Lompat ke isi

108 Pendekar Gunung Liang San Seri III/Bagian 2

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
108 Pendekar Gunung Liang San Seri III
LIEM TJIONG DIHUKUM BUANG KE- KOTA TJHUNG TJHIU TOO. LO TIE DJIM MEMBIKIN GEGER DUSUN YA TIE LIM

LIEM TJIONG DIHUKUM BUANG KE-
KOTA TJHUNG TJHIU TOO.
LO TIE DJIM MEMBIKIN GEGER
DUSUN YA TIE LIM




KepadaMu Wahai sang Perkasa
adjaib nan tak terhingga
kekuatan jang menguasai dunia
kepadamu sumber tjinta kasih, kebenaran'
Sumber penghidupan jang abadi
jang mulia.
kepadamu manusia melukiskan tak sama
tetapi semuanja merasakan satu didalam-
kalbu
kepadamu sang perkasa, ksatria sedjati
Jang membela umat manusia
delem tegakkan lebencran dan keadilan
kini kami berdo'a !

Pada djaman Dinasti Song, masa itu penuh dengan ketidak adilan dan para penguasa

bertindak se-wenang² terhadap rakjat. Keadaan rakjat jang memang sudah parah, ditambah dengan kelaliman dan perkosaan akan hak² azasi manusia Sehingga dimana-mana timbul kekeruhan dan pemberontakan². Seperti dalam kisah 108 pendekar Gunung Liang San ini, semuanja sebenarnja adalah orang baik², ada jang bekas komandan keamaṇan, ada pegawai pemerintah, ada kepala desa, sasterawan, saudagar, tukang kaju, guru silat, dlsb. Mereka bergabung dan mengadakan pemberontakan karena sudah tidak tahan lagi akan tekanan2 jang makin gila.

Liem Tjiong bekas komandan keamannan kota Tongking, karena mempunjai istri jang tjantik, dan anak penguasa setempat itu ngiler karena ingin memperistrinja. Liem Tjiong lalu difitnah, disiksa dan didjatuhi hukuman berat jang tidak selajaknja menimpa pada dirinja. Tetapi pada masa itu, hal jang demikian ini mendjadi se-akan2 kebudajaan jang sangat digemari, Para penguasa dapat seenaknja mempermainkan kehidupan rakjat tanpa mengenal Prikemanusiaan.

Setelah agak lama Liem Tjiong disekap dalam pendjara, pada suatu hari ia diseret keluar. Kaki dan tangannja diborgol dengan rantai besi jang kokoh, kemudian dinaikkan sebuah kereta untuk dikirim kepengadilan setempat.

Tee Kwan atau Penguasa Hukum setempat lalu menjidangkan persakitan jang dibawa kekantornja.

Sebelum sidang dimulai, ada seorang pesuruh Ko Kiu jang menghantarkan seputjuk surat untuk jang mulia Tee Kwan kota Tongking itu.

Sang Tee Kwan membuka surat itu dan membatjanja sampai terang.

Kepada
Jang mulia Bp. Tee Kwan
di Tongkhia


Dengan hormat,

Dengan ini kami mohon untuk kita bekerdja sama.

Bila sidang dimulai, hendaknja Tee Kwan memutuskan hukuman mati bagi Lim Tjiong.

Sekian dan terima kasih.

Hormat kami,

Komandan Kim le Wee

Ko Kiu.

Wadjah sang Tee Kwan mendjadi berubah-rubah, sebentar merah sebentar putjat. la benar² kurang mengerti keinginan sang Komandan pengawal keradjaan ini, hei., ... mengapa persakitan ini harus didjatuhi hu kuman jang demikian berat ? Lebih baik aku sidangkan dulu dan memberikan pertanjaan² sedjelas2 nja, dan djangan sampai terdjadi hal2 jang terlalu dalam sidang peradilan ini. Sang Tee Kwan chawatir untuk bertindak se-wenang² Segera ia memerintahkan seorang Tjayhu ( Penulis untuk hadir dalam sidang ini, dan beberapa pendengar sebagai saksi, Sidang dimulai.

Tee Kwan:

„ Menurut surat dari Ko Tjiangkun, kau jang bernama Liem Tjiong, dengan etikat djabat jang telah direntjanakan terlebih dahulu, kemudian datang ke Kantor Markas Pek Hoo Tong untuk membunuh Ko jiangkun. Barang² bukti kini telah dikirimkan pula kemari, berupa sebuah pedang tadjam Maka tuntutannja adalah hukuman mati untukmu, Bagaimana keteranganmu ?“

Liem Tjiong memberikan djawaban dengan lantas, ia anat terkedjut akan tuntutan ini :

„ Tuduhan itu tidak benar sama sekali, itu adalah fitnah. Jang mulia Tee Kwan, hal jang sehenarja adalah demikian, Ko Tjiangkun telah mengandang padaku untuk datang ke Markas Pek Hoo Tong djam, 7.00 tepat, beliau ingin lihat sebilah pedang mustika jang dapat kubeli dari seorang pendjual pedang 3 hari jang lalu.

Aku datang memenuhi undangan itu tanpa sjakwasangka apapun, karena aku menghormati para pedjabat tinggi, bukankah beliau itu sebagai bapak rakjat ? Tetapi diluar dugaanku, Jang mulia Tee Kwan, aku djustru dikerojok, disergap dan tanpa diberi kesempatan untuk memberikan keterangan apapun aku dipukuli dan diseret kedalam tahanan. Kesemuanja ini kini kuserahkan ditangan Jang mulia Tee Kwan, sebagai pelindung rakjat pasti akan dapat membikin djernih hal² jang benar. ”

Keterangan² Liem Tjiong jang penuh kata-kata sindiran ini membuat sang Tee Kwan mendjadi merah padam, bahna djengahnja. Para pedjabat pemerintah, sebagai pegawai² tinggi adalah bapak rakjat.

Rakjat mentjintai bapaknja, sebab bapak adalah sudah seharusnja mentjintai anak²nja? Kata² Liem Tjiong ini se-akan² terus bergema di pendengaran sarg Hakim tinggi kota Tongkhia ini, sehingga ia tidak bisa memberikan putusan dengan segera.

„Aku akan mentjari 2 orang jang telah menjampaikan surat undangan dari Kotjiangkun kepadamu sebagai saksi. Dan aku ingin bersoal djawab pada Ko Tjiangkun benarkah keterangan2mu dalam sidang ini, Hei, bawa persakitan ini kedalam tahanan lagi! Sidang kita tunda sampai besok !

