8781720 Tahun GKBI — Bab IGabungan Koperasi Batik Indonesia
GABUNGAN KOPERASI BATIK INDONESIA. URAIAN SINGKAT TENTANG SEDJARAH PERKEMBANGANNJA.
BAB. I
MELIHAT Gabungan Koperasi Batik Indonesia (G.K.B.I.) dalam bentuknja jang sekarang sebagai hasil dari perdjuangan melawan penindasan² dan tekanan baik setjara ekonomis maupun politis dari adanja sistim ekonomi kolonial pada semendjak zaman pendjadjahan Belanda jang kemudian dalam berbagai bentuknja jang baru ditjoba untuk diteruskan oleh sementara golongan jang ingin tetap memperoleh keuntungan2 dari posisinja seperti jang dahulu telah dinikmatinja berkat adanja sistim ekonomi kolonial Belanda, selajaknja segenap pengusaha pembatikan menengok kebelakang untuk melihat bagaimana situasinja dalam zaman pendjadjahan kolonial Belanda dan kemudian Djepang serta melihat pula perkembangan dari usaha jang tak henti²nja dari pelopor² dan perintis² pembentukan Gabungan Koperasi Batik Indonesia selandjutnja. Memang akan ada manfaatnja apabila dalam melangkah madju terus kemuka orang pada sesuatu saat membuat suatu perhitungan dari apa jang telah ditjapainja dengan menengok djauh kebelakang dari saat ia mulai bergerak madju sampai saat itu untuk kemudian membuat suatu perentjanaan baru jang lebih terarah guna melangkah terus kehari depan setjara gemilang.
Dengan demikian perspektif-nja hari depan ditjoba untuk diprojeksikan dengan latar belakang pengalaman², peristiwa2 dan apa jang telah ditjapainja dari masa jang telah lalu hingga sekarang.
Untuk keperluan itu maka ditjoba untuk menguraikan situasi dan perkembangan dari perdjoangan tsb. sehingga terbentuknja G.K B.I. pada tgl. 18 September 1948 di Jogjakarta serta perkembangan dan pertumbuhan G.K.B.I. hingga dewasa ini.
1. MASA SEBELUM PERANG DUNIA II DAN MASA PENDUDUKAN DJEPANG.
Bahan baku dari batik adalah mori atau Cambric jang pada tahun² sebelum Perang Dunia I dan bahkan sampai Perang Dunia II seluruhnja diimpor dari luar negeri. Dengan demikian segala masalah jang menjangkut penjediaan mori atau Cambric ini senantiasa mendjadi pusat perhatian dari dunia pembatikan. Sebelum perang dunia I impor cambric untuk keperluan pembatikan seluruhnja dari Eropa, terutama dari Nederland. Barulah pada tahun 1927 Djepang mulai mengexpor morinja ke Indonesia guna memenuhi kebutuhan mori bagi pembatikan. Semendjak itu mulailah terdjadi perang tanding dalam penjediaan mori antara Nederland versus Djepang. Dengan harganja jang djauh lebih murah dan kwalitetnja jang ternjata lebih tjotjok untuk pembatikan (mudah „makannja” soga dan tjelepan) . Dengan tjepat mori ex Djepang mendesak kedudukan mori ex Nederland dari pasaran penjediaan mori buat pembatikan di Indonesia sehingga pada tahun 1933 perbandingan impor mori dari Djepang dengan impor mori dari Nederland adalah 85 banding 15. Menghadapi situasi jang sedemikian sudah tentu pihak pendjadjah jaitu Belanda dengan sistim ekonomi kolonialnja mengadakan tindakan balasan dengan mempersatukan segenap importir mori Belanda sehingga lahirlah Cambric Convenant. Kelandjutan jang logis dari usaha ini ialah segera diadakannja undang2 pembatasan masuknja Cambrics dari Djepang atau "Contingenteering ” jang mendasarkan dirinja pada hak sedjarah atau historisch recht. Djelaslah dengan demikian maksud dan tudjuan pemerintah kolonial Belanda waktu itu ialah bahwa dengan usaha seperti tsb. diatas dimaksudkan untuk melindungi industri tekstil dinegeri Belanda dengan terutama mengexploitir tanah djadjahannja. Pemerintah Djepang sebagai reaksi pertama ialah mengirim misinja ke Indonesia jang dipimpin oleh Dr. Nagaoka untuk membitjarakan dengan Pemerintah Kolonial Belanda achir bulan Maret 1934. Perundingan sampai dua kali diadakan dan menemui djalan buntu. Awal bulan Djuni 1934 Pemerintah Belanda mendekati pengusaha’ batikdi Pekalongan, Jogja dan Solo supaja memberikan backingnja dalam menghadapi Djepang. Delegasi pengusaha batik disuruh datang di Batavia menghadapi Dept. v.E.Z. Pada tanggal 4 Djuni 1934 berangkatlah delegasi dari Solo R. Wongsodinomo R. Danubroto dan Keterangan gambar halaman No. 20
Foto delegasi masjarakat batik bersama-sama wartawan Djepang sesudah berunding dengan Pemerintah Kolonial Belanda tanggal 5 Djuni 1934 di Batavia tentang pembatasan masuknja mori Djepang. Foto ini diambil di Hotel Surabaja Djalan Senen Raya Djakarta.
Keterangan gambar duduk dari kanan kekiri :
Bapak Madenoer Wirio (alm.) Pekalongan, R.H.S. Wongsodinomo (Solo) H. Abdulhadi (Pekalongan), R. Danusubroto (Solo), M. Djajengkarso (Jogjakarta), A. Rais dari P.D. Djohan-Djohor, H. Zarkasi (Pekalongan), R. Margolan wartawan Solo.
Berdiri dari kiri kekanan: Tuan Kobe dari Nichiran Shinbun, Tn. M. Suzuki dari Osaka Asahi, Tuan Saerun dari Harian Pemandangan Batavia, Tuan G. Taniguchi dari Tokyo Asahi.
Moh. Husni Thamrin (almarhum) Pedjuang Nasional/Kemerdekaan jang menggugah semangat dan kesadaran pengusaha² batik membentuk organisasi kooperasi sebagai alat perdjuangan menentang kolonialisme, imperialisme Belanda di Indonesia, chususnja dalam menentang politik Contingenteering Belanda tahun 1934, dimuka Volks Raad.
Margolan , dari Jogjakarta : M. Djajengkarso, H.M. Bilal dan H. Muksin, dan dari Pekalongan : H. Madenoer Wirio, H. Zarkasi dan H. Abdulhadi. Tanggal 5 Djuni diadakan pertemuan dengan Dept. v.E.Z. jang dipimpin oleh Mr. Meyeranef. Kedua belah fihak telah mengemukakan pendapat dan alasan masing² dan achirnja apa jang diharapkan Pemerintah Belanda tidak berhasil, karena delegasi pengusaha batik tidak menjetudjui beleid Contingenteering jang merugikan pengusaha batik. Apalagi kalau diingat kebidjaksanaan dan taktik Pemerintah Belanda dan pedagang² mori jang memberatkan jaitu :
Dari segi penjediaan bahan baku dan pembantu untuk pembatikan jaitu mori, tjat batik dll.nja para pengusaha²/keradjinan pembatikan dihadapkan dengan pemusatan kekuatan jang telah tersusun jaitu Cambric Convenant dengan semua sistim penjalurannja jang menggunakan para pedagang² didaerah terutama terdiri dari Tjina dan Arab.
Dari segi pemasaran batikanja pun mereka telah dikuasai oleh para pedagang² Tjina dsb.nja jang biasa mendjual mori
Ir Surachman (almarhum). Kepala Direktorat Industri Rakjat Kementerian Kemakmuran R.I. salah seorang pendorong berdirinja GKBI September 1948 di Jogjakarta.
kepada mereka, dengan berbagai djalan jang hakekatnja adalah sama dengan sistim idjon di dunia pertanian.
Apabila dari segi produksi pembatikan kita kenal tidak adanja pengaruh musim /waktu, maka dalam segi pemasaran batik segera kita djumpai pengaruh dari panen, hari² raya dsb.nja, dalam saat mana biasanja djumlah pendjualan batik lebih banjak dari pada saat² lainnja. Djelaslah bahwa kombinasi situasi tsb . pada no. 2 dan no. 3 lebih memburukkan lagi posisi para pengusaha /keradjinan pembatikan jang umumnja lemah modalnja.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila dari kalangan pembatikan sendiri dengan bimbingan dari tokoh² jang menaruh simpati besar terhadap madjunja pembatikan bangkit untuk mendjebol situasi jang demikian buruk dengan djalan bekerdja sama dalam bentuk jang tjotjok/sesuai dengan situasi, kondisi dan aspirasi mereka jaitu dalam wadah koperasi. Perdjuangan untuk memperbaiki keadaan di mulai sekitar tahun² 1933 — 1935 dan bermaksud:
R.M. Margono Djojohadikusumo
Seorang pendorong dan pembina Kooperasi Batik sedjak zaman kolonial, sampai pada berdirinja GKBI 18 September 1948. Semasa pertumbuhannja tahun 1950 — 1955 waktu memperoleh pool cambric dan hak import tunggal cambric, peranan beliau sangat besar, baik sebagai pedjabat tinggi Kementerian Perekonomian maupun sebagai Anggota DPRS.
membeli cambrics langsung dari importir (Cambrics Convenant) sebagai langkah pertama.
mengimpor sendiri dari luar negeri sebagai langkah kedua.
membuat cambrics sendiri didalam negeri sebagai langkah jang selandjutnja .
Waktu itu tidaklah mengherankan apabila sebagai akibat dari tindakan² tsb. harga mori mendjadi semakin meningkat dari f 2,10 mendjadi f 3,60 per 1 pis dan bahkan pada tahun 1939 meningkat lagi mendjadi f 8,75 per 1 pis. Dalam keadaan jang demikian mudahlah difahami betapa berat beban jang dipikul oleh para pengusaha pembatikan. Untuk mentjapai tudjuan ini perlu terlebih dulu diwudjudkannja pengorganisasian dari segenap potensi para pengusaha/keradjinan pembatikan jang ribuan djumlahnja dan umumnja ketjil² dalam suatu wadah jang sesuai dengan situasi, kondisi dan aspirasi mereka. Dengan didahului oleh usaha² „Sarekat Dagang Islam” dalam th. 1911
Prof. R. Suriaatmadja waktu tahun 1948 Kepala Djawatan Kooperasi Kementerian Kemakmuran, besar djasanja dalam pembentukan GKBI tahun 1948 di Jogjakarta dan bimbingannja dalam perkembangan, pertumbuhan Kooperasi² Batik sebelum perang dunia kedua dan permulaan revolusi.
jang dipelopori oleh H. Samanhudi di Sala serta kemudian diperkuat oleh H.O.S. Tjokroaminoto dan di Jogjakarta tahun 1913 dipelopori oleh A. Zarkasi Djojoaminoto jang dalam pokok²nja terutama membangkitkan pengusaha2 batik guna mengadakan perbaikan² dan penibelaan atas tindasan kaum kolonial dengan sistim ekonomi kolonialnja. Selandjutnja atas bimbingan tokoh² jang banjak sekali djasanja tehadap kemadjuan dunia koperasi batik jaitu antara lain bapak Ir.Surachman almarhum, bapak Ir. Teko Soemodiwirjo, bapak Prof. Suriaatmadja, bapak Margonodjojohadikusumo dsb.nja segeralah terbentuk koperasi batik didaerah² pembatikan.
Pada tahun 1934 *)(pertengahan Djuni) didirikanlah di Jogjakarta „Persatuan Pengusaha Batik Bumi Putera ” (P.P.B.B.P.) dengan Djajengskarso sebagai Ketuanja. Kemudian pada tahun 1935 *) di —————— {*)Tjatatan : Tentang tahun2 berdirinja koperasi2 batik tsb. ternjata terdapat beberapa perbedaan dalam tjatatan2 jang ada. Sebagai tjontoh dapat kami kemukakan :
Ambijah Hadiwinoto
Pedjabat Djawatan Koperasi jang aktip membimbing, membina, pertumbuhan kooperasi² batik primer sebelum perang dunia kedua. Tahun 1950 s/d'54 pernah mendjabat Kepala Sekretariat Pengurus GKBI dan sudah itu mendjadi penasehat.
Sala didirikan P.P.B.B.S. (Persatuan Perusahaan Batik Bumiputera Surakarta) dengan pimpinan bapak Wongsodinomo.
Perkembangan diatas rupa²nja diikuti oleh pembentukan koperasi batik Trusmi (dekat Tjirebon) pada tahun 1936 diketuai oleh Pak Mirdjani dengan memperoleh bimbingan dari Sdr. R. Moh. Ambijah. Kemudian pada sekitar tahun² 1937 dan 1940 terbentuk pula 4 koperasi batik di daerah Pekalongan jaitu di : Pekadjangan, Wonopringgo, Setono (Batang) dan Pekalongan.
Pergerakan koperasi dikalangan pembatikan di Djawa Barat pun tidak ketinggalan untuk segera membentuk koperasi batik jaitu Mitra Batik di Tasikmalaja dan CPBB di Tjiamis.
Didaerah Djawa Timur jaitu Ponorogo dan Tulungagung terbentuk pula koperasi² batik Bakti di Ponorogo dan Perbata (sekarang B.T.A.) di Tulungagung.
Tahun berdirinja P.P.B.I. menurut tjatatan Bapak Djajengkarso adalah pada tahun 1934 sedang menurut tjatatan pak R. Moh. Ambijah adalah pada th. 1937.
Koperasi batik P.P.B.B.S. di Sala. Menurut pak R. Moh . Ambijah dibentuk th. 1937 sedang bapak Djajengkarso mengemukakannja dibentuk pada th. 1935.
Berdirinja koperasi batik Wonopringgo menurut tjatatan dari Sdr. H. Asmudi dari Wonopringgo adalah pada th. 1928 dengan nama Koperasi Selamat sedangkan tjatatan dari bapak R. Moh. Ambijah ialah pada th. 1939. (Lihat Madjalah Batik th. 1953 dan 1954).
Dengan telah tersusunnja potensi pembatikan dalam wadah organisasi koperasi maka pengarahan perdjuangannja mendjadi lebih efektif*)
*) Tjatatan:
Menurut bapak Djajengkarso almarhum, dalam memperdjuangkan dibolehkannja koperasi² batik membeli cambric langsung dari importir (cambric convenant) ternjata salah seorang jang ikut serta memperdjuangkannja ialah bapak Muhammad Husni Thamrin almarhum. Pada tahun 1939 diusahakan penggabungan dari koperasi2 batik jang ada, usaha mana dilakukan di Sala dengan tudjuan :
1.Membentuk persatuan Batik bonden Indonesia.
2.Mengusahakan untuk dapat membeli Cambric dan bahan batik
3.lainnja langsung dari importir.Mengusahakan untuk dapat mengimpor sendiri Cambric dan
4.bahan batik lainnja dari luar negeri.Mendirikan pabrik Mori sendiri .
Dengan melalui berbagai rintangan jang tjukup berat maka hanja baru tudjuan jang no. 2 dapat ditjapai sampai djatuhnja pemerintah Belanda dan masuknja Djepang.
Praktis selama pendudukan Djepang di Indonesia semua gerakan koperasi batik lumpuh atau tidak dapat mendjalankan fungsinja sebagaimana diinginkan .
Lodwijk Tinggi Setyoso Pegawai Kementerian Perekonomian dan Administratur GKBI tahun 1956-1961 (Wakil Pemerintah ) jang ikut aktip membimbing, membina, perkembangan serta pertumbuhan GKBI sedjak tahun 1948 – 1961 .
MASA SESUDAH KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA.
1. Bertahun-tahun sebelum lahirnja Republik Indonesia sebagai mana telah diuraikan, para pengusaha batik menderita, nasib perusahaannja sangat tergantung pada pedagang² bahan batik (mori, tjat², indigo (nila), hars dll.nja). Produksi dan pasaran batik dikendalikan oleh para pedagang dikota² besar. Djadi walaupun keradjinan batik sebagian besar berada ditangan rakjat Indonesia, namun hasil pendapatannja sebagian ketjil sadja jang djatuh ketangannja. Maka dengan diilhami oleh amanat penderitaan masjarakai batik, beberapa pengusaha batik, memelopori berdirinja batikbond batikbond atas azas gotong -rojong dan kemudian berichtiar untuk mendapatkan bahan batik setjukupnja dengan harga pantas dan stabil, disamping adanja kontinuitas dalam perbekalannja dan rasa keinsjafan akan nasib pribadi dikemudian hari .
Tokoh² pengusaha Batik Surakarta pendiri serta pengurus pertama GKBI tahun 1948/1954. Dari kiri kekanan: H.A. Muslim, Prijorahardjo (almarhum ) K.H.M. Idris, dan Martodiwarno.Berdirilah koperasi² batik dimana2², dan kemudian diichtiarkan mempersatukan koperasi² tsb. sedjak tahun 1939. Dan barulah pada tanggal 18 September 1948, 3 tahun sesudah Republik Indonesia mendjelma, Koperasi Pusat G.K.B.I. didirikan di Jogjakarta oleh koperasi2 batik dari Jogjakarta (PPBI), Surakarta (PPBS), Ponorogo (BAKTI) dan Tulung Agung (BTA) Koperasi² tersebut diwakili masing2 oleh:
a. PPBBS Surakarta oleh : Bapak K.H. Idris, H.A. Muslim dan Prijorahardjo.
b. PPBI Jogjakarta oleh : Bapak Saebani dan Tjitrosumarto.
c. BAKTI Ponorogo oleh : Bapak S. Ismail dan Wirjosubroto.
d. PP.BTA oleh : Bapak Abdulwachid (alm) dan Muslani.
Pelantikan Pengurus pertama GKBI dilaksanakan oleh Bapak R. Suriaatmadja di Kementerian Kemakmuran Djalan Malioboro No. 85 Jogjakarta terdiri dari : Ketua I/II : K.H. Idris dan Saebani, Penulis : Prijorahardjo, Bendahara I / II : H.A. Muslim dan H. Tjitrosumarto, dan dari BAKTI Hadisandjoto dan PP.BTA Muslani . Pagi hari setelah pelantikan, maka siangnja rakjat mendengar
Keterangan gambar dari kiri: H. Saebani dan Winotosastro. Pendiri dan Pengurus Kooperasi PPBBP Jogjakarta dan GKBI tahun 1948 di Jogjakarta.pemberontakan Madiun/PKI jang dimulai waktu dini hari tanggal 18 September dan aktivitas organisasi terhenti akibatnja.
Setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, diadakan konsolidasi organisasi kembali dan BTC jang disponsori berdirinja oleh PPBI diambil alih sahamnja dan didjual pada Koperasi² Batik: PPBBS, PPBI, BAKTI, BTA, PEKADJANGAN, WONOPRINGGO, PPIP, MITRABATIK, RUKUNBATIK, TRUSMI, PERBAIK. Pimpinan BTC berkantor di Djakarta dan terdiri dari: Saebani, S. Sarwohardjono, M. Djumhan, A.D. Dungga dan beberapa wakil Primer sebagai Komisaris. BTC bergerak dibidang komersil jang ditundjuk sebagai importir oleh Pemerintah dan GKBI sebagai distributornja. Dalam rangka konsolidasi organisasi dan rehabilitasi modal dan usaha, akibat telah 8 tahun selama jepang dan perdjuangan kemerdekaan, kegiatan pembatikan tidak lantjar, maka dalam tahun 1951 waktu Kabinet Sukiman-Suwirjo, pengusaha2 batik di-kedjar² oleh kewadjiban padjak
Pimpinan N.V. Batic Trading Company (BTC) dari kiri: Direktur II M. Djumhan dari Pekadjangan, S. Sarwohardjono Presdir (Batari), A.D. Dungga Direktur II (Mitra Batik).dan ini betul² merupakan pukulan jang hampir² menjebabkan sukar bangunnja produsen batik lagi. Kenapa dikatakan begitu, modal dan sebagian harta tetapnja sudah habis dikonsumir selama 8 tahun dan sekarang baru ingin kembali hidup tiba2 datang kewadjiban jang selama ini belum pernah dikenakan padanja. Berkat perdjuangan bersama dari Pengurus GKBI dan Primer²nja, diwakili oleh: Hadisubroto, A. Mutawali, Saebani, Djajengkarso dan Hadisondjojo menghadap Pemerintah dengan argumen² jang bisa diterima, maka oleh Menteri Keuangan jang waktu itu didjabat oleh Mr. Jusuf Wibisono dikeluarkan „Undang² Darurat tentang PPn no. 19/1951 LN. No. 94/1951
Hotel Pasar Pon di Djalan Slamet Riyadi Surakarta, kantor Kooperasi Batik PPBBS/BATARI tahun 1948, GKBI ikut berkantor disana. Tahun 1952 kantor GKBI pindah ke Djakarta dan menumpang dikantor Djohan-Djohor Kalibesar Barat No. 35 Djakarta-Kota.pembebasan padjak pendjualan terhadap pengusaha2 batik, karena pembatikan merupakan „industri keradjinan rakjat dan rumah tangga”.
