Lompat ke isi

108 Pendekar Gunung Liang San Seri II/LO TIE DJIM MENTJABUT SEBATANG POHON YANGLIU DAN MENUMBANG-KANNJA SAMPAI KEAKAR-AKARNJA. SEORANG JANG BERKEPALA MIRIP MATJAN TUTUL (PA TJU THAO) MENGHADAP KEMARKAS MATJAN PUTIH/PEK HOO TONG

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
108 Pendekar Gunung Liang San Seri II
LO TIE DJIM MENTJABUT SEBATANG POHON YANGLIU DAN MENUMBANG-KANNJA SAMPAI KEAKAR-AKARNJA. SEORANG JANG BERKEPALA MIRIP MATJAN TUTUL (PA TJU THAO) MENGHADAP KEMARKAS MATJAN PUTIH/PEK HOO TONG

LO TIE DJIM MENTJABUT SEBATANG
POHON YANGLIU DAN MENUMBANG-
KANNJA SAMPAI KEAKAR-AKARNJA.

SEORANG JANG BERKEPALA MIRIP MATJAN TUTUL (PA TJU THAO)
MENGHADAP KEMARKAS MATJAN PUTIH/
PEK HOO TONG




Bagai topan mengganas, menjapu menghembus
awan bersih musna
beginilah sendjata menggempur, melebur musuh
fadjar kemenangan megah membara
bagai pahlawan pulang kenusa damai
bersuka, bertemu kawan dibatas negara
bersua berpadu tekad menggalang dunia Damai,
Adil dan Sedjahtera.

(Sandjak oleh : Kao Tay)


● ● ●

Sambil makan Siauw teetju itu bertjerita :

„Pendjaga kebun jang baru berhenti itu amat malas dan lemah. Setiap maling² itu datang menjatroni, ia tidak berdaja.

Maling² tjilik itu makin berani, menarik tubuhnja dan di-indjak² sehingga mendjadi tjidera. Baru seminggu jang lalu ia minta berhenti......wah, memang kurangadjar.

Paman, bukan baru kali ini sadja, tetapi Tay Siang Kok Sie ini sudah ber-turut² 7 kali berganti pendjaga kebun.

Semuanja minta berhenti karena tidak sanggup menahan gangguan² pantjalongok itu. Paman, hajo tambah lagi!“

Lo Tie Djim meraih buah2an dan memakannja dengan lahap. :

”Hiantiet, ja aku akan memanggilmu keponakan sadja.

Dimana kamar tempat tidurku ? Tolong antarkan. biar aku dapat melepaskan lelah Hiantit, djadinja aku sendirian harus tinggal dikebun ini ?“

Siauw teetju tertawa :

”Memang, memang Paman harus sendirian mendjaga kebun itu, terapi bila ada urusan penting, paman boleh mengetuk pintu penghubung ini“.

Lo Tie Djim berdehem: ”Hem. hmmm... jah. eh. Hiantit, kamar tidurku dekat sekali dengan kakus ? ”

Kembali Siauw teetju tertawa ter-gelak2 karena geli

”Memang W.C. kami ditempatkan dibelakang supaja jang bersembahjang tidak terganggu bau busuk ... haha ... haha...„

Lo Tie Djim pun ikut tertawa ter-gelak2 ... Setelah tiba dikamarnja Lo Tie Djim lalu melemparkan Pauwhoknja. Katanya :

„Hiantit, kau boleh tinggalkan aku, aku amat lelah dan akan tidur dulu. Nanti malam biar aku tahan melek mandjaga kebun sajur²an ini“

Siauw teetju „Baik, baik, selamat mengaso paman.“

Siauw Teetju lapor kepada Tianglooo Tay Siang Kok Sie, semuanja merasa puas, mereka pertjaja sekali ini maling tjilik itu akan menemukan batunja.

Benar djuga apa jang d tjeritakan oleh Siauw teetju dan Tiangloo Tay Siang Kok Sie. Penduduk sekitar kelenteng ini tatkala mengetahui bahwa datang seorang baru jang mendjaga kebun sajur sajurab. Mereka lalu berunding.

Ketua pantjalongok ini jang kesatu bernama To Sam, djulukannja siauw Tie atau Sitikus ketjil. Orngnja bertubuh ketjil, pandek dan djorok Jang kedua bernama Lie-Shu Ay, djulukannja Tok Tjoa atau ular berbisa. Tubuhnja tinggi kurus seperti galah. 2 pemimpin mengumpulkan anak buahnja untuk mengadakan gangguan pada pendjaga kebu n jang baru. Mereka ingin mengetahui sampai dimana kekuatan dan keli. . .ya sipendjaga baru itu.

