | 507 | 1960 | 624 | 1963 | 494 |
| 1965 | 186 | 1967 | 195 |
Waktu zaman kolonial djumlah pengusaha batik sedikit sampai Djepang masuk, tetapi produksi batik besar ternjata dengan masuknja cambric dan grey pada tahun 1934 meliputi ± 85 djuta yard (Koperasi dan Masalah Batik oleh Dr. Saroso Wirodihardjo penerbit GKBI Desember 1954).
Management Koperasi:
Pengaturan ketatalaksanaan koperasi telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Tiap² tahun pedoman dari ketatalaksanaan ini telah diputuskan oleh Rapat Anggota melalui: program kerdja, rentjana anggaran belandja dan rentjana anggaran usaha.
Untuk melaksanakan management koperasi ini telah dipilih oleh anggota melalui rapat anggota: Pengurus dan Badan Pemeriksa masing² sebagai eksekutip dan Badan Pengawas. Kedua aparat ini bertanggung djawab pada anggota tiap tahun dalam rapat tahunan anggota. Djumlah Pengurus dan Badan Pemeriksa telah ditetapkan dalam anggaran dasar dan djuga masa djabatannja masing². Untuk kelantjaran kerdja sesuai dengan amanat anggota Pengurus dan Badan Pemeriksa mengatur tata-tjara kerdja jang dituangkan dalam peraturan chusus.
Dalam perkembangan dan pertumbuhan gerakan koperasi batik sampai mendjadi dan berdirinja GKBI sekarang ini, PPBBP mempunjai andeel besar. Akibat pengalaman dan tekanan² jang diderita baik waktu zaman Belanda maupun zaman pendudukan Djepang, oleh beberapa tokoh² pengusaha batik baik jang bertempat di Solo maupun di Jogjakarta, dengan dorongan dari pedjabat² Pemerintah terutama jang duduk di Kementerian Kemakmuran jaitu: Bapak Ir. Surachman (almarhum), Bapak Prof. Ir . Teko Sumodiwirjo, Bapak Prof. R. Suriaatmadja, Bapak Margono Djojohadikusumo, Bapak L. Setyoso menjarankan kepada Pengurus PPBI dan PPBBS supaja mendirikan organisasi gabungan jang bertingkat nasional. Organisasi gabungan inilah nantinja jang akan berhubungan dengan Pemerintah Pusat seluruh masalah jang menjangkut masalah batik. Dalam usaha pembentukan organisasi gabungan ini pedjabat² pemerintah diatas besar peranannja, mengumpulkan tokoh dan Pengurus PPBI, dan PPBBS serta membitjarakan setjara luas akibat2 serta kemungkinan² jang akan ditjapai oleh organisasi ini untuk kepentingan masjarakat batik. Kepada Pengurus PPBBS diandjurkan supaja menghubungi pengurus² koperasi batik diluar Jogja dan Solo terutama daerah republik, jaitu Ponorogo dan Tulungagung. Atas undangan Kementerian Kemakmuran. Pengurus² Koperasi PPBI Jogja, PPBBS Solo, BAKTI Ponorogo dan BTA Tulungagung datang ke Jogjakarta untuk membitjarakan dan pembentukan organisasi gabungan. Bertempat dikantor Kementerian Kemakmuran. Djalan Malioboro Jogjakarta 85 pada tanggal 18 September 1948 berdirilah organisasi gabungan masjarakat batik jang dinamakan „Gabungan Koperasi Batik Indonesia” disingkat „G.K.B.I.". Status organisasi ini ialah Koperasi Pusat.
Jang hadir waktu didirikan GKBI itu ialah:
| PPBBS diwakili oleh: | |
| Pak K.M. Idris. | |
| Pak Prijorahardjo ( almarhum ). | |
| Pak H.A. Muslim. |
| PPBI diwakili oleh: | |
| Pak Djajengkarso (almarhum ). |
| Pak H. Saebani. | |
| Pak Tjitrosumarto. |
| Bakti diwakili oleh: | |
| Pak S. Ismail dan Pak Wiriosubroto. | |
| Pak Abd. Wachid (almarhum) dan Pak Muslani. |
Dari pihak pedjabat jang hadir ialah: Pak Prof. RSA. Suriaatmadja.
Setelah berdirinja GKBI pada tanggal 18 September 1948 Pemerintah dan masjarakat Jogjakarta mendengar bahwa tadi pagi ada pemberontakan Madiun jang didalangi oleh PKI. Sesudah itu 3 bulan lagi datang pula agressi ke-II Belanda dan akibatnja Jogjakarta dapat diduduki oleh Belanda. Akibat peristiwa kedua ini walaupun GKBI sudah lahir, kegiatannja terhenti sementara. Waktu per-tama² Jogjakarta diduduki Belanda, kegiatan PPBI dialihkan dari koperasi pada aktip membantu perdjuangan R.I. dalam clash ke -II. PPBI dan anggota²nja aktip memberikan supply pada geriljawan² kita dimedan djoang. Sektor geriljawan jang erat hubungannja waktu itu ialah sektor dibawah pimpinan Kolonel R.G.P. Djatikusumo (sekarang Letnan Djenderal). Waktu itu susunan Pengurus PPBI ialah: Ketua/ Wk. Ketua: H. Tjitrosumarto dan H. Saebani, Penulis I/II: Winotosastro dan Hadiatmodjo dan Bendahara I/ II: Martohartono dan Sutjipto. Dalam pembentukan GKBI didasarkan pada Undang² Koperasi Bumiputera No. 91/1927 jang tidak bisa bergerak dalam perdagangan internasional. Disamping kegiatan GKBI terhenti dan hubungan dengan Pemerintah kurang, maka Pengurus PPBI jang dipelopori oleh Pak Saebani dan kerdjasama dengan A. Rais membentuk N.V. Batic Trading Company (N.V. BTC) pada tgl. 14 Djuni 1949 di Jogjakarta. NV. BTC ini jang akan berhubungan dengan dunia internasional dalam hal pemasukan bahan baku batik jang dibutuhkan oleh anggota PPBI. NV. BTC berdjalan baik dan waktu Pemerintahan RI. kembali ke Jogjakarta, disarankan oleh Pedjabat supaja djangan banjak organisasi dan supaja NV . BTC dibeli oleh GKBI. Pak Suriaatmadja mengundang pengurus koperasi jang dihadiri antara lain oleh: Jogja, Solo, Pekalongan, Ponorogo, Tasikmalaja, Tjirebon dan Tulungagung. Disarankan supaja mengover saham² BTC dapat diterima dan dikumpulkan modal melalui koperasi2 tersebut diatas.
Setelah BTC mendjadi milik GKBI maka pimpinannja terdiri dari: Saebani dari PPBI Jogjakarta, S. Sarwohardjono dari Batari Solo, M. Djumhan dari PPB Pekadjangan, A.D. Dungga dari Mitra Batik Tasikmalaja dan beberapa orang Komisaris sebagai wakil dari Primer² Batik pemegang saham. Selama GKBI belum memperoleh hak badan hukum dan pengakuan hak impor, maka BTC bertindak sebagai importir cambric jang ditundjuk oleh Pemerintah. Tidak lama BTC mendjalankan tugasnja Sdr. Saebani mengundurkan diri dan pimpinan dipegang oleh tiga orang jaitu: S. Sarwohardjono, A.D. Dungga dan M. Djumhan, sampai BTC dilikwidir tahun 1953, karena GKBI telah mendapat hak badan hukum dan pengakuan impor.
Kegiatan PPBI diarahkan pada pengukuhan organisasi dan penambah modal serta ber-sama² dengan primer² lainnja berdjuang supaja diadakan pool cambric. Dalam tahun 1952 pool cambric dapat dipegang oleh GKBI dan bertindak sebagai distributornja dan primer sebagai grossier. Dalam penerimaan pengesahan hak badan hukum GKBI, P.P.B.I. tertjatat sebagai anggota No. 2 dan mewakili GKBI dalam pendiriannja jang diwakili oleh Sdr. Winotosastro. Sampai tahun 1955 Sdr. Winotosastro duduk sebagai Penulis dan sudah itu sebagai Komisaris sampai tahun 1963. Dalam tahun 1962 diadakan rapat persiapan pembentukan koperasi Blok I dan achirnja 1 Djanuari 1963 berdirilah Koperasi Batik Mataram. Pada tahun 1965 PPBI petjah lagi mendjadi 4 koperasi dan achirnja di Jogja ada 5 buah koperasi.
III. KEGIATAN DIBIDANG IDIIL DAN USAHA:
1. Bidang Organisasi dan Ideel:
a. Pendidikan:
Semendjak berdirinja sampai tahun 1953 PPBBP dibidang pendidikan aktip belum ada dan baru dalam tahun 1954 kegiatan ini diadakan. Jang ada ialah Taman Kanak² Batik dan pasip jaitu memberikan bantuan pada organisasi² pendidikan. Dari tahun 1954 sampai 1957 dana pendidikan jang terkumpul sebesar Rp. 390.207,73 dan digunakan sebesar Rp. 230.736,88. Dari tahun 1958 sampai 1961 terkumpul sebesar Rp. 1.681.495,- dan digunakan sebesar Rp. 1.698.388, dan dalam tahun 1966 dana jang masuk sebesar Rp. 56.150,- dan digunakan sebesar Rp. 56.150,Selain pendidikan Taman Kanak2 Batik djuga diberikan pendidikan sifat kursus dan penerangan pada anggota. Kursus2 jang diberikan ialah mengenai bidang organisasi, administrasi, pengetahuan dagang dan pembatikan. Disamping itu pada tingkat pengurus djuga diberikan pendidikan management koperasi, bahasa Inggeris dan Peraturan2 Pemerintah jang berhubungan dengan kegiatan usaha. Dalam tahun 1967 PPBI mengadakan Balai Pendidikan Kader Pembatikan bertempat digedung barunja Djalan Surjodiningrat. Kursus ini diadakan ialah untuk meningkatkan pengetahuan anggota tentang pembatikan dan memelihara bibit2 baru dalam pembatikan. Peladjaran jang diberikan ialah pengetjapan dan proses lainnja dalam batik baik Jogja maupun daerah2 lainnja. Selama tahun 1967 dan awal 1968 telah diadakan dua kali dan lamanja 3 bulan untuk masing2 gelombang. Disamping pendidikan diatas untuk anggota dan karyawan djuga diadakan pendidikan lainnja jaitu beberapa tjabang olah raga meliputi: Volley ball, Bulutangkis, Tjatur, Bridge, Sepakbola. Tiap2 hari peringatan koperasi PPBI ikut aktip dalam perlombaan bersama primer2 batik alinnja dan gerakan koperasi didaerah istimewa Jgojakarta.

Kegiatan PPBI dibidang sosial ditudjukan untuk masjarakat batik, karyawan koperasi dan masjarakat daerah kerdjanja. Dalam tahun 1950 kegiatan PPBI mendapat kepertjajaan dari Pemerintah antara lain: pembiajaan Kongres Wanita ke-I seluruh Indonesia atas permintaan Presiden sebagian besar ditanggung oleh PPBI, (a), pemberian alat2 perlengkapan untuk Veteran Invalid (b), PPBI mendapat kepertjajaan dari Presiden untuk mensupply bahan makanan sewaktu pertama kali pindah ke Istana Merdeka di Djakarta (c). Selama PPBI didirikan mulai dari PPBBP tahun 1949 sampai 1957 telah terkumpul dana sebesar Rp. 1.497.206,58 dan telah digunakan sebesar Rp. 1.192.347,23. Penggunaan dana sosial ini terutama untuk pemeliharaan Balai Pengobatan batik dan pemberian sumbangan sosial ada masjarakat daerah kerdja jang diberikan pada organisasi2 amal. Dan djuga pada korban bentjana alam dan kelaparan diambilkan dari dana sosial. Selama tahun 1958/1961 dana sosial jang terkumpul ialah sebesar Rp. 2.071.495,81 dan telah digunakan sebesar Rp. 2.856.195,94. Kegiatan sosial jang menondjol sekali ialah dengan

c. Pembangunan Daerah Kerdja:
Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja semendjak berdirinja tertjatat dana jang masuk sebesar Rp. 163.347,75 dan digunakan sebesar Rp. 75.434,28 (1955/1957), dan tahun 1958/1961 masuk sebesar Rp. 1.778.026,50 dan digunakan sebesar Rp. 2.205.340,67. Dan selema 1966 masuk sebesar Rp. 24.165,- dan digunakan sebesar Rp. 23.288,-. Dana2 pembangunan ini matjam2 namanja: dana pembangunan daerah, dana sumbangan buruh batik, dana pembangunan pasar, dana pembangunan GKBI dan pembangunan gedung, kesemuanja ini dipungut dari anggota.
Pembangunan gedung jang diselenggarakan oleh PPBI belakangan ini ialah pembangunan gudang dan gedung kantor di Djalan Surjodiningratan.
2. Bidang Komersil dan Produksi :
a. Permodalan : Koperasi bukan organisasi pemupukan modal, tetapi koperasi adalah suatu organisasi jang bergerak dibidang usaha/produksi dan ideel jang djuga memerlukan modal besar sesuai dengan kegiatan usahanja. Waktu tahun 1949 tertjatat simpanan sebesar Rp. 3.408,70 dan djumlah simpanan ini bertambah tiap tahun. Setelah adanja pool cambric dan GKBI telah mendapat hak badan hukum dan djuga telah diakui sebagai importir maka kebutuhan modal bertambah terus. Lebih² lagi sesudah hak import sepenuhnja diserahkan kepada GKBI kebutuhan ini lebih besar lagi. Maka mulai tahun 1953 pemupukan modal di PPBI diintensifkan dan djuga melalui GKBI. Tahun 1956 dengan adanja rentjana mendirikan pabrik mori GKBI pemupukan lebih diintensifkan. Dengan adanja rentjana PPBI sendiri untuk mendirikan pabrik maka tahun 1960 djuga dikumpulkan modal. Disamping itu, akibat adanja tekanan² inflasi jang dirasakan mulai tahun 1958 telah nampak, maka pemupukan modal sesuai dengan kebutuhan usaha terus dipupuk dan jang sangat besar pertambahannja ialah mulai tahun 1963 sampai tahun 1966 achir. Tetapi ternjata pertambahan modal jang disimpan anggota dibandingkan dengan kebutuhan modal kerdja djauh ketinggalan. Dan ini sangat dirasakan mulai tahun 1967 kemungkinan untuk pemupukan modal tidak ada lagi sedangkan tingkat inflasi masih terus menudju tendens naik dan achirnja volume barang menurun dan volume uang naik. Untuk melihat perkembangan modal atau simpanan anggota serta perkem bangan anggota dapat dilihat daftar berikut.
|
| ||||
| No. | Tahun | Djumlah simpanan | Anggota | Keterangan |
|
| ||||
| 1. | 1949 | Rp. 3.408.70 | 230 | *) 1. 1963 PPBI petjah mendjadi dua koperasi. |
| 2. | 1952 | " 832.734,52 | 522 | |
| 3. | 1955 | " 9.561.457,66 | 503 | 2. 1963 PPBI petjah mendjadi 4 koperasi. |
| 4. | 1957 | " 26.056.108,30 | 482 | |
| 5. | 1960 | " 77.068.904,35 | 624 | 3. Djumlah koperasi di D.I. Jogja sekarang 5 buah. |
| 6. | 1965 | " 453.708.297,41 | 185 *) | |
| 7. | 1967 | " 8.747.552,49 | 195 | |
|
| ||||
Dalam tahun 1960 dikumpulkan modal untuk mendirikan pabrik mori sendiri dan perkembangan penggunaan modal atau simpanan PPBI dapat dilihat dibawah.
|
| ||||
| Tahun | Harta tetap | Pabrik Tekstil | G.K.B.I. | Ket. |
|
| ||||
| 1957 | Rp. 1.527.305,—Rp. | — Rp. | 27.171.650,— | |
| 1960 | „3.312.354,—„ | 1.851.903,—„ | 64.775.673,— | |
| 1965 | „38.027.463,—„ | 119.099.932,—„ | 250.117.162,— | |
| 1966 | „852.349,—„ | 340.584,—„ | 3.881.218,— | |
| 1967 | „1.828.669,—„ | 239.763,—„ | 4.617.398,— | |
|
| ||||
Pabrik Tekstil PPBI ini kepunjaan 5 Primer jang ada di Jogjakarta dan masing² besar investasinja 1/5.
b. Penjaluran bahan baku batik:
PPBI dahulu namanja PPBBP aktip mentjarikan dan menjalurkan bahan baku pokok dan penolong batik kepada anggotanja. Sebab didirikan koperasi salah satu tudjuannja ialah mempermudah tjaranja mendapatkan bahan baku batik. Sebelum GKBI aktip dalam tahun 1949 Pengurus PPBBP membentuk NV. BTC tudjuannja ialah untuk memudahkan bahan baku batik. Setelah GKBI aktip tahun 1950 dan

|
| ||||
| Tahun | Camb. imp./loc | Obat/tjatbatik | Djuml. harga | Ketr |
|
| ||||
| 1956 | 8.133.520 y | 297.486, kg. | Rp. 45.414.437, | |
| 1958 | 11.394.661 y | 154.573. „ | „73.331.938, | |
| 1954 | 9.761.890 y | 112.792, „ | „154.703.822, | |
| 1960 | 5.463.222 y | 36.443. „ | „161.153.433, | |
| 1962 | 6.962.147 y | 352.996. „ | „221.548.592, | |
| 1964 | 2.604.450 y | 103.546, „ | „506.678.318, | |
| 1966 | 722.477 y | 5.395. „ | „3.782.683, | |
| 1967 | 558.349 y | 6.281, „ | „14.711.049, | |
|
| ||||
Disamping menjalurkan bahan baku batik dari GKBI, PPBI djuga menjalurkan bahan baku penolong atas usaha sendiri seperti : minjak tanah, lilin kaju bakar, gondo, tingi tapioca dsb. Djuga PPBI

| Tahun | Omzet | SHP Kotor | Ongkos² | Ketr. |
| 1949 | 4.156.737,— | 867.611,— | 185.356,— | |
| 1953 | 49.211.575,— | 2.421.152,— | 638.985,— | |
| 1957 | 101.960.174,— | 4.053.376,— | 1.565.027,— | |
| 1966 | 12.027.256,— | 2.228.281,— | 2.140.764,— | |
| 1967 | 26.244.560,— | 4.570.457,— | 3.994.268,— |
c. Pemasaran batik:
PPBBP atau PPBI sekarang semendjak didirikan mengusahakan dan mentjarikan pasaran batik anggotanja. Batik produksi Jogja baik kwalitas kasar maupun sedang halus telah dikenal oleh konsumen seluruh Indonesia Djumlah produksi batik jang djatahnja diperoleh

Tahun 1966 djumlah batik jang dibeli seharga Rp. 3.281.001,- dan didjual seharga Rp. 5.423.108,-
d. Pabrik Mori PPBI:
Pabrik Mori PPBI didirikan dalam rentjana berdikari dalam pengadaan bahan baku batik. Pemupukan modal dimulai tahun 1959 dan tahun 1960 telah diinvestasikan sebesar Rp. 1.851.903,- Pembangunan pabrik mori dan tekstil berdjalan terus dan selesai dalam tahun 1964. Djumlah mesin tenun jang dimiliki sebanjak 80 buah. Dengan petjahnja PPBI mendjadi 5 primer maka pemilik Pabrik ini

adalah lima primer itu. Djumlah investasi masing² primer sebanjak 1/5 bagian. Bahan baku benang didapat dari GKBI dan lainnja dari Pemerintah dan pasar bebas. Dalam tahun 1966 pabrik ini tidak lantjar djalannja disebabkan kurang baiknja managementnja dan djuga kurang bahan baku benang. Tadinja pimpinan pabrik ini dipimpin oleh 5 primer dengan masing² satu orang wakil dari pengurus masing². Dari lima orang ini diangkat satu orang sebagai koordinator. Dalam tahun 1967 susunan management pabrik dirobah dari sistim kepengurusan kepada sistim direksi. Direksinja adalah wakil dari masing² primer dan susunannja:
| Direktur | : | Muh. Fattah | (Primer Mataram). |
| Wk. Direktur | : | Surjosumantri | („ Senopati). |
| Wk. Direktur | : | Drd. R. Sujanto | („ Tantama). |
| Komisaris | : | H.M Nuri Affandi | („ Karangtunggal). |
| Penasehat | : | Winotosastro | („ PPBI). |
Dengan adanja probahan sistim pimpinan ini ada kemadjuan dalam produksi. Dari djumlah mesin tenun 80 Atm, jang tadinja djalan 48 looms dengan hasil 10.041 yards sebulan sekarang jang djalan 69 looms dengan hasil 31.056 yard sebulan. Bahan baku benang didapat dari GKBI atas djatah lima primer dan benang ini di W.O.kan kepada pabrik. Tentang modal kerdja tahun 1967 tidak mengalami kesukaran lagi karena sudah dipetjahkan bersama dan jang dibutuhkan djuga tidak banjak karena sistim produksi WO. Jang sukar dihadapi sekarang ialah tidak adanja mesin kandji sendiri, terpaksa mengandjikan diluar pabrik.
Susunan pengurus terachir dari PPBI ialah:
| Ketua | I | : | Winotosastro. |
| Ketua | II | : | Chabib Pramuhardjono. |
| Penulis | I | : | Duriman Tjkrolesono. |
| Penulis | II | : | Sumardi. |
| Bendahara | I | : | Murdiman Hartosudirdjo. |
| Bendahara | II | : | Widodo. |
| Komisaris | : | H. Moh Dawam, Siswowinoto dan F. X Iskandar. | |
| Badan Pemeriksa | : | Waringoh Danuatmodjo, Subardi, Djojosentjoko dan Drs. Ketut Minas. |
BAGIAN: 3
KOPERASI BUMI PUTERA KEPERLUAN PERUSAHAAN
BATIK
„MITRA BATIK”
HAK BADAN HUKUM No.: 767 Tgl. 28-8-1941
Djalan Laksamana R.F. Martadinata No. 81-83
Tilpon No. 77 dan 480 — TASIKMALAJA

1. RIWAJAT BATIK:
Dilihat dengan peninggalan² jang ada sekarang dan tjerita² jang turun-temurun dari terdahulu, maka diperkirakan didaerah Tasikmalaja batik dikenal sedjak zaman „Tarumanagara” dimana peninggalanja jang ada sekarang ialah banjaknja pohon tarum didapat disana jang berguna untuk pembuatan batik waktu itu. Desa peninggalan jang sekarang masih ada pembatikan dikerdjakan ialah: Wurug terkenal dengan batik keradjinannja, Sukapura, Mangunradja, Manondjaja dan Tasikmalaja kota. Dahulu pusat dari pemerintahan dan keramaian jang terkenal ialah desa Sukapura. Indihiang jang terletak dipinggir kota Tasikmalaja sekarang. Kira² achir abad ke-XVII dan awal abad ke-XVIII akibat dari peperangan antara keradjaan di Djawa Tengah, maka banjak dari penduduk daerah: Tegal. Pekalongan, Banjumas dan Kudus jang merantau kedaerah Barat dan menetap di Tjiamis dan Tasikmalaja. Sebagian besar dari mereka ini adalah pengusaha² batik didaerahnja dan menudju kearah Barat sambil berdagang batik. Dengan datangnja penduduk baru ini, dikenallah selandjutnja pembuatan batik memakai soga jang asalnja dari Djawa Tengah. Produksi batik Tasikmalaja sekarang adalah tjampuran dari batik² asal Pekalongan, Tegal, Banjumas, Kudus jang beraneka pola dan warna. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK:
1. Perintisan menudju organisasi:
Awal abad ke-XX akibat kemadjuan dibidang teknik, maka hubungan antara satu² daerah dan antara satu daratan dengan daratan lainnja tjepat tertjapai dan djuga dibidang pemberitaan mentjapai kemadjuan. Disektor pembatikan kemadjuan ini djuga dirasakan, dimana bahan baku mori tadinja dibuat sendiri, sekarang lebih mudah dan murah memakai bahan baku mori buatan luar negeri. Djuga disektor bumbu batik, akibat kemadjuan dibidang kimiawi, maka banjak obat² batik buatan luar negeri antara lain, Djerman, Inggeris dan Belanda jang masuk ke Indonesia. Sesudah perang dunia kesatu, dimana pembatikan telah memakai proses tjap dari logam dan dikenalkannja pemakaian obat² batik luar negeri, maka proses pembatikan lebih tjepat dari biasa. Djuga konsumen batik tidak terbatas pada daerah sekitar pembatikan sadja lagi, tetapi sudah meluas sampai daerah pulau Djawa dan bahkan sudah ada jang dieksport ke Malaya dan Singapore waktu itu. Pelaksana import dari bahan baku batik ini dipegang oleh pedagang bangsa Belanda dan Inggeris, sedangkan penjebarannja didalam negeri diserahkan kepada pedagang² Tjina dan sedikit Arab.
Pedagang² Indonesia dan pengusaha² batik di Tasikmalaja waktu itu belum ada jang mendjual bahan baku batik. Disamping itu sebagian besar dari pengusaha² batik, adalah lemah dalam modal jang achirnja terlibat dengan hutang pada pedagang² Tjina. Sistim perdagangan waktu itu melalui kredit djangka pendek jaitu satu atau dua bulan dan pedagang Tjina mendapat kredit dari para importir Belanda dan Inggeris jang tergabung dalam "Cambrics Convenant" selama 3 bulan. Selain menguasai perdagangan bahan baku batik, Tjina itu djuga menguasai pemasaran batik, karena pengusaha² batik itu telah diikat dengan kredit dan harus mendjual produksinja pada Tjina jang memberi kredit bahan baku. Akibat buruk dari hal itu ialah permainan harga oleh pedagang² Tjina tsb., baikpun dalam menetapkan harga bahan baku, maupun dalam hasil produksi. Lebih² lagi hasil produksi batik terikat pemasarannja dengan adanja musim jaitu : musim baik pasaran/tingkat harga naik (panen, lebaran, tahun baru). Setelah perang dunia kesatu antara tahun 1920 - 1926 kemadjuan dalam dunia pembatikan pesat sekali. Waktu krisis dunia 1927-1933 dunia pembatikan tidak luput dari bentjana ini dan banjak pengusaha² jang terlibat dalam hutang dan mendjual harta kekajaannja. Pembatik² jang sedang modalnja dan bisa mentjarikan pemasarannja jang dapat bertahan. Setelah berachirnja krisis dunia, kegiatan pembatikan hidup lagi, maka pedagang Tjina selain dari berdagang djuga membuka bengkel batik. Pengusaha² batik dan pedjabat pemerintah serta pemimpin masjarakat jang sadar akan perdjuangan nasional, berusaha membentuk satu organisasi jang akan menjelenggarakan kebutuhan bersama, baik harian maupun bahan² batik.
2. Pembentukan wadah koperasi:
Bapak Eni (almarhum)
Pendiri Kopbat Mitra Batik dan pernah
mendjabat Ketua serta Komisaris di GKBI.
Dengan dipelopori oleh pengusaha batik, dan beberapa orang ahli berkumpul dirumah keluarga Bapak Eni Djalan Gudangdjero III/23, Tasikmalaja 35 orang pengusaha dan didirikan organisasi jang dinamakan „Koperasi Bumi Putera Keperluan Pengusaha Batik” selandjutnja diberi nama „MITRA BATIK”. Pendiri² dari koperasi ini antara lain Bapak Eni, D. Sumiratmadja, I. Badri (ketiga²nja sudah meninggal), Naseh, Dion, Endong, Sajuti (almarhum), Kartadibrata dan Kartasasmita. Tudjuan dari membentuk koperasi ini ialah antara lain: mengusahakan kebutuhan bahan baku batik, mentjarikan pemasaran batik, mendidik anggota menjimpan, mengusahakan kebutuhan harian anggota. Susunan dari Pengurus pertama kali ialah: Ketua I/II: Bapak Eni dan Kartadibrata, Penulis I/II: Kartasasmita dan Naseh, Bendahara Dion. Komisaris ialah Endong, I. Badri, Sajuti. Penasehat : D. Sumiratmadja. Usaha koperasi jang utama waktu itu ialah menjediakan bahan penolong bagi anggota, dan sedikit bahan baku pokok hasil dari Internatio. Bahan baku mori ini sebagian besar diusahakan oleh anggota, karena modal koperasi lemah djadi terbatas pada bahan penolong sadja.
3. Koperasi Batik wadah jang tjotjok:
Bagi masjarakat batik jang lemah dalam permodalan dan pengetahuan organisasi dan dagang, organisasi koperasi adalah tempat jang tjotjok untuk mendidik dan alat perdjuangan sosial jang berdjiwa gotong-rojong. Dua tahun sesudah MITRA BATIK didirikan, tidak melalui masa pengamatan lagi langsung mendapat „Hak Badan Hukum No. 767 tanggal 28 Agustus 1941. Tidak lama sesudah mendapat hak badan hukum, tahun 1942 masuklah Djepang ke Indonesia dan selama pendudukan Djepang boleh dikatakan kegiatan koperasi banjak bekunja dari pada lantjarnja. Semasa Djepang berkuasa bahan baku batik sukar ditjari karena tidak ada lagi masuk dari luar negeri. Setelah Djepang kalah, kegiatan pembatikan djalan terus dengan bahan baku asal dari bekas dan batik lama dikelir kembali. Semasa

Bapak I. Badri (almarhum) Salah seorang pendiri Mitra Batik tahun 1939 dan pernah mendjabat sebagai Komisaris dalam Pengurus ke-I Mitra Batik.
Waktu pemerintahan Sukarno berkuasa dalam tahun 1960 dengan Menterinja Letkol. Achmadi (sekarang Majdjen, terlibat Gerakan 30 September 1965) merobah Bapak Koperasi Indonesia dari Drs. Moh. Hatta kepada Ir. Sukarno, waktu itu fungsinja sebagai Presiden Indonesia.
Setelah aggressi kesatu dan Tasikmalaja mendjadi daerah pendudukan Belanda, banjak pembatik mengungsi keluar kota dan kegiatan pembatikan dilangsungkan didaerah pengungsian. Setelah aggressi kedua, banjak penduduk jang kembali kekota dan mereka tidak punja kekajaan lagi untuk melandjutkan usahanja dan tempatnja telah didiami oleh orang lain kebanjakan Tjina. Atas andjuran Sdr. Zakaria Mansjur dari seorang keluarga batik, jang aktip dalam perdagangan, supaja koperasi diaktipkan kembali. Atas pertolongan pedjabat² dari B.I.H. dan Djawatan Koperasi antara lain Pak A. Baehaki sebagai pedjabat Djawatan Koperasi, aktip mendorong supaja koperasi MITRA BATIK diaktipkan kembali. Anggota sebanjak 37 orang mengumpulkan kekajaan mereka sebagai djaminan kredit pada Rakjat Indonesia. Modal jang dipindjam pada BRI digunakan menembus cambric pada BIH di Bandung. Untuk melantjarkan MITRA BATIK selandjutnja diangkatlah beberapa tenaga ahli Sdr. Zakaria Mansjur (almarhum) sebagai Administratur dan A. Baehaki sebagai Wakil Administratur, dengan dibantu oleh 21 orang karyawan. Waktu pendirian pertama GKBI, MITRA BATIK tidak ikut karena sukarnja hubungan dan baru dapat aktip setelah kembalinja pemerintahan R.I. ke Jogjakarta tahun 1949. Dalam rangka perdjuangan pengusaha batik bersama-sama dengan GKBI, supaja pool cambrics diserahkan kepada GKBI, MITRA BATIK aktip. Dan untuk mentjapai tudjuan ini, didalam kepengurusan GKBI, MITRA BATIK diwakili oleh Bapak Eni (almarhum) dan didalam B.T.C. diwakili oleh A.D. Dungga (almarhum). Waktu GKBI mendapat Hak Badan hukum tanggal 25 Agustus 1953, MITRA BATIK terdaftar sebagai salah satu primer pendiri jang diwakili oleh Bapak Eni dan dalam keanggotaan GKBI tertjatat No. 3. Dalam kepengurusan GKBI sedjak berdirinja sampai sekarang MITRA BATIK pernah diwakili oleh Bapak Eni dan Bapak H. Badruddin. Dalam masa djabatan tahun 1966/1967 Sdr. H. Badruddin mendjabat Ketua II di GKBI.
a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum;
Bapak D. Sumiratmadja (almarhum)
Salah seorang pendiri Mitra-Batik tahun
1939 dan mendjadi penasehat Pengurus.
Daerah kerdja MITRA BATIK meliputi daerah Kabupaten Tasikmalaja, Hak badan hukum MITRA BATIK diperoleh tanggal 28 Agustus 1941 dan sampai sekarang telah mengadakan perobahan Anggaran Dasarnja 4 kali jaitu : pertama penjesuaian dengan Undang2 Koperasi tahun 1949 No. 179 dan tertjatat No. 767 a, kedua kalinja penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan tertjatat No. 767 b tanggal 28 Oktober 1959, ketiga penjesuaian dengan PP. No. 60/1959 tertjatat No. 767 c tanggal 1 Maret 1961. Dan jang keempat penjesuaian dengan Undang2 Koperasi No. 12/1967 tertjatat No. 767 d tahun 1968.
b. Keanggotaan dan ketatalaksanaan :
Keanggotaan:
Waktu MITRA BATIK didirikan tahun 1939 djumlah anggotanja ada 35 orang dan perkembangan selandjutnja sampai tahun 1948 tertjatat 86 orang dan tahun 1967 tertjatat sebanjak 613 orang dan tjalon anggota sebanjak 979 orang. Untuk djelasnja perkembangan keanggotaan dapat dilihat dibawah.
|
| ||||||||
| Tahun | Anggota | Tjalon | Tahun | Anggota | Tjalon | Tahun | Anggota | Tjalon |
|
| ||||||||
| 1939 | 35 | — | 1948 | 86 | — | 1950 | 159 | — |
| 1951 | 170 | — | 1952 | 135 | — | 1953 | 140 | — |
| 1954 | 296 | — | 1955 | 355 | 56 | 1956 | 228 | 59 |
| 1957 | 247 | 112 | 1959 | 285 | — | 1960 | 427 | — |
| 1962 | 458 | — | 1964 | 504 | 89 | 1965 | 625 | 399 |
| 1966 | 619 | 986 | 1967 | 613 | 979 | |||
|
| ||||||||

Duduk dari kiri kekanan: Aming Ns, R.W. Nachrowi, H. Ma'mun, A. Rusdy
Berdiri dari kiri kekanan: Para Kom. Daerah jaitu: E. Allabagas, Idja Subandi,
Adang Ruzhani, Teten Kusen dan Salmi.
Ketatalaksanaan MITRA BATIK: Sedjak berdirinja MITRA BATIK pimpinan sampai tahun 1951 dipegang oleh Bapak Eni, 1952/1953 dipegang oleh Kus dan O. Kusen Hudori, tahun 1954/1965 dipegang oleh Sdr. H. Badruddin dan Sdr. H. Rasjidi, tahun 1966/1967 dipegang oleh Sdr. Badruddin dan kawan².
Untuk mengatur ketatalaksanaan MITRA BATIK pedoman pokoknja telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar jang telah disahkan oleh rapat anggota dan Pemerintah. Untuk mentjapai tudjuan MITRA BATIK dan daja-upaja mentjapainja, tiap tahun telah ditetapkan anggaran belandja dan usaha. Untuk melaksanakannja rapat anggota memilih beberapa orang pengurus dan untuk mengawasi pelaksanaan amanat anggota kepada pengurus, memilih beberapa orang Badan Pemeriksa. Kedua aparat organisasi ini fungsinja ber-beda² tetapi sama² bertanggung djawab pada rapat anggota. Susunan Pengurus untuk masa djabatan 1968/1969 ialah: Sdr. H. Badruddin dan R. Wiwi Nachrowi sebagai Ketua I/II, Penulis I/II: E. Natsir Tarsidjo dan H. Moh. Toha, Bendahara I/II: H. Ma'mun dan Adang Ruzhani. Komisaris ialah: Drs. Ian Daskian Tarsidjo, Drs. Anang Solichin, Engkos Allabaqas, H. M. Sukanda dan Hermawan Djuari. Susunan Badan Pemeriksa untuk tahun 1968: Edje Zainal Abidin, A. Dartiman Tarsidjo, Nunu Karmana, Teten Kusen dan A. Rusdy.

Dalam pembagian kerdja Pengurus dalam mengatur ketatalaksanaan MITRA BATIK jang effectif dan produktif masing² mempertanggung djawabkan dan memimpin bidang masing² sebagai berikut: Ketua I/II: sebagai koordinator Ketua I. Penulis, Bendahara dan Komisaris Umum mengurus Pabrik Tekstil. Penulis memimpin bidang organisasi. Bendahara memimpin bidang komersil. Komisaris Umum memimpin Urusan Batik dan distribusi bahan bumbu batik, Komisaris jang mengatur hubungan dengan Pemerintah, Komisaris jang memimpin bidang personalia, Komisaris jang memimpin bidang pendidikan. Komisaris jang memimpin bidang poliklinik dan rumah tangga, Komisaris jang memimpin Toko Batik.
Badan Pemeriksa:
Badan Pemeriksa dalam tugasnja mengawasi Pengurus dalam memimpin kerdja dan memeriksa kebenaran dan keberesan administrasi usaha, pabrik, dan keuangan serta alat² inventaris. Hasil pemeriksaan ini dilaporkan kepada anggota melalui pengurus dan tiap tahun dipertanggung djawabkan kepada anggota dalam rapat anggota.
III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS MITRA BATIK:
A. Bidang Organisasi dan Idiil:
1. Pendidikan:
Kegiatan MITRA BATIK dibidang pendidikan sedjak berdiri ialah ditudjukan untuk anggota serta keluarganja dan masjarakat daerah kerdjanja. Usaha² jang telah ditjapai ialah: mendirikan gedung dan menjelenggarakan Taman Kanak² Batik, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan menjelenggarakan SMEA Koperasi Batik digedung S.D. Batik. Disamping usaha² ini ialah memberikan kursus² tentang: kekoperasian, organisasi, administrasi, dan pembatikan kepada anggota. Disamping itu djuga aktip dibidang olah raga. Tjabang² olah raga jang ada ialah: bulutangkis, ping-pong, volley ball, sepak bola, tennis, tjatur dan bridge. Sekolah Dasar, SMP dan SMEA telah mengeluarkan murid²nja jang mengikuti udjian negara dan menghasilkan baik. Dalam tahun 1967 STK, mempunjai klas 3 buah dengan murid sebanjak 121 orang dan tenaga pengasuh 6 orang, pegawai 2 orang. SD tahun 1967 mempunjai murid sebanjak 372 orang terdiri dari 8 klas dan tenaga guru 11 orang, pegawai 1 orang. SMEA dengan murid sebanjak 75 orang dan tenaga guru 17 orang serta pegawai 2 orang. Tenaga guru masing² sekolah mendapat bantuan dari Pemerintah dan lainnja angkatan MITRA BATIK sendiri. Biaja untuk bidang pendidikan ini dibebankan kepada dana koperasi dan bantuan dari GKBI. Sedjak tahun 1953/1961 dana pendidikan jang diterima sebesar Rp. 2.256.837,- dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 1.731.516,- Untuk tahun 1965/1967 dana jang diterima sebesar Rp. 205,692 dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 269.490,—. Disamping itu bantuan jang diberikan kepada masjarakat daerah kerdja dalam bentuk sumbangan banjak pula dan djuga dibebankan pada dana pendidikan.
2. Sosial dan masjarakat:
Kegiatan dibidang sosial ialah dengan mendirikan Balai Pengobatan Batik jang besar faedahnja pada masjarakat daerah kerdja

| Tahun | Pasien | Biaja defisit | Tahun | Pasien | Biaja defisit |
|---|---|---|---|---|---|
| 1956 | 5.631 | — | 1957 | 8.013 | — |
| 1958 | 8.674 | 64.956,— | 1959 | 15.161 | 56.657,— |
| 1960 | 15.671 | 90.645,— | 1961 | 16.196 | 40.655,— |
| 1962 | 17.506 | 196.696,— | 1963 | 16.198 | 658.642,— |
| 1964 | 14.964 | 1.588.734,— | 1965 | 18.357 | 5.011.904,— |
| 1966 | 15.938 | 169.783,— | 1967 | 9.233 | 732.723,— |
Gedung Poliklinik Batik jang dibangun bersamaan dengan gedung kantor di Djalan Laksamana R.E. Martadinata d/h. Djalan Mitra Batik No. 81-83.
Kegiatan MITRA BATIK dibidang pembangunan daerah kerdja antara lain ialah: membangun gedung² STK, SD, SLP, Balai Pengobatan, perbaikan djalan, irigasi, dan bantuan pada organisasi² pendidikan mulai tingkat rendah sampai pada tingkat tinggi baik kedjuruan maupun umum. Disamping itu tiap² anggota dipungut tiap pembagian Rp. 100,-/pis dan diberikan kepada Lurah Desa dimana anggota tinggal untuk perbaikan desa itu. Disamping pembangunan jang bersifat idiil itu, maka pembangunan disektor usaha antara lain ialah: gedung kantor dan pabrik tekstil.
Mulai tahun 1954/1961 dana pembangunan jang diterima dari sisa hasil usaha ialah sebesar Rp. 1.006.634.— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 895.707 dan tahun 1965/1967 telah diterima pula sebesar Rp. 1.009.285,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 450.949.— Disamping dana² pembangunan jang dipungut oleh MITRA BATIK untuk kepentingan daerah kerdja, maka GKBI mulai tahun 1964 memungut dana pembangunan tingkat nasional antara lain untuk pembiajaan: gedung planetarium, pembangunan² nasional lainnja dimana GKBI ikut dibebani antara lain monumen nasional, dan dana perdjuangan Dwi-Kora.
B. BIDANG USAHA DAN PRODUKSI:
1. Permodalan:
Sumber modal pertama bagi MITRA BATIK ialah simpanan² anggota, tjadangan, dan pindjaman dari pihak ketiga djangka pendek dan pandjang. Untuk mengatasi kesukaran dalam permodalan, pernah anggota² MITRA BATIK menjerahkan kekajaannja padu koperasi pada tahun 1949 sebagai djaminan kredit puda Bank Rakjat Indonesia (BRI) Bandung. Perkembangan simpanan/modal dan penggunaannja dari tahun 1948 sampai sekarang dapat dilihat pada daftar halaman 208.
Simpanan anggota bertambah dengan tjepatnja dari tahun 1955 ke 1957 karena ada rentjana untuk mendirikan pabrik tekstil seperti jang dibangun oleh primer² Pekalongan dan Bakti. Disamping itu GKBI djuga memungut simpanan chusus untuk membiajai project pabrik cambrics GKBI di Medari jang djauh lebih besar lagi dari kepunjaan primer².
2. Distribusi bahan baku batik: Distribusi bahan baku batik dan penolong sedjak dari berdirinja
| Tahun | Simp./Tjad. | Kekajaan | Investasi | ||
|---|---|---|---|---|---|
| S.H.P. | Tetap | Lantjar | Pabrik | G.K.B.I. | |
| 1948 | 60.627,— | 5.775,— | — | — | — |
| 1949 | 521.247,— | 194.391,— | 459.049,— | — | — |
| 1950 | 745.129,— | 659.023,— | 1.394.687,— | — | — |
| 1953 | 1.512.701,— | 1.752.577,— | 1.518.974,— | — | — |
| 1955 | 9.236.739,— | 677.717,— | 9.426.427,— | — | 6.370.383,— |
| 1957 | 14.929.512,— | 2.015.630,— | 7.947.652,— | — | 16.377.655,— |
| 1959 | 52.457.653,— | 2.366.385,— | 16.540.470,— | — | 25.674.372,— |
| 1960 | 49.771.377,— | 2.668.461,— | 40.459.713,— | 4.883.444,— | 15.745.061,— |
| 1965 | 1.920.267.671,— | 8.501.271,— | 488.610.722,— | 368.739.216,— | 693.505.686,— |
| 1967 | 11.828.626,— | 375.034,— | 12.328.796,— | 13.616.803,— | 12.472.392,— |

|
| ||||||
| Tahun | Banjak | Banjak | Lain² | Omzet | ||
|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||
| Yard | Harga | Kg. | Harga | |||
|
| ||||||
| 1954 | 7.182 | 34.991 | 229 | 1.258 | 155 | 36.405 |
| 1955 | 7.489 | 40.044 | 226 | 1.825 | 820 | 42.680 |
| 1956 | 9.087 | 49.599 | 95 | 533 | — | 50.133 |
| 1957 | 6.682 | 47.922 | 42 | 240 | 1.542 | 49.705 |
| 1958 | 4.663 | 61.682 | 50 | 587 | 1.833 | 64.113 |
| 1959 | 2.552 | 55.168 | 2 | 364 | 2.235 | 57.799 |
| 1960 | 3.249 | 85.776 | 14 | 3.332 | 3.174 | 92.282 |
| 1962 | 4.391 | 130.928 | 296 | 11.228 | 714 | 142.976 |
| 1964 | 2.566 | 363.443 | 35 | 39.243 | — | 402.686 |
| 1965 | 3.539 | 1.769.498 | 25 | 163.470 | — | 1.932.968 |
| 1966 | 2.241 | 15.692 | 21 | 1.233 | — | 16.925 |
| 1967 | 2.942 | 38.096 | 12 | 2.599 | 4.172 | 46.868 |
|
| ||||||
* Angka dalam ribuan
Omzet MITRA BATIK, tidak berasal dari bahan GKBI sadja, tetapi djuga mengusahakan bahan baku penolong, hasil pabrik sendiri dan batik. Untuk melihat perbandingan omzet dengan biaja dan sisa hasil dapat dilihat dibawah.
|
| ||||
| Tahun | Omzet | S.H.P. Bruto | Biaja | S.H.P. Bersih |
|---|---|---|---|---|
|
| ||||
| 1965 | 2.955.733.08,— | 696.732.281,— | 326.758.189,— | 369.974.092,— |
| 1966 | 32.756.241,— | 8.525.033,— | 3.677.769,— | 4.847.264,— |
| 1967 | 97.072.095,— | 13.367.132,— | 6.227.019,— | 7.140.113,— |
|
| ||||
Dengan adanja MITRA BATIK antara lain pemasaran batik anggota tidak akan mendjadi objek spekulasi lagi bagi pedagang² Tjina, tetapi karena modal kurang baik koperasi maupun anggota, usaha ini belum berhasil sampai Djepang masuk. Batik produksi TASIKMALAJA semendjak sebelum perang pasifik telah terkenal seluruh Indonesia, karena produksinja banjak dalam kwalitas mori biru dan blatju. Setelah kemerdekaan dan perkembangan sesudah tahun 1950 produksi batik Tasikmalaja pesat lagi dan kedudukannja di GKBI termasuk koperasi jang kuat dan sekarang MITRA BATIK adalah anggota jang terbanjak djatahnja. Sebelumnja jang terbanjak djatahnja ialah BATARI (1962 petjah djadi 10 primer), PPBI (1962/1965 petjah djadi 5 primer), KPBD (tahun 1967 djatah Tjina ditarik).
Tahun 1960/1963 pemasaran batik biru di poolkan di GKBI sebanjak 90% dari produksi dan sesudah itu sesuai dengan perobahan policy Pemerintahan dalam perdagangan, maka pool batik biru dihapuskan. Selandjutnja GKBI hanja menampung batik dalam rangka menghadapi tahun baru dan lebaran sadja. Mitra Batik sendiri djuga aktip mentjarikan pemasaran batik anggotanja dengar membuka „TOKO BATIK” di Djalan Tjihideunggede No. 42 jang melajani etjeran dan party besar. Tiga tahun belakangan ini jaitu tahun 1965/1967 penerimaan dan pendjualan batik melalui koperasi adalah: tahun 1965 dibeli sebanjak 378.714 potong seharga Rp. 1.750.681.033,— dan didjual sebanjak 108.808 potong seharga Rp. 384.867.757,—, tahun 1966 dibeli sebanjak 450.042 potong seharga Rp. 19.491.992,— dan didjual sebanjak 384.023 potong seharga Rp. 16.221.529,— dan tahun 1967 pembelian sebanjak 10.932 potong seharga Rp. 1.261.025,— dan didjual sebanjak 75.423 potong seharga Rp. 8.442.357,— Batik² jang dibeli oleh MITRA BATIK terdiri dari seluruh kwalitas jaitu: primissima, prima, biru dan blatju, djenis tulis dan tjap.
Pimpinan dari Toko Batik diserahkan tanggung djawabnja kepada seorang Komisaris jang bertanggung djawab pada Pengurus Pleno.
4. Pabrik Tekstil MITRA BATIK.
Rentjana mendirikan pabrik tekstil ini adalah realisasi dari tjita² pertama mendirikan koperasi jaitu akan mengusahakan bahan baku sendiri. Pada tahun 1956 diputuskan untuk mendirikan pabrik tekstil jang mempunjai kapasitas sebanjak 200 ATM. Tahap pertama diadakan pemupukan modal untuk membiajai project ini dan dalam tahun 1961 telah selesai berdirinja pabrik. Dalam tahun 1958 dimulai membangun pabrik dan selesai tahun 1961. Tenaga ahli untuk memimpin pabrik telah dididik di Balai Perguruan Tinggi Tekstil ( sekarang I.T.T. Bandung) djuga tenaga² ahli menengahnja jang diambilkan dari anak² anggota. Rentjana semula mesin² jang akan dibeli disamakan dengan mesin Medari, PC. GKBI dan devisa telah disediakan oleh Pemerintah untuk 100 mesin. Rentjana ini gagal karena pihak Pemerintah menundjuk importirnja PN. Pembangunan Niaga ex. PT. LINDETEVES jang bisa mengimport mesin merk SUZUKI, dan ditambah lagi devisa jang diberikan ditjabut kembali karena Pemerintah perlu untuk perdjuangan Trikora / Irian Barat.
Dalam tahun 1963 diadakan pemesanan mesin dari Djepang merk SUZUKI , 1 mesin transformator 200 KVA buatan Djerman, 1 mesin calender Dr. Ramisch & Co buatan Djerman dan 1 mesin Hani High

Gedung Pabrik Tekstil Mitra Batik di Djalan Zainal Mustofa Gunung Djambe tahun 1965 telah mulai menghasilkan. Speed Kanumara Djepang. Achir tahun 1964 mesin² ini selesai dipasang oleh tenaga² ahli dari Balai Penelitian Tekstil Bandung. Dalam tahun 1965 diadakan pembelian lagi dan jang datang ialah : 54 mesin tenun SUZUKI, 12 mesin tenun TOYODA, 2 mesin palet, 3 mesin kelos, Achir tahun 1965 MITRA BATIK telah mempunjai mesin tenun 96 buah dan perlengkapan lainnja. Peresmian pembukaan Pabrik Tekstil MITRA BATIK tanggal 1 Maret 1965 dengan mesin jang sudah djalan. sebanjak 42 ATM dan achir tahun 1965 semua mesin telah djalan. Djumlah produksi achir tahun 1965 sebanjak 105.677 meter dan benang jang didapat dari Pemerintah sebanjak 10.987 kg dan dari Medari 8.701 kg. Karyawan tahun 1965 sebanjak 58 orang terdiri dari : pegawai tetap 21 orang, buruh harian tenun 29 orang dan buruh harian Kelos / Tjutjuk /Palet sebanjak 8 orang wanita. Djaminan buruh selain dari penerimaan bulanan dan harian, pada mereka diberikan pakaian kerdja 2 stel setahun dan bagi buruh produksi diberikan djaminan beras 1/2 kg sehari dan upah premi. Pegawai tetap bulanan mendapat bantuan beras, biaja pengobatan, jang djuga berlaku bagi buruh harian . Disamping itu mereka djuga pada achir tahun mendapat gratifikasi dari sisa hasil usaha. Pada tahun 1967 djumlah peralatan jang dipunjai ialah : 144 buah mesin tenun , 5 mesin palet, 3 mesin kelos, 2 mesin hani , 1 mesin Calender, 1 mesin transformator 200 KVA , 60 motor mesin tenun lengkap, 2 buah diesel @ 125 KVA. Seluruh mesin tenun sudah dipasang dan produksi tahun 1967 ialah : 6.325 pieces dari 34.788,8 kg benang Djumlah benang jang diterima dari PC. GKBI Medari adalah 63.954 kg seharga Rp. 4.172.590,— Djumlah karyawan achir tahun sebanjak 164 orang, terdiri dari 36 orang bulanan, 100 orang harian buruh tenun dan 28 orang harian buruh palet/tjutjuk/kelos.
|
| |||||
| No | Pendjelasan | Banjak | No. | Pendjelasan | Banjak |
|
| |||||
| 1. | Kas/bank/barang² | 3.916.428 | 1. | R/C MITRA BATIK | 13.616.803,— |
| 2. | Tanah/bangunan | 433.090 | 2. | Dana resiko | 5.478.— |
| 3. | Inventaris | 100.297. | |||
| 4. | Instalasi listrik | 97.197. | |||
| 5. | Mesin² pabrik | 8.430.269. | |||
| 6. | Simp. Man. Terp | 645.000. | |||
| —————— | —————— | ||||
DJUMLAH: |
13.622.281 | DJUMLAH: |
13.662.281,— | ||
|
| |||||
BAGIAN: 4
KOPERASI RUKUN BATIK TJIAMIS
HAK BADAN HUKUM No.: 1171/TAHUN 1941
Djalan Djend. A. Yani No. 17 Telp. No. 26.

I. RIWAJAT PEMBATIKAN:
Pembatikan dikenal di Tjiamis sekitar abad ke-XIX setelah selesainja peperangan Diponegoro, dimana pengikut² Pangeran Diponegoro banjak jang meninggalkan Jogjakarta, menudju ke Selatan. Sebagian ada jang menetap didaerah Banjumas dan sebagian ada jang meneruskan perdjalanan ke Selatan dan menetap di Tjiamis dan Tasikmalaja sekarang. Mereka ini merantau dengan keluarganja dan ditempat baru menetap mendjadi penduduk dan melandjutkan tata tjara hidup dan pekerdjaannja. Sebagian dari mereka ada jang ahli dalam pembatikan sebagai pekerdjaan keradjinan rumah tangga bagi kaum wanita. Lama kelamaan pekerdjaan ini bisa berkembang pada penduduk sekitarnja akibat adanja pergaulan se-hari² atau hubungan keluarga. Bahan² jang dipakai untuk kainnja hasil tenunan sendiri dan bahan tjatnja dibuat dari pohon seperti: mengkudu, pohon tom, dan sebagainja.
Motif batik hasil Tjiamis adalah tjampuran dari batik Djawa Tengah dan pengaruh daerah sendiri terutama motif dan warna Garutan. Sampai awal² abad ke-XX pembatikan di Tjiamis berkembang sedikit demi sedikit, dari kebutuhan sendiri mendjadi produksi pasaran.
II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK:
1. Merintis menudju organisasi:
Sesuai dengan kemadjuan teknik dalam pertekstilan dan kimia, banjak tekstil luar negeri masuk ke Indonesia. Pada awal abad ke-XX itu pembatik sudah memakai bahan tekstil luar negeri sebagai bahan bakunja, sedangkan obat²nja masih buatan dalam negeri. Setelah perang dunia kesatu baru dikenal tjat² batik produksi luar negeri jaitu dari Djerman, Inggeris, Belanda jang diperkenalkan oleh agent² importir itu langsung pada pengusaha batik. Dan djuga perkembangan dalam proses pembuatan batik jaitu dari batik tulis kepada batik tjap membawa perobahan besar pada permintaan bahan baku dan pemasaran produksi batik.
Importir terdiri dari bangsa Belanda sedangkan pedagang²nja terdiri dari bangsa Tjina. Pengusaha batik dan pedagang² bangsa kita tidak ada jang berhubungan dengan importir Belanda dan djuga dalam permodalan sangat lemah. Akibatnja pengusaha batik mendjadi mangsa pedagang² Tjina. Waktu menghadapi krisis ekonomi pengusaha² batik di Tjiamis banjak jang mati dan berhutang pada pedagang² Tjina dan mendjual hartanja untuk melunasi hutang itu. Setelah krisis berachir tahun 1932 banjak pengusaha² batik jang aktip kembali dan terpaksa berhutang kembali pada Tjina. Mengingat didaerah lain sudah berdiri organisasi² pembatikan, maka di Tjiamis oleh beberapa pengusaha dengan bantuan Pedjabat jaitu: Bapak RTA Sunarja Bupati Tjiamis, Bapak M.S. Prawiranata, mengandjurkan supaja dibentuk organisasi pengusaha batik untuk menolong mereka dari permainan Tjina.
2. Pembentukan wadah organisasi:
Atas dorongan dari kedua Pedjabat tersebut maka pada tahun 1939 didirikanlah organisasi pengusaha batik jang dinamakan „Kooperasi Pengusaha Batik Bumi-Putera atau „C.P.B.B.” dengan pendirinja antara lain Bapak RTA Sunarja (Bupati Tjiamis), M.S. Prawiranata (Tjamat Tjikoneng), dan pembatik²: E. Affandi, Sapingi, H. Hudori, D. Tamim dan I. Karso. Djumlah anggota pertama sebanjak 17 orang.
Susunan Pengurus pertama dari CPBB ialah: Ketua E. Affandi, Penulis I/II: H. Hudori dan Idi Suratman, Bendahara: Sapingi dan Komisaris: I. Karso, D. Tamim dan H. Dachlan. Setelah berdiri maka diadjukan „Hak Badan Hukum” dan mendapat pengesahan pada tahun 1941 No. 1171 berdasarkan Statblad nomor 91 tahun 1927. Perkembangan CPBB sampai Djepang masuk dan permulaan proklamasi berdjalan matjet dan tinggal hanja nama sadja. 3. Koperasi wadah jang tjotjok:
Dalam tahun 1948 dimana Tjiamis mendjadi daerah pendudukan atas saran B.I.H. (Bureau Industriale Hersteld) supaja pembatikan diaktipkan kembali, maka timbullah perbedaan pendapat antara pengusaha batik. Jang tidak setudju aktip dalam anggota CPBB dan jang setudju membentuk organisasi baru jang dinamakan „Bond Batik”, suasana ini berdjalan sampai tahun 1949. Setelah Pemerintan R.I. kembali ke Jogja dan pengakuan kedaualtan, maka Bond Batik mati, anggota kembali masuk CPBB.
Hubungan dengan Pengurus GKBI diadakan dan CPBB aktip berdjuang ber-sama² primer² lainnja dan membeli saham BTC kepunjaan GKBI.
a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum:
Daerah kerdja CPBB/RUKUN BATIK meliputi daerah Kabupaten Tjiamis dan anggota² jang terbanjak bertempat di Ketjamatan: Tjikoneng, Imbanagara dan Tjiamis. CPBB mendapat hak badan

rasi RUKUN BATIK” terdaftar No. 1171. Perobahan kedua penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 tanggal 3 September 1959 tertjatat No. 1171A dan penjesuaian dengan PP 60/1959 tanggal 1 Maret 1961 tertjatat No. 1171B . Perobahan keempat ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. : 12/1967 tertjatat No. 1171C/ 1968.
Dalam rangka perdjuangan GKBI mendapatkan hak pool cambric, Rukun Batik aktip bersama dengan Primer2 lainnja. Waktu GKBI mendapat .,Hak Badan Hukum Agustus 1953, Rukun Batik terdafta mendjadi salah satu anggota pendiri dan mendjadi anggota ke-4.
b. Keanggotaan dan ke Pengurusan :
Keanggotaan :
Djumlah anggota waktu didirikan tahun 1939 tertjatat sebanjak 17 orang dan sampai tahun 1948 tertjatat 97 orang dan achir tahun 1967 tertjatat sebanjak 669 orang.
|
| ||||||||
| Tahun | Anggota | Tahun | Anggota | Tahun | Anggota | Anggota | Tahun | |
|
| ||||||||
| 1949 | 41 | 1950 | 85 | 1951 | 76 | 1952 | 55 | |
| 1953 | 159 | 1954 | 179 | 1955 | 321 | 1956 | 574 | |
| 1957 | 349 | 1958 | 325 | 1959 | 317 | 1960 | 290 | |
| 1961 | 290 | 1962 | 568 | 1963 | 568 | 1964 | 574 | |
| 1965 | 575 | 1966 | 575 | 1967 | 669 | 1968 | 669 | |
|
| ||||||||
Daerah pembatikan di Tjiamis tersebar di : Tjikoneng, Margaluju, Imbanagara, Tjiamis dan Tjisadap.
b. Kepengurusan dan Badan Pemeriksa :
Usaha² pengurus sedjak berdirinja dibidang idiil ialah : mendidirikan gedung pendidikan Taman Kanak², SMP, Balai Pengobatan. dan pembangunan didesa tempat anggota. Dibidang usaha ialah mendirikan gedung kantor dan pabrik tekstil. Pengurus RUKUN BATIK sedjak berdirinja sampai tahun 1959 terdiri dari tokoh² pendirinja dan anggota² tertua dan tahun 1960 sampai sekarang dipegang oleh anggota² muda jang telah dididik sebagai kader koperasi. Untuk tahun usaha 1968/1969 susunan pengurus dan badan pemeriksa ialah : Ketua I/ II : Thohari, Dudin Suganda, Penulis I/ II : Sachrudin dan E. Widenda , Bendahara : Otong Kartiman dan Komisaris Umum : Amir dan Komisaris² Daerah dimana anggota tinggal jaitu : Daerah Tjikoneng : Hudidja, Margaluju : Machpud , Imbanagara : 0. Wachjat, Tjiamis : Tardaja dan Tjisadap : Ruba'i.
Susunan Anggota Badan Pemeriksa untuk tahun 1968 : H.D. Sasmita, Edi dan B. Masduki dan Penasehat : H.I. Karso, H. Abdurachman, H. Rasjidi dan Ading Gunadi BA. Pengurus dalam tugasnja berpedoman pada Anggaran Dasar dan rentjana Anggaran Belandja dan Usaha tiap tahun dan memberikan pertanggungan djawab pada rapat anggota tahunan tentang tugas²nja dan dalam masa satu tahun usaha . Badan Pemeriksa adalah wakil anggota jang mengawasi tugas²

III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS RUKUN BATIK:
A. BIDANG ORGANISASI DAN MASJARAKAT:
1. Pendidikan:
Dibidang pendidikan kegiatan RUKUN BATIK antara lain mendirikan dan menjelenggarakan Sekolah Taman Kanak² dan SMP. Disamping itu ialah mendirikan gedung pendidikan S.D. didaerah tempat tinggal anggota dan penggunaannja diserahkan kepada Pemerintah. Pendidikan untuk anggota jang telah dilaksanakan jaitu: kursus tentang kekoperasian dan pengetahuan umum dan bahasa Inggeris. Kegiatan lainnja jaitu: bidang olahraga meliputi tjabang²: bulutangkis, volley ball, pingpong, sepakbola Biaja untuk pendidikan diambilkan dari dana pendidikan dan tahun 1954/1961 telah diterima

Rp. 375.479,— dan telah dikeluarkan dalam waktu jang sama sebesar Rp. 420.731,— Untuk pembiajaan Taman Kanak², Rukun Batik mendapat bantuan dari GKBI tiap tahun dan kekurangannja ditutup oleh Rukun Batik. Dalam tahun 1966/1967 dana jang diterima sebesar Rp. 19.457,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 7.640,—.

2. Sosial dan Masjarakat:
Kegiatan dibidang sosial antara lain mendirikan Balai Pengobatan Batik jang terbuka untuk anggota dan umum. Biaja untuk B.P. ini diambilkan dari dana sosial dan bantuan dari GKBI. Untuk tahun 1954/1961 dana jang diterima sebesar Rp. 252.265,— dan telah digunakan sebesar Rp. 721.996,— Penggunaan dana ini selain dari biaja B.P. djuga untuk memberikan sumbangan kepada organisasi sosial dalam masjarakat dan bentjana alam. Untuk tahun 1966/1967
|
| ||||||
| Tahun | Pasien | Biaja | Tahun | Pasien | Biaja | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||
| 1956 | 1.848 | 54.677,— | 1957 | 2.058 | 63.773,— | |
| 1958 | 1.792 | 48.517,— | 1959 | 5.113 | 150.207,— | |
| 1960 | 16.609 | 329.471,— | 1961 | 18.593 | 347.307,— | |
| 1962 | 18.593 | 347.307,— | 1963 | 11.637 | 1.812.250,— | |
| 1964 | 8.476 | 1.778.209,— | 1965 | 7.988 | 8.706.640,— | |
| 1966 | 5.535 | 20.088,— | 1967 | 2.277 | 128.995,— | |
|
| ||||||
Perkembangan pasien dan biaja jang diusahakan selama ini dapat dilihat dalam daftar dibawah ini.

3. Pembangunan daerah kerdja:
Kegiatan pembangunan daerah kerdja selama ini ialah membangun gedung pendidikan dan gedung Balai Desa serta bantuan untuk irigasi/waduk Tjitandur.
Biaja dana pembangunan daerah ini diambilkan dari dana sisa hasil usaha dan sumbangan anggota langsung. Dari sisa hasil usaha tahun 1958/1961 jang diterima sebesar Rp. 235.075,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 597.061 ,— dan tahun 1966 telah diterima sebesar Rp. 345.874,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 184.877,— dan tahun 1967 diterima sebesar Rp. 17.252,— dan telah dikeluarkan pula sebesar Rp. 12.430,—.
4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik:
Untuk kesedjahteraan karyawan selain dari gadji, mereka mendapat djaminan sosial lainnja jaitu: bantuan biaja pengobatan, natura, 
hadiah lebaran, gratifikasi, tundjangan hari tua, dan tundjangan melahirkan.
Sedangkan buruh batik selain dari upah, mereka mendapat sumbangan biaja pengobatan dan hadiah lebaran. Sumbangan biaja pengobatan ini diambilkan dari sumbangan anggota tiap bulan dan dikumpulkan oleh RUKUN BATIK.
5. Zakat:
RUKUN BATIK selain dari menjalurkan zakat jang diterima dari GKBI, djuga mengeluarkan zakat sendiri. Tahun 1965 zakat jang diterima sebesar Rp. 1.019.824,— dan jang dikeluarkan sebesar Rp. 1.019.824,— pula. Tahun 1966 jang diterima sebesar Rp.4.875.000,— dan dikeluarkan Rp. 13.328.604,— Tahun 1967 jang diterima Rp. 163.657,— dan dikeluarkan Rp. 163.657,—
B. BIDANG USAHA DAN PRODUKSI:
1. Permodalan:
Pada tahun 1941 djumlah modal/simpanan hanja Rp. 1.811,55, tahun 1950 berdjumlah Rp. 84.897,— tahun 1960 berdjumlah Rp. 16.950.442,— dan tahun 1967 tertjatat sebesar Rp. 6.108,336,— Simpanan² anggota dan tjadangan usaha ini digunakan untuk pembiajaan modal tetap, modal kerdja, pabrik dan simpanan di GKBI. Untuk modal kerdja kekurangannja ditutup dengan kredit jang diterima dari GKBI dan pihak ketiga. Perkembangan simpanan RUKUN BATIK sedjak berdirinja sampai sekarang dapat dilihat pada daftar dibawah ini.
| Tahun | Simp./Tjad. | Kekajaan Tetap | Kekajaan Lantjar | Pabrik | Inventasi G.K.B.I. |
|---|---|---|---|---|---|
| 1958 | 7.162 | 673 | 2.471 | — | 7.009 |
| 1959 | 8.871 | 716 | 3.806 | 545 | 9.744 |
| 1960 | 11.829 | 661 | 4.850 | 571 | 12.079 |
| 1957 | 16.950 | 1.021 | 13.460 | 571 | 9.769 |
| 1965 | 902.639 | 11.832 | 148.279 | 138.844 | 395.678 |
| 1966 | 6.228 | 188 | 7.697 | 1.822 | 4.125 |
| 1967 | 6.108 | 127 | 8.305 | 3.005 | 4.628 |
*) Angka dalam ribuan rupiah.
2. Distribusi bahan baku batik:
Sedjak tahun 1949 CPBB/RUKUN BATIK telah menjalurkan bahan baku batik dari Pemerintah dan tahun 1950 sampai sekarang menjalurkan bahan baku dari GKBI. Mulai tahun 1955/1966 RUKUN BATIK selain menjalurkan bahan baku untuk anggotanja, djuga menjalurkan untuk pengusaha batik lainnja. Mulai awal 1967 hanja menjalurkan untuk anggotanja sadja lagi. Selain menjalurkan bahan² dari GKBI, djuga mengusahakan bahan² penolong dan hasil produksi pabrik sendiri.
Seluruh omzet RUKUN BATIK terdiri dari hasil pendjualan bahan² dari GKBI, usaha sendiri jaitu: bahan² penolong, hasil pabrik tekstil dan batik produksi anggota.
Perkembangan omzet dan sisa hasil usaha serta biaja dapat di lihat dalam daftar halaman 223.
3. Pemasaran batik:
RUKUN BATIK sedjak berdirinja aktip mentjarikan pemasaran batik anggotanja dan djuga pernah mempunjai Toko Batik sendiri di Tjiamis. Daerah pemasaran batik Tjiamis selain daerah Djawa Barat djuga tersebar keseluruh daerah Indonesia. Motif dan warna batik Tjiamis tjampuran antara motif² Banjumas, Jogja dan Solo,
| Tahun | Yard | Banjak Harga | Kg. | Banjak Harga | Lain² | Omzet |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1954 | 2.149 | 10.266 | 88 | 588 | 262 | 11.117 |
| 1955 | 2.938 | 15.731 | 96 | 746 | 406 | 16.883 |
| 1956 | 3.546 | 18.937 | 1 | 113 | — | 19.050 |
| 1957 | 2.297 | 15.415 | 15 | 90 | 892 | 16.398 |
| 1958 | 1.492 | 19.773 | 20 | 250 | 946 | 20.850 |
| 1959 | 1.151 | 25.249 | 18 | 171 | 826 | 26.367 |
| 1960 | 1.294 | 34.048 | 5 | 1.447 | 1.591 | 37.088 |
| 1961 | 2.012 | 52.666 | 44 | 5.015 | — | 57.681 |
| 1962 | 1.867 | 56.063 | 54 | 4.469 | 347 | 60.870 |
| 1963 | 985 | 54.226 | 5 | 13.720 | — | 67.946 |
| 1964 | 992 | 154.995 | 14 | 7.654 | — | 162.649 |
| 1965 | 1.563 | 778.796 | 10 | 67.320 | — | 846.117 |
| 1966 | 968 | 6.813 | 12 | 530 | — | 7.344 |
| 1967 | 538 | 9.547 | 13 | 429 | 1.125 | 10.715 |
* Angka² dalam ribuan satuan.
| Tahun | Omzet | S.H.P. Bruto | Biaja | S.H.P. Netto |
|---|---|---|---|---|
| 1953 | 12.367.056,— | 641.370,— | 216.400,— | 424.970,— |
| 1954 | 12.105.267,— | 785.345,— | 155.685,— | 629.660,— |
| 1955 | 18.097.496,— | 1.508.008,— | 721.857,— | 786.151,— |
| 1956 | 22.710.648,— | 1.686.768,— | 1.247.710,— | 439.057,— |
| 1957 | 17.918.775,— | 1.099.012,— | 794.375,— | 304.637,— |
| 1965 | 2.151.933.389,— | 272.705.897,— | 212.133.793,— | 60.572.104,— |
| 1966 | 13.666.629,— | 2.183.727,— | 1.827.066,— | 356.661,— |
| 1967 | 19.424.110,— | 2.182.178,— | 2.196.104,— | Rugi 13.926,— |
warnanja tjampuran pula jaitu soga djawa, kuning Garutan dan lainnja. Waktu pool batik di GKBI, batik² prima dan primissima disalurkan pula melalui RUKUN BATIK. Sesudah pool batik ditiadakan tahun 1963, selandjutnja ditampung oleh RUKUN BATIK sendiri. Untuk tahun 1965 omzet balik sebesar Rp. 1.064.202.594,— dan tahun 1966 sebesar Rp.13.035.078,— dan tahun 1967 sebesar Rp. 4.412.544,—. 4. Pabrik Tekstil RUKUN BATIK:
Rentjana pendirian pabrik ini sesuai dengan planning GKBI jaitu, semua primer nantinja akan mempunjai pabrik. Pemungutan simpanan telah dimulai tahun 1957 dan rentjana semula tahun 1962

telah selesai pabrik dengan kekuatan 90 ATM. Rentjana ini gagal karena situasi ekonomi tak mengidjinkan. Tahun 1964 rentjana ini dimulai lagi dan pembangunan gedung serta mesin² dikerdjakan dan dipesan. Gedung selesai dalam tahun 1965 dan mesin² sudah datang sebagian. Dalam tahun 1966 djumlah mesin ada 20 ATM dan sudah pasang. Dalam tahun 1967 peralatan jang sudah dipunjai ialah: mesin tenun sebanjak 32 buah, mesin palet 1 unit, mesin hani 1 unit, mesin kelos 1 unit dan perlengkapan lainnja. Dalam tahun 1966 pabrik telah menghasilkan pertjobaan dan tahun 1967 66.837 mblatju. Bahan benang didapat dari GKBI Medari, tahun 1967 djumlahnja sebanjak 11.780 kg.
——————
BAGIAN: 5
KOPERASI BATIK „BUDI — TRESNA”
HAK BADAN HUKUM No. 324 Tahun 1936.
TRUSMI PLERED Telp. 3-44 TJIREBON.