Liem Tjiong lalu diseret kembali kedalam sel tahanan. Sang Tee Kwan agak bingung terhadap seputjuk surat jang diterimanja dari Ko Kiu. Ia ber-tanja, mengapa Liem Tjiong Larus di djatuhi hukuman jang demikian berat, toh kesalahannja belum ada bukti2 jang djelas.

Djuga tidak ada para saksi jang dapat di pertanggung djawabkan ? Tengah hari itu sang Tee Kwan mengundjungi kekediaman Ko Kiu Segera sang Tee Kwan masuk kedalam Markas Pek Hoo Tong untuk menemui dan memperbitingkan Liem Tjiong.

Ko Tjiangkun, aku sangat bingung akan pesoalan persakitan jang. kau kirim kepadaku. Kalau menilik persoalannja, persakitan ini tidak lajak kalau didjatuhi hukuman mati. Aku chawatirkan kalau ada penindjauan dari Pusat, bila Lal ini diketahui sebagai tindakan se-wenan² bukankah kita akan mengalami hukuman tumpas dari Hong Tee (Kaizae ) seluruh karabat dan keluarga kita jang tidak mengetahui apa, akan mengalami nasib jang mengerikan....... Maka aku datang kemari untuk mengetahui dengan djelas duduk perkaranja. “ Ko Kiu agak bergetar djuga mendengar keterangan dari Tee Kwan, ter-lebih2 ia mendjadi bergidik mendengar akan adanja hukuman tumpas, maka Ko Kiu lalu mendjelaskan persoalan ini dengan suara se-akan2 berberbisik. Takut kalau2 hal ini didengarkan oleh orang lain.

”Tee Kwan, sebenarnja adalah demikian, karena anakku Ko Nga Lui sangat merindukan istri Liem Tjiong, sampai2 ia mendjadi seperti gila, sehari-hari kerdjanja hanja menjanji, berkata-kata sendiri, menari dan.........eh.........pikirannja sudah kurang waras Aku chawatirkan anakku satu²nja ini akan berusia pendek karena istri Liem Tjiong ini. Kunsuku memberi nasehat, djalan satu²nja apabila dapat membawa istri Liem Tjiong kemari. Tipu daja kami djalankan jakni menuduh Liem Tjiong sebagai seorang pendjahat jang akan membunhku. Tee Kwan tolonglah kami, bukankah kita se-akan2 bersaudara ? Maka aku pertjajakan hal ini kepadamu”

Sang Tee Kwan jang memang banjak berhutang hudi pada Ko Kiu, mendengar permohonan dari rekannja ini mendjadi serba salah, Kalau dituntut, berarti berlaku melanggar hukum kebenaran, kalau tidak diturut berarti tak ingat lagi hubungan persaudaraan antara dia dan Ko Kiu. Lama Tee Kwan itu berdiam diri . ........ Berat djuga rasa hati sang Tee Kwan mendengar keluhan sang rekan ini.

Achirnja ia mendjawab :

„Baiklah Koo Tjiangkun, aku akan membantu kesukaranmu, hanja.......”

Belum habis kata2 Tee Kwan, Ko Kiu sudah tak sabar diri untuk bertanja:

— „Hanja apakah Tee Kwan ? apakah jang kau beratkan lagi ?”

— „Ko Tjiangkun, keberatanku adalah hukuman mati jang didjatukan pada Liem Tjiong. Hal ini aku tetap tidak berani mendjalankannja.”

— „Lalu bagaimana aku dapat menolong anakku ?”

— „ Begini Ko Tjiangkun, biarlah aku mendjatuhkan hukuman buang kepadanja Bila Liem Tjiong aku buang ke Tjhung Tjhiu Too maka perdjalananja akan melalui sebuah hutan, namanja Ya Tie Lim (Hutan Tjeleng) Hutan ini, amat lebat dan banjak sekali babi babi hutan jang ganas dan liar berkeliaran sepandjang perdjalanan itu, djarang jang bisa menjelamatkan djiwanja Maka Tjiangkun boleh membawa istri Liem Tj ong untuk putramu. Dan aku sebagai pelaksana hukum tidak dapat dipersalahkan lagi bukan ?”

Ko Kiu merem merem melek mendengar uraian sang Tee Kwan ini, kemudian ia meng-angguk2kan kepala dan berkata dengan suara parau;

„Baik, baik, itu suatu djalan jang.....eng.... eng ... aku nanti suruh 2 algodjoku untuk mengawal perdjalanannja. Biarlah algodjo2ku nanti menghabiskan djiawanja dihutan Ya Tie Liem.

Sang Tee Kwan berdiri dan mohon diri, sebelum ia meninggalkan Markas besar Pek Hoo Tong, masih ia berkata beberapa patah lagi: Ko Tjiangkun, bila kau menjuruh algodjo²mu menghabisi djiwa Liem Tjiong, benar² kau harus menutup rahasia ini, Bila tidak? Aku chawatirkan musnahnja keturunanmu ber-hati²lah. Nah aku mohon diri.“

Sepeninggal Tee Kwan, Ko Kiu lalu memanggil Kunsu (Penasehat pribadinja) untuk merundingkan hal Liem Tjiong jang akan dihabisi djiwanja didalam perdjalanan pembuangannja dihutan Ya Tie Liem.

“Tjiangkun, aku usulkan Tang Kiauw dan Siek Pa sebagai pengawal Liem Tjiong, mereka adalah orang2 kepertjajaan kita jang dapat diandelkan, dan lagi memiliki Bugee jang lumajan.“

“Baik, baik, aku nanti perintah mereka Kunsu baik kau mempersiapkan perbekalan. dan beaja untuk mereka.”

“Baik, Ko Tjiangkun selesai aku mempersiapkan segalanja, aku akan segera mengikkut ajalannja sidang.“

“Ja, ja itu memang benar, sehingga aku dapat mengetahui apa jang telah didjalankan dipersidangan itu. Dan tjatat betul², kapan keberangkatan Liem Tjiong itu.“

“Baik baik, Tjiangkun aku mohon diri.“ Dalam pada itu, sang Tee Kwan jang telah mengetahui dengan djelas permasalahan Liem Tjiong ini, mendjadi agak risau hatinja.

Ia berfikir, alangkah sukaruja kedudukanku sebagai pelaksana hukum. Baru kali ini aku menghadapi persoalan jang pelik, semoga tidak botjor............

Sore hari, sekitar djam 16 00. Sidang dimulai untuk kedua kalinja, didalam memutuskan perkara Liem Tjiong.

Dalam persidangan kali ini, agak banjaklan orang2 jang hadir untuk menjaksikan djalannja sidang Dimana nampak pula penasehat pribadi Ko Kiu jang duduk ditempat jang terdepan.

