108 Pendekar Gunung Liang San Seri III/Bagian 1
Ko Kiu dan pelajan tua itu memasuki kamar Ko Nga Lue jang sedang tidur dengap pulasnja.
Sang ajah jang terlalu memandjakan anaknja itu, pe-lahan² mengusap kepalanja dan membangunkanna.
Ko Nga Lue terdjaga dan memandang ajahnja, sekedjap kemudian ia menangis seperti anak ketjil kehilangan permen karet.
Ko Kiu dengan iba berkata pada anaknja : " Ko Djie, djangan chawatir, ajahmu pasti dapat melaksanakan keinginanmu. Memang kau telah tjukup dewasa, dan sudah selajaknjalah kalau kau akan mempersunting seorang putri hahahaa Ajahmu dahulu, tatkala mudapun demikian..“ Ko Nga Lue meng-usap² air matanja dan dengan suara lemah mendjawab kata2 ajahnja;
”Tetapi ajah, perempuan jang kutjintai itu adalah istri seorang komandan keamanan kota Tongking ini.”
Ko Kiu kaget, seperti orang disengat kaladjengking:
”Hab, Seorang jang sudah mempunjai suami?
Apakah kau tidak keliru memilih, anakku ?”
Kembali Ko Nga Lue menangis :
“Ajah, dia amat tjantik. Bila aku tidak dapat memperistri dia, lebih baik aku mati sadja “ Ko Kiu “Oh, sungguh tjelaka kau, bagaimaina aku bisa melaksanakan keinginanmu jan edain ini ?”
Penasehat Ko Kiu jang kebetulan djuga hadir dikamar itu mendekati tjukongnja dan berkata dengan la gak tjentil . „Taydjin, aku bisa memberikan obat untuk Siauw ya, asal ... ada pengertian dari Taydjin, hahaha . . hhaa. ”
Ko Kiu melotot dan berkata :
„Berapa kau minta upah untuk itu ?“ Penasehat itu berpikir sedjenak, kemudian mendjawab;
„Paling sedikit 100 tail, bagaimana ?“ Ko Kiu kontan mendjawab „Baik, baik, aku penuhi permintaanmu. Tundjukkan bagaimana tjaramu ?“
Penasehat Ko Kiu mendjawab:
„Aku bersahabat baik dengan Liok Giam, dan Liok Giam tinggal bertetangga dengan Liem Tjiong itu. Aku akan menawarkan pada Liok Giam, maukah ia mendjalankan hal ini demi keselamatan Siauwya? Kalau dia mau, aku tanggung beres dah, hahaa.. hahaha.....”
Ko Kiu memerintahkan pelajannja mengambil uang 100 tail, jang segera diberikan pada penasehatnja.
Ko Kiu penuh harap berkata;
„Aku nantikan kabar baik darimu !“
Penasehat itu dengan tertawa berkata :
„Pasti, pasti, mana aku berani main gila pada Taydjin”
Penasehat Ko Kiu itu setelah keluar dari markas langsung pergi kerumah Liok Giam. Kebetulan malam hari itu Liok Giam berada dirumah. Ia amat heran melihat penasehat pribadi Ko Kiu berkundjung kerumahnja malam².
Liok Giam me-manggil² istrinja untuk membersihkan medja kursi dan mengeluarkan hidangan untuk penasehat tjukongnja. Liok Giam memberi Kiongtjhiu dan mempersilahkan tamunja duduk.
Tegurnja/ ”Malam² berkundjung kerumah hamba, adakah Taydjin mempunjai urusan jang sangat penting?“
Liok Giam penuh tanda tanja dalam hatinja. Penasehat Ko Kiu jang litjin itu merogoh sakunja, dan meletakkan sedjumlah uang diatas medja Liok Gian. Katanja:
“Saudara Liok Giam, kau boleh mengambil uang itu. Ini adalah pemberian Ko Tjiangkun, dan beliau mengharap bantuanmu untuk menolong Siauwya. “ Liok Giam bingung, ia belum mengerti djelas apa maksud jang sebenarnja. Tanjanja lagi
”Sakit apakah Siauwya, ? Dan apakah hamba bisa memberikan obat untuk penjakitnja?” Penasehat itu tertawa, kemudian katanja:
“Begini saudara Liok Giam, sakitnja Siauwya itu tidak lain adalah soal wanita, haha . . . . hahaaa.. . . . .