Tio Sam sitikus litjin dan pandai bertipu muslihat membuka suara ;

„Kita nanti petang beramai2 mengundjunginja Hari ini belilah beberapa tjawan arak dan makanan sebagai bingkisan Dia pasti tidak tjuriga, sebab kita datang untuk berkenalan Nanti supaja kita datang dan mengerumuninja, saat itu aku dan Lie Shu Ay madju dan Kui untuk memberi hormat Kalian harus segera bertindak dan mengerojoknja, apabila aku dan Li Shu Ay nanti berhasil menarik sepasang kakinja. Haha ..... haha ..... Bagaimana? Bukankah tipu ini baik dan besar kemungkinan kan berhasil ? Hahaha .. hahaha .. hahaa ...“ Sitikus menjeringai sehingga gigi2nja jang kuning mas itu terlihat semuanja.

Si ular berbisa pun menjetudjui rentjana ini, katanja ;

„Kalau dia dapat kita rubuhkan, pasti tidak ada muka lagi untuk mendjabat sebagai pengawas kebun. Haahhaaa ... setudju banget, setudju banget .. hahaa Akoor deh

Anak buahnja jang berdjumlah ± 40 orang ber-sorak2 dan memudji usul Pangtjunja.

Sore hari itu Lo Tie Djim setelah mandi dan tangsel perutnja, ia mondar mandir sendiri dibawah pohon Yanglin.

Agak2nja malam nanti tjuatja akan indah bulan samar2 terlihat dibalik awan, bagaikan putri malu jang sedang menngintip patjarnja

Hari belum petang, setjara tiba2 Lo Tie Djim melihat puluhan orang merajap memandjat pagar bambu dan akan masuk kedalam kebun Seketika Lo Tie Djim meng.entikan dialan2nja, ia mengawasi dengan waspada, p ki nj: ... hemm.. hem akan kutaklukkan mereka sehingga djeri unpuk se-lama2nja

Rombongan itu dipimpin oleh dua orang jang satu ketjil pendek, dan jang satu lagi kurus tinggi seperti galah.

Memang tidak salah mereka adalah Tio Sam sitikus dan Lie Shu Ay jang sedang memimpin anak buahnja untuk mentjelakakan Lo Tie Djim

Begitu dekat semuanja berpentjar berbentuk lingkaran. dua pemimpin itu menghadap dan kui untuk memberikan penghormatan. Seorang lagi madju mengangsurkam segotji arak dan serantang makenan

Tio Sam buka svara : ” Kami adalah penduduk dibelakang Tay Siang Kok Sie ini. Mendengar bahwa ada seorang baru jang bertugas mendjaga kebun, kami sangat tertarik. Sebab pendjaga kebun jang baru ini, pasti be kepandaian tinggi dan bernjali besar. Maka kami datang ber- sama2 untuk berkenalan, “ Tio Sam dan Lie Shu Ay mendjura lagi dan badannja menggeser madju mendekati Lo Tie Djim.

Lo Tie Djim bertjuriga atas sikap dua orang jang kui ini. Pikirnja ... mengapa kui demikian lama pasti orang orang ini akan mendjigwa [tjoba2] dengan saja.

Lo Tie Djim pura2 mendekati, dan benar djuga ramalan Hoohan kita ini, sebab begitu kakinja berada dimuka mereka,

Segera Tio Sam dan Lie Shu Ay mengu lurkan tangannja untuk menggait kaki Lo Tie Djim dengan ilmu serangannja Tok Tjoa Tjhut Tong atau ular berbisa keluar dari liangnja. Lo Tie Djim tidak mendjadi gentar, tjepat2 ia siam untuk mematahkan serangan menndadak itu, dan dengan sebat ia pura² tertjengkang, namun kaki2nja dengan tjepat mengirim dupakan kearah muka dengan Tiat Pan Kio atau Djembatan palsu dari besi.

Kontan kedua penjerang itu mendjerit berbareng dan tubuhnja mental sampai 3 meter. Lo Tie Djim amat marah, ia mengedjar musuh2nja dan mengha arnja sampai tubuh kedua penjerang itu menggelinding masuk selokan.

Kedua pemimpin pantjalongok itu mendjadi basah kujup dan bertidihan, sehingga ngrungsep tidak bisa bangun.