1. RIWAJAT PEMBATIKAN:
Pembatikan didaerah Tjirebon ini erat hubungannja dengan keradjaan jang ada jaitu: Kanoman, Kasepuhan dan Kaprabonan. Sumber utama dari batik Tjirebon ialah lingkungan kraton, dan dibawa keluar oleh abdi² dalam jang bertempat tinggal diluar kraton. Radja² dizaman dahulu senang pada lukisan² dan sebelum dikenalnja benang katun, lukisan itu dibuat atau ditrapkan pada daun lontar dan ini kedjadian lebih kurang pada achir abad ke-XIII. Tjiri chas dari batik ke Tjirebonan ini bermotifkan sebagian besar melambangkan daerah hutan dengan margasatwanja. Motif jang membajangkan lautan ini dipengaruhi oleh alam pemikiran dari Tjina, karena Kesultanan Tjirebon masa dahulunja pernah mengambil isteri dari keturunan Tjina. Sedangkan motif jang mentjerminkan pesawat garuda dipengaruhi oleh motif² dari Djawa Tengah Jogja/Solo. Disamping itu djuga pengaruh keradjaan Demak dapat kita lihat pada perkembangan motif pada batik ke Tjirebonan dengan adanja hubungan antara Sunan Gunung Djati dengan keradjaan Demak.
Warna chas dari batik ke Tjirebonan ialah merah mengkudu jang dibuat dari akar² pohon mengkudu. Pekerdjaan batik didaerah Tjirebon ini sedjak dahulu dikerdjakan oleh pria dan banjak ahli² batik tulis didapat didaerah ini sedjak dahulu sampai sekarang. Batik tulis peninggalan motif kuno dapat kita djumpai di Museum Djakarta jang telah berumur beberapa abad dan mempunjai nilai seni jang sukar ditiru sekarang. Sekarang pembatik² muda di Tjirebon, berusaha kembali kembali kepada batik tulis jang bahan²nja diambilkan dari seni² peninggalan keratonan Tjirebonan dengan menjesuaikan dengan kombinasi warna dan selera konsumen sekarang, dengan tidak meninggalkan mutu seninja. Dalam eksperimen ini pengusaha batik muda di Tjirebon berhasil, hingga pemasaran batik tulis jang bermotifkan Tjirebonan asli dapat diterima oleh kaum wanita intelek di-kota² besar. Daerah pembatikan di Tjirebon tersebar diluar kota sekarang jaitu di Ketjamatan Waru desa Trusmi dan Kalitengah.
II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK:
1. Perintisan menudju organisasi:
Daerah pembatikan di Tjirebon berada ± 7 km dari kota arab ke Barat menudju ke Bandung. Di Plered melihat pada rumah² jang ada sekarang dan banjaknja terdapat bangsa Tjina, maka dulunja merupakan pusat keramaian sebelum adanja kota Tjirebon sekarang. Pengusaha batik selain dari mengerdjakan batik sebagai keradjinan rumah tangga, mereka pada umumnja adalah petani. Pekerdjaan keradjinan batik pertama kali hanja pekerdjaan samben dan untuk mengembangkan seni lukis batik. Tetapi sesudah dikenalnja bahan² batik jang didatangkan dari luar negeri jailu cambrics dan obat² batik, serta dikenalnja proses batik tjap, maka produksi jang tadinja untuk pakaian dan pemasaran untuk daerah sekitarnja, sekarang beralih pada produksi massaal dan komersil. Pengusaha² batik di Tjirebon dari dahulu sampai sekarang tidak ada jang besar seperti didaerah Solo, dan Jogia. Bahan2 baku batik dikuasai perdagangannja oleh Tjina, disamping mereka berdagang batik dan hasil bumi daerah Plered. Oleh karena pengusaha batik lemah dalam permodalan dan pemasaran, maka mereka terlibat dalam hutang jang tidak habis²nja. Lebih² lagi waktu menghadapi krisis ekonomi dunia, banjak pengusaha batik jang tutup dan harta kekajaan mereka disita. Sesudah berachirnja krisis ekonomi 1933, dimana kegiatan produksi batik pesat lagi, maka beberapa orang dari pengusaha merentjanakan untuk membentuk organisasi kumpulan bersama jang akan mengusahakan kebutuhan bahan baku dan mengusahakan permodalan.
2. Pembentukan Wadah Koperasi:
Setelah berachirnja krisis, banjak bahan cambrics Djepang masuk ke Indonesia jang mendjatuhkan harga pasaran cambrics ex. Nederland. Melihat gedjala ini Pemerintahan Belanda mengeluarkan peraturan pembatasan masuknja cambrics Djepang jang mengakibatkan naiknja harga dipasaran bebas. Akibat ini pengusaha2 batik kena pukul lagi, dari permainan pedagang2 Tjina. Pengusaha2 batik jang sadar di Trusmi dan dipelopori antara lain : Pak Mirdjani, Aksan, Butik, Madmil , Kadma, Saaman dan kawan2 membentuk organisasi jang dinamakan „Koperasi Batik Trusmi” dalam tahun 1935 atas bimbingan Bapak Ambijah Hadiwinoto dari Djawatan Koperasi. Pada tanggal 13 Djanuari 1936 disusunlah pengurusnja jang pertama terdiri dari : Ketua dan Wakil Ketua : Mirdjani dan Kadma, Penulis : Madmil, Bendahara : Butik dan Pembantu : Aksan . Dan satu tahun setelah terbentuknja koperasi di Trusmi, maka di Kalitengah pengusaha batik jang dipelopori antara lain : Pak Asmia, Warsika, Mawardi, Mardjanah dan kawan2 membentuk pula koperasi batik jang dinamakan „Koperasi Batik Kalitengah” tahun 1937. Pada tahun 1936 Koperasi Baitk Trusmi mendapat „Hak Badan Hukum No. 324” dan jang pertama-tama koperasi batik di Indonesia jang mendapat pengesahan badan hukum . Setelah itu Koperasi Batik Kalitengah djuga mendapat „Hak Badan Hukum pada tahun 1938”.
Perkembangan pengusaha batik selandjutnja mendapat rintangan2 dan saingan dari pedagang2 Tjina jang memberikan kredit pada anggota dan pengusaha batik lainnja . Sampai Djepang masuk ke Indone sia koperasi Trusmi dan Kalitengah berdjalan terus berdasarkan tjita2 dan tudjuan perdjuangannja jaitu menolong anggota dalam permo dalan dan mentjarikan bahan baku serta pemasaran batik anggota.
3.Koperasi Wadah jang tjotjok bagi pembatikan :
Pengusaha batik jang lemah dalam permodalan dan buta dalamorganisasi maka untuk meningkatkan usahanja , mereka harus bersatu menghadapi pedagang2 lainnja terutama Tjina jang kuat dalam permodalan dan organisasi. Selama pendudukan Djepang kegiatan koperasi beralih pada kegiatan konsumsi karena bahan baku batik jang didatangkan dari luar negeri tidak ada akibat perang. Pengusaha2 batik bekerdja berdasarkan bahan jang ada bahkan bahan kain putih jang sudah dipakai pernah didjadikan batik serta batik lama ditjelup kembali. Setelah Indonesia merdeka, pembatikan masih lesu karena bahan2 belum ada dan ditambah lagi banjak pengusaha2 jang ikut berdjuang mempertahankan kemerdekaan. Waktu aggressi kesatu banjak pengusaha² batik jang mengungsi dan ada pula jang menetap dalam kota. Setelah Pemerintahan R.I. kembali ke Jogja tahun 1949 dan penduduk jang mengungsi sedjak tahun 1947 telah pula kembali kedesa masing², maka kegiatan pembatikan di Trusmi dan Kalitengah aktip kembali. Bahan² baku batik didapat dari pemerintahan federal (B.I.H.). Susunan pengurus koperasi Trusmi waktu itu ialah: Ketua dan Wakil Ketua: Samita dan Sarsa, Penulis: Madmil, dan Banadie. Bendahara: Mistara dan Pembantu: Madjana dan Masiņa. Hubungan dengan pengurus GKBI diadakan, dan tahun 1950 ikut membeli saham BTC. Sedjak tahun 1950 sampai sekarang Koperasi Batik Trusmi sekarang namanja „BUDI TRESNA” mendapat bahan cambrics dari GKBI.
Dalam perdjuangan untuk merebut pool cambrics supaja diserahkan pada GKBI Trusmi ikut aktip. Dalam meminta pengesahan „Hak Badan Hukum” Trusmi terdaftar sebagai anggota GKBI No. 5. Waktu itu Trusmi diwakili oleh Sdr. MASINA jang mendjabat sebagai Ketua II Trusmi dan di GKBI sebagai Komisaris. Sampai sekarang Sdr. Masina sebagai Pengurus Trusmi/Budi Tresna mulai tahun

a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum:
Di Tjirebon atau Ketjamatan Waru terdapat dua koperasi batik jang keduanja telah berbadan hukum dan jang resmi mendjadi anggota GKBI diterima adalah Koperasi Trusmi. Maka pada tahun 1956 diusahakan oleh pengurus GKBI bersama-sama dengan pedjabat Djawatan Koperasi Tjirebon dan Propinsi Djawa Barat di Bandung supaja dua koperasi ini dapat disatukan.
Dalam bulan Djuli 1956 kedua koperasi ini difusi dan dinamakan „KOPERASI BATIK BUDI TRESNA” dengan susunan pengurusnja pertama ini semuanja masuk ialah: Ketua Umum, I/II: Samita, Moh. Marfuatun dan Masina, Penulis I/II: A. Kandeg dan Banadi, Bendahara I/II: Sunendra dan Moh. Kama. Pembantu Umum: Moch. Ellal Suganda dan Madmil, Pembantu² terdiri: Sumardjo, Uswika, A. Olie Faria, Sarsa, D. Masnandi , Mudjina, Samian, Kardjan, Moch. Iksan, Sutirdjo, Markana, Askira dan A. Biskal. Dengan berfusinja dua koperasi ini maka Anggaran Dasarnja dirobah dan terdaftar No. 324 tahun 1956. Perobahan keduanja ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan ketiganja dengan PP. 60/1959 tertjatat No. 324c. Dan sekarang akan dirobah dengan penjesuaian sama Undang² No. 12/1967 terdaftar No. 324d.
b. Keanggotaan dan ketatalaksanaan:
Pada waktu didirikan koperasi batik Trusmi djumlah anggotanja tertjatat sebanjak 22 orang dan sampai tahun 1948 hanja berdjumlah 45 orang.
| Tahun | Anggota | Tahun | Anggota | Tahun | Anggota | Tahun | Anggota |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1949 | 314 | 1950 | 309 | 1951 | 306 | 1952 | 296 |
| 1953 | 295 | 1954 | 369 | 1955 | 418 | 1956 | 911 |
| 1957 | 716 | 1958 | 731 | 1959 | 716 | 1960 | 713 |
| 1961 | 785 | 1962 | 785 | 1963 | 794 | 1964 | 1.169 |
| 1965 | 1.169 | 1966 | 1.169 | 1967 | 1.173 | 1968 | 1.173 |
Ketatalaksanaan BUDI TRESNA:
Pedoman untuk mengatur ketatalaksanaan telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar jang telah disahkan oleh Rapat Anggota dan Pemerintah. Untuk melaksanakan tudjuan dan bagaimana tjara mentjapainja telah ditetapkan pula oleh rapat anggota dalam anggaran belandja dan usaha tiap tahun. Sebagai pelaksana dan memimpin koperasi, rapat anggota memilih dan mengesahkan Pengurus untuk masa djabatan tertentu dan tiap tahun bertanggung djawab pada rapat anggota. Untuk
Pengurus lengkap Budi Tresna 1968/1969.
Duduk: dari kiri kekanan: Masina Ketua I, S. Anwar Pembantu, A. Kandeg
Ketua II, Berdiri dari kiri kekanan: Eddy M.W. Bendahara I, Markana
Penulis I, Olee Penulis II dan Mashudi Bendahara II.
Usaha² jang telah ditjapai oleh Pengurus Budi Tresna dalam memimpin selama ini dibidang idiil ialah mendirikan gedung STK, SMEP, SMEA, PGA, Puteri/Madrasah ISLAM, Balai Pengobatan, Rumah karyawan dan buruh batik. Dibidang usaha untuk melantjarkan dan meningkatkan kesedjahteraan anggota dan masjarakat daerah kerdja ialah: gedung kantor dan pabrik tekstil BUDI TRESNA.
Dengan adanja koperasi batik didesa Plered dan Tjirebon umumnja faedahnja pada masjarakat daerah kerdja dan chususnja daerah Ketjamatan Waru sangat besar faedahnja. Lebih² dibidang sosial dan pendidikan mendapat kemadjuannja. Untuk mengatur tugas masing² pengurus sesuai dengan fungsinja maka masing² pengurus memimpin dan bertanggung djawab sebagai berikut:
Ketua I tugasnja sebagai Pemimpin Umum, bertanggung djawab keluar dan kedalam. Ketua II sebagai Wk. Pemimpin Umum ditambah Urusan Pabrik Tekstil. Penulis I memimpin dan bertanggung djawab soal sekretariat dan pendjualan bahan batik. Penulis II membantu Penulis I, ditambah hubungan organisasi dengan instansi Pemerintahan dan pendidikan. Bendahara I bertanggung djawab soal keuangan, batik dan modal pabrik tekstil. Bendahara II, membantu Bendahara I dan penerangan. Komisaris diserahi Urusan Rumah Tangga.
Susunan Pengurus BUDI TRESNA untuk masa djabatan 1967/ 1968 ialah Ketua I/II: Masina dan A. Kandeg, Penulis I/II: Markana dan Olie, Bendahara I/II: Eddy M.W. dan Mashudi. Pembantu S. Angwar. Susunan Badan Pemeriksa untuk masa djabatan 1968 ialah: Suganda, Nurakim dan Warsika.
III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS BUDI TRESNA:
A. BIDANG ORGANISASI DAN IDIIL:
1. Pendidikan : Kegiatan Budi Tresna dibidang pendidikan banjak faedahnja pada masjarakat Tjirebon umumnja dan desa Trusmi dan Kalitengah chususnja Sekolah2 jang diselenggarakan oleh Budi Tresna ialah : Taman Kanak2 dan SMEP Batik. Gedung2 sekolah jang telah dibangun ialah SMEA, PGA, Puteri. Kedua gedung ini diserahkan penggunaannja pada PDK Tjirebon dan Djawatan Pendidikan Agama Tjirebon. Biaja pemeliharaan STK 1958 dan SMEP Batik dibebankan pada dana pendidikan dan kekurangannja dibantu oleh GKBI dan Budi Tresna. Kegiatan lainnja dibidang pendidikan ini, untuk anggota diadakan kursus pembatikan dan disamping itu kegiatan olah-raga untuk keluarga batik. Tjabang2 Olah-Raga jang ada ialah: bulutangkis, ping-pong, volley ball, sepakbola. Untuk anak2 anggota, karyawan, buruh batik dan masjarakat daerah kerdja, Budi Tresna aktip mengorganisir Pramuka. Dana pendidikan jang diterima dari sisa hasil usaha sampai tahun 1958/1961 sebtsar Rp. 527.289,- dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 595.172,- dan tahun 1965 diterima sebesar Rp. 2.348.012,--- dan dikeluarkan sebesar Rp. 1.518.931,-. Untuk tahun 1966/1967 mengeluarkan dana2 disatukan dengan dana2 lainnja. Tahun 1966 dana jang diterima sebesar Rp. 791.240.274,- dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 589.575.433,- dan tahun 1967 telah diterima dana² sebesar Rp. 535.378,- dan telah dikeluarkan sebesar Rp.89.154,—.

Gedung STK Batik di Trusmi dibangun tahun 1957 dari
dana pembangunan GKBI dan Primer
- STK Batik; murid 56 orang, tenaga guru 2 orang dan pegawai 1 orang.
- SMEP Batik: murid pria 59 orang dan wanita 35 orang, djumlah 94 orang.
Tenaga guru dan pegawai 17 orang.

Murid pria 174 orang dan wanita 229 orang, djumlah 403 orang, tenaga guru dari Pemerintah 7 orang dan dari Budi Tresna 4 orang dan pegawai 1 orang.

Gedung Pendidikan Guru Agama Puteri jang dibangun Budi Tresna dari sumbangan anggota selesai tahun 1967 dan diserahkan kepada Pemerintah c.q. Dep. Agama. Gedung ini terletak didesa Trusmi.
2. Sosial dan masjarakat :
Kegiatan Budi Tresna dibidang sosial terutama ialah menjeleng garakan Balai Pengobatan Batik disamping memberi bantuan pada organisasi² sosial, fakir miskin, dan bantuan bentjana alam serta kelaparan. Biaja balai pengobatan dan bantuan itu diambilkan dari dana sosial sisa hasil perusahaan dan sumbangan anggota serta bantuan GKBI dan Budi Tresna sendiri. Pada tahun 1967 kepada tiap2 pasien, anggota dan umum dibebankan biaja kartjis Rp. 1,- dan suntikan Rp. 10,- dan untuk buruh batik serta keluarga dibebankan biaja kartjis Rp. 0,50 dan biaja suntikan Rp. 5,-. Bagi karyawan biaja pengobatan mengganti seharga kwitansi dan dibebankan kepada Budi Tresna. Dalam tahun 1958/1961 dana sosial jang diterima dari sisa hasil usaha sebesar Rp. 408.193,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 310.018,— dan tahun 1965 diterima sebesar Rp. 946.162,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 4.569.045,—. Untuk tahun 1966/1967, pengeluaran dana² baik dari sisa hasil maupun dalam sumbangan anggota pengeluaran dan penerimaannja disatukan dalam neratja dan tahun 1966 diterima sebanjak Rp. 791.240.274,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 589.575.433,— dana tahun 1967 diterima sebanjak Rp. 535.378,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 89.154,— dan sisa Rp. 446.224,— Perkembangan djumlah pasien jang berobat pada. Balai Pengobatan Batik dapat dilihat dibawah ini.
| Tahun | Pasien | Biaja | Tahun | Pasien | Biaja |
|---|---|---|---|---|---|
| 1957 | — | — | 1959 | 4.241 | 111.085,— |
| 1962 | 13.689 | 158.914,— | 1965 | 12.568 | 5.161.628,— |
| 1966 | 13.991 | 75.777,— | 1967 | 11.920 | 204.073,— |

- Pembangunan Daerah Kerdja :
Dibidang pembangunan daerah kerdja kegiatan BUDI TRESNA sedjak berdirinja sampai sekarang telah banjak jang dapat dilihat dan faedahnja pada masjarakat, terutama dibidang pendidikan. Gedung² jang dibangun untuk kepentingan pendidikan tunas muda jang berguna bagi pembangunan daerah Plered chususnja dan Tjirebon umumnja serta lebih luas lagi jaitu tanah air Indonesia sudah banjak antara lain : STK Batik, SMEP Batik, SMEA Batik, Madrasah Dinijah Batik, PGA Agama Islam Negeri, Balai Pengobatan. Gedung² untuk kepentingan usaha dan produksi ialah : telah dibangun gedung kantor di Trusmi dan Pabrik Tekstil di Trusmi jang diresmikan pembukaannja tanggal 21 Djuli 1968. Dana pembangunan dari sisa hasil usaha jang diterima dari 1958/1961 sebanjak Rp. 1.347.719,- dan telah digunakan sebanjak Rp. 1.480.575,–. Tahun 1965 dana jang diterima sebanjak Rp. 29.672.859,- dan telah digunakan sebanjak Rp. 19.494.200,-. Untuk tahun 1966/1967 semua pengeluaran dana disatukan dalam neratja dan dapat dilihat pada pendjelasan dana pendidikan dan sosial. Dana Pembangunan Madrasah chusus dipungut dari anggota tahun 1964/1966 dan terkumpul sebanjak Rp. 25.024.455 ,— tahun 1965 dan telah digunakan tahun 1965 sebanjak Rp. 22.645.423 ,-. Dalam tahun 1966 semua dana jang diterima dari anggota sebesar Rp. 129.760,— UB dan untuk pembangunan gedung Rp. 163.955,- dan biaja perlengkapan Rp. 84.574,- kekurangan biaja sebesar Rp. 138.769 ,- dan ditutup dengan sumbangan anggota jang diterima tahun 1967 sebesar Rp. 130.000,
- Kesedjahteraan karyawan dan Buruh baik :
Untuk meningkatkan kesedjahteraan karyawan dan buruh batik, perhatian dari pengurus Budi Tresna besar sekali. Pendapatan jang diterima oleh karyawan selain dari gadji bulanan, mendapat bantuan beras, djaminan pengobatan, pakaian dinas, hadiah lebaran, gratifikasi tahunan. Disamping itu mereka mendapat sumbangan kematian, perkawinan dan bantuan pembangunan perumahan. Untuk buruh batik selain dari upah harian mereka, diberikan bantuan biaja pegobatan, hadiah lebaran, sumbangan pembangunan perumahan dan bantuan perkawinan, kematian. Dana djaminan sosial untuk buruh batik dipungut langsung oleh Budi Tresna tiap bulan melalui djatah. Dalam tahun 1964/1965 dana jang terkumpul sebesar Rp. 985.033,— dan telah digunakan sebesar Rp. 773.230,—.
5. Zakat:
Tiap tahun Budi Tresna mengeluarkan zakat kekajaan dan djuga menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdja Budi Tresna. Untuk tahun 1965/1966 zakat jang di terima sebesar Rp. 18.085.690,— dan telah dibagikan kepada jang jang berhak sebesar Rp. 6.989.915,- dan sisa achir tahun 1966 Rp. 13.095.775,— atau Rp. 13.095,- U.B. Dalam tahun 1967 zakat jang diterima sebesar Rp. 267.967,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 246.433,70,— dan sisa achir tahun 1967 sebesar Rp. 34.629,—.
B. BIDANG USAHA DAN PRODUKSI:
1. Permodalan:
Modal utama bagi Budi Tresna ialah simpanan² anggota, dan tjadangan perusahaan. Modal tambahan ialah pindjaman dari pihak ketiga jaitu Pemerintah dan swasta. Menurut tjatatan modal utama tahun 1953 ada sebesar Rp. 670.902,- dan pertambahan modal ini tiap tahun terus naik dan djuga disesuaikan dengan kebutuhan modal kerdja dan keadaan pasaran. Pertambahan jang besar ialah setelah tahun 1956 dan sesudah tahun 1963 sampai tahun 1966. Dalam tahun 1967/1968 pertambahan modal ini lambat madjunja, sebab keadaan ekonomi tidak mengizinkan untuk memperbesar simpanan².
|
| |||||
| Tahun | Simp/Tjad. S.H.P. | Kekajaan tetap | Lantjar | Investasi Pabrik | G.K.B.I |
|---|---|---|---|---|---|
|
| |||||
| 1953 | 670 | 92 | 583 | — |
— |
| 1957 | 7.564 | 843 | 5.067 | — |
5.879 |
| 1958 | 9.179 | 753 | 7.261 | — |
6.856 |
| 1959 | 13.300 | 1.088 | 9.242 | — |
9.554 |
| 1960 | 18.076 | 945 | 11.744 | — |
12.224 |
| 1965 | 703.584 | 19.828 | 713.784 | 171.280 |
372.326 |
| 1966 | 7.531 | 560 | 6.104 | 805 | 4.691 |
| 1967 | 9.784 | 427 | 10.499 | 3.239 | 5.666 |
|
| |||||
2. Distribusi bahan baku batik :
Berdirinja Koperasi Trusmi dan Kalitengah tahun 1935 dan 1936 tudjuannja ialah menolong anggota dalam mendapatkan bahan baku serta modal usaha serta pemasaran hasil produksi batik. Sedjak berdirinja GKBI dimana Koperasi Batik Primer mendjadi anggotanja, maka tjita2 ini tahap demi tahap telah tertjapai. Semendjak tahun 1950 Budi Tresna/Trusmi telah mendjadi penjalur bahan baku batik dari GKBI /BTC . Selain dari bahan baku batik Budi Tresna djuga menjalurkan bahan² penolong seperti : lilin, bahan bakar, siongka dan bahan² lainnja. Selain dari bahan baku batik, djuga aktip menjalurkan batik bebas. Budi Tresta selain dari menjalurkan kepada

|
| ||||||
Banjak |
Banjak |
|||||
| Tahun | Yard | Harga | Kg. | Harga | Lain² | Omzet |
|
| ||||||
| 1954 | 3.667 | 17.217 | 101 | 544 | 75 | 17.836 |
| 1955 | 3.018 | 14.561 | 66 | 466 | 492 | 15.520 |
| 1956 | 3.575 | 18.987 | 23 | 124 | — | 19.478 |
| 1957 | 2.666 | 19.342 | 24 | 136 | — | 19.478 |
| 1958 | 1.366 | 18.818 | 20 | 252 | 843 | 19.914 |
| 1959 | 1.018 | 21.741 | 1 | 78 | 946 | 22.767 |
| 1960 | 1.203 | 32.267 | 12 | 917 | 1.024 | 34.209 |
| 1961 | 1.972 | 51.468 | 40 | 6.040 | — | 64.479 |
| 1962 | 1.809 | 54.111 | 52 | 4.573 | 219 | 58.914 |
| 1963 | 930 | 51.282 | 46 | 13.193 | — | 64.479 |
| 1964 | 1.127 | 155.849 | 16 | 9.473 | — | 165.323 |
| 1965 | 1.532 | 760.166 | 10 | 57.362 | — | 817.529 |
| 1966 | 903 | 24.457 | 11 | 507 | — | 4.964 |
| 1967 | 856 | 17.901 | 8 | 1.747 | 2.009 | 21.657 |
|
| ||||||
- ) Angka² dalam ribuan
Usaha² Budi Tresna selain dari menjalurkan bahan² dari GKBI, nampak aktip setelah tahun 1963, dimana produksi batik anggota madju dengan pesat setelah adanja pendidikan batik dengan mempergunakan zat² pewarna seperti batik Pekalongan. Dan djuga Budi Tresna aktip mentjarikan pemasaran batik anggota, karena pool batik GKBI dihapuskan tahun 1963. Untuk djelasnja dapat dilihat perbandingan omzet seluruhnja 3 tahun belakangan ini.
|
| ||||
| Tahun | Omzet | S.H.P. Bruto | Biaja | S.H.P. Netto |
|
| ||||
| 1965 | 2.218.138.611,— | 600.485.181,— | 172.771.922,— | 427.713.259,— |
| 1966 | 14.687.184,— | 4.600.354,— | 2.783.887,— | 1.816.467,— |
| 1967 | 42.132.113,— | 6.321.285,— | 4.492.827,— | 828.458,— |
|
| ||||
3. Pemasaran Batik:
Pemasaran batik anggota setelah tidak adanja pool batik lagi dari GKBI Budi Tresna aktip mentjarikan daerah pasar batik anggota. Semua kwalitas batik ditampung oleh koperasi dan bagi anggota jang telah mempunjai pasaran kuat diberi kebebasan untuk tidak mendjualnja pada koperasi.
Untuk tiga tahun belakangan batik jang dibeli oleh koperasi meliputi harga Rp. 839.166.065,— dan jang terdjual seharga Rp. 1.066.454.649,— dalam tahun 1965. Tahun 1966 batik jang dibeli dan sisa stock 1965 seharga Rp. 7.354.357.913,— dan jang didjual seharga Rp. 8.040.270.218,—. Tahun 1967 batik jang dibeli dan sisa stock 1966 seharga Rp. 2.823.721,— dan jang didjual

4. Pabrik Tekstil Budi Tresna:
Budi Tresna sebagai salah satu koperasi batik jang tertua dalam mendapat hak badan hukumnja jaitu tahun 1936 dan di GKBI sebagai anggota No. 5, dalam usaha pembangunan pabrik ketinggalan dari primer² lainnja jang setingkat. Usaha pengumpulan modal untuk pembiajaan pabrik tekstil baru dimulai tahun 1962 dan tahun 1963/1964 telah dipesan mesin tenun serta perlengkapannja. Pada achir tahun 1965 telah diinvestasikan modal sebesar Rp. 171.280.623,—. Pembangunan gedung dimulai tahun 1965 didesa Trusmi dan tahun 1967 telah selesai. Djumlah mesin tenun jang ada sebanjak 30 buah, 1 buah mesin palet, 2 buah mesin kelos, 2 buah diesel dan 1 buah mesin keteng serta perlengkapan lainnja. Dalam tahun 1967 pemasangan mesin dan instalasi listrik telah selesai dan sudah mulai berproduksi dalam pertjobaan. Peresmian dari pabrik ini ialah pada tanggal 21 Djuli 1968 dalam rangka ikut merajakan Hari Koperasi ke-XXI. Dalam tahun 1967 benang jang diterima dari GKBI sebagai bahan baku sebanjak 21.111 kg seharga Rp . 2.009.327,—.
|
| ||||||
| Aktiva | Pasiva. | |||||
|
| ||||||
No.
|
Pendjelasan | Banjak | No. | Pendjelasan | Banjak | |
|
| ||||||
1.
|
Tanah/gedung | 2.011.951,— | 1. | R/C Budi Tresna | 3.239.199,— | |
2.
|
Instalasi listrik | 538.927,— | 2. | S.H.P. Pabrik 1967 | 498.443,— | |
3.
|
Mesin² pabrik | 86.458,— | —————— | |||
4.
|
Inventaris | 26.155,— | Djumlah: | 3.737.642,— | ||
5.
|
Bahan baku | 757.388,— | ||||
6.
|
Lain² ongkos | 316.763,— | ||||
Djumlah: |
—————— | |||||
| 3.737.642,— | ||||||
|
| ||||||
BAGIAN: 6
KOPERASI „PERSATUAN PERUSAHAAN BATIK”
PEKADJANGAN — PEKALONGAN
HAKBADAN HUKUM No.: 660 tgl. 2-3-1940.

I. RIWAJAT PEMBATIKAN:
1. Asal-usul batik di Pekadjangan:
Pada awal abad ke-20 pertama kali dikenal di Pekadjangan ialah pertenunan jang menghasilkan stagen dan benangnja dipintal sendiri setjara sederhana. Beberapa tahun belakangan baru dikenal pembatikan jang dikerdjakan oleh orang² jang bekerdja disektor pertenunan ini. Pertumbuhan dan perkembangan pembatikan lebih pesat dari pertenunan stagen dan pernah buruh² pabrik gula di Wonopringgo, dan Tirto lari ke perusahaan² batik, karena upahnja lebih tinggi dari pabrik gula.
Pembatikan jang dikerdjakan masih terbatas pada batik tulis, bahan baku mori hasil luar negeri dan tenunan sendiri dan obat²nja buatan dalam negeri antara lain: nila,/tom, mengkudu,/patje dan sebagainja.
2. Tjiri² chas dan bahan baku batik:
Tjiri chas dari batik Pekadjangan ialah model blanco dengan pola kembang dan proses terachirnja dikerdjakan di Jogjakarta. Batik² blanco ini dibawa ke Jogja oleh pedagang² Pekadjangan dan waktu itu di Jogja telah berdiri organisasi Islam Muhammadijah. Oleh karena sering pulang perginja orang² Pekadjangan waktu itu ke Jogja maka tertarik oleh perdjuangan dan tudjuan tjita² Muhammadijah, maka di Pekadjangan didirikan pula Muhammadijah. Djadi sekarang ini kalau hubungan Muhammadijah dengan koperasi Pekadjangan erat, ini disebabkan karena sedjarah pertumbuhannja sedjalan dan masing² pendukungnja telah sama² merasakan faedahnja. Setelah dikenalnja obat² batik luar negeri maka proses terachir sudah bisa dikerdjakan sendiri akibat petundjuk² serta demonstrasi jang diberikan oleh agen² teknik dari importir. Proses batik tjap dikenal sesudah perang dunia ke-I dan akibatnja produksi batik bukan keradjinan sadja lagi dan sudah menudju pada masaal produksi. Pemasaran batik Pekadjangan ada jang didjual di Pekalongan pada pedagang² Tjina dan Arab dan ada djuga keluar daerah jaitu : Surabaja, Bandung, Djakarta, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Pengusaha/pedagang batik Pekadjangan waktu itu telah ada jang mempunjai toko diluar daerah antara lain : Pak H. Afdhol Djalil di Surabaja dan Pak H. Abdullah di Makassar. Batik Pekadjangan jang terkenal ialah produksi sarungnja jang beraneka warna dan halus. Bagi konsumen luar Djawa jang tersebar di Sumatera, Sulawesi, bahkan sampai ke Malaya dan Singapore serta daerah Asia Tenggara umumnja sudah dikenal batik sarung produksi Pekalongan chususnja Pekadjangan. Setelah krisis dunia dan mendekatnja petjah perang pasifik di Pekadjangan dikenal pula pertenunan jang menghasilkan sarung pelekat. Produksi batik dan sarung plekat sampai sekarang di Pekadjangan madju dengan pesat, jang mendjadi lapangan kerdja utama bagi daerah Pekadjangan.
II. MENUDJU KEARAH ORGANISASI KOPERASI :
I. Masa perintis dan perdjuangan :
Setelah perang dunia ke-I akibat dikenalnja obat² luar negeri dan proses batik tjap, produksi batik jang tadinja bersifat keradjinan menudju kearah produksi masaal jang bertenden komersil. Bangsa Indonesia jang penduduknja puluhan djuta dan wanitanja terutama konsumen batik dan membutuhkan bahan baku mori jang djumlahnja puluhan djuta meter. Mori ini didatangkan dari luar negeri terutama Nederland dan Djepang. Importirnja dipegang oleh bangsa Belanda jang tergabung dalam "Big Five” dan distributornja dipegang oleh pedagang² Tjina. Dengan beralihnja produksi batik dari sifat keradjinan kepada produksi masaal maka baik perdagangan bahan bakunja maupun perdagangan batiknja mendjadi objek spekulasi bagi pedagang importir dan distributor. Bangsa Indonesia umumnja dan chususnja pengusaha batik di Pekadjangan adalah lemah dalam permodalan dan tetap mendjadi objek kredit oleh pedagang² Tjina. Akibat krisis ekonomi dunia, pengusaha² batik terlibat dalam hutang jang berat, karena hasil produksi tidak bisa didjual, akibatnja perusahaan banjak jang gulung tikar dan tinggal perusahaan menengah dan besar sadja lagi. Setelah krisis ekonomi berachir, maka timbullah kembali perusahaan batik dengan pesatnja. Kebutuhan akan modal dan bahan baku bertambah permintaannja dan ini diikuti oleh permintaan akan batik. Setelah krisis ini, produsen² mori Djepang mengaliri Indonesia dengan mori jang banjak hingga Belanda tidak kuat menghadapi saingan produsen Djepang dengan sistim dumpingnja. Akibatnja Pemerintahan Belanda mengeluarkan larangan atau membatasi pemasukan mori Djepang sebab ini bisa mematikan industri cambrics dinegeri Belanda. Akibat pengurangan masuknja mori Djepang ini, tingkat harga mori dipasar bebas melondjak naik dan pengusaha² batik kena pukul lagi. Dikalangan importir Belanda untuk menghadapi saingan Djepang dan mengatur harga dalam negeri membentuk organisasi jang dinamakan "Cambrics Convenant”. Cambrics Convenant menetapkan harga mori dalam 3 golongan jaitu:

Akibat bahan baku batik telah mendjadi bahan spekulasi bagi importir dan pedagang Tjina, dirasakan tekanan² jang memberatkan dan tidak menguntungkan bagi produsen batik. Untuk ini pengusaha² batik jang kesadaran organisasinja akibat adanja Muhammadijah lebih besar, mendirikan kumpulan usaha bersama dan selalu gagal karena mendapat rintangan dari pedagang2 Tjina dan pemerintahan kolonial. Dengan dikeluarkannja Peraturan Pemerintah tahun 1927 jang mengatur perekonomian bumiputera dan Undang2 Koperasi No. 108/1933 maka kemungkinan untuk membentuk organisasi ekonomi bertambah mudah. Tokoh² pendiri dari Koperasi Persatuan Perusahaan Batik
Pekadjangan antara lain ialah: Bapak H. Afdohl Djalil, H. Mundar H. Siradj Sjukri, H.A. Kadir Bakri, H. Djazuli, H. Arsjad Sjukri dan H. Bakri Sjukri.
2. Koperasi wadah jang tjotjok bagi pembatikan :
Dengan adanja tekanan² dari Pemerintah Belanda dan pedagang? Belanda serta pedagang Tjina, keinginan untuk bersatu dari produsen batik bertambah kuat. Tudjuan dari pembentukan organisasi koperasi ialah memperoleh bahan cambrics langsung dari importir, menolong anggota dalam permodalan dan mentjarikan pemasaran batik anggota.
Maka pada tanggal 27 Mei 1937 didirikanlah Koperasi Persatuan Pengusaha Batik Pekadjangan dengan susunan pengurus pertamanja ialah :
Ketua I/II: Bapak H. Afdhol Djalil, H. Siradj Sukri, Penulis 1/I: H.A. Kadir Bakri dan H. A. Sudjak, Bendahara I/II: H. Arsiad Sjukri, H. Mundar dan Pembantu sebanjak 5 orang. Modal pertama koperasi terkumpul sebanjak F 2.200,- (gulden Belanda) dan djumlah anggota pria 54 orang dan wanita 2 orang. Dalam pembentukan PPB ini pedjabat bangsa Indonesia jang bekerdja sama Belanda waktu itu banjak mendorong ialah: Pak Ambijah Hadiwinoto, Pak Harsojo dan Pak Muljadi SH semuanja dari Perekonomian daerah Pekalongan. Koperasi P.P.B. mendapat Hak Badan Hukum tanggal 1 Maret 1940 No. 660 berdasarkan Undang Koperasi No. 108/1933 jang tunduk kepada Hukum Dagang Barat dan disjahkan oleh Departemen Kehakiman. 3. Perkembangan organisasi dan keanggotaan:
Dua tahun setelah mendapat hak badan hukum Djepang masuk ke Indonesia dan kegiatan koperasi terhenti karena bahan baku mulai berkurang. Kegiatan koperasi dialihkan menjalurkan bahan² kebutuhan konsumsi dan djuga menerima pekerdjaan pemintalan goni dari Tjabang Toyo Meinka Kaisa. Setelah proklamasi kemerdekaan kegiatan koperasi dialihkan kepada pertenunan dengan bahan² baku diusahakan seadanja oleh koperasi. Waktu akan adanja agressi Belanda ke-I semua simpanan² anggota dibagikan dan koperasi hanja tinggal namanja sadja lagi. Dalam tahun 1948 kegiatan diadakan lagi dan terkumpul modal lebih kurang Rp. 28.000,-. Setelah tahun 1949 banjak daerah² pembatikan mendjadi daerah pendudukan termasuk Pekalongan, maka kegiatan pembatikan tumbuh pesat dengan adanja bahan baku jang disediakan oleh Pemerintah Federal. Setelah Pemerintah R.I. kembali ke Jogja, maka diadakan hubungan dengan Pengurus GKBI jang ada di Jogja dan Solo jang waktu itu telah ada GKBI dan BTC. Dalam tahun 1950 PPB Pekadjangan diterima mendjadi anggota GKBI dan ikut membeli saham N.V. BTC. sebesar Rp. 355.000,-. Dalam bulan Mei 1950 Saebani, S. Sarwohardjono dan A.D. Dungga diangkat mendjadi Pres. Direktur dan Direktur I/II. Tahun 1952 Sdr. Saebani dari PPBI mengundurkan diri dan Pimpinan berobah mendjadi: S. Sarwohardjono, (Batari Solo), A.D. Dungga (Mitra Batik Tasikmalaja) dan M. Djumhan (PPB Pekadjangan) diangkat mendjadi Pres. Direktur dan Direktur I/II sanipai September 1953 dimana waktu itu N.V. BTC telah dilikwidir segenap kegiatannja dialihkan pada GKBI. Oleh karena koperasi kekurangan modal maka pemupukan modal untuk kegiatan usaha terus diintensifkan dan mulai tahun 1952 sisa hasil usaha tidak dibagikan setjara iunai pada anggota. Waktu GKBI mendapat Hak Badan Hukum, tahun 1953 PPB adalah salah satu anggota pendiri jang diwakili oleh H.A. Aziz sebagai Kom. GKBI dan selandjutnja duduk dalam kepengurusan GKBI mewakili Pekadjangan sampai tahun 1963 dan digantikan oleh Sdr. H.A. Fattah Sjakur untuk masa djabatan 1963/ 1965 dan selandjutnja sampai sekarang digantikan oleh Sdr. H. Sjofwan Sjukri untuk masa djabatan 1966/1968. PPB adalah salah satu anggota GKBI jang mendapat kemadjuan dalam segi usahanja baik idiil maupun usaha serta produksi dibandingkan dengan primer² lainlainnnja. Pimpinan PPB chususnja Ketua I nja jaitu Bapak H. Afdhol Djalil sedjak berdiri tahun 1937 sampai 1958 tetap memegang djabatan Ketua dan sesudah itu memegang djabatan Wakil Ketua sampai tahun 1965 dan sekarang sebagai penasehat Pengurus PPB. Selama dipimpin oleh beliau banjak pembangunan jang dilakukan antara lain : pabrik kaos dan pabrik blatju. Selama berdiri perobahan Anggaran Dasar baru diadakan satu kali jaitu penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP 60/1959 dan jang akan datang penjesuaian dengan Undang2 Koperasi No. 12/1967
a.Perkembangan keanggotaan :
Waktu berdiri PPB djumlah anggotanja 56 orang terdiri dari 54 pria dan 2 orang wanita. Untuk melihat perkembangan anggota dalam masa2 tertentu dapat dilihat dibawah ini.
| Tahun | Anggota | Simpanan/Modal sendiri | Investigasi | ||||||||||
|
| |||||||||||||
| Pabrik | G.K.B.I | ||||||||||||
|
| |||||||||||||
| 1950 | 56 F | 2.200,— | — | — | |||||||||
| 1957 | 79 | 25.780,— | — | — | |||||||||
| 1954 | 145Rp. | 430.000,— | — | 400.000— | |||||||||
| 1953 | 164„ | 2.752.102,— | — | 991.178,— | |||||||||
| 1937 | 198„ | 4.661.070,— | Rp. 3.151.895,— | 1.515.215,— | |||||||||
| 1963 | 186„ | 16.473.952,— | „9.000.000.— | 9.354,251,,— | |||||||||
| 1965 | 286„ | 149.734.280,— | „9.000.000,— | 63.413.612,— | |||||||||
| 1966 | 446„ | 1.495.564.073,— | „9.000.000,— | 276.598.235,— | |||||||||
| 1945 | 456„ | 9.589.976,— | „3.926.582,— | 3.175.388,,— | |||||||||
| 1967 | 454„ | 11.709.772,— | „5.131.382,— | 4.703.176,— |
| ||||||||
Anggota PPB bertempat tinggal didaerah Desa Pekadjangan dan disamping perusahaan batik banjak djuga anggota bergerak Cipertenunan. PPB Pekadjangan semula anggotanja tersebar didaerah Tjomal. Tirto, dan Buwaran. Di daerah Wiradesa didirikan Koperasi KOPINDO tahun 1955 merdjadi anggota GKBI dan di Buwaran Koperasi BUWARAN, tahun 1958 mendjadi anggota GKBI dan di Tjomal PERSAUDARAAN tahun 1959 mendjadi anggota GKBI. Mulai tahun 1960 sampai sekarang PPB PEKADJANGAN hanja melajani anggota didaerah Desa Pekadjangan sadja lagi.
Susunan Pengurus PPB untuk tahun 1966/1968 adalah sebagai berikut :
Ketua I, II dan III : H. Sofwan Sukri, Drs. Musa Dimjati, H. Chadhiri Masjhuri, Penulis I dan II : Imron Afdhol Djalil, Drs. Basuni, Bendahara I, II H. Chalid Aziz, Zein Fadhil dan Para Komisaris : Drs. Sjachroni, H.A. Ambari, H. Sukandir Zam dan Lazim Sajuti.
Badan Pemeriksa ialah : Drs. Luqman Djaelan, H. Abd. Madjid Djalil, H. Wasil Dimjati, Mahban Muawal B.Sc dan Usman Sjahal.
Susunan Penasehat ialah : H. Afdhol Djalil, H.A. Aziz dan H. Sulchan Michron.

b. Management PPB PEKADJANGAN :
Dalam mengatur ketatalaksanaan Pengurus membagi tugas menurut fungsi dan bidang kegiatan usaha sebagai berikut : Koordinator ialah : Ketua². Bagian Usaha : Ketua I dan III; Bagian Kehartaan : Bendahara I dan II; Bagian Organisasi : Penulis I dan II; Bagian Umum dan masjarakat : Ketua II dan Komisaris; Bagian Distribusi : Ketua III dan Komisaris; Bagian Bimbingan Anggota : Bendahara I dan II dibantu oleh 2 orang Komisaris; Bagian Pabrik: Ketua I, Penulis I, Bendahara I, dan Komisaris. Bagian Pendidikan: Sdr. Drs. Sjachroni dan H. Sukandir Zam.
Badan Pemeriksa sesuai dengan ketentuan2 jang telah diatur dalam Anggaran Dasar PPB ialah memeriksa minimal satu kali dalam tiga bulan meliputi bidang2 kegiatan Pengurus baik organisasi, usaha perdagangan, produksi pabrik, administrasi barang dagangan, keuangan dan alat2 perlengkapan lainnja. Badan Pemeriksa setelah mendjalankan tugasnja memberikan laporan tertulis pada anggota tentang hasil2 kerdjanja melalui Pengurus dan tiap tahun memberikan pertanggungan djawab keseluruhannja dalam rapat anggota.
III. AKTIVITAS PPB PEKADJANGAN:
1. Bidang Organisasi dan Idiil:
a. Pendidikan:
Kegiatan PPB PEKADJANGAN disektor pendidikan ini sangat menondjol dan hal ini tidak bisa dilepaskan dari sedjarah pertumbuhan dan kesadaran anggotanja akibat adanja hubungan erat dengan Organisasi Islam Muhammadijah jang salah satu kegiatannja djuga dibidang pendidikan. Sedjak berdirinja PPB sampai sekarang telah

Gedung STK Batik PPB dibangun tahun 1957 dari dana pembangunan primer dan GKBI.

Dan dalam 10 tahun belakangan ini angka ini akan bertambah dengan djumlah jang lebih besar dilihat kepada perkembangan pendidikan dinegara kita. Di daerah Pekadjangan djumlah tenaga² terdidik mulai dari tingkat SD sampai dengan tingkat Akademis tjukup tersedia.
Djumlah dana pendidikan dari sisa hasil usaha jang diterima tahun 1954/1955 sebesar Rp 181.457,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 181.457,— dan tahun 1956/1961 jang diterima sebesar Rp. 333.000,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 383.000,— dan 1967 jang diterima sebesar Rp. 65.674,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 65.674,—. Disamping pendidikan untuk keluarga batitk, maka untuk anggota diadakan pendidikan pembatikan dengan diadakannja bengkel batik. Pendidikan lainnja ialah aktivitas olah raga meliputi tjabang² : bulutangkis, ping-pong, volley ball, sepakbola. Pendidikan aktip jang dibiajai koperasi ialah Taman Kanak² dan tingkat lainnja mulai dari SD sampai dengan Universitas diselenggarakan oleh Muhammadijah dimana Pengurus dan anggota aktip membantu keuangannja serta organisasinja.
b. Kegiatan sosial dan masjarakat :
Kegiatan dibidang sosial jang diselenggarakan setjara aktip ialah dengan adanja Balai Pengobatan Batik dan tempat bersalin. Pasien² jang berobat terdiri dari anggota serta keluarga, karyawan koperasi serta keluarga, buruh batik serta keluarga dan masjarakat daerah kerdja . Djumlah pasien tiap tahun jang berobat mentjapai djumlah ribuan orang dan beberapa statistik dari tahun ketahun dapat dilihat.
|
| |||||
| Tahun | Pasien | Biaja | Tahun | Pasien | Biaja |
|
| |||||
| 1956 | 11.262 | 100.269,— | 1959 | 13.899 | 164.323,— |
| 1962 | 15.079 | 269.656,— | 1965 | 4.982 | 2.379.317,— |
| 1967 | 8.833 | 555.506,— | 1966 | 8.833 | 555.506,— |
|
| |||||
Sedangkan bantuan sosial lainnja jang diberikan kepada masjarakat daerah kerdja djuga besar antara lain : bantuan mesdjid, chitanan masaal, fakir miskin, bentjana alam dan sebagainja. Untuk bantuan sosial ini jang dikeluarkan selama ini kami sebutkan untuk beberapa periode :
Tahun 1950/1955 jang diterima sebesar Rp. 558.972,— dan jang dikeluarkan sebesar Rp. 420.758,— dan 1956/1961 jang diterima sebesar Rp. 103.758,— dan jang dikeluarkan sebesar Rp. 72.698,— dan tahun ’66/ 1967 jang diterima sebesar Rp. 66.759. dan dikeluarkan sebesar Rp. 66.759,— pula! Sedangkan sumbangan² sosial lainnja jang diambilkan dari bantuan anggota dan dana² lainnja selama tahun 1967 dikeluarkan sebesar Rp. 356.375,— untuk bantuan Balai Pengobatan, chitanan masaal dan fakir miskin. 
Dibangun tahun 1956 dengan dana pembangunan Primer dan GKBI.
c. Pembangunan daerah kerdja :
Untuk pembangunan daerah kerdja sudah banjak penanaman modal jang dilakukan oleh PPB baik jang sifatnja human invesment maupun capital invesment. Jang meliputi human invesment jaitu : pembangunan gedung pendidikan dan gedung pertemuan dan jang capital invesment jaitu : gedung² kantor dan pabrik blatju dan kaos. Disamping pembangunan ini sumbangan PPB pada masjarakat daerah kerdja ialah : perbaikan djalan dan penerangan listrik untuk anggota masjarakat daerah kerdja dengan punja tenaga pembangkit listrik sendiri. Disamping itu atas biaja bersama gerakan koperasi di Pekalongan membangun gedung „guest house” untuk Pemerintah Pekalongan. Dan dalam tahun 1965 direntjanakan oleh Gerakan Wanita Pekalongan untuk membangun „Gedung Wanita” jang akan dibiajai oleh Gerakan Koperasi bersama perusahaan swasta jang ada di Pekalongan. Rentjana ini gagal walaupun dari koperasi² primer batik telah ada kesediaan membantunja.
Dalam periode tahun 1954/1961 dana pembangunan jang diterima dari sisa hasil usaha sebesar Rp. 497.784,— dan jang dikeluarkan sebesar Rp. 533.325,—. Menurut neratja 1967 dana² pembangunan jang dipungut baik langsung oleh primer maupun oleh GKBI melalui djatah antara lain: Dana Pembangunan Pusat/Dwikora dan Planetarium sudah terkumpul Rp. 559.173,— dan telah dikeluarkan Rp. Rp.559.173,— dan oleh Primer PPB sebesar Rp. 215.036 dan dikeluarkan Rp. 207.601,—.
d. kesedjahteraan karyawan dan buruh batik:
Karyawan PPB PEKADJANGAN terdiri dari Karyawan koperasi sendiri dan dipabrik kaos serta pabrik blatju. Karyawan Koperasi djaminan sosialnja mendapat antara lain: gadji, dan gratifikasi, tundjugan hari raya, paket beras, biaja pengobatan dan tekstil lebaran. Karyawan pabrik selain mendapat jang sama dengan karyawan koperasi ditambahkan dengan pakaian dinas kerdja.
Buruh batik mendapat gadji, tundjangan hari raya, bantuan biaja pengobatan dan tekstil lebaran.

2. Bidang Usaha dan Produksi:
a. Permodalan:
Sumber permodalan pada koperasi PPB ialah simpanan² dari anggota dan kredit dari GKBI dan pihak ketiga. Oleh karena PPB bergerak dibidang perdagangan dan produksi maka kebutuhan akan modal kerdja besar dan ini oleh anggota diinsafi dan untuk itu diadakan pemungutan simpanan sesuai dengan kekuatan anggota. Disamping itu untuk menutup kebutuhan modal, sisa hasil usaha untuk anggota tidak pernah dibagi setjara cash dan selalu disimpan dan djuga sering diadakan pengerahan modal langsung dari anggota. Disamping itu untuk menjelesaikan project jang mendesak dan diadakan pindjaman kepada bank dan GKBI. Waktu PPB didirikan modal jang terkumpul sebesar Rp. 2.200,— dan selama 28 tahun sampai achir 1965 terkumpul sebesar Rp. 1.495.564.073,— dan akibat adanja tindakan moneter Desember 1965 simpanan pada achir tahun 1967 tertjatat Rp. 11.709.772,—. Simpanan² anggota dan tjadangan koperasi digunakan untuk pembiajaan segala kegiatan antara lain: pembelian harta tetap, modal kerdja, investasi dipabrik dan GKBI, dan biaja pelaksana. Untuk perkembangan dan penggunaan masing² kegiatan dapat dilihat dibawah.
|
| ||||
| Tahun | Simpanan/Tjad. | Harta tetap | Modal lantjar | Investasi Pab./ GKBI. |
|
| ||||
| 1937 | 2.200,— | — | — | — |
| 1941 | 17.999,— | 1.200, | 29.974,— | — |
| 1950 | 830.000,— | 63.366, | 894.969,— | 380.000,— |
| 1957 | 7.473.952,— | 556.388, | 4.513.576,— | 18.466.006,— |
| 1963 | 149.734.280,— | 6.635.161, | 54.595.101,— | 72.668.919,— |
| 1965 | 1.495.564.073,— | 24.764.441, | 1.473.280.309,— | 285.598.235,— |
| 1967 | 11.709.772,— | 647.905, | 7.439.136,— | 9.834.558,— |
|
| ||||
Pada achir tahun 1967 neratja kekajaan PPB PEKADJANGAN tertjatat sebesar Rp. 18.224.961,—.
b. Distribusi bahan baku batik:
Tudjuan dari didirikannja PPB ialah untuk memudahkan pengusaha batik umumnja dan anggota chususnja memperoleh bahan baku dan penolong batik, disamping mengatasi kesukaran akan modal dan pemasaran hasil produksi. Berkat ketabahan perdjuangan tokoh² dan pimpinan PPB serta „Batik Bond” didapatlah harga pembelian menurut golongan A jaitu harga partai besar dengan kredit 1 sampai 2 bulan. Setelah kemerdekaan Indonesia dan tahun 1949 PPB mendjadi grossier BTC dan selandjutnja mendjadi grossier GKBI sampai sekarang. Semula PPB melajani djuga pengusaha² batik jang mendjadi anggota koperasi BUWARAN, KOPINDO dan PERSAUDARAAN sekarang. Mulai tahun 1958 PPB hanja melajani anggotanja sadja. PPB selain membagikan bahan baku jang diterima dari GKBI, djuga membagi mori jang dihasilkan sendiri dan bahan² baku serta penolong lainnja atas usaha sendiri, dan djuga kebutuhan harian anggota Untuk melajani anggota PPB membuka beberapa „Toko Etjeran” jang mendjual bahan/bumbu² batik dan kebutuhan rumah tangga anggota.
|
| ||||||
Banjak |
Banjak |
Lain² | Omzet | |||
|
| ||||||
| Tahun | Yard | Harga | Kg | Harga | harga | |
|
| ||||||
| 1954 | 6.934.683 | 32.488.131 | 225.526 | 1.334.065 | 2.254.718 | 36.076.916 |
| 1957 | 2.657.507 | 20.321.262 | 60.316 | 324.280. | 28.418 | 20.673.961 |
| 1960 | 1.077.362 | 28.571.689 | 6.318 | 1.441.822, | 135.339 | 31.148.850 |
| 1963 | 831.436 | 45.704.909 | 40.864 | 12.262.243, | — | 37.967.152 |
| 1967 | 621.171 | 12.329.510 | 1.643 | 246.968, | 1.910.370 | 14.486.833 |
|
| ||||||
Selain dari omzet diatas, PPB djuga mendjual hasil produksinja sendiri, batik, dan bumbu² batik serta bahan penolong lainnja. Kalau dilihat perbandingan seluruh omzet usaha PPB dengan hasil usahanja dan biajanja nampak pada kita bahwa koperasi bukan profit tudjuannja.
|
| |||||
| Tahun | Omzet | Hasil kotor | Biaja | S.H.P. | |
|
| |||||
| 1941 | 149.009,— | 8.927,— | 2.917,— | 6.010,— | |
| 1945 | 435.955,— | 45.058,— | 19.558,— | 25.500,— | |
| 1950 | 8.465.297,,— | 739.602,— | 445.315,— | 294.287,— | |
| 1957 | 35.459.498,— | 1.716.430,— | 753.880,— | 962.550,— | |
| 1963 | 197.650.807,— | 22.434.944,— | 14.897.926,— | 7.547.018,— | |
| 1967 | 64.988.976,— | 8.640.649,— | 7.199.412,— | 1.441.237,— | |
|
| |||||
Kalau dilihat omzet pembelian PPB dari GKBI dibandingkan dengan omzet usaha PPB seluruhnja maka dari kegiatan GKBI hanja 60% tahun 1957, tahun 1963 menurun mendjadi 30% dan tahun 1967 menurun lagi mendjadi lebih kurang 22%. c. Pemasaran batik:
Sebelum koperasi PPB berdiri, tahun 19 ratusan hasil produksi jang bentuknja tulis diusahakan pemasarannja oleh pengusaha sendiri didaerah sekitarnja dan dikota-kota besar dipulau Djawa. Dari kota besar ini baru dibawa oleh pedagang² daerah keluar Djawa. Setelah dikenalnja proses batik tjap dimana bahan baku batik mendjadi bahan dagang dan telah masuk pada perdagangan dunia, dimana

pedagang² bangsa Belanda dan Djepang serta Tjina telah ikut aktip, maka pemasaran batik djuga dipegang oleh mereka. Sedangkan pedagang bangsa kita jang merangkap mendjadi pengusaha batik sangat sedikit sekali djuga lemah dalam permodalan tidak kuat bersaingan dengan pedagang² Tjina. Disamping Tjina djuga bangsa Arab ikut aktip dalam perdagangan batik disamping sarung pelekat. Untuk menolong pengusaha batik dan anggota PPB chususnja, maka ditjarikan pemasaran batik dan produksi anggota mulai ditampung. Batik produksi PEKADJANGAN terutama sarungnja jang aneka warna ini sangat dikenal oleh konsumen diluar Djawa dan Asia Tenggara, terutama golongan Tjina sendiri. Daerah pemasaran batik Pekadjangan semendjak dari dahulu telah mendjadi bahan eksport dan setelah pengakuan kedaulatan sampai sekarang terus dieksport oleh pedagang² batik. Pada, zaman adanja pool batik sandang jang didjualkan oleh PPB djuga batik prima. Setelah tidak ada pool batik sandang lagi 1963, penampungan batik oleh PPB terus diadakan. Untuk 1963 batik jang didjual seharga Rp. 64.903.794,— dan stock sebanjak 14.047 potong seharga Rp. 4.769.647,—. Tahun 1966 stock batik sebanjak 12.939 potong seharga Rp. 127.402,— dan omzetnja sebesar Rp. 3.258.772,— dan tahun 1967 stock sebanjak 6.372 potong seharga Rp. 598.987,— dan omzet sebesar Rp. 1.819.004,—.
d. Pabrik Mori dan Kaos:
Rentjana pendirian kedua pabrik ini adalah sebagai realisasi dari tjita² mendirikan koperasi dahulu. Setelah perdagangan bahan batik berada ditangan pengusaha batik melalui koperasi, maka dirasakan manfaatnja besar sekali bahan² baku itu berada ditangan sendiri. Setelah GKBI mendapat hak badan hukum tahun 1953 dan pengakuan hak import sekali, kemungkinan terlaksana tjita² berkoperasi bertambah besar pada tiap² pedjuang koperasi batik.

Pabrik Blatju :
Pabrik Blatju ini direntjanakan dalam tahun 1954 dan selesai dalam tahun 1956. Kapasitas dari mesin tenun direntjanakan 100 ATM dan alat² mesin perlengkapan lainnja serta pembangkit tenaga listrik. Direntjanakan investasi semula sebesar Rp. 6.000.000,— dan ternjata setelah selesai membutuhkan biaja sebesar Rp. 6.214.052,— terdiri dari: biaja mesin² Rp. 3.138.963.— biaja gedung dan tanah Rp. 2.005.417,— instalasi listrik Rp. 813.580,— dan inventaris sebesar Rp. 256.093,-—. Perlangkapan mesin² jang dipunjai ialah : 100 buah mesin SUZUKI, 2 buah mesin palet, 1 buah mesin lipat, 1 buah mesin ketel uap, 2 buah klossentrek, 1 buah mesin kandji, 1 buah mesin klos dan alat² perlengkapan lainnja. Pabrik Blatju dapat menghasilkan satu tahun sebanjak 12.553 pis dan 20.513 meter atau semuanja 572,745 meter (1963). Rentjana perluasan mesin tenun sampai 300 looms telah disetudjui prinsipnja oleh Pemerintah dan dalam tahun 1961 telah mendapat djatah devisa Rp. 61 djuta tidak bisa direalisir karena adanja peristiwa Trikora ,,Irian Barat”. Keinginan mengadakan perluasan pabrik dilaksanakan terus dan dalam tahun 1964 melalui GKBI didatangkan 23 buah ATM SUZUKI dan 18 ATM ex, RRT. Dalam tahun 1965 didatangkan lagi 60 ATM SUZUKI, dan djumlah mesin sekarang 201 ATM. Untuk menampung mesin² ini djuga diadakan penambahan tenaga listrik sebesar 105 kva dan perluasan gedung pabrik. Pada achir tahun 1967 djumlah investasi pada perlengkapan pabrik tertjatat sebesar Rp. 1.561.768,— terdiri dari: biaja mesin² Rp. 1.172.771,— gedung dan tanah Rp. 258.780,— instalasi listrik Rp. 97.088,— dan inventaris sebesar Rp. 33.129,—. Dalam tahun 1967 mesin tersebut

telah selesai dipasang dan jang djalan kira² 170 buah. Djumlah produksi tahun 1966 sebanjak 16.683 pis dan 16.984 meter atau seluruhnja 751.036 meter dan tahun 1967 djumlah produksi sebanjak 20.369 pis dan 16.478 meter atau seluruhnja berdjumlah 912. 714 meter. Kalau modal kerdja tjukup dan bahan baku mudah dan daja beli masjarakat tjukup baik, maka kegiatan produksi bisa ditingkatkan mentjapai 2 ploeg kerdja dan dengan 80% dari kapasitas perlengkapan mesin jang digunakan akan menghasilkan lebih kurang 2,1 djuta meter blatju setahun.
Djumlah karyawan tetap Pabrik Blatju achir tahun 1967 tertjatat sebanjak 44 orang dan lainnja buruh harian. Biaja pelaksana kedua pabrik PPB selama tahun 1967 dikeluarkan Rp. 6.863.176,60 untuk Pabrik Blatju dan Rp. 1.629.482,15 untuk Pabrik Kaos.
BAGIAN: 7
KOPERASI PERUSAHAAN BATIK SETONO
HAK BADAN HUKUM No.: 785
Djalan Raya Baros Telp. No. 225.
SETONO BATANG PEKALONGAN.

I. RIWAJAT PEMBATIKAN:
Pembatikan didesa SETONO dikenalnja bersamaan dengandaerah pembatikan lainnja di Pekalongan, sebab daerahnja kesemuanja terletak tidak djauh dari kota Pekalongan sekarang. Desa Setono terletak sebelah Timur Pekalongan dekat pinggir pantai. Pola dan proses pembatikan didaerah ini sama dengan batika produksi anggota PPIP. Daerah kerdja dari SETONO sedjak berdirinja memang luasmeliputi Distrik2 Batang, Bandar, Bawang dan Subah.
II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK:
1. Perintisan menudju organisasi:
Setelah dikenalnja obat² batik buatan luar negeri jang dihasilkan oleh negara²: Djerman, Inggeris, Nederland dan sebagainja, dan djuga dikenalnja proses pembuatan batik tjap sesudah perang dunia ke-I, maka bahan² baku batik baik cambrics dan bumbu² batik,sudah masuk kedalam peredaran perdagangan internasional. Bahan² baku batik didatangkan dari luar negeri, dibutuhkan oleh pengusaha batik di Indonesia dan batiknja dibutuhkan pula dipasaran dunia. Akibat madjunja proses pembatikan dibandingkan dengan sebelum perang dunia kesatu dan meluasnja konsumen batik, maka bahan baku maupun batiknja mendjadi objek spekulasi bagi para pedagang, lebih² bangsa Tjina. Disamping itu batik djuga merupakan pemasarannja jang dipengaruhi oleh musim, sedangkan produksinja tidak. Akibat dari spekulasi bahan baku dan pemasaran batik ini, pengusaha² batik berada dipihak jang ekonomis lemah. Menghadapi krisis ekonomi dunia pengusaha² batik di SETONO banjak terlibat dalam hutang dan akibatnja banjak jang gulung tikar. Setelah berachirnja krisis, timbul lagi kegiatan, modal tak ada achirnja masuk perangkap kredit. Pengusaha batik sebagian besar bertindak sebagai buruh batik dari pedagang² Tjina dikota Pekalongan.
Oleh pengusaha² batik jang mengetahui akibat² kredit ini dan berkat dorongan dari pamong jang duduk dalam pemerintahan antara lain Bapak Prof. Ir. Teko Sumodiwirjo, beberapa orang berkumpul dan merentjanakan membentuk organisasi jang akan mendjual kebutuhan bersama pengusaha batik. Pada tahun 1939 dipelopori oleh antara lain : Bapak H. Mustofa, H. Masjhur, Bohari (semua sudah meninggal) dan Sdr. Rafi'i Ichsan, Midi, Abdulsalam mendirikan koperasi jang dinamakan Koperasi Persatuan Batikkerij Setono"dan sekarang berubah mendjadi „Koperasi Perusahaan Batik Setono”.

2.Pembentukan Wadah Koperasi:
Atas initiatip dari 6 orang diatas pada tahun 1939 telah berdiri Koperasi Batik didesa Setono jang meliputi daerah kerdja 2 ketjamatan jaitu : Batang, dan Warungasem. Banjak anggota pertama kali ialah 45 orang semuanja pria. Koperasi ini didirikan berdasarkan Undang² Koperasi tahun 1927 No. 91. Susunan pengurus pertama dari Koperasi SETONO ialah : Ketua : Bapak H. Mustofa, Penulis : Rafi'i Ichsan, Bendahara : H. Masjhar dan Pembantu : Bohari dan Midi. Susunan Badan Pemeriksa pertama ialah : Abdulsalam.
Dalam tahun 1939 didesa Setono telah didjumpai toko obat batik jang dibuka oleh bangsa Tjina, disamping itu pengusaha² batik djuga membuka Warung Obat batik jang dipimpin oleh Sdr. Rafi'i Ichsan dibantu Pengurus lainnja. Dengan berdirinja Koperasi di Setono, pedagang² Tjina hubungannja dengan pengusaha batik sudah mulai kurang baik dan toko² Tjina tidak mau mendjual cambric dan obat² batik pada anggota. Djuli tahun 1941 diadakan rapat anggota dan disusun pengurus baru terdiri dari : Ketua : Umar Arifin, Penulis : H. Abbas Abdullah, Bendahara : H. Mastur dan Komisaris sebanjak 9 orang. Pengurus baru ini berdjuang menghadapi Tjina² jang tidak mau mendjual bahan baku batik itu dengan dua djalan jaitu : kekerasan dan mengadukan pada Pedjabat. Sdr. H. Abbas Abdullah dengan kawan² dan dibantu oleh Pedjabat Perekonomian Pekalongan Sdr. Suparman, menghadap Residen Pekalongan ramai² dan mengadukan bahwa, Pedagang² Tjina tidak mau mendjual bahan baku batik pada pengusaha² didesa Setono, sedangkan pada pengusaha² batik lainnja di Pekalongan dan Wonopringgo mereka lajani seperti biasa. Pedjabat Pemerintah turun tangan dan menjelidiki pengaduan ini dan ternjata memang ada pedagang² Tjina jang tidak mau mendjual bahan baku batik pada pengusaha² didesa Setono. Untuk kesalahan² ini pedagang² Tjina itu ditindak oleh Pedjabat dengan hukuman denda atas kesalahananja dan waktu itu ada jang kena denda ƒ 500,- s/d ƒ 1.500,-. Kedjadian ini menggemparkan seluruh kota Pekalongan dan mendjalar kedaerah-daerah pembatikan lainnja, bahwa Koperasi Batik Setono mendapat kemenangan dan akibatnja pengusaha² batik bartambah jakin akan pardjuangan dan manfaatnja koperasi. Follow up dari kemenangan ini Koperasi Setono mendapat bahan blatju langsung dari Dep. v.E.Z. pada bulan Oktober dan Nopember tahun 1941 masing² sebanjak 9 baal.
3. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: 
Dalam Anggaran Dasar SETONO telah ditetapkan daerah kerdjanja, djumlah simpanan pokok sebesar F 25,— dan tjara pembagian sisa hasil usaha. Pada tahun 1941 SETONO mendapat pengakuan HAK BADAN HUKUM No.: 785. Perobahan Anggaran Dasar jang pernah dilakukan ialah tahun 1956 dan telah disahkan tanggal 20 April 1956 No. 785 a. Perobahan ini didasarkan pada Undang² Koperasi tahun 1949/179. Dan perobahan kedua ialah disesuaikan dengan Undang² Koperasi No.: 79/1958 dan PP. 60/1959 dengan No. 785b dan perobahan lagi ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dengan No. 785 C.
4. Keanggotaan dan Ketatalaksanaan SETONO:
Perkembangan keanggotaan SETONO sedjak berdirinja tahun 1939 sampai sekarang bertambah banjak sekali. Hanja kegiatan waktu zaman pendudukan Djepang dan revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan Indonesia kegiatan jang resmi tidak bisa tertjatat. Perkembangan jang bisa ditjatat ialah sesudah tahun 1950 sampai sekarang dan pertambahan anggota dapat dilihat .
| Tahun | Anggota | Tahun | Anggota | Tahun | Anggota |
|---|---|---|---|---|---|
| 1950 | 132 | 1953 | 132 | 1956 | 148 |
| 1959 | 143 | 1963 | 383 | 1967 | 505 |
Setelah kembalinja R.I. kepangkuan Indonesia dan pemerintah sudah ada di Jogja kembali, maka hubungan dengan Pengurus GKBI segera diadakan. Perdjuangan pengusaha2 batik jang tergabung dalam GKBI untuk memperoleh pool cambrics dan mendapatkan hak badan hukum SETONO ikut aktip. Dan dalam memperoleh hak badan hukum tahun 1953, SETONO terdaftar sebagai salah satu anggota pendiri jang diwakili oleh: Sdr. Rafi'i Ichsan.
Dalam kepengurusan GKBI, Sdr. Rafi'i Ichsan menduduki sebagai Komisaris dan djuga pernah didjabat oleh H. Fachrurozi dan

Duduk dari kiri kekanan: Hasjim Muhaimin, H.A. Jachja, H. Tochfa Mustofa dan Ichsan. Berdiri dari kiri kekanan: H. Abdulhadi, As'adi Masaleh, H. Ma'mun Achsan Sjakur dan H. Mawardi.
Ketatalaksanaan SETONO:
Dalam memimpin koperasi SETONO pedomannja telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar jang didasarkan pada Undang² Koperasi. Disamping itu pedoman lainnja ialah Anggaran Belandja dan Usaha jang ditetapkan oleh Rapat Anggota tiap tahun. Pimpinan dalam mengambil kebidjaksanaan berpedoman kepada Anggaran Dasar dan rentjana anggaran belandja dan usaha itu. Untuk kelantjaran usaha baik idiil maupun komersil, produksi dan administrasinja, pengurus menjusun tata-tjara kerdja sesuai dengan fungsi dan keahliannja masing².
Dalam mentjapai tudjuan dari koperasi dan untuk melengkapi kebutuhan anggota, usaha pengurus jang produktip ialah mengadakan pembangkitan tenaga listrik didesa Setono dan mendirikan Pabrik Tekstil. Disamping itu dibidang idiil ialah mendirikan Taman Kanak² Batik dan Balai Pengobatan Batik. Susunan Pengurus SETONO untuk masa djabatan 1967/1968 ialah: Ketua Umum: Sdr. H. M. Tochfa Mustofa, Ketua I/II: Hasjim Muhaimin dan Achsan Sjakur, Penulis I/II: As'adi Masaleh dan H. Abdulhadi, Bendahara I/II: H. Ma'mun dan H.A. Jachja. Susunan Badan Pemeriksa: Ichsan Abdulbari, H. Sobirin As'ad dan H. Mawardi.
Badan Pemeriksa:
Badan Pemeriksa ialah anggota jang dipilih oleh rapat anggota, dan fungsinja ialah sebagai wakil anggota dalam bidang pengawasan. Tugasnja ialah mengawasi dan memeriksa Pengurus dalam melaksanakan amanat anggota dalam mentjapai tudjuan dan daja upaja jang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar serta rentjana anggaran belandja serta rentjana anggaran usaha. Disamping itu djuga memeriksa kebenaran tjatatan² dan bukti² jang diperlukan dalam mengatur administrasi barang, inventaris perlengkapan dan keuangan serta kekajaan lainnja. Hasil pengawasan dan pemeriksaan administrasi ini dilaporkan kepada anggota dan dipertanggung djawabkan dalam rapat anggota. Untuk tugasnja ini Badan Pemeriksa mendapat penggantian djasa dan lain²nja. Badan Pemeriksa ini masa djabatannja dan sjarat² jang diperlukan telah diatur dalam Anggaran Dasar SETONO. III KEGIATAN DAN AKTIVITAS SETONO:
A. Bidang Organisasi dan Idiil :
1. Pendidikan :
Kegiatan pendidikan jang aktip diselenggarakan SETONO ialah Taman Kanak² Batik. Disamping itu memberikan bantuan pada organisasi pendidikan baik kedjuruan maupun jang bersifat umum. Sedjak tahun 1953 sampai tahun 1961, dana pendidikan dari sisa hasil jang diterima ialah sebesar Rp. 1.171.328,— dan telah digunakan sebesar Rp. 1.260.158,— dan untuk tahun 1967 telah diterima sebanjak Rp. 6.973,— dan telah digunakan pula sebanjak Rp. 32.279,—.