Untuk melantjarkan dan meningkatkan efficiency kerdja dimana semua instansi Pemerintah Pusat sudah berada di Djakarta, maka pada tahun 1952 kantor GKBI djuga pindah ke Djakarta, menumpang di kantor Djohan -Djohor di Kalibesar Barat No. 35 Djakarta Kota. Setelah pindah ke Djakarta susunan Pengurus GKBI berobah jaitu . Ketua : K.H. Idris, Bendahara : H.A. Muslim , Penulis : Martodiwarno
Kantor pertama GKBI /BTC di Djakarta ialah menumpang dikantor Djohan-Djohor di Kalibesar Barat No. 35, dari tahun 1949 s/d 1953. Kegiatan GKBI di Djakarta masa itu ialah diwakili oleh Batic Trading Company sebagai anak Perusahaan GKBI, sampai tahun 1953. Waktu itu Pengurus2 GKBI berkantor masih di Surakarta jaitu Hotel Pasar Pon Surakarta.dan Komisaris H.A. Azis, Eni, Suganda G.; Rafi'i Ichsan, Masina dan Winotosastro. Pimpinan BTC djuga berobah jaitu: Direktur²nja ialah S. Sarwohardjono, M. Djumhan dan A.D. Dungga dan beberapa orang Komisaris dari Primerº.
Ibu H. Sofwan (almarhumah) Seorang wanita pengusaha batik anggota PPBBS Surakarta tahun 1935 jang besar dorongannja dan bantuannja pada pelopor pendiri PPBBS tahun 1935. Darah perdjuangan ingin lepas dari belenggu kolonial dan peda gang Tjina, chususnja disektor perdagangan bahan baku batik telah mengalir dalam tubuhnja, dan mendesak pada Bapak Wongsodinomo supaja membentuk organisasi koperasi sebagai alat perdjuangan.
Tokoh pendorong dan pendiri GKBI di Jogjakarta 1948. Keterangan gambar dari kanan kekiri: Bapak A.Z. Djojoaminoto, dari PPBBP Jogjakarta, Bapak Muslani (almarhum) dari BTA Tulungagung, Bapak Wirjosubroto dari Bakti Ponorogo, dan Bapak H. Tjitrosumarto dari PPBBP jogjakarta.Setelah 4 tahun berhasil menjusun organisasi golongan sedjenis dari 21 koperasi batik didaerah2 dimulailah „operasi-mori” dengan mengadjukan nota usul² tentang penertiban pembelian (impor) dan penjebaran (distribusi) kepada Pemerintah melalui Direktoraat Perdagangan, pada bulan Mei/Djuni 1952.
G.K.B.I. bersama-sama dengan Badan Impornja Batik Trading Company, melantjarkan kampanje pembentukan „POOL CAMBRICS” (peletakkan mengimpor dan membagi mori dan blatju buat batik didalam satu tangan sadja ). Usul² G.K.B.I. mendapat sambutan jang hangat dari Pemerintah.
Bantuan² positif serta dukungan dari Pedjabat² waktu itu hingga berhasilnja perdjuangan ini ialah : Prof. Ir. Teko Sumodiwirjo Sekdjen Kementerian Perekonomian, R. Suriaatmadja Kepala Direktorat Perekonomian Rakjat, Dr. Saroso Kepala Direktorat Perdagangan, Arifin Harahap SH . Kepala K.P.U.I., Lodwijk Setyoso Kepala Djawatan Organisasi Usaha Rakjat dan Rusli Rahim Kepala Djawatan Koperasi.
Dr. Saroso ex. Kepala Direktorat Perdagangan Kementerian Perekonomian banjak bimbingan dan djasanja dalam perdjuangan pool cambric GKBI tahun 1952.
Mr. Sumanang, Menteri Perekonomian dalam Kabinet Wilopo Th. 1952, menjetudjuinja dengan pengertian bahwa, Pool cambric berarti pembelian bersama oleh masjarakat pengusaha batik, dan beliau segera menginstruksikan penjelenggaraan Pool- Cambrics itu. Untuk mendjamin terwudjudnja usaha baru ini, dibentuklah oleh Perintah pada Oktober 1952 Jajasan Persediaan Bahan Perindustrian untuk mendjadi importir tunggal cambrics itu. G.K.B.I. didjadikan distributor tunggal.
Pada bulan Djuni 1953 diadjukan pada Djawatan Koperasi permohonan „ hak badan hukum ” jang diwakili masing2 oleh Koperasi Batik jang telah berbadan hukum jaitu :
Perdjuangan beliau dalam gerakan koperasi sedjak zaman Djepang. Dalam Koperasi Batik dimulai di Mitra Batik Tasikmalaja tahun 1947. Tahun 1950-1953 mewakili Mitra Batik sebagai Dircktur N.V. BTC, tahun 1953—1956 sebagai Administratur GKBI dan digantikan oleh L. Setyoso . Tahun 1959 sampai achir hajatnja tahun 1964 mendjadi Kepala Sekretariat Pengurus GKBI. Beliau tahun 1953 mengundjungi Amerika Serikat atas undangan Gerakan Koperasi Konsumsi sebagai Wakil Dewan Koperasi Indonesia.
GKBI mendapat pengesahan badan hukum tanggal 25 Agustus 1953 No. 843 berdasarkan Undang2 Koperasi No. 179/Tahun 1949. Setelah mendapat hak badan hukum dan pengakuan importir dari Kementerian Perekonomian September 1953 , kegiatan BTC dialihkan pada GKBI dan BTC dibubarkan, dimana semua hak²nja dan kewadjibannja dipindahkan kepada GKBI.
Dalam tahun 1953 GKBI membeli gedung di Djalan Pinangsia II/9 dan pindahlah kekantor baru milik sendiri dan dari sinilah perdjuangan diatur selandjutnja.
Dalam tahun 1953 Menteri Perekonomian R.I. waktu itu jaitu Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo (P.N.I.) mengeluarkan peraturan tertanggal 9 September 1953 jang pokok²nja ialah:
bahwa djasa dalam mengimport cambric oleh Jajasan Bahan Perindustrian akan dialihkan dari N.V. Batik (badan Komersiil dari
Kantor GKBI kedua di Djakarta setelah pindah dari Djohan-Djohor kali Besar Barat tahun 1953. Kantor ini terletak di Djalan Pinangsia 11/9 Djakarta Kota. Sekarang kantor ini dipindjam oleh Induk Koperasi Konsumsi.
Prof. Ir. Teko Sumodiwirjo, Kepala Direktorat Perekonomian Kementerian Kemakmuran R.I., jang mendorong berdirinja GKBI tanggal 18 September tahun 1948 di Jogjakarta . Dalam masa2 pertumbuhan dan perkembangan selandjutnja, djasa beliau sangat besar. Untuk mengenangkan djasa dan realisasi tjitanja dibidang pendidikan koperasi, GKBI dalam tahun 1954 membangun gedung Pendidikan dan Asramanja di Mampang Prapatan Djakarta, perletakan batu pertamanja oleh beliau. Gedung pendidikan ini biajanja ± Rp. 2.5 djuta dan perletakan batu terachir oleh Bapak Koperasi Indonesia Dr. H. Moh.Hatta tahun 1955.
G.K.B.I.) kepada importir² lain dalam hal ini ialah importir² N.V.Suez dan Gunung Perahu.
Dengan segala ketekunan para pengurus dan warga G.K.B.I. serta bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak maka usaha tsb. dapat di gagalkan.
Dalam tahun 1954 K.H. Idris sebagai Ketua tidak bisa aktip di Djakarta dan diangkatlah Acting Ketua Bapak Martodiwarno dan sebagai Penulis Sdr. Winotosastro dan Bendahara : H.A. Muslim. Dalam rapat anggota tahun usaha 1954, Djanuari tahun 1955, dimana kebidjaksanaan Pengurus GKBI baik bidang organisasi dan usaha diterima dan disjahkan. Mulai bulan Djanuari pimpinan GKBI didjabat oleh muka² baru, karena tokoh² pelopor dan pendiri tadi tidak bisa menetap terus di Djakarta mengemudikan GKBI. Pengurus GKBI jang ditetapkan RTA untuk tahun usaha 1955 ialah : Ketua 1 /II : A. Djunaid dan Abdullah, Penulis I/ II : Winotosastro dan H.A. Azis Bendahara : Badruddin dan Moh . Djadjuli dan Komisaris ialah :
Pengurus GKBI berkundjung ke India tahun 1954 dalam menjelidiki bahan cambrics India jang ramai dibitjarakan oleh anggota/pengusaha batik, karena kurang baik kwalitasnja. Keterangan gambar dari kiri kekanan: Tuan rumah, H.A. Azis dan H. Moh. Djadjuli, dilapangan terbang New-Delhi.Masina, G. Suganda, Rafi'i Ichsan, H. Solichin, Saimuntakim, Imam Zarkasi, A. Somad dan Ambari S.R. Badan Pemeriksa : Ibnu Sujachmir, M. Djumhan, dan Moh. Djaidun.
Bahkan mulai 1 September 1955, Kementerian Perekonomian memberikan kepada GKBI kedudukan sebagai importir tunggal, sehingga dengan demikian mendjadi bertanggung -djawab atas penjediaan greys dan Cambrics untuk Koperasi² Batik dan pengusaha batik lainnja.
Dalam RTA tahun usaha 1955 jang diselenggarakan tahun 1956 ditetapkan Pengurus untuk tahun 1956/1958 ialah : Ketua VII : A.Djunaid dan Badruddin, Penulis I / II : H.A. Azis dan G. Suganda, Bendahara I / II : Ibnu Sujachmir dan Muh. Djadjuli serta beberapa orang Komisaris. Pengurus Harian jang 6 orang diatas sampai tahun 1963 tetap terpilih kembali tiap2 ada pemilihan pengurus baru GKBI dan jang berobah hanja para Komisaris. Dalam rapat itu djuga diputuskan kembali akan membangun Pabrik Cambric dan diadakan pemungutan modal mulai Oktober 1956 sebesar Rp. 1,-/ yard melalui
distribusi cambric tiap bulan. Untuk mengawasi langsung fasilitas dan kredit jang diberikan kepada GKBI oleh Pemerintah, diangkatlah seorang Pedjabat Tinggi Kementerian Perekonomian mendjadi Administratur GKBI jaitu : Lodwijk Setyoso, selama 5 tahun mulai 1956–1961.
Pada 22 Pebruari 1957, Kementerian Perekonomian menegaskan lagi, bahwa GKBI sebagai bedrijfsgroep batik ditundjuk sebagai importir dan distributor tunggal dari cambrics untuk kebutuhan seluruh pengusaha batik, anggota dan bukan anggota koperasi batik dan
atau/G.K.B.I. Disamping itu G.K.B.I. diwadjibkan mengadakan bufferstock cambrics untuk keperluan tiga bulan guna mendjamin tenangnja perkembangan harga cambrics diluar dan didalam negeri.
Dan mulai tahun 1959/1960 Koperasi Pusat G.K.B.I. mendapat kepertjajaan pula mengimpor dan membagi-bagi bahan² tjat untuk batik.
Bersamaan dengan kepertjajaan jang diberikan lagi oleh Pemerintah pada GKBI, maka mulai pertengahan tahun 1959, GKBI diwadjihkan menjediakan hasil produksi batik birunja sebesar 90 % dari cambric jang dibagi tiap bulan untuk disalurkan pada Koperasi² Konsumsi seluruh Indonesia dengan harga jang ditetapkan oleh pemerintah. Pool batik biru jang terkenal dengan batik sandang ini berdjalan
sampai pertengahan tahun 1963 dan sesudah itu GKBI hanja menjediakan batik untuk lebaran dan tahun baru sadja lagi. Pada RTA tahun 1963 di Bandung Djuli, Pengurus GKBI jang terpilih ialah : Ketua I/II : H.A. Djunaid dan A. Mutawali, Penulis I/II : Abdullah Bari
dan Usman Djauhari, Bendahara I/II : A. Fattah Sjakur dan Moh.Ngadenan dan beberapa orang Komisaris, sampai Djuli 1965.
Gedung kantor Tjabang GKBI Semarang jang terletak di Djalan Mputantular No. 29, diresmikan pembukaannja tahun 1955. Tjabang Semarang melajani Primer GKBI sebanjak 20 buah jang tersebar : 10 Primer di ex. Karesidenan Surakarta, 5 Primer di D.I. Jogjakarta, 2 Primer di Pekalongan dan 3 Primer di ex. Karesidenan Kedu dan Pati.Gedung Tjabang GKBI Tjirebon lengkap dengan gudang dan Toko Batik diresmikan pembukaannja tahun 1957. Disamping gedung ini GKBI membangun gudang chusus lagi untuk menampung barang² baik import maupun lokal.di Djalan Pesisir, dan diresmikan tahun 1964 pembukaannja. GKBI Tjabang Tjirebon melajani Primer² : Budi Tresna. Perubadi, PPJP, Buwaran, Wonopringgo, Kopindo, Gaperbi, Persaudaraan dan Perbain .
„Gedung Rusli Rachim” sebagai tanda penghargaan dan kenang²an djasa almarhum kepada GKBI selama mendjabat Kepala Direktorat Koperasi dari tahun 1950 s/d 1959.Gedung ini dibangun di kompleks Institut Technologie Tekstil Bandung Djl. Djend.A. Yani dan disumbangkan kepada ITT. biaja Rp. 2.000.000
§ 2. USAHA² SEDJAK DIDIRIKAN.
IDIEEL:
Memberi bantuan dan pimpinan untuk mendirikan Koperasi Batik (Th. 1948).
Memberikan penerangan dan Pendidikan tentang koperasi dan berkoperasi (th. 1949).
Mempergiat propaganda untuk memperluas pemakaian batik (th. 1950).
Memeriksa dan membimbing tata-buku dari anggota (1956).
Mengawasi dan membimbing djalannja organisasi dan usaha daripada anggota (1956).
KEUANGAN:
Mempergiat dan menerima simpanan dari anggota dan anggota koperasi Batik (th. 1952)
Memberi pindjaman kepada anggota (batas-kredit)(th. 1955).
PUSAT PEMBELIAN/PENDJUALAN.
Memusatkan pembelian bersama dari segala bahan dan alat2 untuk keperluan perusahaan milik para anggota koperasi batik:
Usaha Pool Batik Tahun 1952
Pengakuan sebagai Importir tahun 1953.
Diberi kedudukan importir tunggal dan distributor tunggal untuk grey dan mori tahun 1955.
Sebagai importir /distributor bahan² tjat kimia batik tahun 1960.
Memusatkan pendjualan bersama dari barang² jang dihasilkan oleh para anggota bukan anggota Koperasi Batik (Batik Sandang tahun 1960) Batik lainnja (tahun 1962).
PRODUKSI:
Menghasilkan mori/blatju di PABRIK MORI G.K.B.I. di Medari Jogjakarta (1962).
PEMBANGUNAN DAERAH KERDJA:
Membantu usaha2 Sosial ( 1954).
Mendirikan Poliklinik², Taman kanak², Sekolah² untuk pendidikan dasar (1957).
Mendirikan gedung P.T.I.T./I.T.T. di Bandung jang diberi nama Gedung Rusli Rahim (th. 1965)
Mendirikan gedung Pendidikan di Djakarta untuk Pendidikan Koperasi.
B. Memang sudah mendjadi usaha/ ichtiar Koperasi bermula untuk sedapat mungkin memperpendek mata-rantai perdagangan antara produsen dan konsumen. Lebih utama lagi djika aparaat perdagangan berada didalam tangan jang berkepentingan langsung dengan bahan perdagangan itu. Maka sedjak distribusi dari bahan² batik diserahkan kepada G.K.
Gedung kantor Tjabang GKBI Surabaja di Djalan Kranggan 102 lengkap dengan gudang dan Toko Batik jang diresmikan pembukaannja oleh Bapak Milono Kepala Daerah Djatim 20 Des. 1958. GKBI Tjabang Surabaja melajani Koperasi Batik Primer: Gresik, Sidoardjo, BTA Tulungagung, Bakti, Pembatik di Ponorogo dan Browidjojo Modjokerto.G.K.B.I. maka hanja ada dua tingkat saluran, jaʼni sebagai Penjalur pertama, ialah G.K.B.I. sendiri, dan Penjalur ke dua, ialah Koperasi Batik Primer jang mendjadi anggota G.K.B.I.
Setelah G.K.B.I. diakui penuh sebagai Importir tunggal bahan batik (mori/ grey) dan sebagai stockhouder, maka di 4 kota pelabuhan disediakan gudang² besar dibawah urusan Kantor² Tjabang G.K.B.I. ja'ni :
Gedung kantor Tjabang GKBI Djakarta terletak di Djalan Kakap No. 4 Djakarta Kota jang diresmikan pembukaannja tahun 1959. Gedung ini dilengkapi dengan gudang dan melajani Koperasi Batik Primer : KPBD Djakarta, Mitra Batik Tasikmalaju, Rukun Batik Tjiamis, Warga Batik Garut dan Fadjar Putera Padang. Selain itu menampung bahan baku batik jang dislokasinja ditetapkan di Pelabuhan Priok dan dari sini baru disebarkan ke Tjabang² GKBI lainnja, Tjirebon, Semarang, Surabaja dan P.C. GKBI Medari.1. di Djakarta, melajani 5 Koperasi Batik di Priangan, Djakarta Raya dan Sumatera.
2. di Tjirebon, melajani 9 Koperasi Batik Djawa Tengah Utara/Selatan dan Tjirebon.
3. di Semarang, melajani 20 Koperasi Batik Djawa Tengah Selatan/Utara .
4. di Surabaja, melajani 6 Koperasi Batik di Djawa Timur.
Pengangkutan bahan2 dari Gudang2 GKBI dilakukan oleh GKBI sendiri dan/atau oleh truck2 Grossir (Penjalur kedua) atas biaja GKBI. Djadi pengusaha batik menerima bahan dengan harga jang sama, ditempat masing2.
Faedah jang diperoleh dari sistim penjaluran ini dilapangan teknis adalah:
Harga cambric jang stabil dan tidak banjak naik turun.
Kontinutet (kelangsungan dalam perkembangan perlengkapan terdjamin).
Stabilitet harga dalam pasar kain batik.
Toko Batik GKBI jang kedua di Djakarta di Djalan H.A. Salim No. 39 jang pembukaannja diresmikan pada Hari Koperasi ke-XXI tahun 1968.
Politik pembelian bahan terhadap pendjual/penawar luar negeri kuat.
Perkembangan dari perusahaan batik madju dengan sjarat² jang tertentu.
§3. TJATATAN PERISTIWA² PENTING DALAM PERTUMBUHAN GERAKAN KOPERASI BATIK (G.K.B.)
: 1. Tanggal 18 September 1948 berdirinja Koperasi Pusat G.K.B.I. diibu kota Republik Indonesia Jogjakarta atas dorongan dan andjuran Bapak Ir. Teko Sumodiwirjo dan Bapak Suria Atmadja Koperasi² Batik pelopornja waktu itu:
P.P.B.I. Jogjakarta
P.P.B.B.S. Surakarta
BAKTI Ponorogo
B.T.A. Tulungagung.