Lo Tie Djim berpaling kepada anak buah Tio Sam dan berseru :

„Hajo angkat mereka! Dan tolong mimpinmu !"

Setelah kedua pemimpin itu ditolong oleh anak buahnja dan diangkat ketanah. Mereka lalu ber-sama² merubung Lo Tie Djim dan saling memperkenalkan dirinja masing².


Tio Sam sitikus sakti berkata:


„Kami telah kau kalahkan, hal ini membuktikan bahwa kami kalah lihay. Maka kami tidak menjesal tidak merasa malu.

Kedatangan kami ini memang sengadja untuk mengetahui kelihayan suhu, sekalian mengudjinja. Beberapa kali Tiangloo mengangkat pendjaga kebun sawi ini, tetapi mereka tidak memiliki kemampuan apa². Suhu, baru kau inilah betul² seorang jang memiliki ilmu silat tinggi.


Lo Tie Djim tertawa senang, katanja:


„Aku dulu adalah komandan keamanan kota Kwan See.“

Karena membunuh seorang lintah darat, aku djadi buronan, hahaaa... haha. dan kini aku telah mentjukur rambutku untuk djadi Hwee Sio, haha... haha...


Lie Shu Ay menjambung pembitjaraan:


„Suhu, kami adalah penduduk jang tinggal dibelakang kelenteng Tay Siang Kok Sie ini, djadi kami adalah tetangga. Pekerdjaan kami adalah berdjudi, dan atjap kali mentjuri tanam²an disini dan mendjualnja kepasar untuk menjambung kehidupan kami Tetapi kini kami sadar, dan kami ingin kembali mendjadi orang baik², asal. . . . oh,....asal....“

Lo Tie Djim heran dan segera bertanja:

“Asal apa? Heh, asal apa? Hajo bilang!”

Lie Shu Ay: “Asalkan Suhu sudi mengadjarkan pada kami ilmu silat.” Lie Shu Ay mengawasi terus wadjah Lo Tie Djim.

Lo Tie tertawa ter-gelak², sampai seluruh tubuhnja bergerak dan ter-gontjang² :

“Hahahan.... hahah... hahaha. . . baik, baik.

Setelah aku tinggal dikebun kelenteng Tay Siang Kok Sie, sudah seharusnja kalau bersahabat dengan kalian.”

Sedang Lo Tie Djim dan mereka bertjakap² dan bersendagurau, tiba² mereka dikedjutkan oleh suara burung gagak. Gaok, — gaok, gaok, gaok........ burung gagak itu tidak hanja seekor, tetapi ada 6-7 ekor jang terbang diatas kepala mereka dan tak henti²nja berkoar.

Tio Sam: “Suhu, disini banjak sekali terdapat burung gagak.

Sebab mereka bersarang di-pohon² Yang-liu itu,

Suhu, menurut tjerita orang² gagak itu bila berkoar diatas kepala orang, akan ada hal² jang tidak baik.” Lo Tie Djim berdiri dan memandang burung burung itu, katanja;

“Bila demikian, aku akan merusak sarang² mereka, supaja mereka pindah dari tempat ini.”

Beberapa diantara mereka berkata: “Suhu apakah akan menebang pohon Yangliu itu ?” Belum Lo Tie Djim mendjawab. sudah ada beberapa lagi jang bitjara : “Suhu, kami ambilkan tangga jang tinggi dulu untuk da- pat mentjapai sarang burung gagak itu dan merusaknja.”

Lie Shu Ay berkata pada Tio Sam: „Tie Hengkau boleh naik keatas pundakku, aku akan mendukungmu untuk meraih sarang² itu dan merusaknja“.

Mereka ribut² dengan pikiran² dan tjara² untuk merusak sarang burung itu.

Sedang mereka sibuk dengan ide² dan pelaksanaannja, Lo Tie Djim menjingsingkan lengan badjunja dan berkata,

„Tidak usah, tidak usah..... Lo Tie-Djim mendekati-Ponon Yangliu jang tinggi besar itu dan dengan tangannja mentjoba mendorong2nja. Kemudian ia merangkul batang pohon itu, sepasang kakinja Gia Bhe Si, setelah hening beberapa detik. Lo Tie Djim berteriak keras, dan pohon Yangliu itu tertjabut sampai seakar2nja. Pohon Yangliu itu lalu ditumbangkan dan puluhan pantjalongok itu bet-sorak2 kegirangan. Mereka ber-lari2 medekati gerombolan daun2
花和南樹拔堂棓郏却

Lo Tie Djim menumbangkan pohon Yang Liu, tempat sarang burung² Gaok.

jang ada sarangnja dan mengindjak-indjak untuk merusakkan sarang2 burung gagak itu,

Tio Sam memudji dengan rasa hormat: „Suhu, engkau amat kuat dan gagah aku tidak akan berani lagi bermain gila denganmu. Dan kami akan mengundjungi Suhu tiap petang untuk beladjar ilmu silat."