2. Sosial dan masjarakat :
Kegiatan dibidang sosial ialah dengan adanja Balai Pengobatan Batik sangat besar faedahnja bagi anggota, karyawan, buruh batik serta keluarganja dan masjarakat sekitar desa Setono. Biaja Balai Pengobatan batik ini diambilkan dari dana sisa hasil usaha dan sumbanganbangan anggota serta bantuan dari GKBI. Pengeluaran dana sosial periode 1953/1961 tertjatat sebesar Rp. 1.277.033,— dan jang diterima sebesar Rp. 1.135.712,—. Disamping dana ini ada djuga

Gedung Poliklinik dam BKIA Batik jang dibangun tahua 1986 dari dana pembangunan Primer dan GKBI, terlctak didesa Setono.
sumbangan dari anggota chusus jang dinamakan dana pembangunan dan sumbangan sosial. Pengeluaran dari dana ini untuk tahun 1967 adalah sebesar Rp. 127.426.— dan penerimaan sebesar Rp. 261.314.
Djumlah pasien jang berobat di Balai Perigobatan Batik tahun 1956 ada 8.735 orang, tahun 1959 ada 4.493 orang, tahun 1962 ada 3.766 orang dengan biaja sebesar Rp. 80.782,— tahun 1965 ada 8.191 orang dengan biaja Rp. 3.420.580,—,
3. Pembangunan daerah kerdja :
Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdia sedjak SETONO berdiri jalah tahun 1954 didesa Setono diadakan pembangkit tenaga listrik jang sangat besar gunanja bagi masjarakat daerah kerdja disegi penerangan. Penerangan listrik ini bukan untuk anggota sadja, bukan anggota djuga dapat dipasang dirumah mereka instalasinja. Biaja penerangan ini disesuaikan dengan biaja eksploitasi dan unsurnja bukan komersil tetapi sosial dan sudah tentu biajanja lebih ringan dari tarif resmi. Mesin2 diesel lama sebanjak 3 buah dan Generator sebanjak 2 buah sudah habis penjusutannja dan jang baru tahun 1966 dibeli lagi 2 buah mesin diesel dan 1 Generator. Investasi mesin² listrik ini pada achir tahun 1967 hanja tinggal seharga Rp. 5.513,50 dan alat² perlengkapan lainnja seharga Rp. 45.733,—. Disamping pembangkitan tenaga listrik diesel ini, djuga perbaikan djalan sekitar

desa SETONO. Pembangunan jang bersifat usaha ialah pabrik tekstil selesai didirikan achir tahun 1965 dan mulai menghasilkan tahun 1966. Dana pembangunan jang diterima dari sisa hasil usaha sampai tahun 1961 sebesar Rp. 285.833.— dan telah dikeluarkan Rp. 273.607,- tahun 1967 dari sisa hasil diterima Rp. 5.146,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 26.157,—.
4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik:
Karyawan selain menerima upah bulanan, djaminan sosial lainnja ialah bantuan beras untuk karyawan dan keluarga, bantuan biaja pengobatan, hadiah lebaran dan gratifikasi. Bagi karyawan pabrik selain menerima jang sama dengan karyawan koperasi, mendapat pakaian dinas/kerdja . Bagi buruh batik selain dari upah, mereka mendapat bantuan sosial jang diambilkan dana jang dipungut dari anggota, dan tiap tahun mendapat hadiah lebaran.
5. Zakat:
SETONO tiap tahun menerima zakat dari GKBI untuk dibagikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja. Dalam tahun 1967 banjaknja zakat jang diterima sebesar Rp. 129.199.20 dan telah dibagikan sebesar Rp. 98.685,— dan achir tahun 1967 masih ada sebesar Rp. 83.071,06.

B. Bidang Usaha dan Produksi:
1. Permodalan:
Sumber permodalan bagi SETONO terutama simpanan anggota, tjadangan dan kredit pihak ketiga. Perkembangan simpanan/modal dari tahun 1950 sampai sekarang dapat dilihat dibawah ini.
(Angka² dalam ribuan)
| Tahun | Simp./Tjad. | Kekajaan | Investasi | ||
|---|---|---|---|---|---|
| Tetap | Lantjar | Pabrik | G.K.B.I. | ||
| 1957 | 6.376 | 512 | 4.078 | 186 | 6.031 |
| 1958 | 9.102 | 829 | 7.385 | 216 | 7.200 |
| 1959 | 14.356 | 1.112 | 9.981 | — | 11.414 |
| 1960 | 16.521 | 1.095 | 14.748 | 12.400 | |
| 1965 | 831.436 | 35.407 | 1.171 | 306.978 | 311.840 |
| 1966 | 5.352 | 376 | 6.315 | 1.109 | 3.849 |
| 1967 | 7.201 | 693 | 7.199 | 2.848 | 4.861 |
Setelah Pemerintah R.I. kembali ke Jogja dan SETONO menghubungi Pengurus GKBI, maka mulai tahun 1950 telah mendapatbahan baku batik dari GKBI / BTC . Setelah BTC diover GKBI, selandjutnja GKBI fungsinja sebagai distributor cambrics, SETONO langsung mendjadi grossiernja . Sampai sekarang perkembangan bahan² baku batik jang diterima dari GKBI ialah :

|
| ||||||
Banjak |
Banjak |
|||||
| Tahun | Yard | Harga | Kg | Harga | Lain² | Omzet |
|
| ||||||
| 1954 | 3.442 | 15.699 | 115 | 640 | 854 | 17.194 |
| 1957 | 2.261 | 17.969 | 7 | 42 | 81 | 18.305 |
| 1960 | 1.209 | 32.661 | 5 | 1.331 | 1.237 | 35.221 |
| 1963 | 881 | 48.419 | 43 | 14.073 | — | 62.493 |
| 1965 | 1.352 | 672.943 | 9 | 52.854 | — | 725.798 |
| 1967 | 689 | 14.939 | 16 | 3.262 | 1.910 | 20.112 |
|
(Angka² dalam ribuan)
| ||||||
|
| ||||
| Tahun | Omzet | SHP Kotor | Biaja | SHP Bersih |
|
| ||||
| 1950 | 561.037,— | 52.284,— | 22.881,— | 29.403,— |
| 1954 | 19.416.735,— | 1.229.395,— | 363.550,— | 865.845,— |
| 1957 | 18.417.260,— | 1.787.534,— | 578.784,— | 1.208.750,— |
| 1967 | 32.944.854,— | 2.654.441,— | 282.344,— | 2.371.997,— |
|
| ||||
3. Pemasaran Batik:
Tudjuan dari berkoperasi selain dari mengatasi kesukaran dalam permodalan, pengadaan bahan baku batik, ialah mentjarikan pemasaran batik. Daerah pemasaran batik produksi anggota SETONO tersebar seluruh Indonesia dan djuga banjak dieksport. Antara tahun 1950/1959 SETONO bersama anggotanja aktip mentjarikan pemasaran batik dan setelah itu mulai tahun 1960/1963, GKBI mengadakan pool batik sandang. Produksi batik sandang 90 % ditampung oleh GKBI dan sesudah itu akibat adanja perobahan kebidjaksanaan Pemerintah dibidang perdagangan, maka pool batik sandang ini di hapuskan. GKBI hanja menampung produksi batik dalam rangka menghadapi lebaran dan tahun baru sadja lagi. Sekarang SETONO aktip lagi mentjarikan pemasaran batik anggotanja. Selama tahun 1967 ini omzet batik melalui SETONO ialah: sebesar Rp. 10.334.559,—. Dalam omzet ini telah termasuk pendjualan barang lainnja jaitu: bumbu2 batik, grey/blatju.
4. Pabrik Tekstil SETONO:
Dilihat pada usianja Koperasi SETONO adalah salah satu koperasi batik jang tua dari anggota GKBI dan djuga berdirinja serta mendapat hak badan hukumnja jaitu tahun 1941. Dalam hal kemadjuan usaha dibandingkan dengan primer2 lainnja di Pekalongan, ketinggalan selangkah. Pabrik Tekstil direntjanakan sesudah berdjalannja pabrik cambrics GKBI tahun 1962. Dalam tahun 1963 diadakan pengumpulan modal untuk membiajai pabrik jang berkekuatan 100 ATM. Pabrik ini didirikan dalam tahun 1963 dan tahun 1964 gedungnja telah selesai tinggal mendatangkan mesin²nja sadja. Berhubung sukarnja devisa, maka mesin² jang dibeli sebanjak 102 buah sebagian besar buatan dalam negeri, luar negeri hanja 8 buah. Dalam djumlah mesin ini jang berdjalan sekarang hanja 40 buah jaitu 8 luar negeri dan 32 buah dalam negeri. Mesin² perlengkapan lainnja jang ada ialah: palet, kelos, hani, reeling dan tjutjuk.
Dalam tahun 1967 bahan baku benang jang dipakai sebanjak 12.367 kg dan menghasilkan grey sebanjak 1.921 pis dan 3.763 meter. Djumlah karyawan pabrik semuanja ada 54 orang.

BAGIAN: 8
KOPERASI BATIK ASLI KESENIAN TIMUR INDONESIA
HAK BADAN HUKUM No. 833 Tahun 1953
Djalan Hajamwuruk No. 326 Telp. 56, PONOROGO.

1. RIWAJAT BATIK:
Masalah seni batik didaerah Ponorogo erat hubungannja dengan perkembangan agama Islam dan keradjaan² dahulu. Daerah Batoro Katong tempat Pembatik berkantor sekarang adalah salah seorang keturunan dari keradjaan Madjapahit jang namanja Raden Katong adik dari Raden Patah. Batoro Katong inilah jang membawa agama Islam ke Ponorogo dan petilasan jang ada sekarang ialah sebuah mesdjid didaerah Patihan Wetan. Didesa Ponorogo jang bernama Tegalsari ada sebuah pesanteren jang berada dibawah asuhan Kjai Hasan Basri dan terkenal dengan nama Kjai Agung Tegalsari. Pesanteren Tegalsari ini selain mengadjarkan agama Islam djuga mengadjarkan ilmu ketatanegaraan dan ilmu perang, serta kesusasteraan. Seorang murid jang terkenal dari Tegalsari dibidang sastera ialan Raden Ronggowarsito. Kjai Hasan Basri ini diambil mendjadi menantu oleh radja Kraton Solo. Waktu itu seni batik baru terbatas dalam lingkungan kraton. Oleh karena puteri keraton Solo mendjadi isteri Kjai Hasan Basri maka dibawalah ke Tegalsari dan diikuti oleh pengiring²nja. Disamping itu banjak pula keluarga kraton Solo beladjar dipesanteren ini. Peristiwa inilah jang membawa seni batik keluar dari Kraton menudju ke Ponorogo. Pemuda pemudi jang dididik di Tegalsari ini kalau sudah keluar, dalam masjarakat akan menjumbangkan dharma baktinja dalam bidang² kepamongan dan agama. Daerah pembatikan lama jang bisa kita lihat sekarang ialah daerah Kauman jaitu Patihan Wetan sekarang dan dari sini meluas ke-desa² Ronowidjojo, Mungunsuman, Kertosari, Setono, Tjokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Tjekok, Banjudono dan Ngunut. Waktu itu obat² jang dipakai dalam pembatikan ialah buatan dalam negeri sendiri dari kaju²an antara lain; pohon tom, mengkudu, kaju tingi. Sedangkan bahan kain putihnja djuga memakai buatan sendiri dari tenunan gendong. Kain putih import baru dikenal di Indonesia kira² achir abad ke-19.
Pembuatan batik tjap di Ponorogo baru dikenal setelah perang dunia pertama jang dibawa oleh seorang Tjina bernama Kwee Seng dari Banjumas. Daerah Ponorogo awal abad ke-20 terkenal batiknja dalam pewarnaan nila jang tidak luntur dan itulah sebabnja pengusaha² batik dari Banjumas dan Solo banjak memberikan pekerdjaan kepada pengusaha² batik di Ponorogo. Akibat dikenalnja batik tjap maka produksi Ponorogo setelah perang dunia pertama sampai petjahnja perang dunia kedua terkenal dengan batik kasarnja jaitu batik jap mori biru. Pasaran batik tjap kasar Ponorogo ini terkenal seluruh Indonesia dan produksinja ratusan kodi sehari.
II. ORGANISASI:
1. Pendahuluan:
Akibat dikenalnja pembuatan batik tjap dan masuknja obat² balik dari luar negeri, mengakibatkan produksi batik bertambah banjak dan perkembangan pengusaha² batikpun madju pula dengan tjepat. Di Ponorogo dikenalnja obat² luar negeri kira² tahun 1926 jang diperkenalkan oleh petugas importirnja sendiri, bagaimana tjara penggunaannja. Oleh karena obat2 batik ini lebih murah dari bikinan dalam negeri sendiri dan prosesnja lebih tjepat maka pengusaha batik lebih banjak mempergunakannja.
Waktu² pesatnja perkembangan batik didaerah Ponorogo, maka datanglah krisis ekonomi sekitar tahun 1928-32 dan perkembangan produksi menurun dengan tjepatnja. Waktu itu banjak perusahaan² batik jang bangkrut dan terlibat dengan hutang dan buruh batik banjak jang menganggur dan lapangan kerdja di-mana² sukar ditjari. Setelah berachirnja krisis ekonomi dan tahun 1933 mulai lagi kegiatan produksi batik, pengusaha² jang tadinja berhenti mulai kerdja lagi. Pengusaha² batik di Ponorogo banjak menerima pesanan dari pedagang² batik Ponorogo sendiri dan djuga dari Solo. Bahan² baku batik jaitu mori dan obat² batik di Ponorogo didjual oleh pedagang² Tjina 2. MERINTIS ORGANISASI:
Bagi pedagang² batik bangsa kita bahan² baku batik dibeli sendiri di Solo dan djuga batiknja didjual sendiri ke Solo. Di Ponorogo waktu itu kita sudah mengenal organisasi dari pedagang² baik jaitu „Batik Handel” jang dipelopori oleh antara lain: H. Moh. Djadjuli, Moh. Said dan Prawiro. Disamping itu dikenal pula organisasi „Batik kerij” jang dipelopori oleh antara lain: S. Ismail, K.H. Imam Subandi, Mbok H. Djauhari, H. Damanhuri, H. Hasjim, H. Djuned, H. Saleh. Waktu itu pengusaha batik di Ponorogo sudah ada lebih kurang 120 orang dan jang bisa berdiri sendiri lebih kurang 20% dan sisanja menerima upahan dari pedagang² batik jang tergabung dalam „Batik Bond” dan langsung dari pedagang² batik di Solo. Buruh batik di Ponorogo didatangkan dari Tulungagung. Akibat pesatnja batik tjap kasar di Ponorogo maka banjak batik² tjap di Jogja dan Solo berhenti karena tidak kuat bersaingan dengan pengusaha² batik Ponorogo. Akibatnja pembuatan batik tjap tambah mengalir ke Ponorogo jang dipesan oleh pedagang² batik Solo dan Jogja. Waktu itu produksi batik tjap Ponorogo bisa menghasilkan minimal 10 kodi sehari per-orang dan bahkan ada sampai 80 kodi sehari jang besar perusahaannja jaitu Tjina Kwee Seng sampai sekarang perusahaan batik Kwee Seng ini masih ada di Ponorogo. Pada tahun 1934 itu sedang ramainja pasaran batik, maka pedagang² batik jang tergabung dalam Batik Bond memungut simpanan dari anggotanja untuk membeli bus buat membawa batik dan bahan batik dari Ponorogo ke Solo pulang pergi. Tetapi bagaimanapun kuatnja disiplin organisasi kita, tembus djuga oleh pedagang² Tjina jang lebih kuat, baik dalam permodalan maupun pengetahuan dan fasilitas dari pemerintah dan Big Five waktu itu. Sedangkan pengusaha² batik Ponorogo jang kuat waktu itu telah dapat membeli bahan mori dengan harga golongan A berkat perdjuangan organisasi „Batik kerij”. Oleh karena sebagian besar dari pengusaha batik adalah menerima upahan dari pedagang² batik dan mereka mendjadi permainan dan objek spekulasi bagi pedagang² di Solo. Akibat permainan dari pedagang² batik dan pengusaha batik tetap berada dipihak jang lemah, maka oleh beberapa orang pengusaha batik antara lain: Subari, Takim, Moh. Said dan lain² diusahakan membentuk koperasi pada tahun 1938. Usaha ini tidak berdjalan lantjar karena kekurangan pengalaman dalam organisasi dan banjak halangan² dari pihak luar. Waktu petjahnja Perang Dunia ke-II kegiatan organisasi kurang lantjar sampai Djepang masuk. Waktu zaman pendudukan Djepang didiriku „Perkumpulan Pedagang Ponorogo (P.P.P.) jang dipelopori antara lain oleh : Moh . Djadjuli, Takim dan Sobari.
Kegiatan dari P.P.P. meliputi seluruh usaha kebutuhan peng usaha batik mulai dari penjediaan bahan batik, pendjualan hasil produksi dan kebutuhan sehari-hari. Organisasi P.P.P. pernah mendapat turuhan pembikinan batik dari Pemerintahan Djepang. Disamping P.P.P. maka oleh kaum pengusaha batik diadjukan pula permohonan kepada Pemerintahan Djepang untuk membentuk Persatuan Batikkerij Ponorogo (P.B.K.P.) jang diketuai oleh S. Ismail beserta pengusaha lainnja antara lain: Sjamsudin, Reksoumar, Reksodikromo, Muh. Umar. Sifat organisasi ini koperasi dan anggotanja lebih kurang 50 pengusaha batik. Organisasi ini tidak lantjar djalannja karena keadaan memang sulit, sehingga tidak memungkinkan organisasi dapat berkembang.
3. Koperasi Wadah Pengusaha Batik :
Waktu revolusi kegiatan pembatikan di Ponorogo djalan terus dengan bahan² jang masih ada dan kaina putih jang bisa dibuat batik. Pada tahun 1947 Sdr. Rachmat dan Moh. Djamhuri mengandjurkan supaja dibentuk persatuan dan nanti akan diberi bahan oleh Kementerian Kemakmuran dan Pemuda. Waktu utusan dari Kementerian Pembangunan dan Pemuda datang di Ponorogo, dikumpulkan pengusaha² batik untuk diberi pendjelasan bagaimana tjara mendapat bahan baku dari Pemerintah. Maka dibentuklah organisasi jang dinamakan „Persatuan Pengusaha Batik Ponorogoʼʼ jang sifatnja Batik Bond dan diketuai oleh S. Ismail. Pengurus selandjutnja menghubungi Kementerian Pembangunan dan Pemuda untuk meminta bahan baku batik jang didjandjikan, ternjata tidak berhasil. Sesudah itu datang ke Ponorogo Bapak Prof. Ir. Teko Sumodiwirjo dan Muljadi dari Djawatan Koperasi Madiun. Diadakan pertemuan dirumah Sdr. Moh. Said (almarhum) dan didjelaskan bahwa Kementerian jang bertanggung djawab terhadap bahan baku batik ialah Kementerian Kemakmuran, bukan Kementerian Pembangunan dan Pemuda. Untuk memudahkan usaha penjaluran maka Pak Prof. Ir. Teko Sumodiwirjo menjuruh membentuk koperasi dan sudah itu berhubungan dengan Djawatan Koperasi serta Kementerian Kemakmuran di Jogjakarta. Pada 10 Djuli 1947 bertempat dirumah H. Baedawi (almarhum) diadakan pertemuan oleh pengusaha batik jang dihadiri 100 orang pengusaha batik. Diantara jang hadir dan mau mendjadi anggota koperasi ialah 39 orang. Pada tanggal 17 Djuli 1947 diadakan pertemuan kedua bertempat dirumah Sdr. Wirjoatmodjo dengan atjara antara lain ialah:
1. Menetapkan nama koperasi.
2. Pemilihan Pengurus dan Badan Pemeriksa.
Keputusan jang diambil ialah:
1. Menetapkan nama koperasi jaitu: Koperasi Batik Asli Kesenian Timur Indonesia disingkat „BAKTI”.
2. Menetapkan susunan Pengurus pertama ialah:
| Ketua I | : | S. Ismail. |
| Ketua II | : | Moh. Djamhuri. |
| Penulis | : | Usman Djauhari. |
| Bendahara I | : | R. Muljono. |
| Bendahara II | : | Sjamsuddin. |

| Pembantu² | : | Moh. Djadjuli, Wirjosubroto, Hadisandjoto, Mawardi Rowi, Wirjoatmodjo dan R. Umar Sidik. |
| Badan Pemeriksa | : | Soeharto Ms., Pamudji Rahardjo, dan H. Chozin. |
3. a. Tudjuan Berkoperasi:
Tudjuan berkoperasi pertama kali ialah: mempersatukan seluruh pengusaha batik di Ponorogo, menjelenggarakan kebutuhan bahan baku batik dan mentjarikan pemasaran batik anggota. Disamping tudjuan utama ini tudjuan kedua ialah mempersatukan seluruh pengusaha batik dalam satu organisasi dan melengkapi kebutuhan sendiri bahan baku batik.
Untuk mentjari kebutuhan bahan baku batik maka diutus Sdr. S. Ismail dan Wirjosubroto ke Jogjakarta menghadap Kementerian Kemakmuran dan mendapat sedikit bahan jaitu : indigo 50 %, tawas dan sedikit cambric. Usaha koperasi dalam zaman revolusi itu sangat terbatas sekali dan waktu pembentukan Gabungan Koperasi Batik Indonesia di Jogjakarta tanggal 18 September 1948, Bakti mengutus Sdr. S. Ismail dan Wirjosubroto. Selesai pembentukan GKBI, siangnja didengar pemberontakan Madiun jang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (P.K.I.). Utusan Bakti terpaksa mendapat kesukaran dalam perdjalanan pulang ke Ponorogo dan terhalang beberapa hari di Jogjakarta, Solo dan Madiun karena belum bisa langsung ke Ponorogo karena pergolakan antara PKI dengan golongan jang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama golongan agama Islam. Setelah PKI dapat dipatahkan pemberontakannja, timbul agressi ke-II Belanda dan Ponorogo mendjadi daerah pendudukan. Kegiatan Koperasi waktu daerah pendudukan berdjalan biasa dan setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda, maka tahun 1950 datanglah utusan GKBI buat mengadakan konsolidasi organisasi. GKBI diwa kili oleh K.H. Idris, A. Muslim. Waktu diadakan rapat organisasi GKBI di Jogjakarta dirumah Bapak Djajengkarso, Bakti diwakili oleh Moh. Djadjuli, Mawardi Rowi dan R. Muljono. Dalam perdjuangan pool batik Bakti aktip bersama-sama Primer lainnja dan djuga ikut membeli saham Batik Trading Company. 3. b. Anggaran Dasar dan Badan Hukum:
Dalam rapat kedua dirumah Wirjoatmodjo itu djug dibitjarakan Anggaran Dasar dan baru diadjukan kepada Pemerintah setelah pengakuan kedaulatan jaitu pada tanggal 15 Maret 1950 dengan No. 2.662 Bakti sudah tertjatat pada Djawatan Koperasi dengan status Penilikan. Pada tanggal 20 Maret 1953 No. 62 Bakti dalam Pengamatan dan pada tanggal 12 Djuli 1953 dengan No. 833 BAKTI mendapat pengakuan Hak Badan Hukum dari Djawatan Koperasi berdasarkan Undang Koperasi No. 179/1949. Waktu GKBI mendapat pengakuan Hak Badan Hukum dari Djawatan Koperasi bulan Agustus 1953 Bakti tertjatat sebagai salah satu Primer tjalon anggota.
Menurut Anggaran Dasar Bakti, daerah kerdjanja ialah seluruh daerah Swatantra tingkat II Ponorogo. Sampai sekarang Bakti telah mengadakan penjesuaian atau perobahan Anggaran Dasarnja dua kali jaitu dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 serta PP. 60/1959 dan Undang² Koperasi No. 12/1967.
3. c. Keanggotaan dan management koperasi:
Waktu didirikan Bakti tertjatat jang mendjadi anggota sebanjak 39 orang dan untuk tahun selandjutnja djumlah ini terus bertambah. Di Ponorogo tidak semua pengusaha batik tergabung dalam koperasi dan ada pula jang tidak masuk koperasi. Disamping pengusaha batik djuga di Ponorogo ada keradjinan batik jang djumlahnja ribuan.
Perkembangan keanggotaan Bakti dari tahun ketahun dapat dilihat sbb.:
| No. | Tahun | Anggota | No. | Tahun | Anggota |
|---|---|---|---|---|---|
| 1. | 1953 | 133 | 9. | 1961 | 287 |
| 2. | 1954 | 186 | 10. | 1962 | 275 |
| 3. | 1955 | 215 | 11. | 1963 | 274 |
| 4. | 1956 | 261 | 12. | 1964 | 275 |
| 5. | 1957 | 285 | 13. | 1965 | 328 |
| 6. | 1958 | 289 | 14. | 1966 | 321 |
| 7. | 1959 | 289 | 15. | 1967 | 337 |
| 8. | 1960 | 287 |
Management Koperasi:
Tjara pelaksanaan management koperasi telah diatur dalam Anggaran Dasar Bakti jang berisi antara lain: tudjuan dan daja upaja untuk mentjapai tudjuan tersebut, keanggotaan beserta hak²nja dan sjarat²nja, tanggungan anggota, permodalan, administrasi usaha dan bimbingan dari Pemerintah, KEPENGURUSAN, pengawasan, dan rapat² organisasi dsb. Untuk melaksanakan tudjuan Bakti maka diangkatlah suatu Pengurus dan untuk pelaksanaan pengawasannja diangkatlah suatu Badan Pemeriksa masing² dalam masa djabatan jang tertentu. Dalam kegiatannja se-hari² Pengurus pada tiap² tahun harus mengadjukan dalam rapat anggota untuk diminta pengesahan antara lain: rentjana anggaran belandja dan usaha tahunan, pengesahan neratja rugi-laba, kebidjaksanaan Pengurus, program kerdja djangka pendek dan pandjang. Disamping itu Badan Pemeriksa sebagai badan jang mewakili anggota dalam pelaksanaan pengawasan, kepertjajaan jang telah diberikan anggota kepada pengurus djuga harus memberikan pertanggungan djawab dan laporan tentang hasil² pemeriksaan jang telah dilakukannja kepada rapat anggota.
Kepengurusan Bakti semendjak berdirinja sampai sekarang, tokoh² pendirinja masih tetap ada duduk dalam kepengurusan tiap² tahun, hanja djabatannja dalam kepengurusan tidak tetap jaitu kadang² duduk dalam djabatan Ketua, kadang² penulis atau bendahara atau pembantu.
Berkat management jang baik telah diberikan oleh pengurus Bakti kepada anggota²nja maka usaha² jang produktip sangat berhasil ialah dengan didirikan Pabrik Mori Djambu Bakti pada tahun 1957 dari kapasitas 100 mesin tenun sampai sekarang telah memiliki mesin tenun sebanjak 300 buah lengkap dengan mesin kandji dan mesin² pelengkap lainnja. Disamping pembangunan pabrik mori ini usaha dibidang lainnja ialah dengan mendirikan: Balai Pengobatan Batik, Sekolah Taman Kanak², Gedung Pertemuan, dan Gedung SMA Negeri Ponorogo dengan kerdja sama bersama Koperasi Pembatik Ponorogo. Suasana kegotong rojongan dan kekeluargaan dalam Bakti jang telah dipupuk selama ini oleh Moh. Djamhuri cs. pada tahun 1965 oleh ex. Menteri Transkop Moh. Achadi SE. melalui kebidjaksanaannja dan instruksi² jang didjalankan di GKBI membawa pengaruh

Pengurus Kopbat. Bakti tahun 1967/1968
Duduk dari kiri kekanan : Muh . Djamhuri Ketua I, S. Ismail, H. Usman Djauhari (Pembantu). Berdiri dari kiri kekanan: Sumarjono Pr, dan Slamer Sjarief Penulis I/II, Drs. Adam Basjori Ketua II, Djamil Jusuf Bendahara I dan Harmanto Ketua III.
besar pada ketenangan Bakti. Matjam intimidasi dan fitnah jang dilontarkan kepada anggota jang sifatnja destruktif dari satu golongan jang kerdjasama dengan ex. Menteri Transkop dan mengakibatkan terpetjahnja anggota? Bakti. Klimaks dari usaha pemetjah -belah ini ialah pada rapat anggota bulan Maret 1966 dalam rangka menghadapi rapat tahunan GKBI tahun usaha 1965, jang menelorkan susunan pengurus periode 1966-1967 sesuai dengan keinginan mereka. Akibat berobahnja iklim politik ditingkat Pusat dengan diamankannja beberapa Menteri dan termasuk Menteri Transkop, maka Departemen Transkop dipegang oleh Menteri a.i. Brigdjen. Drs. A. Sukendro. Kebidjaksanaan ex. Menteri Transkop lama terhadap GKBI dibatalkan dan semua produk²nja ditjabut. Maka pilihan Pengurus Bakti bulan Maret 1966 djuga batal dan pada tanggal 16 April 1966 diadakan Rapat Anggota Luar Biasa lagi jang menghasilkan susunan Pengurus sebagai berikut:
| Ketua | I | : | Moh. Djamhuri. |
| Ketua | II | : | Drs. Adam Basori. |
| Ketua | III | : | Harmantho. |
| Penulis | I | : | Sumarjono Pr. |
| Penulis | II | : | Slamet Sjarief. |
| Bendahara | I | : | Djamil Jusuf. |
| Bendahara | II | : | H. Moh. Djadjoeli. |
| Pembantu² | : | Soewondo, S. Ismail, H. Mawardi Rowi dan H. Usman Djauhari. | |
| Badan Pemeriksa | : | Moeljono, Abdul Sjukur, Dimjati, Achmad Slamet dan Hasanun Fadeli. |
Dalam pembagian tugas dan ketatalaksanaan Bakti maka diadakan bidang² kegiatan jang dipimpin oleh masing² Pengurus jaitu:
Sebagai Koordinator ialah Ketua I Moh. Djamhuri. Bidang Organisasi/Idiil dipimpin oleh Ketua II Drs. Adam Basori dan S. Ismail. Bidang administrasi dan kepegawaian dipimpin oleh Bendahara II Moh. Djadjoeli. Balai Pengobatan dan S.T.K. oleh H. Mawardi Rowi dan S. Ismail. Keamanan, Ola-Raga dan Balai Pertemuan oleh Penulis II Slamet Sjarief dan H Mawardi Rowi. Bidang extern jaitu : Sosial, public relation dipimpin oleh Ketua III Harmantho, Sumarjono Pr. dan H. Usman Djauhari.
Bidang usaha dan pabrik dipimpin oleh Ketua I Moh. Djamhuri dan dibantu oleh Soemarjono Pr dan Soewondo di Pabrik. Sedangkan pembelian dan pendjualan dibantu oleh Harmantho dan Djamil Jusuf. Pemeriksa koordinatornja ialah Sdr. R. Muljono.
III. KEGIATAN KOPERASI BAKTI:
A. Bidang Organisasi dan Idiil.
1. Bidang Pendidikan:
Kegiatan Bakti dibidang pendidikan ditudjukan untuk anggotá, karyawan, keluarga anggota dan karyawan serta masjarakat daerah kerdjanja. Untuk kepentingan anggota aktivitas pendidikan dengan mengadakan kursus administrasi, pengetahuan bahasa, perkoperasian, usaha. Disamping itu untuk djasmani djuga diadakan bidang kegiatan olah raga jang meliputi tjabang²: bulu tangkis, pingpong, volley ball, sepak bola, tennis. Dan untuk keluarga anggota serta masjarakat daerah kerdja, Bakti mendirikan Sekolah Taman Kanak Batik. Djuga pada tahun 1963 Bakti mendirikan gedung chusus untuk SMA Negara Ponorogo, biaja dipikul oleh Bakti dan anggota. Disamping kegiatan pendidikan jang aktip ini Bakti djuga memberikan bantuan jang tidak sedikit kepada masjarakat daerah kerdja melalui organisasi' pendidikan baik umum maupun agama. Dana pendidikan jang didapat melalui sisa hasil usaha dan jang dikeluarkan langsung pada masjarakat selama berdirinja adalah sebagai berikut.

| Tahun | Masuk | Keluar | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1953/1957 | Rp. 660.688,12 | Rp. 249.575,54 | Rp. 411.112,58 |
| 1958/1961 | Rp. 1.374.388,20 | Rp. 1.636.957,37 | Rp. 1.423.542,93 |
Untuk periode tahun² selandjutnja dana² pendidikan, sosial, dan pembangunan daerah kerdja disatukan pengeluarannja dan tertjatat untuk tahun 1962/1963 masuk sebesar Rp. 2.436.535,70 dan keluar sebesar Rp. 1.396.573,50 dan sisa sebesar Rp. 1.039.962,20. Kegiatan pendidikan lainnja untuk anggota jang diselenggarakan ialah dibidang proses pembatikan baik motive maupun pewarnaan. Pertjobaan² jang diberikan kepada anggota bertempat di Balai Penelitian Batik Bakti ialah bagaimana membuat batik²: Jogja/Solo, Banjumas, Pekalongan, Garutan dan Djakarta. Balai penelitian Batik ini diasuh oleh Pengurus jaitu Sdr. S. Ismail dan Mawardi Rowi serta dibantu beberapa orang anggota.
2. Sosial dan Masjarakat :
Kegiatan Bakti dibidang sosial jang ditudjukan untuk kesedjahteraan anggota dan keluarganja. buruh batik /karyawan koperasi serta keluarganja dan masjarakat daerah kerdja ialah dengan men dirikan Balai Pengobatan Batik jang terbuka untuk umum. Balai Pengobatan Batik dibawah asuhan seorang dokter dan beberapa tenaga perawat dan pelajanannja. Biaja dari Balai Pengobatan ini diambilkan dari dana jang disisihkan sebesar 5 % tiap² tahun dari sisa hasil usaha. Disamping itu pembiajaannja dari bantuan GKBI
Gedung Poliklinik Bakti jang dibangun tahun 1956 dengan dana pembangunan Primer dan GKBI.
tiap tahun dan djuga sumbangan chusus dari anggota. Balai Pengobatan selain dari melajani pemeriksaan higeni dan medis tiap hari kerdja djuga menjediakan obat² jang diperlukan dengan penggantian harga djauh lebih murah dari harga apotheek. Disamping kegiatan Balai Pengobatan ini, untuk kesedjahteraan buruh batik djuga disediakan dana chusus jang dipungut dari masing² pengusaha melalui distribusi bahan baku batik. Dana ini digunakan untuk membantu buruh batik jang ditimpa musibah dan hari² jang berbahagia jaitu perkawinan dan melahirkan. Bantuan untuk masjarakat daerah kerdja djuga banjak diberikan jaitu dalam membantu meringankan beban jang diderita oleh rakjat jang kena bentjana alam antara lain bandjir, gunung berapi dan kelaparan. Dan djuga bantuan untuk organisasi² jang mengasuh anak² jatim piatu.
Dana² sosial jang telah dipergunakan selama ini ialah:
|
| |||
Tahun
|
Masuk |
Keluar |
Keterangan |
|
| |||
1953/1957
|
Rp.632.537,50 | Rp.501.896,95 | |
1958/1961
|
„1.281.277,74 | „1.184.152,82 | |
|
| |||
Pemasukan dan pengeluaran dana sosial untuk tahun² selandjutnja disatukan pentjatatannja dengan dana² lainnja.
3. Dana Pembangunan Daerah Kerdja:

Pengeluaran dana pembangunan selama berdiri sampai sekarang ialah:

|
| |||
Tahun
|
Masuk |
Keluar |
Keterangan |
|
| |||
| 1953/1957 | Rp.529.015,15 | Rp.37.212,50 | |
| 1958/1961 | „816.937,58 | „800.141,78 | |
|
| |||
B. Bidang Komersil dan Produksi :
Kegiatan dibidang komersil dan produksi ini antara lain meliputi. permodalan, penjaluran bahan baku batik, pemasaran hasil produksi batik dan pabrik tekstil.
1. Bidang Permodalan:
Bakti sumber modalnja ialah dari simpanan² anggota, tjadangan perusahaan/dana² jang disisihkan, pindjaman dari GKBI dan pihak ketiga. Modal ini oleh Bakti dipergunakan untuk pembelandjaan organisasi dan usahanja jaitu: Pengurus/Badan Pemeriksa karyawan, harta tetap, pabrik, barang² dagangan dan sebagainja. Tjara² pemungutan simpanan di Bakti dilaksanakan melalui pembagian bahan baku batik dan pengerahan modal anggota. Untuk pembiajaan project pabrik mori chususnja untuk perluasar dikerahkan modal anggota jang tidak melalui distribusi bahan baku dan setor sendiri sesuai dengan kemampuannja. Kalau dilihat perkembangan dan pertambahan simpanan² Bakti mulai dari berdirinja tahun 1953 hanja Rp. 521.765,45 dan sampai achir tahun 1966 telah tertjatat sebesar Rp. 14.467.119. 910, atau Rp. 14.467.119.91 UB.
Perkembangan simpanan dan modal ini naiknja begitu tjepat dari tahun ketahun dan ini disebabkan kesadaran anggota berorganisasi dan tjita² mereka jaitu ingin mentjukupi kebutuhan sendiri dalam bahan baku. Dalam tahun 1955 diputuskan untuk mendirikan pabrik mori dengan kapasitas mesin tenun sedjumlah 100 buah ATM. Mulai tahun 1955 itu diadakanlah pemungutan simpanan setjara intensif dan kebutuhan modal meliputi puluhan djutaan rupiah. Dalam tahun 1955 terkumpul simpanan dan tjadangan sebesar Rp. 5.193.561,15 dan 1957 sebesar Rp. 20.944.053,30, pembangunan gedung pabrik sudah
|
| ||
| Tahun | Mod. sendiri | Anggota |
|
| ||
| 1953 | Rp.1.027.237,12 | 133 |
| 1955 | „ 5.193.561,15 | 215 |
| 1957 | „ 20.944.053,30 | 285 |
| 1960 | „ 45.852.182,55 | 287 |
| 1963 | „ 248,599.322,74 | 274 |
| 1965 | „1.489.286.424,67 | 328 |
| 1966 | „ 14.467.119,91 | 321 |
| 1967 | „ 17.085.224,29 | 337 |
|
| ||
hampir selesai. Tahun 1958 pabrik sudah mulai menghasilkan dengan kapasitas 100 mesin tenun (ATM).
Pemungutan simpanan ini berbarengan pula dengan rentjana GKBI jaitu akan mendirikan Pabrik Cambric di Medari Jogjakarta. Dalam tahun 1962 diputuskan untuk menambah mesin tenun sebanjak 200 buah lagi dan untuk ini perlu dikerahkan modal anggota. Sebab Pengurus Bakti jakin dengan adanja pabrik sifat ketergantungan nada luar negeri atau kekuasaan lain sedikit demi sedikit mulai berkurang. Pada achir tahun 1963 tertjatat modal Bakti sendiri sebesar Rp.248.599.322,74 dan tahun 1965 sebesar Rp.1.489.286.424,67. Pertambahan modal jang akan dipergunakan untuk perluasan Pabrik Mori Djambu Bakti, tahun 1963 tambahan mesin² telah mulai dipesan dan tahun 1963 itu telah datang sebanjak 60 buah dan sisanja dalam tahun 1964/1965 telah datang semua. Sebagai ilustrasi maka penggunaan modal Bakti dapat dilihat dibawah.
|
| ||||
| Tahun | Harta tetap | Pabrik Mori | G.K.B.I. | Ketr. |
|
| ||||
| 1957 | Rp.1.018.166,— | Rp.— | Rp.15.804.413, | |
| 1960 | „ 2.118.376,— | „15.868.341. | „ 30.638.836, | |
| 1963 | „ 11.264.430,— | „90.574.876. | „ 128.123.065, | |
| 1965 | „ 12.978.185,— | „726.318.588, | „ 550.253.860, | |
| 1966 | „ 127.619,— | „5.548.889, | „ 7.948.080, | |
| 1967 | „ 144.080,— | „12.998.715, | „ 9.075.839, | |
|
| ||||
Dibandingkan antara djumlah simpanan dan tjadangan Bakri tahun 1966 sebesar Rp. 14.467.119,91 dan investasinja sebesar Rp. 13.324.588,― dan modal kerdjanja hanja tinggal sebesar Rp. 1.142.532,― dan modal kerdja lainnja mendapat kredit dari GKBI dan lain² sebesar Rp. 2.663.902,―. Akibat adanja tindakan

2. Bidang distribusi/penjaluran bahan baku:
Bakti menjalurkan bahan baku batik jaitu: mori import dan Medari serta obat batik jang diterima dari GKBI mulai tahun 1950 sampai sekarang. Disamping itu Bakti djuga menjalurkan hasil usaha sendiri jaitu: Pabrik Mori Bakti dan bahan baku batik dalam negeri usaha sendiri. Bahan baku batik dalam negeri jang disalurkan jaitu: malam, parafin, hars, minjak, tawas dan sebagainja. Sebagai illustrasi disampaikan diatas perkembangan bahan baku jang diterima dari GKBI sbb.:
|
| ||||
| No. | Tahun | Mori imp./loc. yard |
Obat batik Kg. |
Djuml. harga |
|
| ||||
| 1. | 1954 | 7.847.646,— | 239.229,— | 38.560.662, |
| 2. | 1955 | 5.665.616,— | 138.833,— | 30.441.987, |
| 3. | 1956 | 6.511.938,— | 103.903,— | 36.055.631, |
| 4. | 1957 | 6.415.561,— | 12.897,— | 46.178.092, |
| 5. | 1958 | 3.296.495,— | 32.553,— | 48.268.603, |
| 6. | 1959 | 1.840.554,— | 4.232,— | 41.395.161, |
| 7. | 1960 | 2.246.125,— | 13.548,— | 61.527.693, |
| 8. | 1961 | 3.180.977,— | 9.509,— | 82.470.144, |
| 9. | 1962 | 3.259.863,— | 99.758,— | 104.897.637, |
| 10. | 1963 | 1.788.709,— | 88.494.— | 121.158.622, |
| 11. | 1964 | 2.186.782,— | 23.993,— | 472.991.520, |
| 12. | 1965 | 2.617.279,— | 18.005,— | 1.323.793.319, |
| 13. | 1966 | 1.725.757,— | 16.170,— | 11.662.447, |
| 14. | 1967 | 1.240.800,— | 4.776,— | 30.680.904, |
|
| ||||
Penjaluran bahan baku dari GKBI jang tertinggi adalah tahun 1954 dan sampai tahun 1957 masih menundjukan angka lebih 6 djuta yard sedangkan obat batik jang tertinggi ialah tahun 1954 pula sebesar 239.229 kg. Djumlah ini untuk tahun² berikutnja terus menurun dan pada achir 1966 hanja tertjatat sebesar 1.725.757 yard dan obat batik 16.170 kg, untuk tahun 1967 angka ini menurun lagi jaitu 1.240.800 yard dan obat batik 4.776 kg. Tetapi kalau kita lihat penerimaan dalam rupiah terus bertambah walaupun dalam volume barang menurun.
Hasil produksi pabrik sendiri jang disalurkan lima tahun belakangan ini masing² sebanjak: 1963 sebesar 720.294 M, 1964 sebesar 859.500 M, 1965 sebesar 723.002 M, 1966 sebesal 707.497 M dan 1967 sebesar 1.190.365 M.
Disamping menjalurkan bahan baku batik kepada anggota, Bakti djuga mendjualkan hasil produksi anggotanja langsung kepada masjarakat.
|
| ||||
| Tahun | Omzet | S.H.P. Kotor | S.H.P. Netto | Ketr. |
|
| ||||
| 1953 | 41.752.279,— | 3.281.923,— | 1.994.466,— | |
| 1955 | 38.269.717,— | 2.992.937,— | 2.342.884,— | |
| 1957 | 49.368.936,— | 4.999.245,— | 3.936.415,— | |
| 1962 | 249.481.386,— | 7.894.067,— | 2.339.005,— | |
| 1963 | 427.155.402, — | 24.261.545,— | 3.132.483,— | |
| 1965 | 3.863.564.334,— | 328.539.285,— | 11.939.355,— | |
| 1966 | 18.891.759,— | 2.385.652,— | 124.340,— | |
| 1967 | 66.447.367,— | 4.528.332,— | 481.445,— | |
|
| ||||
Laba atau sisa hasil perusahaan (shp) kotor jang diambil oleh Bakti tiap tahun bergerak antara (3 — 8) % dan sisa hasil perusahaan bersih dibandingkan dengan omzet tiap² tahun bergerak antara (1 — 5)%. Disini nampak bahwa koperasi bukan profit tudjuan utamanja jang penting ialah melajani— kebutuhan anggota dan meningkatkan kesedjahteraan karyawannja dan buruh batik.
3. Pemasaran batik/marketing batik:
Batik Ponorogo terkenal dengan produksi batik kasar (mori biru) sedjak dikenalnja batik tjap jaitu sebelum krisis ekonomi dunia dan produksi batik kasar ini memenuhi pasaran batik seluruh Indonesia, sesudah krisis sampai petjahnja perang dunia kedua. Sesudah pengakuan kedaulatan dan dalam waktu GKBI melaksanakan import tunggal mori, Ponorogo djuga memegang peranan dalam produksi batik kasar. Pasaran batik Ponorogo jaitu di Solo, Surabaja, Djakarta dan dari pusat² pasaran ini, oleh pedagang² batik daerah baik di Djawa maupun luar pulau Djawa, baru disalurkan kepusat² pasaran didaerah terutama diluar pulau Djawa jaitu daerah perkebunan danpertambangan.
Sesudah krisis ekonomi dunia, produksi batik kasar tiap pengusaha satu hari antara 20 sampai 80 kodi dan tiap hari ribuan kodi batik kasarnja mengalir kepasar Solo dan Surabaja. Waktu monopoli mori dipegang GKBI, Ponorogo djuga termasuk pembeli jang terbesar jaitu no. 7 (5,9%). Setelah adanja pool batik sandang maka Bakti menjalurkan batik biru dan prima. Jang disalurkan kepada GKBI jaitu 90% dari djatah jang diterimanja dan harganja ditetapkan oleh Pemerintah. Pada achir tahun 1963 mori biru jang dibagikan sebanjak 21.243 pice dan djadi batik 21.243 kodi dan didjual pada GKBI sebanjak 19.237 kodi. Sesudah itu tidak ada penjaluran wadjib lagi karena pelaksanaan ekonomi sesudah diumumkannja DEKON sudah berobah dan pengendalian harga tidak ketat lagi. Penjaluran batik melalui GKBI sesudah DEKON hanja waktu musiman sadja jaitu : menghadapi lebaran tahun baru. Tetapi Bakti tetap menerima dan menjalurkan batik produksi anggota kwalitas mori produksi sendiri, mori biru import dan prima. Batik produksi primissima langsung didjual anggota kepada pedagang bebas. Sekarang berkat adanja Balai Penelitian Batik Bakti maka proses produksi dan motif batik produksi anggota sudah aneka matjam pula jaitu bisa membuat batik Pekalongan, Banjumas, Djakarta dan sebagainja. Pada achir tahun 1963 batik² jang disalurkan Bakti ialah sebagai berikut :
a. batik biru sebanjak : 20.703 kodi seharga Rp. 124.105.730,—
b. batik prima„ : 4.690 kodi seharga„49.335.831,—
c. batik grey„: 4.533 kodi seharga„ 9.928.094,—
——————————————————
Djumlah : : 29.976 kodi seharga Rp. 193.359.655,—
Dalam tahun 1966 batik jang disalurkan oleh Bakti sebanjak 12.105 kodi. Dalam tahun 1967 batik jang disalurkan oleh Bakti sebanjak 1.112 kodi.
4. Pabrik Mori Djambu Bakti :
Mendirikan pabrik mori sendiri adalah salah satu tjita² dari masjarakat batik dalam rangka berkoperasi. Sebelum GKBI mendirikan pabrik maka Primer jang telah mendirikan pabrik pertama kali jaitu Pekadjangan dan menjusul PPIP dan Bakti dan sesudah itu Buwaran. Modal untuk mendirikan pabrik ini dipungut dari anggota melalui simpanan chusus pabrik tiap² bulan melalui pembagian mori dimulai tahun 1955. Dan mulai tahun 1956 simpanan chusus ini dirobah mendjadi simpanan lain² dan djumlahnja achir 1957 tertjatat sebesar Rp. 10.403.286,― dan 1957 sebesar Rp. 12.694.675,―.
Rentjana pertama pabrik akan mempunjai kapasitas 100 mesin tenun (ATM) serta perlengkapannja dan djuga punja tenaga listrik sendiri. Dalam tahun 1958 rentjana ini telah berhasil dan sudah mulai menghasilkan. Selama GKBI belum mempunjai pabrik sendiri, pabrik Bakti mendapat benang tenun langsung dari Pemerintah. Kwalitas