Muntjullah Liem Tjiong sebagai persakitan kedalam sidang itu, walaupun telah 2 hari meringkuk dalam tahanan dan mengalami siksaan² namun badannja jang kuat dan gagah itu tetap tegap dan keren.

Mulailah sang Tjayhu (Sekretaris) jang bertindak sebagai pengatjara memulai membatjakan proses verbal. Para hadirin mendengarkan dengan penuh perhatian.

Barulah sang Tee Kwan menimbang dan memberikan pertimbangan, sebelum memutus kan perkara ;

„Liem Tjiong, sudah djelas akan kesalahanmu, kau tanpa perintah dari atasan telah berani bertindak lantjang. Memasuki, Markas dengan membawa pedang hal ini telah djelas melanggar peraturan kemiliteran.

Maka setelah mempeladjari dan menimbang-nimbang Peradilan akan memberikan putusan sebagai berikut :

  1. Sedjak hari ini kau dipetjat dari djabatanmu sebagai Komandan keamanan kota Tongkhia seljara tidak hormat.
  2. Didjatuhi hukuman buang kekota Tjnung Tihiu Too untuk djangka waktu 5 tahun
  3. Dirangket dengan pukulan rotan 20 kali.
  4. Dimukamu akan ditandai dengan tjatjanan udjung pedang, sebagai bukti kesalahanmu.

Nah, Liem Tjiong adakah kata? sanggahaan dari kamu, Sebelum putusan ini didjatuhkan?” Liem Tjiong benar² tidak berdaja, sungguh tidak disangka-sangka bahwa pedang pusaka jang dimiliknja itu, tidak menuntun kehidupannja kearah djalan jang sempurna, bahkan kebalikannja membawanja kedjalan penderi- taan jang penuh duka nestapa................,

Liem Tjiong dengan suara dalam penuh menahan perasaan ; "Ja, aku menerima segala putusan ini karena aku tidak dapat mengadjukan saksi²......... Baiklah Tee kwan segera melaksanakan hukuman ini padaku.

Hanja aku mohon supaja keluargaku diberi tahu akan hal ini !” Sang Tee Kwan bagaimanapun djuga tergetar hatinja karena terharu.

Palu sidang dipukulkan keatas medja, tanda putusan peradilan telah diputuskan. Tjayhu menulis segala putusan dan djalannja sidang untuk dilaporkan kepusat. Dan 2 lagodjo segera membawa pentungan2 rotan untuk melaksanakan hukuman rangket. Tee Kwan lalu mengutus pesuruhnja untuk menjampaikan hal ini pada keluarga Liem Tjiong.

Penasehat pribadi Ko Kiu, amat puas mengikuti djalannja sidang ini. Selesai mendengarkan keputusan2 dari sang Tee Kwan, tjepat-tjepat ia pulang dan masuk kedalam Markas untuk memberikan laporan pada Ko Kiu.

„Esok hari itu adalah hari keberangkatannja Liem Tjiong untuk mendjalankan hukuman buang kekota. Tjbung Tjhiu Too. Hendaknja Ko Tjiangkun malam ini djuga memanggil Tang Kiauw dan Siek Pa. untuk berunding dan berdamai.“

Ko Kiu bertjekat hatinja, ia tidak menduga bahwa djalannja peradilan ini akan demikian tjepat. Ja lalu bergegas memanggil pesuruh kesetiaannja untuk menjari Tang Kiauw dan Siek Pa.

Tang Kiauw dan Siek Pa ini sebenarnja adalah polisi² atau opas jang bertugas didalam kota Tongking. Karena kegemarannja mabuk²an, maka sudah puluhan tahun lamanja ia bertugas sebagai polisi, tidak pernah dinaikkan pangkatnja. Maka tidak heran demi untuk mentjukupi kebutuhan keluarganja, seringkali mereka mau diberi tugas apapun, asal ada keuntungan......

Kali ini pesuruh Ko Kiu itu mengundangnja maka Tangkiauw dan Siek Pa jang sedang mondar mandir meronda didalam kota Tongking, segera meninggalkan tugasnja, dan buru² mengikuti pesuruh Ko Kiu itu untuk datang ke Markas Pek Hoo Tong. Mereka berpikir, . . . . pasti ada sesuatu tugas jang me nguntungkan baginja. Tiba didalam Markas, nampak Ko Kiu telah lama menanti. Dihadapannja disadjikan bebepa tjawan arak wangi dan makanan jang enak².

”Duduk, duduk, aku telah lama menantimu. Haha.... hahaaa.....

”Ada apakah Ko Tjiangkun mengundang kami kemari ? Adakah kelalaian² jang hamba lakukan?" Tang Kiauw bertanja dengan penuh prihatin, takut kalau mendapat tegur karena pekerdjaannja. Ko Kiu bahkan tertawa ter-bahak²,.........

”Aku mengundang kalian kemari bukan untuk memarahimu, tetapi ada sesuatu tugas jang amat penting jang harus kalian djalankan ” Tugas apakah itu, Ko lay Djin ? ” tanja Siek Pa.

“ Begini, kalau kalian berhasil mendjalankan tugas ni Masing2 akan manerima 100 tail, dan begitu kalian bersedia, kami akan memberikan masing2 uang muka 50 tail. Hehe.... heh... bagaimana?" Tang Kiauw dan Siek Pa heran sekali, sebab upah kali ini dipandangnja amat bagus. Tetapi mereka masih bingung karena belum diberikan, tugas apakah jang harus mereka djalankan.

Ko Kiu dapat mengerti apa jang dipikirkan oleh opas kelaparan ini.

Katanja dengan bersungguh-sungguh :

Tugasmu adalah mengawal seorang pendjahat jang bernama Liem Tjong, jang akan mendjalankan hukuman buang kekota Tjhung Tjhiu Too Klian harus mengawal terus sampai tiba disuatu hutan jang bernama Ya Tie Lim, nah, disanalah kalian harus menghabisi djiwanja. Dan sebagai barang bukti, kalian harus membungkus kepala Liem Tjiong, untuk nantinja kami tukar dengan upah separohnja jang masih kami tahan, jakni masing2 menerima 50 tail lagi Hehheh...,heh bagaimana?"

Tang Kiauw kaget sekali, ia sebenarnja adalah seorang iang bernjali ketjil, maka buru² ia minta idjin untuk berdamai dulu dengan Siek Pa dirumah.

Ko Kiu mendjadi tjemas dan serba salah;

,.Baik, baik, kalian berunding dahulu,.. tetapi tugasmu untuk mengawal esok hari, harap kalian mempersiapkan perbekalan dan alat sendjata."