Lo Tie Djim; „Baik, baik, dan djangan lupa, sekali2 bawakan aku arak jang bagus."

Tio Sam dan Lie Shu Ay berbareng mendjawab;

„Baik, akan kami ingat pesanan Suhu." Lalu berpaling kearah anak buahnja dan mengadjak mereka pulang.

„Suhu, karena sudah lama, kami minta permisi."

Lo Tie Djim mengangguk2kan kepalanja jang gundul.

Demikianlah, sedjak saat Lo Tie Djim mendjadi pendjaga kebun, tanam2an dikebun itu tidak pernah ada gangguan maling² lagi. Ratusan pantjalongok itu telah sadar dan tidak berani lagi bermain gila apa lagi mentjuri atau merusak tanam2 an dikelenteng Tay Siang Kok Sie Tiangloo dan para teetjunja dapat hidup dengan riang gembira, dapat mengetjap hasil tanam2 annja.

Pantjalongok itu tiap petang pasti datang mengundjungi Lo Tie Djim sambil membawa arak dan makanan untuk bertjakap-tjakap atau beladjar silat. . . . . . . . . . . . Pada suatu petang, Lo Tie Djim mengadjarkan mereka permainan tongkat.

Dapat diketahui bahwa tongkat Lo Tie Djim jang terbuat dari besi itu, beratnja 62 kg. Maka tak ada seorangpun diantara mereka jang sanggup memainkannja. Hal ini memang disengadja oleh Lo Tie Djim untuk membikin mereka lebih djeri.

Lo Tie Djim Lihatlah tjara2 bermain tongkat, antara serangan dan pertahanan harus seimbang, sehingga lawan sukar merobohkan kita."

Selesai kata2 nja Lo Tie Djim lalu memutar mutarkan tongkat besinja itu, ia amat kuat dan gagah Tongkat besi jang berat itu ditangannja se-akan2 sebatang galah jang ringan.

Para pantjalongok mengawasi sampai melotot, mereka kagum dan sangat memudji kegagahan Lo Tie Djim,

Angin mendesau, tatkala tongkat besi itu disabetkan. . . . . . .

Sedang asjiknja mereka menonton Lo Tie-Djim jang sedang mendemonstrasikan Tongkat besinja atau Thie Koay Sian. Tiba2 dari arah selatan ada suara seseorang jang memudji permainan itu: "Sungguh bagus, sungguh, permainan tongkat besi ini sungguh indah dan bagus!"

Mendengar pudjian setjara tiba2 ini, Lo Tie Djim tjepat menghentikan permainannja dan bertanja kepada pantjalongok itu.

"Siapakah dia? Orang darimanakah dia itu?"

Orang² mendjawab: “Suhu, dia adalah mendjaga keamanan kata Tongking. Namanja Liem -Tjiong Dia adalah orang baru pula dikota ini, seperti Suhu Pendatang baru”

Lo Tie Djim lalu menoleh kearah orang baru itu dan menggapainja:

“Loheng, hajo, mampir dulu dan omong², kebetulan kami ada sedia arak dan makanan.

Mari kita nikmati dibawah sinar bulan purnama. . . .hahaha. . . .haha{. . . . . . .

Orang jang memudji itu, badanja tinggi tegap, kepalanja berbentuk seperti matjan tutul, sinar matanja tadjam dan djernih sehingga nampaknja sangat gagah sekali. Ia mendengar adjakan Lo TieDjim, kontan menggendjot tubuhnja melewati pagar bambu itu.

Dan dengan djalan pe-lahan², seperti harimau turun gunung menghampiri kelompok orang² dan Lo Tie Djim jang sedang ber-tjakap² itu. Liem Tjiong lalu membungkkan badannja dan Kiongtjiu kepada Lo Tie Djim. Semua kawan an pantjalongok itupun berdiri menjambut kedatangan Liem Tjiong.