mori jang dihasilkan oleh pabrik jaitu kwalitas grey dan terkenal dengan nama „Mori Djambu Bakti". Hasil produksi pabrik disalurkan langsung kepada anggota sesuai dengan djumlah perbandingan simpanan mereka masing². Dalam tahun 1960 telah diputuskan untuk mengadakan perluasan sampai 200 mesin tenun dan sampai tahun 1962 dan tahun 1965 direntjanakan telah memiliki mesin tenun sebanjak 300 buah. Rentjana tahun 1960/1962 tidak bisa terlaksana karena keadaan atau situasi devisa negara tidak mengizinkan waktu itu. Negara menghadapi gangguan keamanan dalam negeri mulai tahun 1958 dan bersambung tahun 1959/1962 dengan perdjuangan Trikora untuk mengembalikan Irian Barat kepangkuan Republik Indonesia. Rentjana perluasan ini baru bisa terlaksana pada tahun 1963 jaitu telah datangnja sebanjak 60 buah mesin tenun lagi. Dalam tahun 1964 diadakan rentjana perluasan bangunan dan mesin tenun sebanjak 140 buah lagi dan djuga alat² perlengkapan lainnja serta perumahan pegawai.
Sampai achir tahun 1967 Bakti telah mempunjai perlengkapan pabriknja terdiri masing²:
- Mesin tenun sebanjak. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .300 looms
- Mesin kandji. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
- Mesin kelos. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
- Mesin palet. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
- Mesin diesel. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
- Mesin lipat. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
- Perlengkapan mesin² lainnja.
- Bangunan untuk menampung sebanjak 300 ATM
- Perumahan pegawai sebanjak. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .4 buah.
- Mesin hani.
1. Management Pabrik :
Management pabrik sifatnja otonom dan bertanggung djawah pada Pengurus Pleno /Lengkap Bakti . Jang ditundjuk dari Pengurus jang memimpin pabrik ialah Bapak Moh. Djamhuri Ketua I Bakti dan dibantu oleh Sdr. Sumarjono Pr. Penulis I dan Suwondo Pembantu Pengurus. Untuk kelengkapan organisasi intern pabrik maka Pimpinan membentuk bagian² jaitu : Tata Usaha, Persiapan, Pertenunan/Finishing, Teknik Mesin dan Teknik Listrik . Tenaga karyawan pabrik terdiri dari pegawai tetap dan pekerdja harian. Djumlah karyawan sampai achir tahun 1966 sebanjak 296 orang terdiri masing² : pegawai sebanjak 68 orang dan pekerdja prija sebanjak 202 orang dan wanita sebanjak 26 orang Tahun 1967 djumlah karyawan598 orang. Biaja² pelaksana jang dikeluarkan untuk pegawai selama 5 tahun belakangan ini tertjatat sebagai berikut : 1963 sebesar Rp. 3. 135.272,— 1964 sebesar Rp. 5.408.173, 1965 sebesar Rp. 15.022.195,— 1966 sebesar Rp. 252.701,— (UB) dan 1967 sebesar Rp. 2.380.324,—.
2. Produksi Mori Djambu:
Selama tahun 1957 sampai 1962 pabrik mendapat djatah benang dari Pemerintah dan kekurangannja dibeli dari pasar bebas. Mulai tahun 1963 karena GKBI telah menghasilkan benang sendiri, maka pabrik Bakti djuga mendapat djatah benang tenun dari GKBI. Lima tahun belakangan ini benang tenun jang dipakai dan menghasilkan mori djambu tertjatat sbb.:
| Tahun | Benang/Kg. | Mori/M. | Rata² Mesin Djalan | Karyawan |
|---|---|---|---|---|
| 1963 | 87.184 | 720.294 | 81/91 | — |
| 1964 | 101.746 | 859.500 | 93/98 | 260 |
| 1965 | 89.636 | 723.002 | 108/120 | 286 |
| 1966 | 85.627 | 707.497 | 113/123 | 296 |
| 1967 | 152.970 | 1.190.365 | 104/251 | 598 |
Djumlah mesin sampai 1964 jang telah terpasang tetap 100 dan jang djalan rata² minimal sebanjak 81 ATM dan maksimal 91 ATM tahun 1963 dan tahun 1964 jaitu 93 dan 98. Tahun 1965 rata² mesin jang djalan naik karena sudah ada pemasangan baru, selandjutnja lihat daftar diatas.
3. Investasi dan sisa hasil pabrik:
Sampai achir tahun 1963 dan achir 1967 tertjatat djumlah investasi dan sisa hasil pabrik jang tertjatat ialah sebagai berikut:
| Tahun | Investasi Tetap | Sisa Hasil Pabrik | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 1963 | Rp. 49.520.508,— | Rp. 2.074.586,— | |
| 1965 | „492.476.680,— | „17.571.972,— | Rugi |
| 1966 | „2.939.059,— UB | „303.186,— | |
| 1967 | „5.198.160,— | „892.855,— |
4. Neratja kekajaan Bakti:
Untuk tahun 1967 belakangan posisi neratja kekajaan Bakti ialah sbb.:
Aktiva/Ribuan
|
Pasiva |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
No.
|
Perkiraan
|
1967 |
No. |
Perkiraan
|
1967 | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
1.
|
Harta tetap
|
144.080,— | 1. |
Hutang tetap
|
17.085.224,— | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
2.
|
Harta berputar
|
2. |
Hutang berputar
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
a. kas, bank, pihutang
|
2.975.499.— | a.R/C GKBI Anggota
|
9.109.969.— | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
b. barang²dagangan
|
2.203.011.— | b.dana² padjak, barang²
|
729,507,— | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
3.
|
Investasi pandjang
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
a. simpanan² di GKBI
|
9.075.840.— | 3. |
Sisa hasil usaha jad.
|
481.415,— | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
b.Pabrik Mori Bakti
|
12.998.715,— | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Djumlah:
|
27.397.145,— | Djumlah:
|
27.397.145,— | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
BAGIAN: 9 KOPERASI PENGUSAHA BATIK DJAKARTA (KPBD) I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Pembatikan di Djakarta dikenal dan berkembangnja bersamaan dengan daerah2 pembatikan lainnja jaitu kira2 achir abad ke-XIX. Pembatikan ini dibawa oleh pendatang2 dari Djawa Tengah dan mereka bertempat tinggal kebanjakan didaerah-daerah pembatikan sekarang ini. Bahan2 baku batik jang dipergunakan ialah hasil tenun sendiri dan obat2nja hasil ramuan sendiri dari bahan2 kaju mengkudu, patje, kunjit dan sebagainja. Batik Djakarta sebelum perang terkenal dengan batik kasarnja warnanja sama dengan batik Banjumas. Sebelum perang dunia kesatu bahan2 baku cambric sudah dikenal dan pemasaran hasil produksinja di Pasar Tanahabang dan daerah sekitar Djakarta. Djakarta sedjak zaman sebelum perang dunia kesatu telah mendjadi pusat perdagangan antar daerah Indonesia dengan pelabuhannja Pasar Ikan sekarang. Setelah perang dunia kesatu selesai, dimana proses pembatikan tjap mulai dikenal, produksi batik meningkat dan pedagang2 batik mentjari daerah pemasaran baru. Daerah pasar untuk tekstil dan batik di Djakarta jang terkenal ialah: Tanah Abang, Djatinegara dan Djakarta Kota, jang terbesar ialah Pasar Tanah Abang sedjak dari dahulu sampai sekarang. Batik2 produksi daerah Solo, Jogja, Banjumas, Ponorogo, Tulungagung, Pekalongan, Tasikmalaja, Tjiamis dan Tjirebon serta lain2 daerah, bertemu di Pasar Tanah Abang dan dari sini baru dikirim kedaerah-daerah diluar Djawa pedagang2 batik jang banjak ialah Bangsa Tjina dan Arab, bangsa Indonesia sedikit dan ketjil Oleh karena pusat pemasaran batik sebagian besar di Djakarta chususnja Tanah Abang, dan djuga bahan² baku batik diperdagangkan ditempat jang sama, maka timbul pemikiran dari pedagang² batik itu untuk membuka perusahaan batik di Djakarta dan tempatnja ialah berdekatan dengan Tanah Abang. Pengusaha² batik jang muntjul sesudah perang dunia kesatu, terdiri dari bangsa Tjina, dan buruh² batiknja didatangkan dari daerah2 pembatikan Pekalongan, Jogja, Solo dan lain². Selain dari buruh batik luar Djakarta itu, maka diambil pula tenaga setempat disekitar daerah pembatikan sebagai pembantunja. Melihat perkembangan pembatikan ini membawa lapangan kerdja baru, maka penduduk asli didaerah tersebut djuga membuka perusahaan batik. Daerah pembatikan jang dikenal di Djakarta tersebar didekat Tanah Abang jaitu : Karet, Bendungan Ilir dan Udik, Kebajoran Lama, dan daerah Mampang Prapatan serta Tebet. Pengusaha batik bangsa Indonesia banjak muntjul setelah krisis ekonomi berachir jaitu tahun 1932. Motif dan proses batik Djakarta sesuai dengan asal buruhnja didatangkan jaitu: Pekalongan, Jogja, Solo dan Banjumas II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: Sesuai dengan sedjarah perkembangan pembatikan di Djakarta, setelah P.D. pertama pedagang batik Tjina banjak membuka bengkel batik, maka jang pesat perkembangannja ialah perusahaan Tjina, karena mereka memenuhi sjarat² jang diperlukan dibandingkan dengan bangsa Indonesia. Penguasaan bahan baku serta perdagangannja dipegang oleh bangsa Tjina dan pengusaha batik bangsa kita berada dibawah pengaruhnja. Pengusaha kita tak obahnja sebagai mandor sadja dari bengkelnja, modal/bahan baku mendapat kredit dari Tjina dan hasil produksi didjual kepada Tjina jang memberikan kredit itu. Tjara perdagangan ini membawa akibat lemah pada pengusaha batik bangsa kita jang selalu mendapat tekanan dari pedagang² Tjina tersebut. 1. Pembentukan wadah organisasi: Akibat tekanan² jang diderita oleh pengusaha batik bangsa Indonesia maka beberapa orang pengusaha² batik didaerah Bendungan Udik dan Ilir membentuk organisasi dengan tudjuan dapat menolong anggotanja dari tekanan² jang diderita akibat tindakan Tjina. Usaha pertama ialah menolong anggotanja disektor permodalan, penjediaan bahan baku dan pemasaran hasil produksinja. Dalam tahun 1932 dipelopori oleh pengusaha2 batik antara lain: Pak H. Moh. Gasim, H. Musanif, H. Djunet (ketiganja sudah meninggal) dan kawan²nja membentuk „WARUNG ANDEEL” jang mendjualkan bahan baku batik jang diperlukan anggota. Warung Andeel ini mendapat rintangan dan saingan dari pedagang² Tjina, tetapi berkat keuletan pemimpin'nja dapat tumbuh dengan pesatnja, hingga bisa berhubungan dengan Internatio N.V. jang mendjual cambric dari Big Five dan setelah adanja peraturan „kontingenteering” dan Grey Convenant, maka pengusaha batik dengan Warung Andeelnja langsung mendapat bahan dari Convenant sampai petjahnja perang dunia kedua. Waktu zaman pendudukan Djepang kegiatan Warung Andeel ini kurang lantjar karena bahan² baku sukar didapat dan djuga banjak pembatik jang tutup. Waktu revolusi aktivitas djuga tidak ada karena kekurangan bahan baku batik. 2. Koperasi Wadah jang tjotjok: Semasa pendudukan Belanda sekitar tahun 1948 kegiatan pembatikan muntjul kembali, karena bahan bakunja disediakan olehB.I.H. dan jang banjak ialah perusahaan² Tjina dan bangsa Indonesia sedikit sekali. Bangsa Indonesia jang tidak mau kerdja sama dengan Belanda, membentuk perkumpulan² dan sarikat² dagang jang djiwanja koperasi. Maka didaerah pembatikan Bendungan Ilir dan Udik didirikanlah beberapa kumpulan pengusaha batik. Pengusaha² batik bangsa Indonesia banjak tinggal di Bendungan Ilir dan Udik, Senajan, Palmerah, Kebajoran Lama dan Kebonnanas. Jang bertempat tinggal di Bendungan Ilir dan Udik membentuk koperasi² jang dinamakan: Koperasi Batik Indonesia (KOBI) dipelopori oleh: H. Achfas, H. Abdullah, H. Sarmili, Muhammad H. Mu'i. Koperasi Batik Indonesia (KOBINDO) dipelopori oleh: Achmad bin H. Amir, Koperasi Batik Djakarta (K.B.D.) dipelopori oleh: Umar Arifin, Sarikat Produksi Batik Indonesia (S.P.BI.) dipelopori oleh: Achmad Tumben. Selain dari Sarikat² dan Koperasi Batik diatas, didaerah pembatikan lainnja seperti: Senajan, Palmerah, Kebonnanas, Kebajoran Lama dibentuk pula organisasi jang dinamakan: Koperasi Batik Djakarta (K.O.B.A.). Perkumpulan² jang tergabung dalam KOBA antara lain: PPKP dan GBDR semuanja di Kebajoran Lama, BEBECIE di Senajan sekarang (akibat Asian Games pindah ke Tebet), PERBIPA di Palmerah dan PPB di Bendungan. lan² pengusaha batik jang tergabung dalam KOBA ini, bergabung dengan KPBD pada tahun 1955. Sarikat² dan Koperasi² ini berusaha supaja anggotanja tertolong, terutama dalam pengadaan bahan baku batik, agar dapat membeli langsung dari Cambric dan Grey Convenant. Sampai petjahnja perang dunia kedua kegiatan organisasi ini berdjalan baik dan Djepang masuk matjet seperti koperasi2 lainnja. Waktu revolusi kegiatan organisasi pengusaha batik djuga matjet dan baru kembali setelah klas kesatu jang didahului djuga oleh pengusaha² batik Tjina. Pengusaha2 batik Indonesia baru muntjul tahun 1949 dan seterusnja sampai bergabung mendjadi Koperasi Pengusaha Batik Djakarta tahun 1952. a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Pada tanggal 7 Agustus 1952 Sarikat² dan Koperasi² jang ada di Bendungan Ilir dan Udik bergabung membentuk koperasi baru jang dinamakan „KOPERASI PENGUSAHA BATIK DJAKARTA” dan dipelopori oleh: antara lain Muhammad H. Mu'i, H. Abdullah H. Sarmili, Jacob Musanif, Abd. Samad bin Mugni, Achmad bin H. Amhar, Umar Arifin, Achmad Tumben, Achmad Sjarbini dll. Pengurus Koperasi Batik KPBD Djakarta dari kiri kekanan: H.Abdullah bin H. Sarmili, A. Somad Mugni dan H. Ahmad Sarbini. KPBD mendapat hak badan hukum No. 855 tanggal 30 Agustus 1953 dan mendjadi anggota GKBI No. 9 tahun 1953. Perobahan² Anggaran Dasar KPBD ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 No. 855A, penjesuaian dengan P.P. 60/1959 dan penjesuiaan dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 No. 855B/ 1968. Susunan Pengurus pertama KPBD ialah: Ketua I/II: Muhammad bin H. Muie dan H. Abdullah bin H. Sarmili, Penulis I/II: Jacob bin H. Musanif, dan Abd. Samad bin Mugeni, Bendahara I/ II: Achmad Sjarbini dan Achmad Amhar. Pembantu²: H. Abd. Halim, H. Ibrohim, Umar Arifin dan Muhammad Tumben. Dan susunan Pengurus KPBD untuk tahun 1967/1968 ialah: Ketua I/ II /III H. Abdullah bin H. Sarmili, dan H. Abdullah Bari, H.M. Sidik H. Baidih, Penulis I / II/ III: A. Madjid H. Muhammad, Shabani H. Muhiji dan M. Husin H. Muhammad, Bendahara I/II/III: Mohd. Usman H. Muasin, Sjadli H. Abd. Aziz dan H. Rodjali. Susunan anggota Badan Pemeriksa ialah: Marali Sidup, Sjadeli H. Beberapa orang pendiri dan Pengurus KPBD tahun 1967/1968. Duduk dari kiri kekanan: Mohd. Usman bin II. Muasin, Abdullah Bari, Abd. Somad Mugni. Berdiri dari kiri kekanan: H.A. Abdullah bin H. Sarmili dan H.m. Sidik bin H. Baidih. Muhiji, Chozali Minhad, H. Hasan H. Achfasj, dan Mardjuki H. Achjani. b. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Pengusaha² batik di Djakarta tidak semuanja mendjadi anggota KPBD, terutama Tjina banjak jang tidak masuk mendjadi anggota, tetapi mendjadi langganan. Mulai tahun 1967 Tjina tersebut tidak diberi djatah lagi, sesuai dengan kebidjaksanaan Pemerintah dibidang ekonomi, jaitu: tidak adanja pendjatahan devisa lagi untuk import bahan² baku batik.
*) Laporan tidak ada. Kepengurusan dan Badan Pemeriksa: Pengurus dan Badan Pemeriksa ini dipilih oleh rapat anggota dan tiap tahun memberikan tanggung djawab pada rapat anggota mengenai tugasnja masing². Pengurus memberikan pertanggungan djawabnja pada rapat anggota berdasarkan amanat anggota pada mereka jaitu jang tertjantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Usaha serta Belandja. Kegiatan Pengurus dibidang organisasi dan idiil, usaha serta produksi, kebenaran dan keberesan administrasi keuangan dan barang serta perlengkapan lainnja. Sedangkan Badan Pemeriksa djuga memberikan laporan berkala tentang tugas² pengawasan dan pemeriksaan pada anggota melalui pengurus dan tiap tahun memberikan pertanggungan djawab dalam rapat anggota. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS KPBD: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: KPBD adalah salah satu anggota GKBI jang banjak anggotanja dan besar usahanja. Kegiatan KPBD dibidang pendidikan sedjak berdirinja ialah mendirikan Taman Kanak² Batik, S.D., SLP dan SMEA. Gedung TK dan SMEA di Kebajoran Baru dan S.D., SLP di Bendungan Ilir. TK, SD dan SLP dibawah asuhan KPBD dan SMEA gedungnja diserahkan kepada Pemerintah. Biaja pembangunan dan pemeliharaan gedung dan sekolah ini diambilkan dari dana pendidikan, pembangunan dan bantuan primer serta GKBI. Untuk tahun 1952/1961 dana pendidikan jang diterima sebesar Rp. 4.065.685,― dan telah dikeluarkan waktu jang sama sebesar Rp. 2.156.931,―. Pendidikan lainnja ialah langsung pada anggota melalui kursus²: administrasi, kekoperasian, proses batik. Disamping itu pendidikan olah raga djuga KPBD aktip jaitu : bulutangkis, volley ball, ping pong, sepakbola.
Kegiatan dibidang sosial langsung ialah menjelenggarakan Balai Pengobatan Batik. Akibat diadakannja pembangunan Rumah Sakit Sari Asih ditempat B.P. KBBD sekarang, maka kegiatan B.P. sedjak
Gedung T.K. Batik KPBD, pemeliharaannja diserahkan pada Jajasan Perguruan Widuri Djakarta.
Dana sosial jang telah diterima selama tahun 1952/1961 ialah sebesar Rp. 2.510.425 — dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 1.870. 799,—. Dalam tahun 1966 dana sosial jang dikeluarkan Rp. 113.871. 3. Pembangunan daerah kerdja: Dana pembangunan jang telah digunakan untuk gedung² SD/SMP 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan koperasi mendapat gadji bulanan dan disamping itu diberikan djaminan sosial lainnja berupa: beras, biaja pengobatan, tundjangan melahirkan, kematian, hadiah lebaran, gratifikasi tahunan dan disediakan perumahan bagi beberapa karyawan jang berhak menurut peraturan. Untuk buruh batik selain dari gadji/upah, mereka mendapat djaminan bantuan biaja pengobatan dan hadiah lebaran. Untuk karyawan pabrik selain dari jang berlaku untuk karyawan koperasi, mereka ditambah dengan pakaian kerdja tiap tahun. B. Bidang Usaha dan Produksi: 1. Permodalan: Modal utama adalah simpanan anggota, tjadangan usaha dan jang kedua ialah pindjaman² dari pihak ketiga. Waktu KPBD didirikan anggota hanja Rp. 23.300,— dan tahun 1960 sebesar Rp. 27.407.412,— dan tahun 1967 sebesar Rp. 19.166.322,—. Perkembangan modal dari tahun ketahun dapat dilihat dalam daftar dibawah ini.
Sebelum KPBD berdiri tahun 1952, penjaluran bahan baku batik GKBI/BTC kepada pengusaha' batik melalui gabungan dan koperasi² didaerah pembatikan seperti di Bendungan Ilir/Udik, Palmerah dan sebagainja. Setelah KPBD berdiri semua pengusaha batik jang menggabung padanja mendapat bahan dari KPBD dan jang tidak mendapat langsung dari GKBI. Setelah KPBD mendapat Hak Badan Hukum tahun 1953 dan mendjadi anggota GKBI No. 9, semua pengusaha batik mendapat djatah dari KPBD. Tugas KPBD melajani anggotanja dan bukan anggota jang kebanjakan pengusaha batik. Tjina WNI/Asing. Mulai tahun 1967 semua djatah Tjina telah disetop baik WNI dan Asing .
*) Angka² dalam ribuan :
Omzet KPBD tidak terdiri dari barang² GKBI sadja djuga terdiri dari bahan² penolong, hasil pendjualan batik dan pabrik tekstil KPBD.
3. Pemasaran batik: Daerah pemasaran batik anggota KPBD ialah di Pasar Tanah Abang dan ada djuga melalui koperasi. Untuk ini KPBD chusus membuka Toko Batik dikantornja dan di Pasar Tanah Abang serta Djatinegara. Motif dan proses pembuatan batik Djakarta sekarang sudah ber-matjam² djenisnja jaitu: model produksi Solo, Jogja, Pekalongan dan Banjumas sudah bisa dikerdjakan. Dahulu batik Djakarta kebanjakan produksinja batik grey sebelum perang dan sekarang sudah merata pada djenis² cambric halus dan kasar. Omzet batik untuk tahun 1966 tertjatat sebesar Rp. 24.216.170, dan ahun 1967 sebesar Rp. 12.028.969,—. 4.Pabrik Tekstil KPBD. Rentjana mendirikan pabrik sendiri sebagai realisasi berdikari dari seluruh pengusaha batik akan bahan baku cambric, maka mulai tahun 1959 telah diadakan pemupukan modal untuk pembiajaan pabrik. Pabrik jang ada sekarang belum mempunjai gedung sendiri, tetapi memakai gedung bekas pabrik/bengkel batik. Dalam tahun 1966 telah dimulai pemasangan mesin² dan jang djalan tahun 1967 sebanjak 26 buah. Djumlah mesin jang ada sebanjak 58 buah dan sekarang telah selesai dipasang. Perlengkapan lainnja jang telah ada ialah
BAGIAN: 10 KOPERASI PERSATUAN PERUSAHAAN BATIK I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Menurut pendjelasan² jang diterima dari Pengurus² Koperasi Batik didaerah Pekalongan, dikenalnja pembatikan kira² achir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Jang memperkenalkan batik di Pekalongan dan daerah sekitarnja ialah Adipati Baurekso salah seorang kepertjaan dari Ratu Mataram. Bahan baku jang dipakai waktu itu ialah hasil tenunan sendiri dan obat² batiknja djuga hasil buatan dari bahan²: nila, soga, mengkudu dan sebagai bahan garamnja dari tanah liat lumpur. Pembatikan waktu itu terbatas dikerdjakan dalam tempat tinggal Adipati dan lama- kelamaan meluas pada rakjat seki tarnja. Pola dan warna chas dari batik WONOPRINGGO ialah sogan dan sekarang terkenal dengan produksinja „tiga negeri” jang warna warni. Bahan² batik luar negeri sebagai pewarna dikenal sekitar tahun 1920 sesudah perang dunia ke-1, jang diperkenalkan oleh petugas² importir sendiri pada pengusaha² batik tjara pemakaiannja. Oleh karena obat² batik ini prosesnja lebih tjepat dan murah, maka obat² dalam negeri lama kelamaan hilang. Obat batik dan bahan cambric dapat dibeli dikota Pekalongan pada pedagang Tjina. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Perintisan menudju organisasi: Setelah dikenalnja bahan cambrics dan obat² batik buatan luar negeri terutama dari: Nederland, Djerman dan Inggeris, sekitar sesudah perang dunia ke-I maka bahan² batik mendjadi bahan perdagangan internasional. Importir dari bahan baku batik ini dipegang oleh bangsa Belanda dan Inggeris, sedangkan distributornja dan pedagang² nja didaerah pembatikan dikuasai oleh bangsa Tjina. Pengusaha batik hanja mengerdjakan sadja dan pemasaran batiknja djuga dikuasai oleh pedagang² Tjina. Setelah dikenalnja pembuatan batik tjap, kemadjuan dari proses batik lebih tjepat lagi dan menudju kearah masaal produksi. Oleh karena pengusaha batik adalah dipihak ekonomis lemah, maka akibatnja mendjadi permainan harga oleh pedagang² Tjina. Pengusaha batik terikat dengan sistim kredit dan hasil produksinja harus diserahkan kepada Tjina dimana mereka mendapat bahan baku batik. Melihat permainan dari pedagang Tjina ini maka oleh pengusaha² batik jang madju pikirannja ada keinginan untuk membentuk satu kumpulan pembelian bersama, jang dipelopori antara lain : Pak H. Sehab , Pak H. Asrori, Pak H. Nukman , Pak H. Basjuni dan lain²nja. Kumpulan ini berbentuk „Warung Bersama” jang mendjual kebutuhan dari pengusaha batik. Usaha Toko ini berhasil dan selandjutnja ditingkatkan kepada pembentukan organisasi jang waktu itu dasarnja telah ada jaitu : Undang² Perkoperasian tahun 1927. Wadah organisasi koperasi adalah sesuai dengan perdjuangan hidup dari pengusaha batik jang lemah ekonomisnja. Berdasarkan dengan Undang² 1927 jang mengatur pembentukan organisasi koperasi oleh penduduk bumi putera, maka didirikanlah „Koperasi Slamet” pertama kali. Tudjuan dari koperasi ini antara lain ialah: mengusahakan pembelian dan pendjualan bersama kebutuhan pengusaha batik. Waktu menghadapi krisis dunia, kehidupan dari koperasi ini djuga lemah. Setelah keluar dari krisis, kegiatan hidup lagi dan sampai Djepang masuk. Waktu pendudukan Djepang karena bahan² baku batik kurang dan kegiatan koperasi serta anggotanja menerima pekerdjaan membuat karung goni dari Djepang. Setelah kemerdekaan diproklamasikan kegiatan djalan terus sampai aggresi ke-I dan sudah itu terhenti, karena aktip berdjuang bersama-sama mempertahankan kemerdekaan. Setelah mendjadi daerah pendudukan tahun 1949, Koperasi Slamet mau diaktipkan kembali dan banjak anggota² jang tidak mau akibatnja dibubarkan. 3. Koperasi Batik wadah jang sesuai: Dengan dibubarkannja Koperasi Slamet, maka oleh pengusaha² batik jang dipelopori antara lain oleh: H. Muchsin, H. Asmudi, H. Mukri, H. Malbari, H.M. Sahir, H. Askari serta penasehatnja H. Solichin mendirikan koperasi jang dinamakan Koperasi „PERSATUAN PERUSAHAAN BATIK” pada tanggal 1 Djanuari 1950 dengan anggota sebanjak 27 orang. Setelah koperasi didirikan langsung berhubungan dengan pengurus GKBI dan ikut membeli saham BTC. Koperasi PPB WONOPRINGGO selandjutnja mendapat bahan baku batik dari GKBI/BTC. Waktu GKBI akan mendapat hak badan hukum tahun 1953 dimana Koperasi PPB belum mendapat hak badan hukum, hanja terdaftar sebagai tjalon anggota. Sampai PPB terdaftar mendjadi anggota penuh, selama itu mendapat bahan baku dari PPB PEKADJANGAN sebagai penjalur. a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja Koperasi PPB ialah Ketjamatan Kedungwuni Wonopringgo dan sebelum mendapat hak badan hukum, pada tanggal 2 Djuni 1953 sudah mentjapai tingkat pengamatan dan sesudah itu pada tanggal 15 Djanuari 1954 mendapat „Hak Badan Hukum” No. 869 berdasarkan Undang² Koperasi tahun 1949. Setelah mendapat hak badan hukum langsung mendjadi anggota GKBI, tertjatat No. 10 dan sesudah itu mendapat hak grossier. Setelah mendjadi grossier bahan baku langsung diterima dari GKBI dan tidak dari PPB Pekadjangan lagi. Perobahan² Anggaran Dasar jang telah diadakan ialah tahun 1961 tanggal 1 Maret dan No. 869 A dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959, serta penjesuaian terachir dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dalam tahun 1968 No. 869B. b. Keanggotaan dan Tatalaksana: Waktu didirikan tahun 1950 tertjatat djumlah anggota 27 orang dan perkembangannja tahun demi tahun terus bertambah
Ketatalaksanaan PPB WONOPRINGGO telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Belandja serta Usaha tiap² tahun oleh rapat anggota. Pengurus dalam mengatur pelaksanaan berpedoman pada ketentuan² dalam anggaran dasar dan anggaran belandja serta usaha. Pimpinan dari PPB Wonopringgo permulaan berdirinja ialah: Ketua I/II: H. Mukri, dan H. Chumaedi, Penulis I/II: Azhari dan Asmudi, Bendahara: Malbari dan Pembantu ialah: Abdurachim. Susunan Badan Pemeriksa pertama ialah: H. Sahroni, H. Muchtar dan H. Abdurachim. Pengurus ini ditetapkan masa djabatannja selama satu tahun dan sudah itu dipilih lagi oleh rapat anggota. Setelah tahun 1960 masa djabatan pengurus ini lamanja 2 tahun. Susunan Pengurus PPB WONOPRINGGO untuk masa djabatan tahun 1968/1969 ialah: Ketua I/II: H. Hisjam Basjuni, H. Malbari Masjhuri. Penulis I/II: Moh. Kamal Muchsin dan Muqodam Alwi dan Bendahara I/II: Kusjaeri Tarwan dan H. Dhamiri Dani dan Komisaris ialah: Rosichin Sehab. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Djazuli Riwan, Moh. Djundi dan Moh. Zuber Masjhuri. Dalam pimpinan GKBI wakil PPB WONOPRINGGO jang pernah mendjabat Komisaris ialah: K.H. Solichin, H. Malbari, H. Asmudi dan untuk masa djabatan 1966/1968 diwakili oleh Sdr. H. Hisjam Basjuni. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS PPB WONOPRINGGO: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan Koperasi PPB WONOPRINGGO dibidang pendidikan jaitu a.l. memberikan kursus kekoperasian pada anggotanja. Disamping itu pendidikan untuk keluarga anggota ialah menjelenggarakan Taman Kanak² Batik dan S.D. Islam, Sekolah Landjutan jaitu: SMI. dan Sekolah Muallimaat jang penjelenggaraannja dilakukan oleh J.M.I (Jajasan Madrasah Islam) Wonopringgo. Untuk tenaga ahli dibidang tekstil PPB mengirim anak anggota kesekolah Tinggi Tekstil Bandung. Dana pendidikan jang diterima sedjak berdirinja sampai sekarang ialah Rp. 295.399,— dan telah digunakan pula sebesar Rp. 300.450,—. Kegiatan dibidang sosial ialah membuka Balai Pengobatan Batik jang terbuka untuk anggota, karyawan, buruh batik serta keluarganja dan masjarakat daerah kerdja. Sedjak berdirinja perkembangan banjaknja pasien dan biaja jang dikeluarkan ialah: tahun 1956 sebanjak 12.903 orang, tahun 1959 sebanjak 4.611 orang dan biajanja disatukan dengan primer² lainnja dalam Madjelis Koperasi Pekalongan. Tahun 1962 banjaknja pasien 3.660 orang, besarnja biaja Rp. 126.918,— tahun 1965 pasien 2.732 orang dan biaja Rp. 3.839.701,—. Biaja untuk Balai Pengobatan ini diambilkan dari dana sosial dan bantuan dari GKBI. Disamping itu kegiatan PPB WONOPRINGGO ialah mengadakan chitanan untuk anak2² anggota dan masjarakat daerah kerdja. Memberikan bantuan pada fakir miskin, organisasi² sosial, madrasah, dan mesdjid. Dana jang dikeluarkan sedjak berdiri sampai sekarang ialah sebanjak Rp. 815.599,— dan jang diterima sebesar Rp. 820.560,—. 3. Pembangunan daerah kerdja: Untuk kemadjuan daerah kerdja kegiatan PPB ialah antara lain mendirikan gedung kantor, STK, SD. Islam, sebuah complex gedung atau siongka. Dalam rentjana ialah akan membangun gedung pertemuan umum dan dananja sedjak tahun 1965 telah dipungut dari anggota sebagai sumbangan chusus, dan telah terkumpul sebesar Rp. 25.293,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 10.560.84,— untuk keperluan pembangunan daerah. Dari dana pembangunan jang didapat dari sisa hasil usaha telah terkumpul sebesar Rp. 291.117,— telah dikeluarkan sebesar Rp. 290.963,—. Pembangunan atas usaha 6 primer batik di Pekalongan ialah mendirikan gedung wisma satok, pemerintahan Pekalongan. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Untuk kesedjahteraan karyawan koperasi dan pabrik tekstil, selain dari gadji bulanan, djuga diberikan bantuan beras tiap djiwa perbulan, hadiah tekstil lebaran dan hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Disamping itu diuga diberikan bantuan biaja pengobatan. Untuk karyawan pabrik diberikan pakaian dinas kerdja. Buruh batik selain mendapat upah harian djuga diberi bantuan biaja pengobatan dan hadiah lebaran dalam bentuk uang dan teksul lebaran. B. Bidang Usaha dan Produksi: 1. Permodalan: Sumber permodalan bagi PPB ialah simpanan anggota tjadangan/dana², dan pindjaman dari pihak ketiga. Waktu PBB didirikan tahun 1950 tertjatat besarnja modal sebesar Rp. 91.500,— dan djumlah simpanan dan modal ini tiap tahun bertambah sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan. Achir tahun 1960 djumlah simpanan tertjatat Rp. 16.423.326,— achir tahun 1965 tertjatat Rp. 602.393. 831,— dan achir tahun 1967 tertjatat Rp. 3.966.959,—. Untuk djelasnja perkembangan simpanan dan permodalan KPPB WON. dapat dilihat dihalaman 320.
2. Distribusi bahan baku batik : Sebelum PBB mendjadi anggota GKBI, mendapat bahan bakunja dari PPB PEKADJANGAN DAN PPB WONOPRINGGO sebagai penjalur. Setelah mendjadi anggota tahun 1954 diangkat mendjadi grossier GKBI dan langsung mendapat bahan baku batik. PPB WONOPRINGGO selain menjalurkan bahan GKBI djuga menjalurkan hasil produksi sendiri jaitu : grey dan gondo serta batik dan bahan penolong lainnja.
Perkembangan seluruh omzet, biaja dan sisa hasil usaha PPB sedjak berdirinja dapat dilihat dibawah.
Semendjak sebelum perang dunia kesatu, pengusaha² batik di FPB WONOPRINGGO telah berusaha mentjari pemasaran batiknja keluar dari Pekalongan. Waktu itu bagaimana djuga sukarnja perhubungan, daerah pemasarannja sudah sampai ke Djawa Barat dan daerah² Djawa Tengah lainnja. Setelah perang dunia kesatu dan sampai petjahnja perang Pasifik pemasaran batik telah meluas sampai keluar Pulau Djawa dan bahkan ada jang dieksport. Setelah kemerdekaan dengan adanja koperasi, pemasaran ini diperluas lagi melalui koperasi dan tahun 1959 achir sampai 1963 diadakan pool batik oleh GKBI. Sesudah itu penampungan batik oleh GKBI hanja terbatas pada penjediaan batik lebaran dan tahun baru. Perkem bangan pemasaran batik 3 tahun belakangan ini oleh PPB WONOPRINGGO sangat terbatas sekali jaitu: tahun 1965 sebesar Rp. 227.712.566,— tahun 1966 sebesar Rp. 2.192.888 ,— dan tahun 1967 sebesar Rp. 380.510,—. Rentjana pendirian pabrik tekstil ini telah mendjadi tudjuan dari berdirinja koperasi batik dan baru dapat direalisir tahun 1965. Pemupukan modal untuk pendirian pabrik ini dimulai tahun 1962 sedangkan untuk Pabrik Gondo tahun 1959. Pabrik Tekstil PPB WONOPRINGGO: Pendirian gedung pabrik selesai achir tahun 1964 dan tahun 1965 telah mulai berproduksi. Investasi dalam mesin2 achir tahun 1965 terdiri dari: mesin tenun sebanjak 34 buah seharga Rp. 33. 100.000,— mesin klos untuk 50 spindel seharga Rp. 2.140.000,— mesin palet untuk 24 spindel seharga Rp. 7.650.000,{[--}} dan mesin hani seharga Rp. 2.500.000,— dan djumlahnja seharga Rp. 45. 390.000,—. Pada achir tahun 1967 djumlah investasi dalam Pabrik Tekstil ialah: tanah dan gedung Rp. 133.288,—, mesin dan perlengkapannja Rp. 417.855,— instalasi listrik/air Rp. 84.024,— dan inventaris Rp. 38.661,—. Pabrik Gondo: Pabrik Gondo ini telah dibeli oleh PPB sedjak tahun 1959 dan sampai modal jang dibutuhkan sekarang tinggal hanja modal kerdja untuk pembelian bahan2 baku dan ongkos² lainnja. Perkembangan produksi pabrik untuk 3 tahun belakangan ialah: Tahun 1965 getah pinus jang dibeli sebanjak 121.948 kg seharga Rp. 20.845.797,— dan menghasilkan gondo bersih jang didjual kepada anggota 84.212 kg seharga Rp. 40.619.240,- dan kepada langganan gondo kotor, terpentyn dan kotoran getah sebanjak 11.983 kg seharga Rp. 3.853.430,—. Sisa produksi sebanjak 10.830 kg gondo bersih dan 3.085 kg gondo kotor, terpentyn dan getah kotoran. Dalam tahun 1967 pembelian getah pinus sebanjak 141.300 kg dan jang telah direalisir sebanjak 85.880 kg seharga Rp. 693.390,— Hasil produksi jang didjual pada anggota dan langganan seharga Rp. 1.559.654,— dan sisa produksi terdiri dari gondo bersih sebanjak 16.991 kg seharga Rp. 382.308,75 dan tjampuran sebanjak 2.916 kg seharga Rp. 27.210,— dan sisa bahan sebanjak 7.476 kg seharga Rp. 56.070,—. Karyawan Pabrik Gondo djaminan sosialnja ialah selain dari upah bulanan dan harian mendapat djaminan lainnja jaitu: bantuan beras bulanan, hadiah lebaran dan gratifikasi tiap tahun.
BAGIAN: 11 KOPERASI BATIK Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan Hak Badan Hukum No. 872/25-1-1954 I. ORGANISASI: 1. Pendahuluan: Awal abad ke-20 proses pembatikan dikota Pekalongan masih dikerdjakan setjara sederhana jaitu batik tulis. Bahan kain putihnja disamping mempergunakan hasil tenunan dalam negeri (tenun gendong) djuga telah dikenal mori import. Bahan obat² batik sebagai alat pewarna masih mempergunakan bahan² dalam negeri antara lain: mengkudu, nila, teger dsb. Pembikinan batik tjap baru dikenal setelah perang dunia pertama jaitu tahun 1918. Sedangkan obat² pewarna dari luar negeri terutama dari Djerman baru dikenal sekitar tahun 1925. Tjara memperkenalkan obat² batik luar negeri ini oleh petugas² importir langsung mendatangi para pengusaha batik dan mendemonstrasikan bagaimana tjara² penggunaannja. Pengaruh obat² batik luar negeri ini besar sekali terhadap proses teknik dan pewarnaan batik di Pekalongan. Bahan² baku batik baik mori maupun obat2nja di Pekalongan diperdagangkan oleh bangsa Tjina jang mendapat langsung dari para importir Belanda jang tergabung dalam “Big Five”. Hasil² produksi pengusaha batik djuga dikuasai oleh bangsa Tjina dan sebagian bangsa Arab. Para pengusaha batik terikat dengan sistim kredit jang diberikan oleh pedagang² bahan baku batik tadi jang mengakibatkan hasil produksinja djuga didjual pada bangsa Tjina tadi. Pengusaha² jang modalnja tjukup tidak terikat dengan sistim kredit, pemasaran batiknja ditjari sendiri. Akibat sistim kredit ini memberikan effect jang tidak menguntungkan kepada sebagian besar pengusaha batik dan mereka mendjadi mangsa spekulasi dari pedagang² Tjina dan Arab, baik dalam pembelian bahan baku batik maupun dalam pendjualan hasil produksi mereka. Tekanan ini sangat berat dirasakan waktu ada krisis ekonomi dunia sekitar tahun² 1929 dan banjak pengusaha² batik jang terlibat dalam kredit/ hutang pada pedagang² Tjina dan Arab. Setelah krisis berachir maka timbul kegiatan kembali dalam dunia pembatikan dan terutama jang muntjul ialah pedagang² bahan baku batik tadi berobah mendjadi peng usaha batik Akibat krisis dunia jang tjukup lama itu (1928 — 1932) maka pemasukan bahan² baku batik ke Indonesia berkurang banjak sekali dan djuga produksi batik turun tjepat sekali. Akibatnja djumlah batik jang tersedia pada pedagang2 batik djuga berkurang. Kesempatan ini dipergunakan baik oleh importir² bahan baku batik maupun oleh pedagang² batik untuk mengadakan pemesanan jang mengakibatkan timbulnja kegiatan² disektor produsen batik dikota Pekalongan. Oleh karena pengusaha² batik sebagian besar lemah dalam permodalan maka mereka terdjerumus lagi kedalam sistim kredit jang mendjadi objek spekulasi oleh pedagang² Tjina dan Arab. Melihat permainan dan praktek jang tidak baik ini dari bangsa Tjina dan Arab terhadap pengusaha² batik, maka beberapa pengusaha batik besar merentjanakan untuk membentuk suatu organisasi jang achirnja dinamakan „Batik Bond”. 2. Masa Perintis: Pengusaha² batik jang sadar akan akibat permainan bangsa Tjina dan Arab terhadap bangsa kita, maka pada tahun 1936 mereka berkumpul untuk mendirikan suatu organisasi jang diberi nama „Batik Bond" dengan tudjuan ialah:
Pelopor² dari organisasi Batik Bond ini antara lain: Hadji Ali djeri, Hadji Zarkasi, Hadji Akil, Hadji Modenoer Wirio. Usaha dari Batik Bond mendapat rintangan dan halangan dari pedagang² Tjina dan Arab di Pekalongan. Sistim perdagangan antara Importir Belanda jang tergabung dalam "Big Five" dengan pedagang² besar Tjina/Arab di kota² pembatikan selama ini memakai sistim kredit djangka pendek lebih kurang 3 bulan. Dari pedagang Tjina/Arab ini kepada pengusaha batik bangsa Indonesia diberikan pula kredit djangka pendek satu atau dua bulan atau dengan tjara pertukaran bahan baku dengan hasil produksi batik. Oleh karena Batik Bond mau membeli langsung pada para importir dan importir tidak mau kekurangan langganannja selama ini, maka kepada kita diwadjibkan transaksi dengan tunai dan ini tidak mungkin dilaksanakan oleh para pengusaha batik. Akibat perdjuangan para pengusaha batik didaerah-daerah lainnja jang mendesak pada Pemerintah dalam hal ini Departemen van Economische Zaken maka untuk menetapkan harga cambric dan mengatur perdagangannja dibentuklah "Cambrics Convenant" di Semarang dan Greys Convenant di Djakarta. Antara Departemen van Economische Zaken dan Convenant diadakan perundingan untuk menetapkan harga cambrics dan grey jang menghasilkan tiga tingkat harga jaitu:
Perbedaan harga masing² tingkat bergerak antara 2 — 15 sen setiap blok/pis kain putih. Para pengusaha batik ketjil jang disebut langganan C itu menggabung kedalam Batik Bond dan berusaha supaja dapat membeli dengan tingkat harga A. Usaha untuk membeli dengan tingkat harga A ini berhasil, tetapi harus tunai dan ini tidak mungkin, karena selama ini hidupnja para pengusaha batik mendapat kredit dari Tjina. Disinilah tekanan² jang kita peroleh dari bangsa Belanda dan kepada bangsa Tjina mereka memberikan fasilitas jang lebih baik dalam transaksi perdagangan dan kredit. Usaha Batik Bond ini berdjalan sampai petjahnja perang dunia ke-II tahun 1939 dan waktu Djepang masuk ke Indonesia kegiatan Batik bond tidak kelihatan lagi. Waktu pendudukan Djepang itu kegiatan produksi batik djuga berkurang, diakibatkan bahan baku dari luar negeri tidak masuk dan sebagai bahan baku ditjukupi dengan persediaan jang masih ada dan bahan² kain putih lainnja jang bisa didijadikan batik. Waktu pendudukan Djepang itu pula di Pekalongan oleh pengusaha/pedagang batik didirikan pula „Persatuan Dagang Indonesia Pekalongan jang disingkat PERDIP dan dipelopori oleh antara lain : Hadji Djehri, Hadji Djadjuli. Kegiatan PERDIP ini disamping usaha kebutuhan se-hari² untuk pengusaha batik djuga menijarikan bahan baku batik untuk pengusaha batik. Kegiatan PERDIP ini sampai permulaan kemerdekaan Indonesia dan sudah itu berkurang karena pengusaha² batik aktip dalam mempertahankan kemerdekaan bersama2 patriot lainnja. Setelah perdjuangan clash I jaitu tahun 1947, Pekalongan mendjadi daerah pendudukan Belanda, maka aparatur pemerintahan dilengkapi mereka termasuk Bureau Industrieele Herstel (B.I.H.) dari Afdeling Nijverheid, Departemen van Economische Zaken. Petugas2 BIH mengadakan pentjatatan kembali pengusaha batik serta djumlah dan matjam kebutuhan mereka. Maka selama pendudukan itu kebutuhan bahan baku batik didjamin oleh B.I.H. tersebut. Pada tahun 1947 itu pula gidirikan organisasi Indonesia Makmur jang bertudjuan membelikan langsung kebutuhan bahan baku batik dari importir sama dengan kegiatan Batik bond dahulu. Organisasi ini dipelopori oleh Lutan Sutan Amiruddin seorang pedagang batik dikota Pekalongan. Belakangan Indonesia Makmur ini kegiatannja diperluas dan dirobah namanja mendjadi „Persatuan Pertenunan Indonesia Pekalongan” dan dipelopori oleh antara lain : Lutan Sutan Amiruddin, Hadji Zein Muhammad dan Hadji Zein Iljas. 3. Koperasi Wadah Pemersatu: Disamping organisasi Persatuan Pertenunan Indonesia Pekalongan djuga ada dua organisasi lainnja jaitu: Persatuan Pembaikan Pekalongan dan Organisasi Famili jang ke-dua²nja bergerak dibidang pembatikan. Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda achir tahun 1949 dan dalam tahun 1950 pengusaha² batik jang ikut aktip bergerilja sudah banjak kembali kekota maka kekuatan2 untuk menudju pembentukan organisasi koperasi bertambah kuat. Atas andjuran pedjabat tinggi dari Kementerian Kemakmuran antara lain Bapak Prof. Ir. Teko Sumodiwirjo dan Bapak Prof. Suriaatmadja, maka dibentuklah organisasi koperasi jang dinamakan „Persatuan Pembatikan Indonesia Pekalongan (P.P.I.P.) hasil fusi dari empat organisasi jaitu: Persatuan Pembatikan Pekalongan Koperasi Persatuan, Koperasi Rukun Famili, dan Koperasi Persatuan Perindustrian Pekalongan” pada tanggal 14 Agustus 1952, bertempat di Djalan Bendan Pekalongan, dengan djumlah anggota 82 orang terdiri dari 74 pria dan 8 wanita. Susunan pendiri dari Koperasi Batik P.P.I.P. ialah: H.A. Djunaid, H. Ridwan, H. Zein Muhammad, H. Mirza Djahri, Abdullatif, H. Zein Iljas dan H. Amin Djahri. Dan waktu itupun telah terbentuk susunan Pengurus PPIP pertama jaitu:
Waktu itu susunan Badan Pemeriksa belum dibentuk. Tudjuan dari pengusaha batik dikota Pekalongan mendirikan koperasi antara lain ialah:
Dengan berdirinja P.P.I.P. hubungan dengan Koperasi Pusat G.K.B.I. bertambah lantjar dan P.P.I.P. langsung membeli saham N.V. Batic Trading Company (BT.C.) kepunjaan G.K.B.I. P.P.I.P. mentjapai tingkat pengamatan Pemerintah tanggal 22 September 1952 dan tingkat pengawasan tanggal 25 Djanuari 1954 No. 872. Waktu G.K.B.I. akan mendapat hak badan hukum pada tanggal 25 Agustus 1953 jang sjah mendjadi anggota ialah Koperasi² Batik jang telah memiliki badan hukum. P.P.I.P. waktu itu belum memiliki hak badan hukum dan baru tingkat pengamatan dan terdaftar sebagai tjalon anggota. Perkembangan anggota P.P.I.P. sedjak berdirinja tahun 1952 sampai sekarang terus bertambah dan untuk djelasnja bisa dilihat daftar perkembangan anggota sebagai berikut:
Dalam organisasi koperasi jang bergerak dibidang usaha dan idiil telah ditetapkan blue printnja dalam Anggaran Dasar masing² tudjuan dan daja upaja untuk mentjapai tudjuan tersebut. Struktur organisasi jang didapati dalam koperasi ialah :
Perkembangan organisasi P.P.I.P. mulai dari berdirinja sampai sekarang tetap dipegang oleh pendiri²nja semula jang mengatur kebidjaksanaan jang dipertjajakan oleh Rapat anggota kepadanja. Hanja pernah selama setahun jaitu tahun 1964/1965 dipegang oleh Team Pengawas jang terdiri dari unsur² Pantja Tunggal Kotamadya Pekalongan. Sedjak berdirinja P.P.I.P. Pengurusnja aktip bersama-sama dengan Primer lainnja dan Pengurus GKBI, berdjuang dan meminta kepada Pemerintah supaja kebutuhan pengusaha batik diatur sendiri oleh koperasi jang paling mengetahui. Perdjuangan ini setahap demi setahap berhasil jaitu dengan adanja Pool cambric pada tahun 1952. Setelah GKBI mendapat hak badan hukum Agustus 1953 dan disjahkan sebagai importir maka perdjuangan ini lebih ditingkatkan lagi jaitu kearah import tunggal bahan cambric. Mulai tahun 1955 pimpinan GKBI dipegang oleh Sdr. A. Djuraid dari P.P.I.P. dan sampai sekarang, ketjuali pada tahun 1965/1966 selama 6 bulan dipegang oleh Care Taker dari Departemen Transkop. Perkembangan keanggotaan mulai dari berdirinja tahun 1952 sampai tahun 1955 dari djumlah 82 mendjadi 542 orang dan kenaikan rata² sebanjak 150 orang tiap tahun. Pertambahan anggota ini disebabkan kegiatan perdagangan disektor batik normal dan merupakan lapangan kerdja jang baik bagi pengusaha dan buruh batik. Achir tahun 1955 GKBI ditundjuk oleh Pemerintah sebagai importir tunggal cambrics dan semua stock jang ada pada Pemerintah diserahkan pada GKBI. Akibatnja djumlah cambric jang beredar dalam pasar belum bisa dikuasai oleh GKBI semuanja dan penawaran lebih banjak dari semula, akibatnja harga turun. Dalam tahun 1956 dan 1957 keadaan politik dalam negeri tidak stabil dan memberi pengaruh pada sektor ekonomi dan timbul kelesuan dalam dunia produksi dan banjuk perusahaan jang tutup. Djumlah anggota berkurang tahun 1956 sebanjak 38 orang dan tahun 1957 sebanjak 19 orang. Dalam tahun 1958 djumlah anggota bertambah lagi sedangkan dibandingkan dengan djumlah djatah jang dibagikan oleh GKBI dari tahun² dimuka berkurang banjak sekali. Pertambahan anggota sebanjak 33 orang tabun 1958 antara lain disebabkan hangatnja harga bahan baku batik dan produksi batik. Perbedaan harga ini merupakan perangsang terus bagi orang untuk membuka perusahaan² baru. Untuk tahun² berikutnja perbedaan harga antara koperasi dengan harga pasar bebas mangkin lama mangkin besar dan menambah kuatnja nafsu orang untuk membuka perusahaan² baru. Dan kesempatan ini oleh Pemerintah djuga dibuka dengan memberikan lisensi² baru. Akibatnja djumlah anggota P.P.I.P. bertambah sebanjak 380 orang selama 10 tahun dibandingkan dengan tahun 1958 tertjalat hanja 518 orang dan sekarang achir tahun 1967 tertjatat sebanjak 898 orang. Susunan Pengurus terachir PPIP ialah:
Sesuai dengan perkembangan dan kegiatan PPIP mangkin lama mangkin luas baik dibidang usaha maupun idiil, maka dirasakan kebutuhan gedung untuk kantor jang representatip. Tahun 1954 diputuskan untuk membeli gedung kantor di Djalan Dokrian No. 39 seharga Rp. 450.000,- Untuk mentjapai tjita2 koperasi jaitu melengkapi kebutuhan sendiri akan bahan baku batik, maka tanggal 30 Djanuari 1955 Rapat Anggota PPIP memutuskan untuk membangun Pabrik Cambric sendiri. Dalam rangka mengatur kerdja sama antar koperasi di Kota dan Kabupaten Pekalongan maka dibentuklah satu organisasi diluar koperasi jang dinamakan ,,Madjelis Koperasi Kota/Kabupaten Pekalongan jang pertama kali beranggotakan 4 koperasi jaitu: Koperasi P.P.I.P. Pekalongan Kota, P.P.B. Pekadjangan, K.P.P.B. Wonopringgo dan Kopindo Pentjongan Wiradesa. Sekarang kegiatan Madjelis ini diperluas daerah kerdjanja seluas bekas daerah Karesidenan Pekalongan. Djadi djumlah anggota Madjelis sekarang 8 buah jaitu: Koperasi' Buwaran di Buwaran, Setono di Setono Batang, Persaudaraan di Tjomal Pemalang dan Gaperbi di Tegal. Pimpinan dari Madjelis dipegang oleh Sekretaris jang diambilkan dari salah satu koperasi dan bergiliran tiap tahun. Kegiatan dari Madjelis ini terutama ialah memetjahkan persoalan² jang dihadapi oleh koperasi jang sifatnja extern organisasi misalnja:
II. AKTIVITAS KOPERASI SELAMA BERDIRI: A. Bidang Idiil: Aktivitas PPIP dibidang idiil dapat dibagi dalam tiga bidang jaitu: pendidikan, sosial dan pembangunan daerah bekerdja. 1. Pendidikan : Pendidikan adalah satu sendi dalam koperasi Indonesia dan diatur dalam Undang2 Koperasi maupun Anggaran Dasar koperasi bersangkutan. Biaja untuk pendidikan ini terutama diambilkan dari sisa hasil usaha tiap achir tahun sebesar 5%. Dan kalau djumlah ini tidak mentjukupi dibandingkan dengan kegiatan pendidikan PPIP maka pada anggota dipungut sumbangan chusus melalui distribusi cambric. Sedjak berdirinja PPIP dana pendidikan jang telah terkumpul sampai achir tahun 1958 sebesar Rp. 408.310,84 dan telah disumbangkan kepada kegiatan pendidikan sebesar Rp. 331.522,96. Selama enam tahun itu pendidikan jang diselenggarakan untuk anggota dan karyawan ialah kursus2 meliputi mata peladjaran : Ke-Kope-rasian, tata-buku, Pengetahuan dan Hukum dagang dan Bahasa Inggeris. Disamping itu untuk kebutuhan tenaga teknis dalam pabrik cambric PPIP mengirimkan anak keluarga pembatik kesekolah Institut Teknologi Tekstil di Bandung sebanjak 4 orang dan selesai pada Untuk keluarga batik djuga diadakan pendidikan jaitu pada tahun 1957 diresmikan berdirinia gedung pendidikan Taman Kanak² Batik PPIP jang gedungnja dibantu pembangunannja oleh GKBI. Kegiatan pendidikan lainnja ialah bidang olah raga untuk anggota dan anak² anggota serta karyawan. Tjabang olah raga jang ada ialah: sepak bola, volley ball, bulu tangkis. Chusus untuk Primera di Pekalongan ada kesebelasan batik jang dinamakan „BOND BATIK”. Bond Batik ini telah mengadakan tournja kedaerah² Primer lainnja dan dalam rangka peringatan² hari bersedjarah diadakan pertandingan antar daerah jang diikuti oleh bond² batik: Solo, Pekalongan, Djawa Timur dan Tasikmalaja. Disamping itu Koperasi PPIP dan Pabrik Tekstilnja tidak ketinggalan pula mendjadi alat penjelijikan bagi peladjar dan mahasiswa² dalam rangka studinja. Dan djuga dari lembaga², instansi dan kedutaan²/perwakilan negara asing jang ada di Indonesia PPIP dan Pabrik Tekstilnja mendapat kundjungan pula kalau mereka datang ke Pekalongan. Untuk memenuhi 2. Sosial: Kegiatan PPIP dibidang sosial, terutama untuk kesedjahteraan anggota dan keluarga, buruh dan keluarga, disamping masjarakat daerah kerdja. Pada tahun 1954 didirikanlah sebuah Balai Pengobabatan Batik jang biajanja dibebankan pada dana sosial dan sumbangan anggota PPIP dan sumbangan dari GKBI. Sumbangan anggota chusus untuk biaja Balai Pengobatan ini diambilkan waktu ada pembagian djatah mori. Balai Pengobatan ini diasuh oleh seorang Dokter dan dua Menteri dan Perawat. Balai Pengobatan disediakan untuk anggota dan keluarganja, buruh/karyawan koperasi dan keluarganja dan untuk umum. Disamping pemeriksaan higeni djuga disediakan pengobatan jang lengkap dengan harga murah. Disamping Balai Pengobatan ini, PPIP djuga memberikan bantuan² sosial langsung pada masjarakat berbentuk uang dan barang. Sifat bantuan sosial dan objeknja antara lain:
3. Pembangunan Daerah Kerdja: Kegiatan dibidang pembangunan daerah ini ditudjukan untuk melantjarkan usaha PPIP, memperbanjak perlengkapan produksi buat meningkatkan kesedjahteraan anggota chususnja dan daerah bekerdja pada umumnja. Pembangunan jang telah dilaksanakan sedjak berdirinja PPIP ialah: Gedung kantor, gedung Balai Pengobatan, Gedung Taman Kanak² Batik, Pabrik Tekstil, gedung Pendidikan, dan gedung Balai Pertemuan. Dari dana pembangunan daerah kerdja jang telah masuk dan dikeluarkan selama periode:
Disamping dana² dan sumbangan chusus jang disisihkan dari sisa hasil perusahaan dan dari anggota, maka ada pula dana atau sumbangan dari masjarakat batik didaerah Djawa Tengah jang diberikan pada Teritorium IV. Pemungutan dana langsung oleh GKBI melalui distribusi bahan mori tiap² bulan. Sudah itu ada dana lagi jang dipungut oleh GKBI jaitu Dana Dwikora dan Dana Planetarium. B. Bidang Komersil: 1. Permodalan: Sudah merupakan pendapat umum baik Pemerintah maupun ahli² ekonomi bahwa koperasi itu adalah lemah dibidang permodalan. Pendapat ini ada benarnja, karena jang tergabung dalam koperasi jalah orang² atau organisasi² jang lemah ekonominja. Untuk ini perlu perlindungan dan bimbingan serta fasilitas sampai kepada tingkat pertumbuhannja jang baik untuk menghadapi saingan² badan ekonomi jang bukan koperasi dan pada umumnja kuat permodalannja. Bagi koperasi jang bergerak dibidang industri dan komersil faktor modal ini lama kelamaan bisa diatasi Kalau diperhatikan waktu berdirinja PPIP pada tahun 1952 dengan anggota sebanjak 80 orang djumlah modal pertama jang terkumpul hanja sebesar Rp. 205.000,-. dan tiap tahun angka perkembangan modal ini memberikan grafik menaik terus dan djuga keanggotaannja. Sebagai ilustrasi disadjikan perkembangan modal anggota sbb.:
Perkembangan simpanan dari tahun ketahun terus menaik dan dalam tempo 3 tahun naik sebesar Rp. 7.694.463,—. Kenaikan ini karena PPIP telah memutuskan akan membangun Pabrik Tekstil dalam tahun 1955 dan pemungutan simpanan untuk pembiajaan pabrik itu diintensifkan tiap2 bulan melalui distribusi cambric . Dalam tahun 1957 djumlah modal tertjatat sebesar Rp. 17.068.046,— dan kenaikan ini ditambah pula dengan ada pungutan simpanan wadjib chusus oleh GKBI untuk pembiajaan Pabrik Cambric GKBI di Medari Jogjakarta. Dan tahun 1965 tertjatat simpanan/modal PPIP sebesar Rp. 1.918.606.403,— dan tahun 1966 akibat pemotongan atau penurunan nilai mata uang rupiah, maka modal dari djumlah Rp. 13 miliar lebih tinggal hanja Rp. 13.078.453,—. Dan achir tahun 1967 modal PPIP tertjatat sebesar Rp. 17.744.071,—. Untuk memutarkan usaha PPIP selain dari modal sendiri djuga mendapat kredit dari GKBI. Modal ini dipergunakan pembelandjaan antara lain : modal kerdja, diinvestasikan dalam harta tetap, pabrik tekstil dan disimpan di GKBI. Sebagai illustrasi disadjikan penggunaan modal PPIP :
Sedangkan djumlah simpanan di GKBI djuga menundjukan angka jang besar naiknja setelah tahun 1963 dan ini disebabkan karena GKBI membutuhkan modal besar dan pemungutan simpanan pun diperbesar. Semendjak PPIP berdiri tahun 1952 telah mendapat bahan baku batik langsung dari GKBI dan setelah mendapat hak badan hukum tahun 1954 PPIP ditundjuk sebagai Grossier bahan baku batik. Tugas dari PPIP ialah menjalurkan bahan baku batik jang diperoleh dari GKBI kepada semua pengusaha batik dan keradjinan batik jang terdaftar dan bertempat tinggal didaerah kerdja PPIP. Djumlah mori jang diperdapat dari GKBI tiap² bulan 6% dari seluruh djatah jang dibagikan.
Disamping usaha jang diperoleh dari GKBI, PPIP sendiri aktip menjediakan kebutuhan anggotanja jaitu: hasil pabrik tekstil sendiri, bahan baku penolong dan batik hasil produksi anggota. Dibawah ini dapat dilihat perkembangan omzet dan sisa hasil perusahaan.
Batik produksi Pekalongan sudah dikenal oleh masjarakat Indonesia dan Asia Tenggara semendjak zaman sebelum krisis ekonomi dunia. Tjorak batik Pekalongan chususnja Pekalongan kota terkenal dengan batik tulisnja jang aneka warna dan motif serta designnja menjesuaikan dengan selera konsumen. Disamping batik djuga terkenal dengan produksi sarungnja jang digemari oleh masjarakat Tionghoa dan luar Djawa dan Asia Tenggara. PPIP aktif mentjarikan pasaran batik anggotanja dengan membuka Toko Batik jang mendjual aneka matjam batik mulai dari produksi kasar sampai halus. Dan djuga matjam² produksi lainnja seperti taplak medja, hiasan dinding, selendang, sprei, bahan rok dan kemedja. Produksi batik tertinggi jaitu tahun 1956 sebanjak lebih kurang 2,4 djuta potong. Sebagian produksi ini pemasarannja diusahakan oleh PPIP dan sebagian lagi langsung oleh anggota dan pengusaha batik. Mulai tahun 1960 sampai pertengahan tahun 1963, 70% dari djumlah produksi anggota ditampung oleh PPIP. Mulai tahun 1958 Pabrik Tekstil PPIP sendiri menghasilkan bahan mori Baros sebesar 500.000 yard setahun. Dan produksi batiknja dikenal dengan nama Batik Padi Kapas, dan pendjualan hasil produksi anggota melalui PPIP. Omzet dari matjam² batik selama tahun 1965 meliputi djumlah jang tidak sedikit tertjatat sebesar Rp. 1.164.261,372,— dan mendatangkan sisa hasil sebesar Rp. 201.306.981,— dan 35% dari sisa hasil bruto. 4. Pabrik Tekstil PPIP: Pabrik Tekstil PPIP adalah pelaksanaan dari keputusan RTA 1955 dan selesai tahun 1957 dan mulai produksi tahun 1958. Perlengkapan produksi dan modal untuk pabrik ini tertjatat:
Dan perlengkapan² lainnja. —————————— Djumlah investasi . . . . . .Rp. 7.049,176,— Dalam tahun 1963 ditambah modal sebesar Rp. 21 djuta untuk perluasan mesin tenun 100 ATM dan bangunan serta perlengkapan lainnja. Modal kerdja jang diperlukan untuk 100 mesin tertjatat Rp. 1.950.824,—. Sampai achir tahun 1965 investasi tetap pada pabrik tertjatat sebesar Rp. 280.925.738,— dan biaja perluasan mesin tenun Rp. 220.630.676,—. Hasil produksi padi kapas jang diserahkan jang didjual pada PPIP selama tahun 1965 seharga Rp. 333.247.518,— dan tahun 1967 tertjatat sebesar Rp. 11.614.112,— Management dari pabrik ini adalah otonom dan bertanggung djawab pada Pengurus Pleno dan djuga administrasinja tersendiri. Pimpinan pabrik dipegang oleh seorang Pengurus dan dibantu oleh seorang Kepala Pabrik dan staff.
—————— Buruh batik sedang menekankan tjapnja. BAGIAN: 12 KOPERASI BATIK TULUNGAGUNG „B.T.A.” DJALAN SRUNI No. 2 TELP. No. 117 I. RIWAJAT PEMBATIKAN: 1. Asal-usul pembatikan di Tulungagung. Riwajat berseminja pembatikan didaerah Tulungagung, dapat dikenal bila kita gali dari peninggalan dizaman keradjaan Madjapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung jang sebagian terdiri dari rawa² dalam sedjarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, jang pada sa’at berkembangnja Madjapahit daerah itu dikuasai oleh seorang jang bernama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada keradjaan Madjapahit. Ditjeriterakan bahwa dalam aksi Polisionil jang dilantjarkan oleh Madjapahit, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran jang konon diwartakan disekitar desa jang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka Petugas² Tentara dan keluarga keradjaan Madjapahit jang menetap dan tinggal diwilajah Bonorowo atau jang sekarang bernama Tulungagung antara lain djuga membawa kesenian membuat batik asli. Tjiri chas dari Batik Kalangbret adalah hampir sama dengan Batik² keluaran Jogjakarta, jaitu dasarnja putih dan warna tjoraknja tjoklat muda dan biru tua. Jang dikenal sedjak lebih dari seabad jang lalu tempat pembatikan didesa Madjan dan Simo. Desa ini djuga mempunjai riwajat sebagai peninggalan dari zaman peperangan Pangeran Diponegoro tahun 1825. Didalam berketjamuknja clash antara Tentara Kolonial Belanda dengan Pasukan² Pangeran Diponegoro maka sebagian dari Pasukan² Kjai Modjo mengundurkan diri kearah timur dan sampai sekarang bernama desa Madjan. Sedjak zaman pendjadjahan Belanda hingga zaman kemerdekaan ini desa Madjan berstatus desa Merdikan (Daerah Istimewa), dan Kepala Desanja seorang Kjai jang statusnja turun- tumurun. Dan baru 10 tahun belakangan ini statusnja desa itu sudah dimasukkan didalam Kabupaten Tulungagung sehingga Kepala Desanja djuga langsung pilihan rakjat. Pembuatan Batik Madjan ini merupakan naluri (peninggalan) dari kesenian membuat Batik zaman perang Diponegoro itu. Warna babaran Batik Madjan dan Simo adalah Unik karena warna babarannja merah menjala (dari kulit mengkudu) dan warna lainnja dari tom. Sebagai Batik sentra sedjak dahulu kala terkenal djuga didaerah desa Sembung, jang para Pengusaha Batik kebanjakan berasal dari Sala jang datang di Tulungagung pada achir abad ke-19. Hingga sekarang masih terdapat beberapa keluarga pembatikan dari Sala jang menetap didaerah Sembung. Selain dari tempat tersebut djuga terdapat daerah pembatikan di Trenggalek dan djuga ada beberapa di Kediri, tetapi sifat pembalikan sebagai keradjinan rumah tangga dan babarannja Batik Tulis. 2. Tjiri chas dan perkembangan pembatikan: Sebagaimana jang dilakukan oleh pembatikan² ditempat-tempat lain maka proses pembatikan di Tulungagung pada awal abad ke-20, lilinnja memakai lilin lantjeng, lilin kote serta gondorukem dan gadjih. Adapun bahan pewarnanja dari kulit pohon salam, kulit pohon mauni dan kulit tingi jang dikuatkan dengan direndam kedalam lumpur sungai karena belum dikenal saren gamping. Djuga pada pertengahan abad 19 didaerah Tulungagung Utara terdapat Onderneming tanaman tom (indigo) jang diselenggarakan oleh Maatschappy Belanda. Dengan itu sedjak dahulu masjarakat Tulungagung sudah biasa menggunakan tanaman tom untuk bahan pewarna pakaian. Perusahaan Batik Tjap jang pertama dirintis oleh Pak Mad Djais didesa Sembung disekitar tahun 1907 dengan soga kulit salam dan wedelan tom. Sepuluh tahun setelah itu bermuntjulanlah Perusahaan² Batik di Kalangbret, Madjan, Simo, Karangwaru dan sebagainja. Pemasaran Batik Tulungagung tersebut pada waktu itu tidak dilakukan oleh Pengusaha Batik, akan tetapi jang ditampung oleh pedagang Batik antara lain jang terkenal dalam awal abad ke-20 ialah Pak H. Abdoel Gani, Pak Kartopawiro jang terkenal dengan gambar Gadjah, Pak Moerjariman, Pak Kartosentono dan sebagainja jang dalam generasi berikutnja funksinja diganti oleh Pak Hardjodinomo, Pak Tjitrosekarso dan lain²nja. Perdagangan bahan baku Batik misalnja: Mori, Blatjo, Soga tinggi, Lilin, Gondo jang tadinja dilakukan oleh para Batik Handel itu dalam perkembangan selandjutnja lambat-laun persediaan dan perdagangan Mori dan Bumbu dikuasai oleh bangsa Tjina dan Arab. Demikian pula ada sepuluh buah Perusahaan Batik bangsa Asing (Tjina) jang bekerdja didaerah Tulungagung. Pada zaman Malaise (krisis ekonomi) kaum Pembatikan Tulungagung pun tidak luput terlanda, sehingga banjak Perusahaan jang terpaksa gulung tikar. Jang dapat mempertahankan Perusahaan hanja sedikit sekali sadja dan itupun dapat dimisalkan napasnja Senin-Kemis. Didalam mengalami penderitaan ekonomi jang berat itu (tahun 1922 ― tahun 1927) maka sebagaimana terdjadi dimana-mana tempat di Indonesia ini, masarakat Tulungagung pun mengadakan Response, dengan thema mengadakan usaha bersama untuk mengadakan usaha pembelian Bahan Batik bersama-sama, mendatangkan Mori, Soga dan Gondo bersama-sama dari Surabaja atau Semarang, agar supaja harga bahan Baku tidak didjadikan permainan oleh pedagang bangsa Tjina jang pada waktu itu menguasai perdagangan Mori dan Bumbu Batik di Tulungagung. II. MASJARAKAT BATIK BER-ORGANISASI : 1. Guna merealisir tjita² tersebut diatas maka pada awal th. 1937 di Tulungagung didirikan sebuah Koperasi Batik jang bernama „PERBATA” singkatan dari: Persatuan Pembatikan Tulungagung, dengan pelopor²nja antara lain: Sdr. Tjiptorahardjo, Wirjonooetomo, Abdoel Wachid Moechdi, Moeslani dan lain² jang mempunjai anggota 30 (tigapuluh) orang. „PERBATA” berkedudukan dikota Djl. Leduri 15 dan djuga mendatangkan Bahan Soga tingi, teger, indigo dan lain sebagainja. Setelah „PERBATA” berdiri, maka diwilajah Kalangbret djuga berdiri sebuah Koperasi Batik jang bernama Koperasi P.P.B.K., singkatan dari : Koperasi Persatuan Perusahaan Batik Kalangbret, dengan pelopor²nja antara lain : Sdr. Soemardi Mp., Sdr. Soetowihardjo, Sdr. Soewondho, Sdr. Hardjosoewito dan lain sebagainja jang mempunjai anggota 25 (duapuluhlima) orang. Tudjuan dan usaha Koperasi P.P.B.K. adalah sama sadja dengan azas Koperasi „PERBATA” ialah : 2. Koperasi adalah wadah jang sesuai : Konsep dari para pelopor tersebut diatas untuk memilih bentuk Koperasi sebagai wadah jang dapat mentjakup dar sesuai dengan tjita²nja, ternjata benar. Usaha perdagangan kedua Koperasi itu dapat lantjar meskipun tidak luput mendapat hambatan dan rintangan dari pedagang² Tjina di Tulungagung jang ingin mematikan Koperasi itu dengan tjara mendjual bahan² batiknja lebih murah dari Koperasi, agar supaja Koperasi rugi dan achirnja bubar. Pada waktu Djepang masuk di Indonesia maka Koperasi Batik mengalami masa sukar karena bahan baku batik sendiri itupun tidak dapat di-import di Luar Negeri. Setelah Djepang bertekuk lutut dan kita memasuki revolusi fisik, kegiatan pembatikan mulai terasa lagi. Dengan berbagai usaha dan tjara, Koperasi dapat menjalurkan Mori dan Bumbu² meskipun sedikit kepada para Anggota. Zaman beredar terus dan achirnja datanglah waktu pembentukan Batik Trading Company dan kemudian disusul dengan pembentukan G.K.B.I. Dalam rangka pembentukan G.K.B.I. pernah djuga utusan dari Sala datang di Koperasi „PERBATA” untuk mendapatkan tanda tangan bahwa Koperasi Batik Tulungagung bersedia mendjadi Anggota G.K.B.I. Demikian pula „PERBATA” mendapat undangan pembentukan G.K.B.I. Pusat jang dilangsungkan di Djl. Malioboro Jogjakarta tgl. 18 September 1948. Utusan „PERBATA” jang hadir di Jogja pada waktu itu ialah : Sdr. Abd. Wachid dan Sdr. Moeslani. Setelah pengakuan kedaulatan th. 1950 maka datanglah utusan G.K.B.I. (Sdr. Ramelan) di „PERBATA” Tulungagung guna mengongkritkan so'al pembelian Saham B.T.C. dan Simpanan Pokok G.K.B.I. Pada th. 1952 Ketua G.K.B.I. (Pak K.H. Idries) dan Penulis I : G.K.B.I. (Pak Martodiwarno ) datang ke Tulungagung dan dengan tegas menghendaki agar di Tulungagung didirikan satu Koperasi sadja. Demikianlah maka pada tgl. 20 Agustus 1952 Koperasi „PERBATA” dan Koperasi P.P.B.K. difusikan dan didjadikan satu Koperasi jang diberi nama: KOPERASI BATIK TULUNGAGUNG disingkat KOPERASI BTA. Waktu pembentukan tgl. 20 Agustus 1952 telah disjahkan Anggaran Dasar dan nama Koperasi itu serta susunan Pengurus dari Koperasi B.T.A. jang pertama kali ialah :
