108 Pendekar Gunung Liang San Seri V/Isi
kapalnja telah hantjur bersama anak buahnja kesalahan ini pasti oleh pemerintah dipertang gung djawabkan pada diri Yo Tjie sebagai komandan jang masih bisa bidup.
― „Yo Koko ( kakak Yo ) lebih baik kalau kau segera menghadap Ko Tjiangkun dan mohon keringanan atas segala kesalahan jang tidak tersengadja ini. Aku rasa sebagai manusia pasti iapun bisa memberikan pertimbangan setjara bidjaksana. Maka sehabis makan minum, segeralah engkau kemarkas Pek Ho Tong untuk menghadap Ko Tay Djin.“
Isteri Yo Tjie jang sangat berchawatir atas apa ang dialami suaminja, memberikan saran Yo Tjie untuk segera menemui Ko Ku dan minta keringanan, bila perkara ini ditanggungkan semuanja atas diri Yo Tie. Yo Tjie menggumam dengan suara dalam, tangannja menggah jangkir dan minun dengan sepuas puasnja, kemudian ia mendjawab kata2 isterinja: „Akan kutjoba saranmu ini, tetapi untuk menghadap pada Ko Trangkan, kita harus membawa bingkisan2 jang beriharga, supaja beliau merasa senang dan perkara ini dapat diputus sel ara ringan. Bila kita datang tidak membawa apa2. wah, dampratan dan makian jang bukan kita terima.....maka kesulitan ini lah jang memberatkan hatiku,“
Kembali Yo Tjie meraih makanan dan mengunjahnja dengan lai ap. maklum sudah ber hari² ia kurang makan dan kurang tidur. Istrinja lalu masuk kedalam kamar terdengar sang istri membuka akati, kemudian kembali keluar dan mengatjungkan sebuah bungkusan pada Yo Tjie :
“Yo Koko. perhiasan warisan ajah ibuku ini boleh kau berikan sebagai bingkisan. dengan djalan ini kita mengharap supaja urusanmu itu bisa segera beres, kita bisa hidup tenang dan tenteram, ini terimalah! “
Barang itu disodorkan kepada Yo Tjie. Yo Tjie tertegun dan tak dapat berkata apa2, tangannjapun tidak dapat segera digerakkan untuk menjambuti barang itu. Betapa istrinja sangat mentjintainja, sehingga rela berkorban demi keutuhan keluarganja. ........
Kembali isterinja mendesak dan menjodorkan barang itu pada Yo Tjie:
“ Yo Koko, barang2 warisan orang tuaku ini djangan kau anggap demikian keramatnja, demi keselamatan keluarga kita, kita harus bertindak setjara tjepat, djangan terlalu memikirkan urusan ketjil, sehingga menelantarkan urusan jang besar Nah, bawalah barang ini dan menghadaplah pada Ko tay Djin segera, dengan demikian kurasa hukumanmu akan mendapatkan keringanan ! “
Yo Tjie lalu meringkaskan pakaiannja, ia membawa perhiasan isinja untuk d bawa kemarkas Pek Hoo Tong sebagi bingkisan ke pada atasannja.
Sebelum Yo Tjie meninggalkan keluarganja ia berpaling kearah istrinja dengan pandangan saju jang nerawankan katanja dengan lirih:
— „Hadjin, (istriku) semoga pengorbananmu tidak sia². Nah, aku berangkat sekarang, semoga urusan ini segera dapat dibereskan.“
Kaki2 Yo Tjie mulai melangkah meuudju kemarkas Pek Hoo Tong.
Pada waktu Yo Tjie menghadap Djenderal Ko Kiu, bukannja senjum dan kata2 manis jang diberikan, tetapi tendangan dan makian jang melampaui batas Bingkisan jung diberikan tidak dipandang sebelah mata, karena nilainja tidak begitu tinggi. Keputusan telah didjatuhkan Yo fjie dipetjat dari pangkatnja sebagai komandan angkatan Laut, dan diberikan waktu hanja satu bulan untuk menggati kapal dan isinja, serta membajar tanggungan bagi keluarga anak buahnja jang telah keram bersama kapalnja. Bila tidak dapat memenuhi, maka pantjung kepala akan didjalankan.
Dengan badan penuh darah dan matang biru, Yo Tjie meninggalkan markas Pek Hoo Tong dengan hati jang pedih perih, hantjur luluh seperti tjairan lilin Tiba dirumah istrinjapun ikut meneteskan air mata, mereka tak dapat berbuat apa2 lagi, selain bungkam dan merenungi nasibnja...