: 2. Tanggal 14 Djuni 1949 didirikan N.V. B.T.C. (Batik Trading Company) sebagai alat pelaksana dalam bidang ekonomi, karena Koperasi Pusat G.K.B.I. belum mendapat hak badan hukum.
: 3. T3. Pengusaha batik dibebaskan dari Padjak Pendjualan. Undang² Darurat no. 19/1951 L.N. No. 94/1951.
: 4. Bulan Djuli 1952 pengumuman Pemerintah jang berisi, bahwa impor mori dan grey untuk batik diletakkan dalam satu tangan ialah Pool Batik. Pembagian mori dan grey melalui Pool Batik, instruksi bersama 3 Djawatan.
: 5. Pengakuan Badan Hukum Koperasi Pusat G.K.B.I. tanggal 25 Agustus 1953 No. 843, berdasarkan Undang² Koperasi No. 179 Tanggal 7 Djuli 1949 dan diwakili oleh :
Sdr. Prijorahardjo dari P.P.B.B. Surakarta
Sdr. Winotosastro dari P.P.B.I. Jogjakarta
Sdr. Eni dari Mitra Batik Tasikmalaja.
Sdr. G. Suganda dari C.P.P.B. Tjiamis
e. Sdr. Masina dari Trusmi Tjirebon. f. Sdr. H.A. Aziz dari PPB Pekadjangan. g. Sdr. Rafi'i Ichsan dari K.P.B.S. Setono Pekalongan Tanggal 9 September 1953 keluar peraturan. Menteri Perekonomian Mr. Iskaq Tjokrohadisurjo jang menghebohkan dunia pembatikan. Tanggal 19 September 1953 Koperasi Pusat G.K. B.I. diakui sebagai importir oleh Kementerian Perekonomian Djawatan Perdagangan dengan suratnja tanggal 19 September 1953 No. 567/Ip./BTG/PDP. Tanggal 20 September 1953 N.V. B.T.C. dibubarkan dan semua barang pihutang serta kegiatannja ditang gung dan dilandjutkan oleh Koperasi Pusat G.K.B.I.
1954 :6. Djumlah anggota dan tjalon anggota Koperasi Pusat G.K.B.I. ada 20 buah Koperasi Batik Primer:
Pengusaha Batik Anggota/Tjalon Anggota ada 4.160 orang.
Pengusaha Batik bukan anggota/langganan ada 1.179 orang .
1955:7. Tanggal 1 September 1955 pembubaran Jajasan Perbekalan dan Persediaan (J.P.P.) dan
semua stock dan contract² mori dan grey jang belum selesai di djual pada Koperasi Pusat G.K.B.I. seharga ± Rp. 295 djuta, kredit djangka pandjang. Tanggal 5 Oktober 1955 Koperasi Pusat G.K.B.I.
Gedung Kantor Pusat GKBI bertingkat dua terletak di Djalan Djend. Sudirman No. 28. Perletakan batu terachir gedung ini oleh Bapak Koperasi Indonesia Dr. H. Moh. Hatta tanggal 20 Mei 1959, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional ke-51.
HARGA PEMBAGIAN CAMBRICS DALAM DJUTAAN RUPIAH
diakui sebagai importir dan distributor tunggal untuk bahan batik mori dan grey. Kegiatan dibidang permodalan dan usaha a. Djumlah simpanan dan tjadangan
Rp. 97,7 djuta
b. Djumlah distribusi mori
68.8 Djuta yard
c. Djumlah omzet
Rp. 428,1 djuta
d. Djumlah modal kerdja
Rp. 331,7 djuta
Dalam tahun ini dengan diprakarsai oleh GKBI telah diadakan Konperensi Alim Ulama seluruh Indonesia pada tanggal 12-13 September 1955 di Bandung, jang mengambil keputusan sebagai berikut ini : 1. Koperasi adalah salah satu bentuk sjirkah dan harta milik kekajaan adalah „maal musjtarok” dan atau maal „cholith”. 2. Wadjib dikeluarkan zakat tidjaroh dari harta milik kekajaan koperasi. 3. Wadjib dikeluarkan zakat dari tjadangan harta koperasi. 4. Kewadjiban mengeluarkan zakat koperasi. 5. Kewadjiban mengeluarkan zakat berlaku atas kaum Muslimin. 6. Dalil2 dan pendjelasan.
1956: 8. Perobahan Anggaran Dasar dan Pengakuan Hak Badan Hukum Koperasi Pusat G.K.B.I.
tanggal 2 Djuni 1956 No. 843 a. berdasarkan Undang² Koperasi No. 179 tanggal 7 Djuli 1949. Mulai Oktober 1956 mengadakan pemupukan modal melalui Simpanan Wadjib Chusus Rp. 1.-- per yard untuk mendirikan Pabrik Cambric dengan kapasitet: a.Pemintalan . . = 34.000 mata pintal. b.Pertemuan . . = 500 mesin tenun/full automatic.
jmpljmpl
PENGELUARAN
DANA SOSIAL DALAM DJUTAAN RUPIAH
jmpl
PENGELUARAN
DANA PEMBANGUNAN DAERAH KERDJA
DALAM RIBUAN RUPIAH
jmpl
c. Pemutihan/pengandjian . . . . . . . . . .= 250 Kg mori/ djam atau 18.000m/ploeg. Kegiatan dibidang permodalan dan usaha:
1959: 11. Kebidjaksanaan Pemerintah dibidang moneter jang
tidak menguntungkan. Uang kertas bank jang nilai nominalnja Rp. 500,— dan Rp. 1.000,—, dinilai hanja Rp. 50,— dan Rp. 100,— Saldo wang di bank diatas djumlah Rp. 25.000—, dibekukan 90 % Akibat ini G.K.B.I. dirugikan ± Rp. 4.000.000,— dan wang jang beku di bank Rp. 74.000.000,— Penderitaan ini sangat terasa apalagi karena G.K.B.I. oleh J.M. Menteri Perdagangan (Mr. Arifin Hara-
Bapak Koperasi Indonesia Dr. H. Moh. Hatta di-tengah² tokoh² Koperasi Wanita Indonesia jang menghadiri Diskusi tentang Undang² Koperasi di Lembang tanggal 2 s/d 4 Mei 1958. Dalam gambar ketiga dari kiri: Nj. H.A. Djunaid dan kedua dan ketiga dari kanan: Nj. Said dan Ibu Halimah tokoh Koperasi Wanita Djawa Baratharahap diserahi tugas pembuatan dan penjaluran batik sandang jang kita rentjanakan waktu itu harus menggunakan modal± Rp. 108.000.000,— dan penjelesaian pabrik jang diperkirakan Rp. 150.000.000,— Bulan Pebruari th. ini pula merobah Anggaran Dasar disesuaikan dengan U.U. baru No. 79 th. 1958.
Perobahan jang pokok ialah :
1. Adanja suara berimbang untuk masing 100 anggota 1 (satu ) suara dengan sebanjak-banjaknja 5 suara .
2. Sisa hasil usaha jang didapat dari bukan anggota dipergunakan bagi Dana² jang tidak boleh dibagikan kepada anggota. Dalam djangka waktu 4 a 5 bulan, baru sadja merentjanakan dan menjusun pelaksanaan selaras dengan A. Dasar baru. Ketika sedang berapat di Kaliurang Djokjakarta pada pertengahan Desember th. ini, dikedjutkan oleh berita di surat² kabar Ibu Kota jang memuat Peraturan Perkembangan Koperasi, termashur dengan nama PP 60/1959. Isi peraturan baru itu jang mendjadi masalah al.
Struktur koperasi 4 tingkat berbentuk primer, pusat, gabungan dan induk.
Pendjenisan.
Keanggotaan dari buruh dengan istilah „mereka jang ikut serta setjara langsung dalam proses produksi”.
Keadaan Koperasi Pusat G.K.B.I. jang sekarang ini, sesungguhnja adalah hasil perdjuangan 25 tahun lamanja dari Koperasi/ Batik jang pada mulanja sangat menderita berbagai kesulitan.
Tuduhan, bahwa Koperasi Pusat G.K.B.I. merupakan konsentrasi modal jang dianggap bertentangan Gedung kantor induk P.C. GKBI Medari Sleman Jogjakarta jang diresmikan pembukaannja dalam Hari Koperasi ke-XV tahun 1962 oleh Pembantu Utama Menteri Transkopemada Ir. Ibnu Sudjono.Pabrik Cambric GKBI di Medari mulai dibangun tahun 1958 diatas tanah seluas 2,7 HA dan selesai serta diresmikan pembukaannja Djuli 1962. Seluruh biaja pembangunan dikumpulkan dari anggota sedjak tahun 1953.
dengan Undang² Koperasi No. 79 tahun 1958 adalah tidak benar. Koperasi Pusat G.K.B.I. diserahi pembuatan dan penjaluran batik sandang dalam rangka pelaksanaan Program Pemerintah memenuhi sandang pangan rakjat. Koperasi Pusat G.K.B.I. adalah Koperasi jang sesuai dengan Undang² Koperasi No. 79 tahun 1958 tidak berakar pada liberalisme-kapitalisme. Tanggal 3 Nopember 1959 pengakuan Hak Badan Hukum baru No. 843 b, berdasarkan Undang² Koperasi No. 79 tahun 1958, dimana Anggaran Dasarnja telah disesuaikan dengan Undang² Koperasi baru itu. Koperasi Pusat G.K.B.I. ditundjuk sebagai importir
Pemuda² tammatan SMA/B dan STM dari keluarga Primer GKBI dikirim ke Djepang untuk dididik dibidang pertekstilan jang akan mendjadi tenaga² ahli nantinja di P.C. GKBI Medari Jogjakarta, foto ini reproduksi dari tahun 1955. Mereka inilah jang mendjadi tenaga² ahli di P.C. GKBI Jogjakarta dan membimbing djuga pabrik tekstil Primer GKBI.
tjat dan obat batik untuk seluruh pengusaha batik.
Kegiatan dibidang permodalan dan usaha :
a . Djumlah simpanan dan tjadangan Rp. 479,3 djuta.
1960 : 12Untuk menjesuaikan anggaran dasar GKBI dengan
PP 60 ini, berulang kali diadakan pertemuan baik dengan Djawatan Koperasi maupun dengan Depar- temen untuk minta petundjuk bagaimana tjara melaksanakannja. Petundjuk² itu tidak djelas dan tegas, bahkan selalu menundjuk kepada tudjuannja ialah pembagian hasil jang adil dan harus berpegang kepada tudjuan revo- lusi. Untuk mejakinkan kepada Pemerintah, maka G.K.B.I. sengadja memohon kepadanja agar mengi-
Gedung Mushalla P.C. GKBI Medari untuk menunaikan Rukun Islam kedua bagi karyawan² tiap waktunja.
mengirim Team research dari Djakop keliling ke daerah atas biaja GKBI. Hingga 2 x dikirim ke daerah dengan hasil² laporannja jang positip dan mejakinkan, bahwa: GKBI tidak bertentangan dengan Undang² Koperasi no. 79/1958 dan PP.60/ 1959. Hasil penjelidikan itu tidak mendapat reaksi, bahkan dimulailah serangan dan tuduhan di surat2 kabar bahwa GKBI itu merupakan koperasi kapitalis jang menentang Pemerintah.
Karena terus difitnah dan diintimidir, maka dengan tidak melalui prosidir jang lazim di tempuh oleh koperasi, pada rapat kilat jang diselenggarakan tgl. 24-12-1960 di Pekalongan, semua koperasi primer anggota GKBI sebelum achir th. ini sudah harus
Gedung Taman Kanak² P.C. GKBI Medari diresmikan dalam rangka merajakan Hut ke-V tahun 1967, P.C. GKBI. STK ini diasuh oleh organisasi isteri karyawan pabrik.Pertumbuhan dan perkembangan koperasi bergantung kepada Transkop.
1. Djumlah anggota ada 23 buah Koperasi Batik Primer.
2. Djumlah Pengusaha Batik:
Jang tergabung dalam Koperasi Batik Primer ada 7.630 orang
Komisaris Pengurus jang ditugaskan se-hari2 mewakili Pengurus Harian memimpin P.C. GKBI. Duduk dari kiri kekanan: Chamim Prawirohartono, Moh. Ngadenan dan Wukirno Wakil Kepala P.C. GKBI.}}
Jang tidak tergabung/bukan anggota ada 2.871 orang
Pengusaha /Keradjinan batik 4.500 orang
Rentjana djangka pandjang G.K.B.I. dan Primernja :
1. Pabrik Cambric Medari Jogjakarta akan dibuka pertengahan tahun 1962 — bertepatan dengan peringatan Hari Koperasi ke-XV .
2. Kapasitet Pabric Cambric :
a. Pemintalan . . . . . . = 34.000 mata pintal.
b. Pertenunan . . . . . . = 500 mesin tenun/full automatic.
c. Pemutihan . . . . . . = 250 Kg. mori /djam atau 18.000 M/ploeg.
3. Djumlah produksi 2 ploeg/tahun 6.000.000 yard.
4. Sampai achir tahun 1968 Koperasi Pusat G.K.B.I. dan Primernja merentjanakan akan mempunjai mesin? Pabrik Cambrics :
Air mantjur hasil karya karyawan teknik P.C. GKBI jang dapat digunakan untuk istirahat. Keterangan gambar: dari kiri kekanan: Subandi, Junus, B. M. Karmani, Suparno dan Sjarifuddin.
Bangunan ini ialah kompleks perumahan karyawan P.C. G.K.B.I. Medari jang baru dapat disediakan untuk tingkat Pengawas keatas.
Peranan Koperasi Indonesia dalam Pembangunan merupakan:
alat untuk melaksanakan ekonomi terpimpin.
sendi kehidupan ekonomi bangsa Indonesia .
dasar untuk mengatur perekonomian rakjat.
membentuk satu organisasi gerakan koperasi baru, diberi nama Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia (K.O.K.S.I.) Sebelumnja telah ada Dewan Koperasi Indonesia, suatu Organisasi Gerakan Koperasi Indonesia jang betul demokratis.
Membubarkan Dewan Koperasi Indonesia (D.K.I.) dan membentuk wadah baru Kesatuan Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia (KOKSI).
Resolusi2 jang sifatnja mengantjam agar PP60 dilaksanakan.
Menelorkan pola / kerdja gerakan koperasi dimana kedaulatan gerakan dikurangi.
Mesdjid jang dibangun oleh GKBI dibelakang P.C. GKBI Medari Jogjakarta bersamaan dengan selesainja Pabrik tahun 1962. Di Mesdjid inilah karyawan dan keluarganja digembleng mentalnja sekali satu minggu.
merobah anggaran dasarnja dan dikirimkan langsung ke Pusat Djawatan Koperasi. Kegiatan dibidang permodalan dan usaha :
a . Djumlah simpanan dan tjadangan Rp. 570,5 djuta. b. Djumlah distribusi mori . . . . . .39,3 djuta yard. c. Djumiah distribusi batik sandang 8.024,400 potong d . Djumlah omzet. . . . . . . . . . . . . Rp. 1.981,3 djuta. e. Djumlah modal kerdja ... Rp.895,6 djuta. Kedjadian² lain jang menghebohkan produsen batik ialah adanja penertiban oleh Pemerintah jaitu : semua pengusaha dan pedagang diwadjibkan mempunjai pembukuan usaha. GKBI mengadjukan permohonan pada Pemerintah, supaja kepada pengusaha batik dibebaskan kewadjiban
Gedung Poliklinik P.C. GKBI Medari. Mempunjai tenaga dokter 5 orang (1 kebidanan, 1 bedah, 3 umum). 3 asisten din 3 orang apoteker. Poliklinik selain untuk karyawan dan keluarga, terbuka pula untuk umum.
kewadjiban pentjatatan administrasi , karena pada tahun 1951 oleh Menteri Keuangan Jusuf Wibisono SH. perusahaan batik dibebaskan wadjib padjak pendjualan, Undang² Darurat no. 19/1951 dan L.N. no.94/1951.
1961 : 13.Untuk merealisir PP60 setjara menjeluruh, maka Transkop mengorganiseer: Musjawarah Nasional Koperasi ke-1 di Surabaja tanggal 21 s/d 27 April 1961 memutuskan bahwa :
1. Landasan ideal Koperasi Indonesia ialah :
Pantjasila
Undang Dasar 1945 pasal 33 ajat (1).
Manifesto Politik Republik Indonesia dan Amanat Pembangunan Presiden.
Gedung Koperasi Karyawan P.C. CKBI Medari diresmikan pembukaaonja kebidanan, 1 bedah, 3umum). 3 asisten dan 3 orang apoteker. kebutuhan anggota se-hari/barang kelontong dan tulis-menulis.Kapas² dalam baal ini masih kotor, menunggu giliranja untuk dibawa ke Bagian mesin pembuka kapas untuk dibersihkan. P.C. GKBI Medari membutuhkan bahan kapas 9 ton/hari dengan 3 shift Kapasitas pemintalan ada 34.000 spindel
Bagian mesin blowing, dimana kapas kotor dibersihkan.
Mesin Drawing ini mengerdjakan hasil kapas dari hasil mesin Crading.
Mesin testing kapas ini gunanja untuk menjelidiki mutu dari kapas² jang akan digunakan membuat benang.
Pemitaian ......
= 120,000 mata pintal
Pertenunan ......
= 3.000 mesin tenun
Pemutihan ......
= 250 Kg./djam atau 18.000 M/ploeg
Dinilai seharga
= Rp. 2.500.000.000.—
Dengan telah dirobahnja Anggaran Dasar Koperasi2 primer, maka bertambahlah tugas dan tanggung djawab para pengurus koperasi sedang hak2nja berkurang. Djenis koperasi sudah berobah dari Pembelian bahan Batik dan Pendjualan hasil bersama mendjadi”
Produksi Keradjinan Batik, sedang semua alat2 produksi seperti bengkel2 batik dsb. akan mendjadi milik koperasi. Koperasi2 primer di Solo, Djokja, Tegal, Ponorogo, Pemalang dipetjah-petjah didjadikan koperasi2 ketjil jang beranggota banjak djumlahnja karena dimasukkannja buruh mendjadi anggota.
Djawatan Perindustrian menurut bidangnja berdasarkan PP243/61 dengan Surat Keputusan Menteri Perindustrian No. 53/SK/BPP/61, G.K.B.I, digolongkan kepada organisasi Perusahaan sedjenis (OPS) jang digabungkan kepada G.P.S. Textil. Djadi G.K.B.I. berbadju dua. Sebagai Koperasi pusat beranggotakan Badan Hukum koperasi primer
Mesin² Carding ini mengerdjakan kapas dari hasil mesin² Blowing jang telah dibersihkan.
Bagian mesin blowing
Bagian mesin blowing dimana kapas² kotor tadi sudah dibersihkan dan keluar gulungan kapas berbentuk gulungan besar jang sudah bersih.
Mesin² Ring-spinning mengerdjakan Stoebbing jang kapasitasnja sebanjak 34.000 spindel.
dan sebagai O.P.S. batik beranggotakan perusahaan batik dengan tidak memandang siapa pemiliknja. Dalam masa rebutan dari kedua instansi pemerintah ini, G.K.B.I. bersama primernja setjara diam² dapat meneruskan usaha selaras dengan programnja sambil sewaktu-waktu,,mentolereer” kepada 2 instansi ini, sekalipun„ toleransi" ini tidak sedikit mengeluarkan biaja.
1962: 14. Dalam th. 1962 G.K.B.I. berhasil melaksanakan progamnja dengan membuka pabrik cambrics Medari. Kemudian tambah lagi badju baru ialah sebagai OPS Kimia Textil. Daerah tingkat I menuntut agar OPS — Batik membuka Perwakilannja, maka dibukalah kantor² Perwakilan OPS di Bandung, Semarang dan Surabaja.
1963: 15. Setelah Deklarasi Ekonomi (DEKON) diumumkan Maret 1963 dan disusul dengan reshuffle Kabinet Dwikora maka akibat jang terasa oleh G.K.B.I. ialah:
Hak impor tunggal bahan baku batik ditjabut dan dialihkan ke PDN².