dan dibantu oleh beberapa orang Komisaris/Pembantu. Koperasi B.T.A. mendapat Hak Badan Hukum pada tanggal : 27 Desember 1954, No.: 983 dan telah mengalami perubahan hingga 3 (tiga) kali ialah : 3.Keanggotaan dan management koperasi : Dalam perkembangan keanggotaan BTA dari tahun ketahun bertambah sedjak dari djumlah 46 orang waktu berdirinja, pada tahun 1956 tertjatat sebanjak 182 orang, tahun 1959 sebanjak 207 orang, tahun 1963 sebanjak 252 orang dan 1967 sebanjak 336 orang. Tentang management koperasi telah ditentukan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga masing? Jang mempunjai ke kuasaan tertinggi disini ialah anggota disalurkan melalui rapat anggota. Rapat Anggota fungsinja ialah: Memilih dan menetapkan Pengurus serta Badan Pemeriksa, menilai dan mengesahkan pertanggungan djawab pengurus dan badan pemeriksa, mengesahkan neratja dan perhitungan rugi laba, menetapkan rentjana usaha dan anggaran belandja, menetapkan program kerdja pengurus. Sedangkan Pengurus ialah pelaksana amanat anggota dan pimpinan eksekutip jang kebidjaksanaannja tidak boleh menjimpang dari apa jang diamankan dalam rapat tahunan anggota dan ketentuan² dalam anggaran dasar dan rumah tangga. Sebagai pengawasan amanat ini maka anggota mengangkat satu badan kontrol jang dinamakan Badan Pemeriksa jang anggota²nja dipilih oleh rapat anggota dan bertanggung djawab kepada rapat anggota.
Susunan Pengurus BTA terachir tahun 1967 ialah :
A. Kegiatan Bidang Idiil: 1. Pendidikan: Pendidikan merupakan salah satu kegiatan dalam koperasi dan telah ditetapkan mendjadi salah satu prinsip dari Gerakan Koperasi Internasional (I.C.A.). Bagi Gerakan Koperasi Indonesia pendidikan ini djuga mendjadi prinsipnja jang diatur dalam Undang² Koperasi Indonesia No. 12/1967. Pembiajaan pendidikan ini bagi Koperasi Batik Tulungagung diambilkan dari sisa hasil usahanja tiap2 tahun sebesar 5%. Pendidikan jang diselenggarakan oleh Koperasi Batik Tulungagung ialah: a. Sekolah Taman Kanak² Batik ada dua buah jaitu: satu dikota Tulungagung dan satu lagi didesa Kalangbret. Gedung Sekolah Taman Kanak² Batik jang ada dikota dibangun atas biaja GKBI dan di Kalangbret atas biaja Koperasi Batik Tulungagung sendiri. Anak² didik jang dididik di STK Batik bukan dari anak² anggota sadja, tetapi djuga dari anak² buruh batik, karyawan koperasi dan anak² dari masjarakat daerah kerdja.}} c. Disamping usaha pendidikan ini Koperasi djuga menjeleng garakan pendidikan dan kursus bagi anggota dan karyawan dibidang perkoperasian, prosesing batik, administrasi dan organisasi. Bagi karyawan koperasi pendidikan administrasi disetarafkan dengan Kursus Pembukuan tingkat A dan B. d. Bantuan pada masjarakat setempat dibidang pendidikan baik jang umum maupun chusus. Dibidang sosial kegiatan koperasi tidak ketinggalan pula jaitu: dengan membuka Balai Pengobatan Batik jang ada dua buah pula, satu dikota Tulungagung dan satu lagi di Kalangbret. Balai Pengobatan ini terbuka untuk umum disamping keluarga masjarakat batik, buruh dan karyawan koperasi. Biaja untuk Balai Pengobatan Batik diambilkan dari sisa hasil usaha tiap2 tahun sebesar 5% dan lainnja sumbangan dari koperasi dan GKBI sendiri. Usaha sosial lainnja berupa bantuan tiap2 tahun pada korban bentjana bandjir Tulungagung, kegiatan sosial dalam masjarakat. Gedung Poliklinik Batik BTA dikota Tulungagung dan petugasnja, di Kalangberet BTA djuga membangun gedung Poliklinik atas biaja sendiri. 3. Pembangunan Daerah Kerdja: Kerdjasama dibidang pembangunan daerah antara Koperasi dengan Pemerintah setempat nampak pada kegiatan pendidikan dan pentjegahan bandjir tiap2 tahun. Koperasi membangun tanggul2 pentjegahan bandjir dan biaja diambilkan dari penjisihan sisa hasil usaha tiap tahun dan sumbangan chusus dari anggota jang diambilkan tiap bulan waktu pembagian djatah mori. Djuga banjak bantuan diberikan pada organisasi2 agama jang bergerak dibidang pendidikan untuk membangun gedung2 sekolah. 4. Zakat mal: Anggota Koperasi Batik Tulungagung sebagian besar pemeluk agama Islam. Salah satu kewadjiban bagi pemeluk agama Islam jang mampu ialah menjisihkan sebanjak 2½% dari kekajaannja tiap² tahun dan diberikan kepada fakir miskin, rumah² ibadat, dan sebagainja. Djumlah kekajaan anggota jang ada dikoperasi tiap tahun sebelum bulan Ramadhan berachir dihitung dan 2½% dari djumlah itu disisihkan sebagai zakat anggota. Selain dari djumlah kekajaan anggota jang ada dikoperasi djuga jang ada di GKBI disisihkan sebesar 2½% pula. Zakat jang dibasi oleh koperasi tiap² tahun, ialah jang disisihkan oleh BTA sendiri dan jang diterima dari GKBI. IV. KEGIATAN BIDANG USAHA: 1. Permodalan: Untuk menggiatkan usaha koperasi membutuhkan modal jang tidak sedikit dan ini telah disadari baik oleh anggota maupun pengurus. Bagi koperasi modal utama datangnja dari anggota dalam bentuk simpanan pokok, simpanan wadjib, simpanan manasuka, Kalau koperasi telah berdjalan satu tahun maka tambahan modal didapat dari tjadangan jang disisihkan dari sisa hasil usaha sebesar 30%. Disamping itu koperasi djuga bisa mendapat pindjaman dari bank² baik Pemerintah maupun swasta. Pada waktu koperasi batik Tulungagung berdiri djumlah modal jang tertjatat sebesar Rp. 61.665,50. Sesuai dengan besarnja kegiatan usaha maka kebutuhan modal itu bertambah besar pula dan dipungutlah matjam² simpanan jaitu: simpanan pokok, wadjib, chusus pabrik, deposito, manasuka terpimpin, dan lain². Untuk mentjerminkan perkembangan simpanan dan permodalan dapat dilihat sebagai berikut:
Djumlah simpanan² anggota ini dipergunakan untuk modal kerdja BTA, simpanan² di GKBI, investasi dalam harta tetap dan pabrik cambric BTA sendiri.
Sisa dari simpanan primer dipergunakan untuk modal kerdja jaitu untuk :
2. Distribusi bahan baku batik : Koperasi BTA sedjak berdiri telah bertindak sebagai alat distribusi bahan baku batik hasil import Pemerintah. Sedjak GKBI ditundjuk sebagai distributor bahan baku batik, BTA sebagai grossiernja. Pengusaha² batik dan keradjinan batik jang dilajani oleh BTA meliputi daerah Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek. Pada tahun 1952 Pengusaha batik jang dilajani sebanjak 72 orang dar tiap tahun djumlah ini terus bertambah dan achir tahun 1967 tertjatat sebanjak 336 orang. Perkembangan bahan baku batik jang disalurkan dari Pemerintah maupun GKBI semendjak tahun 1954 sampai 1967 adalah sebagai berikut :
Kalau diperhatikan djumlah bahan baku batik jang diterima oleh BTA dari tahun ketahun mengalami djumlah turun naik dalam yard cedangkan dalam rupiahnja hasil pendjualannja terus naik ketjuali tahun 1959 dan 1963. Djumlah mori jang dibagikan dari tahun 1954 sampai 1957 bertambah besar karena mulai tahun 1955 baik import, distribusin ja sepenuhnja dikuasai oleh GKBI dan devisa oleh Pemerintah. Mulai tahun 1958 djumlah distribusi mori mulai menurun karena djumlah devisa djuga berkurang, disebabkan situasi dalam negeri mulai tidak stabil dengan adanja pergolakan² daerah. Akibatnja djumlah export menurun dan pendapatan devisa berkurang, dan kebutuhan devisa untuk alat² keamanan negara meningkat. Dan mulai sa'at itu penggunaan devisa sangat diperkeras dan perioritas pertama untuk alat² keamanan. Mulai tahun 1960 djumlah devisa jang diterima oleh GKBI bertambah lagi dan nampak kenaikan djumlah barang jang dibagikan tiap tahun naik pula. Tetapi mulai pertengahan tahun 1963 dengan ditjabutnja hak import tunggal GKBI oleh Pemerintah maka djumlah bahan baku batik jang dibagikan djuga menurun. Awal tahun 1964 hak import tunggal ini dikembalikan kepada GKBI, tetapi djumlah devisa jang diperoleh dari Pemerintah sangat terbatas dan tidak menambah akan pembagian dari tahun jang lalu. Dalam tahun 1965 djumlah import GKBI bertambah dan tahun 1966 dan 1967 import berkurang lagi karena sukarnja devisa. Untuk mentjukupi kebutuhan anggota akan bahan baku cambric maka BTA mulai tahun 1960 aktip kembali mengumpulkan modal untuk mendirikan pabrik cambric. Dan tahun 1966 Pabrik Cambric BTA telah mulai menghasilkan. 3. Pemasaran batik dan produksi anggota : Djumlah anggota BTA ada sebanjak 336 orang dengan djumlah medja tjap sebanjak 1.350 buah. Kapasitas produksi minimal satu hari adalah 1.350 X 10 potong = 13.500 potong dan sebulan 25 X 13.500 potong 337.250 potong. Tetapi produksi anggota BTA dari tahun ketahun hanja bergerak antara 10-25% dan djumlah tertinggi jaitu pada tahun 1956 sebesar 1.042.711, potong dan terendah pada tahun 1963 jaitu sebesar 266,974 potong. Djumlah angka produksi minimal ini tidak bisa ditjapai disebabkan karena terbatasnja bahan baku tersedia, kurangnja modal dan pemasaran batik dipengaruhi oleh musim. Disamping itu djuga daja beli masjarakat tidak ketjil pengaruhnja dalam mentjari pemasaran produksi. Dalam tahun 1960 sampai kwartal pertama tahun 1963, pemasaran batik biru dipoolkan pada GKBI sebanjak 90% dari djumlah produksi. Anggota² primer dalam pemasaran batiknja hanja chusus batik prima dan primissima. Daerah pemasaran batik Tulungagung sebagian besar didaerah pasar Solo dan Surabaja. Kekurangan bahan baku batik dibeli oleh koperasi dari pasar Solo. 4. Pabrik Grey: Rentjana mendirikan pabrik ini bersamaan dengan primer² di Pekalongan dan beberapa buah mesin tenun sudah dipesan dan disimpan di Pabrik Medari. Mengingat keuangan tidak mengizinkan maka mesin² itu didjual pada GKBI. Pada tahun 1963 dimulai lagi rentjana mendirikan pabrik dan pemupukan modal dimulai. Pada tahun 1965 sudah terkumpul modal untuk pabrik sebesar Rp. 56.777.503,12 dan telah digunakan sebesar Rp. 56.094.000,— untuk pembelian mesin². Pembukaan pabrik bertepatan dengan hari peringatan koperasi ke-XVIII. Dalam tahun 1965 telah bisa menghasilkan sebesar 5.631 yard. Djumlah mesin tenun jang dipunjai tahun 1965 sebanjak 21 buah dan tahun 1967 sebanjak 40 buah. Dalam tahun 1967 investasi pabrik sebesar Rp. 1.680.951,— terdiri dari mesin² dan instalasi seharga Rp. 1.549.004,— gedung dan tanah seharga Rp. 86.850,— dan modal kerdja sebesar Rp. 885.722. BAGIAN: 13 KOPERASI BATIK INDONESIA (KOBAIN) 1. RIWAJAT PEMBATIKAN: Daerah Karesidenan Pati dimana termasuk Demak, Kudus, Djepara adalah kota² Keradjaan jang bersedjarah dan banjak meninggalkan kebudajaan Indonesia, terutama kebudajaan Islam. Keradjinan tangan jang terkenal disamping batik ialah ukiran² kaju di Djepara, dan batiknja jang terkenal sampai sekarang ialah batik „lasem” jang aneka warna dan halus serta mengandung seni lukis/batik jang mahal sekali harganja. Pembatikan di Kudus sama tuanja dengan perkembangan keradjaan Islam di Indonesia. Bahan² baku jang dipakai sebelum adanja bahan² import ialah hasil produksi sendiri jaitu: kainnja tenunan sendiri dan obat² batiknja terdiri dari kaju²an: tegeren, kemudu, soga tengger dan motifnja bunga bungaan sama dengan motif² batik Pekalongan. Setelah dikenalnja obat² batik import dan bahan kain putih cambric dan dengan datangnja seorang bangsa Belanda Nj. Van Zeehleig isteri Assisten Residen jang menetap di Kudus, mereka memperkenalkan warna² dalam pembatikan jang baik. Hasil tjiptaan Nj. Van Zeehleig ini dikenal dengan batik „Demakan” jaitu kombinasi warna kuning, hidjau dan tjoklat dan kalau ditambah dengan warna merah merdjadi „batik laseman”. Batik² produksi Kudus sekarang terdiri dari ber-matjam² djenis antara lain: Demakan kombinasi warna diatas, laseman, banjumasan kombinasi warna kuning dan hidjau, Patjit asalnja tiruan dari batik Patjitan, tjungkina jaitu kombinasi warna kuning, hidjau dan tjoklat. Batik tiga negeri djuga terkenal jaitu kombinasi dari tjiri² chas tiga daerah jaitu: merahnja asli Lasem, soganja asli Solo dan motifnja asli Pekalongan. Sampai selesai perang dunia kesatu pembatikan di Kudus dikerdjakan oleh wanita dan sifatnja keradjinan dan pemasarannja dilakukan oleh pria. Perdagangan batik Kudus sebelum perang dunia kesatu sudah sampai djauh keluar daerah jaitu: Djawa Barat dan Djawa Timur. Sedangkan perkembangan batik di Kudus baru meluas setelah selesainja perang dunia kesatu dimana dikenalnja batik tjap dan obat² luar negeri. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Menudju perintisan organisasi: Pengusaha batik di Kudus tidak banjak djumlahnja, sebab ini tidak merupakan mata pentjaharian pertama bagi penduduknja. Waktu adanja krisis ekonomi pengusaha² batik disini tidak kena pukul karena banjak pekerdjaan² lain sebagai sumber hidupnja. Setelah krisis berachir, kegiatan pembatikan berdjalan kembali sampai Djepang masuk. Waktu pendudukan Djepang kegiatan berkurang karena bahan baku tak ada. Djuga waktu permulaan kemerdekaan sampai tahun 1948 kegiatan pembatikan belum nampak aktip kembali. Setelah pendudukan dengan adanja B.I.H., maka aktivitas pembatikan muntjul lagi dan untuk penjaluran bahan baku dibentuklah „Batik Bond” jang dipelopori oleh H. Djamaah Mashadi. Batik Bond ini hanja melajani pengusaha² batik besar sadja dan pengusaha ketjil tidak. 2. Pembentukan Wadah Koperasi: Oleh karena Batik Bond tidak melajani pengusaha² batik ketjil, maka mereka bersatu dan mendirikan „Koperasi Batik Indonesia” jang dipelopori antara lain oleh: Ambari S.R., H. Siradmuljo, Mawardi, dan kawan² lainnja dalam tahun 1951. Pengurus pertama dari KOBAIN ialah: Ketua I/II: H. Idris dan H. Mawardi, Penulis: Ambari S.R. dan Bendahara: H. Fauzi. Setelah berdiri dihubungi Pengurus GKBI dan disarankan supaja antara Koperasi dan Batik Bond diadakan penggabungan dan tahun 1952 difusi kedua badan ini dengan Pengurusnja: Ketua: Djamaah Mashadi, Penulis: Hadimuljo dan Bendahara: H. Fauzi serta Pembantu²: Masluri, Ambari SR. dan Moh. Muljo. 3. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja KOBAIN ialah seluruh Karesidenan Pati dan mendapat Hak Badan Hukum tahun 1954 No. 939. Perobahan² Anggaran Dasar jang telah dilaksanakan ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959 tertjatat No. 939A dan penjesuaian dengan Undang Koperasi No. 12/1967 tertjatat No. 939 B/ 1968. KOBAIN diterima mendjadi anggota tahun 1954 achir dan tertjatat No. 13 dan langsung mendjadi grossier GKBI. a. Keanggotaan: Waktu didirikan djumlah anggotanja sebanjak 28 orang dan setelah berfusi mendjadi 42 orang. Perkembangan anggota KOBAIN tidak banjak, sampai tahun 1960 tertjatat 61 orang dan sampai achir tahun 1967 tertjatat 65 orang. Langganan KOBAIN jaitu pengusaha batik jang bukan anggota terdapat didaerah Lasem, Rembang, dan Semarang dan ini djumlahnja djuga tidak banjak. Pengurus KOBAIN sedjak berfusinja sampai sekarang tetap dipegang oleh tokoh² pendirinja jaitu antara lain : H. Djamaah Mashadi, Ambari SR, H. Siradmuljo dan A.B. Hadimuljo. Pengurus dan Badan Pemeriksa dipilih oleh rapat anggota dan tiap tahun kedua aparat ini bertanggung djawab pada rapat anggota. Pengurus mempertanggung djawabkan kebidjaksanaan dalam memim pin organisasi dan usaha, keberesan administrasi keuangan, harta kekajaan dan neratja rugi/laba. Sedangkan Badan Pemeriksa memberikan laporan berkala hasil² pemeriksaannja dan tiap tahun memberikan pertanggung djawab pula tentang kerdjanja. Susunan Pengurus untuk tahun 1968/1969 ialah: Ketua Djamaah Mashadi H.S. Penulis I/ II: AB. Hadimuljo dan R. Husnan. Bendahara Sirad Muljo dan Pembantu²: Ambari SR., M. Maskiri, Sanusi, Masudi Said Masroechim. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS KOBAIN: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan dibidang pendidikan ialah menjelenggarakan Taman Kanak² Batik. Biaja untuk pemeliharaan TK ini diambilkan dari dana 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial ialah dengan adanja Balai Pengobatan Batik sangat besar faedahnja bagi anggota dan buruh batik serta masjarakat umum. Biaja untuk B.P. diambilkan dari dana sosial dan bantuan GKBI tiap tahun dan kekurangannja dibebankan pada KOBAIN. Djumlah pasien jang berobat tiap tahun dan perkembangan biajanja dapat dilihat dalam daftar dibawah.
3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja ialah membangun gedung TK, SD/SMP Islam dan Balai Pengobatan batik. Perbaikan djembatan Dongpaso 50% biajanja dibebankan pada KOBAIN. Selama tahun 1954/1961 dana pembangunan jang diterima dari sisa hasil Rp. 29.205,- dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 10.196, dan tahun 1966/1967 telah diterima sebesar Rp. 10.882,- dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 4.017,-. Kegiatan KOBAIN dibidang sosial, pendidikan dan pembangunan daerah kerdja disesuaikan dengan besarnja kekuatan serta kemampuannja. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Kesedjahteraan karyawan KOBAIN selain dari gadji, mereka mendapat djaminan sosial lainnja jaitu: beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran, gratifikasi tahunan. Sedangkan buruh batik selain dari gadji/upah mereka mendapat bantuan pengobatan di B.P. dan hadiah lebaran tiap tahun. Buruh batik sebagian besar datang dari luar daerah jaitu: Pekalongan, Lasem dan Rembang, waktu sepi mereka pulang dan kalau ada kegiatan mendadak sukar mentjari buruh batik. B. Kegiatan Usaha dan Produksi : 1. Permodalan : Modal utama bagi KOBAIN ialah simpanan² anggota dan tjadangan usaha dan kedua kredit dari pihak ketiga. Dalam tahun 1954 djumlah simpanan/modal sebesar Rp. 51.229,- tahun 1960 sebesar Rp. 1.551.177,- dan tahun 1967 sebesar Rp. 1.235.316,-.
2. Distribusi bahan baku batik : KOBAIN selain dari membagikan bahan baku pada anggotanja djuga melajani pengusaha² batik bukan anggota didaerah Rembang, Lasem, Blora dan Semarang.
(Angka² dalam ribuan) Disamping omzet bahan² dari GKBI, KOBAIN djuga mendjual bahan penolong dan batik anggota. 3. Pemasaran batik: Djatah jang diterima oleh KOBAIN hanja 0,60% dari semua pembagian GKBI dan batiknja sedikit sekali. Daerah pemasaran batik Lasem kebanjakan dikota² besar seperti Bandung, Surabaja, Djakarta, Semarang. Untuk mentjarikan pemasaran lainnja, KOBAIN membuka toko batik di pasar Kudus. 4. Pabrik Tekstil : Rentjana KOBAIN untuk mendirikan pabrik sudah lama jaitu sedjak tahun 1959, tetapi karena KOBAIN ketjil dan modal untuk pabrik begitu besar, pemupukan modal chusus sangat lama sekali. Modal jang telah dikumpulkan, akibat inflasi dan tindakan moneter achirnja dibekukan dibank. Persiapan untuk pabrik ini baru mentjupai pada penjediaan tanah sadja baru dan kemungkinan untuk memupuk modal dewasa ini tipis. BAGIAN: 14 1. RIWAJAT PEMBATIKAN: Pembatikan dikenal di Kebumen sekitar awalan abad ke-XIX jang dibawa oleh pendatang² dari Jogja dalam rangka dakwah Islam antara lain jang dikenal ialah: Penghulu Nursjaf. Beliau inilah jang mengembangkan batik di Kebumen dan tempat pertama menetap ialah sebelah Timur Kali Lukolo sekarang dan djuga ada peninggalan Mesdjid atas usaha beliau. Keturunan beliau sekarang masih membatik antara lain ialah H. Ichsan dan H. Nuchsjin. Proses batik pertama di Kebumen dinamakan teng-abang atau blambangan dan selandjutnja proses terachir dikerdjakan di Banjumas/Solo. Sekitar awal abad ke-XX untuk membuat polanja dipergunakan kunir jang tjapnja terbuat dari kaju. Motif² Kebumen ialah: pohon², burung²an. Bahan² lainnja jang dipergunakan ialah pohon patje, kemudu dan nila tom. Pemakaian obat² import di Kebumen dikenal sekitar tahun 1920 jang diperkenalkan oleh pegawai Bank Rakjat Indonesia dan achirnja meninggalkan bahan² bikinan sendiri, karena menghemat waktu. Pemakaian tjap dari tembaga dikenal sekitar tahun 1930 jang dibawa oleh Purnomo dari Jogjakarta. Daerah pembatikan di Kebumen ialah didesa: Watugarut, Tanurekso jang banjak dan ada beberapa desa lainnja. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Menudju perintisan organisasi: Setelah dikenalnja batik tjap dan obat² import, maka disamping pengusaha batik bangsa kita ada djuga beberapa pengusaha Tjina mengerdjakan batik jang sampai sekarang masih ada di Kebumen. Pengusaha² batik Kebumen mendapat bahan baku batik dari Purwokerto jang didjual oleh pedagang² Tjina. Nasib pengusaha batik di Kebumen sama sadja dengan daerah² lainnja dan pada tahun 1937 ada keinginan dari beberapa pengusaha untuk membentuk kumpulan usaha bersama, dan jang dilaksanakan baru pembelian bersama setjara titipan. Produksi batik Kebumen jang banjak ialah, sarung, kain dan selendang. Waktu pendudukan Djepang pengusaha batik berdjalan dengan bahan baku bekas kain putih dan batik² lama. 2. Koperasi wadah jang tjotjok: Setelah pengakuan kedaulatan, dalam tahun 1950 pengusaha² batik di Kebumen diundang oleh Pengurus GKBI datang di Purworedjo bertempat dirumah H. Ashari. Jang datang waktu itu antara lain ialah: H Ichsan, H. Umar, H. Noor, H. Susilo dan H. Hasjim. Pertemuan untuk membitjarakan BTC dan oleh Ramelan SH disarankan supaja membentuk koperasi, dan selandjutnja dapat berhubungan dengan GKBI/BTC. Hasil pertemuan itu dibentuklah Persatuan Batik Indonesia Kedu (PERBAIK) dan di Kebumen dibentuk perwakilannja Pada bulan Oktober 1952 pengusaha² batik di Watugarut dipelopori oleh H. Ichsan dan H. Noor dari Tanurekso, mendirikan koperasi lagi jang dinamakan „BAKTI” karena pertemuannja didesa Gemasakti. Kedua koperasi ini minta mendjadi anggota GKBI dan atas andjuran Pengurus GKBI jaitu: Pak H. Muslim dan Pak Martodowarno serta terachir Pak K.H. Idris menjarankan supaja kedua koperasi ini disatukan. Maka pada bulan Nopember 1952 tanggal 11 resmilah berdirinja „Koperasi Batik Indonesia” „SAKTI” dengan djumlah anggota 25 orang. Susunan Pengurus pertama SAKTI ialah: Ketua, I/II: H. Noor dan H. Ichsan, Penulis: Imam Zarkasi dan Bendahara: K.H. Hanafi. a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja SAKTI ialah Kabupaten Kebumen dan mendapat Hak Badan Hukum No. 991/1954 dan diterima mendjadi anggota Djanuari 1955 No. 14. Perobahan² A.D. ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959 tertjatat No. 991A tanggal 1 Maret 1961 dan penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967, tertjatat No. 991B/1968. b. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Djumlah anggota pertama ialah 25 orang dan perkembangannja sampai tahun 1958 tertjatat 42 orang, tahun 1963 tertjatat 103 orang dan tahun 1967 tertjatat 182 orang. Ke Pengurusan SAKTI sedjak berdirinja sampai tahun 1967 masih dipegang oleh tokoh² pendirinja dan untuk masa djabatan 1968/ 1969 ini dipegang oleh tenaga² muda sesuai dengan kebutuhan perkembangan SAKTI selandjutnja. Usaha² dari Pengurus dan tokoh lama itu jang nampak ialah: pembangunan gedung Taman Kanak, Balai Pengobatan, gedung Kantor dan terachir pabrik mori. Susunan Pengurus sekarang ialah: Ketua Ch. Hadiwinarta dan Penulis I/II: H. Mustaqim dan Sjahri bin Muh. Sjachlan, Bendahara: Irfangi Nurhidajat dan Pembantu: Asmuni Dawud Kamari, Much. Warso dan H. Much Sjamsudin. Susunan Anggota Badan Pemeriksa: H. Mundiri, Much Sidik, H. Munir. Foto Pengurus Sakti tahun 1966/1967. Duduk dari kiri kekanan: Hadisuwito, Imam Zarkasi, H. Mustaqim, Berdiri dari kiri kekanan: Sjahlani, H. Mundiri, H. Ichsan dan H. Noor.III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS SAKTI: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan SAKTI dibidang pendidikan ialah menjelenggarakan Taman Kanak² Batik dan ikut membangun gedung SMA Negeri Kebumen. Biaja untuk TK ini diambilkan dari dana pendidikan dan bantuan GKBI tiap tahun. Untuk tahun 1954/1961 telah diterima sebesar Rp. 121.941,— dan telah dikeluarkan dalam waktu jang sama Rp. 94.370,—. Untuk tahun 1967 telah diterima pula sebesar Rp. 17.950,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 14.500,—. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial ialah menjelenggarakan Balai Pengobatan Batik jang gedung dibangun dari dana pembangunan dan bantuan GKBI. Pasien jang berobat terdiri dari anggota, karyawan, buruh batik beserta keluarganja dan djuga masjarakat umum. Biaja untuk pemeliharaan B.P. ini diambilkan dari dana sosial dan bantuan GKBI tiap tahun.
3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan SAKTI dalam pembangunan daerah kerdja sesuai dengan kemampuannja sebagai primer jang ketjil dibandingkan dengan primer² GKBI lainnja. Usaha²nja ialah: membuatkan tong sampah dari batu sekeliling kota Kebumen, tempat W.C., neonisasi Kota Kebumen dan perbaikan djembatan sebanjak 5 buah dalam kota dan desa² tempat tinggal anggota. Dana jang telah diterima dari tahun 1954/1961 sebanjak Rp. 53.219,— dan telah dikeluarkan sebanjak Rp. 25.534,—. dan tahun 1966/1967 telah diterima pula sebanjak Rp. 78.196,— dan telah dikeluarkan pula sebanjak Rp. 79.405,—. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Untuk kesedjahteraan karyawan, selain dari gadji mereka mendapat djaminan sosial lainnja jaitu: biaja pengobatan, beras, hadiah 5. Zakat: SAKTI selain dari menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja djuga mengeluarkan zakat sendiri. Zakat jang diterima tahun 1966 Rp. 11.040,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 11.040,— dan tahun 1967 diterima sebesar Rp. 59.421,— dan telah dikeluarkan pula sebesar Rp. 59.421,—. B. Aktivitas usaha dan produksi: I. Permodalan: Modal utama dari SAKTI ialah simpanan² anggota dan tjadangan usaha dan modal kedua ialah kredit dari pihak ketiga. Pada tahun 1953 modal SAKTI sebesar Rp. 34.014,— dan tahun 1960 sebesar Rp. 3.128.454,— dan tahun 1967 tertjatat sebesar Rp. 2.478.723,—.
*) Angka² dalam ribuan: 2. Distribusi bahan baku batik: Sebelum mendjadi anggota, pengusaha² batik di Kebumen mendapat bahan dari GKBI/BTC melalui Koperasi Lokolo dan sesudah SAKTI mendjadi anggota tahun 1955 langsung mendjadi grossier.
Omzet SAKTI tidak terdiri dari bahan baku GKBI sadja, tetapi usaha sendiri djuga ada jaitu batik dan bahan² penolong.
3. Pemasaran batik Daerah pemasaran batik anggota selain sekitar Kebumen ialah di Semarang dan daerah² lainnja di Djawa. Batik produksi anggota Kebumen sama dengan batik Banjumas, Purworedjo dan Jogja. Tahun 1966 omzet sebesar Rp. 1.080.479,—. Tahun 1967 omzet batik melalui SAKTI sebesar Rp. 158.981,—. 4. Pabrik Tekstil SAKTI: Oleh karena import cambric tahun 1960 sudah mulai turun dan GKBI mengandjurkan supaja primer² mendirikan pabrik tekstil untuk menampung produksi benang P.C. GKBI dan djuga melaksanakan
BAGIAN: 15 KOPERASI PERSATUAN PERUSAHAAN BATIK INDONESIA I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Pembatikan didaerah Sokaradja dibawa oleh pengikut2 Pangeran Diponegoro setelah selesainja peperangan tahun 1830, mereka kebanjakan menetap didaerah Banjumas. Pengikutnja jang terkenal waktu itu ialah Najendra dan dialah mengembangkan batik tjelup di Sokaradja. Bahan mori jang dipakai hasil tenunan sendiri dan obat pewarna dipakai pohon tom, pohon patje dan mengkudu jang memberi warna merah kesemuan kuning. Lama kelamaan pembatikan mendjalar pada rakjat Sokaradja dan pada achir abad ke-XIX berhubungan langsung dengan pembatik didaerah Solo dan Ponorogo. Daerah pembatikan di Banjumas sudah dikenal sedjak dahulu dengan motif dan warna chususnja dan sekarang dinamakan batik Banjumas. Setelah perang dunia kesatu pembatikan mulai pula dikerdjakan oleh Tjina disamping mereka berdagang bahan batik. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Perintisan menudju organisasi: Setelah perang dunia kesatu, proses batik tjap sudah dikenal dan banjak pengusaha batik Tjina muntjul disamping mereka berdagang bahan baku batik. Pengusaha batik bangsa kita karena lemah dalam permodalan dan pemasaran hasil produksi, mereka mendapat kredit dari pedagang² Tjina dan batiknja didjual pada pedagang Tjina itu pula. Waktu menghadapi krisis ekonomi dunia pembatikan di Sokaradja terlibat dalam hutang dan banjak hartanja jang didjual untuk melunasi hutangnja. Setelah berachirnja krisis ekonomi, pengusaha batik aktip kembali, maka ada keinginan untuk bersatu supaja mendapat bahan baku lebih mudah dari pada jang biasa. Tokoh pengusaha jang terkenal antara lain ialah: Bapak K.H. Achmad Salimi, Bapak H. Abu Sofjan dan Bapak Martodiwarno, mendirikan Toko jang mendjual bahan baku batik. Didaerah Probolinggo tokoh pengusaha batik jang terkenal ialah Bapak K.H. Madlangid, K.H. Mursjid dan K.H. Iljas. Waktu pendudukan Djepang kegiatan dari Toko ini tidak djalan karena kurangnja bahan baku. 2. Pembentukan Wadah Koperasi: 3. Koperasi Wadah jang tjotjok dengan pembatikan: Dalam rangka perdjuangan pengusaha batik selandjutnja menjapai tjita²bersama, PERBAIN aktip jang diwakili oleh Bapak Hasanmihardja Ketua Perbain, di GKBI sesudah itu digantikan oleh Sdr. Suseto. a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Dalam Anggaran Dasar PERBAIN daerah kerdjanja meliputi Kabupaten Purwokerto, Purbolinggo dan Banjumas. Hak Badan Hukum PERBAIN diperoleh tanggal 7 Oktober 1954 No.: 956. Waktu GKBI mendapat Hak Badan Hukum tanggal 23 Agustus 1953, PERBAIN tertjatat sebagai tjalon anggota karena belum mendapat hak badan hukum. PERBAIN diterima mendjadi anggota GKBI tanggal 24 Djanuari 1955 tertjatat No. 15. Perobahan² Anggaran Dasar PERBAIN telah diadakan tiga kali jaitu pertama penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 tertjatat No. 956a, penjesuaian dengan P.P. 60/1959 tanggal 1 Maret 1961 tertjatat No. 956b dan ketiga kalinja penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 tahun 1968 tertjatat No. 956c. b. Keanggotaan dan Ketatalaksanaan: Keanggotaan: Anggota PERBAIN bertempat tinggal didaerah kerdja Kabupaten Purwokerto, Banjumas dan Probolinggo. Pada achir tahun 1953 djumlah anggota sebanjak 60 orang dan tahun 1968 tertjatat sebanjak 106 orang. Perkembangan anggota Perbain dapat dilihat dibawah.
Dalam mengatur organisasi dan usaha Pengurus PERBAIN berpedoman pada Anggaran Dasar jang telah ditetapkan oleh rapat anggota dan jang telah disahkan oleh Pedjabat. Disamping itu pedoman lainnja ialah rentjana anggaran belandja dan usaha jang telah disahkan oleh rapat anggota tiap tahun. Pengurus dalam memimpin tugas sehari-hari membagi bidang² kegiatan sesuai dengan fungsinja dalam kepengurusan jaitu: bidang organisasi dan masjarakat, bidang usaha/komersil, bidang keuangan dan administrasi. Pengurus tiap tahun bertanggung djawab pada rapat anggota tentang kegiatannja masa djabatan satu tahun. Untuk mengawasi pengurus dalam mendjalankan tugasnja, rapat anggota memilih beberapa orang anggota sebagai Badan Pemeriksa. Badan Pemeriksa ini mendjalankan tugasnja mengawasi pengurus dalam melaksanakan amanat anggota dan memeriksa kebenaran administrasi keuangan, barang serta alat² perlengkapan lainnja milik koperasi. Hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa ini dilaporkan kepada Susunan Pengurus PERBAIN untuk masa djabatan tahun 1968/1969 ialah: Ketua I/II: Achmad Sumeri dan Kj. Muchdir, Penulis: Suseto dan Bendahara: Achmad Djawahir dan Pembantu: Bunjamin. Susunan Badan Pemeriksa untuk tahun 1968 ialah: Wirjaredja, Munasri dan Much. Imran. Wakil PERBAIN jang duduk di GKBI sekarang ialah Muh. Sa'at sebagai anggota Badan Pemeriksa GKBI. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS PERBAIN: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan PERBAIN dibidang pendidikan ialah menjelenggarakan Taman Kanak² Batik dan pendidikan lainnja tidak ada. Untuk anggota 2. Sosial dan masjarakat: Dibidang sosial kegiatan PERBAIN mengadakan Balai Pengobatan Batik jang terbuka untuk umum selain dari anggota dan karyawan batik. Biaja untuk B.P. ini diambilkan dari dana sosial jang disisihkan dari sisa hasil usaha. Kegiatan sosial lainnja ialah memberi bantuan pada organisasi² sosial dan fakir miskin serta mesdjid dan madrasah. Dana sosial jang telah diterima sedjak tahun 1953/1961 sebanjak Rp. 99.849,— dan telah dikeluarkan sebanjak Rp. 84.957. 3. Pembangunan daerah kerdja: Dalam rangka kegiatan pembangunan daerah kerdja, usaha PERBAIN ialah dibidang pendidikan, poliklinik, perbaikan djalan dan pembangunan djembatan Dana pembangunan jang diterima sedjak 4. Kesedjahteraan karyawan dan Buruh batik: Karyawan selain dari menerima upah bulanan, djaminan sosial lainnja jang diberikan ialah : beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Sedangkan untuk buruh batik selain dari upah mereka djuga diberikan djaminan sosial lainnja jaitu: bantuan biaja pengobatan, hadiah lebaran. B. Bidang Usaha dan Produksi: 1. Permodalan: Modal PERBAIN terutama dari simpanan anggota dan tjadangan usaha dan kedua pindjaman dari pihak ketiga. Dalam tahun 1950 simpanan anggota sebagai modal utama tertjatat hanja Rp. 6.450,— dan djumlah ini bertambah terus tiap tahun dan tahun 1960 berdjumlah Rp. 5.571.779,— dan tahun 1967 berdjumlah Rp. 2.614.648,—.
(Angka² dalam ribuan) 2. Distribusi bahan baku batik: Sedjak PERBAIN berdiri hubungan dengan GKBI/BTC telah diadakan dan mulai tahun 1950 telah mendapat bahan dari GKBI. Setelah PERBAIN mendapat hak badan hukum langsung diangkat mendjadi anggota dan grossier sekali. Selain dari menjalurkan bahan² GKBI, PERBAIN djuga menjalurkan bahan baku penolong dan batik anggota.
(Angka² dalam ribuan) Seluruh pendjualan PERBAIN terdiri dari bahan dari GKBI dan hasil usaha mereka sendiri. Perbandingan pendjualan dengan biaja dan sisa hasil usaha selama ini dapat dilihat dalam daftar dibawah ini. Gedung kantor Perbain jang haru dan karyawan serta pengurus diabadikan bersama didepannja. Gedung ini dibangun dari sumbangan anggota dan lengkap dengan gudangnja.
3. Pemasaran batik: Batik produksi Banjumas sudah dikenal sedjak zaman sebelum perang dan daerah pemasarannja sudah sampai keluar Djawa dan djuga diekspor. Usaha PERBAIN dalam pemasaran batik ini terbatas karena kekurangan modal dan anggota langsung mentjari pasaran. 4. Pabrik Tekstil: Rentjana untuk mendirikan pabrik sudah lama dan modal sudah dipungut dari anggota. Mengingat situasi keuangan jang tidak stabil maka rentjana ini belum terlaksana dan taraf pertama baru sampai pada penjediaan tanah untuk pabrik. Sebagian bahan bangunan telah tersedia dan belum bisa dilaksanakan karena modal kurang.
BAGIAN: 16 KOPERASI BATIK GRESIK Djalan Embong Sawo 32A SURABAJA. I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Gresik waktu zaman keradjaan Madjapahit dahulu adalah sebuah kota pelabuhan jang menghubungkan daerah² kepulauan Indonesia Timur dengan pulau Djawa. Pembatikan dikenal semendjak zamannja Sunan Giri berkuasa. Masjarakat Gresik umumnja adalah masjarakat dagang jang diturunkan oleh keluarga keradjaan bernama Njai Ageng Winatih. Waktu Sunan Giri berkuasa penduduk banjak jang pandai dan bekerdja dalam bidang keradjinan tangan antara lain membatik. Desa pembatikan jang dikenal masa dulu ialah Desa Kramat dan sekarang tidak ada lagi pembatikan disini, sudah pindah dikota Gresik sekarang. Awal abad ke-XX masjarakat Gresik seiain dari keradjinan batik, mereka djuga bergerak dibidang industri lainnja jaitu: industri kopiah dan kulit. Perdagangan bahan batik didatangkan dari Kalimantan, Nusatenggara dan nantinja pedagang ini membawa batik dan kopiah kedaerahnja. Bahan² batik ini sampai di Gresik dikuasai oleh pedagang² Tjina. Pembatik tjap dan obat² luar negeri dikenal di Gresik sesudah perang dunia kesatu. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: Nasib pengusaha batik dan industri lainnja di Gresik sama dengan daerah² lainnja jaitu: hanja membuat batik sadja, sedangkan perdagangan bahan2 baku dan batiknja dikuasai oleh pedagang² Tjina. Pengusaha² batik jang dikenal waktu itu di Gresik antara lain: H. Diuber, Bu H. Saleh, Mustafa dan lain²nja ketjil². Waktu zaman krisis pengusaha² batik banjak jang mati dan timbul lagi sesudah krisis berachir. Sesudah krisis itu pengusaha² dibidang industri kopiah jang membentuk koperasi sedangkan batik belum. Waktu zaman Djepang kegiatan industri matjet sama sekali. 1. Koperasi wadah jang tjotjok: Setelah zaman pendudukan Belanda, kegiatan batik timbul lagi dan terutama dikerdjakan oleh bangsa Indonesia keturunan Arab. Bahan² didapat dari B.I.H. Setelah pengakuan kedaulatan R.I. oleh Alwi Isa diberitahukan kepada H. Arifin bahwa di Djakarta telah ada Gabungan Koperasi Batik Indonesia, maka disarankan supaja pengusaha² batik di Gresik bersatu mendirikan koperasi batik. Maka diadakanlah pertemuan tanggal 28 Agustus 1952 antara pengusaha² batik Indonesia dan keturunan Arab, didapat persetudjuan untuk mendirikan koperasi dan dinamakan „Koperasi Batik GRESIK” dengan anggota sebanjak 19 orang. Pendiri²nja antara lain ialah: H. Arifin, Amat Angkat, Widan Ichsan, Djawahir Samad, Maksum Muchdor dan Nasim Setelah terbentuknja koperasi, maka pengusaha² batik di Gresik mendapat bahan baku langsung dari GKBI/BTC. a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Dalam A.D. GRESIK daerah kerdjanja meliputi Kabupaten Surabaja dan melajani djuga pengusaha² batik didaerah Madura, Bodjonegoro, Modjokerto, Tuban dan Djombang. GRESIK mendapat Hak Badan Hukum tahun 1955 No. 1002 dan mendjadi anggota tahun 1955 itu pula dan terdaftar No. 16. Perobahan² A.D. GRESIK pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959, terdaftar No. 1002A tanggal 1 Maret 1961 dan perobahan kedua jaitu penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967, terdaftar No. 1002B/1968. b. Keanggotaan dan kepengurusan: Waktu didirikan banjak anggota tertjatat 19 orang dan perkembangan selandjutnja pembatikan di Gresik sangat sedikit sekali. Waktu tahun 1958 djumlah anggota ada 23 orang, tahun 1963 ada 33 orang, 1967 ada 31 orang. Pengusaha² batik langganan GRESIK lainnja berada ditempat pulau Madura, Modjokerto, Djombang, Tuban dan Bodjonegoro. Pengusaha² batik di Modjokerto tahun 1962 mendirikan koperasi sendiri dinamakan Koperasi Batik BROWIDJOJO. Pengurus dan Badan Pemeriksa adalah aparat organisasi jang dipilih untuk masa djabatan tertentu dan bertanggung djawab pada rapat anggota tiap tahun. Dalam mendjalankan tugasnja masing² pengurus dan badan pemeriksa berpedoman pada A.D. GRESIK dan keputusan² rapat anggota dibidang anggaran belandja dan usaha. Dalam organisasi GKBI, wakil Gresik H. Arifin untuk masa djabatan tahun 1966/1968 mendjabat Badan Pemeriksa. Untuk masa djabatan tahun 1966/1968, pengurus GRESIK ialah: Ketua I/II H. Arifin dan H. Muhdi, Penulis: Djawahir Samad, Bendahara: Nasiman Asnar dan Pembantu: Ali Abdullah. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Sjech Barikat, H.M.N. Kunno dan R. Muljono. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS GRESIK: A. Bidang Organisasi dan Idiil: Kegiatan dibidang pendidikan sesuai dengan ketjilnja usaha, maka kegiatannjapun djuga ketjil. Pendidikan aktip jang diselenggarakan ialah STK dan biaja pembangunan gedungnja dibantu oleh GKBI Rp. 90.000,— dan kekurangannja ditanggung oleh GRESIK. STK ini terbuka djuga untuk keluarga jang bukan anggota. Dana pendidikan jang diterima sedjak tahun 1953/1957 ada sebesar Rp. 44.534,— dan dikeluarkan Rp. 18.470,—. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial ialah memberikan bantuan pada organisasi² sosial dan bentjana alam. Balai Pengobatan sendiri belum ada, dan kerdja sama dengan Balai Pengobatan HMI GRESIK, Dana Sosial jang diterima tahun 1953/1957 sebesar Rp. 61.937,— dan dikeluarkan Rp. 20.186,—. Dalam tahun 1967 GRESIK menjelesaikan pembangunan Gedung Pertemuan jang nantinja akan digunakan untuk Rumah Bersalin. Sekarang gedung itu digunakan untuk pendidikan Subuh sebelum dibuka untuk Rumah Sakit Bersalin . Biaja untuk pembangunan gedung ini diambilkan tiap bulan dari anggota melalui pembagian djatah bahan baku batik. 3. Pembangunan daerah kerdja: Dalam kegiatan pembangunan daerah, Gresik tidak menondjol kepentingan dan perkembangan kota GRESIK chususnja. Sedjak berdirinja GRESIK dana jang diterima 1954/1957 jaitu Rp. 18.211,— dan tahun 1965/1967 dikeluarkan sebanjak Rp. 5.246,65. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan selain dari gadji bulanan, djaminan sosial lainnja ialah: beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran, gratifikasi tahunan. Sedangkan buruh batik selain mendapat upah, djuga diberikan hadiah lebaran dan sumbangan sosial lainnja. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: Waktu didirikan tahun 1952 simpanan anggota tertjatat Rp. 4.800,– tahun 1957 tertjatat Rp. 249.611,— dan tahun 1967 tertjatat Rp. 742.788,—.
Gedung kantor kopbat Gresik di Gresik dan di Surabaja ada pula Kantor Tjabangnja di Djalan Embong Sawo 32A. Sedjak tahun 1952 GRESIK walaupun belum mendjadi anggota GKBI, telah mendapat djatah dari GKBI/BTC. Setelah mendjadi anggota th. 1955 langsung mendjadi grossier. GRESIK selain membagikan bahan untuk anggotanja djuga membagikan bahan2 untuk pengusaha² batik didaerah: Madura, Modjokerto (tahun 1962 sudah terpisah), Tuban, Bodjonegoro dan Djombang. Sedjak tahun 1967 Gresik tidak membagikan lagi untuk pengusaha² bukan anggotanja.
(Angka² dalam ribuan) 3. Pemasaran batik: Daerah pemasaran batik anggota terutama di Gresik dan Surabaja. Anggota dan pengurus Gresik pada umumnja mempunjai Toko di Gresik dan djuga bergerak dibidang industri tenun dan kopiah. Djadi pemasaran batik mereka sudah aktip dari dahulu. Pendatang² jang datang di Gresik membeli hasil produksi industri Gresik umumnja dari Indonesia bagian Timur dan Kalimantan. 4. Rentjana Pabrik Tekstil: Tiga Koperasi Batik di Djawa Timur jaitu: GRESIK, KPBI SIDOARDJO, dan K.B. BROWIDJOJO Modjokerto merentjanakan akan mendirikan pabrik tekstil bersama didaerah Wonokromo Sura- baja. Sedangkan tiga koperasi batik lainnja jaitu: Bakti dan Pembatik di Ponorogo dan BTA di Tulungagung telah mempunjai pabrik tekstil sendiri. BAGIAN: 17 KOPERASI BATIK INDONESIA „GAPERBI” ![]() 1. RIWAJAT PEMBATIKAN: Pembatikan dikenal di Tegal achir abad ke-XIX dan bahan jang dipakai waktu itu buatan sendiri jang diambil dari tumbuhan²: patje/mengkudu, nila, soga kaju dan kainnja tenunan sendiri. Warna batik Tegal pertama kali ialah sogan dan babaran abu² setelah dikenal nila pabrik, dan kemudian meningkat mendjadi warna merah-biru. Pasaran batik Tegal waktu itu sudah keluar daerah antara lain Djawa Barat dibawa sendiri oleh pengusaha² setjara djalan kaki dan mereka inilah menurut sedjarahnja jang mengembangkan batik di Tasik dan Tjiamis disamping pendatang² lainnja dari kota² batik Djawa Tengah. Pada awal abad ke-XX sudah dikenal mori import dan obat² impor baru dikenal sesudah perang dunia kesatu. Pengusaha² batik di Tegal kebanjakan lemah dalam permodalan dan bahan baku didapat dari Pekalongan dan dengan kredit dan batiknja didjual pada Tjina jang memberikan kredit bahan baku tersebut. Waktu krisis ekonomi pembatik² Tegal ikut lesu dan baru giat kembali sekitar tahun 1934 sampai permulaan perang dunia kedua. Waktu Djepang masuk kegiatan pembatikan mati lagi. II . PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Menudju perintisan organisasi: Daerah pembatikan di Tegal jang banjak terdapat ialah di Karanganjar dan Adiwarna. Diluar kota Tegal terdapat di Bumiaju, Talang, Slawi. Pengusaha² batik jang dikenal besar antara lain di Karanganjar ialah H. Hasan Bakri, H. Hasan Nawawi, H. Achfas, di Adiwarna antara lain, Mbok Marsijah, Mbok H. Maksum dan di Talang Mbok Sofiah. Usaha untuk merintis organisasi baru dimulai setelah kemerdekaan jaitu sekitar tahun 1949 waktu pendudukan Belanda. 2. Koperasi wadah jang tjotjok: Dengan adanja aktivitas dari B.I.H. waktu pendudukan Belanda, maka kegiatan pembatikan di Tegal mulai kembali dan pengusaha dikumpulkan supaja dapat bahan² dari B.I.H. Setelah pengakuan kedaulatan maka usaha untuk membentuk organisasi dirintis oleh antara lain: Mawardi, Charis, Adnin, Maktub, Suwondo dan lain²nja. Pada tahun 1952 didirikanlah „Koperasi Batik Gaperbi” dengan susunan pengurus pertama ialah: Ketua I/II: Mawardi dan Charis, Penulis I/II: Suwondo dan Abd. Basir, Bendahara: Hadji Mawardi dan Pembantu: Adnin, Maktub, Darnadi Abdullah. a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja GAPERBI meliputi seluruh Kabupaten/Kotamadya Tegal dan anggotanja terbanjak di Karanganjar, Adiwarna dan Talang. Hak badan Hukum didapat th. 1955 No. 1024 dan mendjadi anggota b. Keanggotaan dan kepengurusan: Anggota GAPERBI terdiri dari pengusaha² batik ketjil jang djumlahnja ratusan pengusaha. Perkembangan anggota dari mulai mendapat Hak Badan Hukum sampai achir tahun 1967 dapat dilihat dibawah ini.
Pengurus GAPERBI sesuai dengan perkembangannja sedjak berdirinja tahun 1952 sampai tahun 1956 dipegang oleh Mawardi Ketuanja, dan 1957/1959 digantikan oleh Soetojib dan 1960 digantikan oleh Sdr. Achmad Muzany dan tahun 1964 sampai sekarang didjabat oleh Sodik Sjamsudin. Susunan pengurus untuk tahun 1968/1969 sekarang ialah: Ketua: Sodik Sjamsudin, Penulis: Mudzakkir Fauzi dan Bendahara: A. Hafidz Mansjur dan susunan Badan Pemeriksa: Achmad Muzany, H. Ch. Chudori dan Djazuri Mawardi. GAPERBI di GKBI diwakili oleh Ketuanja jaitu Sodik Sjamsudin sebagai anggota Badan Pemeriksa untuk tahun 1966/1968.
A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan dibidang pendidikan ialah menjelenggarakan TK Batik bersama-sama dengan kegiatan masjarakat setempat jaitu: Organisasi Aisjiah dari Muhammadijah Tegal. GAPERBI memberikan bantuan dari dana pendidikan dan jang diterima dari GKBI. Dana pendidikan jang diterima sedjak tahun 1955/1961 sebanjak Rp. 3.585,— dan telah dikeluarkan sebanjak Rp. 3.308,—. 2. Sosial dan masjarakat: GAPERBI belum mempunjai Balai Pengobatan sendiri, karena belum bisa membangun, berhubung koperasinja ketjil dan dana jang tersedia tak tjukup. Aktivitas dibidang sosial hanja memberikan bantuan pada organisasi2 sosial jang ada diantaranja Poliklinik Muhammadijah setjara insidentil Dana sosial jang diterima sedjak tahun 1955/1961 sebanjak Rp. 3.585,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 2.441,—. Kegiatan dibidang pembangunan daerah jang berkesan belum banjak ketjuali pembangunan gedung. Sedang sebuah gedung lagi dipergunakan oleh S.D. Negeri setempat. Ini sesuai dengan kemampuan kegiatan GAPERBI. mebilernja sebagian dari sumbangan GKBI. B. Kegiatan aktivitas usaha dan produksi: 1. Permodalan: Perkembangan modal GAPERBI sedjak dari berdirinja dari djumlah Rp. 6.900,— tahun 1952, mendjadi Rp. 612.847, tahun 1959 dan Rp. 553.274,— tahun 1967.
2.Distribusi bahan baku batik : Kegiatan GAPERBI dalam menjalurkan bahan baku bukan dari GKBI sadja djuga ada usaha sendiri jaitu : grey, obat batik dan batik .
3. Pemasaran batik: GAPERBI aktip mentjarikan pemasaran batik anggotanja dan sekarang membuka Toko Batik. Tahun 1965 omzet batik sebesar Rp. 39.335.830,— tahun 1966 sebesar Rp. 124.213,—. BAGIAN: 18 KOPERASI PEMBATIKAN INDONESIA „KOPINDO” I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Sedjarah datangnja pembatikan didesa Wiradesa Pekalongan bersamaan dengan dikenalnja batik di primer2 lainnja di Pekalongan. Menurut sedjarahnja didesa Wiradesa banjak tenaga2 buruh batik jang bekerdja di Buwaran, Pekalongan kota, Pekadjangan dan sebagainja. Berkembangnja perusahaan batik di Wiradesa ini adalah pembawaan dari buruh2 batik tadi jang lama-kelamaan mendjadi pengusaha sendiri. Batik Produksi anggota KOPINDO terkenal dengan sarungnja jang aneka warna mulai dari halus sampai kasar. Polanja jang chas ialah kembang, dan Demakan jang aneka warna. Sedjak zaman sebelum perang dunia kesatu batik Pekalongan produksi Wiradesa sudah dikenal Pemasarannja sudah meluas sampai ke Asia Tenggara. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Perintisan menudju organisasi: Sebagian besar dari penduduk Wiradesa tadinja adalah buruh batik jang lama kelamaan mendjadi pengusaha batik. Oleh karena adanja kegontjangan dan spekulasi dalam tingkat harga bahan baku batik dan pemasaran batiknja jang akan menderita terutama ialah buruh batik, karena tingkat upah akan turun dan gontjang sesuai dengan perkembangan harga. Setelah krisis dunia berachir dan timbul lagi kegiatan dalam pembatikan, buruh batik di Wiradesa berusaha mendirikan perusahaan sendiri disamping pengusaha2 jang telah ada. Setelah Djepang masuk, kegiatan pembatikan berkurang karena bahan2 baku tak ada. 2. Pembentukan Wadah Koperasi: Setelah Indonesia merdeka, dimana penghidupan menjedihkan sekali akibat pendudukan Djepang, maka untuk mengatasi ini, pengusaha² batik mendirikan organisasi jang dinamakan „Koperasi Rakjat” jang fungsinja sebagai Koperasi Konsumsi mendjadikan kebutuhan se-hari² disamping bahan baku batik. Pelopor² dari pembentukan koperasi ini antara lain ialah: Hadji Falalie, Hadji Umar Effendi, H. Chamiem, Hadji Chalimie, Hadji Achmad. Setelah agressi ke-I 3. Koperasi Batik wadah jang tjotjok: Dipelopori oleh Pengurus Koperasi Rakjat jang namanja tersebut diatas, maka pada tanggal 19 April 1950 dibentuklah koperasi batik jang dinamakan „KOPERASI PEMBATIKAN INDONESIA” disingkat „KOPINDO” dengan djumlah anggota pertama 33 orang pria dan 2 orang wanita. Susunan Pengurus pertama ialah: Ketua/Wakil Ketua: H. Falalie dan H. Umar Effendi, Penulis: H. Chamiem, Bendahara: H. Chalimie dan Pembantu: H. Achmad. a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah bekerdja KOPINDO meliputi Wilajah Ketjamatan Tirto, Uludjami, Bodjong, Wiradesa dan Sragi. KOPINDO didaftarkan pada Djawatan Koperasi tanggal 15 Djuni 1950, tanggal 8 Djanuari 1954 dalam tingkat pengamatan dan 7 Oktober 1954 mendapat „HAK BADAN HUKUM” No. 955. Tahun 1953 waktu GKBI mendapat hak badan hukum, KOPINDO didaftar sebagai tjalon anggota dan setelah mendapat hak badan hukum tahun 1954, dalam tahun 1955 diterima mendjadi anggota GKBI dan tertjatat No. 18. Perobahan² Anggaran Dasar Koperasi KOPINDO ialah dalam tahun 1961 penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959 terdaftar No. 955 a dan tahun 1968 penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 tertjatat dengan No. 955b. b. Keanggotaan dan Tatalaksana KOPINDO: Keanggotaan KOPINDO tiap tahun bertambah terus dan perkembangan sampai achir tahun 1967 adalah sebagai berikut.
Ketatalaksanaan KOPINDO: Untuk mengatur tatalaksana KOPINDO sumbernja ialah: Anggaran Dasar, jang telah ditetapkan rapat anggota dan Pemerintah, serta rentjana Anggaran Belandja dan Usaha jang telah disahkan oleh rapat anggota tiap2 tahun. Untuk mentjapai tudjuan dan daja-upaja kearah itu Pengurus dalam mengambil kebidjaksanaan berpedoman pada tiga dasar diatas. Pengurus dipilih oleh rapat anggota untuk masa djabatan tertentu dan bertanggung djawab pada rapat anggota tiap tahun, tentang pelaksanaan amanat anggota dan kebenaran mengatur Pengurus Kopindo tahun 1966/1967. Duduk dari kiri kekanan: H. Chalimi Firdaus, Markum Ilham, H. Umar Affandi dan H.M. Chamiem, H. Mustadjab Chamidi. Berdiri dari kiri kekanan: H.A. Zakaria, H. Jasin, H. Choudori, Ali Choudori dan Badhowi. semua harta kekajaan koperasi. Untuk mengawasi amanat jang diberikan kepada Pengurus, rapat anggota memilih pula Badan Pemeriksa jang fungsinja sebagai wakil anggota dalam mengawasi Pengurus. Badan Pemeriksa ini dalam tugasnja mengawasi pengurus dalam mengambil kebidjaksanaan memimpin usaha dan organisasi, serta memeriksa kebenaran administrasi barang, perlengkapan, keuangan dan kekajaan lainnja. Hasil pemeriksaan ini dilaporkan kepada anggota melalui pengurus dan dipertanggung djawabkan dimuka rapat anggota. Pengurus KOPINDO sedjak berdirinja tahun 1950 sampai sekarang masih dipegang oleh pendiri2nja dan karena itu tudjuan dan daja-upaja untuk meningkatkan kesedjahteraan anggota dan masjarakatdaerah kerdja berhasil baik. Hasil2 jang telah ditjapai selama ini ialah: mendirikan gedung kantor, Pabrik Tekstil, gedung pertemuan, gedung Sekolah Taman Kanak, Gedung Balai Pengobatan, sekolah dasar dan pembangkit tenaga listrik. Susunan Pengurus untuk masa djabatan 1968/1969 ialah: Ketua I/II: H. Umar Affandi dan H.M. Chamiem, Penulis I/ II: H. Chalimie Firdaus, dan Markum Ilham, Bendahara: H. Mustadjab Chamidi dan Pembantu: H. Chudhori, H. Achmad Zakaria, M. Baidhowi dan H. Soebechi. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Solichin, Chaeroen dan Djambari. Dalam kepengurusan GKBI, wakil KOPINDO mendjabat Komisaris dan diwakili oleh H. Chudhori untuk masa djabatan tahun 1966/1968. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS KOPINDO: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Dalam kegiatan pendidikan KOPINDO aktip dan telah membangun gedung Sekolah Dasar ditempat tinggal anggotanja. Sekolah dasar ini diserahkan pemeliharaannja kepada Organisasi Pendidikan Muhammadijah dan bantuan tetap dari Kopindo tiap bulan diberikan. Disamping itu mendirikan gedung Sekolah Taman Kanak2 jang diasuh langsung oleh Pengurus. Biaja dibebankan kepada dana pendidikan dan bantuan dari GKBI. Disamping itu djuga membangun gedung Sekolah Menengah Pertama jang diserahkan djuga pada Organisasi Muhammadijah. Disamping pendidikan aktip ini untuk anggota, karyawan serta buruh batik, diadakan kegiatan olah raga meliputi tjabang2: Bulutangkis, volley ball, ping-pong, sepakbola. Kopindo termasuk „Bond Batik Pekalongan”. Disamping usaha pendidikan diatas KOPINDO djuga memberikan sumbangan2 pada organisasi pendidikan baik jang kedjuruan maupun umum. Dana pendidikan jang diterima dari sisa hasil usaha sampai tahun 1961 sebesar Rp. 1.037.758,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 1.162.703,—. Dan tahun 1965/1967 telah diterima sebesar Rp. 36,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 11.500. 2. Sosial dan Masjarakat: Kegiatan dibidang sosial ialah dengan mendirikan gedung Balai Pengobatan Batik jang terbuka untuk masjarakat daerah kerdja. Biaja untuk pemeliharaan B.P. ini diambilkan dari dana sosial dan sumbangan chusus anggota. Bantuan sosial lainnja jang diberikan kepada organisasi masjarakat ialah: bentjana alam, kelaparan, fakir miskin dan tiap tahun mengadakan chitanan masaal. Dana sosial jang diterima sampai tahun 1961 sebesar Rp. 865.864,— dan jang telah dikeluarkan sebesar Rp. 1.052.459,— dan tahun 1965/1967 jang diterima sebesar Rp. 44.769,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 128.615,—. Djumlah pasien jang berobat ke B.P. KOPINDO tahun 1956 sebanjak 13.757 orang, tahun 1959 sebanjak 4.909 orang, dan biajanja disatukan pengeluarannja dengan primer² lainnja atas nama Madjelis Koperasi Pekalongan. Untuk 6 primer batik tahun 1956 dikeluarkan biaja untuk Balai Pengobatan sebesar Rp. 453.977,— dan tahun 1959 sebesar Rp. 688.614,—. Dalam tahun 1962 banjaknja pasien jang berobat ke B.P. ada 7.622 orang dengan biaja sebesar Rp. 102.425,— dan tahun 1965 banjaknja pasien jang berobat ada 3.120 orang dan biaja jang dikeluarkan sebesar Rp. 2.019.074,—. Untuk tahun 1967 biaja jang dikeluarkan untuk B.P. sebesar Rp. 66.710,—. Selama KOPINDO berdiri pembangunan jang telah dilaksanakan untuk kepentingan masjarakat ialah: gedung pendidikan Taman Kanak², Sekolah Dasar Sekolah Menengah, Gedung pertemuan umum, balai pengobatan, pembangkit tenaga listrik dan pabrik tekstil serta gedung kantor. Atas usaha bersama 6 primer batik di Pekalongan ialah membiajai pembangunan gedung SMA Negeri, Balai Istirahat untuk Peme- rintah Pekalongan dan rentjana pembangunan „Gedung Wanita Pekalongan”. Dana pembangunan jang telah diterima sampai tahun 1961 ada sebesar Rp. 418.780,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 462.522. Untuk tahun 1965/1967 dana pembangunan jang diterima sebesar Rp. 11.903,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 57.636,—. Disamping dana2 diatas, maka pada anggota dipungut langsung dana tiap bulan mulai tahun 1964/1965 sampai tahun 1966 jaitu : dana planetarium , Dwikora, pembangunan nasional, kesemuanja ini langsung oleh GKBI. Dan oleh KOPINDO djuga dipungut dana pembangunan daerah. Pemungutan dana" ini mulai achir tahun 1966 tidak diadakan lagi. 4. Z a k at : Tiap tahun KOPINDO menerima zakat dari GKBI untuk diberikan kepada jang berhak didaerah kerdja koperasi. Disamping itu, KOPINDO sendiri mengeluarkan zakat atas amanat anggotanja. Untuk tahun 1965/1967 zakat jang diterima dari GKBI maupun dari KOPINDO sendiri ada sebanjak Rp. 250.552,— dan telah diberikan kepada jang berhak sebesar Rp. 70.629,— 5. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik : Karyawan selain dari menerima upah / gadji tiap bulan , kepada mereka dan keluarga diberikan bantuan beras, biaja pengobatan. Di camping itu tiap tahun mereka mendapat djaminan hari tua, hadiah lebaran dan gratifikasi . Untuk karyawan pabrik disamping jang diberikan kepada karyawan koperasi, djuga diberikan pakaian dinas. Untuk buruh batik selain dari upah, mereka mendapat bantuan biaja pengobatan dan hadiah lebaran tiap tahun. B. Bidang Usaha dan produksi : 1. Permodalan : Modal utama bagi KOPINDO ialah simpanan anggota , tjadangan dan pindjaman dari pihak ketiga. Waktu berdiri modal pertama ialah sebesar Rp. 11.600,— dan sekarang telah mentjapai sebesar Rp. 7.373.055,— Simpanan anggota ini tiap tahun bertambah dan pertambahannja dilihat dari kebutuhan penggunaannja. Waktu rentjana mendirikan pabrik tekstil, maka kenaikan simpanan anggota melondjak dengan tjepat dari tahun 1954 sebesar Rp. 471.952,— tahun 1955 mendjadi Rp. 1.399.636,— dan tahun 1959 kebutuhan untuk pembiajaan pabrik modalnja telah terkumpul semua. Perkembangan modal KOPINDO sedjak berdiri dapat dilihat dalam daftar dibawah serta penggunaannja.
Modal untuk pembiajaan pabrik telah terkumpul tahun 1959 dan akibat sanering uang dibekukan sebagian jang ada dibank jaitu Rp. 2.668.012,— dan uang baru sebesar Rp. 2.668,— djadi investasi obligasi. 2. Distribusi bahan baku batik: Sebelum KOPINDO mendjadi anggota GKBI, sedjak tahun 1950 sampai tahun 1954 mendjadi penjalur dari PPB Pekadjangan dan sudah mendjadi anggota tahun 1955 langsung mendjadi grossier GKBI. Dalam tahun 1955/1956 Kopindo banjak menebus bahan mori dari GKBI, hingga waktu diadakan penetapan prosentase djatah cambrics, KOPINDO prosentasenja naik. KOPINDO selain dari menjalurkan bahan baku dari GKBI, djuga menjalurkan bahan penolong seperti: lilin, siongka, bahan bakar dan sebagainja. Mulai tahun 1965 hasil produksi pabrik sendiri telah disalurkan pada anggota.
Produksi anggota KOPINDO jang barjak ialah sarung, dan sudah terkenal seluruh Indonesia, Singapore dan Malaysia. Konsumen terbanjak ialah diluar pulau Djawa dan paling disukai oleh bangsa Tjina. Dengan adanja wadjib / pool batik sandang, anggota jang tadinja biasa membuat sarung terpaksa membuat kain pandjang, dimana motifnja tidak berobah, dan ini mengurangi qualitas akibatnja. Dengan adanja pembebasan lagi setelah pertengahan tahun 1963 dan penampungan hanja untuk masa menghadapi lebaran dan tahun baru sadja lagi, maka produksi anggota kembali pada semula jaitu sarung. Untuk tahun 1965/1966 pemasaran batik anggota Kopindo jang disalurkan melalui koperasi mentjapai omzet : tahun 1965 tertjatat sebesar Rp. 488.951.107,— dan tahun 1966 tertjatat sebesar Rp. 3.088.998, uang baru. 4. Pabrik Tekstil KOPINDO : Rentjana untuk mendirikan pabrik ini setelah mendjadi anggota GKBI, dimana PPIP, PPB PEKADJANGAN sebagai anggota GKBI telah memulai lebih dahulu mendirikan pabrik tekstil. Tahun 1955 diadakan penindjauan kepabrik Pekadjangan dan PPIP, sesudah itu dalam rapat anggota diputuskan untuk mendirikan pabrik dan dipungut simpanan chusus. Dalam djangka lima tahun modal untuk pembiajaan pabrik sudah terkumpul , akibat adanja sanering uang maka uang jang ada dibank beku sebesar Rp. 2.668.000,—. Pemungutan simpanan didjalankan terus. Tahun 1960 Pemerintah telah menjediakan devisa untuk mesin tenun sebanjak 50 ATM, dan akan diimport mesin dari Djepang sesuai dengan GKBI jaitu merek HOWA . Dari pihak Pemerintah sebagai pelaksana importnja jaitu ex. LINDETEVES/ PN . Pembangunan Niaga sekarang, hanja ada hubungan dengan Pabrik Djepang jang membuat ,, SUZUKI”. Achirnja devisa ini terpaksa dibekukan karena timbulnja persoalan Irian Barat. Pembangunan gedung telah dimulai tahun 1960 dan tahun 1962 telah selesai. Rentjana baru jaitu memesan mesin tenun tahun 1963 dari Djepang sebanjak 54 buah dan tahun 1965 telah dipasang dan mulai menghasilkan. Disamping itu tahun 1961 KOPINDO telah membeli pula mesin kandji berkekuatan untuk 300 ATM . Mesin2 lainnja telah ada ialah : mesin palet , hani, tjutjuk , klos, diesel generator dan sebagainja. Dalam tahun 1965 produksi pabrik jang didjual kepada KOPINDO seharga Rp. 48.453.250,- dan tahun 1966 keuntungan bersih pabrik Rp. 19.631.299,— Tahun 1966 produksi blatju jang diserahkan kepada Kopindo seharga Rp. 675.795.030,- dan keuntungan pabrik sebesar Rp. 124.640.340,— Uang lama. Dalam tahun 1967 direntjanakan produksi pabrik sebanjak 3.300 pis atau 165.000 yard. Realisasi produksi tahun 1967 hanja sebanjak 2.8729/2 pis seharga Rp. 3.019.981 ,―. Bahan baku benang jang didapat dari GKBI tahun 1967 sebanjak 20.195 kg seharga Rp. 1.922.092,―. Management dari pabrik ini diserahkan kepada seorang pengurus, KOPINDO dan bertanggung djawab pada Pengurus, selandjutnja dipertanggung djawabkan setjara collective pada rapat anggota tiap tahun.
BAGIAN: 19 KOPERASI PENGUSAHA BATIK INDONESIA SIDOARDJO HAK BADAN HUKUM No. 1120 tanggal 27-12-55. Dijalan Djend. A. Yani No. 59 Telp. 76.
