108 Pendekar Gunung Liang San Seri VI/Mutiara Kata
M U T I A R A K A T A
= „Djanganlah se-kali² berputus asa! Tetapi djika engkau berputus asa djuga, teuslah bekerdja dan berdjoang didalam keputus asaan itu!”
= „Tidaklah karena memotong padi ada kegembiraan, tetapi kegembiraan itu ada diwaktu memotong padi jang ditanamnja sendiri. Dan djiwa manusia tidak berkembang karena pekerdjaan dan perdjagaan upah itu.?”
Ja, ja, aku terlalu melantur djauh . . . . bukankah hidup itu berdjoang, dan berdjoang itu untuk menghidupkan Pri kemanusiaan dan keadilan . . . . tidak mungkin akan ada kemenangan bila kita tidak berdjoang. . . aku harus bertekad untuk merubah nasibku dipembuangan nanti, aku akan berdaja mati²an, pasti usaha ini akan berhasil. Tekadku setapak tak akan berandjak, selangkah tak akan surut, bekerdja keras pantang
menjerah !
Tiba² Yo Tjie terkedjut karena Tio Liong memetjahkan keheningan itu dengan suara jang keras:
„Lebih baik kita bermalam disini, Tio Sutee baik kau mentjari kaju2 jang kering untuk perapian. Aku akan membersihkan disini."
Lalu menoleh kearah Yo Tjie dan memerintah :„Kau boleh beristirahat dan tiduran dilantai podjok sana Perintahnja sambil mengatjungkan djari telundjuknja.
Hudjan diluar masih terdengar dengan lebetnja, sehingga saking lelahnja tak lama kemudian mereka sudah tertidur dengan pulas. Pagi-pagi sekali Tio Liong dan Tio Hauw bangun dan membagikan 2 potong roti kering pada Yo Tjie. Selesai bersantap me reka lalu melandjutkan perdjalanannja untuk menudju ke Peiping dusun Tay Ping Hu.
Kurang lebih 12 hari dalam perdjalanan, sampailah mereka ditempat tudjuan.
Tie Hu di Peiping karena mengetahui bahwa Yo Tjie adalah seorang jang bertubuh tinggi, menerimanja dengan baik sekali, bahkan diberikan tempat dikantor gubernuran, sehagai pendjaga malam.
Dan pengawal setelah mendapatkan surat balasan dari Tie Hu lalu kembali kekota Tongking.
* * *
duga duga, kemalangan dan keuntungan itu memang datangnja mendadak, tiba2 dan tak terkira sehingga tidak dapat mengira atau menduga duga. . . .
Memang hidup didalam dunia ini tidak ubahnja seperti perahu jang berlajar dilaut lepas jang menudju kepulau harapan. Kalau kita takut dan djera akan ombak dan gelombang. kita akan tenggelam dan terbenam, tidak a- kan mungkin menijapai pantai tudjuan. Ombak besar2 jang bergulung gulung itu sudahlah mendjadi adat laut, batu karang jang runtjing dan bestjongol-tjongol itu mendjadi perhiasan bagi pantai pesisir lautan, djadi untuk bisa mentjapai pulau harapan. haruslah kita berdjoang, pandai mengatur kemudi dan merawat lajar djuga harus mempunjai tekad dan keberanian jang teguh, kokoh dan bulat Dengan demikian kita dapat mengemudikan biduk dengan tenang, dapat menghindari karang jang tadjam dan runjing2. lurus menunjukkan arah biduk kita kepantai harapan dan dibalik batu2 karang itulah akan kita temui matahari jang bersinar terang!
Untunglah istri Yo Tjie adalah seorang wanita jang tabah dan berdjiwa besar, ia menjadari akan apa jang dialaminja sebagai kenjataan hidupnja.
Pengertiannja seseorang hanja dapat hidup temang dan merasakan bahagia djika ia mau menerima situasi atau bagaimana keadaannja. Tiada kepedihan jang pedih tiada kerisauan jang amat sangat, selain orang jang terkatjau kan mata bathinnja .............................