Tang Kiauw dan Siek Pa bergegas untuk meninggalken tempat itu. D'dalam perdjalanan, Tang Kiauw dan Siek Pa berunding:

„Siek Heng bagaimana pendapatmu tentang tugas jang dibebankan pada kita ? Aku agak chawatir, sebab Liem Karw Thao adalah seorang Hoohan jang berilmu tinggi, Salah² kita jang mendjadi korban

„Tetapi Tang Heng, aku sanggup mendjalankan tugas itu Nami kita dapat menggunakan taktik membunun Liem Tjiong. Ketika jang sebaik ini djangan dilewatkan, sebab kapan kita bisa memperoleh harta jang sedemikian banjaknja ? Walaupun kita mengumpulkan gadjih tiap bulan, belum tentu dalam 5 tahun akan terkumpul 100 tail, ..., baik Tang Heng bekerdja sama denganku bagaimana ?“

Siek Pa jang memang mata duitan segera menjanggupi tugas untuk membunuh Liem Tjieng. Lain halnja dengan Tang Kiauw jang masih ragu, karena mengingat keluarga, hari depan dan kemampuan untuk duel dengan Liem Tjiong, ia jang gagah itu dapat memutuskan ran ai² jang mengikat ditubutnja dan melawan.....Malihat rekannja masih penuh dengan kebimbangan, Siek Pa membudjuk lagi :

„Tang Heng djangan terlalu berketjil hati, uang sebanjak itu dapat untuk mendjamin kita dinari tua. Kudjelaskan siasatku untuk membunuh Liem Tjiong, dengarkan !

Kita memang tidak ungkulan melawan Liem Tjiong jang gagah itu, tetapi bukankah dia terbelenggu dengan kuatnja ? Bila nanti telah sampai dihutan Ya Tie Lim, aku akan masak air jang mendidih untuk menjiram tubuh dan melemahkan segala kekuatannja, dengan demikian amat mudah kita untuk meng habisi djiwanja, seperti membalik tapak tangan sadja. . ., hahahhaa..............“

Mendengar budjukan kawannja ini, tergerak ajuga hati Tang Kiauw. Ia membajangkan untuk lekas mendjadi kaja raja, dengan upah sebanjak 100 tail. Maka achirnja ia menjanggupi djuga adjakan kawannja ini.

„Baik, baik, aku ikut serta denganmu Siek Heng, besok aku samper kerumahmu, nah, aku pulang kerumah dulu untuk berpamit pada anak istriku, sekalian mempersiapkan perbekalan untuk besok”

Siek Pa tertawa dan melambaikan tangan pada kawannja. la sendiri dengan langkah lebar pulang kerumahnja.

Dalam pada itu, selama berhari²istri Liem Tjiong merasa sangat sedih dengan peristiwa jang menimpa suaminja. Ia menangis terus sampai lupa makan dan tidur. Pembantunja jang setia ikut pula berprihatin atas kemalangan jang menimpa madjikannja

"Siu Djim, aku tidak mengira bahwa Liem Koko akan mengalami tuduhan jang demikian hebat. . . .oh, sungguh aku tidak sang ka Besuk adalah hari keberangkatan Liem Koko untuk mendjalankan hukuman buang kekota Tjhung Tjhiu Too, baik kau malam ini djuga pergi kerumah Tiatia (Ajah) untuk menjampaikan kabar ini Djangan kau mampir² diperdjalanan, nah, berangkatlah ! "

" Liem Hudjin, aku akan menjampaikan berita ini pada Lopek segera, baik Liem Hudjin beristirahat dan djangan menangis terus. Bila Liem Hudjin menangis terus²an, nanti bi sa djatuh sakit. Baik berprihatin, semoga Liem Kauw Thao selamat didalam perdjalanannja. Nah. aku mohon diri untuk berangkat,“

Pelajan jang setia dari Liem Tjiong sege ra membawa surat dari istri Liem Tjiong untuk disampaikan kepada ajahnja. Esuk harinja, Liem Tjiong dengan dikawal oleh Tang Kiauw dan Siek Pa keluar dari rumah tahanan, untuk berangkat kepembu angan.

Pada saat itu tjuatja amat bagus, diangkasa nampak langit djernih dengan mega² biru jang bertebaran memenuhi tjakrawala, Daun pepohonan bergojang pelan² ditiup sang baju jang berhembus pagi hari, burung² berJontjat lonjatan di-ranting², sambil berki jau bersahut-sahutan. . . kesemuanja ini bagi Liem Tjiong. hanialah menambah kepedihan dalam hatinja. Betapa tidak? Ia seorang jang berdjiwa bersih, telah difitnah demikian kedji .............. dan kalau memikirkan akan istrinja, oh, sungguh amat memilukan, baru sadja ia melangsungkan perkawinannja baru sadja ia dapat mengetjan hidup serba keruku- nan jang membahagiakan...............Tetapi kesemuanja itu se akan2 hanjalah kilat jang berkelebat, tiepat nian berlalunja........... al ..... sungguh malang nasibku ini.

Demikian Hoohan kita berdjalan dengan tubuh lemas. linglung dan tidak bertenaga. Kaki tangan L'em Tjiong dirantai dengan kokoh, dilenernja dipasangkan ra an untuk memborgol leheinja Tang Kiauw dan Siek Pa mengiringkan dari belakang. Kedua opasbitu berdjalan sambil ber-tjakap?.....

Pagi hari itu, dialan raja masih sepi Orang² jang berlalu lalang baru satu dua. Maka iring-iringan Liem Tjiong ini dapat berdjalan dengan leluasa Belum beberapa djauh nampaklah seorang pesuruh Ko Kiu jang datang menghampiri. Ia menemui 2 opas itu dan berbisik-bisik, kemudian menjodorkan sebuah bungkusan. Liem Tjiong ikut merandek dan mengawasi mereka dengan penuh tanda tanja

Ia melihat 2 opas itu meng-angguk2kan kepala dan menerima bungkusan itu. Kesemuanja ini membikin Liem Tjiong bertjuriga,........... rentiana apakah jang mereka akan lakukan atas diriku ?

Benar2 penguasa sekarang ini bertindak sewenang2 terhadap rakjatnja............

Sepeninggal pesuruh Ko Kiu, bergerak lagi iringan Liem Tjiong dan dua pengawal Makin lama makin terasa berat rantai 2 jang menggantungi tubuh dan kaki² Liem Tjong. Siek Pa berbisik pada Tang Kiauw:

„Tang Heng, uang dikantong ini sebanjak 200 tail, masing² kita memperoleh 100 tail Dan bila kita berhasil membunuh Liem Tjiong, kita akan mendapatkan lagi masing² 100 tail. Upahnja telah dinaikkan 100 persen, maka kita harus mendjalankan tugas ini se-baik2nja."