Ketika malam agak larut datanglah kerumah Yo jie para tetangga dan handai taulan serta beberapa familinja, mereka berunding tjara bagaimana untuk bisa memberikan per o ongan pada Yo Tje Di-hitung2 bahwa djanlah jang harus diganti oleh Yo Te meliputi ratusan ribu tail, maka achirnja semua kerabatnja itu banja bisa menasehatkan untuk Yo Tjie melarikan diri sadja Dengan melarikan diri urusan akan beres, sebab ini adalah satu2nja djalan, djalan lain tidak ada lagi.
Ber-hari2 Yo Tjie mengeram dirinja didalam rumah, atjapkali nampak ia duduk di serambi muka rumahnja dengan masgul dan bertopang dagu.
Orang tuanja dan anak isterinjapun ikut berprihatin atas apa jang telah diderita Yo Ijie. Akan tetapi dengan djalan demikian terus menerus tidak akan ada perubahannja, bahkan hari2 terus berlalu dan djarak batas waktu jang hanja sebulan itu kian dekat Yo je merasa dadanja sesak dan akan meledak memikirkan nasi nja ini.
Pada suatu lari ia mem-buka2 almarinja dan mengeluarkan pedang pusaka dari leluhrnja, ia amat memjuntai pedang pusaka ini karena di samping ini warisan dari leluhur, pedang ini tadjamnja tak ada bandingannja
Ia menimang-nimang pedang itu, dan achinja mengambil suatu keputusan untuk didjualnja. barangkali sadja hasil pendjualan pedang ini bisa untuk menutup ganti rugi sebagai tuntut an dari Ko Kiu atas dirinja. Ja, siapa tahu pedang ini dapat laku dengan harga jang tinggi. Maka ia lalu membawa pedang na keluar untuk menemui is tinja dan berunding:
“Hudjin, pedang warisan lelulurku ni be ok akan kudjual, barangkali adja hasil pendjualannja bisa untuk menutup beaja tuntutan pengadilan, bagaimana pendapatmu? Yo Tjie agak takut² mengeluarkan kata² ini pada sang istri, maka kata² jang keluar dari mulutnja agak kaku dan penuh keraguan.
Istri Yo Tjie terkesiap dan sesaat tak dapat ber-kata, ia sangat menghormati suamiaja dan mendjundjung tinggi leluhur suaminja, kini pusaka warisan leluhur itu akan didjual dan akan pindah kelain tangan, bagaimana berat perasaan jang ditanggungnja..........
Yo Tjie dengan gugup menjambung kata²nja:
„Aku mengerti batwa benda ini warisan leluhur jang harus kita hormati dan djundjung tinggi, bahkan kita harus dapat melindunginja dengan benar2. Tetapi Hudjin, bila njawa kita teranjam dan rumah tangga kita bakal morat marit, apakah kita tetap akan berpegang pendirian setjara mutlak? Bila kita mendapat tjelaka. mana dapat kita melindungi pusaka leluhur ini? Maka usulku ini kiranja kau dapat menjetudjui, kelak dengan berusaha sungguh² kita tebus lagi pusaka ini, bagaimana.......?“
Istri Yo Tjie berlinang air mata, ia memandang kepada Yo Tjie dengan tadjam, terlihat bibirnja ber-gerak tetapi tak sepatah katapun melun jur keluar dari mulutnja.