Ia telah mendjadi ter-gila² tatkala melihat Liem Hudjin dikelenteng Pek Ma Sie. Saat ini tidak mau makan, minum..... hanja tidur sadja, sekali² mengingau, ber-kata² sendiri, se-akan² ia berhadapan dengan Liem Hudjin. Kalau hal ini ber-larut aku pertjaja Siauwya pasti mendiadi gila Maka aku nasehatkan Ko Tjiangkun untuk minta bantuan.” Liok Giam bingung :
„Apa jang dapat hamba lakukan? Apaang dapat hamba perbuat untuk memberikan pertolongan
Penasehat itu mendekati Liok Giam dan berbisik ditelinganja. Liok Giam mendjadi merem melek, ia amat bingung dan takut. Setelah sesaat penasehat itu minta diri dan pesannja :
„Aku pertjaja kau pasti berhasil, nah. selamat malam dan aku nantikan kabar baik darimu.” Bergeg islah penasehat Ko Kiu itu kembali kemarkas memberikan laporan pada Ko Kiu.
Liok Giam memanggil istrinja dan bersama² menghitung tumpukan uang jang diatas medja.
Istri Liok Giam berkata
„Suamiku, uang ini berdjumlah 50 tail. Sukar bagi kita untuk memiliki uang sebanjak ini. Gadjimu kau kumpulkan 2-3 tahun baru mungkin. Uang jang sebanjak ini diberikan padamu, ada tugas apakah, sehingga hadiahnja demikian banjak ?“
Istri Liok Giam njerotjos bertanja pada suaminja. Mendengar pertanjaan istrinja ini, Liok Gam lama tak dapat ber-kata2, acbirnja ia menggelah napas pandjang :
„Hah...........“ Istrinja bingung bertanja lagi.
„Ada apakah suamiku ? Bukankah kita merasa girang memiliki sedjumlah uang ini ? Kita bisa beli sawansendiri, rumah jang bagus dan perhiasan²? Mengapa kau bahkan mérasa kurang senang ? Aku heran !”
Dan² perhiasan²? Mengapa kau bahkan merasa kurang senang ? Aku heran !”
Kata² istrinja ini membikin hati L'ok Giam makin risau Betapa tidak ? la memikirkan bat wa persoalan ini sungguh tidak mudah. Maka ber hari2 Liok Gam tidak berani masuk kemarkas Karuan sadja Ko Nga Lue si Siauwya atau tuan ketjil jang gandrung kasmaran itu makin gundah gulana Badannja makin kurus wadiannja putiat seperti marat hidup dan katanya seperi orang tidak waras, Sering bertakap² sendiri dan menjanji tak karuan ko Ku makin sibuk menukirkan nasib anak satu²-nja
Suatu hari dipanggillah penasehatnja dan Liok Gam kemarkas Pek Hoo Tong untuk merundin, kan hal ini. Begitu menghadap Liok Giam segera ditegur dengan keras :
“Kenapa kau tidak mendjalankan tugasmu?” Agak gugup Liok Giam memberi 'djawaban :
“Maafkan hamba, Taydjia, sebenarnja sudah kujari ketika jang baik. Rentjana hamba jakni apabita Liem Kauw Thao bertugas, maka hamba calling pada pelajan tua untuk menjampaikan hal ini pada Siauwya, biar Siauwya dolan kerumah hamba. Dengan démikian sesekali bisa mampir keLiem Hudjin. Tetapi Siauwya tidak pernah menerima code² ini.“
Ko Kiu panas dingin dan membentak lagi :
“Djangan kau permainkan anakku jang hampir gila itu! Aku minta kau segera dapat menolongnja.” Kembali Liok Giam mendjadi kelabakan dan keringat dingin mengutjur seluruh badannja. Namun Liok Giam adalah seorang jang litjin dan pandai bermuslihat, djawabnja dengan pelan:
„Taydjin, hamba pasti mendjalankan tugas itu dengan baik, hanja hamba kekurangan beaja.......sebab rentjana hamba kali ini memerlukan taktik dan keberanian, djuga membutuhkan tenaga seseorang jang pemberani dan alat²nja.”
Ku Kiu menukas;
„Apakah alat²nja itu ? Dan berapa kau minta tambahan beaja lagi ?” Liok Giam pura² berbitjara serius;
„Taydjin, hamba membutuhkan sebilah pedang mustika Dan untuk tambahan beaja kurang lebih 20 tail lagi. Soal seorang kawan nanti hamba jang mentjarikan, ”
Ko Kiu karena sangat memikirkan nasib anaknja maka segala permintaan Liok Giam diluluskannja.