Lo Tie Djim lalu mengadjaknja duduk dipelataran dan omong² Liem Tjiong berkata:

„Siauwtee datang bersama istri, saat ini pun isteriku masih berada didalam kelenteng untuk bersembahjang, karena tepat dengan shedjinja kelenteng Pek Ma Se sehingga banjak orang mengundjungi kelenteng, untuk melihat keramaian.“

Lo Tie Djim:

„Aku orang baru dikota Tongking ini, maka tidak mengetahui kalau diluar ada keramaian hahaa . . . .

Lauwiee, baik kita bersahabat, sehingga aku punja kenalan dikota ini untuk ber-omong²."

Liem Tjiong :, Oh, Siauwee mendjadi amat girang mempunjai saudara seperti Loueng gagah dan polos

. . . . .belum habis ia ber-tjakap² dengan Lo Tie Djim, tiba2 terdengar suara pelajan wanitanja jang menjarinja.

,.Liem Toaja, Liem Toaja lekas tolongin dong Thaythay ! Thay hay sedang diganggu oleh pemuda2 Lidung belang. . . . .Liem Toaja! . . .

Suara pelajan perempuan Liem Tjiong ini sambil menangis, sehingga hati Liem Tjiong bertjekat, .. pikirnja ..... wah, ini pasti keterlaluan tindakan pemuda2 bergadjul itu terhadap istri saja Maka Liem Tjiong lalu berpamit pada Lo Tie Djim dan menggendjot tuouhnja keluar paga., sekedjap lenjap bajangan tububnja. . . . . .

Tiba dikelenteng, benar2 membuat darah Liem Tjong mendidih.

la menjaksikan dengan mata kepalanja sendiri bagaimana istrinja sedang di-tarik² oleh seorang pemuda jang mengenakan pakaian sutera halus dan tanda dari putera seorang berpangkat.

Memang tidak salah, pemuda hidung belang ini adalah putra Komandan Kim Ie Wee Ko Kiu, jang bernama Ko Nga Lue.

Pada djaman dahulu kala memang putra seorang berpangkat tidak usah bekerdja, sebab biasanja akan mewarisi pangkat ajahnja. Seperti halnja Ko Nga Lue ini, ia hanja kelujuran dan suka mengganggu gadis², bahkan istri² orang..

Sungguh perbuatan ini amat bedjat dan tidak adil !

Liem Tjiong jang berdjiwa bersih dan gentleman, melihat istrinja dibuat permainan, tanpa pandang balu. Tidak perduli jang mengganggu ini adalah putra Komandan Kim le Wee, la menghampiri dan menghadjar pemuda itu hingga ngrungsep ketanah. Mukanja bengap dan giginja rontok, darah bertjutjuran dari mulutnja jang agak mantjung itu.

Para pengiringnja jang berdjumlah tidak sedikit datang meluruk, mengadakan pengepungan atas diri Liem Tjiong.

Tetapi Pa Kauw Thao Liem Tjiong atau sikepala matjan tutul, sedikitpun tidak merasa djerih, sebab ia sebenarnja dipihak jang benar.

Liem Tjiong berkata dengan njaring:

"Hajo, kerubut aku! Bila kalian ingin berkenalan dengan kepalku hajo, djangan tanggung² madju berbareng. Djangan satu-satu!" Karuan pengiring Ko Nga Lue kontan madju dan mengerojok Liem Tjiong. Seluruh pengundjung kelenteng mendjadi katjau balau, hiruk pikuk dan sangat gaduh, Kaum wanita lari serabutan, karena takut melihat perkelahian. Kanak2 berteriak-teriak, karena kegirangan melihat tontonan jang tidak bajar. . . . .

Orang2 tua bingung, sebab jang berhantam adalah putra seorang berpangkat, mereka takut, nanti kerembet peristiwa ini. dan bermatjam2 jang dipikirkan dan dilakukan oleh chalajak ramai itu. Djalannja sembahjangan mendjadi katjau, sebab teriakan2 mengerikan dari beberapa pengiring Ko Nga Lue jang terhadjar tangan Liem Tjiong jang tak tanggung2 dahsjatnja.

Untungnja patroli datang dan membubarkan perkelahian itu.

Pada saat itupun Lo Tie Djim si Hwa Hwee Sio atau Hwee Sio kembang karena dojan daging dan getol minum arak, datang dengan membawa Thie Koay Siannja. Namun perkelahian telah sampai pada bubarnja. Lo Tie Diim ikut girang, karena istri sahabatnja telah dapat disalamatkan dari gangguan para bergadjul.