Kembali terdengar suara Yo Tjie jang meminta persetudjuan dari istrinja : “Kita dalam keadaan terpaksa HuDjin, bukannja kita tidak menghormati kepada leluhur kita lagi, tetapi demi keutuhan rumah tangga kita, bagaimana? Dapatah kau menerima usulku ini? Ho djin semoga didalam hal ini kau bisa ada pengertian terhadapku! Aku berhari hari memikirkan persoalan ini, sampai² akan petiah rasanja kepalaku, kutjari djalan supaja kita bisa lolos dari penderitaan ini, namun kemana pun djalan itu buntu .... . maka idjinkan aku untuk mendjualnja, mungkin kita bisa terhindar dari mala petaka ini! ”
Isteri Yo Tjie tak tahan lagi membendung perasaan hatinja, ia lalu menangis sedjadi²nja dalam tangisnja itu ia mendjawab kata² Yo Tjie : " Koko ..... Ko... .. jah.. me ...... mang .... ki .. ki ... kita ....... tak .... da .. da ... pat ..... ber ... da .. da .. ja . la ... gi ... ngk ... ngk . ngk .. ngk .. aku .... a ... mat .... be ... be .. rat ..... pu ... sa ... sa ... ka ....... tu ... ngk ...ngk.., peninggal... lan ... ba ... gai ... ma .. na ... ki .. ta...a. kan... men... dju.. al... nja? ngk . .. ngk ... ngk ... ngk
Yo Tjie mendekati istrinia dan membelai rambut serta me-ngelus² punggungnja, katanja dengan suara jang dalam penuh keharuan:
“Dalam hal ini kau harus bisa memikirkan setjara bidjaksana, Hudjin mana jang lebih penting antara pusaka dan kehantjuran rumahtangga? Kalau kita dalam keadaan bahagia dan djaja tidak kekurangan suatu apapun lalu men sia-siakan peninegalun teluhur, sembarangan mendjual, itu adalah murtad, durhaka dan tidak menghormati warisan leluhur.
Tetapi kalau Kita da-am keadaan sematjam sekarang ini, satu2nja benda jang lajak didjual itu, menurut pendapatku ini adalah lajak, leluhur kitapun pasti akan meluluskan dan memperkenan. Pertjajalah, dalam hal ini kau terlalu dogmatis dan tidak berpikir setjara orsinil. Yo Tji membudjuk istrinja dengan mesra sekali. Dan lama istri Yo Tje sesenggukan, achir²nja ia mengangguk tanda setudju. Betapa besar rasa hati Yo Tjie takterkirakan, se-akan² ia sudah terbang berada dilangit sap ketudjuh.
“Terima kasih Hudjin, terima kasih. achirnja kaupun ada pengertian dalam hal ini Besok bangunkan aku pagi² benar, aku akan membawa pedang pusaka ini kekota Pengking. Disana banjak tinggal para bangsawan dan saudagar2 kaja, penawarannnja pasti berani tinggi. Nah beristirahatlah Akupun akan membungkus pedang pusaka ini dahulu.” Yo Tjie lalu masuk kedalam kamar dan membungkus pedangnja dengan kain sutera warna merah.
Keesokan harinja Yo Tjie pagi² benar telah berangkat kekota Peng King untuk mendjual pedang pusakanja.
Seharian penuh ia mondar mandir dan ber kaok² menawarkan pedangnja tetapi belum ada seorangpun jang menjampari dan memberikan tawaran Bahkan para pedagang dan orang² jang berlalu lalang d kota itu, sama sekali tidak ambil perhatian dan tak mengatjuhkan kepada Yo Ijie Hal ini dapat dimaklumi sebab pedang jang di awarkan oleh Yo Tjie itu harganja melampaui batas, Yo Ijie menawarkan pedang itu dengan karga 3000 tail maka tidak seorangpun jang menghampiri, bahkan semua orang menganggap bahwa Yo Tjie adalah seorang gila, paling tidak orang jang kurang waras ingatannja
Matahari sudah mulai mendojong ke Barat, hari telah djam 4. sore, hati Yo Tjie makin gugup dan berchawatir. Tjelaka! sudah sekian lama ia berkaok kaok sampai suaranja hampir habis akan tetapi pedangnja belum ada jang menawar, pedangnja belum laku djuga. Yo Tjie lalu menudju ketengah tengah pasar, dimana padat sekali para pedagang jang berdjual beli dan orang2 pelantjongan dari daeran² lain.
Didalam pasar ini pun Yo Tjie membuka mulutnja untuk mempropagandakan pedangnja :
“Pedang bagus, pedang bagus pusaka jang tak ada bandingnja, ketadjamannja dapat untuk membelah besi, keistimewaannja dapat memotong rambut jang ditiupkan kemata pedang, tanpa digojangkan. Jang lebih hebat menabas kepala manusia, darahnja tidak menempel! Maka selamanja pedang ini mengkilap tanpa diasahpun Hajo, I ajo! Siapa ingin beli, harganja 3000 rad tidak kurang tidak lebih 3 000 tail. dapat ditukarkan dengan pedang pusaka jang tidak ada duanja dikolong langit ini !! Demikian Yo Tjie ber-teriak²”
Kurang lebih setengah djam. Tiba² ia mendengar suara bentakan dari seorang penunggang kuda jang melarikan kudanja itu memasuki pasar
„“Hajo minggir, minggir ! beri djalan pada Siauwyamu [tuan ketjil ], minggir, minggir beri djalan, beri djalan ! Hush..... hush....... husha.....