Memang sudah mendjadi kodrat alam, siapa menanam pasti memetik buahnja Barang siapa menabur benih jang baik, pasti tumbuh tanaman jang bagus, tetapi sebaliknja siapa jang menabur benih jang buruk, akan mendapatkan hasil jang sepadan.
Didalam adjaran ang Khongtju mengatakan, Hanja satu adjaranku, tetapi satu ini dapat menembus kesegala lapisan.”
Murid beliau bertanja :„Apakah jang satu itu ?“
Sang Khongtju mendjawab: Itulah Tiong Sie atau setia dan tahu menimbang, dalam bahasa Djawa disebut Teposelira.
Bila diri sendiri tidak mau diperbuat oleh orang, lain djanganlah berbuat atasnja. Tidak heran bila kehidupan Ko Kiu jang sewenang² dan suka mentjelakakan orang lain itu, achirnja ngunduh woning pakarti Sedjarah jang membuktikan segala kedjadian dibumi ini!
Demikianlah putra sipendjabat tinggi negeri Song saat ini sedang kejujun karena gandrung pada seorang wanita jang sudah bersuami. Pada djaman sekarang tidak kurang
hal² sematjam ini terdjadi, maka sering kita mendengar tembang Sing abang ora kurang, kok sing idjo diunduhi. Sing legan ora kurang, kok sing wis duwe bodjo dirusuni Dalam bahasa Indonesia; Jang merah tidak kurang, jang masin nidjau dipetik Jang budjang tidak kurang, iang sudah beruman tangga kok di retjoki? Aneh, ja, aneh !
Komandan Kim le Wee Ko Kiu, segira mengeluarkan sebilah pedang pisaka Tman Liong Kiam atau peding nag lang dan diserahkan pada Lok Gam Djuga satu bungkusan kain sutra jang berisi uang 20 tail
Lio Giam menerima barang² itu dengan gugup Katanja. "Taydjin, rentjana hamba adalah demikian Karena hamba bertetangga dengan Liem Tjiong: . . . hamba mengetahui betul kesukaannja Ada karakternja Liem Tjiong adalah seorang gagah, bugeenja tinggi dan berdjiwa djantan. Adalah sukar untuk mempermainkan istrinja jang tjantik djelita itu. Tetapi hamba dapat meneropong kalemahan²nja”
Ko Kiu dan penasehat tertarik sekali mendengarkan uraian Liok Gam si hamba jang litjin ini.
Kata Ko Kiu dengan bernapsu :
”Ja, teruskan, teruskan, hagaimana kelemahan Liem Tjiong itu? Dan bagaimana karakternja ? ”
Liok Giam dengan agak aleman menjambung tjeritanja:
„Liem Tjiong itu sangat gemar akan sendjata-sendjata mustika, maka dengan pedangpusaka Thian Liong Kiam ini aku akan mempedajakannja. Aku ber-pura² untuk mendjual pedang ini, pasti Liem Tjiong tergerak hatinja untuk membelinja. Setelah pedang pusaka ini berada ditangannja. amat mudah Tay- Djin untuk mentjelakannja bukan? Tay Djin bisa menuduh Liem Tjiong sebagai pentjuri- pusaka jang hilang dari markas Pek Hoo Tong ini... hahaha.... bukti sudah ada padanja....“
„Tay Djin boleh mendjatuhkan hukuman mati padanja. Dengan demikian bukankah istrinja boleh dengan mudah dimiliki oleh Siauw Ya ? Hahaha . . . . . hahaha ....“ Ko Kiu dan penasehatnja mengangguk-anggukkan kepala dan dalam hati mereka amat setudju dengan taktik jang kedji dari Liok Giam ini. Sungguh tidak djarang terdjadi didalam dunia ini hal² jang sudah djelas tidak benar, bahkan malahan diterdjang oleh manusia sendiri. Maka sebenarnjalah, bukannja Tuhan itu membuat nasib kehidupan manusia sengsara dan penuh derita serta tjoba. Hanja manusia sendirilah jang membuat nasib dalam kehidupannja. Derita dan bahagia sebenarnja ada ditangan manusia sendiri, seperti kata² mutiara dalam bahasa Djawa berbunji:
” Suwarga lan naraka iku, kawengku dining
purba wasesaning pribadi
atau sorga dan neraka itu terletak pada
tingkah polanja manusia sendiri !