Batas pengendalian harga tidak tegas.
Kegiatan G.P.S. Textil dipindahkan ke Badan Musjawarah
Mesin Palet mengerdjakan hasil² dari mesin Ring-Spinning.
Nasional Swasta (BAMUNAS).
Koksi sedang melebarkan sajap untuk menambah djumlah induk Koperasi Tjengkeh, I.K. Tembakau, I.K. Konsumsi, I.K. Pertanian jang diorganiseer oleh Departemen Koperasi, memerlukan biaja, jang G.K.B.I. turut pula memikulnja tidak sampai disini sadja, bahkan meminta Dana² G.K.B.I. untuk disimpan di Koksi sebagai modal dari Lembaga Lalu Lintas Keuangan Koperasi.
1964: 16. Dalam waktu hanja kurang lebih satu djam utusan G.K.B.I. pada bulan Pebruari 1964 diturut sertakan pada suatu musjawarah jang membahas. Rentjana Perundang -undangan koperasi bertempat di Departemen Transkop. Sidang jang dipimpin langsung oleh Menteri Achmadi membahas sebuah konsep jang katanja informil sudah disetudjui oleh para Menteri dalam Kabinet, bahkan hanja tinggal menunggu tanda-tangan Presiden. Padahal penelaahan sepintas sadja bahwa R.U.U. Koperasi ini tidak tjotjok dengan nurani kita, maka GKBI belum berani memutuskan hanja berdjandji akan mengrim pendapat tertulis setelah berkonsultasi dengan pengurus lainnja. tembusan²nja dikirim pula kepada Induk2 Koperasi lainnja.
Mesin Klos mengerdjakan benang jang dihasilkan dari mesin Palet untuk pakannja.Demikianlah dengan surat diadjukan beberapa keberatan jang tembusan²nja dikirim pula kepada induk lainnja.
Sebulan kemudian ialah bulan Maret 1964 G.K.B.I. dihebohkan oleh segolongan wartawan tertentu dengan matjam² fitnah jang chusus ditudjukan kepada pribadi² pengurus G.K.B.I. Pengurus² Primer di Pekalongan antara lain: PPIP dan Wonopringgo ditangkap dengan tuduhan manipulasi benang dan cambric. Disamping itu Hartini meminta sumbangan kepada GKBI untuk Monumen Nasional dan Mesdjid Istiqlal. Presiden sendiri minta agar G.K.B.I. membiajai projek Planetarium jang waktu itu direntjanakan 1,67 miljard.
Awal Djuni di Bandung diselenggarakan Seminar Keanggotaan Koperasi Indonesia jang tudjuannja untuk memaksakan pelaksanaan PP60 dan membackingi Rentjana U.U. Koperasi.
Dalam seminar itu G.K.B.I. tetap mendjadi sasaran sekalipun biajanja sebagian besar dipikulkan kepada pundaknja dan sisanja Induk KOPTEXI. Setjara kebetulan pegawai2 GKBI jang duduk dalam salah suatu panitia ad hok berhasil mengalihkan perhatian para peserta kepada buruh dan alat produksi jang mendjadi djegal-djegalan
Mesin Hani mengerdjakan hasil mesin Palet untuk lusi.antara 3 besar. P.N.I. moderat plus N.U. disatu fihak, dan P.N.I. progresip plus P.K.I. dilain fihak.
Achirnja hasil musjawarah/seminar itu penuh pertentangan² jang sangat menjolok.
Pada bulan September terdjadi reshuffle Kabinet Dwikora. Drs. Moch. Ahadi diangkat mendjadi Menteri Transkop. Langkah pertamanja ialah mengadakan reorganisasi dan mutasi besar-besaran dikalangan Departemennja djuga didalam tubuh Koksi. Pertumbuhan dan perkembangan gerakan koperasi, chususnja GKBI bertambah terantjam. Karena musjawarah jang mendjadi salah satu sendi koperasi sudah tidak berlaku.
Kemudian setjara bergelombang masuklah surat² permintaan masuk mendjadi anggota G.K.B.I. dari „Koperasi2 batik" baru buatan Direktorat Koperasi. Dari Tangerang, Kop. Batik Tjina di Djakarta, dari Bogor, Purwakarta, Bandung, Sumedang, Madjalengka dan dari banjak tempat di Djawa Tengah dan Djawa Timur sampai dari Sulawesi Medan, dan Bali. Semua ini ditolak. Pedoman waktu itu ialah bahwa dengan tambahnja anggota tidak akan menambah produksi.
Mesin kandji benang untuk lusinja.
Ruang bagian mesin tenun P.C.. GKBI Medari Djumlah mesin 500 looms full automatic, dengan kerdja 3 shift menghasilkan sebanjak 7,5 djuta yard/tahun full capacity.Hasil² dari pertenunan terlebih dahulu diperiksa, sebelum diteruskan untuk difinish.Pertengahan tahun ini menjelenggarakan rapat perobahan Anggaran Dasar dan disalurkan dengan konsep Pemerintah, terutama mak sud dan tudjuan berobah sekalipun usahanja masih tetap.
Transkop, Koksi dan Dirkop semangkin aktip menjelenggarakan rapat² dan terus-menerus mengeluarkan instruksi beraneka ragam. Untuk menghindarkan ini G.K.B.I. sebagai „alat revolusi” dan berpegang kepada „doktrin revolusi” sebagai landasannja, segera melibat kan diri dalam matjam² kesibukan negara seperti pameran² baik dida lam maupun diluar negeri, perajaan² Hari Ulang Tahun dari kota² Djakarta, Bandung, Djokjakarta, Semarang, Surabaja, Ganefo, Pramuka, menjusun kesebelasan sepak bola, mengerahkan drumband dsb., sehingga pengurus djarang² ada dikantor, seolah-olah pintu tertutup untuk melajani instruksi: perintah dan segala matjam kewadjiban jang dipikulkan oleh Transkop/Dirkop dan Koksinja.
Konperensi Pembatikan seluruh daerah Djawa Tengah diluar G.K.B.I. jang diselenggarakan achir tahun di Semarang telah
Ruang jang menampung hasil² produksi jang sudah diperiksa dan akan diteruskan kebagian finishmemutuskan supaja G.K.B.I. dirombak dari organisasi jang liberalistis mendjadi sosialistis.
1965: 17. Pada masa triwulan pertama 1965 semua primer terutama dan chususnja PPBS di Solo dihebohkan lagi dalam rangka „nasakomisasi" kepengurusan.
Djakop daerah menuntut unsur² Nas., A. dan Kom duduk didalamnja sedang GKBI menghendaki jang berdjiwa Nasakom jang menduduki kepengurusan primer itu. Beberapa pengurus koperasi batik primer didaerah Pekalongan jaitu P.P.I.P. dan K.B.W. sudah dirongrong tahun 1964 dengan mendjebloskannja kedalam tahanan, hal mana adalah rangkaian dari usaha dan kegiatan PKI dan antek²nja selama masa pra Gestapu.
a. Untuk sedikit mengurangi ketegangan didaerah, G.K.B.I. mengalihkan perhatian dan melibatkan diri dengan Bamunas-Noto-hamiprodjo jang sedang mengatur Gerakan Kebaktian Revolusi (GEKEREV). Sematjam jang mewadjibkan perusahaan batik
Mesin pembakar bulu, mengardjakan hasil² produksi jang telah diperiksa dan sudah itu baru pada mesin J. BOX.chususnja menjetorkan kepada Bamunas 5 promil dari omzet setahun. Kesibukan lainnja ialah ikut sertanja G.K.B.I. dalam Konperensi Guru sekolah Taman Kanak² jang diselenggarakan atas prakarsa P.P.&.K. dimana G.K.B.I. mengirimkan ± 50 utusan dari S.T.K. 2 batik jang terletak dipulau Djawa. Konperensi ini belum selesai, segera pula melibatkan diri kedalam persiapan Musjawarah Besar Sandang (Mubesan I).
b. Sementara Transkopemada menjelenggarakan pekan Indoktrinasi dalam rangka Hari Koperasi ke-XVIII di Djakarta, G.K.B.I. sudah kehabisan orang untuk duduk dan mewakilinja, sehingga tambah santer tuduhannja bahwa G.K.B.I. reaksioner. Diterima kabar bahwa di Djokjakarta pada bulan Mei tahun ini diselenggarakan Musjawarah Kerdja Koperasi Keradjinan Rakjat Batik seluruh Djawa dan Madura diluar G.K.B.I. sebagai landjutan dari Musjawarah Koperasi Pembatikan seluruh daerah Djateng di Semarang. Musjawarah jang dihadiri oleh Menteri Moch . Achadi dan seluruh Djakop² daerah telah membuat keputusan membentuk Panitia Pembentukan Gabungan Koperasi Keradjinan Rakjat Seni Batik Indonesia. Badan baru ini sekalipun masih merupakan Panitia, ditjadangkan untuk mendjadi tandingan G.K.B.I.
Mesin J. BOX ini adalah untuk memutikan hasil grey mendjadi mori jang telah diputihkan.Dengan tidak berhasilnja Moch. Achadi cs. merongrong Koperasi Batik melalui primer, karena adanja GKBI jang membela, mereka merobah taktik dan sekarang dimulai dari GKBI. Perongrongan mereka ini rupa²nja sebagian dari rangka aksi pra-Gestapu-nja PKI dengan antek²nja didalam gerakan koperasi umumnja. Dengan kekuasaan jang ada ditangan mereka, dikeluarkan Surat Keputusan oleh Menteri Transkop tanggal 17 Djuli 1965 No. 0048/1965 jang isinja antara lain: (a). menginstruksikan kepada semua Induk² Koperasi supaja mengadakan RTA di Djakarta dan sudah selesai achir Djuli 1965 dan kepada Induk² jang telah mengadakan RTA, supaja diadakan kembali. (b). Mengangkat Team Pembantu Pimpinan RTA jang anggota²nja terdiri dari Unsur² Transkop, unsur Ormas Buruh dan Tani jang berporoskan Nasakom dan unsur KOKSI. (c). Team ini bertugas membantu Pimpinan RTA dan membina anggota, pengurus, produksi, usaha, sebagai persiapan kearah banting stir koperasi sesuai, dengan keputusan Munaskop ke-l dan bertanggung djawab pada Menteri. Kesemuanja ini telah dikemukakan oleh Menteri dan antek²nja dalam forum pekan indoktrinasi Pengurus Induk² Koperasi waktu
Mesin pembakar bulu
memperingati Hari Koperasi ke-XVIII di Senajan dan djuga masing² dalam kata pembukaan RTA oleh Chodewey Amin sebagai Kepala Dirkop Pusat, jang telah selesai digarap oleh mereka. Konsepsi² mereka ini akan dipaksakan pula dalam RTA GKBI.
c. Rapat Tahunan Anggota GKBI di Puri Ekawarna Djakarta tgl. 28/29 Djuli 1965 adalah betul² merupakan "Show of force” dari pihak Dept. Transkop/Dirkop dengan mempergunakan Team Pengawas Rapat Anggota jang anggota²nja terdiri dari Ormas² Buruh/Tani.
Sebagai Pemegang Peran Utama dalam rapat ini adalah Subiakto SH dibantu oleh Ormas² Gestapu/PKI (SB. Textile dan Pakaian SOBSI) dar Ormas² plinplan dari Partindo dan K.B.M. Asu. Pada saat² menentukan berusaha keras untak menghantjurkan kepengurusan G.K.B.I. tetapi ORMAS² Buruh Tani Islam jaitu: GASBINDO dan SARBUMUSI/PERTANU menentang keras kehendak untuk membubarkan dan menghantjurkan GKBI. Achirnja mereka mengalah karena merasa belum ada kekuatan njata jang bisa dipaksakan. Dalam pembitjaraan tjalon² personalia kepengurusan, mereka
Mesin pemeras dan pengering.
hendaki supaja Sdr. H.A. Djunaid, A. Mutawali, Usman Djauhari tidak boleh ditjalonkan, karena merekalah jang banjak menentang kebidjaksanaan Moh. Achadi sebagai Menteri, terutama dalam soal PPBS Solo. Persoalan inipun djuga oleh Wakil2 Ormas Islam diatas djuga ditentang, karena tidak ada satu alasanpun jang bisa diterima, kalau ini terdjadi maka adalah merupakan pelanggaran hak demokrasi warga negara jang didjundjung tingci oleh Negara Indonesia jang berdasarkan UUD 1945 dar ,,PANTJASILA”. Setelah diadakan pentjalonan dan pemungutan suara, maka tersusunlah Pengurus baru untuk masa djabatan tahun 1965/1966 jaitu: Ketua JI s/d IV: H.A. Djupaid, A. Mutawali, H. Badruddin dan H. Sotichin, Penulis I s/d IV : Usman Djauhari, Abdullah Bari, Masina dan H. Aliatmodjo, Bendahara I s/d VI: Moh. Ngadenan, Drs, Lukman Djaelan, Effendi Anwar dan H. Zuber Kohari. Disamping ini dipilih pula 9 orang Komisaris dan 18 orang B.P. Susunan Pengurus dan personalianja dapat diterima oleh RTA, dengan sjarat?2 jang diadjukan oleh Team Pengawas RTA angkatan Menteri Transkop Moch. Achadi dan Dirkop. Chodewey Amin jaitu : satu pernjataan jang akan ditandatangani
Mori jang sudah dibakar bulunja PA RA pada mesin kandji.
oleh Pengurus GKBI dan akan dipatuhi jang berisi antara lain : sanggup mengadakan kerdja sama dengan Pimpinan Transkop dan kalau tidak bersedia mengundurkan diri atau apabila menolak akan disingkirkan.
Pihak Pimpinan Transkop jang diwakili oleh Pembantu Menteri Subiakto SH, menjarankan pada RTA, supaja memberikan mandaat penuh pada wakilnja jang akan ditetapkan malam ini untuk mengadakan „konsultasi” dengan Menteri Transkop soal komposisi ke Pengurusan GKBI jang baru dipilih dan telah ditetapkan komposisinja oleh Formateur. RTA menetapkan Pengurus jang baru terpilih supaja mengadakan konsultasi pada Pimpinan Transkop. Dalam rangka sidang² Munaskop ke-II sedang berdjalan di Djakarta, maka Harian Suluh Indonesia edisi Pusat Nasional, dengan wartawannja Moh. Amin dan beberapa harian² lainnja jang mendukung belakangan G.30.S./PKI, chusus memuat berita bersambung tentang GKBI jang penuh dengan fitnah, intimidasi dan adu-domba antara pribadi dan golongan buat mematangkan rentjananja mnghantjurkan GKBI serta Koperasi² Batik umumnja.
Mori jang sudah dikandji diteruskan pada mesin calender
Rentjana Dep. Transkop/Dirkop untuk menghantjurkan GKBI dan Koperasi² primernja dilansir oleh Parpol/Ormas² Gestapu PKI dan antek²nja jang menuntut supaja GKBI dibubarkan jang kemudian ditampung kehendak tsb., dalam resolusi Munaskop ke-II tgl. 2 s/d 10 Agustus 1965.
Pengurus GKBI beberapa kali mengadakan konsultasi dengan Pimpinan Transkop dan tidak tertjapai kata² musjawarah, lebih² lagi Menteri Transkop telah mendapat backing melalui putusan² Munaskop ke-II, supaja diambil tindakan terhadap GKBI segera mungkin.
d. Untuk merealisir keputusan/resolusi Munaskop ke-II, oleh Dep. Transkop-/Dirkop diselenggarakan suatu indoktrinasi dengan nama Forum untuk mendalami Pantja azimat revolusi, dimana Dirkop² dari Pusat sampai daerah² diseluruh Indonesia dipanggil untuk mengikuti indoktrinasi dalam forum tsb.
Sebagai realisasi daripada resolusi Munaskop ke-II jang tidak mengakui lagi Dr. H. Moh. Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia, maka monumen perletakan batu terachir Gedung Pendidikan GKBI di Pantjoran jang perletakannja dilakukan oleh Bapak Dr. H. Moh.
Mesin Central Air Conditioning P.C. GKBI Medari.
Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia dan waktu itu masih mendjabat Wakil Presiden R.I. telah didongkel oleh Mahasiswa Akop golongan CGMI dan GMNI tgl. 25-8-'65 jang selandjutnja batu terachir itu diserahkan kepada Soebijakto SH selaku Pembantu Menteri Transkop dengan sambutan kata pudjian terhadap para pedongkel itu bahwa ini suatu perbuatan heroik, jang perlu dikembangkan.
Semangat bergelora dari pendongkel² ini merajap terus dengan mentjari waktu jang sepi hingga dapat mendongkel batu terachir jang ada di Gedung GKBI Pusat, sajang kebiadaban mereka hingga saat ini dan mungkin seterusnja tidak pernah berhasil.
e. Sebagai realisasi dari putusan Munaskop ke-II atas instruksi Menteri Achadi melalui radiogramnja Wakil dari Koperasi Batik Primer dipanggil ke Djakarta, dimana GKBI setjara tiba² dipaksakan mengadakan rapat anggota istimewa, bertempat di Restoran Anedja Senajan tgl. 6, 8 dan 9 September 1965.
Dalam Rapat ini adalah merupakan ”show of force” jang ke-II dari pihak Dep. Transkop /Dirkop bahkan lengkap dihadliri oleh
Mesin Trane Centravac dalam ruang A.C.
Salah satu Mesin Diesel P.C. GKBI jang menggerakkan seluruh roda kegiatan pabrik ini.
Pedjabat² Dirkop seluruh Indonesia jang baru sadja selesai digodog dalam Forum mendalami Pantja Azimat Revolusi dan pula dihadliri oleh Ormas terutama dari golongan Ormas² Gestapu/PKI dan Ormas/plin-plan.
Disinilah Menteri Achadi mentjurahkan konsepsi jang telah disiapkan akan ditrapkan dalam tubuh GKBI jang dituangkan dalam kata sambutannja. Selandjutnja tampak lebih djelas lagi peranan Soebijakto SH jang oleh Menteri Achadi diserahkan untuk memimpin rapat anggota GKBI tsb. menggunakan kekuasaannja sebagai atas nama Pemerintah menekan rapat sehingga utusan² dari Primer tidak diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat²/pandangan-pandangan/usul²nja setjara bebas dan objektip.
Menara Air P.C. GKBI Medari.
Hasil dari rapat ini oleh Soebijakto SH dibentuk suatu Team Mandataris RTA jang anggotanja terdiri dari wakil² Primer jang nantinja bertugas membawa suara anggota berkonsultasi dengan Menteri Achadi didalam menjusun kepengurusan GKBI.
Hasil RTA tanggal 28/29 Djuli 1965 di Puri Ekawarna atas
saran² dn tekanan² jang diberikan kepada Rapat Anggota Luar Biasa GKBI supaja dibatalkan dan menetapkan „suatu team RALB” jang mengadakan konsultasi dengan Menteri Transkop, persoalan personalia dan komposisi pengurus serta rentjana kerdja GKBI selandjutnja. Team RALB GKBI terdiri dari wakil² daerah/primer jaitu: Mucahri Hs (Djawa Timur), Asmuni Fattah (Solo), Atmohartono (Jogjakarta), M. Tathin Djahri (Pekalongan) dan G. Suganda (Djawa Barat).
Pertemuan antara Team RTA dan Menteri Transkop baik di Departemen dan dilandjutkan dirumahnja belum/tidak djuga menghasilkan suatu keputusan, karena dari pihak Team Mandataris RTA tetap berpegang teguh pada hasil rapat anggota di Puri Ekawarna
Gedung Wisma Sardjaaa di Djalan Demangan Baru 5 Jogjakarta, dibangun oleh GKBI tahun 1962. Asrama ini dibangun untuk menampung anak² keluarga batik, terutama jang melandjutkan studinja di Perguruan² Tinggi Jogjakarta.Tgl. 28/29 Djuli 1965, dimana pada hakekatnja kepengurusan GKBI telah terbentuk.