Orang2 jang berada dipintu pasar itu segera sadja bubar seperti semut kepanasan, mereka lari serabuten untuk menjelamatkan diri.
Teriakan2 anak2 ketjil jang lari djatuh bangun karena takut te indjak kuda, djuga para pedagang jang ribut menjelamatkan dagangannja. Pasar mendjadi gaduh dan bising sekali.
Yo Tjiepun menghentikan propagandanja iapun ikut minggir dan berlindung dibawah sebatang pohon Siong. Matanja mengawasi penunggang kuda itu Siapakah penunggang kuda jang bengal dan ompak2an itu ? Tidak lain ia adalah Khiu Djie, anak seorang bangsawan jang bernama Khiu Wan Gwee. Karena ia adalah anak seorang hartawan jang kaja raja dan satu nja, maka tingkah pelannja sangat tjongkak dan ugal an.
Setiap hari ia melarikan kudanja kentjang-kentjang atau ngebut Istilah djaman sekarang, kuda itu dikendarai didalam kota bahkan pasar, sehingga membikin katjau dan tidak tenteramnja para pedagang maupun anak-anak. Khiu Djie sendiri melihat ketakutan dan bersimpang siurnja orang2 jang takut terindjak kudanja itu, bahkan tertawa terbahak-bahak karena senangnja, ini memang hobinja jang ia praktekkan setiap hari, dan sepandjang perbuatannja itu tidak ada seorang pun jang berani menegur, apa lagi melarangnja Orang2 sama takut pada ajahnja Wan Gwee kaja raja jang banjak dekingnja. Siapa berani bermain gila padanja, tahu sendiri apa akibatnja dan apa jang akan mereka alami. Maka perbuatan Khiu Djie jang sadis dan eksentrik itu makin men jadi2.
Hari inipun Khiu Djie jang ugal²an itu sedang beraksi, melarikan kudanja dengan tjepat dan memasuki pasar kota Pengking itu. Tiba² mata Khiu Djie mengawasi kearah bawah pohon Siong, dimana Yo jie sedang berlidung sambil membawa pedangnja Melihat hal ini Kiu Djie lalu turun dari kudanja, ia menghampiri Yo Tje bermaksud untuk mempermainkan
Yo Tjie sendiri tidak tahu siapa pemuda bergadjul ini, wadjahnja mendjadi ber-seri², sebab mengira pemuda kaja raja ini pasti suka pada pedangnja dan ingin membelinja
„Hei, bapak apakan engkau akan mendjual pedangmu itu?“
Tanjanja dengan senjum mengulum dibibirnja.
„Benar, benar, karena Loheng (orang tua) kehabisan modal, maka pedang pusaka ini akan kudjual untuk berusaha lagi.”
Yo Tjie menerangkan kepada pemuda itu dengan penuh harap.
„Berapakah kau akan djual pedang itu?”
Kembali Khiu Djie mendekati dan melihat-lihat pedang itu berlagak akan membelinja,
„Karena pedang ini adalah pedang pusaka peninggalan dari leluh rku, lebih dari itu pedang ini mempunjai keistimewaan jang luar biasa, mungkin dikolong langit ini tidak ada lagi pedang jang sehebat ini. Maaf Loheng bukan membual tetapi boleh dibuktikan“ Yo Tjie berkata dengan merendah.
„Apakah kehebatannja pedangmu itu? Tjoba aku ingin tahu, sebutkanlah !“
Pinta Khiu Djie dengan mengeringkan matanja dan tawanja melebar.
Orang² jang berada didalam pasar, sangat memperhatikan gerak-gerik pemuda ugal²an, pasti pemuda ini akan mempermainkan dan mentjelakakan pendjual padang itu Maka mereka berdujun dan ber-bondong mengelilingi untuk menjaksikan apa jang bakat terdjadi.
Terdengar Yo je menerangkan akan keistimewaan dan keluar biasaan dari pedangnja itu :
„Tuan. pedangku ini mempunjai 3 keistimewaan pertama dapat memotong logam jang bagai manapun tebalnja, tanpa gempal dan mengurangi ketadjamanja, Kedua, bila seutas rambut ditiupkan kearah mata pedang, maka rambut itu akan putus mendjadi dua. Ketiga, untuk memenggal kepala manusia darah dari leher jang terpenggal itu tidak akan menempel sedikitpun kemata pedang in Maka tanpa diasah selamanja pedang ini mengkilap dan tak bisa tumpul dan karatan.“
Nah, bila tuan ingin mentjobanja, silahkan, silahkan!