Maka istri Yo jie tetap dengan tabah menghadapi segala penderiteannja, dengan penuh semangat dan tekun mengasuh dan melindungi anak²nja.
Keadaan Yo Tjie sendiri d kota Peiping sangat tenang dan tak ada ketegangan djiwa sedikitpun, karena gubernur sangat menghargai dan menjajanginja.
Pada suatu hari Tie Hu memanggil Yo Tjie dan berbujara dengan ramah didalam kantornja :
„Besok hari itu kami akan mengadakan pemilihan komandan benteng, sebab pedjabat jang lama sudah saatnja mengundurkan diri, ia akan tetap dapat bertahan apabila didalam Lui Tay [panggung pertandingan] dapat mempertahankan kelihayannja.
Besok itu akan diadakan udjian pemilihan tjalon komandan baru, Yo Heng kau memiliki bugee jang lay, aku harap kau bisa ikut dalam pertandingan itu, siapa tahu bintangmu akan naik dan terpilih sebagai komandan benteng."
Gubernur Nio Tiong Siu mengandjurkan untuk Yo Tjie ikut dalam udjian besok.
„Tie Hu, apakah dalam udjian pemilihan komandan benteng itu boleh diikuti oleh siapapun ? Bukankah aku seorang hukuman, maka menanjakan hal ini pada Tie Hu." Yo Tjie mengutarakan isi hatinja.
„Komandan jang lalu terlalu angkuh dan sombong, maka aku harapkan Yoheng ikut dan menjungkalkannja."
Nio Tiong Siu berkata dengan nada sengit dan tidak senang, ia benar² telah bosan moak dan bentji kepada komandan benteng jang lama, karena terlalu keras kepala dan tjongkak.
„Bila Tie Hu mengidjinkan besok aku akan ikut udjian komandan benteng itu. Terima kasih sekali atas kemurahan dan perkenan Taydjin." Dengan sikap merendah Yo Tjie menghaturkan terima kasihnja.
„Hahhaaaa.... hahaa....." Sang Tie Hu tertawa dengan gelak² karena merasa puas.
Keesokan harinja halaman gubernuran telah dihias dengan padjangan² jang sangat indah datang ber-dujun² segala lapisan penduduk, dari berbagai² dusun. mereka datang membandjiri untuk melihat keramaian, tetapi banjak pula jang datang untuk ikut dalam pertandingan mereka mengadu untung, golongan ini adalah dari orang² jang berilmu silat tinggi.
Kira2 djam 8 pagi tambur dan ketjer telah dibunjikan dengan riuhnja, dari kantor gubernuran nampak iring2an serdadu jang mengawal djundjungan Tie Hu) untuk membuka udjian pemilihan komandan baru.
Semua hadirin membongkokkan badan untuk memberikan penghormatan, dan sang Tie Hu setelah mengadakan pemeriksaan barisan lalu duduk dikursi kebesarannja sambil melihat lihat kesekeliling lapangan pertandingan itu. Setelah tambur dan ketjer berhenti berlalu, m(teks tidak terbaca)lah pengatjara membatjakan sjarat² pertandingan, achir kata pengatjara mengatakan supaja hadirin tidak berisik dan ribut sebab pertandingan segera akan dimulai Tepuk tangan dan sorak sorai dari para pengundjung sangat riuh, se-akan2 suara rentetan bom Napalm dimedan peperangan Vietnam Tie Hu lalu mengangkat tangannja keatas, segera suara riuh rendah itu sirap, suasana mendjadi sunji dan lengang, inilah suatu aba aba bahwa pertandingan sudah boleh dimulai.
Muntjullah di-tengah2 gelanggang komandan jang lama jang bernama Tjiu Kin, ia mengendarai seekor kuda merah dan mengenakan pakaian kebesarannja jang berwarna kuning keemasan, ditangannia memegang sebatang tombak pandjang Setelah memberi hormar pada Tie Hu, ia lalu mendemonstrasikan permainan tombaknya diatas punggung kudanja ...........