Seperti halnja Ko Tay Djin, tuan besar Ko jang mulia ini, karena berpangkat besar, maka tidak memikirkan lagi akan tindakannja. Demi menjelamatkan anaknja jang sebenarnja salah, tetap nekad menerdjang djalan jang terkutuk ini. la dengan mantep segera mendjalankan tipu muslihat jang kedji, tanpa ingat akan prikemanusiaan lagi. Memang kenjataanlah, bahwa kelemahan manusia jang terbesar sedenarnja adalah KECHILAFAN ? sekali lagi KECHILAFAN ! 50 rail dan pusaka Thian Liong Kiam lalu diserahkan pada Liok Giam.
Tatkala Liok Giam menirima barang² itu agak tergetar hatinja, ia menjabut pedang pusaka itu untuk membuktikan keistimewaannja. Ruang jang agak remang2 tjahaja nja itu, mendjadi tjemerlang tatkala pusaka Thian Liong Kiam itu terbunus dari sarungnja....Tjepat² Liok Giam memasukkannja kembali dan bergegas mohon diri untuk segera mendjalankan tipu dajanj ...... Ko Kiu dan penasehatnja merasa lega, ia merasa jakin bahwa taktik ini pasti akan berhasil dengan bagus.
Keesokkan harinja Liok Giam mengundjungi seorang sahabatnja, diutarakanlah siasat untuk mentjelakakan Liem Tjiong ini. Kawan Liok Giam seorang penganggur jang kerdjanja hanja berdjudi dan mabuk2an itu, bersedia membantu asal ada uang kopi²nja. Demikianlah kawan Liok Giam itu bersedia bertugas sebagai penjual pedang pusaka. Liok Giam Aku menghadiahkan padamu 5-tail, asalkan kau mematuhi tidak akan membotjo.kan Rahasia ini pada siapapun. Berdjandjilah ! “
Kawan Liok Giam menjengir dan meraup 5-tail jang ada dihadapannja, tukasnja; “Tanggung beres, Liok Heng tidak usah chawatir aku. Lalu bagaimana tjara untuk mendjual pusaka itu, berilah petundjuk2, sebab aku belum pernah berdagang apapun. Liok Giam dengan sungguh2 memberikan tjara² technik mendiual, katanja;
“Kau bawa pedang pusaku ini, berdjalanlah sepandjang djalan untuk menawarkan pedang ini pada orang2 jang berlalu lalang di dimuka rumah Liem Tjiong.
Kawannja itu meng-angguk2kan kepalanja, sesaat ia mengangkat mukanja dan bertanja ;
”Berapakah harga pedang pusaka ini ?“ Liok Giam tersenjum geli 'katanja :
Hampir aku kelupaan untuk memberikanja Tawarkan dengan harga jang setinggi-tingginja, jakni 1000 tail. Dengan demikian orang2 jang berlalu lalang sepandjang djalan itu pasti atjuh tak atjuh, sebab harganja terlalu tinggi. Tetapi hal ini djustru akan menarik perhatian Liem Tjiong jang gemar akan sendjata2 pusaka, ia pasti keluar dan menawar pedang ini. Nah djalankan taktik ini !
Aku permisi pulang selamat bertugas. Liok Giam memasrahkan pedang itu pada kawannja dan bergegas pulang
Pada hari itu djalan ketjil dimuka rumah Liem Tjiong seperti hari2 biasanja' ramai sekali de ngan orang2 berdjalan ber-iring2an menudju kepasar Mereka berdjalan seperti iring2an semut, ada pedagang, peladjar sekolah pegawai ketjil pendjual sajur2an, obat2. dll
Sebab memang djalan ketjil didepan rumah Liem Tiong ini adalah sebuah djalan hidup dikota Tongking
Saat itu Liem Tjiong belum berangkat bertugas sebagai keamanan² kota, ia sedang makan pagi dan asuk ber-tjakap² dengan Liem Hudjin, istrina jang tjantik djelita. Keluarga jang baru ini nampak amat rukun dan baha Ia amat kagum akan kegagahan Liem Tjiong badannja tinggi tegap, dadanja bidang, tubuh nja kekar dan lebih dari itu kepalanja adalah mirip sekali dengan Matian Tutul. Maka djulukannja Fa Tju Thao Liem Tjiong atau Liem Tjiong si Kepala Matian Tutul. Ia mengangsurkan pedang itu dan menerangkan harganja :
„ Pedang ini disebut Thian Liong Kiam, pusaka jang djarang dikolong langit ini. Aku mendjualnja dengan harga 1.000,- tail, tidak boich kurang lagi. Liem Tjiong mengamat-amati pedang pusaka itu, mengeluarkan dari sarungnja dan menjabat-nja batkan keudara.