— „Oh, djadi upahnja ditambah satu kali lipat? Siek Heng, kita barus ber-hati², siapa tahu ada kawanoja jang menguntit perdjalanan kita ini."

— „Haha...... hahahaa engkau takut dengan bajanganmu sendiri, mana ada kambratnja jang usilan, tjari penjakit sadja.”

Belum rombongan ini mentjapai pintu batas kota, dari arah depan ada seorang tua jang menjongsong, dialannja amat jepat.

Setelah datang dekat. ternjata orang tua itu adalah ajah mertua Liem Tjiong. Bapak mertua merangkul anak menantunja dan menagis sesenggukan :

Liem Tjiong, Tia tidak mengira kalau kau mendapat halangan jang demikian hebat. Siapakah jang menuduhmu sebagai seorang pembunuh ? Biadab betul orang itu, benar? tidak punja Liangsim orang itu pasti hewan jang berkulit manusia" Liem Tjiong meneteskan air mata, karena amat terharu melinat ketjiniaan ajah mertuanja terhadap dirinja, katanja dengan lirih :

"Tiatia, baik Tiatia menahan kesemuanja ini, djangau Tiatia terlalu menguatirkan diriku. Pemfitnah itu adalah Ko Tjiangkun, maka aku tidak berdaja menghadapinja. . ......"

Mertua Liem Tjiong terkedjut sekali mendengar nama Ko Tjangkun, seorang komandan Kim le Wee jang sangat berpengaruh saat ini. Pantas anaknja manda sadja mengalami nasib jang sedemikian

" Ja, ja, anakku Tiatia memberimu selamat djalan dan semoga Thian melindungi dirimu. Aku akan membawa istrimu kerumah supaja ada jang melindungi.

" Tiatia, bila Moymoy berkehendak untuk berumah tangga lagi, aku merelakan dan memberikan hak sepenuh-penuhnja kepadanja. Sebab hukumanku ini amat lama, 5 tahun.. ja. 5 tahun. " Suara Liem Tjiong makin dalam dan parau karena menekan perasaan.

" Anakku tidakusah banjak berpikir jang bukan², Tiatia masih punja sawah ladang, peng hasilannja tjukup untuk makan kita bertiga,..... djangan chawatirkan kami.“ Sedang ajah mertua dan anak menantu ber-tjakap², datanglah istri Liem Tjiong jang da tang membawakan beberapa pakaian dan perbekalan.

Begitu sampai, segera menubruk tubuh Liem Tjiong dan menanggis se-djadi²nja.

“Liem Koko, kau... kau... oh....”

“Moymoy, djangan terlalu bersedih, aku dapat mendjaga diriku. Memang berat rasanja perpisahan denganmu putusan peradilan ini tak dapat kubantah, sebab²nja aku tak dapat mengadjukan 2 orang saksi, pengantar surat undangan ini Moymoy bila ada keinginanmu untuk berumah tangga lagi, Koko merelakan dengan ketulusan dan keichlasan Supaja tidak memberatkan pikiran dan kenidupanmu, kau masih muda dan bari depanmu masin tjemerlang Koko belum dapat menentukan kapan dapat kembali kekampung halaman ini lagi.........

Baik Moymoy mentjari tempat untuk bersandar, dan orang jang baik sebagai andelan .“

„Liem Koko, oh..... oh.... oh sampai kapanpun Moymoy akan tetap setia menantimu Djangan Koko berprasangka jang bukan²........ Sedikitpun Moymoy tidak menjesal bersuamikan kau, bahkan Moymoy merasa bangga dan bahagia, karena kau berdjiwa djantan dan berhati putih bersih... Koko sampai matipun aku akan tetap bersamamu”

„Liem Tjiong, Tiatia masih tjukup kuat untuk memelihara Moymoy dan ibunja, djangan kau berkata kata demikian. Pertjajalah akan kesetiaan putriku. Kami akan berprihatin dan menunggu sampai kau bebas dan pulang kembali kekampung halaman. Dapat kita hidup berkumpul kembali dan melandjutkan perdjoangan hidup demi keturunan kita jang mendatang...........“

„Tiatia, djangan sampai memberatkan beban Tiatia, aku bukan bermaksud mentjeraikan Moymoy, hanja kasihan akan hari depannja.“

1stri Liem Tjiong menangis terguguk-guguk, sampai tidak mampu mengeluarkan kata². Liem Tjiong mendekati kekasihnja dan dengan suara saju jang memilukan memberikan hiburan:

Moymoy, tabahkanlah hati, kuatkan tekadmu. Kita harus melihat kenjataan, djangan bimbang dan takut didalam menghadapi udjian hidup ini. Aku bukannja akan meninggalkan kau dan menjirihkanmu tetapi.... tetapi.......memberi kebebasan untuk hari depanmu. Kau masih muda belia, penantianmu akan begitu lama..........5 tahun..... adikku.......5 tahun....” Liem Tjiong lalu meminta Tang Kiauw membelikan sebatang Pit (Pena Tionghoa, terbuat dari batang bambu sebagai tangkainja, diudjungnja bulu babi ) dan selembar kertas. Kebetulan pagi hari itu sudah ada beberapa warung jang buka. Maka tidak sukarlah untuk membeli barang² ini.

Setelah Liem Tjióng menerima apa jang perlukan, segera ia menulis surat untuk dititinggalkan pada istrinja .....

Kupersembahkan untuk adikku
jang tersajang Moymoy


Adikku, karena aku mendjalani hukuman
buang selama 5 tahun, mungkin lebih.
Maka demi hari depanmu Koko merelakan
dengan ketulusan hati padamu.
Bila ada oraug lain jang berkenan dihati-
mu, kuidjinkan untuk kau bersandar.
Koko hanja memudjikan semoga kau berba-
hagia selalu. !
Selamat tinggal Koko utjapkan.

Kokomu,
Liem Tjiong.

Setelah itu dilipat diangsurkan pada istrinja. Tatkala istri Liem 1jiong membuka dan membatja isi surat itu, seketika wadjahnja mendjadi putjat, ubunnja linglung. ia berteriak menjajatkan dan dja:uh pingsan.

Ajah mertua Liem Tjiong buru² menuhruk dan merangkul putrinja jang telah tak sadarkan diri itu,

Melihat ini Liem Tjiong bagaimanapun djuga tak tega untuk meninggalkan, ia berdjongkok dan ikut menitikkan air mata.

“ Moymoy, Liem Tjiong bukannja akan mentjeraikanmu, hanjalah memberimu kebebasan. Kau boleh menurut dan boleh djuga menentangnja. Bila kau tetap setia anakku, tidak ada halanganja pula untuk kau menantinja. Liem Tjiong bukan akan meninggalkanmu setjara kedjam... banja memberi kebebesan.