Djurus2 jang dipertontonkan sangat indah dan bagus, sehingga sorak sorai dari para penonton gegap gempita seperti gunung rubuh Mendengar pudjian dari hadirin ini, Tjiu Kin jang tjongkak dan kepala besar makin sombong ia melarikan kudanja memutari lapangan sambil memutarkan tombaknja dengan gentjar, inilah ilmu tombak jang sangat dandal kan jang disebut, Hay Siang Hong Poo atau angin pujuh jang menerbitkan gelombang raksasa disamodra, terdengar dengan djelas suara berkesiurnja angin dari putaran tombaknja jang menderu-deru. sampaipun Tie Hu djuga ikut mengeluarkan pudjiannja:
"Bagus, bagus, permainan tombakmu memang bagus dan tidak tertjela, tetapi barang kali dilapangan pertandingan ini ada pula Hoo han2 (orang2 gagah) jang memiliki ilmu tinggi. Hajo siapa jang akan mempertundjukkan keachliannja boleh tampil ketengab gelanggang!"
Tie Hu lalu melirik kearah Yo Tjie dan memberikan kode supaja Yo Tjie turun kegelanggang. Karena isiarat ini Yo Tjepun tidak sungkan² dan ragu lagi, ia segera menudju ketengah lapangan dan menjemplak kuda hitamnja, iapun setelah memberi hormat kepada Tie Hu lalu melarikan kudanja memutari lapangan sambil mendemontrasikan permainan silatnja, ia bersendjatakan tombak pula ang udjungnja bertjagak. Permainan ini tidak kala hebatnja dengan permainan Tjiu Kin, maka meledaklah sorak sarai dari para penonton jang lebih mengguntur dan memekakan telinga saking kerasnja, pudjian dari mulut orang2 jang tidak tahan lagi membendung perasaannja sangat ramai bagaikan lelang dipasaran bakau.
Tjiu Kin sangat Kekhie ( mengkal ) menjaksikan kedjadian ini ia lalu mengeprak kudanja memapaki Yo Tjie dan mengadjukan tantangannja: "Hanja mempertundjukan keachlian sadja tidak jukup untuk memutuskan siapa jang lebih unggul dan lebih lihay, bajo ! kita Piebu (bertanding sadja untuk memastikan siapa diantara kita jang lebih kuat !"
Yo Tjie tidak segera memberikan djawaban, ia menoleh kearah Tie Hu monon keputusan dalam hal ini. Tie Hu sendiri sudah tidak begitu senang terhadap Tjiu Kin jang perangainja kasar, tjongkak dan keras kepala. Maka tantangan ini sangat menggembirakan hatinja, segera sadja ia menjetudjui dan mengandjurkan Yo Tjie untuk melawanaja.
Mendengar keputusan ini para penonton mendjadi makin tegang dan tertarik, sebab mereka sangat haus akan pertundjukkan setjara duel ini Pengatjara lalu memberikan keterangan tentang sjarat dalam pertarungan ini, kedua udjung tombak masing2 dibungkus dengan kain, dan sekitar tanah lapang itu ditaburi dengan kapur putih Untuk menentukan siapa merang siapa kalah, adalah dihitung dari djumlah tusukkan, kedua diago itu langsung siap berhadap2an ditengah lapangan, kelihat an mereka saling mentjari kelemahan lawan, sesaat mulailah serangan2 dilantjarkan dengan sebat dan berbahaja.