Ajunan sabetan itu menerbitkan suara mengaung iang pandjang.- se-akan² suara ringkikan naga jang mengerikan. L'em Tjong jang memang gemar akan pusaka², maka hatinja sangat tertarik dan ingin memiliki pusaka ini. Alangkah sajangnja bila pedang jang langka ini djatuh ketangan orang lain. Maka Liem Tjiong menawar pedang itu segera :
“Aku tawar pedangmu ini dengan harga 600 tail. Lo eng bagaimana ?” tangannja masih tak henti2nja mengelus-elus pedang itu. Kawan Lok Gam tahan harga. sebab memang taktiknia jang litjin.
Diawabnja. Mana boleh, terlalu djauh kurangnja Begini sadja Liem Kauw Thao, karena aku mengerti bahwa engkau seorang gagah, memang gia, walaupun mereka adalah temanten baru, jang baru2 sadja membentuk mahligai rumah tangganja namun mereka memang sangat ijoDok satu sama lain. Mereka adalah pasangan jang setimpal, jang laki2 tampan dan gagah, jang perempuan tjantik dan aju Sedang Liem Tjiong dengan nikmatnja bersantap. tiba² telinganja mendengar suara orang jang menawarkan pedang pusaka.
„Pedang bagus, pedang, bagus, tak ada bandingannja dikolong langit ini, hajo siapa ingin membelinja. Harganja. 1000 tail tidak bisa kurang. Hajo, hajo siapa ingin membelinja!“
Orang jang berlalu lalang kebanjakan hanja membuang pandangan sedjenak. sebab mendengar harga pedang itu amat tinggi maka mereka atjuh tak atjun, tak ada seorangpun diantara orang2 jang berlalu lalang itu mau melihat, apalagi menawarnja. Tetapi orang kenanjakan itu adalah lain dengan Liem Kauw Thao, mendengar harga jang diminta 10 000 tail Liem Tjiong segera melonjat keluar dan memanggil pendjual pedang itu Memang Liem Tjiong adalah seorang kesatria jang gemar memakai senjata² pusaka. Maka pedang jang ditawarkan dimuka rumahnja itupun tidak lolos dari keinginannja untuk membelinja.
Liem Tjiong ; ”Hie Loheng bertenti dulu' aku ingin melihat pedangmu! Pendjual pedang itu memutar badannja dan kembali untuk menghampiri Liem Tjiong sudah selajaknja menjandang pedang pusaka ini' hanja aku meminta tambahan harga 200 tail lagi Diadi 800 tail bolehlah “ Liem Tjiong meminta pedjual pedang itu menunggu sebentar, ia lari masuk kedalam rumah menemui istrinja.
“Hudjin hudjin! . . .“ Istri Liem Tjiong keluar dari kamar dan heran melihat suaminja masuk dengan membawa pedang pusaka, ia bertanja;
“Pedang siapakah itu, Liem Ko?” Liem Tjiong tersenjum pada istrinja dan mendekati, katanja dengan suara lemah lembut :
“Moy moy, aku akan membeli pedang pusaka ini, tetapi sajang harganja—800 tail tidak boleh kurang lagi, sudan harga mati. Padahal uangku hanja 600 tail Eh, Moy moy barangkali kau masih ada simpanan 200 tail sadja ? “ Istri Liem Tjiong jang mamang kasih pada suaminja, tak tega melihat Kokonja bersedih karena tak bisa memiliki pedang itu Maka mekarlah senium dibioirnja dan dengan lemah Jembut pula ia berkata;
“Koko. djangan bersedih, moymoy masih aba simpanan kurang lebih 400 tail, ambillah bila Koko memerlukan Lem Tjiong mundjadi besar na inja sesaat 1 manja ia tak dapat ber-kata² aking terharunja Kemudian Liem Tiong melongok keluar dan memanggi pondjual pedang itu;
“Loheng, kemari ! Harga pedangmu telah kusetudjui. Ini hitunglah 800 tail!”