Tetapi Menteri Achadi dengan Soebijakto SH sebagai pemegang peran utamanja tidak mau menerima kehendak/aspirasi jang sesungguhnja dari suara anggota jang dibawa oleh Team Mandataris RTA itu, maka achirnja dicjatuhkan ponis oleh Menteri Achadi dengan suatu surat keputusan No. 0062/tahun 1965 tentang pengambilan alih pimpinan GKBI jang sangat se-wenang² itu.
Pimpinan Care taker GKBI angkatan Menteri Moh. Achadi ialah: Ketua Umum Menteri Transkop, Ketua I s/d III: H.A. Achsien, Tan Djun Tat dan Drs. A. Sadikun Kompol. Tk. I, Penulis I/II: Moh. Hartono B.A. dan H.A. Fattah Sjakur, Bendahara I/II: Muchari Hs, dan Drs. A. Markam dan Komisaris Umum: Abdullah Bari, Sunarto dan S. Harman. Disamping ini diangkat pula beberapa orang Komisaris daerah jaitu: Badruddin, M. Tathin Djahri, H.
Maket Gedung Planetarium dibangun di Kebon Binatang Tjikini Djakarta. Biaja pembangunan gedung dibebankan pada GKBI, rentjana biaja tahun 1964 Rp. 1,67 milliard. Perletakan batu pertamanja oleh ex. Presiden Ir. H. Sukarno. Waktu GKBI dibawah pimpinan ex. Menteri Transkop Drs. Moh. Achadi tahun 1965/1966 uang GKBI jang dihambur-hamburkan untuk project ini ± Rp. 11 milliard (UL) dan pembangunan belum selesai.
Project ini dilandjutkan oleh Pemerintah DCI Djakarta Raya.
Aliatmodjo, Drs Sujanto, Effendi Anwar. Disamping aparatur ini, diangkat pula Team Pembina GKBI dan Team Mandataris Anggota.
Perlu diketahui bahwa pengambil alihan kepengurusan GKBI praktis GKBI seolah-olah sudah mendjadi bagian dari aparatur Transkop, sehingga mengenai publikasi dari usaha GKBI setjara legal, pada waktu itu beralih langsung/dilakukan oleh Dep. Transkop.
f. Untuk mengimbangi publikasi dari Transkop jang selalumembawa suara sumbang dan bertentangan dengan kenjataan jang ada, maka Sekretariat Pengurus GKBI memberanikan diri mengadakan hubungan dan kerdjasama dengan wartawan² dari beberapa surat kabar/harian Ibu Kota a.l. Suara Islam, Nusa Putra, Api Pantjasila, Mertjusuar. Berita Yudha, Sinar Harapan dan Angkatan Bersendjata serta RRI Djakarta.
g. Selanujutnja menjusul kedjadian² jang berikut. Pengambilan alih Pimpinan/Kepengurusan GKBI dan dibentuknja Pengurus Care Taker GKBI jang dipaksakan oleh Menteri Achadi dengan surat Keputusan No. 0062/tahun. 1965.
Timbang Terima antara Pengurus GKBI (cq. Ketua I A. Djoenaid) dan Menteri Achadi, Ketua Umum Gerakan Koperasi di Departemen Merdeka Timur Djakarta tanggal 13 September 1965 (show of force ke III).
Briefing antara Menteri Achadi dan Petugas Planetarium beserta Karyawan GKBI di Kantor Pusat tanggal 14-9-1965.
Pagi hari timbang terima antara Ketua I GKBI (A. Djoenaid) dan Pengurus Darurat GKBI (H.A. Achsien) disaksikan oleh Menteri Achadi dan Kep. Dinas Reserse Kedjaksaan Tinggi DCI Djaja Himawan SH dan Kepala Staf BPI Brigdjen. Pol. R. Sutarto di Kantor Pusat GKBI tanggal 14-9-1965.
Malam hari: Perkenalan antara Pengurus Darurat dan Pengurus Primer jang waktu itu sedang mengikuti MUBESAN I di Kantor Pusat GKBI. tanggal 17 September 1969.
Pertemuan antara Pengurus Darurat dan Para Karyawan GKBI di Kantor Pusat pada tgl. 28-9-1965.
Presiden PBR pada pagi hari Kamis tanggal 30 September 1965 djam 12.00 dengan didampingi oleh K.H.A. Badawi Ketua Umum Muhammadijah, Dassaat Anggota D.P.A., mengkonfrontir Ketua I GKBI H.A. Djunaid dan Menteri Transkop Drs. Moch. Achadi jang diikuti oleh Subiakto SH Pembantu Chusus Urusan Gerakan Koperasi, bertempat di Istana Negara, Setelah Presiden/PBR mendengar alasan² kedua belah pihak, beliau berdjandji akan memberikan keputusan dalam waktu satu minggu. Malamnja Presiden/PBR berpidato di Istana Olah Raga Senajan dimuka peserta² Musjawarah Kerdja Teknik Seluruh Indonesia. Pagi² hari Djum'at djam 07.00 melalui siaran RRI. Djakarta dalam siaran warta-berita, masjarakat Djakarta chususnja dan Indonesia umumnja jang mendengar siaran itu terkedjut, bahwa ada perebutan kekuasaan jang dilakukan oleh Dewan Djenderal, dan terdjadi pentjulikan dan pembunuhan kedjam terhadap Djenderal² dari golongan jang mempertahankan Sukarno. Rakjat gelisah dan saling tanja-menanja bagaimana kedjadian jang sebenarnja. Setelah mendengar siaran RRI siang djam 13.00 dan 14.00 dimana diumumkan nama² Anggota Dewan Revolusi dan Bung Karno tidak termasuk didalamnja. Rakjat „Pantjasilais” setelah mendengar pengumuman itu tidak pertjaja bahwa, Dewan Djenderal mengadakan perebutan kekuasaan. Ketjurigaan rakjat ini terbukti malamnja, setelah
Anggota KAPPI dan KAMI sedang mengadakan persiapan untuk mengadakan demonstrasi ke Departemen Transkop Oktober 1965. Keterangan gambar dari kiri kekanan: berdiri No. 3 ialah Sdr. Taufiq Ismail dan jang pakai petji Moh. Hadi Tauhbid dari Sekretariat Pengurus GKBI.mendengar pidato Djenderal Suharto melalui RRI Djakarta, bahwa jang mengadakan perebutan kekuasaan bukan Dewan Djenderal, tetapi sebaliknja ialah GESTAPU/PKI jang terkutuk itu.
Rakjat Djakarta jang anti Gestapu menjatukan diri dalam satu Rapat Pengganjangan Gestapu tgl. 4-10-1965 di Taman Sundakelapa.
Karyawan GKBI jang merasa, GKBI telah kena sasaran Gestapu ikut dalam Rapat Pengganjangan tsb. jang diwakili oleh Sdr. Moh. Hadi Tauchid.
Pengurus Care Taker GKBI mengusahakan adanja Rapat jang akan membahas masalah Pabrik di Bandung, rapat ini tidak djadi.
Pada tgl. 2 Nopember '65; 29 dari 40 Primer GKBI didorong oleh kesadaran jang mendalam dan iktikad jang baik didalam usaha membantu Pemerintah untuk mentjiptakan suasana tertib dan tenang serta kewadjiban untuk meningkatkan produksi dibidang sandang, maka diadjukanlah satu surat permohonan kepada Menteri Achadi agar
Eksponen ORDE BARU dari KAPPI dan KAMI sedang mendengar pidato sambutan dari Menteri Trapskop Moh. Achadi, slogan jang dibawa mereka„ Amankan GKBI dari tjengkeraman kaki tangan GESTAPU dan kembalikan kepada jang berhak” dan slogan satu lagi ialah „Bersihkan dan kembalikan Gerakan Koperasi kerelnja”.
103
segera masalah GKBI diselesaikan dalam forum Rapat Anggota GKBI.
Iktikad baik dari Primer² tsb. diatas, oleh Menteri Achadi dan Pengurus Care Taker GKBI dianggap suatu perongrongan terhadap kebidjaksanaan dan kewibawaan Pemerintah.
Panggilan dan keputusan Pengurus Care Taker GKBI terhadap Primer² jang menandatangani surat permohonan ttg. 2 Nop. 1965 dengan intimidasi dan antjaman sbb :
tidak mengakui Kepengurusan Primer jang personalianja dan bentuk serta tindak tanduknja seperti sekarang ini.
menghentikan djatah mori dll. jang biasanja diterima.
Primer tsb. diwadjibkan menjetor batik² wadjib jang morinja sudah diterima terdahulu dan melarang mengadakan sabotage dibidang batik sandang.
Primer tsb. harus menghadap Ketua I, Pengurus Care Taker, dengan dalih atau tuduhan sebagai kontra revolusioner, sehingga kepada Primer² jang datang menghadap dipaksakan agar membuat pernjataan tertulis untuk mentjabut tanda tangan dalam surat ttg. 2 Nopember 1965 dan tetap mendukung kebidjaksanaan putusan 0062/1965.
Hasilnja ialah ada 21 Primer jang menerima baik antjaman dan intimidasi Menteri Achadi dan menarik kembali tanda -tangan jang dibubuhkannja dalam surat permohonan tanggal 2 Nopember 1965.
1966 : 18. Pada tanggal 11 Pebruari 1966 Menteri Achadi mengeluarkan Surat Keputusan No. 007/1966 tentang penjelenggaraan Rapat Anggota GKBI/Primer², dengan disertai peraturan² No. 1 dan No. 2 tentang pola organisasi dan usaha GKBI dan kebidjaksanaan pengorganisasian koperasi batik, termasuk perobahan A.D. GKBI dan Primer² jang akan dipaksakan dalam R.A. Rapat Anggota Primer'. GKBI jang diatur dengan S.K. 007/1966 direntjanakan akan menghasilkan susunan pengurusnja terdiri dari orang² jang ditundjuk dan disetudjui oleh Menteri Achadi.
Dari pertengahan Pebruari s/d pertengahan Maret 1966.
Pengurus Care taker beserta dengan Pedjabat² Dirkop Pusat dan Daerah mengadakan turba untuk mengadakan rapat² anggota di Primer² sebagai persiapan menghadapi R.A. GKBI jang waktunja belum lagi ditetapkan setjara pasti. Sebagai hasil turbanja telah diambil pula suatu tindakan gegabah dengan memetjat A. Djunaid dari A. Mutawgli masing² selaku Ketua dari Kop. Batik PPIP dan Batari sebagai tindakan tahap pertama dan akan dilantjarkan pada tahap berikutnja dengan mengadakan tindakan terhadap Pengurus² atau oknum² dari Primer² jang dianggap merintangi/menghambat kelantjaran daripada pelaksanaan keputusan 007/1966.
19: Tgl. 11 Maret 1966 Surat Perintah Presiden/Pangti ABRI/Mandataris MPRS kepada Menteri PANGAD Let. Djen. Suharto jang di-follow-up-i dengan dikeluarkaonja keputusan² dan pengumuman² Presiden No. 1, 2, 3, 4 dan S5 a.l. tentang :
No. 1.: Pembubaran PKI dan Ormas²nja diseluruh Indonesia dan menjatakan Partai dan Organisasi terlarang diseluruh wilajah Indonesia
2.: Perintah pada Perguruan² Tinggi dan sekolah² supaja membuka sekolah kembali. 3.: Pengangkatan Let. Djen, Hidajat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi a.i. 4.: Pengangkatan Menteri² a.i. karena banjaknja Menteri jang diamankan: 5.: Pengamanan terhadap 15 orang Menteri² ex. Kabinet Dwi Kora.
Dalam mengisi kekosongan di Departemen Koperasi/Transmigrasi jang Menterinja termasuk salah seorang jang diamankan, maka diangkat Bris. Djen. Drs. A. Sukendro sebagai Menteri a.i
Sebagai realisasi didalam membersihkan Dept. Transkop dari dominasi rezim Achadi dan oknum² Gestapu/PKI, maka dibentuk Care taker jang diketuai oleh Bapak Sempu Muljono.
Dan dalam rangka penertiban dan pembersihan Gerakan Koperasi dari unsur² Gestapu/PKI dan antek²nja, pimpinan Dept. Transkop menganggap perlu untuk segera menjelesaikan masaalah GKBI dan Primer²nja dan sekaligus merupakan titik tolak didalam usaha mengembalikan koperasi pada proporsi jang sebenarnja sesuai dengan azas² koperasi jang wadjar,
a. Tanggal 17 Maret 1968 Petugas² Sekretariat Pengurus GKBI baik jang tergabung dalam Gerakan Buruh Batik Sarbumusi dan Kring Sandang Serbium-GASBIINDO serta KAPPI/PN, didorong oleh kesadaran untuk mengembalikan GKBI kepada jang berhak mengadakan konsultasi dengan A. Mutawali di Mess Senopati dan mengadjukan rentjana untuk mengambil alih GKBI. Selandjutnja atas nama segenap Karyawan akan menjerahkan GKBI kepada Menteri a.i. dan menje lesaikan selandjutnja melalui prosedure jang wadjar sesuai dengan azas2koperasi.
Keputusan Menteri Transmigrasi/Koperasi a.i. (Brig. Djen.Drs. A. Sukendro) pada tgl. 25-3-1966 No. 001/Kpts/a.i./1966 jang
mentjabut keputusan No. 0062/1965 dan 007/1966 jang dikeluarkanoleh Menteri Moh. Achadi serta membentuk Team Care Taker dalamlingkungan GKBI jang diketuai oleh Ir. Ibnoe Soedjono dengan tugasdan wewenang untuk mengadakan penertiban/Pengamanan dan lain2 dalam batas waktu selambat-lambatnja 1 (satu) bulan, harus sudah menjelenggarakan RA. GKBI, untuk pilihan Pengurus setjara demokrasi.
Perobahan susunan Kabinet Dwikora jang lebih disempurnakan, tgl. 27-3-1966 dimana Departemen Transkop dihapus dan urusan koperasi dimasukkan dalam Kementerian Perdagangan dan Koperasi dengan mengangkat Brig. Djen. Achmad Tirtosudiro sebagai Deputy Menteri Koperasi.
Tgl. 28-3-1966 Penjelenggaraan serah terima djabatan dari Pengurus Care Taker kepada Team Care Taker GKBI, jang dihadiri pula oleh Care-taker Transkop dan Kepala Direktorat Koperasi dikantor Pusat GKBI.
Tgl. 28 & 29-3-1966 sebagai follow-up dari pada keputusan No. 001/Kpts/a.i./1966: Care taker Departemen Transmigrasi dan Koperasi mengeluarkan instruksi kepada Direktorat Koperasi seluruh daerah jang ada Primer2 GKBI, agar mengembalikan kepengurusan
koperasi² batik kepada kedudukan seperti sebelum adanja keputusan No. 007/1966, dan penjelenggaraan rapat2 anggota primer untuk pemilihan Pengurus Baru.
Team Care Taker GKBI mengeluarkan keputusan tentang peng angkatan Team Pemeriksa GKBI berfungsi sebagai asistensi Team Care Taker dan jang anggota²nja diambilkan dari wakil² primer, dengan tugas mengadakan pemeriksaan dan mengumpulkan data2mengenai GKBI selama dipegang oleh Pengurus Care Taker angkatan rezim Achadi.
Tgl. 8 April 1966 dikeluarkan Keputusan oleh Menteri Perdagangan No. 001/Kpts/a.i./1966 jang menetapkan:
pimpinan GKBI sementara dipegang oleh Deputy Menteri Koperasi.
dibentuk Team Pembantu Pimpinan Deputy Menteri Koperasi di GKBI untuk mendjalankan tugas sehari-hari.
Menjelenggarakan Rapat Anggota GKBI pada tgl. 30 April 1966.
Oleh Deputy Menteri Koperasi dikeluarkan Keputusan No. Kep.001/4/1966 tentang pembentukan Team Pengawas R.A. Primer² GKBI jang anggotanja diambil dari unsur², Pedjabat² Dirkop, wakil²Primer GKBI dari golongan Muhammadijah dan NU.
Pembukaan RA. Luar Biasa GKBI tgl. 30 April 1966 dikantor GKBI Pusat jang dihadiri oleh segenap Utusan Primer, para undangan, Team Pemeriksa dan Team Pengawas R.A. Primer. Dimana pada malam itu Men. Perdagkop, Ketua Team Care Taker Transkop(Sempu Moeljono) Ketua Umum Gerkopin (Brigdjen Rahardjo) Deputy Menteri Perindustrian Textile (Ir. Safiun) dan Deputy Menkop. (Brigdjen A. Tirtosudiro) memberikan fatwa² dan kata² sambutan sebagai bekal untuk menghadapi R.A. GKBI keesokan harinja.
Pembukaan R.A. ini didahului dengan laporan Pimpinan Harian TPP Dep.Menkop (Ir. Sudjono) tentang penjelenggaraan R.A. Luar biasa.
Tgl. 1 Mei 1966 peristiwa bersedjarah dalam rapat anggota luar biasa GKBI dengan pimpinan bidjaksana jang dipegang oleh Dep. enkop. Brigdjen A. Tirtosudiro dan pandangan²/usul² konstruktip dengan penuh toleransi dari para pembitjara wakil² dari Primer² GKBI, maka terbentuklah susunan kepengurusan dan Badan Pemeriksa GKBI jang pemilihannja dilakukan oleh anggota dari anggota untuk anggota setjara langsung bebas rahasia tanpa adanja tekanan² dari golongan dan pihak manapun.
Pengurus jang terpilih ialah:
Ketua Umum: H.A. Djunaid, Ketua I/II: H.A. Mutawali dan H. Badruddin, Penulis I/II: H. Usman Djauhari dan H. Zuber Kohari, Bendahara I/II: Drs. H. Mardjuki Mahdy, dan H. Sjofwan Sjukri. Komisaris sebanjak 12 orang jaitu: A. Somad Mugny. E. Ramelan, Masina, K.H. Sjafei, H. Choudori, H. Hisjam Basuni, Chamin Prawirohartono, Moh. Ardani, H. Aliatmodjo, A. Marwan, Moh. Ngadenan. Dan Achmadun Sjakir. Anggota Badan Pemeriksa sebanjak 21 orang di Koordinir oleh Asmuni Fattah dan Sekretaris/Pelopor Sugiartono.
Perlu ditjatat disini, bahwa sebelum Pimpinan rapat anggota GKBI (Brigdjen A Tirtosudiro) mengindjakkan pada atjara pemilihan Pengurus, maka Ir. I. Sudjono dari TPP. Dep. Menkop membatjakan surat penjerahan tugas pimpinan GKBI dari Pengurus Darurat GKBI jang ditandatangani oleh H.A. Achsin.
Malam pembukaan rapat anggota tanggal 30 April 1966 jang dihadiri oleh para peserta Rapat Anggota Luar biasa dan pedjabat² Pemerintah kesempatan ini dipergunakan oleh Karyawan mengembalikan monumen Hatta jang didongkel, oleh mahasiswa AKOP (C.G.M.I. + GMNI) .
d. Tanggal 12 Mei 1966 serah-terima djabatan TPP. Dep. Menkop, di GKBI kepada Pengurus Baru GKBI jang ditandatangani oleh Ir. I. Sudjono dan H. Badruddin jang disaksikan oleh Kep. Dirkop. dan Letkol Surjana selaku anggota TPP. Dep. Menkop, diadakan dikantor GKBI Pusat.
Maka setelah serah terima djabatan tsb. setjara resmi berachirlah persoalan GKBI dan kembali dipegang oleh anggota² jang berhak dan dengan demikian pula usaha Pemerintah Kem. Perdagkop/Dep. Menkop. didalam memulihkan Koperasi pada azas² dan sendi Koperasi jang sebenarnja mendjadi suatu kenjataan dengan sukses dan gemilang.
20. Setelah GKBI kembali kepengurusannja ditangan pengurus jang betul² setjara langsung dipilih oleh para anggauta GKBI maka segeralah dimulai merentjanakan dan melaksanakan semua tindakan² jang dianggap perlu oleh pengurus baik dibidang Organisasi maupun dibidang usaha.
