10 Kampus Terbaik Versi Tempo

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kesalahan templat: Jangan menghapus parameter yang kosong (lihat pedoman gaya dan dokumentasi templat).
10 Kampus Terbaik Versi Majalah Tempo oleh [[Pengarang:{{{author}}}|{{{author}}}]]
Majalah Tempo - 20 Mei 2007
Survey peringkat 10 besar perguruan tinggi di indonesia oleh Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT)

Perguruan tinggi Indonesia belum mampu berbicara banyak di tingkat internasional. Selama ini baru empat perguruan tinggi yang masuk peringkat 500 universitas terbaik di dunia. Pada November 2006, The Times menempatkan Universitas Indonesia di urutan 250, ITB (258), UGM (270), dan Universitas Diponegoro (495). Tapi bagaimana dengan peta persaingan di dalam negeri?

Survei yang dilakukan Pusat Data dan Analisis Tempo (PDAT) sepanjang Desember 2006-Januari 2007 menghasilkan peringkat yang tak jauh berbeda. Survei yang didasarkan persepsi kalangan dunia kerja ini menempatkan UI di posisi 1, ITB (2), UGM (3), dan Institut Pertanian Bogor (4). Sementara Universitas Diponegoro berada di posisi 10.

Dalam jajaran 10 besar terdapat dua perguruan tinggi swasta yang menerobos masuk. Universitas Trisakti di peringkat 7 dan Universitas Atmajaya di peringkat 9. Universitas Trisakti unggul pada program studi kedokteran, teknik industri, akuntansi, dan manajemen. Dari survei tersebut diketahui, tekun belajar bukan satu-satunya cara untuk menjadi lulusan berkualitas. Banyak perusahaan menginginkan kecakapan lain dari calon pekerja mereka.

Kecakapan tersebut berupa aktif berorganisasi (20,3 persen), kemampuan bahasa Inggris (18,6 persen), tekun belajar (17,7 persen), mengikuti perkembangan informasi (15,98 persen), memiliki pergaulan luas (15,07 persen), dan mempelajari aplikasi komputer (12,32 persen). Survei yang mengambil responden 135 orang, terdiri dari 80 pengguna tenaga kerja dan 55 perekrut itu, juga menyimpulkan pentingnya karakter juara di dunia kerja. Lapangan kerja kini menuntut pekerja super. Mereka adalah yang mau bekerja keras (9,03 persen), kepercayaan diri tinggi (8,75 persen), mempunyai visi ke depan (8,37 persen), mampu bekerja dalam tim (8,07 persen), dan memiliki perencanaan matang (7,91 persen).

Selain itu pekerja super dituntut mampu berpikir analitis (7,82 persen), mudah beradaptasi (7,12 persen), mampu bekerja dalam tekanan (5,91 persen), cakap berbahasa Inggris (5,27 persen), dan mampu mengorganisasi pekerjaan (5,26 persen). Lalu bagaimana cara dunia kerja menjaring pekerja? Survei memastikan, indeks prestasi kumulatif -yang menunjukkan prestasi akademis-menjadi pintu masuk pertama. Sebanyak 16,09 persen responden memandang penting IPK, kemampuan bahasa Inggris (14,8 persen), kesesuaian program studi dengan posisi kerja (14,48 persen), dan nama besar perguruan tinggi 13,84 persen.

Sisi lain yang dilihat adalah pengalaman kerja atau magang (12,46 persen), kemampuan aplikasi komputer (11,39 persen), pengalaman organisasi (10,55 persen), serta rekomendasi (6,39 persen).

Menurut para perekrut tenaga kerja, kini pintar saja tak cukup. Pasar tenaga kerja banyak yang lebih mengutamakan kemampuan pribadi ketimbang indeks prestasi. Asal perguruan tinggi memang penting. Tapi, banyak pekerjaan favorit, 5-10 tahun ke depan tak lagi menempatkan asal-usul universitas sebagai pertimbangan utama. Nah!