Pendjual pedang kambratnja Liok Giam itu mendjadi senang sekali, sebab tipu dajanja telah berdialan baik Ia menerima uang itu dan menghitungnja, kemudian dimasukkan kedalam kantong dan berpamit.
Hari itu, Liem Tjiong agak terlambat masuk kantor.
Ia begitu terpesona dan sangat mengagumi pedang pusaka Thian Liong Kiam itu, sehingga ia terlambat mendjalankan tugasnja.
Dalam pada itu, kawan Liok Giam langsung menudju kemarkas Pek Hoo Tong dan memberikan laporannja.
Didalam markas Ko Tay Djim, penasehat pribadinja dan Liok Giam sedang me-nanti² dengan tiemas Betapa girangnja mereka pada saat kawan Liok Giam masuk dengan wadjah ber-seri². Setelah mengambil tempat duduk, mula lah ia mentjeritakan apa jang telat, didjalankannja. Ko Kiu sangat memudji kepinteran kawan Liok Giam, kemudian ia berpaling kepada penasehat pribadinja dan bertanja:
“Tiayhu, bagaimana taktik selandjutnja untuk menangkap Liem Tjiong? Sukalah Tjayhun memberikan petundjuk² jang lengkap! Penasehat Ko Kiu mangangguk anggukkan kepalanja dia tak henti2nja menggojang-gojangkan kipas ditangannja. Setelah hening sesaat mulailah ia membuka kata²nja ;
Taydjin boleh menulis seputjuk surat kepada Liem Tjiong, dalam surat itu Taydjin menjatakan telah mendengar bahwa Liem Tjiong memiliki pedang pusaka, dan ingin sekali untuk melihatnja Surat itu boleh dikirimkan melalui pesuruh Ko Taydjin jang asing wadjahnja, sehingga Liem Tjiong tidak bisa mengenalinja.
Bila Liem Tjiong datang kemarkas Pek Hoo Tong ini, maka langsung Ko Taydjin menjiapkan para serdadu Kim le Wee untuk meringkusnja. Katakan ada seorang jang akan berbuat djahat dimarkas ini, maka kutangkap. Pedang ditangannja itu sebagai bukti akan maksud djahatnja.
Nah, laksanakan taktik ini dengan baik, djangan ditunda-tunda lagi, sebab sakit Siauwya sudah amat parah.”
Ko Kiu puas mendengar advis dari penasehat pribadinja, katanja;
Nah, terima kasih saja utjapkan pada kalian!
Dan mari, mari kita makan dulu bersama!
Ko Kiu bertepuk 2 kali, segera muntjullah pelajan, langsung Ko Kiu memerintahkan untuk mempersiapkan hidangan untuk makan bersama
Liem Kauw Thao Liem Tjong sedjak membeli senilah pedang pusaka itu, sangat betah tinggal didalam kamarnja ber- sunji² ia menggantungkan pedang pusaka itu diatas tempat tidurnja.
Setiap akan tidur dan bangun dari tidur selalu tak lupa untuk me-nimang 2 pedang itu. Ia selalu melamun .... bila pedang pusaka ini djatuh ketangan orang² rendah, maka pasti akan menelorкan rentetan kedjahatan 2 dan pembunuhan.. untunglah pedang pusaka ini berada ditanganku, dengan pedang ini aku bersumpah untuk berdjoang membela Kebenaran dan Keadilan........
Sudah dua hari pedang itu ditangan Liem Tjiong, tiba 2 pagi hari itu datanglah 2 orang jang wadjahnja asing bagi Liem Tjiong, orang 2 itu telah datang kerumah dan membawa seputjuk surat. Karena surat itu pengirimnja adalah Ko Tay Djin, maka Liem Tjiong menghormati sekali pesuruh² itu, dipersilahkannja masuk dan didjamu selajaknja.
Setelah 2 orang pesuruh itu pergi mulailah Liem Tjiong membuka sampul surat itu.
Tongkhia, 12-7-1278.
Kepada
Jth. Sdr. Liem Kauw Thao
di tempat.
- Dengan hormat,
Aku mendengar bahwa sdr. Liem telah membeli sebilah pedang mustika jang namanja Thian Liong Kiam.
Maka dengan ini kami selaku Komandan Kim Ie Wee, mengundang kedatangan sdr. untuk hadir dimarkas Pek Hoo Tong esuk hari, pada djam 7.00 pagi tepat.