1. RIWAJAT PEMBATIKAN: Riwajat pembatikan didaerah Sidoardjo mempunjai hubungan dengan sedjarah perkembangan keradjaan zaman dahulu jaitu: keradjaan Madjapahit, Doho dan Djenggolo. Diperkirakan semasa zaman radja2 Madjapahit dahulu sudah dikenal pembatikan didesa Tarik antara Sidoardjo dan Modjokerto, ditempat ini sekarang pembatikan tidak ada, hanja peninggalan2 keradjaan R. Widjaja atau Djenggolo. Waktu zamannja Daendels berkuasa nama Djenggolo digantinja mendjadi ,,Sidoardjo”. Petilasan jang dapat djuga kita djumpai jaitu: Tjandi Puri Ketjamatan Porong, anak turunan Tjandi Puri jang meneruskan seni batik didesa Kedungtjangkring sekarang. Daerah pembatikan sekarang di Sidoardjo terletak didesa-desa Kedungtjangkring, Djabon Porong dan dalam kota Sidoardjo jaitu desa: Djetis dan Sekar Dongan. Awal abad ke-XX pengusaha2 batik jang dikenal di Kedung Tjangkring lebih kurang 5 orang dan Sidoardja djuga 5 orang. Batik jang dikerdjakan semuanja tulis, bahannja buatan sendiri dari soga tinggi, djambal, mengkudu dan pohon tom. Produksi Kedung tjangkring kebanjakan ikat kepala, selendang, sarung dan terkenal namanja: batik tjangkringan dan batik kelengan. Produksi Djetis jang terkenal djuga ikat kepala warna tjoklat dan merah mendjadi kebanggaan bangsawan Madura, Ikat kepala ini dinamakan ,,Sidoardjoan” dan sarungnja dinamakan” batik Madura ,,Pembuatan batik asli ini di Sidoardjo sukar, tidak seperti zaman sebelum perang dan jang bisa sekarang ada satu perusahaan Tjina dan ini berupa pesanan dahulu. Daerah pemasaran batik Sidoardjo sebelum perang tersebar diseluruh daerah Djawa Timur. Tjap dikenal di Sidoardjo bersamaan dengan dikenalnja obat² luar negeri jaitu sesudah perang dunia kesatu. Pasaran batik jang teramai waktu itu ialah tahun 1922 waktu itu diresmikannja Pabrik Gula Djatiroto dan pengusaha² batik Kedungtjangkring dan Djetis mengalami puntjaknja dan banjak pengusaha² batik jang menunaikan Rukun Islam kelima akibatnja . II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK : Waktu zaman sesudah perang dunia kesatu, dimana proses batik tjap dan bahan² luar negeri dikenal, produksi batik meningkat dengan tjepatnja. Bahan² baku batik dan pemasaran batik dikuasai oleh pedagang² Tjina dan Arab, pengusaha² batik mendapat kredit dari pedagang² ini. Waktu krisis ekonomi pengusaha² batik ini banjak berhutang dan terpaksa mendjual hartanja untuk melunasinja. Waktu itu pengusaha batik djumlahnja di Kedungtjangkring lebih kurang 35 orang dan Djetis Sidoardjo 20 orang. 1. Koperasi wadah jang tjotjok: Setelah pengakuan kedaulatan R.I. pengusaha² batik langsung mendapat bahan² baku dari pedagang² Arab Surabaja. Pada tahun 1952 pengusaha² batik jang dipelopori oleh H. Choudori Amir, K. Sohar, K. Hamzah , M. Jusuf, mengumpulkan pengusaha² batik dirumah Mbok H. Rachman dan dibentuklah dan dirobah organisasi lama dari PPBIS mendjadi Koperasi Perusahaan Batik Indonesia Sidoardjo (KPBIS) dan Kedungtjangkring masuk mendjadi anggotanja. 2.Anggaran Dasar dan Badan Hukum : Daerah kerdja KPBIS seluruh Kabupaten Sidoardjo dan waktu GKBI mendapat Hak Badan Hukum tahun 1953 , KPBIS mendjadi tjalon anggota . KPBIS mendapat pengakuan Badan Hukum tanggal 27 Desember 1955 No. 1120 dan diterima mendjadi anggota GKBI tanggal 6 April No. 19. Perobahan A.D. KPBIS pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang2 Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959, tertjatat No. 1120A / 1961 dan perobahan kedua, penjesuaian dengan Undang2 Koperasi No. 12/1967 tertjatat No. 1120B / 1968. 3.Keanggotaan dan kepengurusan : Djumlah anggota pertama kali tahun 1952 sebanjak 47 orang, perkembangan selandjutnja waktu diterima mendjadi anggota GKBI tahun 1956 terdaftar 123 orang, tahun 1959 ada 140 orang, tahun 1964 ada 102 orang dan keadaan achir tahun 1967 ada 106 orang. Usaha Pengurus Sidoardjo sedjak berdiri sampai sekarang antara lain ialah : bidang idiil telah dapat mendirikan STK , bidang usaha telah dapat mendirikan kantor sendiri dan di Kedungtjangkring kantor Perwakilan . Dan usaha ' lainnja dibidang produksi belum ada karena , KPBIS adalah koperasi ketjil dan pemupukan modal sangat lambat. Susunan Pengurus untuk masa djabatan 1966/1968 adalah : Ketua I/II : H. Choudori Amir dan H. Choudori Alwi, Penulis I/II : H. Inwan Manaf dan H. Zaini, Bendahara : Abu Hadi dan Pembantu : H. Moehdor dan H. Jusuf. Susunan Badan Pemeriksa ialah Ibrahim Rasjid , Masrur Rosjidi dan Chasan Mukmin. III . KEGIATAN DAN AKTIVITAS KPBIS : A. Bidang Organisasi dan Idiil : 1. Pendidikan : Kegiatan Sidoardjo dibidang pendidikan jang aktip ialah menjelenggarakan STK sedjak tahun 1957. Gedung STK dibangun atas bantuan GKBI sebanjak Rp. 90.000,- dan kekurangannja diambilkan dari dana Sidoardjo. Disamping STK ini setjara pasif ialah membantu pendidikan Madrasah Mualimin dan Mualimat di Kedungtjangkring. Anggota² Sidoardjo aktip menjelenggarakan sekolah ini sedjak tahun 1956 dan gedung barunja berdiri tahun 1959 atas bantuan GKBI dari dana pembangunan. Sekolah ini sekarang telah banjak mengeluarkan siswa²nja baik untuk djurusan umum dan agama sedjak tahun 1962. Biaja dari pendidikan ini diambilkan dari dana dan bantuan GKBI. Dana jang diterima sedjak tahun 1953/1961 sebesar Rp. 25.995,—. 2.Sosial dan masjarakat : Kegiatan dibidang sosial hanja memberi bantuan pada organisasi² sosial dan madrasah serta lain²-nja . Dana jang diterima sedjak tahun 1953/1961 ada Rp. 27.575,—. 3.Pembangunan daerah kerdja : Kegiatan dibidang pembangunan kerdja ialah membangun gedung STK dan gedung Sekolah Mualimin dan Mualimat di Kedungtjangkring. Dana jang telah diterima sebesar Rp. 278.220,—. dan telah dikeluarkan Rp. 136.480,—. 4.Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan selain dari menerima gadji tiap bulan, mereka mendapat djaminan sosial lainnja jaitu: beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Sedangkan buruh batik mendapat upah dan hadiah lebaran. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: Permodalan KPBIS waktu berdiri pertama kali hanja Rp. 4.700, waktu mendjadi anggota GKBI tahun 1956 sebanjak Rp. 136.225,— dan achir tahun 1967 sebesar Rp. 822.991,—.
2.Distribusi bahan baku batik: Sedjak KPBIS berdiri tahun 1952 telah mendapat bahan baku dari GKBI dan setelah mendjadi anggota diangkat mendjadi grossier. Selain dari menjalurkan bahan² dari GKBI, KPBIS djuga menjalurkan bahan² penolong usaha sendiri. KPBIS selain menjalurkan untuk anggotanja djuga menjalurkan untuk langganan dan keradjinan batik.
Daerah pemasaran batik anggota terutama diseluruh daerah dan kota² di Djawa Timur. Produksi anggota Sidoardjo sebagian besar terdiri dari selendang , ikat kepala, sarung dan kain batik. Pusat² perkebunan didaerah Djawa Timur dan pabrik² adalah daerah pemasaran batik Sidoardjo. 4.Pabrik Tekstil : Rentjana mendirikan pabrik diputuskan oleh rapat anggota tahun 1965 dan tahun itu dimulailah mengadakan pemupukan modal. Mengingat situasi ekonomi sekarang, pemupukan modal sukar dilaksanakan, hingga rentjana matjet. BAGIAN: 20 KOPERASI PEMBATIKAN BUWARAN I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Adanja pembatikan didaerah Buwaran hampir bersamaan dengan pembatikan di primer² lainnja jaitu sekitar abad ke-XIX. Perkembangan pembatikan didaerah-daerah luar selain dari Jogjakarta dan Solo erat hubungannja dengan perkembangan sedjarah keradjaan Jogja dan Solo. Meluasnja pembatikan keluar dari kraton setelah berachirnja perang Diponegoro dan banjaknja keluarga kraton jang pindah ke daerah-daerah luar Jogja dan Solo karena tidak mau kerdjasama dengan pemerintah kolonial. Keluarga kraton ini membawa pengikutỉnja kedaerah baru itu dan ditempat ini keradjinan batik terus dilandjutkan karena ini merupakan kebutuhan kaum wanita. Tjorak batik didaerah baru ini disesuaikan pula dengan keadaan daerah sekitarnja. Pekalongan chususnja dilihat dari proses dan designnja banjak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Sampai awal abad ke-XX proses pembatikan jang dikenal ialah batik tulis dengan bahan morinja buatan dalam negeri dan djuga sebagian import. Setelah perang dunia kesatu baru dikenal pembikinan batik tjap dan pemakaian obat² luar negeri buatan Djerman dan Inggeris. II. PERDJUANGAN BATIK: 1.Tjita² berorganisasi: Pekerdjaan utama dari rakjat Buwaran ialah membatik selain dari tani. Awal abad ke-XX hubungan lalu-lintas antara Buwaran dan Pekalongan kota belum lantjar dan pedagang² serta pengusaha batik membeli bahan baku di Pekalongan. Perbedaan harga antara Pekalongan dan Buwaran tjukup besar dan untuk mengatasi ini, pengusaha berkumpul dan mendirikan „Warung Gotong-rojong” jang mendjual semua kebutuhan pengusaha batik. Warung ini tidak ber djalan lama karena banjak pedagang masuk ke Buwaran dan menetap membuka toko² chususnja Tjina. Tjina selain membuka toko djuga mengusahakan perusahaan batik dan pengusaha² batik membeli bahan baku pada Tjina. Waktu krisis ekonomi warung² bangsa Indonesia banjak jang tutup dan tinggal kepunjaan Tjina. Setelah krisis tekanan dari pedagang² Tjina bertambah berat dan pengusaha² batik terlibat dengan hutang dan status mereka dari pengusaha pindah pada buruh batik, karena bahan² diterima dari Tjina dengan kredit dan hasil batiknja disetorkan pada Tjina itu lagi. Untuk mengatasi ini sekelompok pengusaha² batik jang gigih membentuk perkumpulan jang dinamakan „ANGGAJUH SAHENING EKONOMI RAKJAT INDONESIA” tahun 1936. Kumpulan ini mendjualkan bahan² baku batik dan kebutuhan harian pengusaha batik dan selalu mendapat rintangan dan saingan dari pedagang² Tjina, akibatnja lumpuh lagi. Koperasi wadah jang sesuai dengan pembatikan : Pertengahan tahun 1950 pengusaha² batik di Buwaran mengaktipkan kembali kegiatan WARUNG WARAS dan bahan² baku batik didapat dari PPB Pekadjangan jang disalurkan kepada pengusaha² batik di Buwaran. Kegiatannja berdjalan sampai tahun 1952. Kira² 9 September 1952 pengusaha² batik jang dipelopori oleh antara iain : K.H. Sjafi'i, H. Ahmad Djazari, H. Abdulhalim , H. Anwar Masjhudi. H.M. Nuch Abbas dan Mardjuki, bersama-sama dengan pengusaha batik lainnja berkumpul dan sepakat meningkatkan kegiatan WARUNG WARAS ini mendjadi organisasi koperasi. Tanggal 9 September 1952 itu lahirlah koperasi jang dinamakan „KOPERASI PEMBATIKAN BUWARAN” dengan djumlah anggota sebanjak 37 orang. Susunan pengurus pertama kali ialah : Ketua : K.H. Sjafi'i, Penulis : H. Ahmad Djazari, Bendahara : H. Abdulhalim dan Pembantu : H. Anwar Masjhudi dan Marzuki. Susunan badan Pemeriksa pertama kali ialah : H. Usman Aruch , Anwar Fatoni dan Wasmun. Anggaran Dasar dan Badan Hukum : Daerah kerdja Koperasi BUWARAN seluruh Ketjamatan Buwaran terdiri dari 22 Desa. Badan Hukum BUWARAN diperoleh tanggal 5 Djanuari 1957 dengan No. 1305. Sebelum BUWARAN men dapat hak badan hukum, fungsinja sebagai penjalur dari Koperasi PPB PEKADJANGAN dan di GKBI sebagai tjalon anggota sampai badan hukum diperoleh. Tahun 1957 Djuni, BUWARAN diterima mendjadi anggota, tertjatat No. 20 dan mendjadi grossier GKBI Oktober 1957. Anggaran Dasar BUWARAN telah berobah dan disesuaikan dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959 tanggal 1 Maret 1961 No. 1305a dan dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 tahun 1968 dengan No. 1305b . Keanggotaan dan management BUWARAN : Waktu didirikan tahun 1952 , djumlah anggota tertjatat 37 orang dan perkembangannja sampai sekarang dapat dilihat dibawah.
Pedoman untuk menentukan ketatalaksanaan BUWARAN telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar, rentjana Anggaran Belandja dan Usaha oleh rapat anggota. Untuk melaksanakan putusan dan amanat anggota ini, rapat anggota memilih pengurus dan sebagai pengawasannja memilih badan pemeriksa. Untuk periode tahun 1968/1969 telah ditetapkan pengurus dan badan pemeriksa ialah: Ketua dan Wakii Ketua: K.H. Sjafi'i dan H.M. Nuh Abbas, Penulis I, II: H. Achmad Djazari dan H. Mucharom, Bendahara I, II: H. Anwar Masjbudi dan Mc. Zarkasi Ismail dan Komisaris: H. Abunawar. Susunan Badan Pemeriksa: Kj. H. Mudzakir, Sjahroni Darsono dan H. Nurjasin Penasehat Pengurus: H. Marzuqie dan Basuni B.A. Sedjak berdirinja BUWARAN tahun 1952 sampai sekarang jang memegang Ketuanja tetap K.H. Sjafi'i dan pengurus² lainnja tetap pendiri nja, hanja berobah fungsinja sadja. Karena pimpinan ini tiap tahun tetap mendapat kepertjajaan dari rapat anggota, akibatnja rentjana kerdja BUWARAN dapat dilaksanakan dengan baik. Usaha² Pengurus dalam bidang produksi kelantjaran usaha ialah: mendirikan gedung kantor dan Pabrik Tekstil serta perluasannja. Untuk kepentingan masjarakat daerah kerdja mendirikan gedung² pendidikan jang diberikan kepada organisasi Islam. III. KEGIATAN AKTIVITAS BUWARAN: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan BUWARAN sedjak berdiri dibidang pendidikan antara lain memberikan pendidikan/kursus kekoperasian dan organisasi kepada anggota. Untuk keluarga anggota dan masjarakat daerah kerdja, tahun 1958 diresmikan pembukaan gedung Taman Kanak². Biaja pendirian gedung ini diterima dari GKBI. Dari sumbangan anggota melalui djatah dapat didirikan gedung S.R. Islam VI tahun dan S.M. Islam III tahun, masing² dengan biaja Rp. 250.000,— dan Rp. 300.000,—. Untuk kepentingan pabrik tekstil telah dikirim 3 orang anak anggota ke Sekolah Tekstil Tinggi di Bandung jang nantinja akan bekerdja dipabrik. Dana pendidikan jang diterima dari sisa hasil usaha sampai tahun 1961 terkumpul sebanjak Rp. 668.676,— dan telah digunakan sebesar Rp. 210.699,— dan selama tahun 1965/1967 terkumpul dana pendidikan sebesar Rp. 30.504,09,— dan telah digunakan sebesar Rp. 522—. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial jang penting ialah mendirikan Balai Pengobatan batik tahun 1957. Balai Pengobatan ini terbuka untuk anggota, karyawan, buruh batik beserta keluarganja dan masjarakat daerah kerdja. Biaja untuk Balai Pengobatan ini diambilkan dari dana sosial, sumbangan anggota dan bantuan dari GKBI. Untuk tahun 1952/1961 telah diterima dana sebanjak Rp. 268.737,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 473.244,— Untuk tahun 1965/1967 dana jang diterima sebesar Rp. 30.523.42,— dan telah dikeluarkan pula sebesar Rp. 23.139.95,— Disamping dana sosial ini BUWARAN djuga memungut pada anggota sumbangan chusus jang dinamakankantong sosial. Penggunaan kantong sosial ini ialah memberikan bantuan pada masjarakat daerah kerdja melalui organisasi² sosial, madrasah, mesdjid dan bentjana alam. 3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja ialah antara lain memperbaiki saluran air/irigasi didesa Buwaran dan Pringlangu, hingga bisa mengairi sawah seluas ± 57 HA dalam tahun 1954. Disamping itu ialah perbaikan djalan didaerah kerdja Buwaran antara perbatasan Ketjamatan Kedungwuni dan Pekalongan. Pembangunan jang erat hubungannja dengan kepentingan anggota ialah: tahun 1954 didirikannja kantor BUWARAN, dan tahun 1958 mendirikan pabrik tekstil BUWARAN. Gedung lainnja jang erat hubungannja dengan masjarakat ialah: dibangunnja gedung pendidikan Taman Kanak², S.D. Islam dan S.M. Islam serta Balai Pengobatan Batik. Bersama dengan 5 Primer batik lainnja di Pekalongan ialah membangun gedung „Wisma” untuk Pemerintahan Kabupaten Pekalongan. Untuk pembiajaan pembangunan ini BUWARAN memungut dari anggotanja dan dari sisa hasil usaha tiap bulan. Disamping itu, GKBI djuga memungut langsung dana pembangunan melalui djatah tiap bulan untuk membiajai project planetarium dan project² nasional lainnja jang dibebankan pada GKBI. Dalam tahun 1952/1961 dari dana pembangunan telah diterima sebesar Rp. 975.325,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 295.379,—. Dana pembangunan untuk tahun 1965/1967 jang diterima sebesar Rp. 610.768.50 dan telah dikeluarkan sebesar Rp.509.210,10. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Untuk meningkatkan kesedjahteraan karyawan koperasi dan pabrik tekstil selain dari gadji jang diterima, djuga diberikan djaminan² sosial lainnja jaitu: beras tiap bulan, biaja pengobatan, hadiah lebaran, gratifikasi tahunan, pakaian dinas. Untuk buruh batik djuga diberikan bantuan sosial lainnja jaitu: biaja pengobatan, hadiah lebaran jang diambilkan dari sumbangan/kantong sosial anggota.
BUWARAN selain dari menjalurkan zakat dari GKBI, djuga mengeluarkan zakat tiap tahun. Zakat² ini diberikan kepada jang berhak menerimanja dalam tahun 1967, dari GKBI dan dari BUWARAN sebesar Rp. 235.360,— dan djumlah sebesar Rp. 235.360,— ini telah dikeluarkan semuanja. B. Bidang Komersil dan Produksi: 1. Permodalan: Sumber permodalan bagi koperasi ialah: anggota, tjadangan dan pindjaman dari luar. Pada tahun 1952 tertjatat modal BUWARAN sebesar Rp. 18.500,— dan modal ini terus bertambah tiap tahun disesuaikan dengan kebutuhan kegiatannja. Dalam tahun 1955 simpanan anggota diperbesar karena kebutuhan usaha bertambah dan tahun 1956 ditambah lagi karena ada rentjana untuk mendirikan pabrik tekstil. Simpanan ini bertambah terus karena GKBI sendiri tuskan lagi menambah simpanan , berhubung dengan adanja perluasan pabrik tekstil BUWARAN. Untuk melihat perkembangan simpanan dan penggunaan modal dapat dilihat dibawah ini.
2. Distribusi bahan baku batik: Sebelum BUWARAN merdjadi anggota GKBI, fungsinja sebagai penjalur dari Koperasi PPB PEKADJANGAN. Setelah mendjadi anggota tahun 1957, diangkat mendjadi grossier GKBI dan langsung menjalurkan bahan baku pada anggotanja. BUWARAN selain menjalurkan bahan baku jang diterima dari GKBI , menjalurkan djuga hasil produksi pabrik tekstilnja sendiri.
Omzet BUWARAN terdiri dari bahan baku dari GKBI dan produksi pabrik sendiri serta batik produksi anggota. Omzet dari barang² GKBI adalah 80% dari seluruh omzet dan ini dapat dilihat dalam daftar dibawah.
3. Pemasaran batik: Baik sebelum BUWARAN berdiri maupun sesudahnja, pemasaran batik bersama selalu diusahakan. Daerah pemasaran batik anggota BUWARAN tersebar seluruh kepulauan Indonesia dan diekspor kenegara² Asia Tenggara. Hasil pendjualan batik jang disalurkan melalui koperasi sesudah dihapuskannja pool batik sandang ialah: tahun 1965 sebesar Rp. 384.912.100,—, tahun 1966 sebesar Rp. 3.389.372, dan tahun 1967 sebesar Rp. 1.104.909,—. Hasil produksi anggota lainnja sebagian besar, pemasarannja diusahakan sendiri. 4. Pabrik Tekstil BUWARAN: Pabrik ini didirikan didesa Pringlangu dan hasil produksinja dinamakan „GreyPringlangu”. Pabrik ini direntjanakan berdirinja tahun 1958 dan tahun 1956 sesuai dengan putusan rapat anggota, telah dimulai mengumpulkan modal chusus untuk pembiajaan project pabrik ini. Rentjana semula, kapasitas mesin akan dipunjai sebanjak 50 buah lengkap dengan alat² pertenunan lainnja. Realisasinja hanja sebanjak 30 buah mesin tenun SUZUKI, pada tahun 1960 pabrik ini telah mulai menghasilkan. Dalam th. 1962 direntjanakan perluasan dan tahun 1964 diadakan perluasan dan perlengkapan lainnja. Hingga sampai tahun 1966 Pabrik Tekstil BUWARAN telah mempunjai mesin tenun sebanjak 84 ATM, terdiri dari 58 buatan Djepang dan RRT, 26 ATM buatan dalam negeri. Perlengkapan pertenunan lainnja ialah: mesin kelos, palet dan pembangkit tenaga listrik. Sampai achir tahun 1967 djumlah investasi dalam pabrik ini ialah sebesar Rp. 1.100.000,— dan hutang pada koperasi sebagai modal kerdja sebesar Rp. 1.431.891,—. Dalam tahun 1967 sisa hasil pabrik sebesar Rp. 498.513,—. Neratja kekajaan Pabrik Tekstil BUWARAN achir tahun 1967 ialah:
BAGIAN: 21 1. RIWAJAT PEMBATIKAN: Sedjarah pembatikan di Purworedjo bersamaan adanja dengan pembatikan di Kebumen jaitu berasal dari Jogjakarta sekitar abad ke-XIX. Perkembangan keradjinan batik di Purworedjo dibandingkan dengan di SAKTI Kebumen lebih tjepat di Kebumen. Produksinja sama pula dengan Jogja dan daerah Banjumas lainnja. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: Pengusaha² batik di Purworedjo jang agak besar dilihat dari keadaan setempat antara lain milik H. Mausul dan jang lainnja adalah ketjil. Waktu menghadapi masa² krisis pengusaha batik disini sama nasibnja dengan pembatik² lainnja. Perdjuangan pengusaha batik jang aktip menudju pembentukan organisasi baru setelah kemerdekaan jaitu waktu pendudukan Belanda tahun 1949. Pembatik mendapat bahan dari B.I.H. dan setelah pengakuan kedaulatan diadakan hubungan dengan Jogja. Pada tahun 1950 datang berkundjung ke Purworedjo Sdr. Ramelan SH dari BTC untuk mengumpulkan kegiatan pengusaha batik dalam menetapkan kebutuhan bahan baku dan kemungkinan² membentuk koperasi. Diadakan pertemuan dirumah Sdr. H. Ashari dengan mengundang pengusaha² batik dari Kebumen. 1. Pembentukan wadah koperasi: Dalam pertemuan itu djuga dibitjarakan untuk membentuk organisasi dan diputuskan untuk mendirikan „Persatuan Batik Indonesia Kedu” dimana pengusaha² batik Kebumen djuga masuk mendjadi anggotanja. Usaha Persatuan Batik Indonesia Kedu ini mendapat djatah dari BTC dan tahun 1952 waktu Pengurus GKBI berkundjung ke Purworedjo dan Kebumen diandjurkan supaja mendirikan Koperasi supaja bisa masuk anggota GKBI. Tahun 1952 itu djuga dibentuklah Koperasi Batik jang dinamakan „Koperasi PERBAIK” dengan djumlah anggota 13 orang. Susunan Pengurusnja diketuai oleh H. Mausul. a. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja PERBAIK meliputi daerah Swatantra tingkat II Purworedjo dan Hak Badan Hukum didapat tahun 1957 No. 1505 dan mendjadi anggota GKBI tahun 1957 No. 21. Perobahan² A.D. jang telah dilaksanakan ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959 terdaftar No. 1505 A tanggal 1 Maret 1961. Perobahan kedua ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 1505B/1968. b. Keanggotaan dan kepengurusan: Djumlah anggota sedjak mendapat hak badan hukum tidak berapa tambahnja Tahun 1956 tertjatat 43 orang, 1958 ada 40 orang, tahun 1962 ada 58 orang, tahun 1965 ada 84 orang dan tahun 1967 ada 83 orang. c. Kepengurusan dan badan pemeriksa: Pengurus dan Badan Pemeriksa adalah aparat organisasi jaitu jang memimpin dan jang melaksanakan pengawasan. Pengurus dan Badan Pemeriksa ini dipilih dan bertanggung djawab pada rapat anggota. Susunan Pengurus untuk tahun 1968/1969 ialah: Ketua I/II: Moh. Ardani Z, dan H. Abdulfatah, Penulis: Masjhuri Z, Bendahara I/II: H.M. Joesoef dan Moch. Asmuni serta pembantu²: Moh. Arcom dan Moh. Zaini. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Abu Amir, dan Moh. Adnan. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS PERBAIK: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Sesuai dengan ketjilnja koperasi PERBAIK maka kegiatannja dibidang pendidikan disesuaikan dengan kekuatannja. Pendidikan aktip jang diselenggarakan ialah STK Batik. Pembiajaan untuk STK diambilkan dari dana pendidikan dan bantuan GKBI tiap tahun. Selama tahun 1957/1961 dana pendidikan jang diterima sebesar Rp. 113.528,— dan jang dikeluarkan sebesar Rp. 127.205,—. Selain dari itu kegiatan ialah memberikan bantuan tetap pada organisasi² pendidikan Islam tingkat STK dan SD. Untuk anggota pernah diadakan pendidikan proses pembatikan jang tenaga pengadjarnja didatangkan dari Bala: Penelitian Batik Jogjakarta. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial ialah menjelenggarakan Balai Pengobatan Batik jang terbuka untuk magjarakat dan keluarga batik. Biaja pembangunan gedungnja didapat dari GKBI dan kekurangannja dari dana primer sendiri. Dana sosial jang diterima dari tahun 1957/1961 tertjatat sebesar Rp. 140.176,— dan jang dikeluarkan sebesar Rp. 130.124,—. Bantuan pemeliharaan B.P. ini tiap tahun didapat dari GKBI dan tahun 1967/1968 mendapat maksimal Rp. 42.000,—.
Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja membangun gedung TK, Balai Pengobatan dan perbaikan djembatan di Balaidono tempat anggota. Biaja pembangunan ini dibebankan pada dana dan bantuan GKBI. Dana jang diterima sedjak tahun 1958/1961 sebesar Rp. 1.114.735,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 1.406.413,— Gedung Polklinik Koperasi Batik Perbaik Purworedjo jang dibuka sedjak tahun 1957 dan biaja pemeliharaannja diambilkan dari dana sosial, ongkos primer dan bantuan tetap GKBI. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan PERBAIK selain dari menerima gadji bulanan, djaminan sosial lainnja jang diberikan ialah: beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Sedangkan buruh batik selain dari upah, mereka mendapat bantuan pengobatan di Balai Pengobatan dan hadiah lebaran. 5. Zakat: PERBAIK selain mengeluarkan zakat sendiri djuga menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja. Zakat jang diterima dua tahun belakangan ini sebesar Rp. 58.979,— dan telah diberikan kepada jang berhak sebesar Rp. 90.813,—. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: Perkembangan simpanan² anggota dan penggunaannja dapat dilihat dibawah ini mulai diterima mendjadi anggota GKBI.
2.Distribusi bahan² GKBI : Sedjak tahun 1952 PERBAIK telah mendapat bahan dari GKBI/BTC dan mendjadi anggota tahun 1957, diangkat mendjadi grossier langsung
*) Angka² dalam ribuan. 3. Pemasaran batik: Daerah pemasaran batik anggota PERBAIK jaitu Jogja, Semarang dan Djakarta serta kota² Djawa Tengah lainnja. Produksi batik Purwokerto sama dengan batik² Banjumas dan Jogja serta Solo. 4. Pabrik Tekstil PERBAIK: Rentjana pendirian pabrik telah diinginkan semula pada tahun 1960 dan tempat jang baik telah ditjari oleh Pengurus, tetapi rentjana ini tidak bisa direalisir karena keadaan keuangan pada tahun 1962 tidak mengizinkan. Rentjana ini pada tahun 1964 dibuat lagi dan diputuskan mendirikan pabrik dengan 50 buah ATM. Modal dikumpulkan melalui djatah titap² bulan dan pembangunan gedung dimulai pulkan melalui djatah tiap² bulan dan pembangunan gedung dimulai tahun 1964 dan selesai tahun 1965. Tahun 1965 dipesan mesin sebanjak 20 buah dan tahun 1966 sudah datang. Dalam tahun 1966 Agustus pemasangan mesin² sudah selesai dan produksi sudah dimulai. Dalam tahun 1967 terdjadi kerusakan pada bangunan karena konstruksi bangunan tidak kuat dan sudah diperbaiki dan disesuaikan dengan sjarat² pabrik jang diperlukan. Pabrik ini dalam tahun 1968 kurang lantjar djalannja karena kekurangan modal kerdja. Dalam tahun 1967 benang jang diterima dari P.C. GKBI Medari sebanjak .6.874 kg seharga Rp. 654.502,— dan djumlah investasi PERBAIKI dalam pabrik sampai achir th. 1967 tertjatat sebesar Rp. 1.415.227.
—————— BAGIAN: 22 KOPERASI BATIK „PERSAUDARAAN” I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Keradjinan batik di Tjomal dikenal bersamaan dengan daerah pembatikan dikota-kota Pekalongan lainnja jaitu sekitar achir abad ke-XIX. Bahan² batik jang dipergunakan djuga terdiri dari kain tenunan sendiri dan obat² hasil ramuan sendiri pula jaitu: mengkudu, nila, soga dan gamping. Produksi kebanjakan terdiri dari selendang, ikat kepala dan sedikit sarung dan kain. Pembatik di Tjomal mengenal batik tjap dan obat² luar negeri sesudah perang dunia kesatu. Pengusaha batik di Tjomal tidak sebanjak cikota Pekalongan dan motif batiknja tidak aneka warna. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Merintis menudju organisasi: Pengusaha² batik di Tjomal djuga sama nasibnja dengan pembatik di Pekalongan jaitu bekerdja dengan kredit dari pedagang² Tjina. Sebelum perang dunia kedua dan sampai Djepang masuk kegiatan pengusaha menudju pembentukan organisasi belum nampak dan kegiatan baru nampak setelah kemerdekaan. Setelah kemerdekaan sekitar tahun 1947 diandjurkan oleh Abbas Sugen supaja membentuk koperasi dan datanglah ke Pekadjangan untuk minta pendjelasan pada Pengurus Koperasi Pekadjangan. Disamping minta pendjelasan pada Pengurus Pekadjangan, djuga minta petundjuk dan nasehat pada Sdr.Moh. Chuza'i Ali jang mendjabat guru Agama di Tjomal. Sampai tahun 1950 belum terbentuk koperasi dan baru perkumpulan pembelian bersama.
2. Koperasi wadah jang tjotjok: Pada tahun 1950/1951 pengusaha² batik mendapat bahan² obat dari Koperasi Pekadjangan. Oleh Pengurus GKBI Sdr. H.A. Aziz diandjurkan supaja di Tjomal didirikan koperasi. Maka pada tanggal 8 Djuli 1952 didirikanlah „Koperasi Batik Persaudaraan” jang dipelopori antara lain oleh: Abas Sugen, Ta'id, Muh. Chuza'i Ali, Awud Kosadi dengan djumlah anggota sebanjak 36 orang. Susunan Pengurus pertama ialah: Ketua: Abas Sugen, Penulis: Bakrun, Bendahara: H. Badjuri dan Pembantu²: Muh. Chuza'i Ali, Ibnu Abdilah, Amin dan Ta'id. Sebelum Persaudaraan mendapat hak badan hukum, mereka mendjadi Penjalur dari Koperasi Batik Pekadjangan, setelah mendapat badan hukum berpisah dan langsung mendjadi grossier GKBI. a. Hak Badan Hukum dan Anggaran Dasar: Tjomal adalah satu Ketjamatan terletak antara Pemalang dan Pekalongan Daerah kerdja Persaudaraan meliputi Kabupaten Pemalang dan anggota²nja kebanjakan di Tjomal dan beberapa orang di Pemalang kota. Sampai tahun 1957 Tjomal mendjadi Penjalur dari Pekadjangan dan setelah mendapat Hak Badan Hukum 12 Djuni 1958 No. 1768, diterima mendjadi anggota GKBI, 25 Agustus 1958 No. 22. Setelah mendjadi anggota GKBI, Persaudaraan menerima ajatahnja langsung dari GKBI. Perobahan² AD Persaudaraan jaitu penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959, tertjatat No. 1768A tanggal 1 Maret 1961 dan perobahan kedua b. Keanggotaan dan kepengurusan: Persaudaraan selain melajani anggotanja djuga banjak pengusaha² batik jang bukan anggota dan keradjinan batik. Perkembangan anggota sedjak berdirinja adalah: tahun 1952 tertjatat 35 orang, tahun 1958 ada 70 orang, tahun 1963 ada 75 orang dan tahun 1967 ada 78 orang. Kepengurusan Persaudaraan permulaannja dipegang oleh Abas Sugen sebagai Ketuanja dan tahun 1953 sampai sekarang dipegang oleh Moh. Chuza'i Ali. Usaha² pengurus jang telah ditjapai ialah: membangun gedung kantor, STK dan Balai Pengobatan Batik. Untuk masa djabatan 1968/1969 susunan pengurus ialah: Ketua I/II: Moh. Chuza'i Ali, dan Thoha Anwar. Penulis: Moh. Anshory dan Bendahara I/II: Fahim H.M.B.Sc dan Ruba'i A.G. sebagai Pembantu Pengurus. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Adenin R. dan Nasichin Saadi. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS PERSAUDARAAN: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan dibidang pendidikan disesuaikan dengan kekuatan Persaudaraan sendiri sebagai satu koperasi ketjil. Sebagai anggota GKBI jang baru masuk tahun 1958, pada tahun 1960 telah bisa membangun gedung kantor dan disampingnja gedung pendidikan STK. Biaja untuk pembangunan gedung STK diterima dari GKBI sebesar Rp. 90.000, dan kekurangannja diambilkan dari dana pendidikan primer. Dana jang diterima sedjak tahun 1965/1967 sebanjak Rp. 584,—. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial jaitu memberikan bantuan pada organisasi² sosial didaerah kerdja dan baru tahun 1966 dapat membangun gedung Balai Pengobatan sendiri. Balai Pengobatan ini terbuka untuk umum selain untuk keluarga anggota, karyawan dan buruh batik. Biaja pemeliharaan B.P. diambilkan dari dana sosial dan bantuan dari GKBI. Dana jang telah diterima dalam tahun 1965/1967 sebanjak Rp. 514,—. Djumlah pasien Tahun 1966 ada 1.183 orang biaja sebesar Rp. 84.451,— dan tahun 1967 sebanjak 2125 orang dan biaja sebesar Rp. 113.027,—. 3. Pembangunan daerah kerdja: Pembangunan daerah kerdja jang telah dilaksanakan ialah: mendirikan gedung STK dan Balai Pengobatan Batik. Disamping itu memberikan bantuan kepada organisasi2 sosial dan pendidikan. Dana pembangunan jang telah diterima selama tahun 1965/1966 ialah sebesar Rp. 78.980,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 19.614,—. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan selain menerima gadji bulanan, mereka mendapat djaminan sosial lainnja jaitu: biaja pengobatan, beras, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Sedangkan buruh batik selain dari upah mereka, djuga kesempatan berobat di Balai Pengobatan Persaudaraan gratis, dan hadiah lebaran. 5. Zakat: Persaudaraan tiap tahun selain menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja djuga mengeluarkan zakat sendiri. Untuk tahun 1965/1966 zakat jang diterima sebanjak Rp. 1.125.000,— dan telah dikeluarkan pula sebanjak Rp. 647.000,—. Gedung Poliklinik Batik Persaudaraan jang terletak disebelah kantor koperasi djuga dibangun tahun 1960. Poliklinik baru dibuka tahun 1966. B.Bidang Usaha dan Produksi : 1.Permodalan : Dibidang permodalan, Persaudaraan mendapat dari simpanan² anggota dan tjadangan usaha dan kredit dari pihak ketiga. Perkem bangan modal ini tiap tahun adalah sebagai berikut :
Sedjak tahun 1950 pengusaha² batik mendapat bahan baku dari Koperasi Batik Pekadjangan dan setelah mendjadi anggota GKBI tahun 1958 mendapat djatah langsung. Perkembangan djatah jang diterima dari GKBI dapat dilihat dibawah ini.
Omzet dari Persaudaraan tidak dari hasil barang² GKBI sadja,btetapi djuga hasil usaha sendiri dan batik anggota.
3.Pemasaran batik : Daerah pemasaran batik anggota Persaudaraan selain daerah Pemalang, ialah daerah? dikota -kota Djawa Tengah, Djawa Timur dan Djawa Barat. Batik produksi Tjomal berbeda dengan produksi Pekalongan, mereka lebih sesuai dengan produksi Jogja dan Solo jaitu pakai soga Djawa. Hasil pendjualan batik tahun 1965 ialah sebesar Rp. 27.888.090, tahun 1966 Rp. 444.609.—.
—————— BAGIAN: 23 KOPERASI PERUSAHAAN BATIK TEMBAJAT 1. RIWAJAT PEMBATIKAN: Desa Bajat adalah termasuk Ketjamatan Tembajat Kabupaten Klaten jang letaknja lebih kurang 21 Km sebelah Timur kota Klaten. Daerah Bajat ini adalah desa jang terletak dikaki gunung tetapi tanahnja gersang dan minus. Daerah ini termasuk lingkungan Karesidenan Surakarta dan Kabupaten Klaten dan riwajat pembatikan disini sudah pasti erat hubungannja dengan sedjarah keradjaan kraton Surakarta masa dahulu. Didesa Bajat ini sekarang ada petilasan jang dapat di kundjungi oleh penduduknja dalam waktu2 tertentu jaitu „makam Sunan Bajat” diatas gunung Djabarkat. Djadi pembatikan didesa Bajat ini sudah ada sedjak zaman keradjaan dahulu. Batik disini sampai tahun 1962 masih dikerdjakan dengan tulis dan batik tjap belum pernah dikerdjakan dan sifatnja keradjinan. Batik tjap dikerdjakan akibat adanja kewadjiban batik sandang jang harus disetor kepada GKBI. Selama 2 tahun jaitu 1960/1961 batik sandang jang dikerdjakan oleh anggota BAJAT masih ditulis dan baru tahun 1962 dimulai dengan batik tjap. Pengusaha2 batik di Bajat tadinja kebanjakan dari keradjinan dan buruh batik di Solo dan setelah di Bajat didirikan koperasi mereka masuk mendjadi anggotanja. Mata pentjaharian dari penduduk Bajat selain dari keradjinan batik ialah buruh tani dan batik di Solo. Produksi batik Bajat daerah pemasarannja dipasar Solo dan dari sini baru tersebar kedaerah-daerah lain. Disamping mengerdjakan usaha sendiri mereka djuga menerima upahan dari pedagang2 batik dikota Solo. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA² BATIK: Pembatik² di Bajat perdjuangannja dalam rangka pembentukan organisasi koperasi semasa dahulu mengikuti perdjuangan² pengusaha² besar di Solo zaman sebelum perang karena mereka kebanjakan adalah buruh batik. Madju mundurnja tingkat hidup mereka bergantung pada hasil perdjuangan pengusaha2 dikota-kota batik lainnja. 1. Koperasi wadah jang tjotjok: Pengusaha batik dan keradjinan batik di Bajat tergabung dalam Koperasi Batari Solo dan keinginan untuk mendirikan koperasi sendiri sudah lama dan baru bisa terlaksana dengan adanja P.P. 60/1959 sebagai pelaksana dari Undang² Koperasi No. 79/1958. Pada tahun 1959 oleh pengusaha² batik di Bajat yang dipelopori antara lain Max. Sumodihardjo, Djojodihardjo, Wirjakartono, S. Martosu wignjo, S. Dwidjosiswojo, Darsowijono, Wirjohardjono dan lain²nja,maka dibentuklah Koperasi jang dinamakan „Koperasi Perusahaan 2. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Dalam A.D. Bajat anggota - anggotanja terdiri dari: pengusaha batik, keradjinan batik dan buruh batik, hingga waktu didirikan itu djumlah anggotanja tertjatat sebanjak 68 orang sedangkan djatahnja dari GKBI hanja lebih kurang 0,36%. BAJAT mendapat Hak Badau Hukum tahun 1960 No. 1916 dan diterima mendjadi anggota GKBI tahun 1960 No. 23. Perobahan² A.D. BAJAT pertama kali ialah penjesuaian dengan PP. 60/1959 tertjatat No. 1916B/ 1961 dan perobahar keduanja ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12 tahun 1967, tertjatat No. 1916B/1968. Perkembangan anggota BAJAT berdasarkan sjarat² keanggotaannja, buruh batik boleh masuk maka tiap tahun bertambah dengan pesat.
Kepengurusan dan Badan Pemeriksa: Pimpinan BAJAT sedjak berdirinja sampai sekarang tetap dipegang oleh pendiri²nja dan tahun 1968/1969 Ketua jang tadinja didjabat oleh Max Sumodihardjo sekarang diganti oleh Hartosuwignjo. Susunan pengurus lengkap untuk tahun 1968/1969 ialah: Ketua Umum: Hartosuwignjo, Ketua I/II: Soehardi Ws. dan Kasnowihardjo, Penulis I/II: Samodihardjo dan Darsosumarto , Bendahara I/II: Darsowirjono dan Max. Soemowihardjo. Pembantu 2: Hadiwirjanto, Wirjohartono, Widoatmodjo dan G. Sutrisno. Pengurus dan Badan Pemeriksa adalah aparat organisasi jang dipilih dan bertanggung djawab pada rapat anggota. Djabatan Pengurus untuk selama 1 tahun dan sekarang dirobah untuk 2 tahun dan djabatan B.P. untuk I tahun. Pedoman untuk memimpin usaha dan pengawasan serta pemeriksaan telah diatur dalam A.D. BAJAT dan rentjana anggaran belandja dan usaha jang ditetapkan oleh rapat anggota. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS BAJAT: A. Bidang organisasi dan idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan BAJAT dibidang pendidikan disesuaikan dengan kekuatannja jaitu dana jang diterima tiap tahun dari sisa hasil dan bantuan GKBI. Pendidikan aktip ialah menjelenggarakan STK, dimana gedungnja dibangun atas bantuan GKBI Rp. 90.000,— dan dana pembangunan lainnja serta kekurangannja dibebankan pada BAJAT. Kegiatan lainnja dibidang pendidikan ini ialah membantu Pemerintah setempat dalam pembangunan gedung SMP Negeri Bajat jang biajanja diambilkan dari sumbangan anggota tiap bulan. Pada tahun 1964 terkumpul dan telah diserahkan sebesar Rp. 73.138,— Dana pendidikan jang diterima selama tahun 1965/66 belakangan ialah Rp. 481.601,—. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial disatukan dengan pendidikan, untuk memadjukan tingkat pengetahuan anak² daerah kerdja umumnja. Kerdjasama dengan Pemerintah setempat baik, karena BAJAT adalah merupakan salah satu organisasi jang banjak faedahnja pada masjarakat setempat. Dana sosial jang diterima selama tahun 1965/66. Rp. 481.601,— Mulai tahun 1964 oleh BAJAT dipungut dari anggota tiap bulan dana jang dipergunakan untuk kepentingan kegiatan sosial didaerah setempat dan tahun 1964 telah terkumpul sebesar Rp. 166.554,—, tahun 1965 mendjadi Rp. 3.170.281,— dan tahun 3. Pembangunan daerah kerdja: BAJAT adalah satu daerah minus dan adanja koperasi Bajat memberikan keuntungan besar pada pemerintah setempat dalam kegiatan pembangunan daerah. BAJAT telah dapat membangun gedung kantor sendiri jang biajanja diambilkan dari anggota, gedung SMP Negeri Bajat, memberikan bantuan uang jang tidak sedikit dan untuk pembangunan gedung SMP dan bantuan sosial jang diberikan mentiapai Rp. 4.771.988,- dan perbaikan djalan antara Wedi-BajatTjowas. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan selain menerima gadji, djaminan sosial lainnja ialah beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Sedangkan untuk buruh batik selain dari upah, mereka mendapat hadiah lebaran. 5. Zakat: BAJAT tiap tahun menerima zakat dari GKBI untuk disalurkan masjarakat jang berhak didaerah kerdjanja. Untuk menjalurkan zakat ini Pengurus membentuk satu panitia jang terdiri dari ahli²nja dari kalangan pengurus, anggota dan pedjabat² setempat. Zakat jang diterima tahun 1965/66 sebesar Rp. 7.770.000,- dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 10.127.000,-. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: BAJAT jakin bahwa dengan koperasi ini dapat meningkatkan kesedjahteraan anggota dan masjarakat daerah kerdja . Untuk itu di perlukan modal jang tjukup untuk memutarkan usaha, maka dipupuklah simpanan² agar kegiatan usaha dapat ditingkatkan. Pada tahun 1960 simpanan anggota tertjatat Rp. 458.639,- tahun 1963 menijapai Rp. 8.905.203,- tahun 1965 mentjapai djumlah Rp. 196. 909.298,- dan tahun 1967 mentjapai djumlah Rp. 1.899.469,-.
2.Distribusi bahan baku batik : Sebelum BAJAT berdiri, pengusaha² batik di Bajat mendjadi anggota BATARI SOLO dan BAJAT mendjadi penjalur. Setelah BAJAT mendapat hak badan hukum tahun 1960 dan berpisah dari BATARI, langsung diterima mendjadi anggota GKBI, tahun 1960. Sedjak itu BAJAT mendjadi grossier dan langsung menerima bahan dari GKBI.
Usaha BAJAT tidak menjalurkan bahan² dari GKBI sadja, tetapi djuga menjalurkan bahan penolong dan batik anggota.
3.Pemasaran batik : Daerah pemasaran batik anggota BAJAT ialah dipasar Solo/Klewer. Batik² produksi anggota Bajat mulai dari produksi kasar sampai halus didjual dipasar Solo dan dari sini baru tersebar keseluruh daerah jaitu : Djakarta, Semarang, Bandung, Surabaja dan seterusnja. Mulai tahun 1962, anggota telah mempergunakan batik tjap jang tadinja semua produksi batik tulis baik kasar maupun halus. Anggota BAJAT selain dari mengerdjakan batik sendiri djuga menerima upahan (W.O.) dari pedagang² batik di Solo . 4.Pabrik Tekstil BAJAT : Bajat selain dari merentjanakan mendirikan pabrik sendiri, sekarang ikut menanam modalnja dalam Pabrik Tekstil Karangasem Solo kepunjaan 10 Koperasi ex. anggota BATARI dahulu. Rentjana membikin pabrik sendiri telah diputuskan rapat anggota tahun 1965 , dan pemupukan modal telah dimulai. Akibat situasi ekonomi dan keuangan tahun 1966 berobah maka pemupukan modal untuk pro ject ini terhenti . Rentjana pabrik akan dibangun didesa Wedi Brangkal BAGIAN: 24 KOPERASI BATIK „SUKOWATI” I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Bekonang adalah satu desa jang terletak didaerah Ketjamatan Modjolaban Kabupaten Sukohardjo, disebelah Selatan Kota Solo. Desa ini dikelilingi oleh sawah² jang luas dan subur dan tidak dikira djauh didalamnja terdapat pengusaha batik jang sangat produktip didaerah Surakarta. Sedjarah pembatikan timbulnja bersamaan dengan melebarnja kesenian batik keluar dari kraton Solo jang dibawa oleh abdi² dalam jang bekerdja pada keluarga kraton uraian selandjutnja mengenai pembatikan dapat dibatja dalam Koperasi Batik BATARI. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: Pengusaha² batik di Bekonang sedjak awal abad ke-XX perdjuaangannja bergabung dengan pengusaha² batik dikota Solo. Pengusaha batik disini sebagian besar sedjak dahulu mengikuti perdjuangan organisasi Islam Muhammadijah dan dalam perdjuangannja mentjapai tjita² bersama dalam pembatikan mengikuti pengusaha² jang tinggal didaerah Lawejan, jang djuga sebagian besar mengikuti organisasi Islam Muhammadijah. Sampai Djepang masuk perdjuangan pengusaha batik dapat dibatja dalam uraian BATARI dimuka dan zaman pendudukan dan permulaan revolusi. Setelah merdeka dalam tahun 1946 kegiatan PPBBS diaktipkan kembali dan pengusaha² batik didaerah Lawejan mendirikan organisasi jang dinamakan „Koperasi Pengusaha Batik Indonesia Surakarta (PERBIS)” jang dipelopori oleh Bapak H. Muslim dan kawan²nja. Pengusaha² batik di Bekonang mengikuti perdjuangan PERBIS ini. Oleh Pedjabat waktu itu Bapak Ir. Teko Sumodiwirjo disarankan supaja antara PPBBS Jan PERBIS disatukan, maka lahirlah nama BATARI Dalam perdjuangan BATARI selandjutnja pengusaha2 batik di Bekonang djuga memegang peranan dan dari Bekonang jang duduk dalam ke Pengurusan BATARI antara lain: Abdullah, Moh. Ngadenan, Muljono, Hartojo, Moh. Busjroni, dan lain2nja. Bapak Abdullah pada tahun 1954 pernah memegang Ketua I BATARI bersama-sama dengan Bapak H.A. Mutawali sebagai Ketua II nja. Sampai pengusaha2 batik di Bekonang membentuk koperasi sendiri tahun 1961, perdjuangan mereka untuk mentjapai tijta2 masjarakat batik bersatu dengan PPBBS/PERBIS dan BATARI. 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Dengan keluarnja Undang2 Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959, kemungkinan2 untuk mendirikan koperasi batik terbuka dan djuga Pemerintah menghendaki supaja koperasi tumbuh dengan pesat. Untuk menampung keinginan anggota2 BATARI diluar kota Solo, supaja BATARI dipetjah, mendjadi beberapa koperasi batik di masing2 Kabupaten, mendapat sambutan baik dari pengurus BATARI masa itu. Akibatnja didaerah Bekonang pada tanggal 6 Djuli 1961 didirikan koperasi jang dinamakan „KOPERASI BATIK SUKOWATI” dengan susunan pengurusnja : Ketua I/II/III : Mohd. Busjroni, Mohd . Ngadenan dan Mohd . Marwan Mu'ti, Penulis I / II : Hartojosuhardjo dan Tandowiguno, Bendahara V /II : Sartonowihardjo dan Muljono serta beberapa orang Komisaris. SUKOWATI mendapat Hak Badan Hukum tanggal 8 September 1961 No. 573 dan diterima mendjadi anggota GKB : tanggal 25 Djanuari 1961 No. 24 Perobahan A.D. pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang2 Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar dengan No. 573 A/ 1968. Daerah kerdja SUKOWATI meliputi seluruh daerah Swatantera II Sukohardjo dan anggota nja banjak tinggal didesa-desa : Bekonang, Djatisobo, Wonoredjo, Glandangan dan lain desa sekitarnja. 2. Keanggotaan dan ke Pengurusan : Sedjak dari dahulu pengusaha2 batik di Bekonang djumlahnja mentjapai djumlah ratusan orang dan waktu diterima djadi anggota GKBI, djumlah anggotanja ada 222 orang dan tahun 1964 mentjapai 252 orang dan sampai sekarang anggotanja tetap sebanjak 252 orang. Pengusaha² batik anggota SUKOWATI aktip bekerdja, selain dari bahan jang diterima di GKBI, koperasi sendiri berusaha membeli dari luar, terutama bahan blatju. Disamping itu anggota djuga banjak menerima W.O. dari pengusaha² dan pedagang² batik dikota Solo. Kebanjakan produksi anggota ialah batik kasar jang proses pembuatannja sangat tjepat dan kalkulasinja djauh dibawah dibandingkan dengan daerah² pembatikan lainnja didaerah Solo. Ke Pengurusan dan Badan Pemeriksa : Pengurus dan Badan Pemeriksa adalah aparat organisasi jang dipilih dan bertanggung djawab pada anggota dalam rapat anggota. Pengurus dalam melaksanakan keputusan² rapat anggota, berpedoman pada A.D. SUKOWATI dan rentjana anggaran belandja dan usaha jang telah disjahkan oleh anggota tiap tahun . Pengurus dan Badan Pemeriksa memberikan pertanggungan djawabnja selama masa kerdja satu tahun kepada anggota. Dalam organisasi GKBI, sedjak SUKOWATI mendjadi anggota, untuk tahun 1962 wakilnja menduduki djabatan Badan Pemeriksa jang didjabat oleh Hartojosuhardjo, tahun 1963/1965 mendjabat Bendahara II didjabat oleh Moh. ngadenan dan untuk masa djabatan 1966/1968 mendjabat Komisaris dan jang duduk adalah Moh. Ngadenan djuga. Untuk masa djabatan tahun 1968/1969 susunan Pengurus dan Badan Pemeriksa SUKOWATI ialah: Ketua/Wakil Ketua : Moh Busroni dan Moch. Ngadenan, Penulis I/II: Panoto Tondlowiguna dan Hartojosuhardjo, Bendahara I/II: Moch. Fauzie dan Umai Bandi Pembantu: Hadisujoto. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Moch. Asjhari, Wasisnodihardjo dan Harjanto. Dalam kerdjasama ex. anggota BATARI jang sekarang telah mendirikan koperasi batik primer dan juga telah mendjadi anggota GKBI, didirikanlah satu organisasi jang dinamakan „BADAN KERDJA KOPERASI SURAKARTA” jang disingkat dengan „B.K.K.S.” BKKS ini hanja satu badan kerdjasama menghadapi dan memetjah kan persoalan jang sama² dihadapi oleh Primer² dan masing² primer mempunjai kedaulatan sendiri. Dalam BKKS ini masing² primer III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS SUKOWATI : A.Bidang organisasi dan idiil : 1. Pendidikan : Kegiatan SUKOWATI dibidang pendidikan jang aktip ialah menjelenggarakan STK Batik jang diterima dari BATARI. STK ini waktu BATARI belum petjah didirikan didaerah kerdja SUKOWATI Kegiatan dibidang pendidikan lainnja ialah aktip memberi sumbangan untuk pembangunan gedung SMP/SMA jang dipungut langsung dari anggota tiap bulan. Pembiajaan untuk STK diambilkan dari dana sisa hasil usaha dan bantuan GKBI tiap tahun. Dana jang diterima sedjak tahun 1966/1967 sebesar Rp. 37.838 ,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 2 .522,—. Kegiatan lainnja dibidang pendidikan ialah olah raga untuk karyawan dan anggota. 2. Sosial dan masjarakat: Dibidang sosial ini kegiatan ialah niendirikan Balai Pengobatan Batik pada tahun 1963 dengan gedung disewa buat sementara, Pembangunan gedung poliklinik dananja dipungut dari anggota dan sekarang telah selesai dibangun tahun 1966. Pembiajaan B.P. ini diambilkan dari dana dan bantuan GKBI, kekurangannja dibebankan pada ongkos SUKOWATI. Dana jang diterima dalam th. 1966/1967 sebesar Rp. 158.310, dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 159.585,—. Untuk kegiatan sosial lainnja seperti memberi bantuan untuk organisasi² pendidikan, sosial dan mesdjid, dana chusus dari anggota dipungut tiap bulan dan dinamakan kantong sosial. Balai Pengobatan batik terbuka untuk seluruh masjarakat didaerah kerdịa SUKOWATI dan perkembangan pasiennja dapat dilihat dalam halaman 465.
3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja sudah banjak jang dihasilkan oleh SUKOWATI baik idiilnja maupun usaha serta produksi. Dibidang idiil ialah: gedung Balai Pengobatan, pendidikan gedung SMP/SMA, sedangkan dibidang usaha dan produksi jang telah selesai jaitu: gedung kantor tahun 1964. Dana pembangunan dari sisa hasil usaha jang diterima sedjak tahun 1966/1967 sebesar Rp. 87.526,— dan telah dikeluarkan pula sebesar Rp. 49.219,— 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik : Untuk kesedjahteraan karyawan selain dari gadji, djaminan sosial lainnja diberikan beras, biaja pengobatan, hadiah lebaaran, gratifikasi tahunan, dan sumbangan kematian dan melahirkan. Untuk buruh batik selain dari upah, djaminan sosial dari pengusaha batik jaitu bantuan pengobatan, hadiah lebaran dan dari SUKOWATI bantuan sosial. 5. Zakat: SUKOWATI tiap tahun menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja. Disamping zakat GKBI, SUKOWATI mengeluarkan zakat sendiri. Tahun 1966 zakat jang diterima sebesar Rp. 33.628,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 5.483 ,— dan tahun 1967 diterima sebesar Rp. 240.240,— dan dike luarkan sebesar Rp. 319.527,— B. Bidang Usaha dan produksi : 1. Permodalan : Modal utama dari SUKOWATI ialah pelimpahan simpanan² anggota ex . BATARI dar selandjutnja tiap tahun diadakan pemupukan untuk pembiajaan projek² antara lain, pabrik Karangasem dan pabrik SUKOWATI, serta pembangunan gedung kantor. Perkembangan modal tiga tahun belakangan adalah sebagai berikut.
2. Distribusi bahan baku batik : Sebelum SUKOWATI berdiri, anggotanja mendapat bahan baku dari BATARI dan setelah berdiri, mulai tahun 1962 langsung mendapat dari GKBI. SUKOWATI selain menjalurkan bahan 2 GKBI djuga mengusahakan kebutuhan anggota lainnja seperti bahan penolong dan kain blatju.
Oleh karena anggota SUKOWATI selain dari menerima bahan² dari GKBI, djuga banjak menerima W.O. dari pedagang² batik kota Solo, maka diusahakan melengkapi kebutuhan bahan² penolong. Usaha² lain ini banjak memberikan pertolongan pada SUKOWATI dalam mentjapai effisiensi kerdja, karena bahan² GKBI kurang sedjak tahun 1967.
shp. = sisa hasil perusahaan. 3. Pemasaran batik: Batik Bekonang pemasarannja terutama dipasar Solo dan dari sini baru tersebar seluruh kota² di Indonesia. Produksinja terkenal dengan batik blatjunja jang djauh lebih besar dari cambric lainnja. Batik anggota jang disalurkan pendjualannja melalui SUKOWATI, tahun 1965 omzetnja mentjapai Rp. 301.448.595,—, tahun 1966 mentjapai Rp. 2.554.706,— dan tahun 1967 mentjapai sebesar Rp. 673.904,—. 4. Pabrik Tekstil SUKOWATI: SUKOWATI selain menanam modalnja dipabrik tekstil Karangasem, djuga mendirikan pabrik sendiri. Dalam tahun 1965 telah ditetapkan oleh rapat anggota bahwa SUKOWATI akan mendirikan pabrik tekstil sendiri. Maka tahun itu diadakan pemupukan modal dan dimulai pemesanan mesin² dan pembelian tanah serta perlengkapan gedung. Dalam tahun 1965 telah terkumpul modal sebesar Rp. 673.904,— dan digunakan sebesar Rp. 60.207.125,—. Dalam tahun 1966 mesin² dipesan dan sudah ada 14 buah lengkap dengan electronja. Djumlah simpanan chusus untuk projek pabrik sampai achir tahun 1967 telah mentjapai Rp. 1.518.302,— mengingat sukarnja modal untuk pembangunan gedung, maka diputuskan pembangunan pabrik diundurkan dan mesin² diserahkan pada Pabrik Tekstil Karangasem. Djumlah investasi SUKOWATI di Pabrik Tekstil Karangasem sampai achir ahun 1967 sebesar Rp. 660.921,—.
—————— BAGIAN: 25 KOPERASI BATIK BAKA KLATEN I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Klaten terletak antara Jogjakarta dan Surakarta jaitu + 27 km dari Jogjakarta dan 43 km dari Surakarta, tetapi termasuk dalam ex. Karesidenan Surakarta. Dilihat dari perkembangan sedjarah keradjaan dahulu Klaten ini lebih dekat dengan Kartasura jaitu pusat keradjaan sebelum pindah kekota Surakarta. Dikenalnja pembatikan di Klaten tidak berapa lama bedanja dari perkembangan sedjarah keradjaan mengenalnja batik pertama kali sebab Klaten terletak dipinggir kota keradjaan. Batik Klaten lebih dekat kepada batik Solo, baik motif maupun warnanja Sedjarah pembatikan selandjutnja dari Klaten ini dapat dibatja pada uraian BATARI pada Bab Primer² GKBI No. 1. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: Perdjuangan pengusaha² batik di Klaten baik zaman sebelum perang dunia kedua maupun sesudah kemerdekaan mengikuti perdjuangan pengusaha² batik dikota Solo. Daerah Klaten pengusaha² batiknja mendjadi anggota BATARI sampai tahu 1960. Pengusaha² batik di Klaten bertempat tinggal didesa Karangasem, Klaten Kota dan desa² sekitar Klaten. Setelah keluaraja PP. 60/1959, maka pengusaha² batik di Klaten ingin mendirikan koperasi sendiri, seperti didaerah-daerah pembatikan lainnja. Pengurus² Batari sendiri dengan keluarnja PP. 60/1959 djuga berkeinginan daerah kerdja Batari diperketjil dari satu Karesidenan mendjadi satu Ketjamatan. Maka dalam tahun 1960 diadakan persiapan untuk mendjadikan Batari beberapa koperasi batik primer, dan tiap daerah Kabupaten akan didirikan satu koperasi batik. Maka di Kabupaten Klaten semula telah berdiri lebih dahulu Koperasi Batik Bajat tahun 1960 dan sekarang dikotanja didirikan Koperasi Batik BAKA pada tanggal 24 Djuni 1961 oleh pengusaha² baik antara lain: Mardjuki Mahdi, Hartoatmodjo, H. Abdul Chanan, Abdul Djawad dan Muchrodji serta kawan². 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja BAKA ialah seluruh Kabupaten Klaten dikurangi dengan Ketjamatan Tembajat jang mendjadi daerah kerdja Koperasi Batik Bajat. BAKA mendapat pengakuan Hak Badan Hukum tanggal 25 September 1961 No. 60 dan sebelum mendjadi anggota GKBI tahun 1962 mendjadi penjalur dari BATARI. BAKA diterima mendjadi anggota GKBI tanggal 7 April 1962 tertjatat No. 25 dan tahun itu djuga diangkat mendjadi grossier. Perobahan A.D. BAKA sedjak berdirinja baru pertama kali jaitu: penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan tertjatat No. 60A/1968. 2. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Waktu BAKA mendjadi anggota GKBI, djumlah anggotanja tertjatat 124 orang dan tiap tahun anggota ini bertambah. Pada tahun 1963 anggota ada 134 orang, tahun 1964 ada 281 orang, tahun 1965 ada 304 orang, tahun 1966/1967 tetap sebanjak 306 orang. Ke Pengurusan dan Badan Pemeriksa: BAKA sedjak berdirinja tahun 1961 sampai sekarang pimpinan tetap dipegang oleh tokoh² pendirinja antara lain: Drs. H. Mardjuki Mahdy sebagai Ketua Umum. Dalam rapat anggota GKBI tahun 1963 di Bandung wakil BAKA terpilih sebagai salah seorang anggota Badan Pemeriksa dan didjabat oleh Drs. H. Mardjuki Mahdy, dan untuk tahun 1966/1968 wakil BAKA dalam ke Pengurusan GKBI menduduki fungsi Bendahara I. Susunan Pengurus BAKA untuk masa djabatan 1968/1969 adalah sebagai berikut: Ketua Umum: Drs. H. Mardjuki Mahdy, Ketua I/II: Masjhudijanto dan H. Abd. Hanan, Penulis I/II: Afwan Anwar dan Masjkuri, Bendahara I/II: Abd. Djawad dan Ahmad Milatu. Pembantu²/Komisaris² ialah: Drs. Wijono Hr, Drs. Muhrodji, Moeghofir, Moh. Darodji, S. Djunaidi dan H. Ali Mursidi. Sedangkan susunan Badan Pemeriksa ialah: Busono Wongsokartono, Sutrisno H.M. dan S. Darmanto. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS BAKA: B. Bidang organisasi dan idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan BAKA dibidang pendidikan jang aktip belum ada, mengingat dana untuk membangun gedung belum tersedia tjukup. Kegiatan setjara pasip ialah membantu organisasi² pendidikan Islam baik dari dana BAKA maupun sumbangan dari anggota. Anggota BAKA sendiri setjara perorangan jang kebanjakan tenaga² muda aktip menuntut ilmu di Perguruan² Tinggi baik jang ada di Klaten, maupun jang ada di Jogja dan Surakarta. Sekarang BAKA telah banjak mempunjai tenaga² sardjana jang memimpin organisasi maupun usahanja. Selama tiga tahun belakangan dana jang diterima sebanjak Rp. 709.011.— dan jang telah dikeluarkan Rp. 779.870.—. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosialpun BAKA belum mempunjai Balai Pengobatan sendiri dan kegiatan aktip membantu organisasi² sosial dan kegiatan² amal dalam masjarakat. Dalam tahun 1966 sadja dana sosial dan sumbangan anggota jang disalurkan kepada masjarakat untuk kegiatan sosial dan amal mentjapai Rp. 67.967.305,— dan djumlah jang tersedia tahun 1966 ada Rp. 104.338.735,— dan dalam tahun 1967 disalurkan pada masjarakat sebesar Rp. 31.049,— dan tersedia sebesar Rp. 56.237,—. Dalam kegiatan masjarakat ini Pengurus dan angogta BAKA aktip dalam organisasi Islam Muhammadijah dan dalam kegiatan penumpasan GESTAPU PKI, BAKA mempunjai peranan besar di Klaten. Untuk membangun Poliklinik sendiri BAKA telah 3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja disatukan dalam kegiatan pendidikan dan sosial. Dibidang produksi jaitu pembangunan Pabrik Tekstil direntjanakan akan mempunjai mesin tenun sebanjak 50 looms. Pembangunan gedungnja telah dimulai sediak tahun 1965 pembelian tanahnja dan pembangunan gedung tahun 1966 dan achir tahun 1968 diharapkan sudah selesai. Pemungutan simpanan untuk project pabrik ini telah dimulai sedjak tahun 1964 dan mulai tahun 1967 pemupukan modal matjet, karena situasi ekonomi dan keuangan tak mengizinkan. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan selain dari menerima gadji tiap bulan, djaminan sosial lainnja jang diberikan ialah: beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran 5. Zakat: BAKA selain mengeluarkan zakat sendiri, djuga menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja. Selama dua tahun belakangan ini, zakat jang diterima sebanjak Rp. 52.287,— dan telah dikeluarkan sebanjak Rp. 18.600,—. B. Bidang usaha dar produksi : 1. Permodalan: Modal pertama dari BAKA ialah hasil penjisihan dari BATARI akibat petjahnja BATARI mendjadi beberapa koperasi batik primer. Pada tahun 1961 simpanan2/modal ada Rp. 57.633,— tahun 1965 Rp. 159.098,158,— dan achir tahun 1967 ada Rp. 2.599.812,—.
2. Distribusi bahan2 baku batik : Sebelum mendjadi anggota GKBI, BAKA mendjadi penyalur BATARI dan mulai tahun 1962 setelah diterima mendjadi anggota, langsung mendjadi grossier.
Omzet BAKA tidak terdiri dari bahan2 GKBI sadja, tetap: ada pula usaha sendiri dari bahan2 penolong dan batik anggota.
3. Pemasaran batik: BAKA pemasaran batik anggotanja sedjak dari dahulu pasar Klewer Solo. Sekarang untuk mentjarikan pemasaran batik, pengurus aktip menghubungi pedagang² besar dikota-kota antara lain: Surabaja, Semarang, Djakarta dan Bandung, disamping membuka Toko Batik di Klaten. Dalam tahun 1967 djumlah pembelian batik sebesar Rp. 310.206,— dan pendjualan Rp. 352.119,— dan dari batik sadja sisa hasil kototr sebesar Rp. 52.388,—. Kantor Kopbat. Baka Klaten Djalan Pulosari No. 6. 4. Pabrik Tekstil BAKA: Rentjana mendirikan pabrik tekstil diputuskan dalam rapat anggota tahun 1964 dan tahun itu djuga dipungut simpanan chusus pembiajaan project pabrik. Sampai tahun 1966 sudah terkumpul simpanan Rp. 1.147.492,— dan telah digunakan untuk pembelian perlengkapan pabrik antara lain:
Karena kekurangan modal maka pembangunan gedung baru dapat dimulai Oktober 1967 dan diharapkan selesai tahun 1968 mesin² sudah bisa djalan. Sampai achir tahun 1967, pembiajaan project pabrik telah menggunakan biaja sebesar Rp. 1.483.112,— dan simpanan jang terkumpul Rp. 1.146.489,— Disamping BAKA mendirikan pabrik tekstil sendiri, djuga menanam modalnja di Pabrik Tekstil KARANGASEM Solo kepunjaan 10 Koperasi Batik ex. Karesidenan Surakarta. Djumlah investasi BAKA dipabrik ini sampai achir tahun 1967 sebesar Rp. 144.778,—.
—————— BAGIAN: 26 KOPERASI PENGUSAHA PAMONG BATIK SURAKARTA I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Tentang riwajat pembatikan didaerah kerdja PPBS sedjak adanja sampai petjahnja perang dunia kedua dapat dibatja pada uraian Koperasi BATARI Surakarta di Bab Perdjuangan dan perkembangan Koperasi2 Batik Primer No. 1. Sedangkan pertumbuhan Koperasi Batik didaerah Lawejan setelah kemerdekaan adalah sebagai berikut: II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: Didaerah Lawejan ini sedjak dari zaman sebelum perang sudah banjak pengusaha² batik besar dan umumnja perdjuangan mereka dibidang koperasi saling bahu-membahu dengan perdjuangan organisasi Islam Muhammadijah, dan sampai sekarang kegiatan sosial dan pendidikan PPBS masih erat hubungannja, baik setjara organisasi maupun anggota perorangan. Setelah kemerdekaan Indonesia, pengusaha² batik aktip kembali, dan di Lawejan didirikan pula „Koperasi Pengusaha Batik Indonesia Surakarta” disamping PPBBS. Untuk mendjaga kesatuan sikap dalam perdjuangan, maka pihak Pedjabat Kementerian Kemakmuran jaitu Bapak Ir. Teko Sumodiwirjo menjarankan kepada kedua Pengurus pada tahun 1948 supaja bersatu dan kedua koperasi ini difusi dinamakan „Koperasi BATIK ASLI TIMUR REPUBLIK INDONESIA”. Dalam perdjuangan selandjutnja wadah Batari ini jang dipakai oleh seluruh pengusaha² batik di ex. Karesidenan Surakarta, sampai terbentuknja GKBI dan petjahnja batari kembali tahun 1960, dengan berdirinja Koperasi Tembajat. Dengan keluarnja Undang² Koperasi No. 79/tahun 1958 dan PP. 60/1959, maka pengusaha² batik diluar kota Solo dan didaerah Lawejan serta Pasar Kliwon, ingin berdiri sendiri dalam satu wadah baru. Di daerah Lawejan didirikanlah koperasi jang dinamakan ,,Pamong Perusahaan Batik Surakarta". 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum : Daerah kerdja PPBS meliputi Ketjamatan Lawejan dan mempunjai pengusaha batik jang terbesar didaerah kota Solo. Hak badan hukum PPBS diperoleh tahun 1961 No. 3695 dan mendjadi anggota tanggal 7 Mei 1961 No. 26. Perobahan A.D. PPBS pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 3695 A/1968. Waktu PPBS pertama masuk GKBI. susunan pengurusnja ialah: Ketua I/II/III: M. Rasjidi, Wirjosudomo, H. Ma'ali, Penulis I/II/III: Hadisubroto, Salimin Muljorahardjo, Wirjomarsono, Bendahara I/II: Wirjoatmodjo, A. Ilwan Puspomartono dan S. Martopuspito. 2. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Banjaknja anggota tahun 1967 achir ada 645 orang. Waktu peristiwa G.30.S. tahun 1965 anggota jang terlibat dan dipetjat sebanjak 35 orang dan dipetjat sementara sebanjak 14 orang.. Kepengurusan dan Badan Pemeriksa: Dalam tahun 1963 wakil PPBS Sdr. Salimin Muljorahardjo di GKBI mendjabat Komisaris untuk masa djabatan 1963/1964 dan dalam pemilihan tahun 1966 didjabat oleh Sdr. A. Marwan Asjhuri untuk tahun 1966/1968, sebagai Komisaris. Dalam perkembangan organisasi PPBS dalam rapat anggota tahun 1965 bulan Maret, Pedjabat Dirkop Kotamadya Surakarta kerdjasama dengan Walikota Utomo Ramelan (PKI) berusaha me-NASAKOM-kan pengurus PPBS dan usaha mereka melalui RTA tidak berhasil dan terpaksa dibubarkan rapat itu. Usaha mereka untuk me-NASAKOM-kan achirnja didjalankan dengan paksa jaitu: mengangkat langsung pengurus PPBS sesuai dengan keinginan Walikota dan Pedjabat Dirkop Sdr. Surjanto Hamongprabowo. Tindakan Walikota Utomo Ramelan dan Pedjabat Dirkop tersebut mendapat tantangan keras dari anggota² PPBS chususnja dan tidak mendapat dukungan dari Pedjabat²/Pantjatunggal lainnja di Kotamadya Surakarta. Tindakan Walikota dan Dirkop Surakarta mendapat dukungan dari Menteri Transkop Moh. Achadi S.E. jang djuga terlibat dalam G.30.S. dan sudah divonis hukuman 10 tahun pendjara. GKBI sebagai organisasi induknja jang sedjak dari th. 1960 telah melihat gedjala² organisasi bahwa prinsip² serta sendi² dasar koperasi akan dilanggar dengan dikeluarkannja PP. 60/1959. Pandangan djauh kedepan Pengurus GKBI ini mendjadi kenjataan dengan dimulainja serangan terhadap koperasi² batik primer dan GKBI dalam pelaksanaan PP. 60/1959, jang banjak bertentangan dengan dasar² dan azas koperasi. Serangan dan tindakan pertama dimulai dari Koperasi PPIP di Pekalongan tahun 1964 di mana Pengurus²nja dimasukan kedalam pendjara dengan tuduh²an dan fitnah manipulasi benang, korupsi dan sebagainja. Tuduhan dan fitnah ini tidak berhasil hingga, pengurus PPIP keluar semuanja. Awal tahun 1965 rentjana memetjah belah kekuatan koperasi batik dimulai lagi di PPBS dengan dalih „NASAKOMISASI” ke Pengurusan dan melarang anggota² ex Partai Masjumi duduk dalam ke pengurusan. Usaha mereka djuga tidak berhasil karena kesadaran anggota PPBS tjukup tinggi dan terpaksa Pedjabat Dirkop Kotamadya Surakarta membubarkan RTA Maret 1965 dan membentuk sendiri Pengurus NASAKOM jang diinginkan mereka. Wakil PKI jang duduk dalam Pengurus PPBS angkatan Walikota PKI itu ialah: S. Harman sebagai Ketua III. Anggota tidak menjetudjui tindakan Walikota dan Pedjabat Dirkop, dan diminta supaja Pengurus ini dibawa kedalam rapat anggota, mereka tidak mau. Achirnja untuk kepentingan anggota PPBS dan kelantjaran produksi, Pengurus GKBI c.q. Ketua I H.A. Djunaid mengambil alih persoalan PPBS ini dan tidak mengakui Pengurus NASAKOM angkatan Walikota Utomo Ramelan dan mengambil alih persoalan pelaksanaan grossierschap PPBS pada tanggal 15 April 1965 dengan mengangkat Pembantuv jang diambilkan dari anggota PPBS dan Pengurus GKBI jaitu: Suradi dan Hadimartono (anggota PPBS) dan Ambari S.R. dari Pengurus GKBI, Sdr. Hardjosutanto dari anggota PPBS menolak diangkat sebagai Pem bantu Ketua I. GKBI. Usaha Menteri Transkop Moh. Achadi S.E. dan Walikota PKI Utomo Ramelan gagal lagi dalam memetjah-belah kekuatan dalam organisasi pengusaha baik jang sebagian besar penganut Islam jang anti-PKI itu. Usaha selandjutnja dari Menteri Transkop itu didjalankan pada tingkat organisasi pusat jaitu GKBI, dalam tahun 1965 sebelum petjahnja G.30.s., mengambil alih pimpinan GKBI pada tanggal 8 September 1965. PPBS sampai berachirnja kekuasaan Pimpinan Care-taker angkatan Menteri Transkop achir bulan Maret 1966 tetap dalam pengawasan langsung dan setelah RTA luarbiasa GKBI April 1966, PPBS pulih seperti sebelum April 1965 jaitu dengan Pengurus pilihan RTA PPBS. Untuk masa djabatan 1968/1969 susunan Pengurus PPBS adalah sebagai berikut: Ketua Umum: S. Martopuspito, Ketua I/ II: H.A. Ma'ali Wirjotenojo dan Drs. Moch. Taslim, Penulis I/II: A. Marwan Asjhuri dan Naim Mabruri dan Bendahara I/II: Rosjid dan S. Nartosaputro. Susunan Badan Pemeriksaan ialah: Gijantosumarso, Ilham Sastrowirjono dan A. Sjakur. Disamping Pengurus dan Badan Pemeriksa sebagai aparat organisasi, anggota djuga memilih Badan Musjawarah untuk kepentingan klompok² anggota. Mengingat anggota PPBS III. KEGIATAN/AKTIVITAS PPBS: B. Bidang sosial dan masjarakat: 1. Pendidikan: Sedjak dahulu kegiatan pengusaha² batik dibidang pendidikan ini kerdja sama dengan organisasi Islam Muhammadijah. Anggota setjara aktip dan Pengurus PPBS ikut bertanggung djawab dalam dana² jang diperlukan untuk kemadjuan pendidikan didaerah kerdjanja chususnja dan jang diselenggarakan oleh Muhammadijah Kotamadya Surakarta. Disamping itu ada pula kegiatan pendidikan jang dikerdjakan bersama dengan Koperasi Batik BATARI, KPN jaitu: SKOPMA Batik, SMA/SMP Batik, U.I.I. Tjabang Surakarta. Dana pendidikan jang diterima sedjak tahun 1965/1967 ada sebesar Rp. 21.471,— dan dikeluarkan dalam waktu jang sama sebesar Rp. 10.280,—. 2. Sosial dan masjarakat: Dibidang sosial kegiatan PPBS djuga besar antara lain menjelenggarakan Balai Pengobatan dan BKIA dan djuga aktip membantu PKU Muhammadijah Surakarta. Bantuan² jang diberikan untuk kepentingan sosial tiap tahun besar sekali melalui organisasi² amal, Jatim Piatu, Mesdjid dan Langgar, serta chitanan masaal tiap tahun. Balai Pengobatan terbuka untuk umum disamping masjarakat batik. Biaja untuk ini diambilkan dari dana sisa hasil usaha dan sumbangan anggota chusus untuk projek sosial.