Yo Tjie mempersilahkan Khiu Djie uptuk mentjoba dan membuktikan akan kelihayan pedang pusakanja.
Khiu Djie lalu mentjabut rambutnja sendiri dan ditiupkan kearah mata pedang jang dipegang Yo Tjie. Betapa tadjam pedang itu, sebab begitu rambut itu membentur kontan putus mendjadi dua. Orang2 jang menjaksikan sangat kagum dan terkesima, mata mereka seperti mata2 kutjing jang sedang mengintjar tikus, bahna takdjub dan herannja, mereka tertjengang dan tak berkesip
Kembali Khiu Djie berak, ia tidak mau djatuh. nama dimata orang panjak, segera ia mengambil bungkusan uang logamnja dan disusun diatas sebuah medja jang kebetulan ada didalam pasar itu.
Susunan uang logam Khiu Djie itu tingginja kira2 hampir setengah meter. selesai menjusun ia lalu berpaling kearah Yo Tjie dan meminta untuk membukukan kelihayan pedangnja :
„Nah. aku ingin melihat bukti jang kedua, tjobalah belah uang logamku ini, apakah betul pedangmu mampu memotong logam.“
Yo Tjie tanpa ragu² lagi mengajunkan pedang pusaka kearah tumpukan uang logam itu, Tjraaaat !!!! Braaaakk !!! stara tabasan pedangnja jang kontan membelah mata uang logam itu. tumpukan mata uang logam mendjadi dua dan sebagian menggelinding oujar ketanah. Orang² jang menjaksikan ini saking tak dapat menahan perasaan sama mendjerit dan mengeluarkan kata² pudjian
“Sungguh hebat!”
Sungguh tadjamnja bukan buatan!
Pedang nomor satu dikolong langit!
Pedang lihay!........
Yo Tjie lalu menjarungkan pedangnja itu ke dalam kerangkanja itu dan bertanja pada Khiu Djie:
“Bagaimana tuan pendapatmu? Sukakah kau akan pedangku ini?” Khiu Djie dengan wadjah mengkal bertanja pada Yo Tjie:
“Berapa kau akan djual pedangmu ini?”
“Heheh... hehehehhh. . . .karena pedang ini adalah pedang pusaka maka aku akan mendjualnja dengan harga 3000 tail.”
“Haah?! 3000 tail. biasanja pedang2 itu, hanja berharga 30 sampai 40 tail, jang benar sadja kata²mu.” Khiu Djie ngeledek dan mulai akan mempermainkan Yo Tjie
“Benar tuan, pedang ini akan kudjual dengan harga 3000 tail.” Yo Tjie mendjawab dengan pasti.
“Oh, aku belum membuktikan akan keistimewaan jang ketiga, tjobalah kau potong kepala manusia, aku akan melihat dengan mata kepalaku sendiri, benarkah darah orang jang terpenggal itu sedikitpun tidak menempel dipedangmu.” Khiu Djie Khiu Djie memulai aksi untuk mempermainkan mangsanja Memang in suatu sifatnja jang selalu suka mempermainkan kehidupan rakjat, baginja adalah suatu hobi. Yo Tjie mundur selangkah dan mendjawab dengan gelagapan :
“Tuan muda, mana mungkin aku harus memenggal kepala orang, apalagi disiang bolong ini. Bila aku djalankan berarti aku melakukan pembunuhan, orang2 jang berada didalam pasar akan menangkapku, dan aku akan didjatuhi hukuman oleh pemerintah. Lebih baik aku tangkap seekor andjing dan memenggal, lehernja untuk membuktikan kebenaran pedangku ini.” Yo Tjie lalu mendekati seekor andjing jang kebetulan lari didepannja. Tetapi Khiu Djie tidak mau mengerti ia berkaok kaok memanggil Yo Tjie, katanja:
“Itu tidak boleh kau djalankan, bukankah keistimewaannja jang ketiga adalah bila untuk memotong kepala manusia! darahnja tidak akan menempel dipedangnu, nah, manusia adalah lain dengan andjing aku ingin bukti jang sebenarnja. Djadi kau harus memotong kepala manusia.”