Ko Ngo Lue dengan menderita malu besar, mengadjak para pengiringnja pulang kemarkas ajahnja.

Tiba dimarkas. langsung Ko Nga Lue masuk kekamarnja dan tidur.

Para pengiringnja amat sibuk dan bingung sebab hadan tuan ketjilnja ini seperti majat, dingin dan lemah sekali.

Terdengar suara jang lemah dari Ko Nga Lue:

"Paman, siapakah orang jang menghadjarku itu ? "

Pengiringnja mendjawab: "Itulah Ong Kauw Thao atau Kepala keamanan kota Tongking, Liem Tjiong namanja"

Ko Nga Lue merintih memilukan :

"Oh..suaminjakah dia ?

Pelajannja mendjawab :

Betul, betul. Liem Kauw Thao adalah suami njonja jang Siuw ya ganggu dikelenteng itu.

Ko Nga Lue :

"Oh . . . . aku tidak bisa aku hidup tanpa dia, . .

Pelajan jang setia itu kaget /

Siuw ya,tjelaka ! Siuw ya masih muda, bisa mentjari djodoh jang masih gadis. Djangan, djangan Siuw ya merusak rumah tangga orang lain Itu durhaka terkutuk ..

Ko Nga Lui mangingau ;

"En, eh. Kau amat tjantik.. . .

djangan tinggalkan aku! Djangan, . . . .aku bisa mati kau tinggalkan. Nona, non' nona kau manis sekali. !“ Pelajan jang setia itu mendjadi terharu, melihat tingkah laku tuan mudanja jang mendjadi terganggu ingatannja. Setelah menunggu sesaat keluarlah pelajan tua itu dan lapor pada Ko Kiu. Pelajan tua menghadap pada Ko Tjiang kun : „Taydjin (Paduka jang mulia ), putra Taydjin telah menderita sakit keras. Tidak dojan makan dan minum, sebentar² mengingau dan mengeluarkan kata-kata jang gandjil. Tjobalah Taydjin menengoknja

Ko Kiu bertjekat, sebab Ko Nga Lue adalah putra satu² nja. Sambil ter-gesa2 djalan Ko Kiu ber-kata² sendiri,

"Oh. sungguh tjelaka ! Kalau kehilangan harta tidak mengapa, asalkan djangan kehilangan anakku.

Hei, Sien Hie dari mana sadja anakku tadi sore ? "

Pelajan tua itu agak gugup mendjawab tuannja :

"Tadi...tadi.... ? "

Ko Kiu mendjadi marah

"Ja, tadi kemana anakku itu ? "

Sien Hie: "Tadi kami bersama beberapa pengawal mengantar Siauwya kekelenteng Pek Ma Sie melihat keramaian.....

Ko Kiu tjepat bertanja;

"Lalu kanapa dia bisa djatuh sakit ? Apakah kena gangguan setan ?"

Sien Hie; "Oh, tidak, tidak. . . . Siauwya terganggu oleh seorang njonja muda jang tjantik rupawan.

Ko Kiu tidak marah lagi, meledaklah tawanja jang keras ;

"Hahaha.... haha..... hah kalau Begitu anakku tidak sakit apa². Kau tetap tolol.

Bukankah normal kalau seorang pemuda djatuh djinta pada seorang wanita?”

Sien Hie; “Tetapi, eh. . tetapi Taydjin . .”

Ko Kiu masih djuga tertawa . . .: “Dimana sekarang dia tidur?, Hojo lekas tundjukkan kamarnja!”

Sien Hie sipelajan tua mendjadi amat bingung . . . . djatuh cinta pada seorang gadis tidak mengapa. Tetapi kalau merusak pagar ayu apa djadinja?


Bagaimanakah nasib LIEM TJIONG selanjutnya?

Dapatkah LIEM TJIONG hidup bahagia bersama istrinja jang djelita?

Betahkah LO TIE DJIEM tinggal di TAY SIANG KOK SIE?


Dan kisah-kisah selandjutnya........ Batjalah seri 3! segera terbit !


Akan menjusul tokoh-tokoh 108 pendekar Gunung Liang San antara lain:

YO TJIE, BU SIONG, dll

武松打虎
景聘岡

Bu Siong di Bukit King Yang Kong memukul mati Si Radja Hutan dengan tangan kosong

青面獸
楊志

Yo Tjie menawarkan pedang pusakanja