Kesemuanja dimaksudkan agar segala sesuatunja di GKBI dapat bekerdja setjara lebih efficient dan betul² sesuai dengan azas dan sendi koperasi jang sebenarnja, mengingat hal² tsb. telah dirusak oleh adanja tindakan²
rezim orde lama jaitu dengan adanja pengambil alihan kepengurusan GKBI oleh Menteri Transkop orde lama Achadi. Oleh karena itu maka dalam tahun itu djuga telah disusun program kerdja GKBI untuk tahun 1966 - 1968 sbb.:
Mempergiat dan mempertinggi pendidikan dibidang ediil koperasi dan kedjuruan. Gambar bersama Pengurus GKBI tahun usaha 1966/1968 jang dipilih dalam RTA tanggal 1 Mei 1966 di Djakarta. Gambar ini diambil ditangga depan Kantor GKBI Pusat Djalan Djend, Sudirman No. 28, tanggal 19 Agustus 1968. Keterangan gambar dari kiri kekanan berdiri didepan: Pengurus Harian. H. Zuber Kohari, H. Usman Diauhuri, H.A. Mutawali, H.A. Djunaid, H. Badruddin, Drs. H. Mardjuki Mahdy, H. Sjofwan Sjukri. Gambar belakang dari kiri kekanan Komisaris: A. Marwan Asjhuri, Masina, H. Choudori, Chamim Prawirobartono, H. Hisjam Basuni, Moh. Ardani Z. K.H. Sjafi'i, Achmadun Sjakir, Somad Mugni dan H. Aliatmodjo, Sdr. Moh. Ngadenan Komisaris tidak hadir.Gambar bersama Anggota Badan Pemeriksa GKB1 tahun 1966/68 sebanjak 21 orang jang mewakili 21 Primer dan dikoordinir oleh Asmuni Fattah dari Koperasi Sidoluhur dan Pelapor Sugiartono dari Koperasi Batik PBB Bojolali.
Penjempurnaan penjaluran bahan baku kepada primer² (distribusi).
Memperluas pabrik Cambric GKBI di Medari terutama dibagian pemintalan (spinning).
Penghematan disegala bidang.
Mengadakan kerdja sama antar koperasi, Gerkopin, karyawan GKBI, Perusahaan Negara dan Swasta.
Memperkembangkan olah raga.
Dalam tahun 1966 jang perlu ditjatat lagi ialah perkembangan² jang berikut.
GKBI ikut serta setjara langsung dalam musjawarah gerakan koperasi jang menghasilkan terbentuknja Gerkopin (Gerakan Koperasi Indonesia ) sebagai salah satu perwudjudan dari usaha² untuk mengembalikan gerakan koperasi Indonesia keazas dan sendi dasar koperasi jang sebenarnja.
Pada bulan Oktober 1966 keluar peraturan pemerintah jang menjangkut bidang ekonomi dan keuangan. Dan dengan itu mulailah masa penjesuaian untuk meninggalkan sistim ekonomi terpimpin orde lama/ etatisme, dengan mengutamakan terutama kepentingan rakjat banjak.
1967 : 21. Dalam tahun 1967 sesuai dengan program jang telah digariskan mulailah dilaksanakan usaha² jang berikut:
Penghematan disegala bidang
Meningkatkan efficienci kerdja GKBI dengan mengubah dan memperbaiki tata susunan Organisasi intern / tata kerdja GKBI.
Mulai melaksanakan rentjana perluasan P.C. GKBI Medari dengan membangun lebih dulu gedung induk serta gudang kapas untuk pabrik baru jang direntjanakan sebesar 30.000 mata pintal. Rentjana beajanja ± 2½ djuta US$ untuk mesin tekstil lengkap dengan general Machinaris (diesel dsb.nja ).
Mengadakan suatu diskusi antara segenap anggauta GKBI dengan pengurus GKBI dengan thema pengembangan koperasi batik GKBI jang hasil nja sangat berfaedah dalam usaha GKBI untuk melantjarkan pelaksanaan tugasnja dibidang usaha maupun idiil.
Menjelenggarakan Musjawarah kerdja pertekstilan bersama² dengan Organisasi dibidang perstekstilan lainnja dalam bulan Oktober 1967 jang menghasilkan a.l. terbentuknja Madjelis Industri Tekstil Indonesia sebagai wadah dari segenap Organisasi² Pertekstilan Indonesia.
Ikut serta setjara aktif dalam penggodogan rentjana U.U. tentang pokok² Perkoperasian bersama dengan induk² koperasi lainnja dalam Gerkopin dan pemerintah sehingga achirnja pada bulan Desember 1967 keluarlah U.U. No. 12 th. 1967 tentang pokok Perkoperasian jang mengachiri situasi jang tidak enak bagi gerakan koperasi Indonesia mengingat U.U. jang ada sebelum U.U. No. 12/1967 adalah tjiptaan rezim ORLA (U.U. No. 14/th. 1965).
1968 : 22. Selama setengah tahun pertama tahun 1968 ini GKBI telah mengambil tindakan² landjutan dibidang penghematan. Segera dilakukan perobahan Tata kerdja GKBI jang disesuaikan dengan perubahan² dilapangan ekonomi keuangan dewasa ini. Dimulai dalam tahun 1967 dan terus dilandjutkan selama ini berbagai usaha dan imbangan dengan pihak luar negeri untuk pelaksanaan perluasan Medari dengan memanfaatkan kesempatan jang dibuka oleh adanja U.U. Penanaman Modal asing. Jang perlu dikemukakan lagi ialah bahwa GKBI :
dalam awal tahun 1968 telah mengadakan diskusi tentang azas² pokok koperasi jaitu tentang Rochdale - Principle dan terutama ditindjau dari segi pengetrapannja di Indonesia.
mengikuti konperensi ICA tentang pendidikan di Kuala Lumpur.
mengadakan penjesuaian Anggaran dasarnja berdasar U.U. No. 12 tahun 1967.
mengadakan diskusi sandang bersama Koptexi di Bandung guna meningkatkan usaha2 gerakan koperasi dibidang sandang.
Kegiatan GKBI dibidang idiil.
Pengurus terdiri GKBI dari: Ketua Umum, Penulis II dan Bendahara II, sedang berkundjung dikantor Gubernur DCI Djaya, H.A. Djunaid sedang berdjabat tangan dengan salah seorang Pendjabat DCI DjayaKetua Umum GKBI H.A. Djunaid sedang menandatangani surat penjerahan sumbangan uang sebesar Rp. 100.000,— untuk Projek Pentjegahan Bandjir di Djakarta, disaksikan oleh Bapak Gubernur DCI Djaya.Ketua Umum GKBI sedang menjerahkan cheque seharga Rp. 100.000,— dan berdjabat tangan dengan Bapak Madjen, KKO Ali Sadikin Gubernur DCI Djaya
H.A. Djunaid Ketua Umum
Pengalaman di koperasi : 1952/1968 : Salah seorang pendiri Koperasi Batik PPIP Pekalongan dan mendjadi Ketua Umumnja sampai sekarang. 1952/1953 : Mendjadi anggota dan verificatie Komisaris comisi N. V. BTC. 1955/1965 : Ketua I GKBI. 1966/1968 :Ketua Umum GKBI. 1955/1961 : Bendahara Dewan Koperasi Indonesia. 1961/1966 : Ketua Seksi EKOKSI Bidang Industri. 1958/1965 : Pendiri dan Ketua Bank Koperasi Indonesia. 1966/1968 : Bendahara Gerakan Koperasi Indonesia Pengalaman Organisasi Ekonomi lainnja : 1961/1965 : Anggota Pengurus Organisasi Gabungan Perusahaan Sedjenis Tekstil dan Ketua O.P.S. Batik.
1966/1968 : Anggota Presidium Madjelis Industri Tekstil Indonesia.
Pengalaman dibidang organisasi sosial dan pendidikan :
Ketua Jajasan Maähad Islam Pekalongan, Andala Nasional Gerakan Pramuka Indonesia, Semasa perdjuangan kemerdekaan aktip dalam Gerakan Pemuda. Anggota Pengurus Jajasan Rumah Sakit Islam Djakarta.
Pengalaman dunia internasional :
Oktober 1958 : Berkundjung ke India atas nama delegasi Departemen Perekonomian bersama -sama Ir. Sudibio, Drs. Zakaria Raib memenuhi undangan Far Eastern Agencies (F.E.A.).
Nopember 1958 : Memimpin delegasi GKBI bersama-sama Pedjabat Departemen Perekonomian mengundjungi Djepang dalam rangka pemesanan mesin P.C. GKBI Medari.
April 1959 : Bersama- sama delegasi Departemen Perekonomian dan GKBI ke Djepang dalam rangka pemesanan mesin2 P.C. GKBI Medari dan Pabrik Tekstil Primer GKBI. 1967 : Berkundjung kenegara-negara Djepang, Mesir, Djerman, Nederland dan Amerika, bersama Ir. Safiun dari Departemen Perindustrian Tekstil, dalam rangka mentjari kredit untuk perluasan P.C. GKBI Medari dan marketting batik.
1959 dan 1966 : Dalam rangka menunaikan Rukun Islam kelima
ke Mekkah.
Pendidikan : A.E.S. tahun 1937.
H.A. Mutawali Ketua I
Pengalaman dalam dunia koperasi : Djanuari 1953 : Masuk anggota Koperasi Batik BATARI Solo. 1952/1953 Mei 1953 : Mendjabat Penulis II BATARI. Mei 1954 : Mendjabat Ketua II BATARI. 1955/1968 : Mendjabat Ketua I BATARI. 1963/1965 : Mendjabat ketua II G.K.B.I. 1966/1968 : Mendjabat Ketua I G.K.B.I. Pengalaman dalam organisasi lain : 1945-1949 : Aktip berdjuang dalam Kesatuan Pemuda Islam Surakarta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 1951 : Merdjadi Penulis Panitia Padjak Koperasi dan Pengusaha Batik. Pengalaman luar negeri 1959 : Mengundjungi Djepang ber-sama² delegasi H.A. Mutawali Ketua I GKBI dan Departemen
Perekonomian dalam rangka pemesanan mesin² P.C. GKBI dan Primer².
1966/1967 : Memimpin delegasi dalam Bangkok Fair. Menunaikan Rukun Islam kelima ke Mekkah. Pendidikan : M.U.L.O. tahun 1941 .
H. Badruddin Ketua II
Pengalaman dalam dunia koperasi : 1. 1954-1968 : Ketua Koperasi Batik Mitra Batik Tasikmalaja. 2. 1955 : Bendahara I GKBI 3. 1956-1963 : Ketua Il GKBI. 1955/1968 : Mendjabat Ketua I BATARI. 1963/1965 : Mendjabat ketua II G.K.B.I. 4. 1966-1968 : Ketua II GKBI. Pengalaman dalam organisasi sosial dan pendidikan : 1. 1957 : Menindjau Pabrik Mori di India dan Djepang 2. 1958 : Ikut djadi anggota Delegasi Dewan Koperasi Indonesia (DKI ) ke Rusia.
3. 1961 : Djadi anggota Trade Delegation Formation jang dipimpin oleh Deperdagangan ke Eropa, Inggeris dan mengundjungi Leipzige Trade Fair di Djerman Timur.
4. 1962 : Mengadakan hubungan dagang (mentjari pasaran batik) ke Singapore jang dilandjutkan ke Eropa dan Inggeris untuk berhubungan mengenai tjat² batik .
IV . PENDIDIKAN
1. Pesantren .
2. Darul Ullum Madjalengka .
H. Usman Djauhari Penulis I
Pengalaman dalam dunia koperasi : 1947 - 1968 : Salah seorang pendiri dan Pengurus Koperasi BAKTI Ponorogo 1963 - 1965 : Penulis Il Koperasi Pusat G.K.B.I. 1966 - 1968 : Penulis I Koperasi Pusat G.K. B.I. Pengalaman dalam organisasi lain : 1945 - 1949 : Aktip berdjuang mempertahankan kemerdekaan dalam kesatuan Pemuda Islam.
1949 - 1968 : Aktip dalam Organisasi Muhammadijah Ponorogo.
Pengalaman luar negeri :
1966: Anggota delegasi GKBI ke Bangkok Fair.
1967 - 1387 : Menunaikan Rukun Islam kelima ke Mekkah .
1968: Mengikuti Konperensi Pendidikan I.C.A. di Kuala lumpur atas nama GKBI bersama² wakil GERΚΟΡΙΝ.
Pendidikan : M.U.L.O. tahun 1942 dan MUALIMIN Jogjakarta tahun 1945.
H. Zuber Kohari Penulis II
Pengalaman dalam dunia koperasi : 1947 : Masuk anggota Koperasi Batik PPBI. 1948 - 1952 : Pembantu Pengurus dan Ketua III PPBI. 1953 - 1954 : Wk. Ketua Dewan Perwakilan Anggota PPBI. 1955 - 1957 : Wk. Ketua Badan Pengawas PPBI. 1958 - 1964 : Anggota Pengurus Pleno PPBI. Wk. Ketua Badan Musjawarah. 1965 - 1968 : Ketua Koperasi Batik KARANG TUNGGAL. 1966 - 1968 : Penulis Il Koperasi Pusat GKBI. Pengalaman dalam organisasi lain :
1957 - 1958 : Anggota Pengurus D.E.I. Daerah Istimewa Jogjakarta.
1960 - 1964 : Anggota Pengurus D.P.P. Daerah Istimewa Jogjakarta.
1965 - 1968 : Ketua Madjelis Ekonomi Muhammadijah D.I. Jogjakarta.
Pengalaman luar negeri :
1959 - 1379 : Menunaikan Rukun Islam kelima ke Mekkah.
1967: Anggota Trade Fair GKBI ke Singapura,
Pendidikan : K.W.S. Muhammadijah/Mualimin Jogjakarta .
Drs. H. Mardjuki Mahdy Bendahara I
Pengalaman dalam dunia koperasi : 1. 1952 : Pendiri dan Ketua Koperasi Pengusaha Kapur Klaten. 2. 1957 : Pendiri dan Ketua koperasi Tembakau PUTRA Klaten. 3. 1961 - 1968 : Pendiri dan Ketua Koperasi Batik BAKA Klaten. 5. 1966 - 1968 : Bendahara I GKBI. 4. 1963 - 1965 : Anggota Badan Pemeriksa GKBI. Pengalaman diorganisasi sosial dan pendidikan : 1. Ketua Madjelis Perguruan Tinggi Muhammadijah. 2. Ketua Pembina Universitas Islam Klaten.
Pengurus Pimpinan Muhammadijah Klaten.
Pengurus HUSAMI Pusat,
Pengalaman dibidang internasional :
Menunaikan ibadah hadji tahun 1967 .
Delegasi GKBI ke trade fair Singapura 1968.
Pendidikan : Sardjana lengkap.
H. Sofwan Sukri Bendahara II
Pengalaman dalam dunia koperasi : 1949 : Mendjadi anggota PPB Pekadjangan. 1957 : Salah seorang pen diri Koperasi Proteksi Pekadjangan. 1966 - 1968 : Bendahara II Koperasi Pusat G.K.B.I. 1961 - 1965 : Ketua KOKSI Pekalongan 1963 - 1965 : Anggota Badan Pemeriksa GKBI. Pengalaman organisasi² sosial dan pendidikan : 1942 - 1950 : Mengadjar di SMP Muhammadijah Pekadjangan.
1959 : Anggota delegasi GKBI ke Djepang dalam rangka pemesanan mesin² P.C. GKBI dan Primer.
1965/1385 : Menunaikan Rukun Islam kelima ke Mekkah.
Pendidikan : Sekolah Guru / Mualimin Jogjakarta tahun 1942. Foto ini adalah suasana sebelum dimulainja upatjara HUT ke-XX GKBI. Tokoh GKBI dan Pengurus sekarang sedang beramah tamah: Keterangan gambar dari kiri kekanan : H. Saebani, H. Badruddin, H. Tjitrosumarto, H. Zuber Kohari, H.A. Djunaid dan A. Zarkasi Djojoaminoto.Ketua Umum GKBI H.A. Djunaid sedang menguraikan sedjarah berdirinja GKBI, dan perkembangan serta hasil jang telah ditjapai sedjak 20 tahun ini, dalam rangka memperingati 20 tahun GKBI dengan „malam tasjakuran”, jang dihadiri oleh tokoh² pendiri, wakil primer, Pemimpin² Islam dan wartawan Ibu Kota tanggal 19 September 1968 dikantor GKBI Pusat Djalan Djenderal Sudirman 28, Djakarta.Suasana peringatan Ulang tahun GKBI ke-XX dihalaman gedung kantor pusatnja Djalan Djenderal Sudirman 28 Djakarta. Keterangan gambar duduk didepan dari kiri kekanan: Sutjipto Judodihardjo, Agus Sudono, Sujadi Gitohardjo, Jusdi Gozali SH, T. Akip Tex. Ing ., H. A. Djunaid Ketua Umum GKBI, K.H. Moh. Dahlan Menteri Agama, Burhanudin Harahap SH, dan Prawoto Mangkusasmito.Bapak A. Zarkasi Djojoaminoto dari PPBI Jogjakarta sedang mengutjapkan kata sambutannja dalam memperingati Hari Ulang tahun GKBI ke-XX. Beliau adalah seorang tokoh pendiri Sarikat Dagang Islam Jogjakarta tahun 1913 dan pendiri PPBBP tahun 1934 dan pelopor pendiri GKBI tahun 1948 di Jogjakarta.Pengurus GKBI sedang membitjarakan sesuatu dalam rangka HUT ke-XX GKBI. Keterangan gambar dari kiri kekanan : Drs. H. Mardjuki Mahdy Bendahara I, H. Zuber Kohari Penulis II dan H.A. Mutawali Ketua I.Wawantjara jang diadakan oleh Ketua Umum GKBI H.A. Djunaid bersama sama dengan Tokoh² pendiri dan Pengurus² lama, dengan wartawan Ibu Kota waktu peringatan malam Tasjakur tanggal 19 September 1968 20 tahun berdirinja GKBIKetua Umum GKBI H.A. Djunaid sedang menguraikan sedjarah berdirinja dan perkembangan serta kesukaran jang dihadapi dan hasil² jang telah ditjapai GKBI sedjak 20 tahun ini didepan karyawan kantor pusat tanggal 19 September 1968, dan rentjana kerdja selandjutnja.Sdr. Wabju Kartadibrata Kepala Bagian Organisasi sebagai wakij Karyawan GKBI, sedang menguraikan peranan karyawan dalam pertumbuhan GKBI selama 20 tahun. Peringatan 20 tahun GKBI diadakan oleh karyawan dikantor pusat dan dihadiri oleb Ketua Umum dan Penulis II GKBI.Pengurus dan Badan Pemeriksa GKBI sedang mendengarkan Ketua Umum GKBI menguraikan sedjarah dan perdjuangan GKBI didepan karyawan kantor pusat tanggal 19 Oktober 1968, Keterangan gambar dari kiri kekanan: Drs. H. Mardjuki Mahdy, H. Usman Djauhari, Muchtar Muhammadi, Pinto Wijono, H. Badruddin, Ambari SR dan seorang wakil primer.
Karyawan GKBI pusat djuga ikut merajakan Hari Ulang tahun ke-XX GKBI tanggal 19 September siang dikantornja. Keterangan gambar : pembagian piala perlombaan Hari Koperasi ke-XXI dan Proklamasi ke-XXIII. Penulis II sedang menjerahkan piala bergilir djuara Bridge Hari Koperasi ke-XXI kepada pasangan B.M. Karmani/S.Luneto.
Dr. H. Moh. Hatta sebagai Penasehat Pembangunan Jajasan Rumah Sakit Islam di Djakarta, sedang diantar oleh Panitia tanggal 24 Oktober 1968 melihat pembangunan, dalam gambar Panitia H.A, Djunaid sedang menundjukan sesuatu pada Bung Hatta.
Dr. H. Moh. Hatta sedang keliling melihat project jang sedang dikerdjakan, diantara panitia pengantar nampak Pengurus² GKBI. H.A. Djunaid, H. Sofwan Sjukri dan H. Usman Djauhari.