Aku mau melihat benda pusaka itu, sebab didalam Markas Pek Hoo Tong ini adapula beberapa benda pusaka.
Aku dapat memperbandingkan satu sama lain.
Harap undangan ini diindahkan dan saja menunggu kedatanganmu.
- Sekian, dan terima kasih.
Hormat kami
Komandan Kim Ie Wee
Ko Kiu
Liem Tjiong adalah seorang djudjur dan bersih hatinja, ia tidak pernah berpikir bahwa undangan untuk ia datang kemarkas Pek Hoo Tong ini adalah tipu muslihat untuk mentjelakakan dirinja.
Maka sedikitpun ia tidak berprasangka apapun.
Pagi hari itu Liem Tjiong berpamit pada istrinja sambil membawa pedang pusakanja.
„Moymoy, hari ini aku mendapat undangan untuk datang kemarkas Pek Hoo Tong, Ko Tjiangkun ingin melihat pedang pusaka jang baru kubeli beberapa hari jang lalu.
Siapa tahu moymoy, pedang pusaka ini akan menuntun kehidupan kita kedjalan jang lebih tjemerlang.“
Istrinja Liem Tjiong djuga tidak berprasangka apapun, iapun marelakan suaminja jang tertjinta pergi kemarkas Pek Hoo Tong.
„Koko, baik²lah didjalan, mudah2 an kehidupan kita makin tjerah. Adik menunggukabar baik. Selamat djalan......!“
Liem Tjong dengan langkah lebar menudju kemarkas Matjan Putih atau Pek Hoo Tong, sedang istrinja jang penuh kasih sajang tak lepas mengikuti dengan pandangan penuh harap pada suaminja jang berdjalan itu.
Makin lama makin tak kelihatan bajangan suaminja, namun istrinja masih sadja berdiri didepan pintu, se-akan² ia tak mau berpisah walau sesaat sadja.
Markas Pek Hoo Tong atau Markas-Matjan Putih, gedungnja besar dan temboknja amat kokoh. Disekeliling gedung itu dilingkari oleh pagar besi jang berbentuk tombak, udjungnja runtjing² dan mengkilap karena tadjamnja. Pagar itu masih dibelit dengan kawat² berduri jang sangat ketat. Didepan gedung itu terbentang lapangan jang sangat luas untuk mengatur kemiliteran. Kelihatannja. memang angker dan megah.
Kegedung itulah Liem Tjiong melangkahkan kakinja, tanpa sangsi dan bersjakwasangka. Setapak demi setapak kakinja melangkah madju. Sebentar² ia menengok kekanan dan kekiri, namun betapa herannja, tidak seorang serdadu maupun pendjaga ia djumpai.
Tiba dipintu Markas Liem Tjiong merandek sebentar, ia meneliti pintu Markas jang tebal dan kuat, didorongnja pelahan² dan makin heranlah ia, sebab didalam ruangan Markas itupun tak ia temui batang hidung manusia. Liem Tj ong tidak berani lagi melangkah madju, ia mengambil kursi untuk duduk, sambil menantikan keluarnja sang Komandan Kim-Ie Wee jang telah mengundangnja itu.
Agak lama Liem Tjong menunggu dikamar itu seorang diri, ia berpikir. . . . apakahaku terlalu pagi datang kemari ini ?
. . . . aku sangat heran ?. . . . bukankah undangannja itu mengatakan datang sepagi mungkin?
Liem Tjiong lalu mengeluarkan surat undangan jang diterimanja, ditelitinja kata demi kata, ternjata tidak salah. Tetapi mengapa Markas ini masih kosong.........?
Sedang Liem Tjiong berpikir karena herannja tiba² ia mendengar derap langkah kaki ratusan serdadu. Liem Tjiong menduga barangkali serdadu² Kim Ie Wee sedang mengadakan apel besar pagi hari ini.
Sedang Liem Tjiong menduga - duga seorang diri, tahu² pintu Markas itu mendjeblak terbuka, karena didorong dari dalam. Muntjullah sang Komandan Kim Ie Wee Ko Kiu, segera Liem Tjiong berdiri untuk memberi hormat. Tetapi diluar dugaannja, Komandan itu berteriak njaring;
„Heija! Ada pendjahat, ada pendjahat Hajo kepung dan tangkap !“
Ratusan serdadu itu meluruk kedalam ruangan Markas, dan tanpa tanja ini dan itu langsung Liem Tjiong diringkus, seluruh tubuhnja diikat dengan tali dari urat sapi jang amat kuat.