Khiu Djie berdiri sambil berlagak, ia sangat senang kalau jang dipermainkan men djadi terkena dan kebingungan seperti kera kena djepretan. Tetapi Yo Tjie membantah :
“Dimana aku mentjari kepala manusia jang sudi untuk kupenggal?”
“Hahaaa. . . .hahaahh.. . . .hahaaaa. . .” Khiu Djie tertawa ter-bahak2 Sambungnja, “Ini kepalaku. penggallah seba gai bukti benarkah darah manusia tidak bisa menempel dipedangmu.”
Kepala Khiu Djie itu disodorkan kemata pedang Yo Tjie, karena Yo Tjie sama sekali tidak menjangka akan hal ini, sehingga Ia tetap memegang pedangnja dan sedikitpun tidak berkesempatan untuk menariknja.
Kontan kepala Khiu Djie segera menggelinding terpisah dari tubuhnja. Darah memantjur keluar seperti pantjuran sadja. Para orang² jang berada didalam pasar dan menjaksikan kedjadian itu mendjadi berteriak ngeri,
Yo Tjie sendiri mendjadi kebingungan, ia berteriak ber-ulang² minta pedang dan orang² jang menonton kedjadian itu, mau membantunja sebagai saksi dalam pengadilan
„Pengyu (sahabat ) sekalian, kau telah melibat sendiri kedjadian jang sebearnja aku bukannja membunuh. Tetapi dia sandiri jang menjorongkan kepalanja sehingga putus, harap Pengyu sekalian sudi membantuku dalam pengadilan. Tolong beberapa Tjuwei ikut bersamaku lapor ke kantor Tie Hu (pedjabat peradilan kota) !“
Yo Tjie lalu memasukkan pedangnja kedalam kerangkanja, dan disertai beberapa orang jang kasihan terhadap nja. Bersama²mereka berdjalan menudju kekantor Tie Hu. Sungguh malang dan kasihan nasib Yo Tjie.
bukannja ia mendapatkan uang untuk menjelesaikan urusannja, akan tetapi mendapat kesukaran jang lebih memedihkan. Memang biasanja penderitaan Itu datangnja bergelombang saling susul, jang satu belum teratasi jang lain telah menimpa maka bagi orang2 jang kurang kuat dan teguh imannja mudah lab terhanjut kedjurang jang membinasakan.
Orang2 jang mengikut Yo Tjie itu karena tergerak rasa kemanusiaan dan terketuk hati nuraninja jang sedjati, mereka tahu bahwa Yo Tjie tidak bersalah dalam hal ini, maka mereka menghadap kepengadilan sebagai saksi. Karena puluhan saksi membenarkan Yo Tjie, maka Tie Hu, pun memberikan keputusan dengan segera :
- Yo Tjie dihukum rangket 20 kali ditubuhnja.
- Dibuang kedusun Tay Ping Hu kota Peiping.
- Mukanja ditjatjah dengan udjung pedang sebagai bukti seorang hukuman jang dibuang.
- Dilarang mengindjak kota Tongking selama 5 tahun.
Orang tua Khiu Djiepun tidak berdaja, sebab saksi² Yo Tjie sangat Kuat, maka dengan hati sedih menerima segala keputusan peradilan ini.
Keluarga Yo Tjie ter-lebih² rasa dukanja atas apa jang telah menimpa diri Yo Tjie. Sebab keputusan ini tak dapat ditunda-tunda, maka keesokan harinja berangkatlah Yo Tjie jang dikawal oleh dua orang polisi masing² bernama Tio Hauw dan Tio Liong untuk menudju ketempat buangannja, dusun Tay Ping Hu kota Peiping, bagian Tiongkok Utara. Istri serta anak²nja bersama keluarga dan sanak familinja ber-dujun² menghantar-sambil ber-tangis²an Para saksi jang kemarinnja ikut bersidang hari inipun djuga berdatangan sambil membawakan makanan dan bekal untuk Yo Tjie, mereka merasa Yo Tjie dipihak jang benar, sehingga rasa persaudaraan timbul, dan memberikan bantuan serta pertolongannja. Setelah puas mereka ber-tangis²an dan saling memberi pesan, berangkatlah Yo Tjie dengan tangan dibelenggu lehernja dikalungi papan pesakitan Mereka berangkat menudju keutara. langsung ketempat tudjuan . . . . . . .
Demikianlah kembali kita dapat mengikuti kisah seorang Hoohan jang mengalami nasib jang malang, seperti halnja Liem Tjiong.
―oOo―