PIMPINAN GKBI. & B.T.C.
18 September 1948—18 September 1968
I. Susunan Pengurus G.K.B.I. (18 September 1948 30 Djanuari 1953).
Berdasarkan putusan Rapat untuk mendirikan Gabungan Koperasi Batik Indonesia di Jogjakarta pada tanggal 18 September 1948.
1. Ketua I
Sdr. Kijahi M. Idris
dari P.P.B.B.S.,
Solo
2. Ketua II
„Saebani
„P.P.B.B.P.,
Jogja.
3. Penulis I
„Prijorahardjo
„P.P.B.B.S.,
Solo
4. Penulis II
„H. Muslim
„P.P.B.B.S.,
Solo
5 .Bendahara I
„Tjitrosumarto
„P.P.B.B.P.,
Jogjak.
6. Bendahara II
„Hadisandjoto
„Bakti}
Ponorogo.
7. Pembantu
„Muslani
„B. T. A.
Tjirebon.
Susunan Pimpinan „ N.V. Batik Trading Company ” (6 Des. — 24 Mei 1950).
1. Presiden Direktur
Sdr. Djohor Tajib,
Saudagar,
Djakarta
2. Direktur
„Tjitrosumarto
„
Jogjakarta.
3. Direktur
„Saebani
Partikelir
Jogjakarta.
4. Pres. Komisaris
„Mr. Harmani
„
Jogjakarta.
Susunan Pimpinan „ N.V. Batik Trading Company” (24 Mei 1950 — 20 September 1953).
Berdasarkan Putusan Rapat Umum Luar Biasa para Ahli Peserta di Djakarta pada tanggal 24 Mei1950.
1. Presiden Direktur
Sdr. Saebani
Saudagar,
Jogjakarta.
2. Direktur
„Sarwono Sarwohardjono
„
Solo
3. Direktur
„A.D. Dungga
Karyawan
Tasikmalaja
4. Komisaris sehari²
„Prijorahardjo
„
Solo
Pada tahun 1952 , susunan Direksi N.V. Batik :
1. Presiden Direktur
Sdr. Sarwono Sarwohardjono
2. Direktur I
„A.D. Dungga
3. Direktur II
„Djumhan
4. Komisaris
„Masina
Trusmi
5. „
„Chambali
Setono
6. „
„A. Baehaki
Tasikmalaja
7. „
„D. Sasmita
Tjikoneng
8. „
„A. Djoenaid
Pekalongan
9. „
„Asmudi
Wonopringgo
10. „
„Afdol Djalil
Pekadjangan
11. „
„Hasan Mihardjo
Purwokerto
12. „
„Moch. Djadjuli
Ponorogo
13. „
„Tjitrosumarto
Jogjakarta
Penasehat Pemerintah :
L. Setyoso
Mr. Arifin Harahap
Pendiri² G.K.B.I. untuk mendapatkan Hak Badan Hukum.
tanggal 30 Djanuari 1953 sbb. :
Berdasarkan putusan Rapat Pengurus di Tawangmangu pada tanggal 29 - 30
Djaruari 1953 jang disetudjui oleh Rapat Anggota di Tawangmangu pada
No.
Nama
Nama Ketjil
Bertindak atas nama Koperasi Batik:
1.
Prijorahardjo
Kusno
P.P.B.B.S.,Solo
(B.H. 454 tanggal 10-11-1937).
2.
Winotosastro
Mudjiono
P.P.B.I.,Jogjakarta
B.H. 641 tanggal 6-9-1939).
3.
Eni
Adenan
Mitra Batik,Tasikmalaja.
(B.H. 767 tanggal 28-8-1941 ).
4.
Suganda
Garnitja
C.P.B.B.,Tjiamis
(B.H. 792 tanggal 20-2-1942).
5.
Masina
Masina
Trusmi,Tjirebon.
(B.H. 324 tanggal 22 1-1936).
6.
Abd. Azis
Ma'sum
C.P.P.B.,Pekadjangan.
(B.H. 660 tanggal 2-3-1940).
7.
Rafi'i Ichsan
Rafi'i Ichsan
K.P.B. Setono,Pekalongan.
(B.H. 785 tanggal 15-12-1941).
II. Susunan Pengurus G.K.B.I. (30 Djanuari 1953 - 27 Djanuari 1955 ).
Berdasar putusan Rapat Pengurus di Tawangmangu pada tanggal 29-30 Djanuari 1953 jang disetudjui oleh Rapat Anggauta pada tanggal 30 Djanuari 1953.
1
Ketua
Sdr.
Kijai Moh. Idris
P.P.B.B.S.
Solo
2
Penulis
„
Martodiwarno
P.P.B.B.S.
Solo
3
Bendahara
„
H.A. Muslim
P.P.B.B.S.
Solo
4
Pembantu
„
Eni
Mitra Batik
Tasikmalaja
5
„
„
Suganda
C.P.P.B.
Tjiamis
6
„
„
Masina
Trusmi
Tjirebon
7
„
„
Rafi'i Ichsan
K.P.B. Setono
Pekalongan
8
„
„
A. Azis
C.P.P.B.
Pekadjangan
9
„
„
Winotosastro
P.P.B.I.
Jogjakarta
Atas andjuran Bapak Koperasi ditambah dengan tanggal 6 - 7-1934 :
Sdr. DjamhuriPonorogo.
Zein MohamadPekalongan.
H. SolichinWonopringgo .
Para Penasehat G.K.B.I. (30 Djanuari 1953 - 27 Djanuari 1955).
Berdasar putusan Rapat Pengurus di Tawangmangu pada tanggal 29 - 30 Djanuari 1953 jang disetudjui oleh Rapat Anggauta di Tawangmangu pada tanggal 30 Djanuari 1953.
1.
Penasehat Umum I
Sdr.
Prijorahardjo
P.P.B.B.S.
Solo.
*)
2.
Penasehat Umum II
„
Djajengkarso
P.P.B.I.
Jogjakarta.
*)
3.
Penasehat Hukum
„
Mr. Daljono
Solo.
*) Atas usul Rapat Pengurus dan keputusannja diserahkan kepada Pengurus Harian semufakat Kementerian Perekonomian.
Penggantian susunan Pengurus, tanggal 7-7-1954 :
1.
Ketua
Sdr.
Martodiwarno
tadinja
Penulis
2.
Penulis I
„
Winotosastro
„
Komisaris
3.
Penulis II
„
Suganda
„
Komisaris
III. Susunan Pengurus G.K.B.I. (27 Djanuari 1955 — 2 Maret 1955).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Jogjakarta pada tanggal 27 Djanuari 1955.
1.
Ketua I
Sdr.
A. Djoenaid
P.P.I.P.
Pekalongan.
2.
Ketua II
„
Abdullah
Batari
Solo.
3.
Penulis I
„
Winosastro
P.P.B.I.
Jogjakarta.
4.
Penulis II
„
A. Azis
C.P.P.B.
Pekadjangan.
5.
Bendahara I
„
Badrudin
Mitra Batik
Tasikmalaja.
6.
Bendahara II
„
Moch. Djadjuli
Bakti
Ponorogo.
7.
Pembantu
„
Abd. H. Sarmili
K.P.B.D.
Djakarta.
8.
„
„
Rafi'i Ichsan
K.P.B. Setono
Pekalongan.
9.
„
„
Masina
Trusmi
Tjirebon.
10.
„
„
G. Suganda
C.P.B.B.
Tjiamis.
11.
„
„
Ambari S.R.
Kobain
Kudus.
12.
„
„
Imam Djarkasi
Sakti
Kebumen.
13.
„
„
H. Solichin
KPPB Wonopringgo
Pekalongan.
14.
„
„
Saimun Takim
B.T.A.
Tulungagung.
1. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I. (27 Djanuari 1955 — 28 Agustus 1956).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Jogjakarta pada tanggal 27 Djanuari 1955.
1.
Sdr.
Ibnu Sujachmir
Solo.
2.
„
Moch. Djaidun
Jogjakarta.
3.
„
Djumhan
Pekadjangan.
IV. Susunan Pengurus G.K.B.I. (2 Maret 1955 — 27 Pebruari 1956).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Jogjakarta pada tanggal 2 Maret 1955.
1. Ketua I
Sdr. A. Djoenaid
dari P.P.I.P.
Pekalongan.
2. Ketua II
„Abdullah
„Batari
Solo.
3. Penulis I
„Winotosastro
„P.P.B.I.
Jogjakarta.
4. Penulis II
„H.A. Azis
„P.P.B.
Pekadjangan.
5 .Bendahara I
„Badruddin
„Mitra Batik
Tasikmalaja.
6. Bendahara II
„Moch. Djadjuli
„Bakti
Ponorogo.
7. Pembantu
„Masina
„Trusmi
Tjirebon.
8. „
„G. Suganda
„C.P.B.B.
Tjiamis.
9. „
„A. Somad Mugni
„K.P.B.D.
Djakarta.
10. „
„H. Solichin
„K.P.B.D. Wonopringgo
Pekalongan.
11. „
„Ambari S.R.
„Kobain
Kudus.
12. „
„Fachrurozy
„KPB. Setono
Pekalongan.
13. „
„Suseto Kartanegara
„Perbain
Sokaradja.
14. „
„Saimun Takim
„B.T.A.
Tulungagung.
15. „
„Kijai Chanafi
„Sakti
Kebumen.
Susunan Pengurus G.K.B.I. (27 Pebruari 1956 — 20 Djuli 1957).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Jogjakarta pada tanggal 27 Pebr. 1956.
1. Ketua I
Sdr. A. Djoenaid
dari P.P.I.P.
Pekalongan.
2. Ketua II
„Badruddin
„Mitra Batik
Tasikmalaja.
3. Penulis I
„H.A. Azis
„P.P.B.
Pekadjangan
4. Penulis II
„G. Suganda
„C.P.B.B.
Tjiamis.
5. Bendahara I
„Ibu Sujachmir
„Batari
Solo.
6. Bendahara II
„Moch. Djadjuli
„Bakti
Ponorogo.
7. Pembantu
„Winotosastro
„P.P.B.I.
Jogjakarta.
8. „
„Masina
„Trusmi
Tjirebon.
9. „
„H. Solichin
„K.P.B.D. Wonopringgo
Pekalongan.
10. „
„Suseto Kartanegara
„Perbain
Sokaradja.
11. „
„K. Chanafi
„Sakti
Kebumen.
12. „
„Ambari S.R.
„Kobain
Kudus.
13. „
„Fachrurozy
„KPB. Setono
Pekalongan.
14. „
„Somad Mugni
„K.P.B.D.
Djakarta.
15. „
„Saimun Takim
„B.T.A.
Tulungagung.
2. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I. ( 28 Agustus 1956 — 20 Djuli 1957 ).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Djakarta pada tanggal 28 Agustus 1956 dan pengesahan oleh Rapat Anggauta di Malang pada tanggal 23 Oktober 1956.
1. Sdr. A. Djoenaid
dari Gaperbi
Tegal.
2. „Hudan Ichsan
„Gresik
Gresik.
3. „Chudori Amir
„K.P.B.I.S.
Sidoardjo.
4. „H. Sofwan Zaini
„Kopindi
Pekalongan.
V. Susunan Pengurus G.K.B.I. (20 Djuli 1957 — 13 Agustus 1959 ).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Tawangmangu Surakarta pada Tanggal 19 dan 20 Djuli 1957.
1. Ketua I
Sdr. A. Djoenaid
dari P.P.I.P.
Pekalongan.
2. Ketua II
„Abdullah
„Batari
Solo.
3. Penulis I
„Winotosastro
„P.P.B.I.
Jogjakarta.
4. Penulis II
„H.A. Azis
„P.P.B.
Pekadjangan.
5 .Bendahara I
„Badruddin
„Mitra Batik
Tasikmalaja.
6. Bendahara II
„Moch. Djadjuli
„Bakti
Ponorogo.
7. Pembantu
„Masina
„Trusmi
Tjirebon.
8. „
„G. Suganda
„C.P.B.B.
Tjiamis.
9. „
„A. Somad Mugni
„K.P.B.D.
Djakarta.
10. „
„H. Solichin
„K.P.B.D. Wonopringgo
Pekalongan.
11. „
„Ambari S.R.
„Kobain
Kudus.
12. „
„Fachrurozy
„KPB. Setono
Pekalongan.
13. „
„Suseto Kartanegara
„Perbain
Sokaradja.
14. „
„Saimun Takim
„B.T.A.
Tulungagung.
15. „
„Kijai Chanafi
„Sakti
Kebumen.
3. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I. (20 Djuli 1957 — 22 Desember 1958 ).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Tawangmangu Surakarta pada tanggal 19 dan 20 Djuli 1957.
1. Sdr. Masina
dari Budi Tresna
Tjirebon.
2. „R. Wirjadi
„P.P.B.I.
Jogjkarta.
3. „A. Fatah
„P.P.B.
Pekadjangan.
4. „Kirdjan
„Perbain
Sokaradja.
5. „Chudori Amir
„K.P.B.I.S.
Sidoardjo.
4. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I. (22 Des. 1958 — 13 Agust. 1959).
1. Sdr. Fattah Sjakur
dari P.P.B.
Pekadjangan.
2. „R. Wirjadi
„P.P.B.I.
Jogjkarta.
3. „Masina
„Budi Tresna
Tjirebon.
4. „Hamid Noor
„Perbaik
Purworedjo.
5. „Moh. Saat
„Perbain
Sokaradja.
VI. Susunan Pengurus G.K.B.I. ( 13 Agustus 1959 — 28 Djuli 1961 ).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Djakarta pada tanggal 12, 13 Agust. 1959.
1. Ketua I
Sdr. A. Djoenaid
dari P.P.I.P.
Pekalongan.
2. Ketua II
„Badruddin
„Mitra Batik
Tasikmalaja.
3. Penulis I
„H.A. Azis
„P.P.B.
Pekadjangan.
4. Penulis II
„G. Suganda
„C.P.B.B.
Tjiamis.
5 .Bendahara I
„Ibnu Sujachmir
„Batari
Solo.
6. Bendahara II
„Moch. Djadjuli
„Bakti
Ponorogo.
7. Pembantu
„Abdullah Bari
„K.P.B.D.
Djakarta.
8. „
„Ambari S.R.
„Kobain
Kudus.
9. „
„H. Chudori
„Kopindo
Pentjongan.
10. „
„K.H. Sjafi'i
„Buwaran
Pekalongan.
11. „
„Winotosastro
„P.P.B.I.
Jogjakarta.
12. „
„Asmudi
„K.P.P.B.
Wonopringgo.
13. „
„Masina
„Budi Tresna
Tjirebon.
14. „
„Moch. Tochfa
„KPB. Setono
Pekalongan.
15. „
„H.A. Sjofwan
„B.T.A.
Tulungagung.
5. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I. (13 Agust. 1959 — 29 Agust 1960).
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Djakarta pada tanggal 12 & 13 Agust. 1959.
1. Sdr. R. Wirjadi
dari P.P.B.I.
Jogjakarta.
2. „Fattah Sjakur
„P.P.B.
Pekadjangan.
3. „Muljono
„Batari
Solo.
4. „Saimun Takim
„B.T.A.
Tulungagung.
5. „Moch. Saat
„Perbain
Sokaradja.
SUSUNAN PIMPINAN G.K.B.I.
(Pengurus & Badan Pemeriksa sedjak Tahun 1960)
6. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I. (tahun Usaha 1960)
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Djakarta pada tanggal 29 Agust. 1960 di Djakarta.
1. Sdr. R. Wirjadi
dari P.P.B.I.
Jogjakarta.
2. „Fattah Sjakur
„P.P.B.
Pekadjangan.
3. „D. Sasmita
„Rukun Batik
Tjiamis.
4. „Saimun Takim
„B.T.A.
Tulungagung.
5. „Muljono
„Batari
Solo.
Susunan Pengurus G.K.B.I. tahun Usaha 1961/1962
1. Ketua I
Sdr. A. Djoenaid
dari P.P.I.P.
Pekalongan.
2. Ketua II
„Badruddin
„Mitra Batik
Tasikmalaja.
3. Penulis I
„H.A. Azis
„P.P.B.
Pekadjangan.
4. Penulis II
„G. Suganda
„C.P.B.B.
Tjiamis.
5 .Bendahara I
„Ibnu Sujachmir
„Batari
Solo.
6. Bendahara II
„H. Moch. Djadjuli
„Bakti
Ponorogo.
7. Pembantu
„K.H. Sjafi'i
„Buwaran
Pekalongan.
8. „
„Ambari S.R.
„Kobain
Kudus.
9. „
„Masina
„Budi Tresna
Tjirebon.
10. „
„Abdullah Bari
„K.P.B.D.
Djakarta.
11. „
„Winotosastro
„P.P.B.I.
Jogjakarta.
12. „
„Moch. Tochfa Mustofa
„KPB. Setono
Pekalongan.
13. „
„H. Chudori
„Kopindo
Pentjongan.
14. „
„Saimun Takim
„B.T.A.
Tuluangagung.
15. „
„Winotosastro
„P.P.B.I.
Jogjakarta.
7. Susunan Badan Pemeriksa tahun Usaha 1961
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Tretes pada tanggal 28 Djuni 1961.
1. Sdr. R. Wirjadi
dari P.P.B.I.
Jogjakarta.
2. „A. Fattah Sjakur
„P.P.B.
Pekadjangan.
3. „Moch. Saat
„Perbain
Sokaradja.
4. „Maksum Muchdor
„Gresik
Gresik.
5. „Rasjad Ismail
„K.P.B.I.S.
Sidoardjo.
6. „H. Noor
„Sakti
Kebumen.
7. „M. Chuza'i
„Persaudaraan
Tjomal.
8. „Achmad
„Gaperbi
Tegal.
8. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I. tahun Usaha 1962.
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Jogja pada tanggal 16 Djuli 1962.
1. Sdr. R. Wirjadi
dari P.P.B.I.
Jogjakarta.
2. „A. Fattah Sjakur
„P.P.B.
Pekadjangan.
3. „Maksum Muchdor
„Gresik
Gresik.
4. „H. Noor
„Sakti
Kebumen.
5. „Achmad
„Gaperbi
Tegal.
6. „M. Chuza'i
„Persaudaraan
Tjomal.
7. „Hartojo
„Sukowati
Bekonang.
8. „Mardjuki
„Baka
Klaten.
VIII. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I. tahun Usaha 1963/1964.
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Bandung pada tanggal 29 & 30 Djuli 1963.
1. Ketua I
Sdr. A. Djoenaid
dari P.P.I.P.
Pekalongan.
2. Ketua II
„A. Mutawali
„Batari
Solo.
3. Penulis I
„Abdullah Bari
„K.P.B.D.
Djakarta.
4. Penulis II
„Usman Djauhari
„Bakti
Ponorogo.
5 .Bendahara I
„A.Fattah Sjakur
„K.P.B.
Pekadjagan.
6. Bendahara II
„Moh. Ngadenan
„Sukawati
Bekonang.
7. Pembantu
„K.H. Sjafi'i
„Buwaran
Pekalongan.
8. „
„Masina
„Budi Tresna
Tjirebon.
9. „
„Saimun Takim
„B.T.A.
Tuluangagung.
10. „
„H. Chudori
„Kopindo
Pentjongan.
11. „
„H. Aliatmodjo
„K.P.N.
Solo.
12. „
„G. Suganda
„Rukun Batik
Tjiamis.
13. „
„Ambari S.R.
„Kobain
Kudus.
14. „
„R. Wirjadi
„P.P.B.I.
Jogjakarta.
15. „
„S. Muljohardjo
„P.P.B.S.
Solo.
9. Susunan Badan Pemeriksa tahun Usaha 1963.
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Bandung pada tanggal 29 & 30 Djuli 1963.
1. Sdr. Mardjuki
dari Baka
Klaten.
2. „Achmad
„Gaperbi
Tegal.
3. „H. Solichin
„Wonopringgo
Pekalongan.
4. „H. Tochfa Mustofa
„Setono
Pekalongan.
5. „M. Chuza'i
„Persaudaraan
Tjomal.