3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan PPBS dalam pembangunan daerah kerdja ini dalam bidang pendidikan telah banjak menghasilkan baik langsung maupun tidak langsung. Dibidang sosial dan pembangunan djalan² prasaran Ajuga banjak. Dalam tahun 1966 perbaikan djalan dibawah pengawasan Pemerintah Lawejan dan Sodakan sepandjang 1,5 km lebar 3 M dengan biaja Rp. 285.000,— dan djuga banjak djalan² desa didaerah kerdja jang mendapat ongkos² perbaikan dari PPBS. Dana untuk pembangunan ini ada dari sisa hasil usaha dan ada pula dari sumbangan anggota chusus untuk pembangunan daerah kerdja. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan koperasi selain dari menerima gadji, djaminan sosial lainnja jang diberikan ialah: beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran, bantuan melahirkan dan kematian, gratifikasi tahunan. Sedangkan buruh batik selain mendapat bantuan sosial insidentil dari PPBS, mereka mendapat bantuan pengobatan dan hadiah lebaran dari pengusaha² langsung. 5. Z a k a t: PPBS selain mengeluarkan zakat sendiri, djuga menerima zakat GKBI untuk disampaikan kepada masjarakat dan organisasi jang berhak didaerah kerdjanja. Zakat jang diterima dari PPBS dan GKBI 2 tahun belakangan ini Rp. 317.841,— dan telah disampaikan kepada jang berhak sebesar Rp. 454.600,—. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: Modal pertama dari PPBS waktu didirikan ialah pelimpahan simpanan² anggota di BATARI dan selandjutnja pemupukan sendiri oleh PPBS. Dalam rangka pemetjahan BATARI, PPBS mendapat prosentase djatah sebesar ± 7% dari djatah BATARI lama dan perkembangan modalnja selandjutnja djuga besar. Untuk 3 tahun belakangan ini dapat dilihat perkembangan dan penggunaan simpanan.
2. Distribusi bahan baku batik: Djatah² anggota jang diterima selama mendjadi anggota BATARI, setelah berdiri PPBS dan diterima mendjadi anggota GKBI, dialihkan seluruhnja pada PPBS. PPBS selain dari membagikan djatah dari GKBI, djuga mengusahakan bahan baku sendiri. Untuk kelantjaran usaha PPBS mendirikan gedung kantor didjalan Sidomuljo No. 35 dan tahun 1965 achir telah dibuka dengan resmi.
(Angka² dalam ribuan) Omzet PPBS seluruhnja tidak dari barang² GKBI sadja, tetapi juga hasil usaha sendiri terdiri dari : bahan² penolong, batik dan grey Pabrik Tekstil Karangasem. Perbandingan omzet sisa hasil dan biaja untuk tiga tahun belakangan dapat dilihat dalam daftar dibawah ini.
*)Angka² dalam ribuan 3. Pemasaran batik : Daerah pemasaran batik anggota PPBS adalah dipasar Solo dan dari sini baru tersebar keseluruh pelosok kepulauan Indonesia. Pemasaran ini ada jang langsung oleh anggota dan ada jang ditampung oleh PPBS, terutama bagi anggota? jang belum punja pasaran dan lemah dalam permodalan. Untuk kepentingan ini PPBS membuka Toko Batik jang melajani etjeran dan party. Untuk tahun 1965 batik jang didjual melalui PPBS ada 300.000 potong seharga Rp. 866.250.000,—, tahun 1966 ada 398.962 potong seharga Rp. 9.647.668,— dan tahun 1967 ada 19.759 potong seharga Rp. 1.152.950,— 4. Pabrik Tekstil Karangasem: PPBS sendiri belum mempunjai pabrik dan investasinja disatukan dengan 10 Primer lainnja di Pabrik Tekstil Karangasem. Investasi PPBS dipabrik ini tahun 1965 sebesar Rp. 248.090.514,— dan achir tahun 1967 Rp. 3.346.651,—. Bahan baku benang jang diterima dari GKBI untuk PPBS, diserahkan kepada pabrik dan tahun 1967 benang jang diterima PPBS ada 51.246 kg seharga Rp. 4.877.800,— dan hasil produksi pabrik dibagi berimbang menurut besarnja investasi masing². —————— BAGIAN: 27 KOPERASI PEMBATIK NASIONAL „K.P.N.” 1. RIWAJAT PEMBATIKAN: Tempat Koperasi Pembatik Nasional di Ketjamatan Kliwon disekitar daerah Kraton Susuhunan Surakarta. Sedjarah pembatikan disini adalah dekat sekali dengan perkembangan keradjaan masa dahulu. Tempat ini banjak didiami oleh pendatang bangsa asing terutama keturunan Arab. Keahlian dari bangsa Arab jang dikembangkan di sini terutama sekali ialah dibidang pertenunan dan kemudian batik mendapat dari penduduk asli. Bangsa Arab ini sesudah perang dunia kesatu kegiatannja dipusatkan sebagian pada tenun dan sebagian lagi pada batik dan djuga merangkap perdagangan bahan² baku batik dan tekstil serta batik, plekat. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK KETURUNAN ARAB. Pengusaha² batik bangsa Indonesia pada tahun 1934 akibat adanja peraturan contingenteering jang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial terhadap mori Djepang, membentuk koperasi batik PPBBS pada tahun 1935 (lihat uraian BATARI). Pengusaha² batik keturunan Arab didaerah Pasar Kliwon untuk mengatasi kesukaran² jang dihadapi mereka dalam mendapat bahan baku batik, djuga membentuk persatuan jang dinamakan „Perkumpulan Batik Arab Surakarta disingkat P.B.A.S. dan kumpulan didiri kan berdasarkan Undang² No. 108 tahun 1933 jang tunduk pada Hukum Ekonomi Barat dan berlaku untuk semua penduduk bangsa di Indonesia. Tokoh² pedagang² batik jang menondjol dari keturunan Arab waktu itu antara lain ialah: keluarga Awud Sungkar dan Abdjad Umar, mereka mendapat kepertjajaan penuh dari pedagang² bangsa Belanda. Untuk mendapat kepertjajaan pula dari bangsa Belanda maka pengusaha² batik lainnja membentuk kumpulan diatas, supaja lebih mudah membeli bahan baku pada convenant. Disamping P.B.A.S. pengusaha² batik keturunan Arab membentuk pula organisasi lain jang dinamakan „Koperasi Batik Arab Surakarta” jang disingkat K.O.P.A.S. Dua organisasi pembatikan keturunan Arab ini sampai Djepang masuk tetap hidup dan kegiatannja waktu pendudukan Djepang sama dengan koperasi² lainnja. Waktu perang kemerdekaan pengusaha² batik keturunan Arab djuga aktip berdjuang bersama bangsa Indonesia dan kegiatan pembatikannja sama nasibnja dengan pengusaha² batik bangsa Indonesia. Setelah tahun 1950 kegiatan dari PBAS jang namanja sudah dirobah mendjadi PERBAGAS aktip kembali dan anggotanja terdiri dari Arab W.N.I. dan Asing. Setelah BATARI mendjadi anggota GKBI dan kegiatan import dan distribusi bahan baku batik sepenuhnja ditangan GKBI, maka KOPAS dan PERBAGAS mendapat bahan baku dari BATARI. Pada thaun 1957 pengusaha² batik keturunan Arab jang mendjadi W.N.I. keluar dari KOPAS dan PERBAGAS mendirikan organisasi baru jang dinamakan „Koperasi Pembatik Nasional”. Dengan keluarnja Undang² Koperasi No. 79/1958, maka KOPAS dan PERBAGAS jang dibentuknja didasarkan pada Undang² Koperasi No. 108/1933 dibubarkan dan bekas anggotanja mendjadi langganan K.P.N. Selama KPN belum mendapat pengesahan badan hukum, fungsinja adalah penjalur dari BATARI dan pengusaha batik bangsa Indonesia jang bertempat tinggal didaerah kerdja KPN sekarang mendjadi anggota BATARI. 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: KPN didirikan pada tahun 1957 oleh pengusaha² batik keturunan Arab jang bertempat tinggal didaerah Ketjamatan Pasar Kliwon dan Djebres. Pengusaha² batik keturunan Arab jang aktip dalam pembentukan KPN antara lain: Moh. Juslam Badres, Awud Sungkar, Saleh Sungkar dan lain²nja. Setelah keluarnja P.P. 60/1959, dimana Pemerintah berusaha membentuk koperasi sebanjak mungkin, maka pengurus BATARI ingin mendewasakan koperasi batik didaerah Kabupaten ex. Karesidenan Surakarta dan koperasi² batik jang ada dalam Kota Madya Surakarta. Akibat pendewasaan koperasi² batik itu pada tahun 1960 pertama kali ialah berdirinja Koperasi Batik Tembajat. Pada tahun 1962 didewasakan pula koperasi² batik di Klaten, Bojolali, Bakonang Sukohardjo Matesih Karanganjar, KPN di Ketjamatan Kliwon dan PPBS di Ketjamatan Lawejan. Koperasi ini sudah mendapat Hak Badan Hukum pada tahun 1960/1961 dan KPN sendiri mendapat Hak Badan Hukumnja tahun 1960 No. 2179. Dengan didewasakannja koperasi² batik itu oleh BATARI, maka KPN diterima mendjadi anggota GKBI No. 27 tanggal 8 Mei 1962. Pendiri dan Pengurus Koperasi Pembatik Nasional bergambar bersama. Duduk dari kiri kekanan: Saleh Sungkar, Juslam, Dillach Muslich, H. Ali Atmodjo, S. Hadiwirjono dan Ibnu Sujachmir. Berdiri dari kiri kekanan: Mualim Tobrani, A. Rozak Sungkar, Munawir Sutanto, Djalal Sajuti Bakri, Mucharam dan M. Awud Sungkar. Perobahan A.D. KPN pertama kalinja ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan tertjatat No. 2179A / 1968. Waktu KPN diterima mendjadi anggota GKBI, suasana Pengurusnja ialah: Ketua Umum: Ibnu Sujachmir, Ketua I/II: H. Ali Atmodjo, Abdillah Muslih, Penulis I/II: Djalal Sajuti dan Saleh Sungkar, Bendahara I/II: Hadiwirjono dan Muh. Awud Sungkar. Pembantu: Muh. lam dan Mucharam. Susunan Badan Pemeriksa ialah : Munawir, Abd. Rozak dan Tabrani. 2. Keanggotaan dan ke Pengurusan : Pengusaha² batik ex. anggota KOPAS dan KPN keturunan Arab lebih kurang ada 200 orang dan dari ex. anggota BATARI djuga ada lebih kurang 200 orang. Waktu KPN mendjadi anggota GKBI, djumlah anggotanja tertjatat 336 orang tahun 1962, tahun 1964 mendjadi 465 orang, dan tahun 1967 mendjadi 469 orang. Mengenai ke Pengurusan KPN sedjak mendjadi anggota GKBI sampai sekarang tetap dipegang oleh pimpinan lama jaitu : Ketua Umum : Ibnu Sujachmir, Ketua 1/II : H. Ali Atmodjo dan Abdillah Muslich, Penulis I/II : Saleh Sungkar dan Mu'alim Tabrani, Bendahara I/II : Hadiwirjono dan Mucharom. Sedangkan susunan Badan Pemeriksa : Abdul Rozak Sungkar, Solechan BA dan Abdullatif Buchori BA. Dalam pembagian tugasnja Pengurus membagi kegiatan dalam dua bidang jaitu bidang organisasi dipimpin oleh : H. Ali Atmodjo dan dibantu oleh : Ibnu Sujachmir, Saleh Sungkar, Mu'alim Tabrani, bidang komersil dipimpin oleh : Abdillah Muslich dibantu oleh : H. Ali Atmodjo, Hadiwirjono dan Mucharom. Disamping itu Ketuaschap mendjalankan tugasnja sebagai koordinator. Disamping tugas KPN, Ketua Umum mendjabat pula sebagai Pimpinan Pabrik Tekstil Karangasem kepunjaan 10 Koperasi Batik di Surakarta. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS KPN : A. Bidang organisasi dan idiil : 1. Pendidikan : Pendidikan aktip jang diselenggarakan oleh KPN belum ada, tetapi pembangunan gedung SD didaerah Kampung Sewu diserahkan penggunaannja pada daerah setempat. KPN sebagai donatur tetap pada lembaga pendidikan didaerah kerdja chususnja dan daerah Surakarta umumnja. Project pendidikan jang dikerdjakan bersama-sama BATARI, PPBS ialah : Universitas Islam Indonesia Tjabang Solo, Skopma Solo dan bantuan perbaikan Aula SMA Negeri 1. Solo. Bantuan untuk project pendidikan jang diberikan tahun 1965 sebesar Rp. 28.189.107,- tahun 1966 sebesar Rp. 293.266, semuanja diambilkan dari sumbangan anggota. Sedangkan dari dana pendidikan tahun 1965 diterima sebesar Rp. 1.202.617,— dan tahun 1966 ada Rp. 5.443,— dan dikeluarkan tahun 1966 sebesar Rp. 6.000,—. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial, KPN jang aktip ialah menjelenggarakan Balai Pengobatan, dan Jajasan Bersalin Kustati didirikan tahun 1957. Kegiatan sosial lainnja ialah memberikan bantuan pada korban bentjana alam bandjir, kelaparan, dan kesedjahteraan buruh batik, chitanan. Kegiatan sosial ini dibiajai dari sumbangan anggota, dana KPN dan bantuan dari GKBI. Dalam tahun 1965 bantuan jang diberikan sebesar Rp. 162.558.269,— dan diterima sebesar Rp. 151.731.073,— dan tahun 1966 diterima sebesar Rp. 860.780,— dan dikeluarkan Rp. 938.492,—. Dari dana sosial tahun 1965 diterima Rp. 1.192.644,— dan tahun 1966 diterima sebesar Rp. 5.443,—. Kegiatan sosial lainnja ialah perbaikan Mesdjid Besar Surakarta sepenuhnja dibiajai oleh KPN dan dibantu oleh BATARI dan PPBS/Perbaikan itu meliputi, listrik, tempat wuduk dan W.C. 3. Pembangunan daerah kerdja: Dibidang pembangunan daerah kerdja bantuan jang diberikan oleh KPN dalam tahun 1965 dari dana sebesar Rp. 434.232, -- dan dari dana anggota Rp. 36.000,- dan tahun 1966 dari dana usaha Rp. 24.000,- dan dari sumbangan anggota Rp. 1.482.046,-. Sedangkan dana pembangunan dari sisa hasil usaha tahun 1965 diterima Rp. 978.376,-- dan tahun 1966 diterima Rp. 4.794,- dan dari sumbangan anggota tahun 1965 diterima Rp. 38.180.000,— dan tahun 1966 sebesar Rp. 2.678.727,--. Bantuan lain²nja jang diberikan tahun 1965 ada Rp. 119.180.-. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Dalam rangka meningkatkan kesedjahteraan karyawan baik materie maupun rohani, perhatian dan sumbangan pengurus KPN sangat besar sekali, jaitu dengan membimbing karyawan mendirikan koperasi konsumsi. Koperasi Konsumsi ini namanja sekarang dirobah dengan „Persatuan Keluarga Puteri KPN” jang anggota²nja terdiri: anggota KPN, isteri² anggota KPN dan karyawan, serta karyawati KPN. Modal kerdja dari kumpulan selain dari anggota ditambah dengan modal KPN. Pengurus KPN duduk sebagai pengawas dan ada pula sebagai Pengurus jaitu: Ketua II didjabat oleh Ibnu Sujachmir dan Bendahara oleh Muh. Awud Sungkar, lainnja pengurusnja adalah wanita, Kegiatan dari Persatuan ini selain dari menjelenggarakan kebutuhan bahan pokok se-hari2 djuga menjelenggarakan dakwah Islam untuk seluruh keluarga KPN, jang memeluk Agama Islam. Dalam rangka tindakan penghematan, akibat situasi ekonomi dewasa ini, KPN jang karyawannja semula berdjumlah 150 orang, dalam kebidjaksanaannja tidak akan merugikan karyawan dan policy jang telah dilaksanakan ialah: a. karyawan jang berhenti tahun 1967 sebanjak 40 orang, semuanja atas sukarela dan mereka pada umumnja diluar telah bisa berdiri sendiri dan sekarang ditambah lagi dengan pemberian pesangon berdasarkan peraturan pemerintah di tambah kebidjaksanaan perusahaan. b. dalam tahun 1968 karyawan jang akan dikeluarkan, ditampung terlebih dahulu dalam kegiatan perdagangan dan industri dengan modal pertama diambilkan dari pesangon jang akan diterima. Bimbingan ini sepenuhnja diberikan oleh pengurus, setelah baik djalannja achirnja diserahkan pada karyawan jang bersangkutan. Untuk kesedjahteraan lainnja karyawan mendapat djaminan sosial lainnja jaitu: biaja pengobatan dari pengusaha, hadiah lebaran, bantuan sosial dari KPN. 5. Zakat: KPN selain dari menerima zakat GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak dalam lingkungan daerah kerdjanja, djuga mengeluarkan zakat sendiri. Dalam tahun 1965 zakat jang diterima dan dikeluarkan masing² Rp. 4.533.000,- dan tahun 1966 diterima Rp. 132.915,- dan dikeluarkan Rp. 80.830,- dan tahun 1967 diterima sebesar Rp. 381.842,- dan dikeluarkan Rp. 380.842,-. B. Bidang usaha dan produksi : 1. Permodalan : Modal KPN selain pemupukan sendiri sedjak tahun berdirinja, ditambah dengan pelimpahan dari simpanan² anggota selama di BATARI. KPN adalah salah satu anggota GKBI jang kuat dan di Kota Madya Solo termasuk koperasi no. 2 kuat sesudah PPBS, Perkembangan modal KPN dan penggunaannja sedjak tahun 1965 sampai achir tahun 1967 dapat dilihat dalam daftar dibawah.
*) Angka dalam ribuan: 2. Distribusi bahan baku batik : Sebelum KPN berdiri, pengusaha² batik mendapat bahan dari Batari, dan sudah berdiri dan mendjadi anggota GKBI tahun 1962, langsung mendjadi grossier GKBI. Perkembangan distribusi bahan baku batik GKBI dapat dilihat dalam daftar dibawah ini.
*)Angka² dalam ribuan:
*) Angka² dalam ribuan: 3. Pemasaran batik: Pengusaha² batik anggota KPN sekarang semendjak sebelum perang dunia kedua telah mempunjai langganan dan daerah pemasaran jang luas dan ada djuga melalui pedagang² Tjina atau langsung masuk pasar Solo. Kegiatan KPN dewasa ini aktip mentjaríkan pemasaran batik anggota jang ketjil dan belum mempunjai daerah pemasaran. Pemasaran batik KPN banjak di Djawa Timur dan Barat dan dari sini tersebar kedaerah lain di Indonesia. Dalam tahun 1965 omzet KPN dari pendjualan batik sebesar Rp. 719.057.185,— dan tahun 1966 sebesar Rp. 7.486.789,- dan tahun 1967 Rp. 3.592.488,—. Anggota KPN jang aktip bekerdja sekarang lebih kurang 50% dan bahan baku tidak tjukup jang diterima dari GKBI, kekurangan ditjari sendiri atau usaha KPN. 4. Pabrik Tekstil: KPN sendiri belum ada rentjana untuk mendirikan pabrik tekstil sendiri dan modal sekarang disatukan dengan primer2 lainnja di ex. Karesidenan Surakarta, untuk memperkuat Pabrik Tekstil Batik di Karangasem. Pabrik ini dipimpin oleh wakil2 primer setjara kolectif dan dibantu oleh seorang Administratur. Jang mendjabat Administraturnja adalah dari KPN jaitu: Ibnu Sujachmir Ketua Umum. Investasi KPN di Pabrik Karangasem sampai achir tahun 1967 mentjapai Rp. 3.096.260,-. —————— Buruh batik sedang memberikan warna. BAGIAN : 28 1. RIWAJAT PEMBATIKAN : Mengenai sedjarah asalnja batik didaerah Ponorogo dapat dibatja pada uraian Koperasi Bakti Ponorogo dalam bagian No. 8 dimuka. sebab tempat tinggal anggota BAKTI dan PEMBATIK serta daerah kerdjanja sama. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK : Perdjuangan pengusaha² batik baik anggota BAKTI maupun PEMBATIK sekarang waktu zaman sebelum perang dunia kedua bersatu dan dapat dibatja djuga pada uraian BAKTI. Pengusaha² batik sebelum perang jang terkenal antara lain ialah : K.H. Imam Subandi, ibu H. Djauhari, Bapak H. Damanhuri, Bapak H. Hasjim, Bapak H. Djuned dan Bapak H. Saleh. Pada tahun 1950 pengusaha batik di Ponorogo untuk mengatasi persoalan padjak, membentuk organisasi jang dinamakan „Perkumpulan Perusahaan Batik Ponorogo BANGUN” jang dipelopori oleh : Moh. Djamhuri, Usman Subandi, dan lain²nja. Susunan Pengurus „BANGUN” ialah : Ketua I/II : Moh. Djamhuri dan Mohd. Usman Subandi, Penulis I/II : Wirjo Subroto dan Hadisandjoto, Bendahara I/II : Hardjo Pudjo dan Sastrodiwirjo. Pembantu² ialah : Ismangil, Molan Kartomuljono, H. Dimjati, H. Pamudji Rahardjo dan H. Saleh. Waktu Pengurus GKBI datang di Ponorogo dalam rangka konsolidasi organisasi tahun 1950, jang dihubungi pertama kali ialah Koperasi Bakti sebagai salah satu pendiri GKBI th. 1948 di Jogjakarta. Dalam pertemuan itu pengusaha² batik jang tergabung dalam BANGUN datang : Sdr. : Usman Subandi, Suminto, Damanhuri dan Sobari. Pengurus GKBI hanja berhubungan dengan Koperasi Bakti, sedangkan BANGUN belum berbentuk koperasi, Pengusaha² batik jang tergabung dalam Bangun tidak mau masuk mendjadi anggota BAKTI dan mendirikan koperasi² baru di-desa²: Koperasi Kertosari didesa Kertosari, Koperasi Patihan Wetan didesa Patihan Wetan, Koperasi Perbaikan didesa Pondok. Sesuai dengan peraturan jang berlaku, maka Pemerintah menjarankan c.q. Djawatan Koperasi, supaja ketiga koperasi ini disatukan mendjadi satu koperasi batik pula. Pada tahun 1953 tanggal 9 Desember tiga koperasi ini bersatu masing² diwakili oleh: Kertosari oleh H. Muchari Hadisardjono dan H. Djamil, Patihan Wetan oleh: Usman Subandi dan Islam Subandi, dan Perbaikan oleh: Suminto dan Sobari, Koperasi baru itu dinamakan „Koperasi Persatuan Masjarakat Batik” dengan djumlah Pengurusnja 21 orang dan Ketuanja Sdr. Muchari Hadisardiono. Susunan pengurus pertama ialah: Ketua I/II: Muchari Hs., dan Suminto Somokarjono, Penulis I/II : Mohd. Islam Subandi dan M. Sutiono Hadi, Bendahara I/II: A.G. Notedihardjo dan H. Djamil Hasjim. Pembantu² ialah : H. Damanhuri, Moch. Iljas, Moch. Sastrodihardjo, Sukardi, Padmosudarmo, S. Hadisuwirjo, Mohd. Usman Subandi, Imam Muari, Kushadi, Subari, Moch. Djaeduri, Hardjo Mukijar, Moch. Dahlan dan Dika Sastrodiwirjo. Selama PEMBATIK belum mempunjai hak badan hukum, mendjadi penjalur dari BAKTI dan setelah mendapat badan hukum diangkat mendjadi grossier/langganan GKBI. 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja PEMBATIK meliputi daerah Swatantera II Ponorogo sama dengan daerah kerdja BAKTI. Anggota² PEMBATIK djuga tersebar didaerah kerdja BAKTI jaitu: Patihan Wetan, Kertosari, Nologaten, Tjokromenggalan, Benjudono, Pondok, dan sebagainja. PEMBATIK mendapat hak badan hukum, berdasarkan Undang² No. 108/1933 No. J.A. 5/90/5 tanggal 21 September 1955. Setelah mendapat hak badan hukum PEMBATIK langsung mendjadi langganan GKBI dan djatahnja tidak melalui BAKTI lagi. Perobahan A.D. PEMBATIK pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 79/1958 tanggal 21 September 1959, terdaftar No. 2167 dan kedua PP. 60/1959, terdaftar No. 2167A/1961 Beberapa orang pelopor Koperasi Pembatik Ponorogo dan pernah mendjadi pengurus. Keterangan gambar dari kiri kekanan: Moh. Usman Subandi (Wk. Pembatik di GKBI 1968) Moh. Djaeduri, Muh. Islam Subandi Ket. 1 1967/1968, Muhammad, dan Muh. Hjas Pembatik diterima mendjadi anggota GKBI. tahun 1962 terdaftar No. 28. 2. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Anggota PEMBATIK tempat tinggalnja bersama-sama desanja dengan anggota BAKTI dan pemisahan daerah kerdja jang djelas tidak, ada, seperti pada koperasi² batik lainnja. Waktu masuk mendjadi anggota GKBI djumlah anggotanja ada 179 orang dan pertambahannja sampai achir tahun 1967 hanja sebanjak 71 orang dan djumlah terachir ada 250 orang. Kepengurusan dan Badan Pemeriksa: Kegiatan grossierchap PEMBATIK pernah diambil alih oleh III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS PEMBATIK : A. Bidang organisasi dan idiil : 1. Pendidikan : Dibidang pendidikan PEMBATIK aktip memberikan bantuan kepada organisasi² pendidikan Islam di Ponorogo, chususnja kegiatan pendidikan jang diselenggarakan oleh Nahdatul Ulama mendapat bantuan sepenuhnja dari Kopbat. Pembatik. Tingkat² sekolah jang telah ada jaitu SLP. dan SLA. Nahdatul Ulama. Sedangkan untuk anggota diadakan Balai Penelitian batik untuk menambah pengetahuan anggota dalam proses batik dan pola² modern. Dengan adanja bengkel batik ini produksi anggota PEMBATIK sekarang sudah aneka matjam djenisnja. Dibidang olah raga kegiatan PEMBATIK meliputi tjabang²: sepakbola, volley ball, pingpong dan bulu tangkis. Antara BAKTI dan PEMBATIK dibentuk satu BOND BATIK PONOROGO, jang sudah sering mengadakan try-out dengan BOND BATIK Tasikmalaja, Solo, Pekalongan, Jogjakarta. Dana pendidikan jang diterima sedjak tahun 1965/1966 ada sebesar Rp. 447.000,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 31.000,—. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial, PEMBATIK menjelenggarakan Balai Pengobatan dan bantuan² sosial jang diberikan kepada organisasi² pendidikan sosial dan bentjana alam serta amal lainnja. Dana jang Perkembangan pasien dan biaja B.P.
Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja baik idiil maupun komersil sudah banjak diusahakan oleh PEMBATIK. Dibidang usaha dan produksi, PEMBATIK telah mempunjai gedung kantor sendiri lengkap dengan gudangnja dan membangun Pabrik Es Saldju Buwana tahun 1959 ( sekarang telah didjual tahun 1968) dan pabrik Gedung Poliklinik Pembatik didesa Kertosari jang terbuka untuk umum. Biaja pemeliharaan tahunan dibebankan pada dana sosial, ongkos dan bantuan tetap GKBI. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Dibidang kesedjahteraan karyawan, PEMBATIK memberikan djaminan sosial pada karyawannja meliputi: bantuan beras, biaja pengobatan, melahirkan dan kematian, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Untuk buruh batik langsung dari pengusaha² jaitu hadiah lebaran dan bantuan pengobatan. 5. Zakat: PEMBATIK selain dari menerima zakat dari GKBI djuga mengeluarkan zakat sendiri. Untuk tahun 1965/1966 zakat jang diteritma sebesar Rp. 274.400,- dan telah disalurkan kepada jang berhak sebesar Rp. 2.850.000,-. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: PEMBATIK selain sumber modalnja dari anggota, djuga pindjaman dari bank dan GKBI. PEMBATIK dalam bidang usahanja membutuhkan modal jang besar dan untuk ini mereka mengadakan pemupukan terus-menerus sampai sekarang. Perkembangan simpanan anggota tiga tahun belakangan dan penggunaannja dapat dilihat dibawah ini.
2. Distribusi bahan baku batik: Sebelum PEMBATIK mendapat hak badan hukum, fungsinja sebagai penjalur dari BAKTI dan sesudah mendapat badan hukum tahun 1955, langsung mendjadi langganan GKBI dan menerima djatahnja. PEMBATIK selain dari menerima djatah GKBI djuga aktip mengusahakan bahan baku penolong dan hasil produksi pabrik sendiri.
Pada tahun 1963 selama 10 bulan grossierschap PEMBATIK diambil alih oleh Pengurus GKBI, karena Pengurus² PEMBATIK banjak jang ditahan karena adanja tuduhaan manipulasi mori. Untuk pelaksanaannja Kelua I GKBI mengangkat pembantu pelaksana jang diambilkan dari anggota² PEMBATIK. Setelah berdjalan lantjar, pada bulan Nopember 1963 diadakan rapat anggota tahun usaha 1962 dan pemilihan pengurus serta hak grossiernja dikembalikan kembali. Omzet Pembatik selain dari bahan GKBI. djuga ada usaha sendiri, Perbandingan omzet, biaja dan sisa hasil adalah sbb.:
3. Pemasaran batik : Daerah pemasaran batik anggota PEMBATIK kebanjakan di Solo dan Djawa Timur dari pusat² pasar ini baru tersebar keluar daerah Djawa. Berkat adanja pendidikan dan bengkel batik, tingkat pengetahuan anggota dalam proses pembuatan batik dan penggunaan warna serta pola djauh lebih madju. Sekarang pembatik² Ponorogo telah bisa membuai batik seperti batik Pekalongan jang aneka warna dan djenis² batik lainnja. Omzet batik untuk dua tahun belakangan ini adalah sebagai berikut : tahun 1965 Rp. 513.589.767, tahun 1966 Rp. 4.127.540,—. 4. Pabrik Tekstil PEMBATIK : PEMBATIK selain dari mempunjai pabrik tekstil, pada tahun 1959 telah mempunjai Pabrik Es jang dibiajai dengan kredit Dana Investasi Wadjib sebesar Rp. 6.000.000.—. Dana ini dipungut dari pengusaha batik jang tidak tergabung dalam GKBI dan penjimpanannja dikuasai oleh Pemerintah Djawatan Perindustrian. Sekarang Pabrik Es ini telah didjual pada tahun 1968. Pabrik jang dimiliki oleh PEMBATIK sekarang ialah Pabrik Tekstil jang dibangun disamping pabrik es. Pabrik ini dibangun tahun 1962 dan modalnja dipindjam dari BKTN/Bank Negara Unit H. Mesin² nja telah dipesan tahun 1962 dan dalam tahun 1963 direntjanakan pemasangannja dan mulai menghasilkan. Oleh karena adanja peristiwa pada awal tahun 1963 dimana Pengurus Pembatik banjak jang ditahan, maka pembangunan pabrik terhenti dan djuga mesin² jang dipesan tidak tjotjok ukurannja jaitu 44″ dan 46″. Mesin² ukuran jang 44" terpaksa didjual karena tidak tjotjok dan djuga untuk membajar kredit dari bank jang sudah djatuh temponja. Pemesanan mesin² jang ukuran 46″ sebanjak 10 buah terus didjalankan. Dalam tahun 1965 pabrik tekstil PEMBATIK telah mulai menghasilkan dan perluasan terus didjalankan tiap tahun. Sekarang pabrik telah mempunjai kapasitas mesin tenun sebanjak 46 buah, dan mesin palet satu, mesin kandji, dan diesel serta perlengkapan lainnja Dalam tahun 1967 pabrik telah menghasilkan sebanjak 187.750 yard mori grey.
BAGIAN: 29 KOPERASI BATIK PERUBADI INDRAMAJU 1. RIWJAT PEMBATIKAN: Riwajat pembatikan didaerah Indramaju jang letaknja lebih kurang 60 km dari kota Tjirebon sudah tentu ada hubungannja dengan sedjarah keradjaan dan perkembangan kraton Tjirebon masa dulu. Indramaju terletak disebelah Utara pulau Djawa dan hubungan dengan daerah² luar jang dekat ialah keradjaan Sriwidjaja dan Tiongkok Selatan dan Kalimantan. Menurut petilasan² jang ada di Indramaju, pengaruh kedua daerah/keradjaan Sriwidjaja dan Tiongkok semasa dahulu ada pada penetapan pola² batik Indramaju asli jang merupakan pola angin²an, kembang kapas. Dan djuga pengaruh warnapun jang senang pada merah, kuning dan hitam. Batik produksi Indramaju disenangi oleh keturunan Tjina dan mendjadi pakaian tradisionil/adat bagi mereka dalam upatjara adat tertentu. Batik Indramaju terkenal dengan batik tulis halusnja dengan pola ,,Indramajonnja" Anggota Perubadi kebanjakan mengerdjakan batik tulis baik kwalitas kain kasar, maupun halus. Disamping kain tulis, produksinja ialah selendang. Proses batik tjap dikenal di Indramaju setelah tahun 1960 dan obat2 luar negeri dikenal sesudah zaman kemerdekaan, sebelumnja tetap memakai bahan² obat bikinan sendiri. II. PERKEMBANGAN DAN PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK : 1. Menudju pembentukan organisasi: Perdjuangan pengusaha' batik didaerah pembatikan lainnja seperti di Solo, Jogja. Pekalongan, Tasikmalaja, Tjirebon sebelum perang dunia kedua djuga mempengaruhi pada pengusaha² batik di Indramaju. Perdjuangan kebangsaan dan ekonomi jang dipelopori oleh Sarikat Dagang Islam jang besar pengaruhnja, hingga tahun 39 dekatnja perang dunia kedua sudah ada berdiri Koperasi Batik Rakjat jang dipelopori antara lain: Hadji Said Hadji Maksudin, Hadji Hasbullah semuanja almarhum. Jang masih hidup sekarang dan mendjadi anggota Perubadi ialah Dirga. Koperasi ini waktu Djepang kegiatannja tidak ada dan waktu perang kemerdekaan pertamapun belum ada kegiatan kembali sampai achir 1949 boleh dikatakan sudah mati. 2. Koperasi wadah jang tjotjok: Pengusaha2 batik pelopor pendiri Koperasi batik Perubadi Indramaju tahun 1953. Dari kiri kekanan: H. Moh. DahLan, Pak Sudja'i (duduk) dan Moh. Dja'far. 3. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Dengan diundangkannja Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959 maka Perubadi ingin berdiri sendiri terlepas dari Trusmi. Pada tahun 1961 bulan Desember mendapat pengakuan Hak Badan Hukum No 3086 dan tahun 1962 bulan Mei diterima mendjadi anggota GKBI, tertjatat No. 29. Perobahan² A.D. PERUBADI pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/67 dan terdaftar No. 3086A/ 1968. Djumlah anggota PERUBADI waktu mendjadi GKBI tertjatat 120 orang tahun 1964 ada 157 orang dan achir tahun 1967 tertjatat 157 orang djuga. Waktu PERUBADI diterima mendjadi anggota GKBI susunan Pengurusnja ialah: Ketua I/II: Moch. Dahlan dan Daliman, Penulis I/II: Abd. Kahar dan Jasir, Bendahara I/II: A. Karim dan Anwar, Pembantu²: Mustara. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Surja, Muchit dan Madamin. III. KEGIATAN AKTIVITAS PERUBADI: A. Bidang sosial dan masjarakat: 1. Pendidikan: Kegiatan dibidang pendidikan jang aktip belum ada dan baru memberi bantuan pada organisasi? pendidikan didaerah kerdja. Untuk mendirikan Taman Kanak² Batik tanahnja sudah tersedia hanja menunggu dana gedungnja sadja lagi. Dalam tahun 1965 dana pendidikan jang diterima Rp. 87.392 ,― dan tahun 1967 dana jang diterima Rp. 1.019,—. 2. Sosial dan masjarakat: Dibidang sosial djuga kegiatan jang aktip belum ada seperti pada primer² batik lainnja. Kegiatan baru memberikan sumbangar pada organisasi² masjarakat dan perbaikan mesdjid dan madrasah. Dana jang diterima tahun 1965 sebesar Rp. 1.861.459,― dan dikeluarkan sebesar Rp. 901.151,― dan tahun 1967 diterima sebesar Rp. 1.019, dan dikeluarkan Rp. 31.297,―. 3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja ialah perbaikan djalan² dan dana sisa hasil usaha serta sumbangan anggota jang diterima tahun 1965 ada Rp. 60.262.499,― dan dikeluarkan sebesar Rp. 27.836.125,― dan tahun 1967 dana jang diterina Rp. 1.019,―. 4. Zakat: PERUBADI selain dari menerima zakat GKBI djuga mengeluarkan sendiri dan disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja. Tahun 1965 zakat jang diterima sebesar Rp. 100.000,― dan dikeluarkan sebesar Rp. 169.000,― dan tahun 1967 diterima Rp. 11.196 dan dikeluarkan Rp. 13.861,―. 512 1. Permodalan : Sebagai modal utama ialah simpanan² anggota serta tjadangan perusahaan dan modal tambahan ialah kredit bank dan GKBI. Perkembangan modal dan penggunaannja sedjak tahun 1965 dapat dilihat dalam daftar dibawah.
2. Distribusi bahan baku batik : Sebelum PERUBADI mendjadi anggota GKBI, bahan baku di dapat dari Koperasi Batik Budi Tresna Tjirebon dan Perubadi sebagai Penjalur. Setelah mendjadi anggota GKBI tahun 1962, langsung
Hasil omzet PERUBADI tidak dari bahan² GKBI sadja dan djuga usaha sendiri jaitu batik dan bahan baku penolong. Perbandingan omzet dan biaja serta sisa hasil usaha dapat dilihat dibawah.
3. Pemasaran batik: Omzet batik tahun 1965 sebesar Rp. 37.956.466,— dan tahun 1967 sebesar Rp. 337.590,—. Daerah pemasaran batik Indramaju kebanjakan di Djakarta dan daerah Djawa Barat lainnja. Batik Indramaju disenangi oleh bangsa Tjina karena akan dipakai dalam upatjara adat-istiadat mereka Produksi batik Indramaju terkenal dengan nama „Indramajon” begitu pula selendangnja.
—————— BAGIAN : 30
I. RIWAJAT PEMBATIKAN : Modjokerto adalah daerah jang erat hubungannja dengan keradjaan Madjapahit semasa dahulu dan asal nama Modjokertopun ada hubungannja dengan MADJAPAHIT. Pembatikan ang diperkirakan asal mulanja sedjak zaman Madjapahit sudah ada, tetapi perkembangannja jang pesat ialah didaerah Djawa-Tengah Surakarta dan Jogjakarta. Daerah pembatikan sekarang di Modjokerto terdapat di Kwali, Modjosari, Betero dan Sidomuljo. Diluar daerah Kabupaten Modjokerto ialah di Djombang. Pada achir abad ke-XIX ada beberapa orang keradjinan batik jang dikenal di Modjokerto, bahan² jang dipakai waktu itu semuanja hasil buatan dalam negeri, baik kain putih, maupun obat² batik seperti, soga djambal , mengkudu, nila tom, tinggi dsb. Obat² luar negeri baru dikenal sesudah perang dunia kesatu jang didjual oleh pedagang² Tjina di Modjokerto. Batik tjap dikenal bersamaan dengan masuknja obat² batik dari luar negeri. Tiap dibuat di Bangil dan pengusaha² batik Modjokerto dapat membelinja dipasar Porong Sidoardjo, Pasar Porong ini sebelum krisis ekonomi dunia dikenal sebagai pasar jang ramai, dimana hasil produksi batik Kedungtjangkring dan Djetis Sidoardjo banjak didjual. Waktu krisis ekonomi, pengusaha batik di Modjokerto ikut lumpuh, karena pengusaha² kebanjakan ketjil usahanja. Sesudah krisis kegiatan pembatikan timbul kembali sampai Djepang masuk ke Indonesia, dan waktu pendudukan Djepang kegiatan pembatikan lumpuh lagi. Kegiatan pembatikan muntjul lagi sesudah revolusi dimana Modjokerto sudah mendjadi daerah pendudukan. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK : 1. Setelah Modjokerto mendjadi daerah pendudukan tahun 1949, pengusaha² batik aktip kembali karena bahan2 baku batik telah didjual dipasar bebas oleh pedagang² Tjina. Disamping itu pedjabat B.I.H. djuga berusaha supaja pengusaha² dapat langsung membeli dari importir. Setelah pengakuan kedaulatan, bahan2 batik masih didapat dari Pemerintah melalui Djawatan Perindustrian. Setelah diketahui bahwa pengusaha² batik telah bergabung dalam satu organisasi GKBI dan di Surabaja djuga ada Tjabangnja, maka diadakan hubungan, bagaimana tjaranja memperoleh bahan2 baku batik. Tjabang GKBI Surabaja menjarankan supaja pengusaha batik di Modjokerto berhubungan dengan Koperasi Batik GRESIK jang telah berdiri pada tahun 1952. Selandjutnja pengusaha² batik di Modjokerto sebanjak 9 orang mendapat bahan² baku dari GRESIK dan terdaftar sebagai langganan. Djatah jang diterimanja sesuai dengan djumlah jang diterima dari BIH. Pada achir tahun 1956 pengusaha² batik di Modjokerto bertambah sampai djumlah 14 orang. Pada achir tahun 1956 datang di Modjokerto utusan Pembatik Ponorogo, menjarankan supaja di Modjokerto didirikan koperasi batik primer dan nanti bergabung dengan „Gabungan Koperasi Pembatik Nasional" jang akan didirikan oleh koperasi² batik jang tidak tergabung dalam Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Atas andjuran ini maka pada tanggal 29 September 1956 jang diprakarsai oleh pengusaha² batik antara lain: Moh. Ruslan (almarhum), Albani, Qusajir, Marto, Kardji, S. Tamim dan Ahmad Agus dibentuklah koperasi jang dinamakan „Koperasi Perusahaan Batik Browidjojo". 2. Koperasi wadah jang tjotjok: Dengan berdirinja BROWIDJOJO tahun 1956, pengusaha² batik tidak langsung mendapat bahan dari GRESIK, tetapi melalui BROWIDJOJO, karena tugasnja sebagai penjalur. Dengan diundangkannja Undang² Koperasi No. 79/1958, maka pengusaha² batik diluar kota Modjokerto antara lain di Modjosari dan Betro sebanjak lebih kurang 26 orang masuk djadi anggota 3. Anggaran Dasar dan Badan Hukum : Dalam permohonan hak badan hukum Oktober 1960, tertjantum daerah kerdja BROWIDJOJO meliputi seluruh daerah Swatantera II Modjokerto, Pengesahan Hak Badan Hukum diperoleh tanggal 1 Djuli 1961 No. 198 dan mendjadi anggota GKBI anggal 1 Djuni 1962. No. 30. Dengan keluarnja P.P. 60/1959, maka banjak keradjinan² batik masuk mendjadi anggota. Perobahan A.D. pertama kalinja ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 198A/1968. 4. Keanggotaan dan ke Pengurusan : Djumlah anggota waktu mendjadi anggota GKBI tahun 1962 tertjatat sebanjak 26 orang, tahun 1964 ada 75 orang, tahun 1965 ada 104 orang dan tahun 1967 ada 110 orang. Anggota² ini sebagian besar terdiri dari keradjinan batik Pengurus BROWIDJOJO sampai sekarang masih didjabat oleh tokoh² pendirinja dan tahun 1968/1969 susunannja ialah: Ketua I/II: Achmadun Sjakir dan Albani, Penulis : Abd. Rachman Sjafi'i, Bendahara : Martosuwito dan Pembantu S. Takim. Susunan Badan Pemeriksa: Solikan, Cholil Arkanu dan Nj. Sutijatun. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS BROWIDJOJO: A. Bidang sosial dan masjarakat: 1. Pendidikan: Pendidikan aktip jang diusahakan ialah STK Batik jang dibuka! tahun 1964. Adanja STK Batik jang diselenggarakan oleh koperasi jang ketjil usahanja seperti BROWIDJOJO adalah satu kegiatan pengurus jang besar artinja baik bagi anggota maupun bagi masjarakat daerah kerdjanja. Gedung STK jang terletak berdampingan dengan kantor koperasi selesai dibangun tahun 1965 dan kantor sendiri baru selesai tahun 1966. Biaja untuk pembangunan didapat dari sumbangan dana pembangunan GKBI dan bantuan anggota. Biaja pemeliharaan STK dipikul oleh koperasi dan dana serta bantuan GKBI tiap tahun. Dana pendidikan jang diterima tahun 1967 ada sebesar Rp. 1.196,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 1.196,—. 2. Sosial dan masjarakat: 3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan dan sumbangan dibidang pembangunan daerah kerdja djuga disesuaikan dengan kekuatannja. Dana pembangunan jang diterima tahun 1967 ada sebesar Rp. 1.918,—. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan selain dari gadji tiap bulan, mendapat bantuan pengobatan, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan Sedangkan buruh batik selain dari upah mendapat hadiah lebaran. 5. Z a k at: BROWIDJOJO selain menerima zakat dari GKBI tiap tahun untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja djuga mengeluarkan zakat sendiri. Zakat jang diterima tahun 1967 ada sebesar Rp. 4.141,— dan telah dikeluarkan pula sebesar Rp. 4.700 B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: BROWIDJOJO adalah anggota jang terketjil dari seluruh anggota GKBI dan djatah jang diterimanja hanja 0,0035% dari seluruh djatah GKBI. Perkembangan simpanan dan penggunaan modal dapat dilihat dibawah.
2. Distribusi bahan baku batik: Sebelum BROWIDJOJO berdiri, pengusaha² batik mendapat bahan dari Koperasi Gresik dan mulai tahun 1962 langsung dari GKBI. Perkembangan distribusi bahan baku batik dapat dilihat dibawah ini.
3. Pemasaran batik : Pemasaran batik anggota terutama didaerah Modjokerto sendiri dan di Surabaja serta daerah² kota Djawa Timur lainnja. Untuk memperbesar usahanja BROWIDJOJO membuka Toko Batik dipasar Modjokerto jang mendjual produksi anggotanja dan batik² daerah lainnja. Hasil pendjualan batik untuk tahun 1967 sebesar Rp. 349.560,— BAGIAN: 31 KOPERASI PERSATUAN BATIK BOJOLALI „P.B.B.” I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Daerah pembatikan di Bojolali terletak djauh dikaki gunung Merbabu sebelah utara Bojolali didaerah Ketjamatan Andong berbatasan dengan daerah Swatantera II Sragen Ketjamatan Gemolong. Asalnja pembatikan disini hampir sama sedjarah perkembangannja dengan daerah² pembatikan di Tembajat, Klaten, Matesih, Wonogiri dan Sragen, karena daerah ini terletak dalam lingkungan ex. Karesidenan Surakarta dan dibawah pengaruh langsung keradjaan² semasa dahulu. Djadi riwajat perkembangan pembatikan serta perdjuangannja pengusaha batik dapat dibatja pada uraian² koperasi batik primer ex. Karesidenan Surakarta. II. LAHIRNJA KOPERASI PBB: Sedjak tahun 1935 berdirinja PPBBS dan berobah mendjadi BATARI sampai tahun 1962 sebelum berdirinja PBB pengusaha² batik di Andong Bojolali mendjadi anggota BATARI. Setelah keluarnja Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959, sesuai dengan keinginan pengusaha² batik diluar kota Solo hendak berdiri sendiri, maka di Andong sendiripun djuga sama. Untuk menampung keinginan tersebut, maka tanggal 9 Djuli 1961 didirikanlah Koperasi Persatuan Batik Bojolali disingkat „P.B.B.” dengan diprakarsai antara lain: Bapak K.A. Zarkasi, Sugiartono, A. Sadjidan Siswosupadmo, Suharto dan Chasan Wardojo dan kawan² lainnja. Susunan pengurus pertama ialah: K.A. Zarkasi dan Sugiarto sebagai Ketua/Wk. Ketua, A.S. Siswosupadmo dan Siradjudin sebagai Penulis I/II, Suharto dan Chasan Wardojo sebagai Bendahara I/II dan Pembantu²: K. wahir, Darsosumamo dan K. Masjhudi. Susunan Badan Pemeriksa ialah : Kusnindar, A. Ridwan dan Dja'far. 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja PBB ialah seluruh daerah Swatantera II Bojolali dan bertempat di Ketjamatan Andong. PBB mendapat hak badan hukum tanggal 30 Desember 1961 No. 1282 dan diterima mendjadi anggota GKBI tanggal 23 Agustus 1962 No. Anggota 31. Perobahan A.D. pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 1282A/1968. 2. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Waktu diterima mendjadi anggota GKBI djumlah anggota PBB sebanjak 158 orang, tahun 1964 mendjadi 185 orang dan tahun 1967 tinggal 184 orang. Anggota PBB selain dari pengusaha batik ketjil² djuga banjak anggota keradjinan dan buruh batik. Pengurus PBB sedjak berdirinja sampai sekarang tetap dipegang oleh tokoh pendirinja dan susunan pengurus untuk tahun 1968/1969 ialah: Ketua I/II: K.A. Zarkasi dan Sugiatono, Penulis I/II: Masjhuri Hs, Siradjudin, Bendahara I/II: Suharto dan K.H. Muh. Idris dan Pembantu: Sihab Bintoro. Susunan anggota Badan Pemeriksa ialah: Moh. Maksum, H. Abdurachman dan Supomo. Dalam organisasi GKBI, PBB diwakili oleh Sugiartono sedjak tahun 1963 sampai sekarang sebagai anggota BADAN Pemeriksa. PBB adalah salah satu anggota BKKS dan dalam GERKOPINDA sebagai Wakil Ketua dan didjabat oleh Sdr. Sugiartono. Dalam rangka penumpasan gerakan G.30.S. daerah Andong mendjadi sasaran PKI, karena kebanjakan pengusaha² batik tergabung dalam organisasi Islam Muhammadijah. Daerah Ketjamatan Andong dan sekitarnja adalah termausk daerah minus, tempat jang subur bagi PKI. Pengurus serta anggota PBB aktip menghantjurkan PKI didaerah Ketjamatan Andong chususnja dan Bojolali umumnja, kantor koperasi digunakan sebagai markas operasi. A. Bidang sosial dan masjarakat: 1. Pendidikan: Dalam rangka pendidikan, PBB aktip menjelenggarakan STK Batik dan SD/SM Islam. Gedung STK dan SD/SM Islam dibangun oleh PBB dengan biaja dana pembangunan GKBI dan sumbangan anggota serta dana pembangunn PBB sendiri. Dana jang diterima tahun 1963/1964 sebesar Rp. 497.723,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 371.749,—. 2. Sosial dan masjarakat: Dibidang sosial kegiatan PBB baru mentjapai memberikan bantuan kepada organisasi² sosial, organisasi pendidikan, madrasah, mesdjid dan lainnja. Dana jang diterima sedjak tahun 1963/1964 sebanjak Rp. 296.145,— dan telah dikeluarkan sebanjak Rp. 230.195,— dan 1966 diterima Rp. 4.831,—. dan dikeluarkan Rp. 3.450. Dibidang pembangunan daerah kerdja, PBB aktip memperbaiki djalan didaerah kerdjanja Andong, djembatan antara Bojolali — Andong sebesar Rp. 9.420.000,— dalam tahun 1965 dan djalan Gemolong. Dana pembangunan jang antara perbatasan Andong diterima sedjak tahun 1963/1964 sebesar Rp. 106.605, -- dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 250.445,— dan 1966 diterima Rp. 12.475, dikeluarkan Rp. 9.420,—. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik : Karyawan selain menerima gadji, djaminan sosial lainnja ialah, bantuan beras, biaja pengobatan, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Sedangkan buruh batik selain dari upah djuga menerima hadiah lebaran. 5. Zakat : PBB menerima zakat tiap tahun dari GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja. Zakat jang diterima tahun 1966 sebesar Rp. 990,— dan telah disampaikan sebesar Rp. 1.059. B. Bidang usaha dan produksi : 1. Permodalan : Sebagai modal pertama, PBB menerima dari BATARI pelimpahan dari simpanan anggotanja dan selandjutnja giat mengadakan pemupukan modal baik untuk modal kerdja maupun untuk investasi pabrik Batari dan PBB sendiri.
*) Angka dalam ribuan : 2. Distribusi bahan baku batik : Sebelum PBB berdiri anggotanja mendapat bahan baku dari BATARI dan sesudah berdiri tahun 1961, mendjadi penjalur dari BATARI dan tahun 1962 setelah mendjadi anggota GKBI, langsung mendapat bahan baku sesuai dengan djumlah jang diterimanja dari BATARI setelah ditambah prosentasenja oleh BATARI sendiri, seperti primer² lainnja jang djatahnja dibawah 1%. Perkembangan distribusi bahan baku batik sedjak mendjadi anggota GKBI dapat dilihat dibawah ini.
3. Pemasaran batik: Produksi anggota PBB pemasarannja terutama dipasar Solo dan daerah sekitarnja dan tahun 1963 omzet batik seharga Rp. 11.559.335,— tahun 1964 omzet sebesar Rp. 17.109.150,— tahun 1965 omzet batik sebesar Rp. 65.209.734,— dan tahun 1966 omzet sebesar Rp. 415.237,—. 4. Pabrik Tekstil PBB: Selain dari ikut investasi dalam Pabrik Tekstil Karangasem kepunjaan 10 Koperasi Batik ex. anggota BATARI, dalam rapat anggota tahun usaha 1965, tanggal 2 Nopember 1966 disetudjui untuk mendirikan Pabrik Tekstil sendiri. Maka tahun 1966 diadakan pemupukan modal chusus untuk pembiajaan projek pabrik. Dalam tahun 1966 telah terkumpul modal sebesar Rp. 508.087,— dan telah dibelikan mesin tenun sebanjak 10 buah seharga Rp. 425.000,— dan dinamo motor 10 buah seharga Rp. 57.000,—. Pabrik direntjanakan akan didirikan di Andong dimana anggota banjak jang tinggal. Mengingat situasi ekonomi berobah achir tahun 1966 dan diikuti peraturan² pelaksanaannja, mengakibatkan pemupukan modal untuk pabrik matjet masuknja, selama tahun 1967 dan 1968. Pembangunan gedung pabrik belum dimulai karena kekurangan modal mesin² jang ada di Pabrik Tekstil Karang Asem sekarang, oleh PBB. diserahkan penggunaannja pada Pimpinan Pabrik Karangasem dan bulan Nopember 1968 diharapkan sudah mulai djalan. —————— BAGIAN: 32 1. RIWAJAT PEMBATIKAN: Matesih adalah satu daerah Ketjamatan jang terletak dikaki Gunung Lawu lebih kurang 27 km dari kota Solo. Matesih termasuk daerah Swatantera II Karanganjar. Adanja pembatikan didaerah Matesih ini erat hubungannja dengan perkembangan sedjarah keradjaan Surakarta dahulu. Matesih dibawah pengaruh radja² Kraton Surakarta. Keluarga Kraton jang ditempatkan di Matesihlah jang mengembangkan pembatikan semasa dahulu, dan selandjutnja diadjarkan kepada wanita² jang bekerdja dalam lingkungan keluarga kraton dan lama kelamaan berkembang mendjadi milik rakjat sekitarnja. Dalam perdjuangan dan perkembangan pembatikan seterusnja mengikuti pengusaha² dikota Solo. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: Pembatikan di Matesih perkembangannja tidak begitu besar karena penduduknja selain dari pembatik hidupnja berdagang dan tani. Pengusaha² batik di Matesih sebelum perang perdjuangannja disatukan dengan perdjuangan² pengusaha² dikota Solo. Sebab semua kebutuhan bahan baku batik diperoleh dari kota Solo dan hasil produksinja didjual dikota Solo djuga. Motif dan pola serta proses pembuatan batik Matesih sama dengan batik² lainnja didaerah ex. Karesidenan Surakarta. Waktu terbentuknja koperasi PPBBS tahun 1935, pengusaha batik di Matesih menggabung kedalamnja dan kehidupan pembatikan zaman Djepang dan permulaan revolusi sama dengan pembatik² dikota Solo. Setelah pengakuan kedaulatan, dimana aktivitas pembatikan dimulai kembali, pengusaha² batik Matesih tetap bergabung dengan PPBBS sampai mendjadi namanja BATARI. Pengusaha² batik jang aktip dalam BATARI sebelum petjah tahun 1962 antara lain: Marjono Prijomartomo, Padmomartono. 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Dengan keluarnja Undang² Koperasi No.: 79/1958 dan PP. 60/1959, pengusaha batik jang tinggal diluar kota Solo, termasuk di Matesih ingin membentuk satu koperasi sendiri dan nantinja mendjadi anggota GKBI. Menampung keinginan anggota² BATARI jang tinggal diluar kota Solo dan dalam kota maka pada tahun 1960 diadakan persiapan untuk mendjadikan BATARI mendjadi beberapa koperasi batik primer. Di Matesih dengan dipelopori oleh anggota jang duduk dalam pengurus BATARI antara lain: Marjono, Padmomartono, Dardjosukamto, Warnowijoto dan Dirdjosuharto, didirikanlah „Koperasi Batik Indonesia Matesih Asli disingkat BIMA” dengan susunan pengurus pertamanja Ketua I/II/III: Marjono Prijomartono, Padmomartono, Warnowijoto, Penulis I/II: K. Dardiosukanto, S. Sukoprajitno, Bendahara I/II: Hardjosuwito dan Dirdjosuharto. Daerah kerdja BIMA meliputi seluruh daerah Swatantera II Karanganjar dan kedudukan di Ketjamatan Matesih. BIMA mendapat Hak Badan Hukum No. 1591 tanggal 26 Maret 1962 dan mendjadi anggota GKBI tanggal 23 Agustus 1962 No. 32. Perobahan A.D. BIMA pertama kalinja ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 1591A/ 1968. 2. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Waktu BIMA didirikan dan mendapat hak badan hukum tahun 1962, djumlah anggotanja ada 40 orang dan perkembangan anggota tiap tahun tidak banjak. Tahun 1964 djumlah anggota ada 67 orang dan achir tahun 1967 ada 78 orang. Pengusaha² batik di Matesih termasuk jang ketjil² dan djatahnja dari GKBI hanja 0.44% dari seluruh pembagian tiap bulan. Kepengurusan BIMA sedjak berdirinja tetap dipegang oleh tokoh -tokoh tahun 1962 dan untuk tahun 1968/1969 susunan pengurusnja adalah : Ketua I/II: Padmomartono dan S. Pengurus dan Badan Pemeriksa ini adalah aparat koperasi jang dipilih dan bertanggung djawab dalam rapat anggota. Pedoman kerdja dari Pengurus dan B.P. telah ditetapkan dalam A.D. BIMA dan rentjana usaha serta belandja jang ditetapkan oleh rapat anggota. Untuk tahun usaha 1966/1968 dalam organisasi GKBI, Bima diwakili oleh Ketua I nja jaitu: Padmomartono sebagai anggota Badan Pemeriksa. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS BIMA: B. Bidang organisasi dan idiil: 1. Pendidikan: Dalam kegiatan pendidikan BIMA tahun 1964 mendirikan TK Batik, gedungnja sampai sekarang masih menjewa. Disamping itu 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosial jaitu memberikan bantuan pada masjarakat dalam rangka mengatasi H.O., kegiatan² sosial seperti pendidikan madrasah dan perbaikan gedung² ibadah. Dana jang digunakan dari sisa hasil dan sumbangan anggota chusus. Dalam tahun 1962 telah dipungut sumbangan anggota untuk kegiatan sosial ini dan dikenal dengan „kantong sosial”. Dalam achir 1962 djumlahnja Rp. 88.196,— tahun 1963 ada Rp. 183.470,— tahun 1964 ada Rp. 250.478 ,— tahun 1965 ada Rp. 1.932.959,— tahun 1966/1967 ada Rp. 145.506,— dan dikeluarkan Rp. 136.580,—. 3. Pembangunan daerah kerdja: Kegiatan dibidang pembangunan daerah kerdja diambilkan dari dana sisa hasil usaha, sumbangan anggota chusus, dan bantuan GKBI. Bantuan jang telah diberikan ialah : perbaikan djalan di Matesih, perbaikan gedung Balai Desa dan neonisasi Kota Karanganjar, BIMA memberikan bantuan . Dana pembangunan jang diterima sebesar Rp. 23.640,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 3.000,—. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan selain dari mendapat gadji, djaminan sosial lainnja diberikan , beras, biaja pengobatan, pakaian dinas, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan. Sedangkan buruh batik dari BIMA tiap tahun mendapat hadiah lebaran tekstil, hadiah dari pengusaha batik, bantuan biaja pengobatan, kematian dan melahirkan. 5. Zakat: BIMA tiap tahun menerima zakat dari GKBI untuk disalurkan kepada jang berhak dalam daerah kerdjanja. Dalam tahun 1966/1967 zakat jang diterima sebanjak Rp. 15.705,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 7.855,—. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: BIMA selain memungut simpanan jang diwadjibkan oleh GKBI, djuga memungut simpanan chusus untuk projek Pabrik Tekstil sendiri, mulai tahun 1962. Perkembangan simpanan dan penggunaannja tiga tahun belakangan dapat dilihat pada daftar dibawah.
*) Angka² dalam ribuan: 2. Distribusi bahan baku batik : Sebelum BIMA berdiri, anggotanja mendjadi anggota BATARI dan setelah mendjadi anggota GKBI tahun 1962 langsung mendapat djatah sebesar jang diterima dari BATARI.
*) Angka² dalam ribuan: Omzet usaha BIMA tidak terdiri dari bahan² GKBI sadja, tetapi ada pula usaha sendiri jaitu, bahan baku penolong, batik dan grey pabrik Karangasem. Pada tahun 1967 seluruh omzet BIMA mentjapai Rp. 5.402.840,— dengan hasil bruto sebesar Rp. 553.552,— dan besarnja ongkos Rp. 526.115,— dan sisa hasil usaha bersih hanja tinggal Rp. 26.937,—. 3. Pemasaran batik: Daerah pemasaran batik anggota banjak dipasar Solo. Bagi anggota jang sudah punja pasaran langsung mendjualnja dan BIMA berusaha mentjarikan pasaran bagi anggota² jang belum dan ditampung oleh koperasi. 4. Pabrik Tekstil: BIMA selain menanam modal di Pabrik Karangasem djuga membangun pabrik sendiri dan ini telah diputuskan dalam rapat anggota. Dalam tahun 1966 diadakan pemupukan modal untuk pabrik dan terkumpul Rp. 506.911,—. Dalam tahun 1967 pemupukan modal didjalankan terus dan pembangunan gedungnja dimulai 12 Djuli 1967. Mesin² tenun jang telah dimiliki ada 10 buah, diesel sebesar 15 PK dan peralatan² lainnja. Direntjanakan pabrik ini akan mempunjai mesin tenun sebanjak 50 buah lengkap dengan mesin lainnja. Pembangunan gedung direntjanakan akan selesai 12 Djuli 1968 dan pemasangan mesin² serta perlengkapan dan instalasi dalam tahun 1968 pula dan tahun 1969 akan menghasilkan. Djumlah inves tasi pabrik BIMA sampai achir tahun 1967 sebesar Rp. 857.357,—. dan investasi di Pabrik Karangasem sampai achir tahun 1967 sebesar Rp. 178.636,— BIMA mendapat pembagian hasil pabrik Karangasem sesuai dengan perbandingan modalnja. Disamping pembangunan pabrik ini, BIMA sekarang telah mempunjai gedung kantor sendiri jang selesai dibangun tahun 1966 dan diresmikan pemakaiannja waktu memperingati Hari Koperasi ke-XIX. BAGIAN: 33 KOPERASI BATIK „MATARAM” I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Mengenai riwajat pembatikan dan tjiri² chas batik produksi anggota MATARAM dapat dibatja pada perkembangan koperasi batik PPBBP atau PPBI. Dan djuga mengenai tokoh² pembatikan waktu zaman perang jang bertempat tinggal didaerah kerdja MATARAM dapat dibatja pada Koperasi Batik PPBI. II. PEMBENTUKAN KOPERASI MATARAM: 1. Tokoh² Koperasi Batik MATARAM: Tokoh² pengusaha batik Jogjakarta jang bertempat tinggal didaerah kerdja MATARAM antara lain ialah: Hadji Bilal (almarhum) dan H. Saebani. Kedua tokoh ini ikut aktip dalam pembentukan Koperasi Batik PPBBP dan PPBI waktu zaman pendjadjahan dahulu. Sekarang Pak H. Saebani masih aktip mendjadi anggota MATARAN. Dengan dikeluarkannja P.P. 60/1959 oleh Pemerintah jang mengatur pelaksanaan Undang² Koperasi No. 79/1958, maka keinginan untuk membentuk beberapa primer di Jogjakarta bertambah kuat. Dalam rapat tahunan anggota PPBI tahun 1962 maka malah satu keputusannja ialah membentuk beberapa BLOK daerah anggota PPBI dan MATARAM termasuk BLOK I. Tokoh² dari pembentukan Koperasi MATARAM antara lain ialah: R. Wirjadi, Da'im, Masduki, Moh. Fattah, A.D. Subandi dan sebagainja. 2. Tudjuan pembentukan Koperasi MATARAM: Koperasi MATARAM ialah sebagai realisasi dari keputusan rapat Anggota PPBI tahun 1962 jaitu akan membentuk primer sebanjak 5 buah. Djuga sesuai dengan instruksi Djawatan Koperasi D.I. Jogjakarta supaja di Jogja dibentuk primer batik seperti di Pekalongan dan Solo. Pada tanggal 27 Nopember 1962 anggota² PPBI di BLOK I mengadakan rapat chusus untuk membentuk Koperasi Batik Primer dan diambil keputusan untuk mendirikan koperasi batik dan dinamakan Koperasi Batik MATARAM. Susunan pengurus pertama ialah : Ketua I, II: R. Wirjadi dan H. Da'im , PenulisI, II: Moh. Fattah dan Wasul Brahim , Bendahara I, II : A.D. Subandi dan H. Muh. Kusnan, dan Pembantu Muh. Amin Sirat. Susunan Badan Pemeriksa Masduki, H. Djilidan H. Dasir Muhadi. Rapat pembentukan MATARAM ini dihadiri oleh 75 orang anggota PPBI.
Daerah kerdja MATARAM meliputi wilajah : Kemantren Wiro pradjan, Ngampilan dan Gondomanen. Bulan Desember 1962 diadjukan permohonan Badan Hukum dan Maret 1963 mendapat pengesahan Badan Hukum No. 491. Dalam Rapat Pleno Pengurus GKBI Mei 1963 diterima mendjadi anggota dan terdaftar No. 33 dan bulan Agustus 1963 ditundjuk sebagai grossier. Dalam rapat anggota GKBI tahun 1963 di Bandung MATARAM terpilih duduk dalam kepengurusan jang diwakili oleh R. Wirjadi sebagai Komisaris untuk tahun 1963/1965 . 4. Keanggotaan dan management MATARAM : Anggota MATARAM tadinja adalah anggota PPBBP dan PP BI, Djumlah anggota pada tahun 1963/1964 ada 125 orang, tahun 1965/1966 ada 129 orang dan 1967 ada 136 orang. Management MATARAM : Pedoman dari pelaksanaan management MATARAM telah di atur dalam Anggaran Dasar dan djuga keputusan rapat anggota tentang Anggaran Belandja dan Anggaran Usaha tiap tahun. Sebagai pelaksana dari management ini rapat anggota mengangkat pengurus dan sebagai pengawasnja mengangkat badan pemeriksa. Pengurus dan Badan Pemeriksa tiap tahun harus memberikan pertanggungan djawab didepan rapat anggota jang menjangkut antara lain bidang organisasi, bidang administrasi keuangan dan barang2 dagang serta infentaris jang menjangkut kebidjaksanaannja serta kebenaran menggunakan kekajaan MATARAM . Sedangkan Badan Pemeriksa mem pertanggung djawabkan pula tentang hasil kerdjanja dibidang pengawasan pada rapat anggota. Kepengurusan MATARAM bertanggung djawab pada rapat anggota setjara kolegial dan sesuai dengan fungsinja memimpin bidang masing2 seperti :
Brahim dan R. Suwarto, Bendahara I/II: H.M. Darir Mohadi dan Mas'ud Komisaris: Sdr. H.M. Dulchan Bilal. Badan Pemeriksa: Wignjosumarto, Bachron Eddress dan Drs. Burhanuddin. Sdr. H.M. Dulchan Bilal mengundurkan diri dan diganti oleh Sdr. H.M. Kusnan dan Sdr. Bachron Eddress sebagai B.P. djuga mengundurkan diri diganti oleh Sdr. H.M. Djalal. III. KEGIATAN KOPERASI BATIK MATARAM: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan MATARAM dibidang pendidikan ini setjara langsung belum ada ketjuali bidang olahraga. Tjabang² olahraga jang ada ialah: voley ball, bulutangkis, tennis dan sepakbola. Sedangkan kegiatan pendidikan untuk buruh batik mengenai teknik pengetjapan sekarang dihentikan. Dalam menambah pengetahuan disektor kepemimpinan, pengurus MATARAM jang diwakili oleh Sdr. Masduki dan H.M. Darir Mohadi pernah mengikuti up-grading course jang diadakan oleh Direktorat Koperasi D.I.J. Jogjakarta selama dua minggu. Kegiatan pendidikan lainnja ialah memberikan sumbangan kepada organisasi² masjarakat, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan MATARAM dibidang sosial selain dari memberikan bantuan kepada masjarakat daerah kerdja ialah menjelenggarakan Balai Pengobatan Batik jang tadinja satu dengan PPBI. Setelah MATARAM berdiri sendiri diadakan B.P. jang dibuka dalam tahun 1966. B.P. ini selain untuk anggota serta keluarga, karyawan serta keluarga, buruh batik serta keluarga djuga terbuka untuk umum . Biaja untuk B.P. diambilkan dari dana dan sisa hasil usaha tiap tahun. Kekurangannja ditutup dengan biaja primer dan bantuan dari GKBI. Dalam tahun 1967 djumlah pasien jang berobat 7.119 orang dan biaja jang dikeluarkan sebesar Rp. 130.237,32,—. Kegiatan sosial lainnja ialah tiap Peringatan Hari Koperasi diadakan chitanan massal untuk keluarga anggota, karyawan, buruh batik dan masjarakat daerah kerdja. Dalam tahun 1967 banjak anak jang dichitankan ada 50 orang dan kepadanja diberikan masing² satu stel pakaian dan uang sekedarnja. Dan djuga dalam rangka hari koperasi kepada badan sosial/Jatim Piatu diberikan sumbangan beras, tahun 1967 ada 500 kg beras. Djuga sumbangan untuk bentjana alam, seperti handjir, letusan gunung berapi dan kelaparan, MATARAM memberikan sumbangan. 3. Pembangunan Daerah Kerdja: Untuk pembangunan daerah kerdja ini ada jang langsung hubungan dengan usaha MATARAM dan ada djuga untuk kepentingan masjarakat daerah kerdja dan djuga kepentingan nasional. Untuk kepentingan MATARAM telah dipungut dari anggota jaitu : ,,dana pembangunan gedung kantor dan gudang”. Sedjak berdiri belum punja kantor sendiri dan menjewa pada orang lain dan begitu fula gedung untuk Balai Pengobatan. Gedung kantor dibangun dalam tahun 1967 dan selesai tahun itu djuga. MATARAM telah pindah kekantor baru di Djalan Kapten P. Tendean dan gudang bahan2 baku serta batik sekalian. Biaja pembangunan gedung menurut neratja achir 1967 ± Rp. 1,5 djuta. Disamping dana² pembangunan gedung jang dipungut pada anggota, djuga dana² pembangunan daerah kerdja primer dan dana pembangunan jang dipungut langsung oleh GKBI. Dana ini dipungut mulai tahun 1963 sampai tahun 1966. Jang dipungut oleh GKBI digunakan untuk pembiajaan project planetarium dan jang dipungut oleh primer untuk pembangunan daerah. 4. Kesedjahteraan buruh batik dan karyawan koperasi : Buruh batik selain dari menerima upah dari pengusaha djuga diberi djaminan sosial lainnja antara lain: tundjangan hari raya, ketjelakaan, meninggal, pengobatan, kawin dan chitanan, Dalam tahun 1963 dana buruh batik jang tersedia sebesar Rp. 778.665,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 213.482,-. Tahun 1964 dikeluarkan Rp. 101.355, dan diterima Rp. 387.727,-. Dalam tahun 1967 dikeluarkan sebesar Rp. 1.602,- dan diterima Rp. 14.359,91. Bantuan dana buruh batik jang diambil dari anggota sekarang mulai berkurang mengingat produksi dan pasaran batik sepi. Pada karyawan koperasi selain dari gadji dan bantuan natura tiap bulan, dalam tahunan mereka menerima sebagian dari sisa hasil usaha, tundjangan hari raya. Bantuan biaja pengobatan, kematian. kawin, chitanan dan ketjelakaan dalam dinas djuga mendapat bantuan dari MATARAM. Pada achir tahun 1967 tertjatat karyawan MATARAM djumlahnja 36 orang. B. Kegiatan bidang usaha dan produksi : 1. Permodalan : Setelah MATARAM berdiri semua simpanan² dan djatah anggota PPBI jang tinggal didaerah kerdja MATARAM dipindahkan. Pada achir tahun 1963 djumlah simpanan anggota tertjatat Rp. 53.693.723,-. Oleh karena Mataram telah berdiri sendiri kebutuhan akan modal kerdja bertambah. Lebih² lagi dengan berobahnja policy negara dibidang ekonomi dan keuangan setelah diumumkannja DEKON, pengawasan pada tingkat harga tidak ketat lagi. Akibatnja timbullah disparitas harga jang besar antara harga pemerintah denganpasar bebas. Kesempatan ini baik GKBI maupun MATARAM dipakai untuk memperbesar simpanan², hingga pertambahannja tiap² tahun dapat dilihat dibawah.