Mereka berkotet sangat seru se - akan² Siang Tjoa Kun Hoo atau dua ekor ular jang bermain ditengah telaga. dua tiga djam kemudian nampak dengan djelas bahwa pakaian dari Tjiu Kin hampir semuanja penuh dengan petak² putih bekas tusukan2 Yo Tjie. Yo Tje sendiri hanja ada dikaki dan bebo- kongnja jang tidak berarti Pengatjara dan djuri lalu berteriak menghentikan pertandingan ini. Tie Hu lalu mengumumkan bahwa Yo Tjielah jang muntjul sebagai pemenang ! Yo Tije lalu dikenakan djubah merah sebagai kebesarannja dalam kemenangan jang diperolehnja. Tetapi pada saat itu Tjiu Kin masih belum mau minggir, ia merasa tidak puas ia masih berada di-tengah2 lapangan dan mengadjukan tantangan lagi "Aku masih ingin membuktikan kelihayanmu, hajo kita bertarung lagi dengan mempergunakan panah!" Dengan merah padam ia mengadjukan tantangan pada Yo Tje
Yo Tjie merasa agak mengkal, bukankah ia telah dapat dirubuhkan setjara djelas dan njata, irengapa masih kurang puas. Dalam pada itu sang Tie Hu mendengar dengan djelas kata2 Tjiu Kin, karena memang sudan sangat bosan dan bentji, maka tantang an ini disetudjui: "Yo Tjie boleh kau lajani tantangan Tjiu Kin itu! serunja dengan njaring
"Bila ada jang tjidera dan mati dalam pertarungan ini siapa jang harus menanggung?" tanja Yo Tjie kepada dj iri dan pengajara
"Itu adalah tanggungan masing2 peserta dalam pertandingan, djadi tidak usah Tjiang-kun chawatir dalam hal ini, mati atau terluka adalah konsekwensi dari para Hoohan jang ikut dalam udjian ini"
Karena mengetahui sjarat ini, Yo Tjie lalu mengambil 3 batang anak panah dan ditangan kananoja membawa gendewa, ia mengeprak kudanja ke-tengah2 lapangan untuk melandjutkan pertarungannja lagi.
Tjiu Kin berputar-putar beberapa kali sambil membidik kearah Yo Tjie. lagakja seperti tentara Monggol jang berburu binatang. Sraaaat!! tiba2 panah itu dilepaskan dan tepat meluntjur kearah dada Yo Tjie. Yo Tjie dengan tenang memiringkan badannja sehingga panah itu lewat sasaran. Tepuk tangan dan sorak sorai berkumandang lagi dengan serunia.
Panah itu meluntjur terus dan menantjap disebuah papan, Tjrat ! Melihat serangan jang pertama gagal, Tjiu Kin ijepat2 memasang anak panahnja jang kedua, tanpa buang waktu lagi lalu dibidikkan dan dilepas, Seerrrr! Tepar mengarah ketenggorokan Yo Tjie jang sedang dalam posisi miring di diatas pelana kudanja. Para penonton dan djuri mendjadi tegang pada saat ini,
Tetapi Yo Tjie sangat lihay dan tangguh ia tidak mendjadi gugup, tjepat memelorotkan tubuhnja dan mendekam dibawah perut kuda sehingga panah kedua dari Tjiu Kin pun lolos tidak mengenai sasarannja lagi.
Sorak sorai sangat riuh, tepuk tangan menggema seperti tangki minjak jang meledak. ....
Tjiu Kin sangat tjemas sebab dalam pertandingan masing? banja boleh melakukan 3 kali, bila tiga kali lolos berarti tinggal menantikan serangan balasan dari lawan, bila saat itu terkena maka dianggap kalab. Tjepat2 Tjiu Kin memasang anak panahnja jang teracbir, dan menunggu sampai Yo Ijie berada dipunggung kudanja lagi, baru anak panahnja jang terachir, dilepaskan. itu dilepaskan, Seeeerrr! Yo Tjie tenang tenang diatas punggung kudanja menantikan datangnja anak panah itu, ketika sudah berada didepan matanja, lalu dengan kesehatan jang sangat tjepat, anak panah itu ditangkap nja, itulah tipu silat jang disebut Bie Lie Djay Hwa atau wanita tjantik memetik bunga, anak panah Tjiu Kin sudah berada digenggaman tangan kanan Yo Tjie.