6. „Moch. Saat
„Perbain
Sokaradja.
7. „Sugiartono
dari P.P.B.
Bojolali.
8. „Marijono P.
„Bima
Matesih.
9. „Asjmuni Fattach
„Sidoluhur
Sragen.
Susunan Anggauta Badan Musjawarah G.K.B.I.
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Bandung pada tanggal 29 & 30 Djuli 1963.-
1. Sdr. H. Badruddin
dari Mitra Batik
Tasikmalaja.
2. „Effendy Anwar
„Pembatik
Ponorogo.
3. „Achmadoen Sjakir
„Browidjojo
Modjokerto.
4. „Amat Angkat
„Gresik
Gresik.
5. „Max, Sumowihardjo
„P.B.T
Tembajat.
6. „Moch . Dachlan
„Perubadi
Indramaju.
7. „H. Noor
„Sakti
Kebumen.
8. „Hamid Noor
„Perbaik
Purworedjo.
9. „Chudori Amir
„K.P.B.I.S
Sidoardjo.
10. „Drs. Soejanto
„Tamtama
Jogjakarta.
11. „Zuber Kohari
„Karang Tunggal
Jogjakarta.
12. „Mochtar Mohamady
„Bawono
Wonogiri.
10. Susunan Badan Pemeriksa untuk tahun usaha 1964/1965..
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Djakarta pada tanggal 17 Djuni '64.-
1. Sdr. Mardjuki Mahdy B.A.
dari Baka
Klaten.
2. „Achmad Muzany
„Gaperbi
Tegal
3. „H. Solichin
„Wonopringgo
Pekalongan.
4. „H. Tochfa Mustofa
„Setono
Pekalongan.
5. „M. Chuza'i
„Persaudaraan
Tjomal.
6. „Moch. Saat
„Perbain
Sokaradja.
7. „Sugiartono
„P.B.B.
Bojolali.
8. „Marijono P.
„Bima
Matesih.
9. „Asjmuni Fattah
„Sidoluhur
Sragen.
10. „Chudori Amir
„K.P.B.I.S
Sidoardjo.
11. „Effendy Anwar
„Pembatik
Ponorogo.
12. „Amat Angkat
„Gresik
Gresik.
13. „M. Adnan
„Perbaik
Purworedjo.
IX. Susunan Pengurus G.K.B.I. tahun Usaha 1965/1966.
Berdasar putusan Rapat Anggauta di Djakarta pada tanggal 28 Djuli '65.
A. Pengurus Harian :
1. Ketua I
Sdr. A. Djoenaid
dari P.P.I.P.
Pekalongan.
2. Ketua II
„A. Mutawali
„Batari
Solo.
3. Ketua III
„H. Badruddin
„ Mitra Batik
Tasikmalaja.
4. Ketua IV
„H. Solichin
„Wonopringgo
Pekalongan.
5. Penulis I
„Usman Djauhari
„Bakti
Ponorogo.
6. Penulis II
„Abdullah Bari
„K.P.B.D.
Djakarta.
7. Penulis III
„Masina
„Budi Tresna
Tjirebon.
8. Penulis IV
„H. Aliatmodjo
„K.P.N.
Solo.
9. Bendahara I
„Moh. Ngadenan
„Sukawati
Bekonang.
10. Bendahara II
„Drs. Lukman Djaelan
„Pekadjangan
Pekalongan.
11. Bendahara III
„Effendy Anwar
„Pembatik
Ponorogo.
12. Bendahara IV
„Zuber Kohari
„Karang Tunggal
Jogjakarta.
B. Komisaris :
1. Sdr. E. Ramelan
dariRukun Batik
Tjiamis.
2.„M. Tochfa Mustofa
„Setono
Pekalongan
3.„Chudori Amir
„K.P.B.I.S.
Sidoardjo
4.„Mardjuki Mahdy B.A.
„Baka
Klaten
5.„Ambari S.R.
„Kobain
Kudus
6.„Hamid Noor
„Perbaik
Purworedjo
7.„Drs. Soejanto
„Tamtama
Jogjakarta
8.„R. Wirjadi
„Mataram
Jogjakarta
9.„Moch. Snat
„Perbaik
Sukaradja
11. Susunan Badan Pemeriksa untuk Tahun Usaha 1965/'66. Berdasar putusan Rapat Anggota di Djakarta pada tanggal 28 Djuli 1965.
1. Sdr. Asjmuni Fattah
dariSidoluhur
Sragen
2.„Sugijartono
„P.B.B.
Bojolali
3.„Mariono Prijomartono
„Bima
Malesih
4.„Muchtar Muhamady
„Bawono
Wonogiri
5.„Max. Sumowihardjo
„P.B.T.
Tembujat.
6.„H. Dachlan
„Perubadi
Indramaju
7.„Sodik Sjamsudin
„Gaperbi
Tegal
8.„M. Chuza'i
„Persaudaraan
Tjomal
9.„Subechi
„Korpindo
Pekalongan
10.„H. Noech Abbas
„Buwaran
Pekalongan
11.„H. Noor
„Sakti
Kebumen
12.„Agus Azis
„Senopati
Jogjakarta
13.„Rujono
„P.P.B.I
Jogjakarta
14.„Asep Djoeberi
„Warga Batik
Garut
15.„Bagindo Idris
„Fadjar Putera
Padang
16.„Achmadoen Sjakir
„Browidjojo
Modjokerto
17.„Subardjo
„B.T.A.
Tulungagung
18.„Djawahir Samad
„Gresik
Gresik
Komposisi Pengurus dan Badan Pemeriksa tersebut diatas tidak disetudjui oleh TRANSKOP, kemudian dibentuk Team Mandataris R.T.A. jang terdiri dari 5 orang ialah:
Sdr. Muchari dari Djawa Timur
„Thatin Djahri dari Djawa Tengah
„Asjmuni Fattah dari Solo
„H.G. Suganda dari Djawa Barat
„Atmo Hartono dari Jogjakarta.
untuk mempersiapkan Rapat Tahunan Anggauta lagi. Selain itu dibentuk pula Aparatur² sbb. :
A.Team Pembinaan dan Pengawasan G.K.B.I. :
Sdr. Soebijakto S.H.
„Endah Tabrani
„Ormas² Buruh anggauta Front Nasional.
B. Pengurus Darurat (Care Taker).
1.
Ketua I
Sdr.
H.A. Achsien
2.
Ketua II
„
Tan Djoen Tat
3.
Ketua III
„
Drs. Sadjkun
4.
Sekretaris I
„
Hartono B.A.
5.
Sekretaris II
„
Fattah Sjakur
6.
Bendahara I
„
Muchari
7.
Bendahara II
„
Drs. A. Markam
8.
Pembantu Umum I
„
Soenarto
9.
Pembantu Umum II
„
Abdullah Bari
10.
Pembantu Umum III
„
S. Harman
C. Koordinator Daerah:
1.
Sdr.
Effendy Anwar
— Korda Djatim.
2.
„
Thatin Djahri
— Korda Djateng.
3.
„
Aliatmodjo
4.
„
Marijono
5.
„
Badruddin
— Korda Djabar dan Djakarta Raya.
6.
„
Drs. Soejanto
— Korda Jogjakarta.
(Keputusan Menteri Transkop No. 0062 Tahun 1965 tanggal 8 Sent. 1965) Berdasar Surat Keputusan Menteri Transmigrasi/Koperasi ai. No. 001/ Kpts/a/i/1966 tanggal 25 Malet 1966.—mentjabut Keputusan Menteri Transmigrasi/koperasi No. 0062 Tahun 19965 dan membentuk Team Care Taker dalam lingkungan G.K.B.I. jang anggautanja terdiri dari:
1.
Ketua
Sdr.
Ir. Ibnoe Soedjono.
2.
Wakil Ketua
„
Let. Kol. Surjana Nrp. 16153
3.
Bidang Usaha
„
H. Badraddin
4.
Bidang Kehartaan
„
A. Mutawali
5.
Bidang Organisasi
„
Usman Djauhari
6.
Pembantu Umum
„
H.A.A. Achsien
7.
„ „
„
Thatin Djahri
8.
„ „
„
Muchari
9.
„ „
„
Zuber Kohari
10.
„ „
„
Moh. Hartono B.A.
Berdasar Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Koperasi No. 001/SK/4/1966 tanggal 8 April 1966 memutuskan/menetapkan penjempurnaan Keputusan Menteri a.i. Transmigrasi/Koperasi No. 001/Kpts/a.i. /'66. Pimpinan G.K.B.I. sementara berada ditangan Deputy Monteri Koperasi. Sedang tugas sehari-hari Pimpinan G.K.BI. dilakukan oleh Team Pembantu Pimpinan Deputy Menteri Koperasi jang susunannja terdiri dari:
1.
Pimpinan Harian
Sdr.
Ir. Ibnoe Soedjono.
2.
Anggota
„
Let. Kol. Surjanakusuma
3.
„
„
Usman Djauhari
4.
„
„
H. Badruddin
5.
„
„
A. Mutawali
6.
„
„
H.A.A. Achsien
7.
„
„
H. Zuber Kohari
8.
„
„
Thatin Djahri
9.
„
„
Hartono. B.A.
10.
„
„
Muchari
X.Susunan Pengurus G.K.B.I. untuk Tahun Usaha 1966/1968
Berdasar putusan rapat Anggauta Luar Biasa di Kantor Pusat Djakarta pada tanggal 30 April dan 1 Mei 1966.
I. PENGURUS HARIAN:
1.
Ketua Umum
Sdr.
H.A. Djoenaid
dari
P.P.I.P.,
Pekalongan.
2.
Ketua I
„
A. Mutawali
„
Batari,
Solo.
3.
Ketua II
„
H. Badruddin
„
Mitra Batik,
Tasikmalaja.
4.
Penulis I
„
Usman Djauhari
„
Bakti,
Ponorogo.
5.
Penulis II
„
H. Zuber Kohari
„
Kr. Tunggal,
Jogja.
6.
Bendahara I
„
Mardjuki Mahdy B.A.
„
Baka,
Klaten.
7.
Bendahara II
„
H. Sjofwan Sjukri
„
Pekadjangan,
Pekalongan.
II. KOMISARIS:
1.
Sdr.
K.H. Sjafi'i
dari
Buwaran
Pekalongan.
2.
„
H. Hisjam Basjuni
„
Wonopringgo
Pekalongan.
3.
„
Masina
„
Budi Tresna
Tjirebon.
4.
„
Moh. Ngadenan
„
Sukowati
Bekonang.
5.
„
H. Aliatmodjo
„
K.P.N.
Solo.
6.
„
F. Ramelan
„
Rukun Batik
Tjiamis.
7.
„
A. Marwan
„
P.P.B.S.
Solo.
8.
„
A. Somad Mugni
„
K.P.B.D.
Djakarta.
9.
„
H. Chudori
„
Kopindo
Pekalongan.
10.
„
Achmadun Sjakir
„
Browidjojo
Modjokerto.
11.
„
Chamim Prawirohartono
„
Senopati
Jogjakarta.
12.
„
Moh. Ardani
„
Perbaik
Purworedjo.
III. Susunan Badan Pemeriksa G.K.B.I.
Berdasar putusan rapat Anggauta Luar Biasa di Kantor Pusat Djakarta pada tanggal 30 April dan 1 Mei 1966.
1.
Sdr.
Asjmuni Fattach
dari
Sidoluhur
Solo.
2.
„
Sugijartono
„
P.P.B.
Bojolali.
3.
„
Moh. Chuza'i
„
Persaudaraan
Tjomal.
4.
„
Ambari S.R.
„
Kobain
Kudus.
5.
„
Chudori Amir
„
KPBIS
Sidoardjo.
6.
„
Effendi Anwar
„
Pembatik
Ponorogo.
7.
„
Moh. Saat
„
Perbain
Sokaradja.
8.
„
Chabib Pramuhardjono
„
PPBI
Jogjakarta.
9.
„
Tulus Muljohartono
„
Tamtama
Jogjakarta.
10.
„
Muchatar Muhammady
„
Bawono
Wonogiri.
11.
„
AD Subandi
„
Mataram
Jogjakarta.
12.
„
H. Fachrurozi
„
Setono
Pekalongan.
13.
„
H. Arifin
„
Gresik
Gresik.
14.
„
Sodik Sjamsudin
„
Gaperbi
Tegal.
15.
„
Max Sumowihardjo
„
PBT
Tembajat.
16.
„
H. Moch. Dachlan
„
Perubadi
Indramaju.
17.
„
Adi Sukarjono (Kemudian diganti oleh Sdr. Pinto Juwono)
„
B.T.A.
Tulung Agung.
18.
„
H. Noor/I. Zakarsi
„
Sakti
Kebumen.
19.
„
Padmomartono
„
Bima
Sala.
20.
„
Abdul Hamid/Rusli Usman
„
Fadjar Putra
Padang.
21.
„
Karjo/ I. Markali
„
Warga Batik
Garut.
DJUMLAH OMZET TIAP TAHUN DALAM DJUTAAN RUPIAH
1954
416,7
1961
1.601,3
1955
429,1
1962
1.822,6
1956
567,6
1963
1.939,8
1957
702,9
1964
5.413,7
1958
935,2
1965
24.064,4
1959
938,1
1966
103,4
1960
1.142,8
1967
519,1
Keterangan.
Tahun 1966 dan 1967 dalam Uang Baru.
REALISASI PENDJUALAN/PEMBAGIAN CAMBRICS/GREY
Djutaan yds.
Djutaan Rp.
Djutaan yds.
Djutaan Rp.
1954
81,9
401,5
1961
55,8
1.461,7
1955
71,3
390,5
1962
56,0
1.416,7
1956
93,4
538,7
1963
27,9
1.545,9
1957
93,6
691,6
1964
30,0
4.510,0
1958
64,6
923,5
1965
44,8
22.236,0
1959
40,3
933,0
1966
27,4
97,8
1960
40,6
1.094,5
1967
20,7
410,4
PERKEMBANGAN SIMPANAN ANGGOTA
1954
1955
1956
1957
1958
1959
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
1967
1.
Simpanan Pokok
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,2
0,3
0,3
0,3
4,0
4,0
4.000,0
2.
Simpanan Wadjib
15,—
16,5
44,6
70,2
123,7
123,7
123,7
165,9
185,5
209,2
261,7
337,2
962,8
12.703,3
3.
Simpanan Manasuka Terpimpin
7,9
9,2
—
—
—
—
10,3
27,3
52,5
1.278,0
3.181,2
8.035,1
121.877,8
320,562,9
4.
Simpanan Chusus Pabrik
—
36,7
48,4
102,8
141,8
179,8
234,1
316,7
340,0
414,1
1.416,5
2.029,0
2.417,3
2.405,5
Sub Total
23,1
62,6
93,2
173,2
265,7
303,7
368,3
510,1
578,3
1.901,6
4.859,7
10.445,3
125.261,9
339.671,8
5.
Tjadangan
8,9
15,3
19,3
37,3
83,5
83,5
83,5
120,5
149,5
195,3
283,5
411,3
1.478,9
8.842,3
DJUMLAH
32,—
77,9
112,5
210,5
349,2
387,2
451,8
630,6
727,8
2.096,9
5.143,2
10.856,6
126.740,8
348.514,1
Keterangan:
Mulai tahun 1954 s/d 1965 dalam djutaan Rupiah
Mulai tahun 1966 s/d 1967 dalam ribuan Rupiah
DAFTAR DJUMLAH PEGAWAI/PEKERDJA TETAP G.K.B.I.
Tempat
1954
1955
1956
1957
1958
1959
1960
1961
1962
1963
1964
1965
1966
1967
1968
Pusat Djakarta
148
109
128
126
135
166
185
229
240
234
239
240
239
238
159
Tjabang Djakarta
—
—
—
16
17
19
21
25
28
27
26
26
24
22
16
Tjabang Tjirebon
—
11
13
16
18
20
22
26
30
31
30
30
28
30
30
Tjabang Semarang
—
26
29
31
27
21
27
30
33
36
37
34
32
32
25
Tjabang Surabaya
—
18
19
21
20
15
24
27
29
32
33
37
32
32
21
Perwakilan Luar Negeri
1
1
1
—
—
—
—
—
—
—
—
—
—
—
—
Pabirk Mori
—
—
—
—
—
2
29
61
780
1.419
1.719
1.772
1.853
2.110
2.190
NERATJA G.K.B.I. TAHUN 1953 SD 1967
(Angka dalam ribuan)
AKTIVA
No.
Pendjelasan
1953
1954
1955
1956
1957
1958
1959
1960
1961
I.
Harga Tetap:
2.626
3.812
7.478
8.807
12.714
14.587
152.198
232.299
345.257
II.
Modal lantjar:
1.
Kas & Bank
18.956
3.861
79.597
28.182
165.761
185.466
164.538
205.186
101.856
2.
Barang²
2.530
4.671
212.223
218.809
332.659
229.433
322.338
778.557
1.190.011
3
Pihutang & Persekot
16.872
14.987
67.662
53.360
88.472
127.767
105.137
213.848
317.601
4.
Persekot Import
2.708
—
52.153
176.729
4.631
61.222
60.293
—
—
5.
Zakat j.a. diperhitungkan
—
—
1.285
2.328
4.490
—
10.954
7.658
—
DJUMLAH II:
41.066
53.519
412.920
478.408
596.013
673.988
663.260
1.205.249
1.609.468
III.
Lain²
3.014
1.783
1.915
4.964
33.082
64.488
167.995
84.542
96.801
DJUMLAH: I + II + III
46.708
59.114
422.313
492.179
641.809
752.963
983.453
1.522.090
2.051.526
NERATJA G.K.B.I. TAHUN 1953 S/D 1967
(Angka dalam ribuan)
PASIVA
No.
Pendjelasan
1953
1954
1955
1956
1957
1958
1959
1960
1961
I.
Modal
7.409
15.237
53.231
78.242
103.816
157.357
157.362
167.661
226.787
Simp. Pokok/Wadjib S.M.T.
1.746
7.885
9.183
—
—
—
—
—
—
Simp. P.C. Medari
—
—
—
15.024
69.354
135.890
146.338
200.702
283.296
Tjadangan
534
10.149
16.507
20.213
39.492
108.370
135.351
137.302
173.619
DJUMLAH: I
9.689
33.271
78.921
113.479
212.662
401.617
439.051
505.665
683.702
II.
Hutang Berputar
Hutang²/Titipan²
19.092
5.821
320.830
292.032
230.597
200.716
322.004
612.678
887.120
S.H.P.
17.927
15.968
14.201
62.433
174.028
77.442
170.944
304.632
295.390
Lain²
—
4.052
8.362
24.235
24.524
73.189
51.451
99.025
185.314
DJUMLAH: II
37.019
25.841
343.393
378.705
429.149
351.347
544.399
1.016.335
1.367.824
DJUMLAH: I + II
46.708
59.112
422.314
492.189
541.811
752.964
983.450
1.522.000
2.051.526
NERATJA G.K.B.I. TAHUN 1953 SD 1967
(Angka dalam ribuan)
AKTIVA
No.
Pendjelasan
1962
1963
1964
1965
1966
1967
I.
Harga Tetap:
103.015
219.668
296.835
403.830
6.643
10.293
II.
Modal Lantjar:
1.
Kas & Bank
141.406
471.170
2.010.702
7.342.268
34.613
98.161
2.
Barang²
1.450.186
152.551
2.494.703
12.043.873
117.521
320.031
3.
Pihutang & Persekot
1.041.183
3.611.331
4.885.731
21.624.498
115.500
334.941
4.
Persekot Import
102.806
111.989
1.630.163
1.628.357
48.412
58.673
5.
Zakat j.a. diperhitungkan
—
—
69.703
560.926
3.789
9.382
Djumlah II
2.735.581
4.347.041
11.091.002
43.199.922
319.935
821.188
III.
Lain²
2.745
5.368
17.331
150.698
1.120
5.979
DJUMLAH I, II + III
2.841.341
4.572.077
11.405.168
43.754.450
327.598
837.460
NERATJA G.K.B.I. TAHUN 1953 S/D 1967 (Angka dalam ribuan)