” Moymoy, moymoy... . aku mohon maaf akan kata2ku dalam surat itu. Moy, djangan salah mengerti, aku bukan akan menjisihkanmu..... Bila memang demikian tekad hatimu, aku akan berdjuang sampai dapat berkumpul lagi denganmu, bangunlah adik, d angan kau bikin hatiku pedih. . . . moy moy...“

Ajah mertuanja mengurut-urut putrinja jang nakin kalap tak sadarkan diri ini.

Liem Tiiong bagaimanapun djuga tak tega batinja, melihat sang kekasih menderita batin demikian hebat la berkata dengan suara jang dalam karena menahan perasaan :

— „Moymoy moy, aku pasti kembali dan berkumpul lagi denganmu, Moymoy,.... aku tak akan dapat meninggalkanmu dalam keadaan demikian, kuatkanlah hatimu, aku pasti kembali “

Se-akan² suara Liem Tjiong ini menembus kebenak sang kekasih, mulailah ia menggerak-gerakkan tubuhnja, dan sekilas terbukalah matanja.

— „Koko, kako....., aku relakan kau pergi untuk mendjalankan hukuman buang, namun djangan koko sekali2 berkata memberi kebebasan untukku. Aku akan tetap menunggu walau apapun terdjadi ....... ia, aku do'akan koko semoga kau lekas menemukan kemerdekaanmu kembali.........“

— ,Liem Tjiong. tenanglah dalam perdjalananmu, ingatlah anakku bahwa didalam dunia ini siapa jang berbuat djahat pasti akan memetik hasil perbuatannja; ketahuilah bahwa putriku adalah seorang desa, tetapi berhati putih bersih. tidak nanti ia mau mentjari pengganti didalam hidupnja. Hanja kau Liem Tjiong satu2nja jang berkenan dihatinja.“

Liem Tjiong amat menjesal akan apa jang telah terdjadi bukan maksudnja untuk melukai hati sang kekasih. Tetapi tanjalah kasihan melibat hari depannja .......

— „Tiatia, erimakasih, aku mohon diri, semoga Tiatia seh it2 selalu, sehingga dapat memberikan perlindungan pada Moymoy,-

Moymoy, djangan bersedih lagi, patuhilah nasehat Tiatia. Kalau engkau bergirang, Tiatia akan ikut berbahagia Nah, Moymoy selamat tinggal, Tiatia selamat tinggal.... sampai berdjumpa .....” Liem Tjiong menganggukkan kepala tanda memberi hormatnja pada sang ajah dan kekasihnja. Ia tak dapat Kiongtjhiu karena tangan dan lehernja diborgol dengan kuat.

”Liem Koko, . . . kuatkan hatimu, aku akan selalu menantimu. Djangan chawatirkan kami, kami dapat membawa diri baik². “

“Liem Tjiong, ber-hati2lah nak. dalam perdjalananmu, ajah memberi sangu, selamat..... selamat ....” Berangkatlah iring²an Liem Tjiong dan 2 pengawalnja untuk menudju kekota Tjhung Tjhiu Too Bertiga mereka djalan tanpa menoleh-noleh lagi, makin lama bajangan mereka makin ketjil gan kian kabur.. ... Ajah mertua Liem 1jiong memapah putrinja untuk diadjak julang kembali kerumah, untuk berkumpul dengan ibunja lagi.

Den ikianlah perpisahan jang mengharukan antara Liem Tjiong dan istrinja jang tertjinta. Betapa tak terduga bentjana telah menimpa kehidupannja. Bukankah mereka sedang gembiranja menikmati kehidupan rumah tangga baharu, sedang teisemangat nerantjang hari depannja. Berusaha untuk mendjadi suami istri jang rukun dan berbahagia. Tetapi memang didunia ini, kadang2 perubalannja amat tjepat, sebagaimana jang mengatakan :

” Time and Tice wait for 10 man! ” „Ja, memang sebenarnjalah, bahwasanja pasang dan surut itu tidak menantikan manusia Waktu terus berlalu, dan dialam maya ini tidak ada sesuatupun jang kekal dan abadi, semuanja serba berubah dan berganti, sebagaimana air sungai jang selalu mengalir, sang baju selalu bertiup ......

Demikian pula kehidupan manusia, selalu berubah-ubah, kadang2 bahagia, tetapi ada kalanja pula berduka dan menderita........ Udjar sang Khongiju :

„ Djit, djit sin. . . . Hari hari serba baharu ......

Rombongan Liem Tjiong, Siek Pa dan Tang Kiauw itu, terus berdjalan kaki Maкlum pada djaman itu, orang2 jang didjatuhi hukuman buang, tidak pernah dinaikkan, kendaraan harus ditempuhnja dengan berdjalan kaki. Walaupun djaraknja itu beratus Km djauhnja

Mereka berdjalan pada pagi hari sampai petang, dan malam harinja menijari penginapan untuk beristirahat, untuk keesokkan harinja melandjutkan pe djalanannja pula.

Ber-hari² mereka djalan, tanpa mengenal lelah, sebab kola Tihing Tjniu Too harus ditempuhnia dalam waktu 10 hari. Bila tidak maka petugas pengawalan itu akan mendapatkan hukuman rangket.

Tetapi kali ini 2 pengawal itu tidak chawatir akan terlambatnji sang waktu, karena mereka kali ini bertugas setjara istimewa Mika djalannja seenaknja sadja, bila mendjumpai warung, mereka berhenti untuk mentjari makanan dan minum arak, kalau lelabnja agak hilang barulah melardjutkan perdjalanannja lagi.

Tidak heran kalau iring-iringan ini sudah berdjalan satu minggu lamanja baru sampai didepan hutan Tjeleng atau Ya Tie Lim.

Siek Pa sangat girang batinja, ia mendekati Tang Kiauw dan ber- bisik². Mereka lalu membawa Liem Tjiong kesebuah penginapan jang besar.

Jang mernakai papan merek “HOTEL TAY SONG” dengan huruf besar tinta mas.

Setelah memesan sebuah kamar dan beberapa makanan lalu pemilik hotel itu memanggil seorang katjung untuk mengantarkan tamu²nja ini.

Kamar jang dipesan adalah sebuah kamar jang tempatnja dibawah, dan letaknja jang belakang, paling dekat kamar mandi dan kebun bunga

Kuntji pintu kamar itu dibukakan, kemudian katjung itu mempersilahkan tamu²nja masuk untuk beristirahat.