Tiiu Kin mendjublak diatas pelana kudanja, ia sangat kagum dan terkesima, sungguh ia tidak habis berpikir, mengapa Yo Tjie demikian lihay dan berani menangkap anak panah jang meluntjur........ sedang ia terlongong² tiba² terdengar teriakan Yo Tjie jg memberikan peringatan padanja :
„Awas terimalah panahku!"
Tjiu Kin sangat takut dan melarikan kudanja, ia sangat sibuk dan kelabakan sendiri.
Tetapi Yo Tjie tertawa terbahak- bahak, sebab ia tidak melepaskan anak panah sebatangpun. hanja menarik gendewa dan mendjepretkannja
Mengerti kalau dirinja tertipu Tjiu Kin sangat mendelu dan mengkal sekali. ia menghentikan lari kudanja dan nampak wadjahnja sebentar merah sebentar putjat pasi saking djengkelnja Baru kali ini ia dipermainkan oleh orang.... haja, tamatlah sudah riwajatnja sebagai komandan kota Peiping.
Yo Tjie lalu memasang anak panah jang pertama dan diluntjurkan kearah Tjiu Kin, Seeerrrr! Tju Kin terkedjut dan tjepat tjepat mengegos, tetapi se-konjong² meluntjur lagi anak panah jang kedua dari Yo jie. seeerrr Tjraaat! kontan ia mendjerit dan rubuh dari atas kudanja, sebab panah kedua ini tepat menantjap dipundak kirinja .......Tjraaaat! Braaak tubuh Tjiu Kin terbanting dengan kerasnja ditanah lapangan.
Djuri memutuskan Yo Tjielah jang memang dan diangkat sebagai komandan jang baru, dengan pangkat Tee Hak.
Sorak sorai dari para hadirin sangat ramai dan gaduh.
Tiba² muntjul dari antara para penonton seorang jang berperawakan djangkung dan tegap, menghadap pada Tie Hu dan minta diperkenankan untuk melawan pada Yo Tjie
„Bila aku dapat dikalahkan, barulah Tie Hu mengangkatnja sebagai Komandan ko ta Peiping"
Tie Hu Nio Tiong Siu melihat orang ini adalah gagah dan simpatik, lalu menjetudjui.
Penonton terpaku ditempat lagi, ingin menjaksikan siapa jang muntjul sebagai pemenang jang terachir.
Pertandingan dilandjutkan lagi, kali ini Yo Tjie berusaha mati²an untuk merubuhkan lawan barunja itu, tetapi bagaimanapun djuga usaha itu tidak segera berhasil.
Kebalikannja orang baru itupan merasa sangat kagum atas kelihayan Yo Tjie, sebab hampir seluruh technik kepandaiannja telah ditjurahkan tetapi Yo Tjie masih dapat bertahan dan bahkan melantjarkan serangan jang merepotkan . ...........
Sampai djam 3 siang hari, melihat masing2 masih berkotet dan seimbang. Gubernur lalu perintahkan djuri dan pengatjara untuk menghentikan pertarungan itu. Kedua-duanja diangkat sebagai Komandan benteng kota Peiping, sebab tidak ada jang kalah maupun menang, djadi seri. Mereka berdua diberikan pangkat jang sama pula jakni Tee Hak
Pengajara lalu mengumumkan kepada para hadirin, bahwa tahun ini telah ada pengganti komand in jang lama, bahkan dua komandan jakni Yo Tjie dan Sauw Tjiau. Pertandingan untuk mengisi pedjabat komandan telah selesai. Dengan demikian bubarlah para penonton itu dengan hati puas.
Bintang Yo Tie mulai menandjak, dari orang hukuman kini mendjadi Tee Hak. Tetapi apakah ia dapat mempertahankan kedudukannja ini ? Marilah kita ikuti kisah selandjutnja.