„Tjiangkun, aku datang kemari memenuhi undangan Tjiangkun sendiri Bukankah Tjiangkun ingin melihat pedang pusaka jang kubeli itu ?“
Ko Kiu membentak dengan kasar :
Djangan bermain gila dihadapanku!
„Hei, pendjahat, berani benar engkau seorang diri menerobos Markas Pek Hoo Tong ini dan ingin membunuhku ? Hei! Kau kira Markas Matjan Putih ini sebagai sarang semut jang tidak mampu membekuk seorang pendjahat seperti kamu ? Hahhaaah...... Djangan mimpi, sereet kedalam tahanan !“ Liem Tjiong tidak mau mengerti, ia protes dengan keras :
„Tjiangkun, djangan sembarangan menuduh orang, aku kemari atas undanganmu, itulah pedang pusaka jang kau ingin melihatnja, dan ini didalam sakuku ada surat atasnamamu.” Ko Kiu tertawa ter-bahak²:
”Aku tidak kenal padamu, mengapa aku bisa menulis surat dan mengundang mu ? Hahaha....haha.... alasanmu jang bukan² akan menambah berat hukumanmu, tahu ?“ Liem Tjiong bandel:
“Tjiangkun, aku bukannja seorang jang takut mati! Tetapi kata2ku njata berbukti. Ambil dalam sakuku ini surat jung ada tanda tanganmu, djuga djelas dengan setempel Pek Hoo Tong Batjalah, dan buka mata Tjiangkun lebar². “ Ko Kiu marah sekali :
“Rangket pendjahat itu dengan pukulan rotan 40 kali ! Berani betul ia menghina dan memandang rendah padaku. Ketahuilah aku Ko Kiu komandan Kim leWee, bisa memberikan putusan segera padamu Kalau aku memerintahkan pantjung kepalamu, hari ini djuga djiwamu akan melajang, tahu? Djangan banjak tingkah, buku maksud djahatmu sudah d,elas. Karena aku mengerti hukum dan wet negara, maka aku akan menghadapkanmu kedalam sidang dilan.”
Dua algodjo madju mendekati Liem Tjiong, tanpa menantikan perintah keduakalinja, segera menghadjar Liem Tjiong dengan sabetan² rota,.
Suara djatuhnja rotan ketubuh Liem Tjiong itu amat dahsjat, sehingga terkelupas dan petjat²lah tubuh Liem Tjiong. Darah mengalir membasahi seluruh pakainnja, namun Hoohan kita tak sedikitpun mengeluarkan rintih, Liem Tjiong tetap membuka matanja dan memandang dengan sorotan tadjam kepada Ko Kiu. Ko Kiu berijakap-tjakap dengan penasehatnja dengan suara jang tak dapat didengar oleh Liem Tj ong Kemudian ia memerintaukan untuk menghentikau pukulan² itu.
„Oh, kiranja kau adalah komandan keamanan kota Tongkhia ini. Namamu Liem Tjiong bukan? Seorang komandan keamanan sudah pasti mengenal peraturan kemiliteran, bila tidak mendapat perintah atasan, tidak akan sembarang masuk kedalam Markas Pek Hoo Tong ini. Tetapi Liem Tjong, kau memang djelas akan membunuhku, terbukti dengan pedang pusaka jang kau bawa itu Hmm,...... hem.....adakah engkau berkomplot ?”
Liem Tjiong dengan suara gagah mendjawab:
Aku adah seorang laki2 sedjati jang berdjiwa putih Djangan Ijiangkun seenaknja mengeluarkan kata² kedji Kedatanganku kemari, sedikitpun tidak ada niat djahat. Lihat surat jang berada dalam sakuku ini, tni adalah bukti. Tetapi kalau Tjiangkun menjangkal tulisan ini, Haha..... Tjiangkun adalah seorang pengetjut jang bernjali tikus.”
Seketika mukanja sang Komandan Kim le Wee itu mendjadi merah padam karena menahan marah dan malu.
Suaranja sampai bergetar :
„Seret dia kedalam pendjara, lekas !”
Liem Tjiong lalu diseret kedalam pendjara bawah tanah, pintu2 besi sel itu dibukanja, dan tubuh Liem Tjiong didorong rubuh kedalam sel itu. Segera para pendjaga tahanan itu menguntji pintu² sel itu dengan suara gemerintjing.