— „Silahkan, Toaya beristirahat. sebentar lagi daharan jang tuan pesan kami kirim. Bila ada keperluan apa2 panggil sadja saja. Namaku A Tong.“

— „Baik, baik. A Tong tolong pindjamkan aku sebuah pantji besar dan sediakan air panas untuk kami mandi. Hawa udara disini sangat dingin, maka kami perlu mandi dengan air hangat. Nih, 2 tail untukmu !”

A Tong sangat kegirangan melibat tamu tamunja bersifat rojal dan main persen. Ia membungkuk dan menerima uang itu

— „Baik, Toaja menanti sebentar. Aku akan kedapur memasak air.“

— „Ja, ja. agak jepatan sedikit, hari telah hampir malam.“

Demikian Siek Pa telah merentjanakan untuk menjaram tubuh Liem 1jiong dengan air mendidih sebelum memasuki hutan Ya Tie Lim esok hari Dengan demikian akan mempermudah djalannja pembunuhan. Tang Kiauw disuruhnja membuka segotji arak wangi dan disodorkan beberapa tjawan kepada Liem Tjiong;

Liem Kauw Thao, besuk kita telah memasuki sebuah hutan jang amat luas, namanja Ya Tie Lim. Didalam hutan itu tidak ada seorangpun jang berdiam, maka tidak akan kita djumpai warung2, arak, selama kurang lebih 5 hari. Maka malam ini baiklah kita mengadakan pesta makan dan minum sepuas²nja. Hajo djangan sungkan2, anggaplah kita kawan sendiri, hehe, heheh,......”

Liem Tjiong tanpa tjuriga ikut makan minum se-puas2nja. Hal ini sangat menggirangkan hati Siek Pa dan Tang Kiauw, sebab memang keinginannja untuk meloloh arak sebanjaknja pada Liem Tjiong supaja mabuk. ” Hajo, Liem Kauw Thao, tambah lagi. Besuk kita tidak bisa seperti sekarang ini. Jang kita temui sepandjang djalan hanjalah pepohonan, batu2 terdjal dan babi² hutan jang ganas, ular2 berbisa, sesekali harimau. Maka kita harus menghimpun tenaga malam ini setjukupnja. Hahabaaa.... ha....”

Sedang mereka asjik dengan makan minum, masuklah A Tong jang memberitahukan bahwa air jang dimasak telah mendidih.

“ Toaya, airnja telah medidih, apakah kami bawa sekali kadalam kamar mandi ?

“ Ja, ja, kami segera bergilir untuk mandi.”

Siek Pa lalu memberi kode pada Tang Kiauw dan Tang Kiauw pun segera melolon lagi arak pada Liem Tjiong supaja lupa diri Karena Liem Tjiong terlalu banjak meneguk arak maka lama kelamaan ia mendja di mabuk, wadjahnja mendjadi merah membara. matanja kabur dan mulailah ia menjanji dan ber-kata² tak karuan

Melihat jang diintjer telah tak sadar akan dirinja, segera Siek På dan Tang Kiauw membawanja kedalam kamar mandi.

— „Liem Kauw Thao kau boleh mandi malam hari ini dengan air hangat sebab besok sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mandi seperti hari ini.“

Tubuh Liem Tjiong lalu dipaksa dan didorong masuk kedalam ember besar jang berisi air mendidih itu. Kontan sadja seluruh tubuhnja melepuh dan amat sakit. Liem Tjiong sadar dan merintih kesakitan :

„ Heija, heija, mengapa kalian menggodokku? Hei, djangan bermain gila terhadapku? Kau kunjuk2 jang tak berpikir seperti manusia, hanja karena suapan, kau mau diperalar untuk menjiksa dan akan membunuhku bukan? Bangsat kurijatji, iblis laknat, kalian sadis, manusia jang berdjiwa binatang!”

Liem Tjiong lontjat dari dalam ember itu, namun sekudjur badannja telah melepuh dan luka², hilanglah segala kekuatannja, sampaipun berdjalan sadja hampir tidak mampu. Ia merambat pelan² kembali kekamar

Siek Pa dan Tang Kiauw sesaat tak dapat berbuat apa2, mereka tertegun melihat kedjadian ini. Mereka djuga tertusuk dengan kata² Liem Tjiong jang se-akan2 mengingatkannja untuk berdjalan ke Djalan jang BENAR!

Ribut² ini menimbulkan tamu2 jang lain pada melongok dan ada jang bertanja.

” Ada apa ribut? ? Adakan kalian berhantam ? ” Tang Kiauw bergagap ga ap memberikan djawaban :

”Oh, tidak apa, tidak ada apa²...”

”Aku mendengar keluhan kesakitan dari dalam kamar mandi. Siapa jang berkelahi, adakah terluka ? ” tanja salah seorang tamu hotel lagi.

”On. itu adalah kawanku jang sedang mabuk, karena terlalu banjak, minum susu matjan. Ia mandi sambil mengotjeh tak karuan. “ Djawab Siek Pa membohong.

Terdengar beberapa tamu hotel itu tertawa, mendengar djawaban Siek Pa ini. Memang sudah lazım didalam hotel ini, orang terlalu banjak minum arak dan mabuk. Maka semuanja tak memperdulikan lagi.

Dalam pada itu Liem Tjiong benar² menderita amat hebat, seluruh kulit2 ditubuhnja melepuh dan ada jang terkelupas. Semalam ia tidak dapat memedjamkan mata, karena untuk miring kemanapun dirasanja sakit. Semalam ia merintih dan sangat berduka, wadjahnja jang tampan kini mendjadi bengap dan melepuh, rambutnja kusut dan matanja tjekung.

Ja, siksaan atas diri Liem Tjiong ini memang sangat kedji dan tidak berkemanusiaan Banjak sudan tjontoh teladan didalam dunia ini, seperti kata² mutiara:

” Semut mati digula, kumbang mati dimadu, dan manusia mati karena lupa diri! Tang Kiauw dan Siek Pa telah lupa pada dirinja, karena upah jang besar. Mereka telah memilih dialan sesat, karena mengedjar keuntungan pribadi tanpa mengingat lagi rasa kemanusiaan. Mereka telah lupa pada Tuhannja, lupa sega la-galanja, karena uang. harta, keuntungan Namun bila nanti mereka tertumbuk pada batu karang, ngunduh woaing pakarti, ja ja, baru mereka sadar akan dirinja!

Dalam bahasa djawa :

”Katjentoking pantja baja, ubajane hambalendjani.

Bila menemui marabahaja, baru mereka terkedjut dan geragapan karena tak terkira bisa menimpa dirinja.