Simpanan² jang diterima dari anggota maupun djasa² jang diterima dari GKBI, dipergunakan untuk modal kerdja, pembelian harta tetap, investasi di Pabrik Mori dan Tekstil Batik Jogja dan GKBI sendiri. Untuk djelasnja posisi neratja kekajaan MATARAM disertakan dibawah ini.
2. Penjaluran bahan baku batik : Sebelum MATARAM berdiri, anggota²nja mendapat bahan baku dan penolong dari PPBI dan mulai Agustus 1963 langsung dari MATARAM, karena telah ditundjuk oleh GKBI sebagai grossier. Semua djatah² baik import maupun mori Medari jang tadinja melalui PPBI sekarang melalui MATARAM. Selain dari bahan baku dari GKBI, MATARAM djuga menjalurkan bahan baku penolong seperti: gondo/hars, parafin, lilin, tundjung, soga tinggi, teger, bahan bakar minjak/kaju dan sebagainja.
Omzet diatas adalah hasil pendjualan bahan baku jang diterima dari GKBI. Sedangkan djumlah omzet MATARAM seluruhnja terdiri dari hasil pendjualan bahan² jang diterima dari GKBI, usaha sendiri jang meliputi bahan² penolong dan batik. Pada achir tahun 1967 tertjatat omzet MATARAM sebesar Rp. 23.462.450,— dengan sisa hasil kotor sebesar Rp. 2.964.507,— dan biaja pelaksana dan kerugian2 lainnya sebesar Rp. 2.430.486,—. 3. Pemasaran batik : Batik² hasil produksi Jogja sudah terkenal sedjak zaman sebelum perang dunia pertama. Tudjuan dari mendirikan koperasi batik dahulu antara lain ialah mentjarikan pemasaran batik. Baik oleh PPBBP maupun PPBI dan bahkan sesudah GKBI berdiri salah satu tudjuan usahanja meningkatkan pemasaran batik ini. MATARAM telah berusaha mentjarikan pasaran batiknja dengan usaha membuka „Toko Batik” di Ambarukmo Hotel Jogja dan djuga Toko Batik di Djalan Malioboro 56/58 Jogjakarta. Batik Jogja jang terkenal sampai sekarang ialah dengan „Etiket Hadji Bilal” Daerah pemasaran batik produksi anggota MATARAM tersebar seluruh kepulauan Indonesia dan waktu adanja pool batik sandang 1959/1963 Batik Jogja dengan etiket GKBI/B ditjari oleh pedagang² dan konsumen. Toko² Batik MATARAM sekarang tidak mendjualkan hasil produksi anggotanja sadja tetapi djuga mendjualkan hasil produksi primer² lainnja seperti: Primer² didaerah Solo, Pekalongan, Tulungagung dan sebagainja. 4. Pabrik Mori dan Tekstil Batik Jogjakarta: Pabrik Mori ini sebagai realisasi dari tjita² tudjuan mendirikan koperasi jaitu: melengkapi kebutuhan sendiri bahan baku batik. Pemupukan modal untuk project pabrik mori ini dimulai tahun 1960 dan pendirian pabrik selesai tahun 1964 dan dibuka waktu peringatan hari koperasi ke-XVII. Pabrik Mori ini kepunjaan 5 primer di Jogjakarta dan masing² penanaman modal sama besar jaitu 1/5 bagian. Pada achir tahun 1967 MATARAM djumlah investasinja sebesar Rp. 189.977,— Pimpinan dari Pabrik Mori ialah wakil dari primer² dan MATARAM diwakili oleh Moh. Fattah. Struktur organisasi intern Pabrik ialah: Direktur Sdr. Moh. Fattah (MATARAM), Wakil Direktur Sdr. Surjosumantri (SENOPATI), dan Sdr. Drs. R. Sujanto (TAMTAMA). Pengawas didjabat oleh Sdr. H.M. Nuri Affandi dari KARANGTUNGGAL dan penasehat Sdr. Winotosastro dari PPBI. Pertanggungan djawab pimpinan pabrik kepada 5 primer dalam Rapat Koordinator. Masing² wakil primer memberikan pertanggungan djawab pula dalam Kapat anggota setjara kolegial. Kekurangan modal kerdja pabrik ditanggung oleh 5 primer dan bahan² baku diperoleh dari 5 primer jang diperdapat dari djatah GKBI. Benang primer ini di Work Order kan kepada pabrik mori dan hasilnja dikembalikan pada primer masing².
—————— BAGIAN: 34 KOPERASI BATIK SIDOLUHUR I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Asal usulnja pembatikan didaerah Gemolong dan Kalijoso jang mendjadi daerah tempat pembatikan sekarang hampir sama sedjarahnja dengan koperasi² batik lainnja diluar kota Solo. Daerah Gemolong sekarang adalah merupakan tingkat Ketjamatan, masuk Daerah Swatantera II Sragen. Daerah kerdja SIDOLUHUR berbatasan dengan daerah Persatuan Batik Bojolali di Andong. Gemolong dan Kalijoso terletak sebelah Selatan kota Solo dan kota Sragen sebagai Kabupaten terletak sebelah Timur kota Solo. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: Pengusaha² batik didaerah Kalijoso dan Gemolong jang besar² boleh dikatakan tidak ada dan sekarang djuga banjak anggotanja dari keradjinan. Perdjuangan pengusaha² batik didaerah ini mengikuti perdjuangan pengusaha² batik dikota Solo sedjak zaman sebelum perang sampai sekarang. Waktu muntjulnja Koperasi Batik PPBBS pertama kali tahun 1935, pengusaha² batik di Gemolong dan Kalijoso menggambungkan diri dalam perdjuangan itu. Madju mundurnja keadaan pembatikan disini bergantung pada perkembangan pengusaha² batik dikota Solo. Dalam masa pendudukan Djepang keadaan pembatikan sama dengan daerah² lainnja jaitu matjet. Waktu revolusi pertamapun belum ada kegiatan pembatikan dan baru aktip kembali setelah pengakuan kedaulatan R.I. tahun 1950. Dengan berobahnja nama PPBBS kepada BATARI, pengusaha² batik di Gemolong dan Kalijoso djuga menggabungkan diri semuanja sampai mendjadi anggota GKBI dan petjahnja BATARI mendjadi 8 Primer batik masih tetap menggabung. 1. Berdirinja Koperasi batik SIDOLUHUR: Sesuai dengan keputusan Rapat Anggota BATARI setelah keluarnja PP. 60/1959, pada tingkat Kabupaten didaerah ex. Karesidenan Surakarta akan didirikan Koperasi Batik Primer, maka didaerah Swatantera II Sragen, anggota² BATARI jang tinggal di Gemolong dan Kalijoso mempersiapkan pembentukan koperasi batik primer. Dengan dipelopori oleh anggota² jang aktip di BATARI antara lain: Asjmuni Fattach, Djojodihardjo Djajadun, Kasdi HM . Hery Santoso, Muhdi, S. Tjokrosudiro, Tatosuprijanto, Tatosudijono, dan Sutarto serta lain²nja, tahun 1961 didirikanlah Koperasi Batik SIDOLUHUR dengan djumlah anggota ex. BATARI sebanjak 96 orang dengan susunan pengurus pertamanja: Ketua/Wk. Ketua: Asmuni Faith dan Djojodihardjo Djajadun, Penulis V/II: Kasdi H.M. dan Hery Susanto, Bendahara I/II: Muhdi dan S. Tjokrosudiro dan Pembantu²: Tatosuprijatno. Tatosudijono dan Sutarto. Selama SIDOLUHUR belum mendapat hak badan hukum, diangkat sebagai penjalur dari BATARI dan terus dapat bimbingan organisasi dan administrasi. 2. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja SIDOLUHUR ialah seluruh daerah Swatantera II Sragen dan keciudukan di Ketjamatan Gemolong. Anggota jang banjak bertempat didesa Kalijoso dan Gemolong. SIDOLUHUR mendapat pengakuan Badan Hukum tanggal 30 Djanuari 1962 No. 1408 dan diterima mendjadi anggota GKBI tanggal 5 Djuni 1963 No. 34. Perobahan A.D. SIDOLUHUR pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 1408A/1968. 3. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Waktu SIDOLUHUR berdiri tahun 1961 , anggota jang berasal dari BATARI sebanjak 96 orang dan anggota baru sebanjak 65 orang, dan waktu diterima mendjadi anggota GKBI, djumlah anggo tanja tetap 161 orang. Pertambahan anggota sampai tahun 1965 ada 223 orang dan keadaan achir tahun 1967 ada 209 orang. Anggota SIDOLUHUR terdiri dari pengusaha batik dan keradjinan batik Pengurus dan Badan Pemeriksa: Pengurus dan Badan Pemeriksa ialah aparat organisasi jang dipilih oleh rapat anggota dan bertanggung djawab pada rapat anggota. Pengurus dipilih sebagai pemimpin dan pelaksana amanat anggota jang telah ditetapkan dalam A.D./ART dan keputusan rapat anggota lainnja tiap tahun jang ditetapkan dalam rentjana anggaran belandja dan rentjana usaha . Sedangkan Badan Pemeriksa ialah aparat kontrol dan pengawas terhadap pengurus jang bertindak mewakili anggota. Susunan Pengurus SIDOLUHUR untuk masa djabatan 1968/69 ialah: Ketua Umum I/II: Asjmusi Fattach, S. Dalam GKBI., SIDOLUHUR diwakili oleh Ketua Umumnja dan fungisnja ialah sebagai Ketua Koordinator Badan Pemeriksa untuk tahun 1966/1968. III . KEGIATAN DAN AKTIVITAS SIDOLUHUR : A. Bidang sosial dan masjarakat : 1. Pendidikan: Dibidang pendidikan kegiatan SIDOLUHUR jang aktip ialah menjelenggarakan STK Batik sedjak tahun 1964 dan disamping itu memberikan bantuan pada organisasi pendidikan didaerah kerdja. Dana pendidikan jang diterima sedjak tahun 1964/1966 ialah sebesar Rp. 83.032 ,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 83.032,— tahun 1965 dipungut dari anggota Rp. 2.966.608 ,- dan dikeluarkan sebesar Rp. 1.344.779,—. Dibidang sosial kegiatan ialah membantu organisasi sosial, seperti : Jatim Piatu, Mesdjid, Madrasah dan selama tahun 1964/1966 dana jang diterima sebesar Rp. 88.418,— dan telah dikeluarkan pula sebesar Rp. 88.418,— 3. Pembangunan daerah kerdja: Dibidang pembangunan daerah kerdja jang telah diusahakan ialah membangun gedung kantor untuk kelantjaran kerdja di Kalijoso dan Gemolong dan masing² selesai tahun 1966 dan 1967. Biaja untuk pembangunan gedung kantor ini dipungut dari anggota sebagai sumbangan dan tahun 1964 terkumpul sebesar Rp. 9.434.445,— dan biaja pembangunan gedung kantor Kalijoso sebesar Rp. 5.629.000,— Gedung kantor di Gemolong mulai dibangun tahun 1966 dan selesai tahun 1967 dengan biaja Rp. 250.290,—. Kegiatan pembangunan lainnja ialah memberikan sumbangan pada masjarakat sebesar Rp. 82.867,— tahun 1964/1965. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan selain dari gadji, mereka mendapat djaminan sosial lainnja ialah: bantuan beras, pengobatan, hadiah lebaran dan gratifikasi tahunan dan buruh batik selain dari upah, mereka mendapat hadiah lebaran dan bantuan sosial lainnja dari pengusaha langsung. 5. Zakat: SIDOLUHUR selain menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada jang berhak didaerah kerdjanja, djuga mengeluarkan zakat sendiri. Dalam tahun 1964 zakat jang diterima sebesar Rp. 190.000,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 40.000,— tahun 1965 zakat diterima Rp. 150.000,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 492.000, dan tahun 1966 diterima Rp. 1.410.000 dan dikeluarkan sebesar Rp. 2.842.000,— B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: Sebagai modal utama dari SIDOLUHUR tahun 1961 ialah, pemindahan simpanan² anggota dari BATARI dan selandjutnja tiap tahun diadakan pemupukan modal jang intensif sesuai dengan kebuuhannja. Pertambahan modal dan penggunaannja dapat dilihat di halaman 551.
*) Angka dalam ribuan : 2. Distribusi bahan baku batik : Sebelum SIDOLUHUR berdiri anggotanja mendapat bahan dari BATARI dan setelah mendjadi anggota GKBI, langsung mendapat bahan dari GKBI. Perkembangan distribusi bahan baku batik dapat dilihat dibawah ini.
*) Angka dalam ribuan : Omzet SIDOLUHUR seluruhnja terdiri dari bahan² baku GKBI, batik, dan bahan penolong lainnja. Perbandingan omzet dengan biaja serta sisa hasil usaha dapat dilihat dibawah ini.
3. Pemasaran batik : Daerah pemasaran batik anggota SIDOLUHUR didaerah kerdjanja dan lainnja dipasar Solo . Perkembangan hasil pendjualan batik sedjak tahun 1964/1967 ialah : tahun 1964 sebesar Rp. 19.876.435, tahun 1965 sebesar Rp. 131.943.714,— tahun 1966 sebesar Rp. 939.677,— dan tahun 1967 sebesar Rp. 121.718,—. 4. Pabrik Tekstil SIDOLUHUR: SIDOLUHUR ikut aktip dalam pabrik tekstil Karangasem kepunjaan 10 Primer Batik di Surakarta dan sampai achir tahun 1967 investasinja sebesar Rp. 307.187,—. Untuk projek pabrik tekstil SIDOLUHUR telah terkumpul modal sebesar Rp. 433.848,— sampai achir tahun 1967 dan telah dibelikan dalam tahun 1966 untuk mesin tenun 10 buah Rp. 260.000,— dan bahan² bangunan serta ongkos² sebesar Rp. 112.978,—. Tanah untuk pabrik djuga telah tersedia dan pembangunan gedung belum bisa dilaksanakan dalam tahun 1967 karena modal belum tersedia. Rapat anggota tahun usaha 1967 telah menetapkan, bahwa mesin² itu diserahkan penggunaannja pada Pabrik Tekstil Karangasem dan bulan Nopember 1968 diharapkan sudah mulai djalan. —————— BAGIAN: 35 KOPERASI BATIK INDONESIA FADJAR PUTRA Djalan Abd. Muis Telp. 22601 PADANG SUMATERA BARAT. I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Sumatera Barat umumnja dan Padang chususnja adalah daerah jang djauh dari pusat pembatikan di-kota² Djawa, tetapi pembatikan bisa berkembang didaerah ini. Sumatera Barat termasuk daerah konsumen batik sedjak zaman sebelum perang dunia kesatu, terutama batik² produksi Pekalongan (sarungnja) dan Solo serta Jogja. Di Sumatera Barat jang berkembang terlebih dahulu adalah industri tenun tangan jang terkenal „tenun Silungkang” dan „tenun plekat". Pembatikan mulai berkembang di Padang setelah pendudukan Djepang, dimana sedjak putusnja hubungan antara Sumatera dengan Djawa waktu pendudukan Djepang, maka persediaan² batik jang ada pada pedagang batik sudah habis dan konsumen perlu batik untuk pakaian se-hari² mereka. Ditambah lagi setelah kemerdekaan Indonesia, dimana hubungan antara kedua pulau bertambah sukar, akibat blokade² Belanda, maka pedagang2 batik jang biasa hubungan dengan pulau Djawa mentjari djalan untuk membuat batik sendiri. Dengan hasil karya sendiri dan penelitian jang seksama, dari batik² jang dibuat di Djawa, maka ditirulah pembuatan pola²nja dan ditrapkan pada kaju sebagai alat tjap. Obat² batik jang dipakai djuga hasil buatan sendiri jaitu dari tumbuh'an seperti mengkudu, kunjit, gambir, damar dan sebagainja. Bahan kain putihnja diambilkan dari kain putih bekas dan hasil tenun tangan. Perusahaan batik pertama muntjul jaitu didaerah Sampan Kabupaten Padang Pariaman tahun 1946 antara lain: Bagindo Idris, Sidi Ali, Sidi Zakaria, Sutan Salim, Sutan Sjamsudin dan di Pajakumbuh tahun 1948 Sdr. Waslim (asal Pekalongan) dan Sutan Razab. Setelah daerah Padang serta kota² lainnja mendjadi daerah pendudukan tahun 1949, banjak pedagang² batik membuka perusahaan²/bengkel batik dengan bahannja didapat dari Singapore melalui pelabuhan Padang dan Pakanbaru. Tetapi pedagang² batik ini setelah ada hubungan terbuka dengan pulau Djawa, kembali berdagang dan perusahaannja mati. Warna dari batik Padang kebanjakan hitam, kuning dan merah ungu serta polanja Banjumasan, Indramajon, Solo dan Jogja. Sekarang batik produksi Padang lebih madju lagi tetapi tetap masih djauh dari produksi² dipulau Djawa ini. Alat untuk tjap sekarang telah dibuat dari tembaga dan produksinja kebanjakan sarung. II. KOPERASI WADAH JANG TJOTJOK: Setelah pengakuan kedaulatan R.I. tahun 1949, dimana bahan² baku batik dikuasai oleh Pemerintah, pengusaha² batik mendapat bahannja dari Dinas Perindustrian Padang. Setelah bahan² baku diserahkan import dan distributornja pada GKBI tahun 1955, mendapatnja melalui Bank Koperasi Tani dan Nelajan jang diserahkan kuasa oleh GKBI. Pengusaha² batik di Padang tersebar didaerah: Sampan/Pariaman, Padang, Pajakumbuh, dan Bukittinggi. Pada tahun 1955 pengusaha² ini mendirikan koperasi dinamakan „Koperasi Batik Sumatera Tengah” dengan anggota 34 orang. Disamping ini ada pula satu „Koperasi Batik ” lagi jang disingkat KOPEBA. Pada tahun 1956 kedua koperasi ini disatukan dinamakan „Koperasi Batik Indonesia Fadjar Putera” dan Ketuanja Bagindo Idris. 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja Fadjar Putera meliputi seluruh Daswati I Sumatera Barat, kedudukan di Padang. Fadjar Putera mendapat Hak Badan Hukum 14 Agustus 1961 No. 4776 dan mendjadi anggota GKBI diterima tahun 1964 terdaftar No. 35. Perobahan A.D. FADJAR PUTERA pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 4776 A/1968. 2. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Djumlah anggota waktu diterima mendjadi anggota GKBI tertjatat sebanjak 79 orang, dan achir tahun 1967 ada 63 orang. Ke Pengurusan dan Badan Pemeriksa: Susunan pengurus tahun 1964 adalah: Ketua I/II: Bagindo Idris dan Z.A. Sutan Makmur, Penulis: Sutan Salim dan Bendahara: A. Azis Sutan Bagindo. Pembantu²: Sidi M. Nurdin, Sidi Zakaria, A.S. Sutan Madjokajo, Waslim dan S.A. Hadi. Susunan Badan Pemeriksa: Sjafri Musa, St. A. Hamid dan Sidi Amir. Dalam tahun 1966 akibat peristiwa G.30.S. anggota² Fadjar Putera jang terlibat langsung atau tidak langsung dalamnja dipetjat dan termasuk Ketuanja Bagindo Idris. Susunan Pengurus terachir Fadjar Putera ialah: Ketua I/II: St. Abdul Hadi dan Sidi M. Nurdin Penulis: Rusli Usman, Bendahara: S.B. Azis dan Pembantu: St. Abd. Hamid, St. Iskandar dan St. Amin. Susunan Badan Pemeriksa ialah: H. Sjafri Musa, Azis St. Madjo Kajo dan A.H. Maoentjoe. Wakil Fadjar Putera duduk dalam Badan Pemeriksa GKBI 1966/1967 Sdr. St. Abd. Hamid dan tahun 1968 Sdr. R. Usman. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS FADJAR PUTERA: A. Bidang sosial dan masjarakat: 1. Pendidikan: Kegiatan dibidang pendidikan sedjak berdirinja dan mendjadi anggota GKBI belum ada jang menondjol dan dana jang diterima tahun 1965/1966 ialah sebesar Rp. 419.867,— dan dikeluarkan Rp. 10.500,— dan achir tahun 1967 dana tertjatat sebesar Rp. 8.904. 2. Sosial dan masjarakat: Dibidang kegiatan masjarakatpun usaha Fadjar Putera belum ada jang menondjol, dan kegiatan umumnja disatukan dalam pembangunan daerah kerdja. Dana jang diterima tahun 1965/1966 sebesar Rp. 405.367,— dan achir tahun 1967 sisa dana tertjatat sebesar Rp. 8.481,— 3. Pembangunan daerah kerdja: Pembangunan daerah kerdja jang menondjol belum ada dan hanja memberikan bantuan pada masjarakat daerah kerdja. Tahun 1965/1966 dana jang diterima dari sisa hasil dan sumbangan anggota sebesar Rp. 1.333.996,— dan dikeluarkan sebesar Rp. 1.194.150,— dan achir tahun 1967 terjatat sisa dana ini sebesar Rp. 8.332,—. Pembangunan gedung kantor Fadjar Putera dipungut sumbangan dari anggota dan sampai achir tahun 1966 tertjatat sumbangan sebesar Rp. 8.823.997,— dan sisa achir tahun 1967 Rp. 9.332,—. Kantor belum djadi dibangun mengingat dana jang tersedia belum tjukup, dan sekarang masih menjewa di Djalan Abd. Muis Padang. 4. Zakat: Fadjar Putera menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada masjarakat jang berhak didaerah kerdjanja. Dalam tahun 1967 zakat jang diterima sebesar Rp. 6.211,— dan telah dikeluarkan sebesar Rp. 6.211,— pula. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: Modal utama dari Fadjar Putera ialah simpanan² anggota dan tjadangan. Tambahan modal diperoleh dari luar melalui kredit bank dan GKBI. Perkembangan modal sedjak tahun 1965/1967 adalah sebagai berikut.
*) Angka² dalam ribuan : 2. Distribusi bahan baku batik: Pengusaha² batik di Padang sedjak tahun 1950 sampai 1963 mendapat bahan baku dari GKBI melalui konsinjasi. Jang mengatur dan menjediakan stock di Padang sampai tahun 1955 Djohan-Djohor dan sesudah itu BKTN Tịabang Padang. Setelah mendjadi anggota GKBI tahun 1964, langsung mendapat bahan dari GKBI. Perkembangan bahan baku distribusinja sebagai berikut.
*) Angka² dalam ribuan: Omzet Fadjar Putera selain dari bahan² GKBI djuga ada usaha sendiri jaitu batik dan bahan penolong lainnja.
*) Angka² dalam ribuan: 3. Pemasaran batik: Produksi anggota sebagian besar sarung dan daerah pemasarannja diseluruh Sum. Barat dan Riau. Fadjar Putera selain membagikan bahan² baku batik djuga aktip mentjarikan pemasaran batik anggota dan batik² lainnja produksi primer GKBI terutama batik Solo dan Jogja. 4. Pabrik Tekstil Fadjar Putera: Tahun 1966 direntjanakan untuk mendirikan pabrik tekstil dan dimulai memungut simpanan chusus projek pabrik. Tahun 1966 terkumpul sebesar Rp. 215.752,— dan dibelikan tanah serta bahan² bangunan Rp. 178.913,—. Dalam tahun 1967 pemungutan modal dihentikan, pembangunan terhenti karena modal kurang.
—————— BAGIAN: 36 KOPERASI BATIK „SENOPATI” I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Mengenai riwajat pembatikan dan tjiri² chas batik Senopati sama dengan apa jang telah diterangkan pada Koperasi batik PPBBP atau PPBI. Djuga mengenai perkembangan dan perdjuangan dari tokoh² pembatikan didaerah kerdja Senopati sekarang telah diuraikan pada perkembangan dan pertumbuhan PPBI II. TUMBUHNJA „SENOPATI”: 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Semula daerah kerdja koperasi PPBI adalah seluruh Daerah Istimewa Jogjakarta jang terbagi dalam Blok² dan SENOPATI termasuk Blok II meliputi daerah kerdja Wilajah Kemantren Kraton. Sedangkan didaerah lainnja seperti Pekalongan telah berdiri 6 buah Dalam tahun 1964 atas keputusan rapat anggota PPBI maka Blok² jang masih ada supaja didjadikan koperasi primer jang nantinja mendjadi anggota GKBI. Maka pada tanggal 1 Oktober 1964 atas keputusan rapat anggota Blok II maka dibentuklah koperasi jang dinamakan „Koperasi Batik SENOPATI”. Pendiri SENOPATI jang resmi ialah: Agus Azis, Sudiarto, Surjosumantri, Djahidun Notowiharto dan Mangkuredjuno. Waktu pembentukan djumlah anggota jang dipisahkan dari PPBI sebanjak 159 orang dan sampai achir 1967 djumlah anggota tertjatat sebanjak 162 orang. SENOPATI mendapat hak Badan Hukum didasarkan pada Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP 60 tahun 1959 tertanggal 6 Pebruari 1965 No. 860/XI/1965. Dalam Rapat Pleno Pengurus GKBI tanggal 4 Mei 1965 SENOPATI diterima mendjadi anggota dan terdaftar No. 36 dan dalam rapat anggota GKBI Djuli 65 disahkan mendjadi anggota. 2. Keanggotaan dan management SENOPATI: Anggota² dari SENOPATI adalah anggota² jang tadinja dari PPBBP dan PPBI. Dalam rapat pembentukan pengurus jang terpilih adalah jang duduk di PPBI dan dilengkapi dengan anggota² baru. Susunan pengurus pertama ialah: Ketua I, II: Sdr. Hartowidarso, Hadiatmodjo, Penulis I dan II: Sdr. Chamim Prawirahartono, Agus Azis, Bendahara I, II: Sdr. Sumadji, Tjiptosubroto, Komisaris: Nj. I. Senoseputro. Badan Pemeriksa: Sdr. Kusnadi, Mangkuredjono, Djawas Bilal. Untuk melantjarkan usaha Senopati maka diputuskan untuk membangun gedung kantor dan gudang bahan². Sebelum gedung kantor selesai dan gudang, sementara menempati gedung dan gudang PPBI lama di Djalan Brigdjen Katamso No. 69b. Gedung kantor akan dibangun di Panembahan dan sekarang telah selesai tinggal meresmikan sadja lagi. Disamping itu gudang akan dibangun dikampung Mantrigawen diatas tanah seluas 897 M². Management SENOPATI: Management Senopati telah diatur dalam Anggaran Dasar dan Rapat Anggota jang menetapkan rentjana usaha dan anggaran belandja. Untuk melaksanakan management ini maka diangkat pengurus dan badan pemeriksa. Pengurus sebagai badan pelaksana dan badan pemeriksa sebagai badan pengawas. Pengurus memimpin bidang² organisasi, perdagangan, produksi, keuangan dan bertanggung djawab setjara kolektip kepada rapat anggota. Sebagai badan kerdjasama untuk 5 primer di Jogjakarta maka dibentuklah satu badan jang dinamakan „KOORDINATOR”. Badan ini tudjuannja ialah untuk memetjahkan kepentingan bersama baik jang bersifat intern maupun ekstern. Ketua Koordinator didjabat oleh wakil Senopati jaitu: Hartowidarso dan wakil²nja : Atmohartono (Tamtama) dan Masduki (Mataram) anggotanja K.H. Badawi (Karangtunggal) dan Chabib Pramuhardjono (PPBI). Wakil Senopati jang duduk dalam kepengurusan GKBI tahun 1966/1968 ialah Sdr. Chamim Prawirohartono sebagai Komisaris. Dan jang duduk dalam Pimpinan Pabrik Mori dan Tekstil Batik Jogja ialah Sdr. Surjosumantri. Susunan Pengurus SENOPATI terachir ialah:
III. KEGIATAN KOPERASI „SENOPATI”: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Dibidang pendidikan aktip untuk keluarga anggota belum ada dan jang diselenggarakan baru untuk masjarakat dalam bentuk bantuan/sumbangan². Kepada anggota diadakan penerangan dibidang ekonomi dan perpadjakan. Dan djuga GERKOPINDA mengadakan up-grading untuk gerakan koperasi² seluruh Jogjakarta dan dari Senopati jang ikut ialah: Sdr. Agus Azis dan Sumadji dari pengurus dan Sdr. Zimad dari Badan Pemeriksa. Mata peladjaran jang diberikan antara lain: Marketting, Perpadjakan dan management. Disamping itu diadakan pendidikan untuk beberapa tjabang olah raga antara lain ialah: bulutangkis, volley ball, tennis, medja dan sepak bola. 2. Sosial dan masjarakat: Dalam kegiatan usaha sosial dan masjarakat ini pada 12 Nopember 1966 telah diresmikan berdirinja Balai Pengobatan Batik. Tiap² pasien dipungut biaja Rp. 10,— dan diberi obat tjuma². Tenaga dokter disediakan dan djuga perawat. Balai Pengobatan terbuka untuk seluruh masjarakat daerah kerdja terutama anggota dan keluarganja, karyawan koperasi dan keluarganja, buruh batik dan keluarganja. Biaja untuk ini diambilkan dari koperasi dan bantuan dari GKBI Disamping Balai Pengobatan ini Senopati djuga memberikan bantuan pada masjarakat langsung misal: bentjana kelaparan, bandjir, gunung berapi dan sebagainja. Untuk bantuan mesdjid dan madrasah diambilkan dari uang zakat jang diperoleh dari GKBI dan Senopati. Dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Koperasi pada tanggal 12 Djuli tiap² tahun diadakan chitanan masaal dan dalam tahun 1967 telah dichitankan sebanjak 53 orang dengan diberikan bantuan: sepotong sarung sepotong hemd dan sekedar uang. Disamping usaha² sosial diatas djuga dalam rangka wabah, Balai Pengobatan aktip ikut memberantas misal tjatjar umum. Dan djuga untuk kepentingan masjarakat disediakan mobil ambulance jang dipungut biaja rendah, kain kafan untuk masjarakat daerah kerdja jang membutuhkan disediakan. 3. Pembangunan daerah kerdja: Untuk pembangunan daerah kerdja Senopati memberikan sumbangan untuk perbaikan djalan dan pembersihan desa². Usaha pembangunan daerah kerdja ini belum terlihat karena umur Senopati baru 3 tahun. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Untuk kesedjahteraan karyawan koperasi disamping gadji djuga diberikan paket makanan dikantor dan untuk keluarga. Djaminan pengobatan, hadiah lebaran, bantuan tekstil lebaran dan pakaian dinas tiap tahun. Untuk buruh batik djuga diberikan bantuan sosial berupa hadiah lebaran berbentuk uang dan tekstil . Bantuan biaja pengobatan, melahirkan, kematian dan chitanan . Dana bantuan ini dikumpulkan dari anggota melalui pembagian tiap² bulan. B. Bidang usaha dan produksi : 1. Permodalan : Dengan terpetjahnja lagi PPBI mendjadi 4 primer maka kekajaannja djuga dibagi terutama simpanan² anggota jang ada di PPBI Menurut nerat'a Senopati 31 Agustus 1964 tertjatat simpanan² sebagai berikut :
Disamping itu kekajaan jang berupa harta tetap dan pabrik belum bisa dibagi. Pertambahan modal dan simpanan selama tahun 1965/1967 dapat dilihat dibawah ini.
Simpanan² jang diterima dari anggota maupun djasa² jang diterima dari GKBI dipergunakan untuk : modal kerdja, pembelian harta tetap, investasi di Pabrik Mori dan Tekstil Batik Jogjakarta dan di GKBI. Achir th. 1967 neratja kekajaan Senopati adalah sbb.:
2. Penjaluran bahan baku batik : Sebelum SENOPATI berdiri anggota²nja mendapat bahan baku batik dan penolong dari PPBI dan setelah berdiri mendjadi grossier langsung GKBI. Bahan baku pokok diperoleh dari GKBI dan bahan penolong sebagian diusahakan oleh SENOPATI dan lainnja diusahakan sendiri oleh anggota. Bahan baku dan penolong jang diperoleh dari GKBI ialah : cambrics import cambrics Medari, obat² batik import dan lokal. Untuk djelasnja bahan baku jang diterima sedjak SENOPATI berdiri ialah:
*}Angka² dalam ribuan : Bahan baku penolong jang diusahakan sendiri oleh SENOPATI dari pasar bebas antara lain ialah: lilin, parafin, gondo /hars, minjak tanah, tapioca soga tinggi tegeren, tundjung dan sebagainja. Pada achir tahun 1967 seluruh omzet SENOPATI mentjapai Rp. 43.422.218 ,— dengan hasil bruto sebesar Rp. 2.909.962,— dan djumlah biaja seluruhnja sebesar Rp. 2.304.274,-. Dalam djumlah omzet seluruhnja telah termasuk hasil pendjualan batik. 3. Pemasaran batik: Sedjak dari koperasi PPBBP sampai ke PPBI dan SENOPATI sekarang pemasaran batik hasil produksi anggota terus diusahakan Batik hasil produksi anggota SENOPATI daerah pemasarannja bukan cipulau Djawa sadja tetapi seluruh kepulauan Indonesia mulai dari Sumatera, Djawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Produksi batik anggota SENOPATI jang disalurkan melalui koperasi diberi etiket ,,Tjap Gapura Kraton” dan „Tjap Waringin Karung". Selama tahun 1967 djumlah batik jang dibeli dari anggota sebanjak Kantor baru Koperasi Scropati dalam pembangunan dan tahun 1968 ini diharapkan selesai dan dilengkapi dengan gudang bahan baku. 6.564 potong dan disalurkan kepada pedagang dan konsumen langsung sebanjak 7.838 potong. 4. Pabrik Mori dan Tekstil Batik Jogjakarta : Pabrik mori ini diresmikan atau dibuka mulai berproduksi bertepatan dengan hari peringatan koperasi ke-XVII tahun 1964. Pabrik ini kepunjaan 5 Primer batik di Jogjakarta. Masing primer menginvestasikan modalnja 1/5 bagian dan SENOPATI pada achir tahun 1967 tertjatat modalnja sebesar Rp. 174.492,—. Hasil produksi Pabrik Mori ini dibagikan kepada 5 primer dan sudah itu dibagikan pula kepada anggota masing². Bahan baku pabrik ini diterima dari hasil benang jang diperoleh masing² primer dari GKBI dan kekurangannja dibeli dipasar bebas. Wakil SENOPATI dalam Pabrik Mori djabatannja Wakil Direktur jaitu Sdr. Surjosumantri. —————— BAGIAN: 37. KOPERASI BATIK „TAMTAMA” I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Mengenai riwajat pembatikan dan tjiri² chas batik TAMTAMA dapat dibatja pada perkembangan Koperasi Batik PPBI, SENOPATI dan KARANGTUNGGAL. II. TUMBUHNJA KOPERASI BATIK TAMTAMA. Keinginan untuk membentuk koperasi PPBI mendjadi beberapa 1. Anggaran Dasar dan Badan Hukum : Daerah kerdja TAMTAMA meliputi daerah wilajah Kemanteran Mergangsan dikurangi dengan daerah kerdja KARANGTUNGGAL. Hak Badan Hukum TAMTAMA No. 859 tanggal 6 Pebruari 1965 dan mendjadi anggota GKBI Mei 1965 No. 37. Susunan pengurus pertama TAMTAMA ialah: Ketua I, II, III ialah: Tulus Muljohartono. Atmohartono dan Subardjo Atmowardojo, Penulis I, 11: Drs. R. Sujanto dan Suhirno Prijosuparto, Bendahara 1, II: Atniopratono dan Siswohartono, dan Komisaris: Soewarto dan S. Hadisekarto. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Muhardjo, Sumardjono dan Atmowijoto, dan Penasehat ialah: Prawiroseparto, 2. Keanggotaan dan perkembangan organisasi: Djumlah anggota pertama ialah 153 orang pelimpahan dari anggota PPBI lama dan achir tahun 1966 mendjadi 183 orang dan achir tahun 1967 mendjadi 185 orang. Dengan adanja perkembangan organisasi GKBI diambil alihnja pimpinan oleh Menteri Transkop Moh. Achadi S.E. maka dalam susunan kepengurusan GKBI, wakil TAMTAMA mendjadi Komisaris Daerah jang diwakili oleh Sdr. Drs. R. Sujanto. Setelah GKBI pimpinannja kembali kepada pimpinan lama, maka TAMTAMA duduk dalam BADAN PEMERIKSA jang diwakili oleh Tulus Muljohartono dan sekarang digantikan oleh Sdr. Atmopratono. Dalam rapat anggota tanggal 18 Maret 1968 make susunan pengurus ialah: Ketua I, II: Atmoharono dan Atmopratono; Penulis I, II: Soewarto dan Bonardi Hms; Bendahara I, II: Siswohartono dan Soehirno; Komisaris: S. Hadisukarto, Drs. R. Sujanto dan Tulus Muljohartono. Badan Pemeriksa: M. Daldiri H.S., Moehardjo dan Ibnu Sumardjo. Management TAMTAMA: Dalam mengatur ketatalaksanaan TAMTAMA menudju kepada tingkat effisiensi jang baik berpedoman pada Anggaran Dasar dan Anggaran Belandja serta Anggaran Usaha jang telah diputuskan oleh rapat anggota. Untuk pelaksanaan amanat anggota ini pengurus mengatur tata-tjara kerdjanja sesuai dengan fungsi dan bidang kegiatan usaha. Masing² Ketua memimpin bidang² kegiatan sebagai koordinator seperti: bidang usaha, bidang administrasi keuangan serta permodalan dan bidang organisasi dan idiil. Tiap² keputusan diambil berdasarkan musjawarah dan pertanggungan djawab setjara kolegial. Badan Pemeriksa sesuai dengan tugasnja jang diamanatkan oleh anggota membagi kegiatannja sesuai dengan bidang² jang ada di koperasi jaitu: melakukan pengawasan dan pemeriksaan dalam bidang administrasi keuangan, barang² dagang, personalia, dana², alat² inventaris dan kebidjaksanaan pengurus. Hasil² pemeriksaan ini dilaporkan kepada anggota setjara periodik melalui pengurus dan dipertanggung djawabkan pula pada anggota didalam rapat anggota. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS TAMTAMA: A. Bidang Organisasi dan Idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan TAMTAMA dibidang pendidikan dalam tahun 1966 mendirikan gedung sekolah terdiri dari 6 lokal beladjar, 1 ruang kantor, 1 aula tempat sepeda dan 1 ruang kamar mandi dan w.c. Biaja untuk pembangunan gedung ini dipungut dari sumbangan anggota dan tahun 1966 terkumpul Rp. 270.320,49 dan telah dikeluarkan sebesar Disamping kegiatan diatas untuk kepentingan anggota maka diadakan riset batik jang tudjuannja untuk meningkatkan keahlian anggota dalam proses pembatikan baik teknis maupun disignnja. Untuk kepentingan anggota, karyawan dan buruh batik, TAMTAMA mengadakan kegiatan dibidang olahraga. Tjabang² olehraga jang ada ialah : bulutangkis, ping-pong, tennis, volley ball, sepakbola dan tjatur. Dalam rangka perajaan peringatan hari² bersedjarah dimana ada kegiatan pertandingan olah raga, TAMTAMA AKTIP. Oleh karena di Jogja ada 5 primer batik, maka diadakan kumpulan jang dinamakan „Gerakan Olah Raga 5 Primer” jang dipimpin oleh Kop. Batik PPBI, sebagai Ketuanja Sdr. Chabib Pramuhardjono. 2. Kegiatan sosial dan masjarakat: Kegiatan sosial jang diselenggarakan ialah dengan mengadakan Balai Pengobatan Batik jang gedungnja bersama dengan PPBI. Balai Pengobatan ini terbuka untuk anggota, karyawan, buruh batik serta keluarganja dan masjarakat daerah kerdja TAMTAMA. Dalam tahun 1966 djumlah biaja sebesar Rp. 109.724,— dan tahun 1967 djumlah biaja Rp. 226.915,97. Biaja Balai Pengobatan batik ini diambilkan dari dana jang disumbangkan oleh anggota dan bantuan dari GKBI. Kegiatan sosial lainnja ialah mengadakan chitanan masaal dalam rangka merajakan hari koperasi. Dalam tahun 1966 djumlah anak jang dichitankan ada 98 orang dan 1967 ada 97 orang. Kepada anak tersebut masing² diberikan satu potong sarung batik dan kemedja serta uang. Disamping itu djuga membagikan beras dan sumbangan uang kepada fakir miskin dan organisasi² sosial. 3. Pembangunan daerah kerdja: Dalam memperbanjak dan memperindah daerah kerdja TAMTAMA telah dilaksanakan pembangunan gedung untuk gudang barang, gedung sekolah SMP dan perbaikan djalan didaerah kerdja Dalam tahun 1966 pembangunan untuk daerah jang dilaksanakan ialah: biaja pembangunan gedung Kemanteren Mergangsan, perbaikan djalan Prawirotaman dan gedung SMP jang pengeluaran seluruhnja tertjatat Rp. 340.731,82, dan dalam tahun 1967 dikeluarkan sebesar Rp. 149.036,689. Dana ini diambitkan dari sumbangan anggota dan sisa hasil usaha tiap tahun. 4. Zakat Tidjaroh :
5. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik :
Kepada buruh batik selain dari upah jang diterima djuga dibe- rikan bantuan biaja pengobatan, tundjangan hari raya. B. Aktivitas usaha dan produksi : 1. Permodalan :
Perkembangan modal dan penggunaamnja,
2. Distribusi bahan baku jang diterima oleh PPBI untuk anggota TAMTAMA dialihkan pada TAMTAMA setelah mendjadi anggota GKBI.
*) Angka² dalam ribuan: Selain dari omzet bahan² jang diterima dari GKBI, TAMTAMA djuga menjalurkan bahan² baku penolong seperti: lilin, parafin, gondo, bahan bakar dan sebagainja, djuga termasuk batik.
*) Angka² dalam ribuan Omzet pembelian TAMTAMA di GKBI dibandingkan dengan omzet usahanja seluruhnja, hanja 40% dari seluruh omzetnja dan 60% merupakan kegiatan sendiri dari pasar bebas . 3. Pemasaran batik : Selama TAMTAMA mendjadi anggota GKBI, kewadjibannja mendjual batik pada GKBI hanja dalam rangka menghadapi lebaran dan tahun baru 1965/1966. Selama tahun 1967 GKBI tidak mewadjibkan anggotanja mendjual batik lagi dan TAMTAMA aktip mentjarikan pemasaran batik anggotanja kepasar bebas. Omzet batik TAMTAMA selama tahun 1966 dan 1967 jalah sebesar Rp. 5.126.697,— dan Rp . 4.390.949,— dan menghasilkan sisa hasil sebesar Rp. 40.151,— dan Rp. 662.780,—. Disamping itu anggota TAMTAMA langsung mentjari pasaran hasil produksinja baik kasar maupun halus. 4. Pabrik Tekstil dan Mori Batik Jogjakarta : Pabrik ini kepunjaan 5 Primer Batik jang ada di Jogjakarta. Masing² Primer menanam modal 1/5 bagian dan TAMTAMA pa ia achir tahun 1967 tertjatat sebesar Rp. 198.797 ,-, Pengurus TAMTAMA jang duduk dalam Pimpinan Pabrik ialah Sdr. Drs. R. Sujanto sebagai Wakil Direktur. Bahan baku pabrik diterima dari masing² primer jang didapat dari djatah benang GKBI Primer menjerahkan benang itu sebagai work order (W.0.) dan hasilnja dikembalikan pada primer masing². ——————
BAGIAN: 38 KOPERASI BATIK „KARANG TUNGGAL” HAK BADAN HUKUM No. 865 tgl. 28-12-64. Djalan Karangkadjen No. 37 Telp. 1093 Jogjakarta. I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Mengenai riwajat pembatikan dan tjiri² chas batik KARANG TUNGGAL sama dengan apa jang telah diuraikan pada Koperasi Batik PPBI. Djuga mengenai perkembangan dan perdjuangan dari tokoh² pembatikan didaerah kerdja Karangtunggal sekarang telah diuraikan pada perkembangan dan pertumbuhan Koperasi Batik PPBBP dan PPBI. Menurut pendjelasan jang diterima pengusaha² batik di Karangkadjen sebetulnja tadinja kebanjakan buruh batik dari pengusaha² jang tinggal disekitar Kauman. Batik pertama kali meluas keluar dari Keraton kedaerah pinggir jaitu desa Kauman. Setelah buruh² ini mempunjai modal sendiri maka mereka mendirikan perusahaan batik pula dan itu sebabnja pengusaha² di Karangkadjen umumnja anggota Karangtunggal bisa seluruh proses dikerdjakannja. Motif chas dari batik Karangkadjen, Karangkutit dan Karanganjar ialah bledak tjukina, nitik merah²an dan achir2 ini bunga ketjillan dan dinamakan bledak tluki Fatmawati. II. PEMBENTUKAN KOPERASI KARANGTUNGGAL: Pengusaha² batik jang tinggal di Karangkadjen, Karangkunti dan Karanganjar tadinja anggota PPBBP dan achirnja PPBI. Mulai tanggal 24 Djuni 1964, semuanja mendjadi anggota Karangtunggal. 1. Tokoh² Koperasi Karangtunggal: Dengan dikeluarkannja PP 60/1959 jaitu Peraturan pelaksanaan Undang² Koperasi No. 79/1958 maka sesuai pula dengan instruksi Djawatan Koperasi Daerah Istimewa Jogjakarta, supaja di Jogjakarta dibentuk beberapa koperasi batik primer seperti di Pekalongan dan Solo. Maka sebagai pendjelmaan pertama ialah dibentuknja Blok² sesuai dengan tempat tinggal anggota PPBI. Blok ini banjaknja 5 buah dan KARANGTUNGGAL termasuk Blok V meliputi daerah kerdja Karangkadjen, Karangkunti dan Karanganjar. Tokoh² dari Koperasi KARANGTUNGGAL antara lain ialah: H. Zuber Kohari, Sutjipto, H. Baedawi, H. Abd. Djawad Fq., H. Zamroni Kohari, Sujitno, H. Abd. Hadi dan lainnja. 2. Tudjuan pembentukan Koperasi KARANGTUNGGAL: Pembentukan KARANGTUNGGAL ialah sebagai realisasi dari keputusan Rapat Anggota PPBI 1962. Pelaksanaan PP 60/1959, dan melantjarkan serta mempertjepat penjaluran bahan² baku batik pada anggota. Pada tanggal 24 April 1964 diadakan pertemuan antara Pengurus PPBI dengan wakil² dari BLOK V dan Pedjabat dari Dirkop D.I. Jogjakarta. Pada tanggal 24 Djuni 1964 diadakan rapat anggota BLOK V dan diputuskan untuk mendirikan koperasi dan dinamakan „Koperasi Batik KARANGTUNGGAL” dan susunan pengurus pertamanja ialah: Ketua I/II: Sdr. Sutjipto dan H. Zuber Kohari, Penulis I/II: Sdr. H. Zamroni Kohari dan Sujitno, Bendahara I/II: Sdr. H. Abdulhadi dan H. Abd. DjawadFq. Badan Pemeriksa: H. Zamawi 3. Anggaran Dasar dan Badan Hukum: Daerah kerdja dari KARANGTUNGGAL ialah: Karangkadjen, Karangkunti, Karanganjar dan Kabupaten Gunung Kidul. Hak Badan Hukum KARANGTUNGGAL No. 865 tgl. 28 Desember 1964 dan mendjadi Anggota GKBI Mei 1965 No. 38. Wakil KARANGTUNGGAL jang duduk dalam ke Pengurusan GKBI ialah Sdr. H. Zuber Kohari mendjabat Penulis II untuk masa djabatan 1966/1968. Susunan Pengurus KARANGTUNGGAL untuk masa djabatan 1968/1969 ialah: Ketua Umum, I/II: H. Zuber Kohari, H. Abd. Hadi, Sutjipto, Penulis I, II: H. Zamroni Kohari dan Sujitno, Bendahara I, II: H. Abdul Djawad Fq., dan Djufri Husen, Anggota²: H.M. Nuri Affandi, dan Sja'roni. Badan Pemeriksa: H. Zamawi Kohari. K.H. Moh. Baedawi dan Kuswarin. Anggota KARANGTUNGGAL tadinja adalah anggota PPBBP dan PPBI. Setelah KARANGTUNGGAL berdiri semua anggota PP BI jang bertempat tinggal didaerah kerdjanja masuk anggota KARANGTUNGGAL dan termasuk didaerah Kabupaten Gunungkidul. Djumlah anggota waktu berdiri 1964/1965 ada 152 orang dan 1966 sebanjak 155 orang dan 1967 sebanjak 157 orang. Pedoman dari management telah ditetapkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Belandja serta Anggaran Usaha. Sebagai pelaksana management ini diangkat/dipilih pengurus dan badan pemeriksa jang bertanggung djawab pada rapat anggota tiap² tahun. Untuk kelantjaran usaha pengurus mengatur pembagian kerdja menurut bidang²nja jaitu: Ketua I, II, Penulis I dan II bertanggung djawab tentang bidang organisasi, Ketua I dan Penulis II bertanggung djawab bidang idiil. Bidang perdagangan jang bertanggung djawab ialah: Soetjipto dan Sja'roni sektor bumbu batik, H. Abdul Djawad Fq. dan A. Abadi sektor Batik dan Sdr. Sujitno sektor Mori. Sedangkan bidang keuangan jang bertanggung djawab ialah Sdr. H. Abdulhadi. III. KEGIATAN KOPERASI BATIK KARANGTUNGGAL: A. Bidang Organisasi dan idiil: 1. Pendidikan: Kegiatan KARANGTUNGGAL dalam bidang pendidikan jang aktip ditudjukan pada karyawan, anggota dan buruh batik. Pada tahun 1966 telah diadakan up-grading course untuk karyawan dibidang administrasi dan tata-tjara kerdja lainnja untuk meningkatkan effisiensi dan produktivitas kerdja. Up-grading course ini diasuh oleh tenaga² ahli dari Universitas GAMA Jogjakarta. Disamping itu djuga diadakan pendidikan Ngetjap pada buruh batik jang diasuh oleh pengurus sendiri. Disamping ini dalam tahun 1967 diadakan pendidikan kursus Bahasa Inggeris untuk anggota jang mendapat perhatian besar dan dibagi dua tingkat jaitu permulaan dan landjutan. Pendidikan pasif ialah memberikan sumbangan kepada organisasi² pendidikan didaerah kerdja KARANGTUNGGAL baik umum maupun kedjuruan madrasah. Pendidikan aktip lainnja ialah bidang olah raga meliputi tjabang²: bulu tangkis, volley ball, tennis medja, tennis, tjatur dan sepakbola. Selama tahun 1967 dana pendidikan jang dikeluarkan ialah sebesar Rp. 39.972,- dan penerimaan sebesar Rp. 13.082,- defisit sebesar Rp. 26.890,-. 2. Sosial dan masjarakat: Usaha dibidang sosial jang aktip ialah dibukanja Balai Pengobatan Batik tahun 1966. Gedung jang dipergunakan ialah bagian samping dari gedung kantor tetapi kegunaannja sangat besar pada karyawan, buruh batik dan masjarakat sekitarnja. Dalam tahun 1966 dari Oktober-Desember jang berobat sebanjak 1.500 orang dengan biaja sebesar Rp. 22.258,88 dan pendapatan sebesar Rp. 3.397,75. Dalam tahun 1967 jang berobat sebanjak 5.272 orang dengan biaja sebesar Rp. 118.866,16 dan pendapatan sebesar Rp. 41.682,50. Untuk menutup biaja defisit Balai Pengobatan ini dipikulkan kepada KARANGTUNGGAL dan bantuan dari GKBI tiap tahun. Dalam tahun 1967 dana sosial jang dikeluarkan ialah sebesar Rp. 196.046,- dan pemasukan sebesar Rp. 42.517,- dan defisit sebesar Rp. 153.529,-. Selain dari bantuan kepada Balai Pengobatan jang diberikan ialah sumbangan langsung kepada organisasi² sosial dan korban bentjana alam dan kelaparan. Selain dari bantuan sosial untuk masjarakat jang diambilkan dari dana sisa hasil usaha, ada djuga dana² jang dipungut langsung dari anggota jang digunakan untuk pembangunan dan kegiatan sosial lainnja. Dalam tahun 1967 telah dikumpulkan dana dari anggota sebesar Rp. 323.582,63 dan sisa achir tahun 1966 sebesar Rp. 162.867,46. Dan selama tahun 1967 telah dikeluarkan dari dana ini sebesar Rp. 389.385,63 dan sisanja achir tahun 1967 sebesar Rp. 97.064,46. 3. Pembangunan Daerah Kerdja: Pembangunan daerah kerdia jang telah dilaksanakan ialah membangun gedung kantor dan Balai Pengobatan dan telah diresmikan pembukaannja 21 Djuli 1967 dalam rangka peringatan Hari Koperasi ke- XX. Dana untuk pembangunan gedung ini dipungut dari anggota dan achir tahun 1967 terkumpul sebesar Rp. 1.199.116,84. Biaja pembangunan gedung lengkap dengan mebilairnja dan listrik serta lainnja sampai achir tahun 1967 tertjatat Rp. 1.110.743,95 dan sisa dana ini digunakan untuk perbaikan gudang mori dan bumbu batik. Pembangunan daerah kerdja lainnja ialah perbaikan djalan disekitar kerdja KARANGTUNGGAL dan selama tahun 1967 telah dikeluarkan sebesar Rp. 26.280,- dan pemasukan sebesar Rp. 7.852,20,-- dan defisit Rp. 18,427.80,-. 4. Kesedjahteraan karyawan dan buruh batik: Karyawan Koperasi KARANGTUNGGAL seluruhnja pada achir tahun 1967 tertjatat 46 orang. Pendapatan bulanan jang diterima terdiri dari gadji, paket makanan. Penerimaan tahunan terdiri dari: tundjangan hari raya, tjuti tahunan, tantiem dan pakaian dinas serta tekstil lebaran. Disamping pendapatan ini kepada karyawan djuga diberikan djaminan sosial lainnya jaitu: tundjangan pengobatan, melahirkan, ketjelakaan, meninggal, kawin dan chitanan. Kepada buruh batik selain upah jang diterima langsung dari pengusaha djuga disediakan djaminan sosialnja antara lain: sumbangan meninggal, ketjelakaan, pengobatan , melahirkan, kawin dan chitanan. Dana dari buruh batik dipungut dari anggota langsung dan achir tahun 1967 terkumpul sebesar Rp. 23.740,- dan dikeluarkan sebesar Rp. 24.139,59 dan sisa achir sebesar Rp. 13.059,82. B. Bidang Usaha dan Produksi : 1. Permodalan : Modal KARANGTUNGGAL adalah pemisahan dari modal atau simpanan anggota2 jang dulunja mendjadi anggota PPBI. Waktu pemisahan dan berdirinja serta achir tahun 1965 tertjatat simpanan anggota sebesar Rp. 13.448.639, — Djumlah simpanan anggota ini tiap tahun bertambah dan penggunaannja pun bertambah pula karena KARANGTUNGGAL telah berdiri sendiri.
*) Angka² dalam ribuan Simpanan² jang diterima dari anggota maupun djasa2 jang diterima dari GKBI serta tjadangan KARANGTUNGGAL digunakan untuk modal kerdja, pembelian harta tetap, investasi dipabrik mori dan GKBI. Menurut neratja achir 1967 penggunaan simpanan tersebut adalah sebagai berikut :
*) Angka² dalam ribuan 2. Penjaluran bahan baku batik : Sebelum Karangtunggal berdiri anggotanja mendapat bahan baku dari PPBI dan sekarang telah ditundjuk oleh GKBI mendjadi Grossier. Selain dari bahan baku jang diterima dari GKBI, KARANGTUNGGAL djuga mengusahakan bahan baku dan penolong sendiri dari pasar bebas. Bahan² baku dan penolong jang diterima dari GKBI ialah : cambrics, import dan Medari, obat² batik import dan lokal.
*) Angka² dalam ribuan. Bahan baku penolong jang diusahakan oleh KARANGTUNGGAL antara lain ialah: gondo, lilin, parafin, bahan bakar, teger, soga tinggi, tapioca, tundjung dan sebagainja. Pada achir 1967 seluruh omzet KARANGTUNGGAL djumlah Rp. 31.309.546,— dengan hasil bruto sebesar Rp. 3.492.431,— dan biaja seluruhnja sebesar Rp. 2.993.185,—. Dalam djumlah omzet tersebut telah termasuk hasil pendjualan batik selama tahun 1967. 3. Pemasaran batik: Batik produksi Jogja umumnja dan Karangtunggal chususnja sudah dikenal semendjak permulaan batik keluar dari keraton. Setelah perang dunia ke-I dimana obat² batik pewarna keluaran Djerman dan Inggeris dikenal di Indonesia, terutama di Pekalongan jang tjepat menjesuaikan dengan proses produksinja, Jogja masih tetap memakai obat² buatan dalam negeri. Setelah zaman krisis dan perang dunia ke-II pemakaian obat ini bertambah luas lagi, Jogja masih tetap bertahan dengan bahan² obat dalam negeri, hingga terkenal dengan motif dan warna tradisionilnja. Daerah pemasaran batik KARANG TUNGGAL meluas sedjak dari pulau Djawa, sampai keluar daerah mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusatenggara dan Maluku. Lebih lagi didaerah perkebunan dan pertambangan pemasaran batik Jogja kuat sekali. Djumlah batik jang ditampung selama tahun 1967 ada 15.942 potong dan seharga Rp. 1.685.119,— dan didjual seharga Rp. 1.473.370,— dan sisa seharga Rp. 579.910,—. 4. Pabrik Mori dan Tekstil Batik Jogjakarta: Pabrik ini didirikan di Medari dekat Pabrik Cambric GKBI dan diresmikan tahun 1964 dengan djumlah mesin 80 ATM. Pabrik ini kepunjaan 5 primer dan masing² menanam modal sebesar 1/5 bagian dan KARANGTUNGGAL achir tahun 1967 investasinja sebesar Rp. 182.524,—. Bahan baku benang jang diterima dari GKBI oleh KARANGTUNGGAL diserahkan kepada pabrik ini untuk didjadikan mori dan djuga 4 primer lainnja. Hasil produksi dikembalikan kepada KARANGTUNGGAL. Pimpinan dari pabrik ini adalah wakil dari primer masing² dan KARANGTUNGGAL diwakili oleh Sdr. H.M. Nuri Affandi sebagai Badan Pemeriksa. Selandjutnja laporan pabrik ini bisa dibatja pada Koperasi Batik PPBI. IV. Usaha² lain-lain: Pengurus KARANGTUNGGAL dalam usaha menolong anggotanja dalam permodalan memberikan kredit transaksi dalam bumbu² batik jang temponja 10 hari. Besarnja kredit ini antara Rp. 2.000, dan Rp. 5.000,— bagi masing² anggota sesuai dengan besar produksi mereka. Djumlah kredit jang diberikan selama tahun 1967 sebesar Rp. 2.672.845,— dan pelunasan sebesar Rp. 2.600.548,— dan sisa sebesar Rp. 72.297,—. —————— BAGIAN: 39 KOPERASI WARGA BATIK I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Riwajat pembatikan di Garut menurut pendjelasan jang diterima dari Pengurus Warga Batik diperkirakan adanja achir abad ke-XIX jang dibawa oleh pengungsi² dan pedagang² batik dari Djawa Tengah seperti Pekalongan, Tegal, Kudus, Banjumas dan djuga dari Djawa Barat sendiri jaitu Tjirebon. Daerah pembatikan di Garut selain dari kota Garut sekarang, terdapat pula di Tjipanas Tarogong, Leles dan Limbangan. Batik Garut kebanjakan dikerdjakan setjara keradjinan dan perusahaan tjap sampai sekarang perkembangannja sedikit sekali. Achir abad ke-XIX itu obat² batik jang dipakai masih buatan sendiri jang terdiri dari ramuan tumbuhan dan akar² jaitu: mengkudu, nila tom, soga dan sebagainja. Pola dari batik Garut sama dengan batik di Banjumas, dan tjampuran daerah² pembatikan lainnja di Djawa Tengah. Warna asli dari batik Garut ialah sari kuning sebagai dasarnja dan terkenal dengan nama „Garutan”. Sampai sekarang batik Garut tetap populer bagi konsumen, kalangan menengah dan atas karena halusnja. Daerah pemasarannja ialah tersebar seluruh Indonesia lebih² di-kota² besar, dipulau Djawa. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Menudju pembentukan organisasi: Oleh karena di Garut jang berkembang kebanjakan keradjinan batik pengaruhnja terhadap kegontjangan² harga tidak besar, karena batiknja tetap mempunjai nilai seni jang kuat daja tarik harganja dan djuga konsumennja terbatas pada tingkat menengah dan atas jang kuat daja belinja. Pengusaha keradjinan batik di Garut mendapat bahan bakunja dari Tjina dikota Garut dan batiknja djuga didjual pada pedagang² Tjina tersebut. Sesudah krisis dunia, pengusaha² batik di Tarogong dengan dorongan dari Lurah Tarogong membentuk kumpulan jang dinamakan „Usaha Gotong Rojong” jang tudjuannja membeli bersama bahan baku batik. Waktu itu sudah ada lebih kurang 30 orang keradjinan batik dan jang terkenal waktu itu antara lain ialah: Pak Winata, Pak Masturo. Waktu pendudukan Djepang dan permulaan revolusi kegiatan pembatikan berdjalan kurang lantjar karena bahan² baku tidak ada. 2. Koperasi wadah jang tjotjok: Karena di Tasikmalaja telah berdiri Koperasi Mitra Batik, sesudah pengakuan kedaulatan R.I. pengusaha² di Garut mendjadi langganan dan mendapat bahan² dari Mitra Batik. Pada tahun 1953 oleh pengusaha² batik antara lain: Djadjam, Djumhadi, Usman, Rachmat Effendi, Sakrami, Maskan mendirikan „Koperasi Warga Batik” dan selandjutnja mendjadi Penjalur Mitra Batik. Waktu mendapat hak badan hukum Warga Batik dipimpin oleh Asep Djubaeri dalam tahun 1955. Dengan keluarnja Undang² Koperasi No. 79/1958 dan PP. 60/1959 Warga Batik berusaha supaja diterima mendjadi anggota GKBI. Daerah kerdja Warga Batik Garut meliputi seluruh daerah Swatantra II Garut dan anggota²nja kebanjakan didesa: Tjipanas Tarogong, Garut kota, Leles dan Limbangan. Hak Badan Hukum Warga Batik No. 891 tanggal 27 Desember 1964 dan diterima mendjadi anggota GKBI tanggal 4 Mei 1965 No. 39. Perobahan A.D. pertama kali ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 891 A/ 1968. 3. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Di Garut jang banjak adalah keradjinan batik dan pengusaha batik tjap sedikit sekali. Djatah jang diterima dari Mitra Batik selama ini mendjadi dasar pembagian WARGA BATIK di GKBI. Waktu diterima mendjadi anggota GKBI, djumlah anggotanja ada 120 orang dan achir tahun 1967 tertjatat 100 orang. Pengurus Warga Batik waktu diterima mendjadi anggota GKBI ialah: Ketua I/II: Asep Djubaeri, Owes Adiwinoto, Penulis I/II: I. Markali, A. Somadi, Bendahara I/II: Moh. Djumhadi dan M. Darso, Pembantu : Safei, Badan Pemeriksa: O. Djodjon dan M. Ini. Susunan Pengurus untuk tahun 1968/1969 ialah: Ketua I Markali, Penulis: M. Didi, Bendahara: M. Djumhadi dan Pembantu: Sjafei dan Otong Sunandar, Susunan anggota Badan Pemeriksa ialah: Oewes Adiwinoto , Djawi dan A. Dulmanan. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS WARGA BATIK: A. Bidang sosial dan masjarakat: 1. Pendidikan: Kegiatan pendidikan belum ada jang menondjol karena dana jang tersedia tidak ada, mengingat ketjilnja hasil usahanja dan kegiatannja. 2. Sosial dan masjarakat: Dibidang sosial inipun djuga belum ada kegiatan jang berarti, karena dana jang tersedia djuga tidak ada. 3. Pembangunan masjarakat desa: Dibidang pembangunan masjarakat kegiatan djuga belum berarti dan sumbangan dari anggotapun belum ada karena situasi ekonomi tidak mengizinkan. B. Bidang usaha dan produksi : 1. Permodalan : Modal utama dari Warga Batik ialah simpanan² anggota di Mitra Batik dan perkembangan selandjutnja dapat dilihat dibawah.
2. Distribusi bahan baku batik : Sebelum mendjadi anggota GKBI, pengusaha² batik di Garut mendapat bahan baku dari Mitra Batik sampai tahun 1965. Setelah mendjadi anggota GKBI tahun 1965 baru tahun 1966 langsung menerimanja dan diangkat sebagai grossier. Perkembangan distribusi bahan baku sedjak tahun 1966 dapat dilihat dibawah.
Koperasi Batik WARGA BATIK walaupun sudah lama berdirinja, tetapi karena perkembangan batiknja sifatnja keradjinan jang produksinja terbatas, maka pertumbuhannja dilihat dari sudut usaha ketjil sekali. Walaupun telah mendjadi anggota GKBI tahun 1965, penerimaan djatah langsung dari GKBI baru dimulai tahun 1966, karena penjelesaian administrasi pemisahan lebih dahulu dengan Mitra Batik di Tasikmalaja, dimana selama ini Warga Batik mengambil djatah anggotanja. Pengusaha batik tiap hanja lebih kurang 10% dari djumlah anggotanja sebanjak 100 orang pada achir 1967 dan djatah jang diterimanja sebanjak jang biasa diterima dari Mitra Batik dan dibagikan untuk anggota. Sisa dari kekurangan bahan baku di usahakan langsung oleh anggota dari luar dan djuga oleh koperasi. 3. Pemasaran batik: Daerah pemasaran batik anggota Warga Batik jang terkenal dengan nama „GARUTAN” dengan tjiri chusus kuning gading, dan matjama djenis lainnja dengan pola² terkenal antara lain: lereng Dokter (ketjil) dan lereng Djaksa (besar²) dan petei ketjil² kebanjakan di-kota² besar seperti: Bandung, Djakarta, Semarang, Surabaja dan lain²nja. Pemasaran batik anggota ini langsung diusahakan sendiri² karena sedjak dari dahulu telah mempunjai langganan
—————— BAGIAN: 40 I. RIWAJAT PEMBATIKAN: Menurut sedjarahnja batik dikenal di Wonogiri dibawa oleh pengikut² keraton Surakarta semasa pemerintahan Mangkunegara ke VII Di Wonogiri Pedjabat Menteri Kehutanan dari keluarga kraton dan isterinja jang memperkenalkan kesenian batik pada rakjat sekitarnja dan isteri² pedjabat. Batik pertama kali didapat didesa Purwontoro, meluas kedesa Baturetno dan Tirtomojo. Daerah pembatikan jang berkembang sekarang tinggal di Wonogiri kota, Baturetno dan Tirtomojo, sedangkan didesa Purwontoro sudah mati. Pola chas dari batik Wonogiri dan Tirtomojo ialah: lereng², Sidomukti — Sidoluhur, semen prabu, satromanah, semen rantai. Bahan² baku batik jang dipakai waktu itu sama dengan daerah pembatikan lainnja disekitar Solo. II. PERDJUANGAN PENGUSAHA BATIK: 1. Perintisan kearah organisasi: Setelah bahan² impor batik banjak masuk ke Indonesia dan perkembangan proses batik tjap mulai dikenal sesudah perang dunia kesatu, pengusaha² batik didaerah Wonogiri, Baturetno dan Tirtomojo, nasibnja sama dengan pembatik² lainnja jaitu: dibawah tekanan² pedagang² Tjina. Pada tahun 1927 Pedjabat Menteri Kehutanan/Pertanian Pak Umar pernah mengorganisir pendjualan batik Baturetno ke Solo dan tidak mendapat pasaran karena dipermainkan oleh pedagang² Tjina dan achirnja pemasaran ditjari disekitar daerah Wonogiri sendiri. Sekitar tahun 1925 Bapak H. Abdulmanan dari Bakonang seorang pengusaha dan pedagang batik datang ke Tirtomojo dan membuka perusahaan batik di Tirtomojo. Waktu pembentukan PPBBS di Solo, pengusaha² batik di Wonogiri belum ada mengadakan hubungan. Waktu pendudukan Djepang sampai kemerdekaan, kegiatan pembatikan berkurang karena bahan baku tidak ada kegiatan baru ada kembali sesudah Wonogiri mendjadi daerah pendudukan tahun 1949. 2. Koperasi watlah jang tjotjok: Setelah pengakuan kedaulatan, pada tahun 1950 pengusaha² batik di Wonogiri, melihat bahwa di Solo sudah berdiri Koperasi Batik BATARI, maka diadakan hubungan dan pengusaha² batik di Wonogiri masuk mendjadi anggota. Pada tahun 1955 atas initiatif pengusaha²: Abdulsalam, Hartotjo, Wignjodihardjo, Sukito dan Kasandimedjo, di Tirtomojo didirikan „Koperasi Batik Wonogiri” dengan anggota lebih kurang 20 orang pengusaha batik. Waktu tahun 1956/57 3. Anggaran Dasar dan Hak Badan Hukum: A.D. BAWONO daerah kerdjanja meliputi daerah Swatantra II Wonogiri dikurangi dengan Ketjamatan Tirtomojo dan K.B.I.T. daerah kerdjanja Tirtomojo. Anggota" BAWONO terdiri dari pengusaha² batik, sedangkan KBIT terdiri dari pengusaha batik dan keradjinan batik. Koperasi Batik Indonesia Tirtomojo mendapat Hak Badan Hukum tanggal 1 September 1960 No. 315 dan BAWONO mendapat Hak Badan Hukum tanggal 16 Desember 1961 No. 881. Kedua koperasi ini selama belum mendjadi anggota GKBI, mendjadi penjalur dari BATARI. Dalam penerimaan mendjadi anggota GKBI, diandjurkan supaja kedua koperasi ini bersatu dan salah satu mendjadi anggota GKBI. Dalam tahun 1964 atas andjuran Pedjabat Dirkop dan Pengurus BATARI serta GKBI, maka kedua koperasi ini anggota²nja dipetjeh jaitu anggota² KBIT jang terdiri dari pengusaha² batik keluar dan masuk mendjadi anggota BAWONO dan KBIT anggotanja seluruhnja terdiri dari keradjinan batik. Dengan adanja anggota² BAWONO tempat tinggalnja di Tirtomojo maka dirobahlah A.D.nja dimana daerah kerdjanja meliputi seluruh daerah Swatantra II Wonogiri. Pengurus pertama dari BAWONO ialah: Ketua 1/II: H. Muchtar Muhammady dan Surachman, Penulis I/ II: M. Mursjid dan Nj. Suwarno, Bendahara I/II: Dirdjotani dan Subardi dan bantu²: Abdulsalam, Sudarto dan Nj. Abdulmanan. Susunan Badan Pemeriksa ialah: Prawirohardjono, Tjitrosuhardjo, Siswomartojo dari Prawirowidarso. BAWONO diterima mendjadi anggota GKBI tanggal 4 Mei 1965 Anggota 40. Perobahan A.D. pertama ialah tanggal 6 Maret 1965 No. terdaftar No. 881A/ 1965 dan perobahan kedua ialah penjesuaian dengan Undang² Koperasi No. 12/1967 dan terdaftar No. 881B/1968. 4. Keanggotaan dan ke Pengurusan: Anggota BAWONO waktu diterima mendjadi anggota GKBI, tertjatat sebanjak 101 orang dan achir tahun 1967 tertjatat sebanjak 100 orang. Pengurus dan Badan Pemeriksa ialah aparat organisasi jang dipilih oleh rapat anggota untuk masa djabatan tertentu dan tiap tahun bertanggung djawab pada rapat anggota. Dalam melaksanakan amanat² anggota pengurus berpedoman pada A.D. BAWONO dan Dalam GKBI, BAWONO diwakili oleh Ketuanja jaitu: H. Muchtar Muhammady sebagai anggota Badan Pemeriksa untuk masa djabatan tahun 1966/1968. III. KEGIATAN DAN AKTIVITAS BAWONO: A. Bidang sosial dan masjarakat: 1. Pendidikan: Dibidang pendidikan kegiatan jang aktip belum menondjol karena usaha BAWONO sebagai sumber dana sangat ketjil. Dalam tahun 1967 BAWONO merentjanakan untuk mendirikan gedung SMP dan dana untuk ini dikumpulkan tahun 1967 baru Rp. 3.000,- dari anggota dan dari GKBI bantuan Rp. 25.000,-. Sedangkan pendidikan lainnja ialah: mengadakan kursus pembatikan untuk anggota jang diadakan Jua kali tahun 1966/1967. Dana pendidikan dari sisa hasil usaha jang diterima tahun 1966/1967 sebesar Rp. 6.292,- dan telah dikeluarkan untuk sumbangan² organisasi pendidikan sebesar Rp. 6.367,-. 2. Sosial dan masjarakat: Kegiatan dibidang sosialpun belum ada jang menondjol, mengingat dana jang tersedia djuga terbatas. Dana jang diterima dari sisa hasil usaha tahun 1966/1967 ada sebesar Rp. 6.225,- dan telah disumbangkan sebesar Rp. 6.225,– pula pada organisasi² masjarakat. 3. Pembangunan daerah kerdja: Untuk pembangunan daerah kerdja ini kegiatan djuga disesuaikan dengan dana jang tersedia. Dana² jang tersedia dari sisa hasil usaha dan djuga sumbangan anggota untuk tahun 1966/1967 terkumpul sebesar Rp. 28.069,— dan telah disumbangkan untuk perbaikan gedung SMP/SMA Negeri Wonogiri dan bantuan H.O. serta korban bandjir sebesar Rp. 32.730,—. 4. Zakat: BAWONO menerima zakat dari GKBI untuk disampaikan kepada masjarakat jang berhak didaerah kerdjanja. Dalam tahun 1967 zakat jang dikeluarkan sebesar Rp. 25.000,—. B. Bidang usaha dan produksi: 1. Permodalan: Modal utama ialah simpanan anggota serta tjadangan koperasi dan modal tambahan ialah kredit dari bank dan GKBI. Perkembangan modal dan penggunaannja dapat dilihat dibawah ini.
2. Distribusi bahan baku batik: Sebelum BAWONO dan KBIT berdiri, pengusaha² batik mendapat langsung dari BATARI sebagai anggota dan langganan. Setelah berdiri KBIT dan BAWONO mendjadi penjalur. Setelah BAWONO mendjadi anggota GKBI tahun 1965, sampai achir tahun 1965, djatahnja masih disatukan dengan BATARI sambil menjelesaikan pemisahan administrasi dan lain'nja Mulai tahun 1966 seluruh djatah BAWONO dan ditambah oleh BATARI langsung diterima dari GKBI. Perkembangan distribusi bahan baku batik dapat dilihat dibawah ini .
Omzet BAWONO tidak terdiri dari bahan² GKBI sadja tetapi djuga ada usaha sendiri jaitu: batik dan bahan² penolong. Perkem bangan omzet dan biaja serta sisa hasil usaha adalah sebagai berikut.
3. Pemasaran batik: BAWONO sebagai koperasi ketjil aktip mentjarikan pemasaran batik anggotanja untuk memperbesar usaha. Disamping itu angggota²nja djuga aktip mentjari upahan produksi dari pedagang² batik dikota Solo. Omzet batik tahun 1966 tertjatat sebesar Rp. 358.297,— dan tahun 1967 sebesar Rp. 513.465,—. Daerah pemasaran batik anggota ialah dipasar Klewer Solo. 4. Pabrik Tekstil: BAWONO sendiri belum ada rentjana untuk mendirikan pabrik dan sekarang investasinja ialah di Pabrik Tekstil Karangasem kepunjaan 10 Primer Batik ex. anggota BATARI dahulu. Djumlah investasinja achir tahun 1967 sebesar Rp. 110.461,—. Sebagai anggota jang menanam modal dipabrik mendapat pembagian tiap bulan sebanding dengan investasinja.
RALAT.
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||






































































































































































