Keesokan harinja, sebelum matahari terbit. Siek Pa dan Tang Kiuw telah menemui pemilik hotel untuk membajar uang penginapan dan makanan semalam, la buru² mengiring Liem Tjiong meninggalkan hotel itu. Mengapa mereka tergesa-gesa berangkat dan tidak menantikan terangnja tanah? Tidak lain karena chawatir diketahui oleh tamu² hotel akan perbuatannja terhadap Liem Tjiong. Bukankah perbuatannja itu melanggar hukum. Suatu penganiajaan jang tidak mengenal prikemanusiaan.

Maka dipagi buta, dimana hawa udara masih dingin menggigilkan, mereka memaksa Liem Tjong untuk berdjalan memasuki hutan Ya Tie Lim jang lebat dan seram itu.

Djalannja Liem Tjong terseok-seok, karena tapak kakinjapun melepuh dan berair, 2 opas itu terpaksa memapahnja untuk membantu berdjalan.

Ketiga orang itu bertepatan dengan muntjulnja sang mentari diufuk Timer, sampailah pula mereka dihutan jang lebat itu. Siek Pa meneliti perdjalanan ia melihat bekas² tapak kaki orang² jang melalui hutan itu. Setelah diurutkan merupakan sebuah lorong ketjil jang pandjang. Ia lalu menggapai Tang Kiauw dan Liem Tjiong :

„Inilah djalan jang menudju kota Tjhung Tjhiu Too, kalau kita berdjalan agak tjepat, 6 hari lagi kita akan sampai ketudjuan Hajo, empos semangatmu Liem Kauw Thao, supaja tugas kita tjepat selesai !”

Kembali mereka berdjalan sambil memapah Liem Tjiong memasuki hutan Ya Tie-Lim. Hutan ini memang sangat lebat dan luas. Potion2nja tinggi², sehingga setelah masuk kedalam hutan itu, sukar untuk dapat melihat sinar matahari. Djalannja merupakan tanah lembab, bila tidak ber-hati²akan tergelintjir. Sepandjang djalan banjak dikedjutkan dengan binatang2 jang berlarian setjara mendadak, seperti ular, landak, kera, luak, burung2 hutan dan sesekali babi hutan jang lari serabutan

Kesemuania ini membikin hati Siek Pa daň Tang Kiauw agak tjemas dan berchawatir,

Setelah berdjalan kurang lebih 3 djam, sekudjur badan telan bermandikan keringat, badju2 telan mendjadi lepek dan berbau asam Liem Ijiong sendiri mendjadi pujat pasi, karena sepandjang djalan menahan rasa sakit jang tak terhingga.

Siek Pa lalu memerintahkan Lien Tjiong beristirahat dibawaa scoatang pohon jang besar.

 „Kau boleh menunggu disini, karena persediaan air kami habis.

Djangan lari Liem Kauw Thao, supaja kita tidak mendapatkan kesukaran. Liem Tjiong mendjatuhkan dirinja dirumput-rumput, ia mendjawab dengan nada sengit :

 ” Aku bukan manusia rendah, tidak nanti aku melarikan diri. Kalau aku mau, sebenarnja kalian bukan lawanku, aku bisa memutuskan rantai2 ini dan membunuhmu. ”

Siek Pa dan Tang Kiauw mendjadi mendongkol, mereka lalu meninggalkan Liem Tjiong dan pura² mentjari air minum.

Setelah berdjalan agak djauh, Siek Pa mendekati Tang Kiauw ;

 ” Tang Heng, saatnjalah untuk kita bertindak, kita harus djalan memutar, sehingga Liem Tjiong tidak mengetahui kita berdua. Dari arah belakanglah kita Latam kepalanja, nanti aku jang menabas lehernja. Sebab kepala Liem Tjiong berharga untuk kita menagih upah jang separuhnja.”

 ” Apakah ada lain orang didalam hutan ini, Siek Heng ? ” Tang Kiauw agak ketakutan sebab ia memang bernjali ketjil.

 ” Djangan mimpi, dipagi hari ini, mana ada orang jang berani memasuki hutan Ya Tie Lim ini. Hajo, djangan lewatkan saat jang sabaik ini Makin siang akan makin banjak orang jang berlalu lalang. Mumpung masih pagi, kita tjepat2 membereskan dan pulang ke Tongkhia.”

Siapakah jang membentak dan menghalangi pembunuhan itu?
Dapatkah Liem Tjiong menemukan kemerdekaannja kembali?
Dan bagaimana kisah² hoohan dari gunung Liang San selandjutnja ? ? ?

 Batjalah seri 4!

  SEGERA TERBIT ! ! ! !

TERBIT TIAP 10 HARI SEKALI

PESANAN 10 seri dapat potongan jang memuaskan ! !

R A L A T :

 Kepada para pembatja jang budiman kami memaklum bahwa dalam buku ini terdapat kesalahan nomer halaman sbb.

Pada nomer halaman 17 seharusnja nomer halaman 15, dan nomer halaman terakhir harusnja 65.

 Maka dengan keterangan ini semua kesalahan² pada nomer halaman telah kami betolkan, harap maklum adanja. Keduanja lalu memutar, mereka djalan berendap-endap, untuk merunduk dan membunuh Liem Tjiong dari arah belakang.

Setelah tiba dibelakang Liem Tjiong Siek pa dan Tang Kiauw makin ber-hati² mereka berdjalan sambil berdjindjit, takut² kakinja menerbitkan suara dan diketahui Liem Tjiong.

Setelah djarak mereka dan Liem Tjiong tingal selangkah, mulailah Siek Pa memberi kode perintahkan pada Tang Kiauw untuk memukul kepala Liem Tjiong

Sambil memedjamkan mata, Tang Kiauw mengangkat rujung besinja tinggi². Dan Siek Pa meloloskan golok Pak Hong Toonja untuk siab menabas batang leher Liem Tjiong ....Dalam pada itu, tiba² angin bertiup amat kentjangnja, sehingga pohon² berkerojot daun² bergojang amat menakutkan. Se-akan² para sutji memperingatkan umatnja jang terantjam bahaja. Liem Tjiong jang mendeprok diatas rumput itu, sama sekali tidak mengetahui kalau dirinja sedang menghadapi sakaratul maut. Ia bahkan duduk sambil mengantuk.

Sebelum rujung besi itu mendjatuhi kepala Liem Tjiong. tiba² terdengar bentakan, suara itu amat njaring dan mengedjutkan, sehingga rujun Tang Kiauw djatuh ketanah:

“Hei, apa jang akan kau kerdjakan? Berani benar dengan dihadapan Tonyamu engkau akan melakukan pembunuhan!“

Siek Pa dan Tang Kiauw mendjadi ketakutan, mereka menoleh kearah suara itu, dan nampaklah seorang Hwee Sio tinggi besar lari mendatangi.